Anda di halaman 1dari 19

Tgl : Nilai

Paraf CI

LAPORAN PENDAHULUAN OBSTRUKSI USUS

1. Definisi
- Obstruksi usus terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi
usus ke depan, tetapi peristaltiknya normal
- Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran
normal isi usus sepanjang saluran usus
- Obstruksi usus didefinisikan sebagai sumbatan bagi jalan distal isi usus

2. Etiologi
Obstruksi usus pada umumnya diklasifikasikan sebagai :
a. Obstruksi Mekanik
Obstruksi usus mekanik mempengaruhi kekuatan dinding usus, disebabkan oleh :
1) Perlekatan
Biasanya terjadi akibat dari pembedahan abdomen sebelumnya, lengkung usus,
menjadi melekat pada area yang sembuh secara lembut atau pada jaringan parut
setelah pembedahan abdomen.
2) Intususepsi
Salah satu bagian dari usus menyusup ke dalam bagian lain yang ada di
bawahnya, invaginasi / pemendekan usus oleh gerakan satu segmen dari usus ke
tempat lain, akibatnya terjadi penyempitan lumen usus.
3) Volvulus
Perputaran yang saling mengunci, usus yang terpelintir, akibatnya lumen usus
menjadi tersumbat, gas dan cairan berkumpul dalam usus yang terjebak.
4) Hernia
Masuknya usus ke dalam kantung hernia melewati lubang hernia, akibat lemahnya
kelemahan muscular abdomen, peningkatan teanan intra abdominal, akibatnya
aliran usus mungkin tersumbat total dan aliran darah ke area tersebut dapat juga
tersumbat.
5) Tumor
Tumor yang ada dalam dinding usus meluas ke lumen usus atau tumor di luar usus
menyebabkan tekanan pada dinding usus. Akibatnya lumen usus menjadi
tersumbat sebagian, bila tumor tidak diangkat mengakibatkan obstruksi lengkap.

1
b. Obstruksi usus non mekanik
1) Peritonitis
2) Disfungsi motilitas gastro intestinal sebagai akibat tidak normalnya peristaltik
usus.
3) Ileus paralitik akibat dari proses pembedahan dimana visera abdomen tersentuh.
4) Atoni usus dan peregangan gastro intestinal sering timbul menyertai berbagai
kondisi traumatik, terutama setelah fraktur tulang belakang.
5) Terjepitnya batu empedu di dalam usus.

3. Patofisiologi
Secara normal 7 sampai 8 liter cairan kaya elektrolit dari sekresi oleh usus dan
kebanyakan direabsorbsi. Bila usus tersumbat akumulasi, isi usus, cairan dan gas akan
terjadi di daerah atas usus yang mengalami obstruksi, hal ini akan menimbulkan distensi.
Bila cairan ini tertahan terus-menerus akan terjadi refluks muntah yang akan
menyebabkan dehidrasi. Distensi menyebabkan distensi sementara peristaltik saat usus
berusaha mendorong material melalui area tersumbat. Dalam beberapa jam peningkatan
peristaltik berakhir dan usus menjadi flacid. Dengan peningkatan distensi, tekanan dalam
lumen usus meningkat, menyebabkan penurunan tekanan kapiler vena dan arteri. Hal ini
akan menyebabkan iskemia, nekrosis dan akhirnya ruptur dinding usus, yang dapat
menyebabkan pelepasan bakteri dan toksin dari usus ke dalam peritoneum dan sirkulasi
sistemik yang dapat mengakibatkan peritonitis dan septikemia.

