Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAAN

1.1 LATAR BELAKANG


Manajemen keperawatan merupakan suatu proses bekerja dalam
melibatkan anggota keperawatan dalam memberikan pelayanaan asuhan
keperawatan profesional. Pemberian pelayanan perawatan secara profesional
perawat di harapkan mampu menyelesaikan tugasnya dalam memberikan
asuhan keperawatan untuk meningkatkan derajat pasien menuju kearah
kesehatan yang optimal (Nursalam 2002). Pelaksanaan asuhan keperawatan
profesional berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa
setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaaan secara
profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di
Indonesia.

Proses manajemen keperawatan dalam aplikasi dilapangan berada


sejajar dengan proses keperawatan sehingga keberadaan manajemen
keperawatan dimaksudkan untuk mempermudah proses keperawatan
(Arwani,2005) sehingga dapat mengarahkan keperawatan menuju
profesionalisme. Salah satu sistem pelayanan keperawatan profesional adalah
dengan melaksanakan suatu Model Asuhan Keperawatan Profesional Tim
yang merupakan suatu metode penugasan menggunakan tim yang terdiri dari
atas anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan
terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 tim/grup
yang terdiri atas tenaga profesional. Teknikal dan pembantu dalam satu
kelompok kecil yang saling membantu.

Berdasarkan pengkajian yang kami laksanakan di ruang Mina ,


kami mendapatkan bahwa model asuhan keperawatan yang digunakan di
ruang Mina adalah model tim.

1
1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Setelah mengikuti praktik klinik keperawatan manajemen


diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan dan menerapkan bagaimana
suatu model asuhan keperawatan profesional dapat berkontribusi dalam
praktik keperawatan yang profesional.

1.2.2. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti proses praktik klinik manajemen keperawatan


diharapkan mahasiswa mampu:

a. Melakukan pengkajian
b. Melakukan analisis situasi berdasarkan analisis SWOT
c. Menentukan rumusan masalah
d. Memprioritaskan masalah

1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Pasien dan Keluarga

1. Mendapatkan pelayanan yang optimal


2. Tercapainya kepuasan klien dan keluarga yang ada di ruang Mina
secara optimal
1.3.2 Bagi Perawat Ruang Mina
1. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
2. Terbinanya hubungan atau komunikasi yang adekuat antara perawat
dengan perawat, perawat dengan tim kesehatan yang lain, dan perawat
dengan pasien serta keluarga
3. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas, dan disiplin diri perawat
1.3.3 Bagi Rumah Sakit
1. Mengetahui masalah-masalah yang ada di ruang perawatan Mina yang
berkaitan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan professional
2. Dapat menganalisa masalah yang ada dengan motode SWOT serta
menyusun rencana strategi

2
1.3.4 Bagi Mahasiswa
1. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan kritis dalam
pengelolaan pelayanan keperawatan
2. Dapat memperoleh pengalaman nyata dalam pengelolaan perawatan
profesional.

3
BAB II
PENGKAJIAN
Dalam bab ini akan disajikan tentang tahapan proses pengkajian yang
meliputi pengumpulan data, analisa SWOT, dan identifikasi masalah.

2.1 VISI, MISI DAN MOTTO


2.1.1 Visi RSI Masyithoh
Terwujudnya rumah sakit islami terbaik dalam masyarakat
2.1.2 Misi RSI MASYTHOH
1. Melaksanakan dakwah dalam pelayanan kesehatan
2. Memberikan pelayanan yang professional terhadap seluruh masyarakat
tanpa melupakan fungsi social, keberadaan RSI MASYTHOH
3. Mengutamakan keselamatan dan kepuasan pasien
4. Mengikuti perkembangan ilmu dalam rangka meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan karyawaan
5. Melakukan pelayanan sesuai standart akreditasi rumah sakit
2.1.3 Motto RSI MASYTHOH
Dakwah bin halal yaitu berdakwah melalui perbuatan berupa pelayanan
kesehatan paripurna, islami dan profesional
2.1.4 Model penugasan yang dilakukan
Model penugasan yang dilakukan sesuai dengan struktur organisasi yang
ada di dalam ruang Mina
2.1.5 Metode penugasan
Di ruang Mina saat ini menggunakan MAKP tim. Pengembangan model
asuhan keperawatan tim terdiri atas anggota yang berbeda- beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat
ruangan dibagi 2 tim dalam satu shift pagi atau bahkan hanya terdiri 1 tim
tergantung dari jumlah perawat yang sedang dijadwalkan dinas. Dalam
setiap tim tersebut, terdapat 1 orang penanggung jawab, 1 atau 2 katim,
dan masing- masing 1 perawat pelaksana. Sedangkan untuk shift sore dan
malam hanya terdapat 1 tim yang terdiri dari hanya 2 atau 3 orang.

4
2.1.6 Struktur organisasi ruangan dan pengorganisasian pelayanan
keperawatan
Struktur oraganisasi Ruang Mina dilaksanakan berdasarkan garis
komando, dari struktur jabatan tertinggi yaitu kepala ruangan di bawahnya
terdapat clinical edukator, Katim 1 dan Katim 2 yang masing membawahi
Perawat Pelaksana. Masing-masing peran disesuaikan dengan tugas pokok
dan fungsinya, namun di ruang Mina job disk perawat belum terlihat jelas
dalam pelaksanaannya.

2.1.7 Model penjadwalan staff


Di ruang Mina RSI Masyithoh Bangil dalam satu hari dibagi 3 shift untuk
pelayanan keperawatan, yaitu :
- Dinas pagi dimulai dari jam 07.00 - 14.00 WIB
- Dinas sore di mulai dari jam 14.00 - 21.00 WIB
- Dinas malam di mulai dari jam 21.00 – 07.00 WIB
Untuk penjadwalan dinas perawat telah dijadwalkan sesuai program,
terdiri dari kepala ruang, ketua tim 1 dan 2 dan perawat pelaksana yang
dinas pagi, dinas sore dan dinas malam. Model penjadwalan staf di
Ruang Mina dibuat setiap 1 bulan sekali..

2.1.7 Program peningkaan mutu dan penerapan disiplin pegawai


Telah di lakukan pelatihan management bangsal, PPI dan SE
(Service Exelent) yang dilakukan setiap bulan sekali secara bergilir yang
bertujuan untuk meningkatkan mutu dari pegawai.
Selain itu juga di lakukan cek lock untuk kariawan tetap selain itu
untuk pegawai tidak tetap memakai tanda tangan pada buku absensi
kehadiran , di harapankan setiap kali pegawai datang dan pulang bisa
meningkatkan tingkat kedisiplinan pegawai.

5
2.2 PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dilakukan tanggal 18 Januari 2019 meliputi
ketenagaan, sarana dan prasarana, MAKP, sumber keuangan. Data yang
didapat dianalisis menggunakan analisa SWOT sehingga diperoleh
beberapa rumusan masalah, kemudian dipilih satu sebagai prioritas
masalah.

2.2.1 TENAGA DAN PASIEN (M1 - Man)


A. Tenaga
Analisa ketenagaan perawat mencakup jumlah tenaga keperawatan ,
keunggulan dari Ruang Mina salah satunya adalah memiliki SOP dan SAK
yang menjadi acuan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, tenaga S1
keperawatan sebanyak 3 orang, tenaga D-III Keperawatan sebanyak 7
orang, serta tenaga mahasiswa praktik D-IV Keperawatan Lawang
Poltekkes Kemenkes Malang sebanyak 12 orang.

6
1. Struktur Organisasi

Kepala Ruangan

Clinical Educator

KATIM 1 KATIM 2

Dinas Pagi Dinas Pagi

Dinas Siang Dinas Siang

Dinas Malam Dinas Malam

Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi Ruang Mina RSI Masyithoh Bangil.

