Anda di halaman 1dari 13

Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

PENGGUNAAN PERALATAN PESAWAT SINAR-X

I. PENDAHULUAN
Dosis yang diterima oleh pasien diagnostik harus sesuai dengan dosis
acuan dan menghasilkan kualitas citra yang baik. Dosis tersebut bergantung
pada keluaran berkas radiasi dari pesawat sinar-X. Keluaran berkas radiasi
dari pesawat sinar-X berbeda-beda, bergantung pada pesawat sinar-X yang
digunakan. Keluaran berkas radiasi dari suatu pesawat sinar-X dipengaruhi
oleh tegangan kerja (kV), arus (mA) dan waktu (s).
Adanya dinding penahan radiasi pada pesawat sinar-X berfungsi untuk
melindungi pekerja umum, pekerja radiasi, pasien yang sedang menunggu
giliran dan masyarakat umum. Evaluasi terhadap efektivitas dinding radiasi
terhadap instalasi yang telah beroperasi perlu dilakukan untuk menjamin
bahwa tidak ada radiasi yang tidak seharusnya keluar dari ruangan.
Pada pesawat sinar-X, kebocoran radiasi dapat terjadi pada saat
dioperasikan, yang disebabkan oleh ketidakmampuan rumah tabung pesawat
sinar-X untuk menahan radiasi yang dihasilkan. Oleh sebab itu, secara
periodik harus dilakukan uji kebocoran untuk mengetahui laju dosis bocor
untuk pesawat sinar-X masih di bawah batas yang diizinkan.
Pada praktikum ini akan dilakukan pengukuran keluaran berkas radiasi
dengan cara mengukur dosis integral menggunakan alat ukur radiasi,
pengujian efektivitas dinding ruang pesawat sinar-X dan kebocoran pesawat
sinar-X.
Setelah praktikum peserta memiliki kompetensi untuk melakukan
pengukuran keluaran berkas radiasi pesawat sinar-X, melakukan uji
kebocoran pada pesawat sinar-X , dan evaluasi dinding ruang pesawat sinar-
X, dengan indikator keberhasilan:
1. menguraikan spesifikasi teknis peralatan utama dan pendukung
peralatan pesawat sinar-X diagnostik
2. menyusun format rekaman perawatan dan perbaikan pesawat sinar-X
diagnostik

Pusdiklat-BATAN, 2017 1
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

3. menjelaskan prinsip kerja dan pengoperasian peralatan pesawat


sinar-X diagnostik
4. menyusun format logbook pengoperasian peralatan pesawat sinar-X
diagnostik
5. melakukan prosedur proteksi radiasi dalam pengoperasian peralatan
pesawat sinar-X diagnostik

II. TEORI
A. Peralatan dan Prinsip Kerja Peralatan Pesawat Sinar-X Diagnostik
Berdasarkan prinsip kerjanya, peralatan yang digunakan dalam pemanfaatan
bidang diagnostik dan intervensional menerapkan teknik radiografi. Radiografi
merupakan teknik untuk memperoleh gambar/citra dari pemeriksaan tubuh
pasien pada media perekam radiografi dengan menggunakan pesawat sinar-
X. Media perekam radiografi itu sendiri dapat berupa film, kertas khusus, dan
sistem komputer. Prinsip pembentukan gambar/citra radiografi adalah adanya
perbedaan densitas atau ketebalan dari tubuh pasien, sehingga terjadi
perbedaan intensitas radiasi sinar-X yang sampai pada media perekam
radiografi.
Sumber radiasi yang digunakan dalam pemanfaatan radiodiagnostik
dan intervensional adalah pesawat sinar-X. Bagian utama pesawat sinar-X
adalah tabung sinar-X yang merupakan tempat dihasilkannya sinar-X,
transformator sebagai pasokan listrik tegangan tinggi, dan panel kontrol
berfungsi sebagai pengendali pengoperasian. Bagian tabung pesawat sinar-X
dapat dilihat pada Gambar 1. Sinar-X terjadi apabila pada filamen dialirkan
arus listrik yang cukup besar, maka filamen berpijar sehingga elektron
terlepas dari atom filamen dan membentuk kabut elektron, jika antara katoda
dan anoda diberi beda potensial yang tinggi, maka elektron yang terlepas
akan bergerak ke anoda dengan kecepatan tinggi. Arus elektron ini disebut
arus tabung. Apabila arus elektron menumbuk target, maka elektron tersebut
sebagian besar akan berubah bentuk menjadi energi panas dan sekitar 1%

2 Pusdiklat-BATAN, 2017
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

untuk pesawat sinar-X konvensional, akan berubah menjadi sinar-X. Sinar-X


yang terbentuk adalah sinar-X karakteristik dan bremmsstrahlung.