4. Manifestasi Klinis
Semakin tinggi letak penyumbatan, maka semakin cepat terjadi dehidrasi.
a. Obstruksi usus halus
1) Nyeri
Biasanya tidak nyata seperti pada ileus paralitik, walaupun abdomen mungkin
sensitif (nyeri bila ditekan). Nyeri biasanya menyerupai kejang, datangnya
bergelombang dan biasanya terletak pada umbilikus.
2) Muntah (sering muncul, frekuensinya bervariasi tergantung letak obstruksi)
3) Konstipasi absolut
4) Peregangan abdomen / distensi abdomen (semakin ke bawah semakin jelas)
5) Feses dan flatus dapat keluar pada permulaan obstruksi usus halus
6) Tanda-tanda dehidrasi : haus terus-menerus, mengantuk, malaise umum dan lidah
serta membran mukosa menjadi pecah).
b. Obstruksi Usus Besar
Obstruksi usus besar berbeda secara klinis dari obstruksi usus halus. Dalam hal ini
gejala terjadi dan berlanjut relatiflambat, manifestasi yang timbul pada obstruksi usus
besar yaitu :
1) Konstipasi
2) Abdomen menjadi sangat distensi
3) Kram dan nyeri abdomen bawah
4) Muntah fekal

2
5) Dehidrasi (tingkatan tergantung letak penyumbatan)
6) Suara usus besar → pada mulanya mungkin pertanda hiperaktif proksimal dari
obstruksi, kemudian mengalami penurunan.
7) Syok

5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sinar X
Menunjukkan adanya kuantitas abnormal dari gas dan cairan usus.
b. Pemeriksaan radiogram abdomen (Untuk menegakkan diagnosis obstruksi usus
Pada obstruksi usus halus ditandai adanya udara di usus halus, sedangkan pada
obstruksi usus besar menunjukkan adanya udara dalam kolon.
c. Radiogram Barium
Untuk mengetahui tempat obstruksi
d. Pemeriksaan laboratorium (elektrolit darah dan DL)
Menunjukkan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan
infeksi (leukosit mencapai 30.000 – 50.000 ul)
e. Proktosigmoidoskopi
Membantu menentukan penyebab obstruksi bila di dalam kolon

6. Penatalaksanaan
a. Tindakan Medis
1) Dekompresi usus melalui selang usus halus / NGT untuk mengurangi muntah,
mencegah aspirasi dan mengurangi distensi abdomen.
2) Terapi intravena diperlukan untuk mengganti kekurangan cairan, natrium klorida
dan kalium.
3) Selang rektal digunakan untuk dekompresi area yang ada di bawah usus
4) Kolonoskopi untuk membuka iritan dan dekompresi usus.
b. Apabila kondisi klien tidak bereson terhadap tindakan medis,maka diperlukan
tindakan pembedahan. Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan
organ-organ vital berfungsi secara memuaskan.
1) Reseksi bedah : untuk mengangkat penyebab obstruksi
2) Kolonostomi sementara / permanen
3) Sokostomi : pembukaan secara bedah yang dibuat pada seikum.
c. Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit.perawatan
luka abdomen dan pemberian kalori yang cukup serta perlu diingat pasien dengan
pasca bedah, usus masih dalam kecelakaan.

