Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk komunikasi dalam


masyarakat. Komunikasi ini adalah proses, maksud atau amanat orang lain
dan aktivitas komunikasi itu bersifat dinamis. Bahasa Indonesia bukanlah
bahasa dengan sistem yang tunggal. Sebagai bahasa yang hidup, bahasa
Indonesia mempunyai variasi-variasi atau ragam-ragam yang masing-masing
memiliki fungsi tersendiri dalam proses komunikasi. Bahasa Indonesia yang
digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku. Oleh karena itu bahasa
yang digunakan harus mengikuti kaidah-kaidah kebahasaan yang ada.
Penyusunan aspek kebahasaan itu berkaitan erat dengan bahasa sebagai sistem
lambang bunyi dengan karakteristiknya. Kesalahan penggunaan bahasa bisa
menimbulkan interpretasi yang berbeda antara orang yang satu dan yang
lainnya.

Kesalahan bahasa sering dilakukan oleh pemakai bahasa, mulai dari


masyarakat awam sampai dengan masyarakat intelektual. Dalam kenyataan
penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, sering kita jumpai kesalahan bahasa
Indonesia yang salah atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Tidak semua orang benar dalam berbahasa baik secara lisan dan
tulisan. Seorang yang pandai bahasa pun tidak luput dari melakukan
kesalahan berbahasa. Kita harus mengakui bahwa belajar bahasa itu penting.
Meskipun secara alamiah sejak kecil kita sudah bisa berbahasa Indonesia.
Secara ilmiah kita belum mampu berbahasa dengan baik dan benar. Jangan
menganggap bahwa berbahasa Indonesia itu mudah sehingga kita tidak
merasa perlu belajar dan menggunakan bahasa tersebut secara cermat. Agar
sukses dalam belajar dan menggunakan bahasa Indonesia kita harus secermat

1
mungkin dalam menggunakan bahasa sehingga persentase kesalahan yang kita
lakukan relatife kecil. Berdasarkan judul makalah ini, penulis merasa penting
untuk menganalisis kesalahan penggunaan ejaan dan kalimat yang terdapat
pada skripsi kakak tingkat yang sudah sarjana dengan judul skripsi “

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana mengetahui ejaan yang baik dan benar?


2. Bagaimana kesalahan ejaan pada skripsi “Flotasi Gelembung Untuk Pemisah
Limbah Cair Industri Pabrik Kelapa Sawit dengan Mikroventuri” ?
3. Bagaimana kesalahan kata pada skripsi “Flotasi Gelembung Untuk Pemisah
Limbah Cair Industri Pabrik Kelapa Sawit dengan Mikroventuri” ?
4. Bagaimana kesalahan kalimat pada skripsi “Flotasi Gelembung Untuk
Pemisah Limbah Cair Industri Pabrik Kelapa Sawit dengan Mikroventuri” ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui ejaan yang baik dan benar sesuai dengan PUEBI.


2. Mengetahui kesalahan pada skripsi “Flotasi Gelembung Untuk Pemisah
Limbah Cair Industri Pabrik Kelapa Sawit dengan Mikroventuri”.
3. Mengoreksi kesalahan ejaan, kata dan kalimat pada skripsi “Flotasi
Gelembung Untuk Pemisah Limbah Cair Industri Pabrik Kelapa Sawit
dengan Mikroventuri”.

1.4 Manfaat

1. Mengetahui ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai PUEBI.
2. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai ejaan yang baik dan benar
sesuai dengan PUEBI.
3. Menjadikan pelajaran kepada diri sendiri agar lebih berhati-hati lagi dalam
membuat skripsi.