Batang Tembaga Tabung Arus elektron


Filamen

Anoda Katoda
Focusing Cup
Target
Tungsten
Window
Sinar-X

Gambar 1. Bagian pada tabung sinar-X

Intensitas sinar-X yang dikeluarkan oleh pesawat sinar-X dipengaruhi oleh


beberapa faktor yaitu:
a. Jenis bahan target (anoda)
Bahan target (anoda) yang berbeda akan menghasilkan sinar-X
karakteristik yang berbeda. Fraksi sinar-X Bremstrahlung yang dihasilkan
sebanding dengan nomor atom bahan target (anoda).
b. Pengaturan faktor eksposi yang digunakan
Perubahan tegangan tabung (kV) akan mempengaruhi kuantitas dan
kualitas (energi, daya tembus) sinar-X yang dihasilkan, sedangan
perubahan pada arus (mA) hanya akan mempengaruhi kuantitas sinar-X.
c. Penggunaan filter
Filter berfungsi untuk menyaring sinar-X yang berenergi rendah.
Penggunaan filter akan menurunkan kuantitas tetapi meningkatkan energi
rerata sinar-X yang keluar dari tabung

Pusdiklat-BATAN, 2017 3
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

Selain bagian utama, maka pesawat sinar-X untuk diagnostik dan


intervensional memiliki peralatan penunjang berupa tiang penyangga,
kolimator atau konus yang berfungsi untuk membatasi luas lapangan
penyinaran.
Untuk pemeriksaan umum secara rutin (selain pesawat sinar-X untuk
Radiologi Kedokteran Gigi, Mamografi, Fluoroskopi dan Pengukur Densitas
Tulang), pesawat sinar-X harus mempunyai spesifikasi :
 daya generator paling rendah 5 kW ;
 kuat arus tabung paling rendah 50 mA; dan
tegangan tabung dapat dioperasikan hingga 100 kV
.
B. Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Kegiatan radiodiagnostik
Dalam radiologi diagnostik, pembentukan citra yang baik juga harus
memperhatikan dosis yang diterima oleh pasien. Citra yang baik dengan
penerimaan dosis serendah mungkin (optimisasi) sangat ditentukan oleh
kondisi penyinaran yang sesuai. Kondisi penyinaran diatur oleh operator
melalui panel kontrol pesawat sinar-X. Oleh karena itu kesesuaian antara
kondisi penyinaran, yaitu kV, mA dan waktu, dengan keluaran berkas radiasi
sinar-X sangat penting untuk keselamatan pasien dan perlu dilakukan
pengujian terhadap konsistensi secara berkala. Toleransi yang diperbolehkan
untuk konsistensi keluaran adalah 5%.
Disamping keselamatan pasien, maka penggunaan pesawat sinar-X
diagnostik juga harus memperhatikan keselamatan pekerja dan masyarakat.
Oleh karena itu, desain ruang pesawat sinar-X harus memenuhi persyaratan
dalam Peraturan Kepala BAPETEN No. 8 Tahun 2011 tentangKeselamatan
Radiasi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional. Desain ruang
pesawat sinar-X diagnostik harus telah menerapkan persyaratan optimisasi,
yaitu pembatas dosis untuk desain adalah ½ NBD, baik untuk pekerja radiasi
maupun masyarakat. Dengan demikian, maka pembatas dosis mingguan bagi
pekerja radiasi adalah 0,2 mSv dan bagi masyarakat adalah 0,01 mSv.
Perhitungan ketebalan dinding radiasi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu

