Anda di halaman 1dari 9

Laporan Hasil Praktikum Kimia:

Reaksi Pembeda Aldehid


dengan Keton

Oleh:
1. Al Haqqo Jati (05)
2. Avinda Mutiara Ramadhani (08)
3. Frida Ayu Dwi Novanti (16)
4. Muhammad Qoidul Islam (24)
5. Mutiara Shaquila Salsabila (25)
BAB I

1.1 Latar Belakang


Dalam ilmu pengetahuan, dibutuhkannya wawasan dan pemahaman konsep secara
menyeluruh oleh siswa. Bukan hanya berdasar dengan teori tapi juga lebih diperdalam
dengan praktek dilapangan. Oleh sebab itu, maka penelitian ini disusun sebagai solusi untuk
masalah tersebut dan media pembelajaran yang atraktif bagi siswa.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
 Untuk mengetahui perbedaan aldehid dan keton
 Untuk mengetahui reaksi yang terbentuk dari hasil praktikum
 Untuk mengetahui zat yang dihasilkan dari hasil praktikum

1.3 Landasan Teori


Aldehid merupakan senyawa organik yang memiliki kandungan gugus -CO, namanya
diturunkan dari asam yang terbentuk bila senyawa dioksidan lebih lanjut oksida parsial dari
alkohol menghasilkan aldehid. Oksidasi alkohol sekunder menghasilkan keton. Oksidasi
bertahap dari etano menjadi asetaldehid kemudian menjadi asam asetat yang diilustrasi dengan
model molekul. (Pettuci, 1987). Aldehid dan keton mengandung gugus karbonil C=O. Jika
kedua gugus yang menempel pada gugus karbonil adalah gugus-gugus karbon, maka senyawa
itu dinamakan keton. Jika salah satu dari kedua gugus tersebut adalah hydrogen, senyawa
tersebut termasuk golongan aldehida. Oksidasi parsial dari alcohol menghasilkan aldehid
(oksidasi lanjitnya menghasilkan asam karboksilat). Formaldehida, suatu gas tak berwaarna,
mudah larut dalam air. Larutan 40% didalam air di namakan formalin, yang digunakan dalam
pengawetan cairan dan jaringan. Aseton adalah keton yang paling penting. Ia merupakan cairan
volatil (titik didih 65˚C) dan mudah terbkar. Aseton adalah pelarut yang baik untuk melarutkan
senyawa-senyawa organic, banyak digunakan sebagai pelarut pernis, lak, dan pelastik. Salah satu
membuatan aseton adalah melalui dehidrasi isopropyl alcohol dengan bantuan katalis tembaga.