Struktur organisasi Ruang Mina dilaksanakan berdasarkan garis komando,


dari struktur jabatan tertinggi yaitu kepala ruangan di bawahnya terdapat Clinical
edukator, Katim 1 dan Katim 2 yang masing-masing membawahi Perawat
Pelaksana. Masing-masing peran disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya.

7
1. Tenaga Keperawatan
Tabel 2.1 Tenaga Keperawatan di Ruang Mina RSI Masyithoh Bangil.

No NAMA JABAT GOL PK PELATIHAN

PPI, PPGD, BLS,


Ns. Nanang R,
1 Kepala Ruang PK 4 Bimbingan Klinik,
S.Kep
Perawat Home care,

PPI, BLS, PPGD,


Ninik Sulis, S.kep,
2 Ketua tim 1 PK 4 Pelatihan manajemen
Ns
bangsal,CI,

Feriana T, Amd.
3 Ketua tim 2 PK 2 PPI, BLS
Kep

Oktavian W, Amd. Perawat


4 PK 1 PPI, BCLS
Kep Pelaksana

Perawat
5 M. Aziz, Amd. Kep PK 1 PPI, BLS
Pelaksana

Ichatus Sholiha, Perawat


6 PRA PK PPI
S.kep, Ns Pelaksana

Ucik Agustina, Amd Perawat


7 PK 2 PPI, BLS
Kep Pelaksana

Perawat
8 Nina, Amd Kep PK 1 PPI
Pelaksana

8
Jamaludin, Amd Perawat
9 PRA PK PPI
Kep Pelaksana

Zainul Arif, Amd Perawat


10 PK 2 PPI, PPGD, BLS
Kep Pelaksana
Berdasarkan table diatas dapat disimpulkan bahwa sertifikat yang telah dimiliki
oleh hampir semua perawat adalah:

1. PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat)


2. BCLS (Basic Cardiac Life Support)
3. Basic Life Support (Basic Life Support)
4. PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi)
5. Manajemen Bangsal
6. Implementasi Sistem Manajemen
Presentase tenaga keperawatan di Ruang Mina saat ini berdasarkan jenjang
pendidikan adalah,

3
1. S1 Keperawatan × 30%
10
7
2. D3 Keperawatan10x 70%

2. Tenaga Medis
Tabel 2.3 Tenaga Medis pendukung Di Ruang Mina RSI Masyithoh

No Tenaga Medis Jumlah


1 Dokter Spesialis Penyakit Dalam 2
2 Dokter Spesialis paru 3
3 Dokter Spesialis Saraf 1
4 Dokter Spesialis Bedah 3
5 Dokter Spesialis THT 2
6 Dokter Spesialis Kulit 1
7 Dokter Spesialis Mata 2
8 Dokter Spesialis Kandungan 3
9 Dokter Spesialis Anak 3

9
3. Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat
Tabel 2.4 jumlah pasien 14 januari 2019
No Nomor bed px Tingkat ketergantungan px
1 15.1 Partial
2 15.2 Partial
3 15.3 Partial
4 15.4 Partial
5 15.5 Partial
6 15.7 Partial
7 1A Partial
8 1B Partial
9 2B Partial

Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat 14 Januari


2019 Di Ruang Mina
Kebutuhan Jam Perawatan
1. Perhitungan Jam Perawatan Langsung
Total : 6 jam x 0 orang = 0 jam
Partial : 3 jam x 9 orang = 27 jam
Mandiri : 2 jam x 0 orang = 0 jam
= 27 jam

2. Perhitungan Jam Perawatan Tidak Langsung


35 menit x 9 orang = 315 menit = 6 jam
3. Jam Penyuluhan
15 menit x 9 orang = 135 menit = 3 jam
Jadi, total jumlah jam perawatan yang dibutuhkan = 34 jam

KEBUTUHAN PERAWAT

1. Jumlah kebutuhan perawat 24 jam


34
Jumlah jam perawatan= = 5 orang
8

Jam kerja perawat/hari

10
2. Pembagian perawat/shift
Pagi (P) = 47% x 5 orang perawat = 2 orang
Sore (S) = 35% x 5 orang perawat = 2 orang
Malam (M) = 17% x 5 orang perawat = 1 orang
Jadi, jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas di Ruang Mina
adalah 5 orang, 1 kepala ruang dan 2 perawat libur.

Tabel kebutuhan tenaga di ruang Mina dari tanggal 14 januari 2019-19


januari 2019

No Tanggal Jumlah perawat yang dibutuhkan (pagi-


sore-malam)

1 14 Januari 2019 4 orang + 1 karu + 2 libur =7 orang

2 15 Januari 2019 5 orang + 1 karu + 2 libur = 8 orang

3 16 Januari 2019 6 orang + 1 karu + 2 libur = 9 orang

4 17 Januari 2019 6 orang + 1 karu + 2 libur = 9 orang

5 18 Januari 2019 5 orang + 1 karu + 2 libur = 8 orang

6 19 Januari 2019 5 orang + 1 karu + 2 libur = 8 orang

Rata-rata kebutuhan perawat ruang Mina selama 6 hari

𝟒𝟗
7+8+9+9+8+8 = 𝟔
= 8 orang

11
B. Pasien

1. Alur Pasien Masuk Ruangan

Pasien Masuk

Poli IRD

Ruang Mina

- Pulang Paksa
- Pulang Sembuh
- Pindah Ruangan
- Di Rujuk

2.2.2 SARANA DAN PRASARANA (M2 MATERIAL)


1. Lokasi
Ruang Mina merupakan bagian dari ruang perawatan di Medik RSI
Masyithoh .Ruang Mina terletak di lantai 3, yang terdiri dari kelas 2 dan kelas 3,
kelas 2 terdapat 6 bed, dan sedangkan kelas 3 terdapat 17 bed. Untuk sementara
ini, ruang kelas 3 ada renofasi dan dipindah di lantai 2 terdiri dari 7 bed.. Adapun
dalam Ruang Mina terbagi beberapa ruang yaitu nurse station, kamar mandi
pasien dan kamar mandi perawat. Nurse station di dalam dapat meja antara lain
berisi map-map yang berisi status pasien (denah terlampir).

12
2. Fasilitas Petugas Kesehatan
a) Ruang Mina memiliki 4 tempat, yaitu Mina 1,2, dan 3 (kelas II dewasa), dan
Mina 4,5 dan 6 (kelas III Dewasa).
b) Nurse station berada di antara ruang Mina, Ruang perawatan sudah
dimanfaatkan untuk timbang terima, proses pendokumentasian asuhan
keperawatan, keperluan administrasi pasien.
c) Ruang kepala ruangan terletak di bagian samping ruang perawat dan
bersebelahan dengan nurse station berada di lantai 3.
d) Televisi : 4 unit
e) Kipas angin: 23 unit
3. BOR Pasien
Berdasarkan hasil pengkajian pada hari senin tanggal 16 Januari 2019 di
dapati gambaran kapasitas tempat tidur di ruang Mina yaitu 13 bed dengan
rincian sebagai berikut :
Table 2.5 Jumlah tempat tidur di Ruang Mina RSI Masyithoh 14 Januari 2019
No Shift Kelas II Kelas III BOR
6 bed 7 bed 9
1 Pagi ×100% = 69%
13
(4 kosong) (0 kosong)
6 bed 7 bed 7
2 Sore ×100% = 53%
13
(4 kosong) (2 kosong)
6 Bed 7 bed 8
3 Malam ×100% = 61 %
13
(3 kosong) ( 2 kosong)

4. FasilitasPasien
Sarana Prasarana Jumlah

Kamar mandi 5 buah


Tempat Tidur 13 buah
Meja pasien 13 buah
Bantal 13 buah
Seketsel 0 buah
Sketsel (kelambu) 26 buah

13
Tempat linen infeksius 1 buah
Tempat linen noninfeksius 1 buah
Kursi Roda 1 buah
AC 3 buah
Kursi plastic 13 buah
Manometer O2 5 buah
TV 4 Buah
Kipas angina 23 buah

