Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TUGAS

KESENJANGAN RAS PAPUA ASLI DALAM PEREKRUTAN PT


FREEPORT

Nama :
Kelas :

FAKULTAS ………………..
UNIVERITAS………..
PROVINSI UNIV
2019
A. PENDAHULUAN
Indonesia mengalami peristiwa titik balik dalam sejarah politik dan
ekonominya pasca rezim Orde Lama tak lagi berkuasa. Orde Baru yang menggantikan
Orde Lama giat mendorong berbagai perubahan dalam sistem ekonomi dan kultur
politik Indonesia. Pemerintah rezim Orde Baru percaya bahwa ideologi pembangunan
yang ditandai dengan masuknya korporasi modal asing ke Indonesia merupakan satu-
satunya jalan untuk memperbaiki situasi ekonomi dalam negeri yang saat itu sedang
memburuk. Pengadopsian ideologi pembangunan ini juga dimaksudkan oleh Orde
Baru untuk mengintegrasikan diri secara politik dengan Blok Barat.
Sejarah Kemunculan Permasalahan Freeport dengan Ras Papua
Suharto yang tampil memimpin Orde Baru memilih jalan yang praktis
berseberangan dengan Sukarno, pemimpin Orde Lama yang dikenal gigih melawan
Barat. Ia justru mencari dukungan Barat dan dapat berdiri di atas panggung sebagai
pemimpin terkuat Orde Baru berkat konsesinya dengan imperium kolonial pemilik
modal (Baskara, 2007). Ideologi pembangunan atau yang sering disebut dengan
developmentalisme pada dasarnya percaya bahwa kesejahteraan masyarakat akan
meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh
peningkatan produktivitas. Peningkatan produktivitas ini hanya dapat dipahami dalam
sudut pandang perekonomian terbuka yang mengandalkan peran sektor industri yang
terintegrasi dengan sistem perekonomian internasional.
Demi integrasi dengan sistem perekonomian internasional rezim Orde Baru
mempersilakan korporasi asing untuk datang dan mengeksploitasi tanah dan kekayaan
sumberdaya alam Indonesia. Eksploitasi korporasi atas tanah dan segala kekayaan alam
yang ada di dalam bumi Indonesia mula-mula didahului oleh proses akumulasi primitif
yang memisahkan komunitas masyarakat adat sebagai petani tradisional dari tanah
yang menghidupi mereka melalui perampasan dan pengingkaran hak-hak adat yang
didukung oleh rezim pemerintah Orde Baru.
Salah satu korporasi asing yang pertama kali datang ke Indonesia adalah
Freeport yang berbasis di Louisiana, Amerika Serikat. Freeport adalah korporasi
pertambangan asing pertama yang beroperasi di Indonesia setelah disahkannya UU
No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Kontrak Karya antara Pemerintah
Indonesia dengan Freeport pertama kali ditandatangani pada 7 April 1967 (Al Araf dan
Aliabbas, 2011). Kontrak Karya generasi pertama itu memuat kesepakatan mengenai
eksplorasi Gunung Ertsberg oleh Freeport. Dimana wilayah itu secara historis
merupakan wilayah adat suku Amungme.
Warga suku Amungme yang tidak pernah diajak berdialog mengenai rencana
eksplorasi tambang tersebut menolak keberadaan Freeport di tanah ulayat mereka dan
melakukan protes keras pada pemerintah Orde Baru dan Freeport. Alasan warga suku
Amungme melakukan protes adalah karena kegiatan eksplorasi dilakukan di Gunung
Ertsberg (Suku Amungme menyebut Gunung Ertsberg sebagai Gunung Nemangkawi)
sebuah gunung suci bagi suku Amungme yang dipercayai sebagai tempat
bersemayamnya arwah nenek moyang mereka. Gunug Ertsberg juga dipercaya dapat
menjalin antara kehidupan mereka dengan kehidupan arwah nenek moyang supaya
tetap dapat berinteraksi. Alasan kedua adalah kegiatan eksplorasi tambang oleh
Freeport menyebabkan warga suku Amungme terusir dari tanah ulayat mereka
terutama setelah di tandatanganinya January Agreement pada 8 Januari 1974. January
Agreement adalah perjanjian yang berisi kesepakatan kerja-sama antara suku
Amungme dan Freeport dimana suku Amungme harus merelakan tanahnya menjadi
lahan pertambangan dan Freeport sebagai gantinya akan memberikan beberapa fasilitas
sosial. Akibat dari penandatangan January Agreement ini warga suku Amungme
dilarang memasuki tanah ulayat mereka di sekitar Tembagapura.