7. Komplikasi
a. Syok hipovolemik
b. Peritonitis
c. Septikemia

3
Pathway

4
Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Obstruksi Usus

1. Pre Operasi
a. Pengkajian
1) Data biografi (nama, umur, alamat, pekerjaan, jenis kelamin)
2) Cairan
o Gejala : muntah banyak dengan materi fekal, berbau
o Tanda : membran mukosa kering, turgor kulit tidak elastic
3) Ketidaknyamanan / nyeri
o Gejala : flatus (-), konstipasi
o Tanda : wajah klien tegang, tampak meringis, distensi abdomen
4) Eliminasi
o Gejala : flatus (-), konstipasi
o Tanda : distensi abdomen, penurunan bising (dari hiperaktif ke
hipoaktif), feses (-), tergantung letak obstruksi, jika ada feses hanya sedikit
(berbentuk pensil).
5) Aktivitas
o Gejala : kelemahan
o Tanda : kesulitan ambulasi
6) Sirkulasi
o Tanda : takikardi, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok)
b. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko kekurangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh b.d output
berlebih
2. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d distensi abdomen
3. Gangguan eliminasi bowel : konstipasi b.d mal absorbsi usus
4. Resti infeksi b.d ruptur usus
5. Ansietas b.d kurang pengetahuan tentang penyakit, pemeriksan diagnosa dn
tindakannya.
c. Intervensi Keperawatan
1. Resiko kekurangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh b.d output
berlebih
Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Defisit Volume Cairan NOC: NIC :
Berhubungan dengan: - Fluid balance  Pertahankan catatan intake dan
- Kehilangan volume cairan - Hydration output yang akurat
secara aktif - Nutritional Status : Food and
- Kegagalan mekanisme Fluid Intake
 Monitor status hidrasi
(kelembaban membran
pengaturan Setelah dilakukan tindakan
mukosa, nadi adekuat, tekanan
DS : keperawatan selama….. defisit
darah ortostatik ), jika
- Haus volume cairan teratasi dengan
diperlukan
DO: kriteria hasil :
- Mempertahankan urine output  Monitor hasil lab yang sesuai
- Penurunan turgor kulit/lidah
dengan retensi cairan (BUN ,
sesuai dengan usia dan BB,
- Membran mukosa/kulit kering BJ urine normal, Hmt , osmolalitas urin,
- Peningkatan denyut nadi, - Tekanan darah, nadi, suhu albumin, total protein )

5
penurunan tekanan darah, tubuh dalam batas normal  Monitor vital sign setiap
penurunan volume/tekanan - Tidak ada tanda tanda 15menit – 1 jam
nadi dehidrasi,
- Elastisitas turgor kulit baik,
 Kolaborasi pemberian cairan
- Pengisian vena menurun
IV
membran mukosa lembab,
- Perubahan status mental
 Monitor status nutrisi
tidak
- Konsentrasi urine meningkat
 Berikan cairan oral
- Temperatur tubuh meningkat
 Berikan penggantian
- Kehilangan berat badan secara nasogatrik sesuai output (50 –
tiba-tiba 100cc/jam)
- Penurunan urine output
 Dorong keluarga untuk
- HMT meningkat membantu pasien makan
- Kelemahan

2. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d distensi abdomen


Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Nyeri akut b erhubungan dengan: NOC : NIC :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, - Pain Level, - Lakukan pengkajian nyeri
psikologis), kerusakan jaringan - pain control, secara komprehensif termasuk
- comfort level lokasi, karakteristik, durasi,
DS: Setelah dilakukan tinfakan frekuensi, kualitas dan faktor
- Laporan secara verbal keperawatan selama …. Pasien presipitasi
DO: tidak mengalami nyeri, dengan - Observasi reaksi nonverbal
criteria hasil: dari ketidaknyamanan
- Posisi untuk menahan nyeri
- Mampu mengontrol nyeri (tahu - Bantu pasien dan keluarga
- Tingkah laku berhati-hati penyebab nyeri, mampu untuk mencari dan menemukan
- Gangguan tidur (mata sayu, menggunakan tehnik dukungan
tampak capek, sulit atau nonfarmakologi untuk - Kontrol lingkungan yang dapat
gerakan kacau,menyeringai) mengurangi nyeri, mencari mempengaruhi nyeri seperti
- Terfokus pada diri sendiri bantuan) suhu ruangan, pencahayaan
- Melaporkan bahwa nyeri dan kebisingan
- Fokus menyempit (penurunan
berkurang dengan - Kurangi faktor presipitasi nyeri
persepsi waktu, kerusakan
menggunakan manajemen - Kaji tipe dan sumber nyeri
prosesberpikir, penurunan
nyeri untuk menentukan intervensi
interaksi denganorang dan
- Mampu mengenali nyeri (skala, - Ajarkan tentang teknik non
lingkungan)
intensitas, frekuensi dan tanda farmakologi: napas dala,
- Tingkah laku distraksi, contoh nyeri) relaksasi, distraksi, kompres
:jalan-jalan, menemui orang - Menyatakan rasa nyaman hangat/ dingin
laindan/atau aktivitas, setelah nyeri berkurang - Berikan analgetik untuk
aktivitasberulang-ulang) - Tanda vital dalam rentang mengurangi nyeri: ……...
- Respon autonom (seperti normal - Tingkatkan istirahat
diaphoresis,perubahan tekanan - Tidak mengalami gangguan - Berikan informasi tentang
darah, perubahannafas, nadi dan tidur nyeri seperti penyebab nyeri,
dilatasi pupil) berapa lama nyeri akan
- Perubahan autonomic dalam berkurang dan antisipasi
tonusotot (mungkin dalam ketidaknyamanan dari prosedur
rentang darilemah ke kaku) - Monitor vital sign sebelum dan
- Tingkah laku ekspresif (contoh sesudah pemberian analgesik
:gelisah, merintih, menangis, pertama kali
waspada,iritabel, nafas
panjang/berkeluhkesah)
- Perubahan dalam nafsu makan
danminum