5. Peralatan Kesehatan
Kondisi
No. NamaBarang Jumlah
Baik Rusak Sisa
Ambubag
1. 1 1 - 1
Dewasa
2. Bengkok kecil 2 2 - 2
Bak instrument
3. 4 4 4
besar
Bak instrument
4. 2 2 - 2
kecil
5. Kom 2 2 - 2

6. Gunting perban 2 - - 2

7. Gunting AJ 2 1 1 1
Gunting bengko
9. 3 2 1 2
kbesar
10. Spatel lidah 2 2 - 2

11. Pinset chirugi 1 - - 1

12. Pinsetanatomi 1 1 - 1

13. Klem besar 1 1 - 1

14. Klem bengkok 1 1 - 1

14
15. Korentang 1 1 - 1

16. Mortil 1 1 - 1

17. Tensi meter 3 3 - 3

19. Stetoskop dewasa 2 2 - 2


Termometer
20. 4 4 - 4
digital
21. Timbangan 1 1 - 1

22. GDA 1 1 - 1

23. Lampu baca RO 1 1 - 1

24. Tromol kecil 1 1 - 1

25. Sterilisator 1 1 - 1

26. Nebulizer 1 1 - 1

27. ECG 1 1 - 1

28. Infus pump 1 1 - 1

29. Suction 1 1 - 1

30. Troli 3 3 - 3

31. Pispot 5 3 2 3

32. Urinal 4 3 1 3

33. Standard infuse 23 - - 32

34. Torniquet 1 1 - 1

35. Manometer 5 4 2 3

6. RuangPenunjang
a. Kamar mandi
b. Ruang tata usaha/administrasi

15
7. Dokumentasi
a. Jadwal Dinas Karyawan
b. Dokumen absensi mahasiswa
c. Daftar inventoris alat kesehatan dan non-alat kesehatan
d. Daftar pegawai bidang keperawatan
e. Dokumen penerimaan logistic
f. Surat keluar dan masuk
g. Standar asuhan keperawatan
h. Buku laporan harian
i. Buku timbang terima
j. Buku injeksi/CPO
k. Buku penerimaan obat
l. Surat Rujuk
m. Surat keterangan alih rawat
n. Lembar resep
o. BlankoTransfusi
p. Surat keterangan kematian
q. Bon
r. Surat pengajuan perintah rujuk
s. Surat keterangan opname
t. Surat keterangan menunggu penderita
u. Surat pengembalian obat

16
8. Daftar Protap Keperawatan
NO PROTAP
1 Injeksi intra vena
2 Injeksi intra muskular
3 Injeksi intra cutan
4 Injeksi sub cutan
5 Mengambil sampel BGA
7 Memasang infus
8 Mengganti cairan infus
9 Menghitung tetesan infus
10 Mengganti selang infus
11 Mengukur kebutuhan cairan yang masuk dan keluar
12 Memberikan obat secara sub lingual
13 Memberikan obat tetes telinga
14 Memberikan obat tetes mata
15 Memberikan obat topikal
16 Memberikan obat oral
17 Memasukan obat melalui anus
18 Terapi nebulizer
19 Suction
20 Memasang NGT
21 Irigasi lambung
22 Memberikan makanan atau minuman melalui NGT
23 Menyuapi pasien
24 Persiapan dan pelaksanan tranfusi darah
25 Permintaan darah (transfusi darah) ke PMI
26 Memasang kateter
27 Melepas kateter
28 Perawatan kateter pada wanita
29 Perawatan kateter pada laki laki
30 Irigasi kandung kemih
31 Menyiapkan dan memberikan huknah rendah
32 Menyiapkan dan memberikan huknah tinggi
33 Menyiapkan dan memberikan gliserin dengan spuit
34 Irigasi mata
35 Persiapan kulit untuk pembedahan
36 Merawat luka ulkus dekubitus
37 Merawat luka bakar
38 Perawatan trakeostomi
39 Perawatan kolostomi
40 Mengganti balutan luka
41 Perawatan luka kotor

17
42 Perawatan luka bersih
43 Perawatan tampon epistaksis
44 Mengangkat jahitan luka
45 Mengukurr tekanan darah
46 Menghitung denyut nadi
47 Menghitung pernafasan
48 Mengukur suhu axilia
49 Mengukur suhu rextal
50 Mengukur suhu di mulut
51 Menimbang berat badan
52 Menyiapkan dan memberikan kompres hangat
53 Menyiapkan dan memberikan kompres basah
54 Menghitung BMR
55 Memberikan oksigen dengan nasal kanul
56 Memonitoring tabung oksigen dan oksigen sentral
57 Penanganan pasien tirah baring
58 Memandikan pasien ditempat tidur
59 Menjaga keselamatan pasien di tempat tidur
60 Menolong pasien BAB
61 Menolong pasien BAK
62 Melakukan rendam bokong
63 Membersihkan mulut pasien
64 Menyisir rambut pasien
65 Membantu pasien untuk tidur
66 Melaksanakan ambulasi dini
67 Melakukan pelayanan spiritual kepada pasien
68 Membimbing pasien menghadapai sakaratul maut
69 Mengawasi tingkat kesadaran pasien
70 Melakukan resusitsi jantung paru
71 Merawat jenazah
72 Memindahkan pasien
73 Perawatan isolasi
74 Menggati linen kotor dengan pasiensiatas tempat tidur
75 Memberi posisi sem fowler
76 Memberi posisi trendelenberg
77 Mengatur posisi lithotomi
78 Memasang bidai
79 Memasang bidai leher
80 Memeriksa gula darah dengan glukotest stick
81 Merekam ECG
82 Fisioterapi dada
83 Mencuci tangan cara biasa
84 Pengguanaan masker

18
85 Penggunaan sarung tangan disposible
86 Pemasangan WSD
87 Mempersiapkan larutan desinfektan
88 Pengguanaan tutup kepala
89 Sterilisasi
90 Persiapan pasien untuk pemeriksaan radiodiagnostik
91 Mempersiapkan pasien pre operasi di ruangan
92 Memindahkan pasien ke meja operasi
93 Melaksanakan komunikasi secara langsung
94 Memberikan penyuluhan secara individu
95 Pengiriman bahan pemeriksaan ke laboratorium
96 Menimbang berat badan bayi
97 Memandikan bayi
98 Memandikan bayi dengan minyak
99 Menggantu pakaian bayi
100 Pertolongan bayi baru lahir
101 Inisiasi menyusu dini
102 Identifikasi ibu dan bayi baru lahir
103 Perawatan payudara
104 Membimbing ibu menyusui
105 Mengeluarkan asi
106 Episiotomi
107 Ampiotomi
108 Penjahit luka peritoneum
109 Persiapan pasien kutettage
110 Perawatan pasien dengan ketuban pecah dini
111 Pengawasan infeksi pada masa nifas
112 Perdarahan post partum
113 Perawatan luka post op sectio cecarea
114 Terapi blue light pada bayi
115 Memberikan asi melalui NGT
116 Memberikan terapi melalui vena umbilikus
117 Penangan bayi dengan atresia ani
118 Penangan bayi dengan meningocole
119 Penangan bayi denganhidrosepalus
120 Penangan bayi hipothermi
121 Penangan bayi dengan RDS
122 Penanganan neonatus dengan celah bibir palatum
123 Penangan bayi dengan talipes
124 Vulva hygine
125 Memelihara dan memotong kuku
126 Melakuakan timbang terima
127 Menerima pasien masuk ruang rawat inap

19
128 Melaksanakan program orientasi pada pasien
129 Menyiapkan pasien pulang dari ruang rawat inap
130 Mempersiapkan psien pindah kelas di ruang rawat inap

9. Inventaris Alat Tenun


Inventaris AlatTenun di Ruang Marwah 2 RSI Masyithoh Bangil
Kondisi
No. NamaBarang Jumlah JumlahStandart
Baik Rusak
1. Sprei Hijau 46 46 - 54
2. Selimut 23 23 - 54
3. Sarung Bantal 46 46 - 54
4. Gorden Kecil (Biru) 9 9 - 9
5. Gorden Besar (Biru) 8 8 - 8

2.3 METODE PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN (M3-METHODS)


2.3.1 Penerapan Sistem MAKP

Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem


(struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional
mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk
menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996 dalam Hamid,
2001). Dasar pertimbangan pemilihan Model Asuhan Keperawatan
Profesional (MAKP). Katz, Jacquilile (1998) mengidentifikasikan 8 model
pemberian asuhan keperawatan, tetapi model yang umum dilakukan di rumah
sakit adalah Keperawatan Tim dan Keperawatan Primer. Karena setiap
perubahan akan berdampak terhadap suatu stress, maka perlu
mempertimbangkan 5 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode
pemberian asuhan keperawatan (Tomey,Mariner 1996) yaitu :

a. Sesuai dengan visi dan misi institusi


b. Dapat diterapkan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan.
c. Efisien dan efektif penggunaan biaya.
d. Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat.
e. Kepuasan kinerja perawat.