2
BAB II

LANDASAN TEORITIS

2.1 Pemakaian Huruf

1. Huruf Abjad
Abjad yang dipakai dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf
berikut.
Huruf
Nama Pengucapan
Kapital Nonkapital
A A a a
B B be bé
C C ce cé
D D de dé
E E e é
F F ef éf
G G ge gé
H H ha ha
I I i i
J J je jé
K K ka ka
L L el él
M M em ém
N N en én
O O o o
P P pe pé
Q Q ki ki
R R er ér
S S es és

3
T T te té
U U u u
V V ve vé
W W we wé
X X eks éks
Y Y ye yé
Z Z zet zét

2. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima
huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.
Contoh Pemakaian Dalam Kata
Huruf Vokal
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
a api sapu lusa
i itu lilin murni
u ulang pulang ibu
e* enak pendek sore
o oleh kompor radio
Keterangan: * Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik
berikut ini dapat digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
a. Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).
b. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Kami menonton film seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.
c. Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:

4
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank Indonesia.
Kecap (kêcap) dulu makanan itu.
3. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21
huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Contoh Pemakaian dalam kata
Huruf konsonan
Posisi awal Posisi tengah Posisi akhir
b bahasa sebut adab
c cakap kaca -
d dua ada abad
f fakir kafan maaf
g guna tiga gudeg
h hari saham tuah
j jalan manja mikraj
k kami paksa politik
l lekas alas akal
m maka kami diam
n nama tanah daun
p pasang apa siap
q* qariah iqra -
r raih bara putar
s sampai asli tangkas
t tali mata rapat
v variasi lava molotov
w wanita hawa takraw
x* xenon - -
y yakin payung -
z zeni lazim juz

5
2.2 Penulisan Kata

1. Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Kantor pajak penuh sesak.
Saya pergi ke sekolah.
Buku itu sangat tebal.

2. Kata Imbuhan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis
serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan
gemetar
lukisan

Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi,
ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:

sukuisme
seniman
kamerawan
gerejawi

3. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-
unsurnya.
Misalnya:
anak-anak

6
biri-biri
buku-buku

Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.
Misalnya:
surat kabar → surat-surat kabar
kapal barang → kapal-kapal barang
4. Gabungan Kata
Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar persegi panjang
model linear orang tua
kambing hitam rumah sakit jiwa

5. Pemenggalan Kata
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya:
bu-ah
ma-in
ni-at

6. Singkatan dan Akronim


Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan
tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:
A.H. Nasution Abdul Haris Nasution

7
M.B.A. master of business administration
Sdr. Saudara
Kol. Darmawati Kolonel Darmawati

Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata
atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
iptek ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu pemilihan umum
puskesmas pusat kesehatan masyarakat

7. Angka dan Bilangan


Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.
Misalnya:
Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak
setuju, dan 5 orang abstain.
Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus,
100 minibus, dan 250 sedan.
8. Kata Sandang Si dan Sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan
unsur nama Tuhan.
Misalnya:

8
Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.

2.3 Pemakaian Tanda Baca

1. Tanda Titik (.)


Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
mereka duduk di sana.
dia akan datang pada pertemuan itu.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.
Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
2. Tanda Koma (,)
Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan
sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama

3. Tanda Titik Koma (;)


Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam
kalimat majemuk.
Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.

9
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca
cerita pendek.
4. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
pemerincian atau penjelasan.
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau
mati.
5. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh
pergantian baris.
Misalnya:
Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
6. Tanda Pisah ( a – a )
Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai— diperjuangkan
oleh bangsa itu sendiri.
7. Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.
8. Tanda Seru (!)

10
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa
seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
atau emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
9. Tanda Elipsis (…)
Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau
kutipan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara
ialah ….
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat
buah).
10. Tanda Petik (“…”)
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”
11. Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam
petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

11
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat ‘yang digugat’ retina ‘dinding mata sebelah dalam’
12. Tanda Kurung ((…))
Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan
bagian utama kalimat.
Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di
Bali) ditulis pada tahun 1962.
13. Tanda Siku([…])
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam
naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah
bahasa Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan
secara khidmat.

12
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kualitatif dan Analisa Teks

Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti


transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak
lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang
memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk
memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional.
Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif. Selain itu, di dalam
penelitian kualitatif juga dikenal tata cara pengumpulan data yang lazim, yaitu
melalui studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka (berbeda dengan tinjauan
pustaka) dilakukan dengan cara mengkaji sumber tertulis seperti dokumen,
laporan tahunan, peraturan perundangan, dan diploma/sertifikat.