4 Pusdiklat-BATAN, 2017
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

jenis pesawat, tegangan kerja maksimum, arus tabung maksimum, beban


kerja, faktor guna (Use factor), faktor hunian/okupansi, jarak dan batas dosis
yang diperbolehkan. Efektivitas dinding ruang untuk menahan radiasi harus
dievaluasi secara berkala, untuk memastikan pembatas dosis bagi pekerja
maupun anggota masyarakat tidak terlampaui.
Radiasi yang tidak perlu diterima oleh pekerja, masyarakat dan pasien dapat
berasal dari kebocoran radiasi pada tabung pesawat sinar-X. Oleh karena itu,
perlu suatu pengujian untuk menentukan tingkat kebocoran tabung pesawat
sinar-X. Batasan kebocoran radiasi yang tidak boleh dilampaui untuk jenis
pesawat sinar-X radiodiagnostik dan intervensional adalah 1 mGy/jam pada
jarak 1 meter dari focal spot.
Untuk memastikan pesawat sinar-X dalam kondisi andal, baik untuk kegiatan
radiologi diagnostik maupun intervensional dan memenuhi peraturan
perundang-undangan, maka harus dilakukan pengujian terhadap pesawat
sinar-X dan peralatan penunjangnya sesuai dengan Peraturan Kementrian
Kesehatan RI No. 1250/Menkes/SK/XII/2009 tentang Pedoman Kendali Mutu
(Quality Control) Peralatan Radiodiagnostik. Hal ini juga dipersyaratkan oleh
BAPETEN melalui uji kesesuaian dalam Perka BAPETEN No. 9 Tahun 2011.
Pengujian dilakukan terhadap 3 kegiatan, yaitu pengujian terhadap pesawat
sinar-X, perlengkapan radiografi dan pemrosesan film. Berikut adalah contoh
pengujian yang harus dilakukan untuk pesawat sinar-X:
1. tabung kolimasi, meliputi iluminasi lampu kolimator, berkas cahaya
kolimasi dan kesamaan berkas cahaya
2. tabung pesawat sinar-X, meliputi kebocoran tabung, tegangan tabung dan
waktu eksposi
3. generator pesawat sinar-X, meliputi output, reproduksibilitas dan half
value layer
4. automatic exposure, meliputi kendali paparan/densitas standar,
penjejakan ketebalan pasien dan kilovoltage serta waktu tanggap
minimum.

Pusdiklat-BATAN, 2017 5
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

III. PERALATAN DAN BAHAN


1. Pesawat sinar-X (tabung pesawat sinar-X dan panel kontrol)
2. Alat ukur dosis radiasi (integral)
3. Monitor perorangan
4. Surveimeter

IV. LANGKAH KERJA


A. Persiapan
1. Identifikasi potensi bahaya yang ada di area kerja
2. Kenakan alat pelindung diri yang sesuai jika diperlukan
3. Periksa sertifikat kalibrasi dan baterai alat ukur radiasi yang digunakan
4. Kenakan dosimeter perorangan dan pastikan dosimeter saku sudah “ON”
5. Pelajari penggunaan surveimeter
6. Nyalakan pesawat sinar-X dan lakukan pemanasan sesuai dengan
prosedur yang berlaku

B. Pengujian Konsistensi Keluaran Berkas Sinar-X

1. Letakkan alat ukur dosis di tengah lapangan radiasi, dan catat jaraknya
dari focal spot (FFD)
2. Lakukan penyinaran dengan kondisi 70 kV dan 20 mAs.
3. Catat hasil pengukuran alat ukur dosis pada lembar data.
4. Ulangi langkah 2 dan 3 sampai diperoleh 5 data.

C. Pengaruh Perubahan kV terhadap Keluaran Berkas


1. Letakkan alat ukur dosis di tengah lapangan radiasi, dan catat jaraknya
dari focal spot (FFD)
2. Lakukan penyinaran dengan variasi tegangan kerja 70, 80 dan 90 kV dan
mAs tetap 20 mAs.
3. Catat hasil pengukuran alat ukur dosis pada lembar data.

6 Pusdiklat-BATAN, 2017
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

D. Pengaruh Perubahan mAs terhadap Keluaran Berkas


1. Letakkan alat ukur dosis di tengah lapangan radiasi, dan catat jaraknya
dari focal spot (FFD)
2. Lakukan penyinaran dengan tegangan kerja tetap 70 kV dan variasi mAs
10, 20 dan 30 mAs.
3. Catat hasil pengukuran alat ukur dosis pada lembar data.