Aldehid dan keton yang dilarutkan dalam air dapat membentuk hidrat (yang disebut
gem-diol) dan mengadakan keseimbangan. Meskipun tetapan keseimbangan hidarsi untuk
sebagian senyawa karbnil sangat kecil, namun kesetimbangan di antara aldehid dan keton dengan
hidratnya berlangsung sangat cepat. Hidrasi aldehid atau keton dikataliskan oleh asam atau basa.
Katalis basa dalam hal ini berfungsi untuk melakukan deprotonasi dari air dan menghasilkan ion
hidroksida yang sifatnya lebih nukleofilik. Katalis asam melibatkan ikatan hidrogen atau
protonasi pada oksigen-karbonil sehingga mengakibatkan gugus karbonil itu menjadi elektrofil
yang lebih reaktif
(Tim kimia organic,2014:19)
Perbedaan dari aldehid dan keton sendiri antara lain senyawa aldehid mengandung
sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen sedangkan keton
yaitu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus
alkil. Aldehida mudah teroksidasi sedangkan keton agak sukar teroksidasi. Aldehida lebih reaktif
dibandingkan dengan keton terhadap adisi nukleofilik
(Raymond, 2009)
Aldehid dan keton merupakan kelompok senyawa organik yang mengandung gugus
karbonil (C = O). Rumus umum struktur aldehid dan keton seperti tertulis dibawah ini dengan R
adalah alkyl atau aril
O O
║ ║
R-C-H R-C-R’
suatu aldehid suatu keton
Banyak aldehid dan keton mempunyai bau khas yang membedakannya. Umumnya
aldehid berbau merangsang dan keton berbau harum. Misalnya, transinamaldehida adalah
komponen utama minyak kayu manis dan enantiomer–enantiomer karbon yang menimbulkan
bau jintan dan tumbuhan permen.
Dalam hal reaksi, aldehid dan keton dapat dibedakan juga melalui reaksi dengan fehling
dan tollens. Dimana aldehid akan bereaksi positif dengan fehling membentuk endapan merah
bata dan bereaksi positif dengan tollens membentuk endapan cermin perak sedangkan keton
tidak bereaksi terhadap keduanya(fehling dan tollens).
Sifat fisis dari aldehid dan keton, gugus karbonil terdiri dari sebuah atom karbon
Sp2 yang dihubungkan ke sebuah atom oksigen oleh sebuah ikatan sigma dan sebuah ikatan
pi.Ikatan pi yang menghubungkan C dan O terletak di atas dan di bawah bidang ikatan-ikatan
sigma tersebut. Gugus karbonil bersifat polar, dengan elektron-elektron dalam ikatan sigma dan
terutama elektron-elektron dalam ikatan pi, tertarik ke oksigen yang lebih elektronegatif.
Oksigen gugus karbonil mempunyai dua pasang elektron menyendiri. Semua sifat-sifat struktural
ini kedataran, ikatan pi, polaritas dan adanya elektron menyendiri, mempengaruhi sifat dan
kereaktifan gugus karbonil
(Fessenden dan Fessenden, 1990)
Aldehid dan keton dapat membentuk ikatan hidrogen antar molekul, karena tidak ada
gugus hidroksil dan dengan demikian titik didihnya menjadi lebih rendah dari alkohol
padanannya. Tetapi aldehid dan keton tarik menarik melalui interaksi antara polar-polar,
sehingga titik didihnya menjadi lebih tinggi dibanding alkana padanannya
(Wilbraham, 1992)
Aldehid dan keton dapat membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air yang polar.
Anggota deret yang rendah, yaitu formaldehida, asetaldehida dan aseton yang bersifat larut
dalam air dalam segala perbandingan. Aldehida bersifat netral, suku-suku dengan 4 karbon tak
larut dalam HO berbau tajam dan enak, tetapi yang mengandung 8-12 karbon dalam larutan
encer baunya seperti bunga dan di dalam industri wangi-wangian
Aldehid dan keton bersifat netral. Siku-siku yang rendah larut dalam air dan pelarut
organik. Siku yang lebih dari 4c akan tidak larut dalam air. Aldehid-aldehid yang rendah seperti
formaldehida dan asetaldehida berbau tidak sedap dan menyengat. Sedangkan aldehid yang
berantai panjang dalam larutan encer baunya seperti bunga
(Riawan, 1989)
Ciri polar gugus karbonil memberikan petunjuk untuk mengerti sifat kimia senyawa
karbonil. Atom karbon gugus karbonil adalah ujung positif dipol dan atom oksigen adalah ujung
negatif. Nukleofil mengadisi pada atom karbon karbonil, dan elektrofil mengadisi pada atom
oksigen karbonil
(Pine, 1988)
BAB 2