Kehadiran Freeport sejak awal memang tidak dikehendaki oleh warga suku
Amungme. Penolakan dan perlawanan yang dilakukan oleh warga suku Amungme
kemudian berubah menjadi konflik yang berkepanjangan antara mereka dengan
Freeport yang didukung Negara yang kehadirannya diwakili oleh pemerintah dan
militer. Berbagai peristiwa perlawanan terjadi sejak saat masuknya Freeport pada tahun
1967. Sejak saat itu berbagai tindakan kekerasan dilakukan oleh Negara terhadap
warga suku Amungme. Pada masa Orde Baru tindakan kekerasan oleh Negara melalui
militer kepada warga suku Amungme seringkali dilakukan dengan alasan bahwa
mereka merupakan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) (Amiruddin dan
Adetiro, 2003)
Militer Indonesia berpendapat bahwa warga suku Amungme yang menolak dan
melawan Freeport dengan mengadakan protes-protes sporadis adalah simpatisan
maupun anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) sehingga kehadiran militer
diperlukan untuk memberantas organisasi yang ingin membentuk sebuah negara Papua
merdeka tersebut. Stigma ini selalu diberikan pada warga suku Amungme yang
menolak keberadaan Freeport sebab dengan stigma tersebut pihak militer memperoleh
legitimasi untuk melakukan tindakan kekerasan. Setelah tumbangnya Orde Baru
hubungan dekat yang terjalin diantara Negara dan Freeport tidak banyak berubah.
Kedekatan hubungan ini membuat Negara selalu memihak Freeport dalam setiap
konflik yang melibatkan korporasi itu dengan pihak lain. Jika pada masa Orde Baru
Freeport berkonflik dengan warga suku Amungme sebagai pemilik tanah ulayat di
mana tambang Freeport berada maka pada masa pasca Orde Baru Freeport berkonflik
dengan para pendulang emas tradisional dan buruhnya sendiri.
Konflik ini berlanjut hingga sekarang. Banyak masyarakat suku Amungme
yang bisa dibilang suku ras asli Papua yang kehidupannya tidak layak. Sejarah Kelam
ini menjadi memori yang terus-menerus ras asli Papua selalu ingat. Bagaikan bola
salju, yang didiamkan semakin lama semakin besar. Pemerintah perlu mengambil
langkah khusus agar suasana konflik mereda, sehingga warga Papua dapat bekerja
sama dengan PT Freeport dan tidak ada kesenjangan lagi diantara keduanya.