20
Jenis Model Asuhan Keperawatan Profesional ( MAKP) Menurut Kron.T &
Gray (1997) ada 4 metode pemberian asuhan keperawatan profesional yang
sudah ada dan akan terus dikembangkan di masa depan dalam menghadapi
tren pelayanan keperawatan, yaitu:

1. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Fungsional


Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada
saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka
setiap perawat hanya melakukan 1 – 2 jenis intervensi keperawatan kepada
semua pasien di bangsal. Model ini berdasarkan orientasi tugas dari
filosofi keperawatan, perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu
berdasarkan jadwal kegiatan yang ada (Nursalam, 2002).
2. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Kasus
Kasus Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien
saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap
shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang
sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu
pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat
privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi, intensive care.
Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi keperawatan.
Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi pada pasien
tertentu (Nursalam, 2002).
3. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primer
Menurut Gillies (1989) perawat yang menggunakan metode keperawatan
primer dalam pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer
(primary nurse). Pada metode keperawatan primer terdapat kontinutas
keperawatan dan bersifat komprehensif serta dapat dipertanggung
jawabkan, setiap perawat primer biasanya mempunyai 4 – 6 klien dan
bertanggung jawab selama 24 jam selama klien dirawat dirumah sakit.
Perawat primer bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi dan
koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan dan juga akan
membuat rencana pulang klien jika diperlukan. Jika perawat primer sedang

21
tidak bertugas , kelanjutan asuhan akan didelegasikan kepada perawat lain
(associate nurse). Metode penugasan dimana satu orang perawat
bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan
pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong
praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara si pembuat rencana
asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya
keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang
ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi keperawatan
selama pasien dirawat.
4. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim
Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan
dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga
keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok klien
melalui upaya kooperatif dan kolaburatif ( Potter, Patricia 1993). Model
tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok
mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan
keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat
yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda- beda
dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien.
Perawat ruangan dibagi menjadi 2 – 3 tim/ group yang terdiri dari tenaga
professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling
membantu. Dalam penerapannya ada kelebihan dan kelemahannya.
Kelebihannya yakni memungkinkan pelayanan keperawatan yang
menyeluruh, mendukung pelaksanakaan proses keperawatan,
memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan
memberi kepuasan kepada anggota tim. Sedangkan Kelemahannya yakni
komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi
tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan
pada waktu-waktu sibuk. (Nursalam, 2002)

22
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh kelompok
pada tanggal 16 Januari didapatkan hasil sebagai berikut, model asuhan
keperawatan profesional yang dilakukan di ruang Mina saat ini adalah
MAKP tim tetapi tidak berjalan dengan baik Pada kenyataannya di ruang
Mina masih menggunakan metode fungsional, ini dibuktikan dengan tiap
kali shift perawat bekerja sebegai dokumentasi sendiri, menyuntik sendiri,
dll.

23
2.3.2 Penerimaan Pasien Baru
Alur penerimaan pasien baru

Karu memberi tahu PP akan ada pasien baru


Pra ↓

PP menyiapkan
1. Lembar pasien masuk RS
2. Lembar format pengkajian pasien
3. Nursing kit
4. Informend concent sentralisai obat
5. Lembar tata tertib pasien dan pengunjung
6. Tempat tidur pasien baru
Pelaksanaan ↓
Karu, PP dan PA menyambut pasien baru dan
serah terima cengan petugas pengirim (IGD/ Poli)

Orientasi Pasien dan Keluaraga,
Anamnesa dan dokumentasi Asuhan Keperawatan
pasien baru oleh PP dan PA

Terminasi

Post ↓
Evaluasi

24
Dari pengamatan yang kami dapatkan penerimaan pasien baru di ruang
Mina sudah berjalan sesuai dengan alur penerimaan pasien baru, hanya
saja ada beberapa hal formuat yang harus dilengkapi pada saat penerimaan
pasien baru salah satunya adalah format serah terima obat dari ruangan
sebelumnya.

2.3.3 TimbangTerima
Alur Timbang Terima
Pasien
Diagnosa medis/ Diagnosa
Masalah Kolaboratif Keperawatan

Rencana Tindakan

Yang Telah Dilakukan Yang Akan Dilakukan

Perkembangan Keadaan Pasien

MASALAH
Teratasi,
Belum Teratasi,
Teratasi Sebagian,
Muncul Masalah Baru

Dari pengamatan yang telah kami lakukan di ruang Mina timbang


terima sudah dilakukan diawali dengan berdoa bersama, dan langsung
keliling dari bed satu ke bed selanjutnya dengan membawa status pasien.
Sehingga, pre converence dan post converence tidak terlaksana. Isi timbang
terima yang dilakukan di ruang Mina meliputi Nama pasien, Diagnosa
medis, Keluhan pasien, rencana yang sudah dilakukan dan yang belum
dilakukan. Sedangkan untuk Masalah Keperawatan pasien yang seharusnya
dioperkan belum tersentuh sama sekali.

25
2.3.4 Supervisi Keperawatan
Secara umum yang dimaksud dengan supervisi adalah melakukan
pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan
yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan
masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung
guna mengatasinya (Azwar, 1996). Wijono (1999) menyatakan bahwa
supervisi adalah salah satu bagian proses atau kegiatan dari fungsi
pengawasan dan pengendalian (controlling). Berdasarkan beberapa
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervisi adalah
kegiatan-kegiatan yang terencana seorang manajer melalui aktifitas
bimbingan, pengarahan, observasi, motivasi dan evaluasi pada stafnya
dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari (Sudarsono, 2000).
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh kelompok
pada tanggal 16 januari 2019 di dapatkan hasil bahwa kepala ruang Mina
sudah pernah melaksanakan supervise, dilakukan secara berjenjang. Yaitu
Kabag ke Karu, Karu ke Anggota tim.

Alur Supervsi

Manajer Keperawatan

SPV Keperawatan +
Ka Ru

PP PP
1 2 Ka Ru

P P
A A

26
2.3.5 Discharge Planning
Berdasarkanhasil penelitian yang telah dilakukan oleh kelompok
pada tanggal 16 Januari 2019 Ruang Mina didapatkan hasil sebagai
berikut:
Discharge Planning di ruang Mina sudah dilakukan hal ini
dibuktikan dengandiisinya format edukasi terintergrasi, pada waktu
orientasi pasien datang yang diikuti dengan tanda tangan pasien dan
pemberian HE (Health Education) pada pasien pulang mengenai diit
pasien yang harus diberikan pada pasien saat dirumah dan penggunaan
obat waktu dirumah. Serta diberikan kartu control, informasi jadwal
kontrol, dan menandatangani discharge planning.