E. Uji Kebocoran Tabung Pesawat Sinar-X


1. Tutup window pesawat sinar-X
2. Letakkan alat ukur pada jarak 1 meter dari focal spot. (posisi tabung: 0o)
3. Atur arus, tegangan dan waktu operasi pesawat sinar-X yang optimal
4. Operasikan pesawat sinar-X dengan menekan tombol “on”
5. Setelah waktu penyinaran selesai, atur timer pada posisi nol
6. Catat hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh alat ukur pada lembar data
7. Ulangi langkah 1 s.d. 6 untuk posisi tabung pesawat sinar-X yang diputar
30o, 60o dan 90o ke kiri dan ke kanan.
8. Tentukan posisi tabung pesawat sinar-X yang mempunyai dosis radiasi
bocor terbesar
9. Lakukan pengukuran pada posisi tersebut sebanyak 5 kali.

F. Uji Efektivitas Dinding


1. Atur parameter penyinaran pada panel kontrol untuk kondisi tegangan
kerja dan arus yang optimal (semaksimal mungkin), dan atur kolimator
pada lapangan terbesar.
2. Catat kondisi penyinaran.
3. Lakukan eksposi, dan ukur dosis radiasi pada beberapa titik yang telah
ditentukan.
4. Catat hasil pengukuran

Pusdiklat-BATAN, 2017 7
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

G. Penutup
1. Matikan pesawat sinar-X
2. Matikan surveimeter
3. Baca penunjukan akhir dosimeter saku yang dipakai

V. TUGAS
1. Buatlah format rekaman perawatan dan perbaikan pesawat sinar-X
radiodiagnostik!
2. Buatlah contoh formulir untuk logbook pengoperasian peralatan pesawat
sinar-X radiodiagnostik perawatan!
5. Analisis hasil data terkait keselamatan dalam pengoperasian pesawat
sinar-X radiodiagnostik yang telah dilakukan!

8 Pusdiklat-BATAN, 2017
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGGUNAAN PERALATAN PESAWAT SINAR-X

I. Peralatan dan Bahan


1. Panel kontrol
 Manufaktur :
 Model :
 Nomor Seri :
 Rentang kerja : (kV, mA, s / mAs)

2. Tabung sinar-X
 Manufaktur :
 Model :
 Nomor Seri :
 Inherent filter :
 Filter tambahan :

3. Alat ukur
 Manufaktur :
 Model :
 Nomor Seri :
 Jenis detektor :
 Faktor kalibrasi :

4. Surveimeter
 Manufaktur :
 Model :
 Nomor Seri :
 Jenis detektor :
 Faktor kalibrasi :

Pusdiklat-BATAN, 2017 9
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

II. Format rekaman perawatan dan perbaikan pesawat sinar-X


diagnostik

III. Logbook pengoperasian peralatan pesawat sinar-X diagnostik

10 Pusdiklat-BATAN, 2017
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

IV. Tabel pengukuran


A. Pengujian Konsistensi Keluaran Berkas Sinar-X
No. kV mA Waktu mAs Dosis

B. Pengaruh Perubahan kV terhadap Keluaran Berkas


No. kV mA Waktu mAs Dosis

C. Pengaruh Perubahan mAs terhadap Keluaran Berkas


No. kV mA Waktu mAs Dosis

D. Uji Kebocoran Tabung Pesawat Sinar-X


Arus tabung Tegangan Waktu Dosis
Posisi
(mA) panel (kV) panel (s) (Sv)
Tabung
I kV t D

30°

60°

90°

Pusdiklat-BATAN, 2017 11
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

Posisi tabung dengan dosis terbesar: ....o

Arus tabung Tegangan Waktu Dosis


Posisi
(mA) panel (kV) panel (s) (Sv)
Tabung
I kV t D

Rata - rata

E. Uji Efektivitas Dinding


Arus Tegangan Waktu Dosis di balik
Jarak
tabung panel panel dinding
Lokasi (m)
(mA) (kV) (s) (Sv)
d I kV t D
1

III. PEMBAHASAN

12 Pusdiklat-BATAN, 2017
Praktikum Penggunaan Peralatan Pesawat Sinar-X

IV. KESIMPULAN

Pusdiklat-BATAN, 2017 13