Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

SYNDROM STEVEN JHONSON

Di susun oleh:Kelompok 3

Nama kelompok:

-Bardah wasalamah

-Siti parikhatun

-Dwi fitriani

-Herni kurnia

-Celia ulfa

-Lailatam mardiah

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN(STIKES)

TRI MANDIRI SAKTI

BENGKULU

TAHUN 2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sindrom Steven Jhonson (ektodermosis erosive pluriorifisialis, sindrom muko-
kutaneaokular, eritema multiformis tipe hebra, eritema multiforme mayor, eritema
glukosa maligna) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat
disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium dan mata dengan keadaan
umum bervariasi dari baik sampai buruk.

Etiologi pasti Sindrom Steven Jhonson (SSJ) belum diketahui. Salah satu penyebab
adalah alergi obat secara sistemik, diantaranya penisilin dan semisintetiknya,
streptomycin, sulforilamida, tetrasiklin, antipiretik/analgesic (misalnya: deprival
salisil/pirazolon, metamizol, metampiron, dan parasetamol), klorpromazin,
karbamazepin, kinin, antipirin, dan jamu. Selain itu dapat juga disebabkan oleh infeksi
(bakteri, virus, jamur, parasit), neoplasma, pasca vaksinasi, radiasi dan makanan.

Sindrom ini umumnya terdapat pada anak dan dewasa, jarang dijumpai pada usia 3
tahun kebawah. Keadaan umumnya bervariasi dari baik sampai buruk dimana
kesadarannya spoor sampai koma. Berawal sebagai penyakit akut dapat disertai gejala
prodormal berupa demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri
tenggorok.

Trias SSJ adalah:

1. Kelainan kulit berupa eritema, vesikel, dan bula yang kemudian memecah
sehingga terjadinya erosi yang luas. Purpura eritema, vesikel, dan bula yang
kemudian memecah sehingga terjadinya erosi yang luas. Purpura dapat terjadi
dan prognosisnya menjadi lebih buruk. Pada keadaan berat kelainannya
generalisata.

2. Kelainan selaput ledir orifisium, yang tersering adalah pada mukosa mulut
(100%), orifisium genitala eksterna (50%), lubang hidung (8%), dan anus (4%).
Lesi awal berupa vesikel di bibir, eksudasi, krusta kehitaman dan pembentukan
pseudo membran. Biasanya juga terjadi hipersalivasi dan lesi dapat berulserasi.
Di bibir kelainan yang sering tampak ialah krusta bwn hitam yang tebal akibat
ekskoriasi. Kelainan di mikosa terdapat faring, saluran napas bagian atas dan
esophagus. Kelainan di mulut yang hebat dan terbentuknys pseudomembran bwn
putih atau keabuan di faring dapat menyebabkan kesulitan menelan, sedangkan
kelainan di saluran pernapasan bagian atas dapat menyebabkan keluhan sukar
bernapas.

3. Kelainan mata (80%), yang terserang konjungtivitas kataralis, dapat terjadi


konjungtivitas purulen, perdarahan, simblefaron, ulkus kornea, iritis, dan
iridosiklitis.

Selain kelainan tersebut dapat terjadi kelainan lain, misalnya nefritis dan onikolisis.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang diambil dari makalah ini adalah:
1.Etiologi SSJ
2.Patofisiologi SSJ
3.Manifestasi klinis SSJ
4.WOC SSJ
5.Penatalaksanaan SSJ
6.Askep SSJ

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran tentang proses asuhan keperawatan terhadap klien


dengan gangguan Sistem Steven Jhonson.
2. Tujuan Khusus

a. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap klien dengan gangguan Sindrom


Steven Jhonson.

b. Perawat dapat menyusun perencanaan keperawatn terhadap klien Steven Jhonson.

c. Perawat dapat melakukan intervensi tindakan yang nyata sesuai dengan


perencanaan tindakan keperawatan dan prioritas masalah.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi

 Sindrom Steven Jhonson merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput


lendir di orifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan
sampai berat, kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat
disertai purpura (Mochtar Hamzah, 1987).

 Sindrom Steven Jhonson ialah sindrom kelainan kulit berupa eritema,


vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir
orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai
buruk (Arif Mansjoer, 2000).

 Sindrom Steven Jhonson merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupi


mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa
mukosa orifisium serta mata disertai gejala umum berat.

 Steven Jhonson adalah suatu variasi berat sekaligus fatal dari eritema
multiform, merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di
orifisium (muara/lubang) dan mata, dengan keadaan umum yang bervariasi
dari yang ringan samapai yang berat.

2.2 Etiologi
Etiologi SSJ ditentukan dengan pasti, karena penyebabnya beberapa factor,
walupun umumnya sering berkaitan dengan respon imun terhadap obat. Beberapa
factor penyebab timbulnya SSJ diantaranya;

- Infeksi (virus, jamur, bakteri, parasit).