2.3.6 Sentralisasi Obat


Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat, sebagai salah satu
peran perawat perlu dilakukan dalam suatu pola/ alur yang sistematis
sehingga penggunaan obat benar – benar dapat dikontrol oleh perawat
sehingga resiko kerugian baik secara materiil maupun secara non material
dapat dieliminir. Tehnik pengelolaan obat kontrol penuh ( sentralisasi)
adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan pada
pasien diserahkan sepenuhnya pada perawat. Pengeluaran dan pembagian
obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat. Keluarga wajib mengetahui dan
ikut serta mengontrol penggunaan obat. Obat yang telah diresepkan dan
telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat dengan menerima
lembar serah terima obat. Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis
obat, jumlah dan sediaan dalam kartu kontrol dan diketahui oleh keluarga /
klien dalam buku masuk obat. Keluarga atau klien selanjutnya
mendapatkan penjelasan kapan/ bilamana obat tersebut akan habis. Obat
yang telah diserahkan selanjutnya disimpan oleh perawat dalam kotak
obat.

27
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh kelompok pada
16 januari 2019. Sentralisasi obat di Ruang Mina sudah dilakukan hal ini
dibuktikan dengan adanya kotak obat tiap-tiap pasien dan jadwal
pemberian obat. Tetapi untuk format pemberian obat atau tanda tangan
pasien bukti telah dilakukan tindakan pemberian obat di ruang Mina
belum ada.

2.3.7 Ronde keperawatan


Ronde Keperawatan Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi
masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping
pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan
akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau
konselor, kepala ruangan, perawat assosciate yang perlu juga melibatkan
seluruh anggota tim. Tujuannya :

1. Menumbuhkan cara berpikir secara kritis.

2.Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal


dari masalah klien.

3. Meningkatkan validitas data klien.

4. Menilai kemampuan justifikasi.

5. Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja.

6. Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana perawatan.

Pelaksanaan

1. Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde.

2. Pemberian inform consent kepada klien/ keluarga.

3. Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan
atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.

4. Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut.

28
5. Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau perawat konselor/ kepala
ruangan tentang masalah klien serta tindakan yang akan dilakukan.

6. Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan
ditetapkan.

7. Pasca ronde perawat mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada


klien tersebut serta menetapkan tindakan yang perlu dilakukan.
(Nursalam, 2002)

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh kelompok pada


16 Januari 2019 didapatkan hasil sebagai berikut: Di ruang mina belum
pernah dilakukan ronde keperawatan, dengan alasan sulitnya
mengumpulkan tenaga ahli medis atau non medis yang saling berkaitan.
Karena banyaknya jam terbang yang tinggi.

2.3.7 Dokumentasi Keperawatan

Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilakukan oleh kelompok


pada tanggal 16 januari 2019 didapatkan hasil sampai saat ini system
pendokumentasian yang berlaku di ruang Mina adalah sistem SOR
(Souerce Oriented Record) yaitu suatu system pendokumentasian yang
berorientasi dari berbagai sumber tenaga kesehatan, misalnya dari dokter,
perawat, Hambatan dalam pelaksaana dalah :
a. Pengisian pendokumentasian belum lengkap hanya 80% yang mengisi
lengkap (dalam SOAP, DAR, SBAR).
b. Lembar informed consent, dan pengkajian penerimaan pasien sudah
dilaksanakan.
c. Format laporan harian perawat masih mengarah pada diagnose dan
terapi medis, kondisi umum, jawaban atas advice dokter dan tindakan
rutin. Belum ditemukan laporan tentang masalah keperawatan yang
muncul pada pasien dan tindakan keperawatan apa yang telah
dilakukan maupun di rencanakan.

29
Tabel 2.10 Lembar Dokumentasi Ruang Mina RSI Masyitoh Bangil
No. URAIAN BAGIAN

1. Triase

2. Assesmen IGD

3. Assesmen Keperawatan IGD

4. Formulir Masuk RS

5. Lembar Administrasi

6. Resume Medis Rawat Inap

7. Surat Persetujuan Umum

8. Formulir Orientasi Pasien Baru

9. Ringkasan Pasien

10. Formulir Transfer Pasien Antar Ruang Keperawatan

11. Lembar Instruksi Dokter

12. Lembar Visite Dokter Jaga

13. Formulir Pemberian Informasi-Edukasi Pasien Terintegrasi

14. ResikoJatuh

15 Pengkajian Ulang

16 Format Asuhan Keperawatan

17 Implementasi dan Evaluasi

18 Bluered

19 Resume Keperawatan

2.2.4 M-4 MONEY

30
PEMBIAYAAN (MONEY M-4)
Pengadaan dana bagi ruangan (renovasi ruangan), secara keseluruhan
sumber dana operasional ruangan termasuk pendanaan alat kesehatan,
fasilitas kesehatan bagi pasien, dan pendanaan bahan kesehatan berasal
dari rumah sakit yang diterima dari biaya perawatan individu pasien dan
kerjasama dengan pihak BPJS bagi pasien yang memiliki kartu BPJS .
Sedangkan sumber dana kesejahteraan karyawan berasal dari rumah sakit
yaitu dari dana jasa medic dan jasa pelayanan berupa uang yang diberikan
setiap bulan, berdasarkan sistem penggajian berdasarkan pertimbangan
tingkat pendidikan, pangkat , jabatan dan lama kerja. Pembiayaan pasien
sebagian besar berasal dari KIS/ BPJS dan ASURANSI KESEHATAN. di
Ruang Mina terdiri dari kelas 2 dan kelas 3. Sedangkan yang lain biaya
sendiri. Biaya perawatan saat ini sesuai kelas perawatan
Tabel I.I
BPJS dan ASURANSI UMUM
KESEHATAN

Pasien yang akan masuk rawat inap Pasien umum tidak perlu menyiapkan
hanya menyiapkan kartu BPJS dan persyaratan apapun, karena semua
ASKES serta KTP yang telah di foto biaya ditanggung oleh pribadi
copy, dengan lembar jaminan rawat
inap dari rumah sakit

Tabel I.2
No. KELAS TARIF/HARI

1 KELAS II Rp. 350.000

2 KELAS III Rp. 200.000

*Catatan : Tidak termasuk obat-obatan, barang habis pakai, penunjang


medic,dan jasa medik dokter.

31
2.2.5 Pemasaran (M5/Marketing)
1. Jumlah Pasien
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada hari Senin tanggal 14
Januari 2019 didapatkan BOR ruang Mina sebesar 100%.

No. Shift Kamar 1,2,3,dan 15 BOR

1. Pagi 13 bed (3 bed kosong ) 76 %

2. Sore 13 bed (5 bed kosong) 61%

3. Malam 13 bed (4 bed kosong) 69%

2. Alur Pasien
a. Alur Pelayanan Rawat Inap

Pindahan dari ruangan lain IGD IR


J

Rawat Inap

Pemeriksaaan

Pengobatan/tindakan

Boleh pulang / KRS

Bagian administrasi

Pulang/KRS/ Pindah ruangan lain

32
b. Alur Penderita Keluar Rumah Sakit

Dinyatakan Pulang Oleh Dokter

Petugas TU Unit

Ke Kepala Unit

Pasien umum Pasien JPS / BBM / Astek

Tim Pengendali

Kasir Irna Medik

Petugas TU Unit

Kaluar dari RS

Gambar 2.3 Alur Penderita Keluar Rumah Sakit

33
1. Prosentase Kasus Di Ruang Mina 14 Oktober 2018 – 14 Januari 2019
Berikut adalah penjabaran jumlah kasus terbanyak selama 6 bulan.
Tabel 2.13 prosentase kasus pasien di ruang Mina RSI Masyitoh Bangil
14 Oktober 2018 – 14 Januari 2019.
No Penyakit Jumlah Klien
1 Gastroenteritis Akut ( GEA ) 25
2 Hipertensi 23
3 Colic Abdomen 15
4 Diabetesmelitus ( DM ) 15
5 VBI 12
6 CVA 13
7 TBC Paru 12

2. Produk
Ruang Mina memiliki keunggulan dalam menangani kasus penyakit
dalam pada orang dewasa. Ruang ini juga dipergunakan sebagai tempat
praktik mahasiswa kesehatan seperti POLTEKKES Malang.