B. PEMBAHASAN
i) Otonomi Khusus Papua
Keinginan politik Pemerintah Indonesia untuk menangani Papua secara
sungguh-sungguh sejak tahun 1999 yang ditandai dengan pemberian nama Papua
menggantikan Irian Jaya oleh Presiden Abdurrahman Wahid dan memperbolehkan
mengibarkan bendera bintang kejora sebagai simbol kebudayaan orang Papua dan
bukan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
(Saleh, 2011). Hal ini dirasakan penting karena dianggap sebagai bagian dari
pengembangan jati diri orang Papua yang seutuhnya yang ditunjukan dengan
penegasan indentitas dan harga dirinya termasuk dengan dimilikinya simbol-simbol
daerah seperti lagu, bendera dan lambang. Selain itu, Pemerintah juga menetapkan
Provinsi Irian Jaya sebagai daerah otonomi khusus, yang secara eksplisit tertuang
dalam ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan
Negara Tahun 1999-2004 (Musa'ad, 2011). Pada dasarnya istilah 'otonomi' dalam
otonomi khusus diartikan sebagai kebebasan bagi rakyat Papua untuk mengatur dan
mengurus diri sendiri, sekaligus pula berarti kebebasan untuk melaksanakan
pemerintahan sendiri dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam Papua untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat Papua dengan tidak meninggalkan tanggung jawab untuk
ikut serta mendukung penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah-daerah lain di
Indonesia yang memang kekurangan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kebebasan untuk menentukan strategi
pembangunan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang sesuai dengan karakteristik dan
kekhasan sumberdaya manusia serta kondisi alam dan kebudayaan papua. Sedangkan
istilah 'khusus' lebih diartikan sebagai perlakuan berbeda yang diberikan kepada Papua
karena kekhususan yang dimilikinya. Kekhususan tersebut mencakup hal-hal seperti
tingkat sosial ekonomi masyarakat, kebudayaan, dan sejarah politik. Dalam pengertian
praktisnya, Kekhususnya otonomi Papua berarti bahwa ada hal-hal berdasar yang
hanya berlaku di Papua dan tidak berlaku didaerah laiN di Indpnesia, dan ada hal-hal
yang berlaku di daerah lain yang tidak diterapkan di Papua. Otonomi Khusus Papua
yang telah diberlakukan pada hakikatnya diniatkan sebagai obat penenang konflik dan
polemik yang bergejolak di Papua saat ini. Akan tetapi dalam realitanya ternyata
pelaksanaan otonomi khusus belum maksimal, bahkan dinilai gagal. Sebagaimana
pendapat anggota Majelis Rakyat Papua (Khatarina, 2010) Karena UU no 21 Tahun
2001 memerintahkan pemerintah membuat peraturan namun tidak dilaksanakan. Selain
itu, Pemerintah Pusat telah menggulirkan UU no. 45 Tahun 1999 tentang pembentukan
Provinsi Papua Barat dan Papua Tengah, walaupun akhirnya Papua Tengah dibatalkan
oleh Mahkamah Konstitusi.
Oleh karenanya, Otonomi Khusus yang diharapkan menjadi obat penenang,
hendaknya mampu melakukan optimalisasi dalam beberapa hal. Sehingga konflik,
polemik dan ragam kekerasan yang terjadi dapat benar-benar berhenti dan harappan
masyarakat Papua menjadi masyarakat yang makmur dan sejahtera dapat terwujud
dengan maksimal.
ii) Kualitas Pendidikan Papua
Papua adalah sebuah pulau yang terletak di ujung timur Indonesia. Dalam pulau
tersebut terdapat provinsi Papua dan Papua Barat. Namun, di pulau ini tidak hanya diisi
oleh bagian Negara Republik Indonesia saja, tetapi ada negara lain yang menjadi satu
pulau dengan Papua yaitu Papua Nugini atau East New Guinea yang berada di sebelah
timur Papua Indonesia. Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian
barat, namun sejak tahun 2003 dibagi menjadi dua provinsi di mana bagian timur tetap
memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat. Kata
Papua sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti rambut keriting, sebuah
gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli. Provinsi ini memiliki
berbagai macam suku yang mendiami provinsi tersebut diantaranya adalah suku asmat,
dani, biak, komoro, dan sebagainya. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kesenian
dan kebudayaan yang ada di daerah mereka (Pemerintah Provinsi Papua, 2016)
Wilayah Indonesia paling timur ini memiliki budaya yang sangat beragam dan
juga sumber daya alam yang sangat melimpah. Hal ini dibuktikan dengan adanya
perusahaan PT. Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika yang menambang bijih
dengan kandungan tembaga, emas dan perak dari tanah Papua. Namun, kenyataannya
Papua masih menjadi provinsi tertinggal dengan tingkat kemiskinan tinggi serta Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) paling rendah dibanding provinsi lainnya. Salah satu
faktor yang menyebabkan tertinggalnya provinsi ini adalah rendahnya kualitas
pendidikan.