6
3. Gangguan eliminasi bowel : konstipasi b.d mal absorbsi usus
Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Konstipasi berhubungan dengan NOC: NIC :
- Fungsi:kelemahan otot - Bowl Elimination Manajemen konstipasi
abdominal, Aktivitas fisik tidak - Hidration - Identifikasi faktor-faktor yang
mencukupi Setelah dilakukan tindakan menyebabkan konstipasi
- Perilaku defekasi tidak teratur keperawatan selama …. - Monitor tanda-tanda ruptur
- Perubahan lingkungan konstipasi pasien teratasi dengan bowel/peritonitis
- Toileting tidak adekuat: posisi kriteria hasil: - Jelaskan penyebab dan
defekasi, privasi - Pola BAB dalam batas normal rasionalisasi tindakan pada
- Psikologis: depresi, stress - Feses lunak pasien
emosi, gangguan mental - Cairan dan serat adekuat - Konsultasikan dengan dokter
- Farmakologi: antasid, - Aktivitas adekuat tentang peningkatan dan
antikolinergis, antikonvulsan, - Hidrasi adekuat penurunan bising usus
antidepresan, kalsium - Kolaburasi jika ada tanda dan
karbonat,diuretik, besi, gejala konstipasi yang menetap
overdosis laksatif, NSAID, - Jelaskan pada pasien manfaat
opiat, sedatif. diet (cairan dan serat) terhadap
- Mekanis: ketidakseimbangan eliminasi
elektrolit,hemoroid, gangguan - Jelaskan pada klien
neurologis, obesitas,obstruksi konsekuensi menggunakan
pasca bedah, abses laxative dalam waktu yang
rektum,tumor lama
- Fisiologis: perubahan pola - Kolaburasi dengan ahli gizi
makan dan jenis makanan, diet tinggi serat dan cairan
penurunan motilitas - Dorong peningkatan aktivitas
gastrointestnal, dehidrasi, intake yang optimal
serat dan cairan kurang, - Sediakan privacy dan
perilaku makan yang buruk keamanan selama BAB
DS:
- Nyeri perut
- Ketegangan perut
- Anoreksia
- Perasaan tekanan pada rectum
- Nyeri kepala- Peningkatan
tekanan abdominal- Mual
- Defekasi dengan nyeri
DO:
- Feses dengan darah segar
- Perubahan pola BAB
- Feses berwarna gelap
- Penurunan frekuensi BAB
- Penurunan volume feses
- Distensi abdomen
- Feses keras
- Bising usus hipo/hiperaktif
- Teraba massa abdomen atau
rectal
- Perkusi tumpul
- Sering flatus
- Muntah