2.1 Alat dan Bahan:


- ALAT
1) Kaki tiga
2) Spirtus
3) Tabung reaksi
4) Tabung ukur
5) Pipet
6) Gelas ukur
7) Thermometer
- BAHAN
1) Fehling a dan Fehling b
2) Formalin
3) AgNO3
4) NH3
5) Aseton
6) Air
2.2 Cara Kerja:
1) Siapkan 2 buah tabung reaksi masing masing isi dengan 2 mL larutan formalin
2) Tabung reaksi 1 tambahkan dengan pereaksi Tollens, lalu kocok. (cara membuat
pereaksi Tollens: ambil 2 ml larutan AgNO3 5% kemudian tambahkan tetes demi
tetes larutan NH3 2% hingga endapan yang terbentuk larut lagi. Pengujian akan
gagal jika penambahan NH3 terlalu banyak)
3) Tabung reaksi 2 tambahkan pereaksi Fehling, lalu kocok. (cara membuat pereaksi
Fehling: campurkan 1 mL Fehling A dan 1 mL Fehling B)
4) Masukkan keduan tabung dalam penangas air yang berisi 100 mL air. Tunggu
sampai berubah warna. Catat waktu perubahan warnanya
5) Amatilah hasilnya. Lalu lakukan hal yang sama terhadap aseton (sebagai
pengganti formalin).
BAB 3
3.1 Hasil Penelitian
No Perlakuan Sebelum Sesudah
dipanaskan dipanaskan
1. Reduksi Tollens
formaldehid + pereaksi tollens → coklat tua cermin perak
aseton + pereaksi tollens → coklat tua coklat tua (tetap)
2. Reduksi Fehling
formaldehid + pereaksi fehling → biru hijau lumut

aseton + pereaksi fehling → biru Biru (tetap

3.2 analisis data


1. Dari hasil penelitian didapatkan reaksi sebagai berikut:
a. Formalin dengan tollens

b. Formalin dengan fehling

c. Aseton dengan fehling

d. Aseton dengan tollens

2. Berdasarkan hasil uji larutan Formalin dan Aseton, Formalin atau formaldehid bereaksi
positif dengan fehling membentuk endapan berwarna merah bata dan bereaksi positif
dengan tollens membentuk endapan berwarna keperakan atau abu. Sedangkan aseton
tidak bereaksi apa-apa terhadap fengling maupun tollens.
3. Pertama, reaksi antara formaldehid dengan pereaksi tollens Ag(OH)2 menghasilkan
warna coklat tua. Kemudian, dilakukan pemanasan pada larutan ini dan dihasilkan cermin
perak pada dinding bagian dalam tabung reaksi.
reaksi antara formaldehid dengan pereaksi fehling Cu(OH)2 menghasilkan warna biru..
kemudian , direaksikan aseton dengan pereaksi fehling Cu(OH)2 dan dihasilkan warna
biru. Selanjutnya larutan dipanaskan dan terbentuk endapan biru. Dari hasil pengamatan
dapat dilihat bahwa ada reaksi yang membentuk endapan dan ada juga yang mengalami
perubahan warna setelah dipanaskan. Pemanasan ini bertujuan untuk mempercepat
terjadinya reaksi.
4. Reaksi reduksi karena pada uji formaldehid dengan pereaksi tollens terbentuk cermin
perak karena aldehid tersebut dioksidasi menjadi anion karboksilat, sementara ion Ag+
dalam reagen ini direduksi menjadi logam Ag. Pada uji aseton dengan reagen tollens
tidak mengalami perubahan karena keton tidak dapat dioksidasi dengan reagensia ini.
Keton dapat dioksidasi dengan keadaan reaksi yang lebih keras dibandingkan aldehid.
Pada uji formaldehid dengan pereaksi fehling dihasilkan perubahan warna karena
formaldehid tersebut mampu mereduksi Cu(OH)2 sehingga ion tembaga(II) menjadi
tembaga(I) oksida.
BAB IV

4.1 Kesimpulan
Gugus aldehid dapat bereaksi dengan pereaksi fehling yang terbukti dengan
terbentuknya endapan warna merah bata. Sedangkan dengan tollens, aldehid membentuk
endapan keperakan – dalam praktikum kami. Pengujian aldehid memperlihatkan hasil
berupa perubahan fisik,

Daftar pustaka
https://www.kimiamath.com/post/laporan-praktikum-kimia-identifikasi-aldehid-keton
https://www.scribd.com/archive/plans?doc=308332274&metadata=%7B%22context%22%3A%22ar
chive_view_restricted%22%2C%22page%22%3A%22read%22%2C%22action%22%3A%22download
%22%2C%22logged_in%22%3Atrue%2C%22platform%22%3A%22web%22%7D
an

Anda mungkin juga menyukai