Pendidikan di Papua sangat jauh tertinggal dibandingkan provinsi lain di
indonesia. Hal ini disebabkan karena kurangnya fasilitas dan tenaga pengajar yang
memadai. Anak usia 7-12 tahun yang seharusnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD)
tetapi tidak mendapat kesempatan untuk mengeyam bangku SD. Hal itu dikarenakan
terbatasnya ketersediaan gedung sekolah disejumlah kampung yang tersebar di gunung
dan lembah yang belum memiliki infrastruktur Pendidikan Dasar. Belum tersedianya
rumah kepala sekolah dan rumah guru di daerah terpencil juga menyebabkan kepala
sekolah dan guru meninggalkan tempat tugas yang mengakibatkan tingginya angka
ketidakhadiran kepala sekolah dan guru di tempat tugas.
iii) Kesenjangan Ras Papua dalam Perekrutan PT Freeport
Hal ini menjadikan kualitas pendidikan di Papua masih tergolong rendah,
sejalan dengan itu berdampak pada kualitas masyarakat di Papua masih tergolong
rendah. Kualitas yang dimaksud adalah keahlian-keahlian yang dimiliki dalam upaya
mencari mata pencaharian. PT Freeport merupakan perusahaan besar kelas atas yang
memilki pegawai-pegawai dengan standartd kemampuan yang mumpuni. Namun, PT
Freeport berlokasi di Papua yang diwajibkan mengembangkan putera-putera daerah
dimana PT Freeport itu berdiri.
Kesenjangan Ras Papua dalam perekrutan PT Freeport ini sangat terlihat bila
kita mendatangi wilayah Papua secara langsung, banyak sekali masyarakat ras Papua
yang kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupan para pekerja di PT Freeport.
Kesenjangan ini terlihat sangat miris karena seharusnya tuan rumahlah yang berkuasa
atas isi dari sumber daya alam yang ada, namun terambil alih orang orang asing yang
terlihat jauh lebih sejahtera.
iv) Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) sebagai Jalan Keluar
Pada Tahun 2019 tepatnya bulan Febuari, Tirto.com merilis berita mengenai
8.000 Karyawan Freeport Di-PHK, yang sebagian besarnya adalah warga papua asli.
Padahal dalam situs resmi Freeport, mereka mengatakan untuk berkomitmen
menjalankan operasional sesuai dengan Deklarasi Universal PBB tentang Hak Asasi
Manusia, undang-undang dan peraturan negara Indonesia, serta budaya dari
masyarakat yang merupakan penduduk asli di wilayah operasi perusahaan. Dan
mengatakan bahwa Jumlah karyawan Freeport hingga tahun 2018 sekitar 30.000 orang,
di mana 25% nya adalah karyawan asli Papua. 25% dari 30.000 orang adalah berkisar
7.500 orang.
Majalah Tempo pada situs beritanya merilis berita bahwa adanya Aksi Ratusan
Pegawai Freeport Asli Papua di Jakarta. Ratusan pekerja asli Papua korban pemutusan
hubungan kerja (PHK) PT Freeport Indonesia melakukan aksi damai di kantor
Pengurus Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Selasa, 31 Juli 2018. Mereka berangkat dari
Timika dan Jayapura untuk menyuarakan perlindungan hak warga negara. Dalam
aksinya, para pekerja menuntut pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla buka mata
terhadap masalah ketenagakerjaan yang dialami selama setahun lebih tanpa
kepastian. Presiden diminta melindungi pekerja sebagai warga negara yang hak-
haknya dirampas perusahaan, baik hak mogok kerja, berserikat, hidup sejahtera,
maupun hak mendapatkan layanan kesehatan.
Ketidakakraban masyarakat Papua terhadap Freeport ini menyebabkan adanya
kesenjangan Ras Papua dalam Perekrutan PT Freeport. Padahal Tambang yang dikelola
oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) seharusnya menjadi peluang kerja bagi warga
Papua. Sayangnya keterbatasan kemampuan mereka membuat mereka sulit untuk
bergabung ke perusahaan tambang raksasa ini. Salah satu jalan keluar yang Freeport
keluarkan untuk memberikan peluang agar warga asli Papua bisa ikut bergabung dalam
keberadaan Tambang Freeport adalah didirikannya Institut Pertambangan
Nemangkawi atau disingkat menjadi IPN. IPN merupakan gerbang masuk bagi pemuda
Papua yang bercita-cita-cita menjadi bagian dari salah satu pegawai di Tambang
Freeport.