4. Resti infeksi b.d ruptur usus


Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil

7
Risiko infeksi NOC : NIC :
❖ Immune Status - Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko : ❖ Knowledge : Infection control
- Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif ❖ Risk control
- Kerusakan jaringan dan Setelah dilakukan tindakan - Cuci tangan setiap sebelum
peningkatan paparan keperawatan selama…… pasien dan sesudah tindakan
lingkungan tidak keperawatan
- Malnutrisi mengalami infeksi dengan criteria - Gunakan baju, sarung tangan
- Peningkatan paparan hasil: sebagai alat pelindung
lingkungan patogen - Klien bebas dari tanda dan - Ganti letak IV perifer dan
- Imonusupresi gejala infeksi dressing sesuai dengan
- Tidak adekuat pertahanan - Menunjukkan kemampuan petunjuk umum
sekunder (penurunan Hb, untuk mencegah timbulnya
- Gunakan kateter intermiten
Leukopenia,penekanan respon infeksi
untuk menurunkan infeksi
inflamasi) - Jumlah leukosit dalam batas
kandung kencing
- Penyakit kronik normal
- Imunosupresi - Menunjukkan perilaku hidup - Tingkatkan intake nutrisi
- Malnutrisi sehat - Berikan terapi
- Pertahan primer tidak adekuat - Status imun, gastrointestinal, antibiotik:.................................
(kerusakan kulit, trauma genitourinaria dalam batas - Monitor tanda dan gejala
jaringan, gangguan peristaltik) normal infeksi sistemik dan lokal
- Pertahankan teknik isolasi k/p
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Monitor adanya luka
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
- Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

5. Ansietas/kecemasan b.d kurang pengetahuan tentang penyakit, pemeriksan


diagnosa dn tindakannya.
Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Kecemasan berhubungan dengan NOC : NIC :
Faktor keturunan, Krisis - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
situasional, - Koping kecemasan)
Stress, perubahan status Setelah dilakukan asuhan selama - Gunakan pendekatan yang
kesehatan, ……………klien kecemasan menenangkan
ancaman kematian, perubahan teratasi dgn kriteria hasil: - Nyatakan dengan jelas harapan
konsep diri, kurang pengetahuan - Klien mampu mengidentifikasi terhadap pelaku pasien
dan dan mengungkapkan gejala - Jelaskan semua prosedur dan
hospitalisasi cemas apa yang dirasakan selama
- Mengidentifikasi, prosedur
DO/DS: mengungkapkan dan - Temani pasien untuk
- Insomnia menunjukkan tehnik untuk memberikan keamanan dan
- Kontak mata kurang mengontol cemas mengurangi takut
- Kurang istirahat - Vital sign dalam batas normal - Berikan informasi factual
- Berfokus pada diri sendiri - Postur tubuh, ekspresi wajah, mengenai diagnosis, tindakan
- Iritabilitas bahasa tubuh dan tingkat prognosis
- Takut aktivitas menunjukkan - Libatkan keluarga untuk
- Nyeri perut berkurangnya kecemasan mendampingi klien

8
- Penurunan TD dan denyut nadi - Instruksikan pada pasien untuk
- Diare, mual, kelelahan menggunakan tehnik relaksasi
- Gangguan tidur - Dengarkan dengan penuh
- Gemetar perhatian
- Anoreksia, mulut kering - Identifikasi tingkat kecemasan
- Peningkatan TD, denyut nadi, - Bantu pasien mengenal situasi
RR yang menimbulkan kecemasan
- Kesulitan bernafas - Dorong pasien untuk
- Bingung mengungkapkan perasaan,
- Bloking dalam pembicaraan ketakutan, persepsi
- Sulit berkonsentras - Kelola pemberian obat anti
cemas:........

2. Post Operasi
a. Pengkajian
1) Cairan dan Nutrisi
o Gejala : muntah berlebih, intake yang kurang, flatus (-)
o Tanda : membran mukosa kering, turgor kulit tidak elastis, produksi/ jumlah
drainage berlebih, distensi abdomen, peristaltik (-) / paralitik.
2) Ketidaknyamanan / nyeri
o Gejala : flatus (-)
o Tanda : wajah klien tampak tegang dan meringis, adanya luka insisi
abdomen, distensi abdomen.
3) Aktivitas
o Gejala : kelemahan
o Tanda : kesulitan ambulasi
4) Sirkulasi
o Tanda : takikardi, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok)
b. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d insisi bedah
2. Resti infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan primer, tindakan invasif, adanya
insisi bedah
3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pembedahan abdomen
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d
kurang informasi.
c. Rencana Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d insisi bedah
Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Nyeri akut b erhubungan dengan: NOC : NIC :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, - Pain Level, - Lakukan pengkajian nyeri
psikologis), kerusakan jaringan - pain control, secara komprehensif termasuk
- comfort level lokasi, karakteristik, durasi,
DS: Setelah dilakukan tinfakan frekuensi, kualitas dan faktor
- Laporan secara verbal keperawatan selama …. Pasien presipitasi
DO: tidak mengalami nyeri, dengan - Observasi reaksi nonverbal
criteria hasil: dari ketidaknyamanan
- Posisi untuk menahan nyeri
- Mampu mengontrol nyeri (tahu - Bantu pasien dan keluarga
- Tingkah laku berhati-hati penyebab nyeri, mampu untuk mencari dan menemukan