- Obat (salisilat, sulfa, penisilin, etambutol, tegretol, tetrasiklin, digitalis,


kontraseptif).
- Makanan

- Fisik (udra dingin, sinar matahari, sinar X),

- Lain-lain (penyakit polagen, keganasan, kehamilan).

2.3 Patofisiologi

Patofisiologi SSJ sampai saat ini belum jelas walaupun sering dihubungkan reaksi
hipersensitif tipe III (reaksi komplek imun) yang disebabkan oleh komplek
solubiedari antigen atau metabolitnya dengan anti body IgM dan IgG dan reaksi
hipersensitivitas lambat (tipe IV) yaitu reaksi yang dimediasi oleh limfosi T yang
spesifik.

a. Reaksi Hipersensitivitas tipe III

Hal ini terjadi aewaktu komplek antigen antibody yang bersirkulasi dalam darah
mengendap di dalam pembuluh darah atau jaringan hilir. Antibody tidak ditujukan
kepada jaringan tersebut. Tetapi terperangkap dalam jaringan kapilernya. Pada
beberapa kasus antigen antibody di tempat tersebut. Reaksi tipe III mengaktifkan
komplemen dan degranulasi sel mast sehingga terjadi kerusakan jaringan atau
kapiler di tempat terjadinya reaksi tersebut. Neutrofil tertarik ke daerah tersebut
dan mulai memfagositosis sel-sel yang rusak sehingga terjadi pelepasan enzim-
enzim sel serta penimbunan sisa sel. Hal ini menyebabkan siklus peradangan
berlanjut (Corwin, 2000:72).

b. Reaksi Hipersensitifitas tipe IV

Pada reaksi ini diperantarai oleh sel T, terjadi pengaktifan sel T penghasil
limfokin atau sitotoksin oleh suatu antigen sehingga terjadi penghancuran sel-sel
yang bersangkutan. Reaksi yang diperantai oleh sel ini bersifat lambat (delayed)
memerlukan waktu 14 jam samapai 27 jam untuk terbentuknya.

2.4 Manifestasi Klinis


Sindrom ini jarang ditemui pada usia 3 tahun kebawah, keadaan umumnya
bervariasi dari ringan samapai berat. Pada yang berat kesadarannya menurun,
penderita dapat soporous sampai koma, mulainya penyakit akut dapat disertai gejala
prodormal berupa demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri
tenggorok.

Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan yaitu :

a. Kelainan kulit.

Kelainan kulit terdiri atas eritema, vesikel, dan bula. Vesikel dan bula
kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas, disamping itu dapat juga
terjadi purpura pada bentuk yang berat kelainannya generalisata.

b. Kelainan selaput lendir orifisium.

Kelainan selaput lendir yang tersering adalah pada mukosa mulut (100%),
kemudian disusl oleh kelaian di lubang genitala (50%), sedangkan di lubang
hidung dan anus jarang (masing-masing 8% dan 4%). Kelainan berupa vesikel
dan bula yang cepat memecah hingga menjadi erosi dan ekskoriasi dan krista
kehitaman juga dapat terbentuk pseudomembran, di bibir kelainan yang sering
tampak ialah krusta berwarna hitam yang tebal. Kelainan di mukosa dapat juga
terjadi di faring, traktus respiratorius di bagian dan esophagus stomatitis ini
dapat menyebabkan keluhan sukar bernapas.

c. Kelainan mata.

Kelainan mata merupkan (80%) diantara semua kasus yang tersering ialah
konjungtivitas kataralis, selain itu dapat berupa konjungtivitas purulen,
perdarahan, simblefaron, ulkus kornea, iritis, dan iridosiklitis.

Di samping trias kelainan tersebut terdapat pula kelainan lain, misalnya nefritis
dan onikolisis.

2.5 Penatalaksanaan

- Perawatan prehospital : paramedic harus mengetahui adanya tanda-tanda


kehilangan cairan berat dan mesti diterapi sebagai pasien SSJ sama dengan pasien
luka bakar.
- Perawatan gawat darurat harus diberikan penggantian cairan dan koreksi elektrolit.
- Luka kulit diobati sebagai luka bakar.
- Pasien SJJ semestinya diberikan perhatian khusus mengenai jalan nafas dan
stabilitas hemodinamik, status cairan, perawatan luka dan control nyeri.
- Penatalaksanaan SSJ bersifat simtomatik dan control nyeri. Daerah yang
mengalami pengelupasan harus dilindungi dengan kompres salin atau burrow
solution.
- Penyakit yang mendasari dan infeksi sekunder perlu didentifikasi dan diterapi.
Obat penyebab harus dihentikan.