Pratiwi dan Aminah (2018) menyampaikan dalam situs berita Republika.co.id
bahwa sebanyak 2.422 lulusan Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) yang
merupakan salah satu sekolah di kawasan PT Freeport Indonesia menjadi bagian dari
karyawan Freeport Indonesia. IPN sendiri merupakan sekolah yang dikhususkan bagi
anak-anak masyarakat adat Papua agar bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa
mendapatkan akses pekerjaan. Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN). Sejak Tahun
2003 terhitung sebanyak 4.154 orang telah mengenyam pendidikan di IPN. Rata-rata
dari peserta didik berasal dari tujuh suku. Dari ketujuh suku, ada dua suku yang
mendapat keistimewaan untuk masuk IPN yaitu Amungme dan Kamoro. "Anak-anak
muda dari kedua suku ini berhak mendaftarkan diri dengan hanya berbekal ijazah
Sekolah Dasar. Pada saat ini terdapat 104 siswa asal Papua yang sedang
mengembangkan kemampuannya di IPN.
C. PENUTUP
Sejarah ras Papua dengan berdirinya PT Freeport memang tidak cukup baik.
Sedari awal datangnya Perusahaan Tambang terbesar ini, warga Papua tidak
menyukainya. PT Freeport harus membantu kesejahteraan warga Papua karena
berdirinya perusahaan mereka ada di tanah Papua. Dilain sisi, Papua merupakan daerah
dengan ketertinggalan zaman yang cukup tinggi, hal ini terlihat dari kualitas
pendidikan Papua yang masih rendah. Kesenjangan Ras Papua dalam perekrutan PT
Freeport terjadi, hal ini adalah salah satu akibat dari kualitas kemampuan para
penduduk Papua yang terbilang masih rendah. Jalan keluar yang PT Freeport keluarkan
adalah dibentuknya sekolah tinggi dalam bentuk Institut Pertambangan Nemangkawi
atau disingkat menjadi IPN. IPN merupakan gerbang masuk bagi pemuda Papua yang
bercita-cita-cita menjadi bagian dari salah satu pegawai di Tambang Freeport.
Diharapkan masyarkat Papua mampu meningkatkan kualitas kemampuan mereka
dengan masuk ke dalam Institut Pertambangan Nemangkawi, lalu bergabung ke dalam
PT Freeport.
DAFTAR PUSTAKA

Al Araf dan Aliabbas, A. 2011. Sekuritisasi Papua: Implikasi Pendekatan Keamanan


terhadap Kondisi HAM di Papua. Jakarta. Imparsial
Amiruddin, A. R dan Aderito, J. D. S. 2003. Perjuangan Amungme: Antara Freeport
dan Militer. Jakarta. Elsam
Baskara, T.W. 2007. Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia. Jakarta. Elsam.
Khatarina, R. 2010. Implementasi Otonomi Khusus di Provinsi Papua. Makalah Tim
Peneliti DPR RI
Musa'ad, M. A. 2011. Kontekstualisasi Pelaksanaan Otonomi Khusus di Provinsi
Papua; Perspektif Struktur dan Kewenangan Pemerintah. Jurnal Kajian.
Jakarta. Sekretariat Jenderal DPR RI. 16(2):1-5
Pemerintah Provinsi Papua. 2016. Tentang Papua. https://www.papua.go.id/. Di akses
tanggal 28 November 2019
Pratiwi, I dan Aminah, A.N. 2018. Freeport Indonesia Serap 2.422 Lulusan
IPN.Republika.co.id.https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/18
/03/30/p6cg4m384-freeport-indonesia-serap-2422-lulusan-ipn. Di akses
tanggal 28 November 2019
Saleh, M. R. 2011. Saudara Presiden, Datanglah ke Papua. Kompas. Jakarta