3. Promosi
Ruang Mina sebagai bagian dari RSI Masyitoh Bangil melakukan
berbagai promosi kesehatan melalui marketing yang sudah ada dari RSI
Masyitoh Bangil (melalui membagikan leaflet yang berisikan tentang
penyakit dan penatalaksanaannya, serta berbagai poster dan banner yang
diletakkan di beberapa sudut RS). Selain itu, promosi dilakukan melalui
penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa praktik.

34
BAB III

PERENCANAAN

A. ANALISA SWOT
Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilakukan oleh kelompok pada
tanggal 12 Februari 18 Februari 2018 didapatkan hasil sebagai berikut:
Identifikasi Situasi Ruangan Berdasarkan Pendekatan Analisis SWOT.
Dari hasil pengkajian dilakukan analisis SWOT berdasarkan sub system dalam
MAKP yang meliputi : 1) Penerapan MAKP, 2) Penerimaan Pasien Baru, 3)
Discharge Planning, 4) Ronde Keperawatan, 5) Supervisi, 6) Dokumentasi.
Tabel 2.14 Analisis SWOT
N
ANALISIS SWOT BOBOT NILAI BOBOT x NILAI
O

1 M1 (Ketenagaan)

a. Internal Faktor (IFAS)

STRENGHT

1. 95% Perawat
menyatakan bahwa
struktur organisasi yang 0.2 4 0.8
ada sesuai degan
kempuan perawat
2. 90% perawat
menyatakan pembagian
tugas sesuai dengan 0.2 4 0.8
S–W
struktur organisasi yang
ada 2,92 -2,0=
3. Adanya 1 orang CI di 0,92
ruangan yang 0.1 4 0.4
membimbing
mahasiswa
4. jenis ketenagaan
diruangan:
S1 Kep = 3 orang 0.2 4 0.8
D3 = 7 orang

35
5. 95% adanya perawat
mengikuti, pelatihan, 0.3 4 0.12
seminar dan Workshop

TOTAL 1 2,92

WEAKNESS

1. 95% jumlah perawat


masih belum sebanding 0,5 2 1.0
dengan jumlah pasien
2. Tidak ada tenaga non
medis yang 0,3 2 0,6
mengantarkan pasien
rontgen, CT-san, dll.
3. Sebagian perawat
belum mengikuti 0,2 2 0,4
pelatihan BTCLS

TOTAL 1 2.0

b. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY

1. 90% perawat antusias


bila mendapat
kesempatan 0.3 3 0.6
melanjutkan pendidikan
kejenjang lebih tinggi
2. Kepala ruang dan staf
menerima dengan baik
dan memfasilitasi
O–T
mahasiswa prakek 0,3 3 0.9
manajemen 3.2 –2,5 =
keperawatan di 0.7
ruangan.

3. Adanya kerjasama antara


perawat klinik dan 0,2 3 0.6
mahasiswa
4. Adanya kebijakan
pemerintah tentang 0.2 3 0.6
profesionalisme perawat
TOTAL 1 2,5

THREATENED

36
1. Adanya tuntutan dari
pasien untuk pelayanan 0.4 3 1.2
yang lebih professional
2. Makin tinggi kesadaran
masyarakat akan 0.3 3 0.9
pentingnya kesehatan
3. Adanya
penanggungjawaban 0.3 3 0.9
legalitas bagi pasien
TOTAL 1 3

M2 (Sarana dan
2
Prasarana)

Internal Faktor (IFAS)

A. STRENGHT

1. Tersedianya gedung yang


kondusif dan sarana 0,3 4 1,2
umum (meja, kursi,
almari).
2. Tersedia sarana dan
prasarana untuk pasien 0,2 3 0,6
dan tenaga kesehatan. S – W=
3. Semua perawat ruangan 3,6 – 3,0
mampu menggunakan = 0,6
0,2 3 0,6
sarana dan prasarana
yang ada di rumah sakit.
4. Pengelolaan sampah
ruangan sudah terpisah 0,3 4 1,2
antara sampah medis dan
non medis
TOTAL 1 3,7

B. WEAKNESS

1. Sarana dan prasarana


tidak mencukupi
kebutuhan jumlah pasien 0,6 3 1,8
(kursi roda, standart
infus)
2. Nurse station tercampur 0,4 3 1,2
dengan ruang Marwah

37
TOTAL 1 3,0

OPPORTUNITY

1. Adanya perkembangan
teknologi yang lebih
0,2 3 0,6
canggih.

2. Adanya kerjasama antara


rumah sakit dengan pihak
0,3 4 1.2
luar yang dapat
menyediakan sarana dan
prasarana yang 3.3-3=3
dibutuhkan.
3. Tersedianya dana untuk
perbaikan dan pengantian
alat-alat yang tidak layak 0,3 3 0.9
pakai/rusak.

4. Adanya kesempatan
menambah anggaran 0,2 3 0.6
untuk pembelian dressing
kit
TOTAL 1 3

D. THREATENED

1. Makin tingginya
kesadaran masyarakat
akan pentingnya menjaga 0,4 3 1,2
sarana dan prasarana di
rumah sakit.
2. Adanya tuntutan yang
tinggi dari masyarakat 0,6 3 1,8
untuk melengkapi sarana
dan prasarana
TOTAL 1 3

3 M3-METODE S–W=
1. 1. MAKP 4,1 – 2,6

38
a. Internal Faktor = 1,5
(IFAS)
A. STRENGTH

1. Memilikijumlah tenaga 0,2 4 1,2


kerja yang cukup
2. Terdapat 3 lulusan S1
keperawatan dan 7 D3 0,2 4 0,8
Keperawatan.
3. Mempunyai SOP 0.2 4 0,8
tindakan Keperawatan.
4. Adanya dukungan yang 0.1 4 0,4
penuh dari Manajemen
5. Sudah diadakannya
pelatihan-pelatihan untuk 0.2 3 0,6
perawat.

0.1 3 0,3

TOTAL 1 3,8

B. WEAKNESS

1. Pelaksanaan metode
makp tim belum 0,4 2 0,8
terlaksana secara optimal
2. Tidak adanya komitmen
penggunaan metode
MAKP tim 0,6 3 1,8
3. Kurangnya Supervisi
yang terus menerus.
TOTAL 1 2,6

b. Eksternal Faktor
(EFAS)

O–T=
C. OPPORTUNITY
3,7 – 2,0
1. Adanya mahasiswa D4 = 1,7
keperawatan Praktika 0,3 3 0,9
manajemen keperawatan.
2. Adanya kerjasama yang 0,3 4 1,2
baik antara Institusi

39
Jurusan Keperawatan
dan bidang keperawatan
klinik
3. Adanya kebijakan RS
dalam pelaksanaan 0,4 4 1,6
peningkatan SDM.
TOTAL 1 3,7

D. THREATENED

1. Adanya tuntutan
masyarakat yang
semakin tinggi terhadap 0,5 -2 -1,0
peningkatan pelayanan
keperawatan yang lebih
profesional.
2. Persaingan RS yang
semakin ketat dalam 0,5 -2 -1,0
penerapan MAKP.
TOTAL 1 -2,0

2.Discharge Plnning

a. Internal Faktor (IFAS)

STRENGHT

1. Adanya kemampuan
untuk memberikan 0,4 4 1,6
pendidikan kesehatan S–W=
kepada pasien/keluarga 4,0 – 3,7
2. Ada format Discharge 0,3 4 1,2 = 0,3
Planning sebelumnya
3. Adanya surat control 0,3 4 1,2