Sumber tertulis ini dapat merupakan sumber primer maupun sekunder,


sehingga data yang diperoleh juga dapat bersifat primer atau sekunder. Pengumpulan
data melalui studi lapangan terkait dengan situasi alamiah. Peneliti mengumpulkan
data dengan cara bersentuhan langsung dengan situasi lapangan, misalnya mengamati
(observasi), wawancara mendalam, diskusi kelompok (Focused Group Discussion)
atau terlibat langsung dalam penilaian.

Kajian dokumen merupakan sarana pembantu peneliti dalam mengumpulkan


data atau informasi dengan cara membaca surat-surat, pengumuman, iktisar rapat,
pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan-bahan tulisan lainnya. Metode
pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa
mengganggu obyek atau suasana penelitian. Peneliti dengan mempelajari dokumen-
dokumen tersebut dapat mengenal budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh obyek yang
diteliti. Pengumpulan data perlu didukung pula dengan pendokumen tasian,
denganfoto, video, dan VCD. Dokumentasi ini akan berguna untuk mengecek data

13
yang telah terkumpul. Pengumpulan data sebaiknya dilakukan secara bertahap dan
sebanyak mungkin peneliti berusaha mengumpulkan. Maksudnya, jika nanti ada yang
terbuang atau kurang relevan, peneliti masih bisa memanfaatkan data lain. Dalam
fenomena budaya, biasanya ada data yang berupa tata cara dan perilaku budaya serta
sastra lisan.

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa studi dokumen menjadi metode


pelengkap bagi penelitian kualitatif, yang pada awalnya menempati posisi yang
kurang dimanfaatkan dalam teknik pengumpulan datanya, sekarang ini menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari teknik pengumpulan data dalam metodologi
penelitian kualitatif. Hal senada diungkapkan Nasution (2003) bahwa meski metode
observasi dan wawancara menempati posisi dominan dalam penelitian kualitatif,
metode dokumenter sekarang ini perlu mendapatkan perhatian selayaknya, dimana
dahulu bahan dari jenis ini kurang dimanfaatkan secara maksimal. Ada catatan
penting dari Sugiyono (2007) mengenai pemanfaatan bahan dokumenter ini, bahwa
tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga harus selektif dan
hati-hati dalam pemanfaatannya.

Ada beberapa keuntungan dari penggunaan studi dokumen dalam penelitian


kualitatif, seperti yang dikemukakan Nasution (2003):

a) Bahan dokumenter itu telah ada, telah tersedia, dan siap pakai.
b) Penggunaan bahan ini tidak meminta biaya, hanya memerlukan waktu untuk
mempelajarinya.
c) Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari bahan itu bila dianalisis dengan
cermat, yang berguna bagi penelitian yang dijalankan.
d) Dapat memberikan latar belakang yang lebih luas mengenai pokok penelitian.
e) Dapat dijadikan bahan triangulasi untuk mengecek kesesuaian data.
f) Merupakan bahan utama dalam penelitian historis.

14
Dokumen sebagai sumber data banyak dimanfaatkan oleh para peneliti,
terutama untuk untuk menguji, menafsirkan dan bahkan untuk meramalkan. Lebih
lanjut Moleong (2007) memberikan lasan-alasan kenapa studi dokumen berguna bagi
penelitian kualitatif, diantaranya:

a) Karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong.


b) Berguna sebagai bukti (evident) untuk suatu pengujian.
c) Berguna dan sesuai karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks,
lahir, dan berada dalam konteks.
d) Relatif murah dan tidak sukar ditemukan, hanya membutuhkan waktu.
e) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas
tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.

15
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Kesalahan Ejaan

1. …sehingga tidak melebihi baku mutu,salah satu teknik…

Penulisan ejaan pemakaian tanda baca koma(,) salah karena setelah tanda baca
koma(,) seharusnya ada spasi sebagai tanda pemisah.

Perbaikan: …sehingga tidak melebihi baku mutu, salah satu teknik…


2. Setiap 1 ton minyak sawit…

Penulisan ejaan bilangan angka 1 ton pada kalimat di atas salah. Seharusnya
memakai kalimat saja karena belum mencapai tiga kalimat.