2.6 pemeriksaan diagnostik


a.Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tidak khas.Bila terdapat Eosinofilia
kemungkinan karena alergi bila terdapat leukositosis kemungkinan penyebabnya
infeksi dan dapat di lakukan kultur darah,bila gambaran klinis meragukan dapat di
lakukan Bioksi dan pemeriksaan Histopatologi untuk membedakan dengan fikstum
mutipel dan nekrolisis epidermal toksiks.
b.Diagnostik banding
 Eksantema fikstum multipel generalisata.
Pada penyakit ini lesi timbul pada tempat yang sama dan biasanya tidak
menyeluruh.Jika sembuh meninggalkan bercak hiperpigmentasi menetap.
 Nekrolisis epidermal toksik
Pada penyakit ini terdapat epidermolisisyang menyeluruh(tanda Nikolsky
positif) dan keadaan umum lebih buruk.
WOC
Faktor Lingkungan Infeksi (Bakteri, Virus)
(Udara, Radiasi,
Lingkungan
Anti Gen
Idiopatik

Anti gen + anti body ( 1G E dan 1G M

Mengaktifkan komplemen (Tipe III dan IV)


Komplek II
Histamin dan
Reaksi Hipersensitivitas IV (lambat
Terbentuknya mikro presitivasi mediator kimia

Aktivasi sel Thelper Mengaktifkan neutrofil(komplek 1)


Di hasilkan lisozim

Lizosim Dari sel T Merusak jaringan dan organ


target
Mata
Selaput orifisium
Kulit Genital
Hidung Rx Inflamasi
Mulut Rx imflamasi Konjungtiva
Reaksi implamasi Esofagus
dermal Rongga mulut

Eritema, vesikel, bula Pseudomem -disuria Konjungtivitas


Esogatis bran pada -henaria
Stomatitis (mata ) merah,
faring
gatal,berair
Vestikal, bula pecah
Disfagia Proses MK :
-Nyeri
pernafasan Ganggua
-nafsu makan
terganggu n pola Ulkus kornea
Erosi semakin meluas berkurang
eleminasi
BAK
-Krusta kehitaman MK : Resiko -sesak nafas Gangguan
perubahan nutrisi -penumpukan penerimaan
-Nyeri
kurang dari sekret nukus cahaya
kebutuhan
MK : - Nyeri
- Kerusaka MK : -Bersihan jalan
Pengelihatan
n nafas
integritas -Gangguan pola
- Resiko nafas Mk : perubahan sensori
penyebara persepsi pengelihatan
n infeksi
BAB III

Asuhan Keperawatan

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang membutuhkan keperawatan


tidak terlepas dari pendekatan dengan proses keperawatan. Proses keperawatan adalah proses
pemecahan yang dinamis dalam usaha untuk memperbaiki dan melihat pasien sampai ketaraf
optimum melalui suatu pendekatan sistematis untuk mengenal membantu memenuhi
kebutuhan sehari-hari dengan melalui langkah-langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan,
tindakan, danevaluasi yang berkesinambungan.

Berikut ini tinjauan teoritis tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada pasien
Sindron Steven Jhonson.

3.1 Pengkajian

a. Identitas Klien

b. Riwayat Keperawatan

- Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)

Apakah pasien pernah menderita Sindrom Steven Jhonson sebelumnya dan


apakah pasien dirawat pernah dirawat di rumah sakit.

- Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)

Paien mengeluh merasa gatal-gatal pada kulitnya dan merah-merah disertai


melepuh.

- Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)

Apakah keluarga ada yang menderita penyakit Steven Jhonson? dan mungkin
diantara keluarga pasien ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien
sekarang ini.
3.2 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1. DS: -
DO:
-Perubahan barier kulit -Kerusakan integrasi
- Terdapat krusta jaringan
kehitaman dan
-Ketidak seimbangan
stomatitis disekitar -Inteke yang kurang tidak
mampu menelan. nutrisi kurang dari
mulut.
kebutuhan tubuh.
- Turgo kulit buruk.

- Adanya ruam pada


kulit.

Pseudomembran pada -Bersihan jalan napas


2. DS: -
faring tidak efektif
DO:
-gangguan pola napas
- Sesak napas

- Proses pernapasan
terganggu
3.3 Kemungkinan Diagnosa Yang Muncul
1. Kerusakan intake gritas kulit berhubungan dengan perubahan barier kulit.

2. Kerusakan membrane mukosa oral berhubungan dengan immunosuppresion.

3. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d pseudomembran pada faring

4. Gangguan persepsi sensori,kurang penglihatan berdasarkan dengan konjungtivitas


3.4 Rencana Asuhan Keperawatan teoritis

No Diagnosa keperawatan Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional

1. Kerusakan integritas Menunjukkan -Tekanan 1. Jaga 1. Mengurang


kulit berhubungan integritas turgor kulit kebersihan i tekanan
dengan perubahan barier jaringan kulit baik. kulit agar tetap atau
kulit dan membrane bersih dan gesekan.
mukosa dengan kering.
2. Mengurang
kriteria:
2. Monitor kulit i kerusakan
Turgor kulit dari kulit.
baik. kekeringan dan
kelembabanny
a 3. Kulit yang
kering
dapat
menimbulk
an daerah
dermatitis
dengan
gejala
kemerahan
dan gatal.