9
- Gangguan tidur (mata sayu, menggunakan tehnik dukungan
tampak capek, sulit atau nonfarmakologi untuk - Kontrol lingkungan yang dapat
gerakan kacau,menyeringai) mengurangi nyeri, mencari mempengaruhi nyeri seperti
bantuan) suhu ruangan, pencahayaan
- Terfokus pada diri sendiri
- Melaporkan bahwa nyeri dan kebisingan
- Fokus menyempit (penurunan berkurang dengan - Kurangi faktor presipitasi nyeri
persepsi waktu, kerusakan menggunakan manajemen - Kaji tipe dan sumber nyeri
prosesberpikir, penurunan nyeri untuk menentukan intervensi
interaksi denganorang dan - Mampu mengenali nyeri (skala, - Ajarkan tentang teknik non
lingkungan) intensitas, frekuensi dan tanda farmakologi: napas dala,
- Tingkah laku distraksi, contoh nyeri) relaksasi, distraksi, kompres
:jalan-jalan, menemui orang - Menyatakan rasa nyaman hangat/ dingin
laindan/atau aktivitas, setelah nyeri berkurang - Berikan analgetik untuk
aktivitasberulang-ulang) - Tanda vital dalam rentang mengurangi nyeri: ……...
- Respon autonom (seperti normal - Tingkatkan istirahat
diaphoresis,perubahan tekanan - Tidak mengalami gangguan - Berikan informasi tentang
darah, perubahannafas, nadi dan tidur nyeri seperti penyebab nyeri,
dilatasi pupil) berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
- Perubahan autonomic dalam
ketidaknyamanan dari prosedur
tonusotot (mungkin dalam
- Monitor vital sign sebelum dan
rentang darilemah ke kaku)
sesudah pemberian analgesik
- Tingkah laku ekspresif (contoh pertama kali
:gelisah, merintih, menangis,
waspada,iritabel, nafas
panjang/berkeluhkesah)
- Perubahan dalam nafsu makan
danminum

2. Resti infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan primer, tindakan invasif, adanya


insisi bedah
Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Risiko infeksi NOC : NIC :
❖ Immune Status - Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko : ❖ Knowledge : Infection control
- Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif ❖ Risk control
- Kerusakan jaringan dan Setelah dilakukan tindakan - Cuci tangan setiap sebelum
peningkatan paparan keperawatan selama…… pasien dan sesudah tindakan
lingkungan tidak keperawatan
- Malnutrisi mengalami infeksi dengan criteria - Gunakan baju, sarung tangan
- Peningkatan paparan hasil: sebagai alat pelindung
lingkungan patogen - Klien bebas dari tanda dan - Ganti letak IV perifer dan
- Imonusupresi gejala infeksi dressing sesuai dengan
- Tidak adekuat pertahanan - Menunjukkan kemampuan petunjuk umum
sekunder (penurunan Hb, untuk mencegah timbulnya
- Gunakan kateter intermiten
Leukopenia,penekanan respon infeksi
untuk menurunkan infeksi
inflamasi) - Jumlah leukosit dalam batas
kandung kencing
- Penyakit kronik normal
- Imunosupresi - Menunjukkan perilaku hidup - Tingkatkan intake nutrisi
- Malnutrisi sehat - Berikan terapi
- Pertahan primer tidak adekuat - Status imun, gastrointestinal, antibiotik:.................................
(kerusakan kulit, trauma genitourinaria dalam batas - Monitor tanda dan gejala
jaringan, gangguan peristaltik) normal infeksi sistemik dan lokal
- Pertahankan teknik isolasi k/p
- Inspeksi kulit dan membran