TOTAL 1 4,0

WEAKNESS

1. Keterbatasan waktu
perawat dalam 0,5 4 2,0
memberikan penkes

40
2. Pemberian penkes
dilakukan secara lisan 0,3 3 0,9
setiap pasien/keluarga
tanpa memakai media
3. Discharge planning
dilakukan jika pasien 0,2 4 0,8
akan pulang
TOTAL 1 3,7

b. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY

1. Adanya mahasiswa
Jurusan Keperawatan 0,5 2 1,0
yang akan praktik
manajemen
2. Adanya kerjasama yang
baik antara Institusi
Jurusan Keperawatan 0,5 3 1,5
dan bidang keperawatan
O–T=
klinik
2,5 – 2,0
TOTAL 2,5
= 0,5
THREATENED

1. Adanya tuntutan yang


lebih tinggi dari
masyarakat untuk 0,5 2 1,0
mendapatkan pelayanan
keperawatan yang
professional
2. Makin tingginya
kesadaran masyarakat 0,5 2 1,0
akan pentingnya
kesehatan
TOTAL 1 -2,0

3. Dokumentasi
Keperawatan S–W=
a. Internal Faktor (IFAS) 4,0 – 3,5
= 0,5
STRENGHT

41
1. Tersedianya sarana dan
prasarana untuk 0,5 4 2,0
pendokumentasian
2. Tersedianya format 0,5 4 2,0
Asuhan Keperawatan
TOTAL 1 4,0

WEAKNESS

1. Pengawasan terhadap
sistematika
pendokumentasian
kurang dilaksankan 0,5 -3 -1,5
secara optimal karena
jumlah perawat dengan
jumlah pasien sangat
berbanding terbalik
2. Format pendokumentasi
di ruang Mina belum
lengkap 0,5 -4 -2

TOTAL 1 -3,5

b. Eksternal Faktor O–T=


(EFAS) 9,0 – 2,0
OPPORTUNITY = 7,0

1. Peluang perawat untuk


meningkatkan 0,5 4 2,0
pendidikan
(pengembangan SDM)
2. Kerjasama yang baik
antar perawat dan 0,5 4 2,0
mahasiswa
TOTAL 9,0

THREATENED

1. Adanya tingkat
kesadaran yang tinggi
dari pasien dan keluarga 0,5 -2 -1,0
tentang tanggung jawab
dan tanggung gugat

42
2. Persaingan antar RS
dalam memberikan 0,5 -2 -1,0
pelayanan keperawatan
TOTAL 1 -2,0

4. Peneriman Pasien
Baru
a. Internal Faktor (IFAS)

STRENGHT

1. Sudah ada format


penerimaan pasien baru 1 4 4
dan tata tertib.
TOTAL 1 4 S–W=
WEAKNESS 4,0 –
3,0=1
1. Kurang tersedianya
waktu yang banyak bagi
perawat untuk 0,5 3 1,5
mengorientasikan pasien
dan keluarga secara
lengkap
2. Tidak adanya lembar
serah terima obat dari 0,5 3 1,5
ruangan sebelumnya
TOTAL 1 3

b. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY

1. Adanya mahasiswa
Jurusan Keperawatan 0,5 3 2,0 O–T=
yang akan praktik 4,0 – 3 =
manajemen 1
2. Adanya kerjasama yang
baik antara Institusi
Jurusan Keperawatan 0,5 3 2,0
dan bidang keperawatan
klinik
TOTAL 1 4,0

THREATENED

43
1. Adanya tuntutan
masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan 0,4 3 1,2
keprawatan yang
professional
2. Makin tinggi kesadaran
masyarakat akan 0,4 3 1,2
pentingnyakesehatan
3. Persaingan antar
RumahSakit swata yang 0,2 3 0,6
smakin ketat
TOTAL 1 3

5. Ronde Keperawatan S–W=


2,5 – 2,0
a. Internal Factor (IFAS)
= 0,5
A. STRENGTH

1. Banyaknya kasus-kasus 0,5 3 1,5


medik yang memerlukan
perhatian khusus, seperti
: CVA
2. SDM yang sudah 0,5 2 1,0
berpengalaman dibidang
internal
TOTAL 2,5

B. WEAKNESS

1. Ronde keperawatan 0,5 2 1


jarang dilaksanakan di
ruang Mina
2. Susahnya 0,5 2 1
mengumpulkan tenaga
medis di Ruang Mina
TOTAL 1 2,0

b. External Factor (EFAS) O–T


=3,5 –
C. OPPORTUNITY
3,0 = -
1. Adanya mahasiswa 0,5 3 1,5 0,5
praktek yang akan
menerapkan ronde
keperawatan di ruang

44
mina
2. Adanya kesempatan dari 0,5 4 2,0
Karu untuk mengadakan
ronde keperawatan pada
perawat dan mahasiswa
praktik.
TOTAL 3,5

D. THREATHENED

1. Adanya tuntutan yang 1,0 -3 -3,0


lebih tiggi dari
masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
yang lebih profesional.

TOTAL 1 -3,0

6. Supervisi S–W=
4,0 –
a. Internal Faktor (IFAS)
2,0= 2,0
STRENGHT

1. Kepala ruangan 0,5 4 2,0


mendukung kegiatan
supervise, baik yanga
terjadwal maupun yang
tidak terjadwal
2. Adanya SOP tindakan 0,5 4 2,0
keperawatan
TOTAL 1 4,0

WEAKNESS

1. Kedisiplinan perawat 1,0 -2 -2,0


perlu ditingkatkan
TOTAL 1 -2,0

b. Eksternal Faktor O–T=


(EFAS) 3,7 – 2,5
OPPORTUNITY = 1,2

1. Adanya mahasiswa 0,3 3 0,9

45
Jurusan Keperawatan
yang akan praktik
manajemen
2. Adanya kerjasama yang 0,3 4 1,2
baik antara Institusi
Jurusan Keperawatan
dan bidang keperawatan
klinik
3. Adanya kegiatan 0,4 4 1,6
supervise yang dilakukan
secara umum oleh
bidang keperawatan
klinik
TOTAL 3,7

THREATENED

1. Adanya kompetisi 0,5 -2 1,0


beberapa RS mengenai
kegiatan keperawatan
2. Adanya kesadaran 0,5 -3 1,5
masyarakat yang tinggi
terhadapa mutu
kesehatan
TOTAL 1 -2,5

7. Timbang Terima S–W=


3,5 – 2,0
a. Internal Faktor (IFAS)
= 0,25
STRENGHT

1. Kepala ruangan 0,3 4 1,2


memimpin kegiatan
timbang terima
2. Adanya laporan jaga tiap 0,2 4 0,8
shift
3. Adanya kemauan 0,3 3 0,9
perawat untuk
melakukan timbang
terima
4. Adanya buku khusus 0,2 3 0,6
untuk
pelaporan timbang terima

46
TOTAL 1 3,5

WEAKNESS

Timbang terima sering 1,0 2 2,0


telat dimulai karena
perawat banyak tindakan
di akhir shift.
TOTAL 1 2,0

b. Eksternal Faktor O – T=
(EFAS) 2,5 – 2,4
OPPORTUNITY = 0,1

1. Adanya mahasiswa 0,5 3 1,5


Jurusan Keperawatan
yang akan praktik
manajemen
2. Adanya kerjasama yang 0,5 2 1,0
baik antara Institusi
Jurusan Keperawatan
dan bidang keperawatan
klinik
TOTAL 1 2,5

THREATENED

1. Adanya tuntutan yang 0,5 -2 -1,0


lebih tinggi dari
masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
keperawatan yang
professional
2. Meningkatnya kesadaran 0,5 -2 1,0
masyarakat tentang
tanggung jawab dan
tanggung gugat perawat
sebagai pemberi asuhan
keperawatan
TOTAL 1 -2,0

8. Sentralisasi Obat S-W=


1. 3,0- 2,5=
0,5

47
a. Internal Faktor (IFAS)

STRENGHT
1. adanya tempat untuk
menempatkan obat sesuai 1 3 3
dengan nomor bed pasien

TOTAL 1 4

WEAKNESS
1. tidak adanya tempat
pendingin untuk obat-obat
0,5 3 1,5
yang harus berada pada suhu
dingin