Perbaikan: Setiap satu ton minyak sawit…


3. BOD 20.000 – 60.000 mg/l[1].Limbah yang dihasilkan PKS…

Penulisan ejaan setelah titik seharusnya menggunakan spasi sebagai tanda


pemisah.

Perbaikan: BOD 20.000 – 60.000 mg/l[1]. Limbah yang dihasilkan PKS…


4. Diperlukan teknik untuk mengurangi Total suspended solid (TSS).

Penulisan ejaan diatas salah. Seharusnya singkatan ditulis huruf besar semua.

Perbaikan: Diperlukan teknik untuk mengurangi Total Suspended Solid (TSS).


5. Bahan kimia PAC dan Flocculant dan penurunan kandungan.

16
Penulisan ejaan diatas salah karena seharusnya kata “dan” pertama bisa
digantikan dengan tanda baca koma (,)

Perbaikan: Bahan kimia PAC, Flocculant dan penurunan kandungan.


6. Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang penelitian, tujuan, batasan
masalah, dan sistematika penilaian

Penulisan ejaan diatas salah karena tidak ada tanda baca titik untuk
mengakhiri suatu kalimat.
7. Perbaikan: Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang penelitian, tujuan,
batasan masalah, dan sistematika penilaian.

4.2 Kesalahan Kata

1. Penurunan kandungan TSS dan Kekerutan sebelun dan sesudah dilaksanakan


flotasi gelembung.

Penulisan kata “Kerutan” di tengah kalimat menggunakan huruf kapital adalah


salah karena huruf kapital digunakan pada awal kalimat pun ada kata yang
salah ketik juga yaitu pada kata “sebelun”.

Perbaikan: penurunan kandungan TSS dan kekerutan sebelum dan sesudah


dilaksanakan flotasi gelembung.

2. Permukaan cairan, Partikel-partikel ini akan mudah dipisahkan.

Penulisan kata “Partikel-partikel” ditulis dengan huruf kecil karena sesudah


tanda baca koma seharusnya huruf kecil kecuali penggunaan nama orang,
instansi dan daerah tertentu.

17
Perbaikan: Permukaan cairan, Partikel-partikel ini akan mudah dipisahkan.

Adapun gambar skripsi yang dikoreksi oleh saya sebagai berikut:

18
BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil dari bab IV adalah kesalahan ejaan, kata dan kalimat
pada skripsi “Flotasi Gelembung Untuk Pemisah Limbah Cair Industri Pabrik
Kelapa Sawit dengan Mikroventuri” masih banyak. Penulis skripsi masih
belum mengerti tentang cara-cara penulisan ejaan dan kalimat yang benar.
Masih banyak terdapat penggunaan kata yang tidak baku. Kesalahan juga
terdapat pada kalimat maupun kata yang salah dalam pengetikan. Kesalahan
penulisan kalimat pada skripsi terlampir meliputi: ketidakcermatan kalimat,
dan kesalahan kata penghubung.

5.2 Saran

Setelah penulis melakukan analisis terhadap skripsi “Flotasi


Gelembung Untuk Pemisah Limbah Cair Industri Pabrik Kelapa Sawit
dengan Mikroventuri”, penulis menyarankan kepada para penulis skripsi
untuk memahami kembali cara penulisan ejaan, kata dan kalimat yang benar,
karena penulisan ejaan, kata dan kalimat yang baik harus sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia. Para guru atau dosen yang mempunyai pengetahuan
lebih tentang ejaan dan kalimat, agar memperbaiki kata, ejaan dan kalimat
yang benar bagi mahasiswa dan mahasiswi di Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Hasil anlisis ini dapat memberikan masukan kepada para penulis dan dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi calon guru maupun dosen dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran atau perkuliahan. Bagi calon guru atau
dosen dapat menjelaskan bentuk-bentuk kesalahan penyusunan kalimat efektif
dan bagaimana cara pembetulannya sehingga penyusun kalimat yang telah
dihasilkan peserta didik menjadi benar.

19
DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, 2016, Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia, Jakarta: Kemendikbud.

Sugiyono, 2007, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:


Alfabeta.

http://catatankuliahpraja.blogspot.com/

20