10
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Monitor adanya luka
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
- Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pembedahan abdomen


Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Ketidakseimbangan nutrisi NOC: - Kaji adanya alergi makanan
kurang a. Nutritional status: Adequacy of - Kolaborasi dengan ahli gizi
dari kebutuhan tubuh nutrient untuk menentukan jumlah
Berhubungan dengan : b. Nutritional Status : food and kalori dan nutrisi yang
Ketidakmampuan untuk Fluid Intake dibutuhkan pasien
memasukkan c. Weight Control - Yakinkan diet yang dimakan
atau mencerna nutrisi oleh karena Setelah dilakukan tindakan mengandung tinggi serat untuk
factor biologis, psikologis atau keperawatan selama….nutrisi mencegah konstipasi
ekonomi. kurangteratasi dengan indikator: - Ajarkan pasien bagaimana
DS: ❖ Albumin serum membuat catatan makanan
- Nyeri abdomen ❖ Pre albumin serum harian.
❖ Hematokrit - Monitor adanya penurunan BB
- Muntah
❖ Hemoglobin dan gula darah
- Kejang perut ❖ Total iron binding capacity - Monitor lingkungan selama
- Rasa penuh tiba-tiba setelah ❖ Jumlah limfosit makan
makan - Jadwalkan pengobatan dan
DO: tindakan tidak selama
- Diare jammakan
- Rontok rambut yang berlebih - Monitor turgor kulit
- Kurang nafsu makan - Monitor kekeringan, rambut
- Bising usus berlebih kusam, total protein, Hb dan
- Konjungtiva pucat kadar Ht
- Denyut nadi lemah - Monitor mual dan muntah
- Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
- Monitor intake nuntrisi
- Informasikan pada klien dan
keluarga tentang manfaat
nutrisi
- Kolaborasi dengan dokter
tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN
sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
- Atur posisi semi fowler atau
fowler tinggi selama makan
- Kelola pemberan anti
emetik:.....
- Anjurkan banyak minum
- Pertahankan terapi IV line
- Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila

11
lidah dan cavitas oval

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d


kurang informasi.
Diagnose keperawatan Rencana Keperawatan
Intervensi
Masalah kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil
Kurang Pengetahuan NOC: NIC :
Berhubungan dengan : ❖ Kowlwdge : disease process - Kaji tingkat pengetahuan
keterbatasan ❖ Kowledge : health Behavior pasien dan keluarga
kognitif, interpretasi terhadap Setelah dilakukan tindakan - Jelaskan patofisiologi dari
informasi keperawatan selama …. pasien penyakit dan bagaimana hal ini
yang salah, kurangnya keinginan menunjukkan pengetahuan tentang berhubungan dengan anatomi
untuk proses penyakit dengan kriteria dan fisiologi, dengan cara yang
mencari informasi, tidak hasil: tepat.
mengetahui - Pasien dan keluarga - Gambarkan tanda dan gejala
sumber-sumber informasi. menyatakan pemahaman yang biasa muncul pada
tentang penyakit, kondisi, penyakit, dengan cara yang
DS: prognosis dan program tepat
Menyatakan secara verbal adanya pengobatan - Gambarkan proses penyakit,
masalah - Pasien dan keluarga mampu dengan cara yang tepat
DO: melaksanakan prosedur yang - Identifikasi kemungkinan
ketidakakuratan mengikuti dijelaskan secara benar penyebab, dengan cara yang
instruksi, - Pasien dan keluarga mampu tepat
perilaku tidak sesua menjelaskan kembali apa yang - Sediakan informasi pada
dijelaskan perawat/tim pasien tentang kondisi, dengan
kesehatan lainnya cara yang tepat
- Sediakan bagi keluarga
informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang tepat
- Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
- Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
- Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan, dengan
cara yang tepat