2.tidak adanya form


pemberian obat kepada 0,5 2 1
pasien

TOTAL 1 1,5

b. Eksternal Faktor O-T=


(EFAS) 3,5 –
OPPORTUNITY 2,5= 1

1. Adanya mahasiswa
Jurusan Keperawatan 0,5 4 2
yang akan praktik
manajemen
2. Adanya kerjasama yang
baik antara Institusi Jurusan
0,5 3 1,5
Keperawatan dan bidang
keperawatan klinik

TOTAL 1 3,5

THREATENED

5. Adanya tuntutan
masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan 0,5 -3 -1,5
keprawatan yang
professional

6. Makin tinggi kesadaran 0,5 -2 -1,0


masyarakat akan pentingnya

48
kesehatan
TOTAL 1 2,5

c. IDENTIFIKASI MASALAH
Setelah dilakukan analisa situasi dengan menggunakan pendekatan SWOT
maka kelompok dapat merumuskan masalah yang ditemukan adalah.
1. Model asuhan keperawatan profesional yang dilakukan di ruang Mina saat
ini adalah MAKP tim. Dalam pelaksanaanya, MAKP tim ini belum
maksimal karena tidak konsistennya ruangan dalam menggunakan MAKP
ini, sehingga pada pelaksanaannya menggunakan metode fungsional.
2. Timbang terima di ruang Mina sudah dilakukan tapi belum lengkap yang
dioperkan hanya berfokus pada masalah medis, rencana yang sudah
dilakukan dan belum dilakukan, sehingga masalah keperawatan tidak
tersentuh dan tehnik timbang terima masih belum optimal , tidak
diadakannya pre dan post converenc serta penulisan timbang terima masih
pada perencanaannya.
3. Ronde Keperawatan di ruang Mina belum ada. Dikarenakan sulitnya
mengumpulkan tenaga medis dan non medis yang terkait yang ada di RSI
Masyithoh
4. Sentralisasi obat di ruang mina sudah dilakukan hal ini dibuktikan dengan
adanya kotak obat setiap pasien, dan daftar pemberian obat serta sudah
adanya farmasi klinik. Hanya saja di ruang mina tidak disediakan form
pemberin obat pada pasien yang berupa tanda tangan asien saat pemberian
obat .
5. Di ruang mina ruang memiliki 10 pegawai dengan jenjang pendidikan 3 S1
keperawatan dan 7 D3 keperawatan sementara diruang Mina terdapat
beberapa perawat yang belum mengikuti pelatihan Basic Life Suport
6. Sarana dan prasarana diruang mina memang saat ini sangat terkendali
perihal sarana prasarana , dikarenakan ruang mina sedang dilakukan
renofasi , sehingga pasien yang berada di lantai 3 kurang mendapat
pantauan dari perawat.
TABEL PRIORITAS MASALAH

49
Skor Analisis swot
Masalah Luas arsiran Prioritas
IFAS EFAS
MAKP 0,3 0,4 0,12 1
Timbang Terima 0,3 0,5 0,15 2
Ronde Keperawatan 0,6 0,7 0,42 3
Sentralisai Obat 1 0.5 0,5 4

Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka kelompok kami mengambil


prioritas masalah yaitu pada Metode MAKP.

50
BAB III
PERENCANAAN

Berdasarkan 4 prioritas masalah yang telah uraikan diatas kami menyusun


perencanaan untuk memberi solusi dari masalah yang ada diruang Mina

3.1 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)

a) Adanya dukungan dari atasan berjenjang di berlakukannya system


MAKP diruangan
b) Komitmen yang terjaga di masing-masing individu
c) Adanya supervisi dari atasan yang berjenjang dengan berjalannya
pelaksanaan MAKP
d) Evaluasi pelaksaan meliputi seberapa keberhasilan yang dicapai dan
kendala yang ditemukan

3.2 Timbang Terima


a) Kepala Ruang memberikan motivasi dan dukungan kepada semua
perawat ruangan untuk dapat melaksaksanakan timbang terima secara
optimal,
b) Dibuatkan SOP yang benar mengenai timbang terima, mulai dari alur
serta isi timbang terima. Jadi ruang satu dengan yang lain
disamaratakan untuk SOPnya.
c) Adanya supervise terus-menerus dari Kepala ruangan untuk
mengoptimalkan dokumentasi timbang terima
d) Evaluasi pelaksanaan meliputi seberapa keberhasilan yang dicapai dan
kendala yang ditemukan

51
3.3 Ronde Keperawatan
a) Adanya dukungan dari atasan berjenjang untuk pelaksaan ronde
keperawatan di ruangan
b) Tersedianya form infomed concent ronde keperawatan di ruangan
c) Kepala Ruang melakukan kerjasama dengan Tim medis dan non
medis untuk menusun jadwal ronde keperawatan sebagai kegiatan
rutin di ruangan
d) Dibentuknya SOP Ronde Keperawatan dari Manajemen.
e) Evaluasi tingkat keberhasilan ronde keperawatan

3.4 Sentralisasi Obat


a) Adanya dukungan dari atasan berjenjang dikeluarkannya format
pemberian obat
b) Dibentuknya form pemberian obat injeksi dan oral meliputi tanda
tangan serta penerimaan obat pada pasien.
c) Karu mensosialisasikan kepada perawat ruangan untuk menggunakan
secara optimal lembar pemberian obat kepada pasien
d) Dilakukannya evaluasi tingkat keberhasilan perawat ruang dalam
mengisi serah terima pemberian obat

52
Format Pemberian Obat
Nama Pasien : No.Reg :
Umur : Diagnosa Medis :
Ruang :
Tanggal
Nama Obat Jam Paraf Paraf Jam Paraf Paraf jam Paraf Paraf
dan Dosis : prwt klg prwt klg prwt klg

Tanggal
Nama Obat Jam Paraf Paraf Jam Paraf Paraf jam Paraf Paraf
dan Dosis : prwt klg prwt klg prwt klg

Tanggal
Nama Obat Jam Paraf Paraf Jam Paraf Paraf jam Paraf Paraf
dan Dosis : prwt klg prwt klg prwt klg

Tanggal
Nama Obat Jam Paraf Paraf Jam Paraf Paraf jam Paraf Paraf
dan Dosis : prwt klg prwt klg prwt klg

Tanggal
Nama Obat Jam Paraf Paraf Jam Paraf Paraf jam Paraf Paraf
dan Dosis : prwt klg prwt klg prwt klg

53
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan

1. Setelah dilakukan analisa situasi dengan menggunakan pendekatan


SWOT maka kelompok dapat merumuskan masalah yang
ditemukan adalah MAKP.
2. Model asuhan keperawatan profesional yang dilakukan di ruang
Mina saat ini adalah MAKP tim. Tetapi pada kenyataannya di
ruang Mina masih menggunakan Metode Fungsional.
3. Ners Stasion pada ruangan tidak strategis. Hal ini dikarenakan
adanya renovasi yang masih dilakukan di ruang Mina.
.
4.2 Saran
Diharapkan Seluruh perawat dalam menjalankan sistem yang ada
dalam Rumah Sakit Setempat dengan baik dan benar agar sistem yang
gunakan dalam rumah sakit tersebut berjalann dengan lancar Perawat,
Diharapkan juga turut menjaga peralatan dalam ruangan. Agar barang
barang yang terdapat di ruangan bisa awet.

77
DAFTAR PUSTAKA

Arwani, HS 2005. Manajemen Bangsal Keperawatan. Jakarta: EGC.

Hasibuan, SP. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Lamak, MK. 2009. Perbandingan Hasil Perhitungan Kebutuhan Tenaga Keperawatan


Berdasar Metode Dounglas Dan Time And Moyion Study Di Ruang Irna 1.

Nursalam. 2007 . Manajemen Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.

Suarli, YB. 2009 . Manajemen Keperawatan Dengan Pendekatan Praktis. Jakarta: Erlangga.

78
79