4.Kulit
merupakan
barier yang
penting yang
harus
dipertahankan
keutuhannya
agar berfungsi
secara benar.
No Diagnosa keperawatan Tujuan Kriteria hasil intervensi Rasionalisasi

2. Ketidak seimbangan -Menunjukkan -BB stabil 1. Timbang BB 1. Memberikan


nutrisi berhubungan masalah nutrisi tiap hari. informasi
- Nafsu makan
dengan intake yang kurang berhubungan tentang
kembali 2. Bantu dan
ketidak mampuan menelan dengan kebutuhan
normal motivasi
kebutuhan atau
makan atau
tubuh dapat -Pemenuhan pemasukan
biarkan
teratasi. nutrisi dapat klien
orang
teratasi
-Nafsu makan terdekat 2. Makan akan
meningkat membantu, lebih baik
identifikasi bila
makanan keluarga
yang disukai. terlibat dan
makanan
3. Berikan
ynag disukai
makanan
dalam
sedikit tapi
pemenuhan
sering dalam
nutrisi
porsi kecil.
pasien.

4.Berikan
3. Dengan
makanan halus
makanan
sedikit
dalam porsi
kecil dan
sering dapat
meningkatk
an
pemasukan
makanan
secara
perlahan-
lahan.
no Diagnosa Tujuan Kriteria hasil intervensi Rasionalisasi
keperawatan

3. Bersihan jalan  Setelah dilakukan -jalan napas -kaji frekuensi -Napas dalam
napas tidak efektif intervensi bebas atau memudahkan
b.d pseudomembran keperawatan kedalaman ekspansi
pada faring diharapkan jalan naps -kesulitan pernapasan maksimum
paten/kembali afektif. bernapas tidak dan gerakan paru atau jalan
ada dada.. napas lebih
kecil.
-penghisapan
oksigen sesuai
indikasi

Gangguan persepsi
4.
sensori,kurang
penglihatan Kemungkinan
-Kaji dan catat
berdasarkan dengan  Pasien dapat melihat hilangnya -Menentukan
ketajaman
konjungtivitis dengan jelas penglihatan kemampuan
penglihatan
secara visual
permanen -Sesuaikan
lingkungan -berikan
dengan bahan-bahan
kemampuan bacaan yang
penglihatan besar
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.1.1 Definisi
Sindrom Steven Jhonson ialah sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula,
dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lender orifisium dan mata dengan
keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk (Arif Mansjoer, 2000).

4.1.2 Etiologi
Etiologi Sindrom Steven Jhonson ditentukan dengan pasti, karena penyebab
beberapa factor, walaupun pada umumnya sering berkaitn dengan respon imun
terhadap obat. Beberapa factor penyebab timbulnya Sindrom Steven Jhonson
diantaranya; infeksi (virus, jamur, bakteri, parasit), obat (salisilat, sulfa, penisilin,
etambutol tegretol, tetrasiklin, digitalis, kontraseptif), makanan (coklat), fisik (udara,
dingin, sinar matahari, sinar X), lain-lain (penyakit polagen, keganasan, kehamilan).

4.1.3 Komplikasi
Komplikasi yang tersering adalah bronkopneumonia, komplikasi yang lain yaitu
kehilangan cairan/darah, gangguan keseimbangan elektrolit dan syok, pada mata dapat
terjadi kebutaan karena gangguan lakrimasi.
4.1.4 Saran
Dalam upaya meningkatkan asuhan keperawatan klien dengan Steven Jhonson,
hendaknya:

1. Pasien diberikan support mempercepat penyembuhannya.

2. Memberikan perawatan dan perhatian kepada pasien dalam proses perawatan.

3. Peningkatan dan penyediaan sarana dan prasarana serta kerjasama pihak rumah sakit
dan keluarga.

4. Diharapkan kepada keluarga kiranya dapat merawat pasien dilakukan perawatan di


rumah.
DAFTAR PUSTAKA

Hamzah Mochtar dan Siti Aisah. 1997. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI, Jakarta.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.Media Aesculapius

: Jakarta.

Price,sylvia A,dkk.2003.patofisiologi volume 2.EGC:Jakarta.

M.Wilkinson judith,2007.Buku saku diagnosis Keperawatan Edisi 7.EGC:Jakarta.

Perry potter,2006.Fundamental Keperawatan Edisi 4 volume 2.EGC:Jakarta.