12
LAPORAN PENDAHULUAN LAPARATOMY

A. Defenisi
Laparatomy merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu insisi pada
dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 1997).
Ditambahkan pula bahwa laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada
daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. Adapun tindakan
bedah digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini adalah herniotomi,
gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi, apendektomi,
kolostomi, hemoroidektomi dfan fistuloktomi. Sedangkan tindakan bedah obgyn yang
sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah berbagai jenis operasi pada uterus,
operasi pada tuba fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi hissterektomi, baik
histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi bilateral.
Tujuan: Prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami nyeri
abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau pasien yang mengalami trauma
abdomen.
Laparatomy eksplorasi digunakan untuk mengetahui sumber nyeri atau akibat trauma
dan perbaikan bila diindikasikan.
Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):
a. Midline incision
Metode insisi yang paling sering digunakan, karena sedikit perdarahan, eksplorasi
dapat lebih luas, cepat di buka dan di tutup, serta tidak memotong ligamen dan
saraf. Namun demikian, kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia
cikatrialis. Indikasinya pada eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di
bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid, dan organ dalam
pelvis.
b. Paramedian
yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm). Terbagi atas
2 yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan indikasi pada jenis operasi lambung,
eksplorasi pankreas, organ pelvis, usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi.
Paramedian insicion memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi
anatomis dan fisiologis, tidak memotong ligamen dan saraf, dan insisi mudah
diperluas ke arah atas dan bawah
c. Transverse upper abdomen incision
yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan
splenektomy.
d. Transverse lower abdomen incision
yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka,
misalnya; pada operasi appendectomy

13
B. Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak
diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk
(Ignativicus & Workman, 2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
- Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) yang
disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.
- Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang
dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau
sabuk pengaman (sit-belt).
2. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen,
yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis primer dapat
disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis.
Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan
penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon sigmoid), sementara
proses pembedahan merupakan penyebab peritonitis tersier.
3. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran
normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon
sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi
justru mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat
yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita
ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi
melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah
pembedahan abdomen), Intusepsi (salah satu bagian dari usus menyusup kedalam
bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus (usus
besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian
menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi amat
distensi), hernia (protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan
otot abdomen), dan tumor (tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus
atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus).
4. Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari
sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh
fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan
inflamasi.
5. Tumor abdomen
6. Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
7. Abscesses (a localized area of infection)
8. Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
9. Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the intestines)
10. Intestinal perforation
11. Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)

14
12. Foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
13. Internal bleeding

C. Post Op Laparatomi
1. Defenisi
Post op atau Post operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses pembedahan
pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry dan Potter (2005)
dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2 tahap yaitu periode
pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post operatif. Proses
pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi. Perawatan post
laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan kepada klien yang
telah menjalani operasi pembedahan abdomen.
2. Tujuan perawatan post laparatomi
- Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
- Mempercepat penyembuhan.
- Mengembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
- Mempertahankan konsep diri klien.
- Mempersiapkan klien pulang.
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi yang biasa timbul pada pasien post laparatomy diantaranya :
- Nyeri tekan pada area sekitar insisi pembedahan
- Dapat terjadi peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi.
- Kelemahan
- Mual, muntah, anoreksia
- Konstipasi
4. Komplikasi
Syok
Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan
ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk metabolisme.
Manifestasi Klinis :
a. Pucat
b. Kulit dingin dan terasa basah
c. Pernafasan cepat
d. Sianosis pada bibir, gusi dan lidah
e. Nadi cepat, lemah dan bergetar
f. Penurunan tekanan nadi
g. Tekanan darah rendah dan urine pekat.
Hemorrhagi
a. Hemoragi primer : terjadi pada waktu pembedahan
b. Hemoragi intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan
tekanan darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut dengan
tidak aman dari pembuluh darah yang tidak terikat

15
c. Hemoragi sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip karena
pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami
erosi oleh selang drainage.
Manifestasi Klinis Hemorrhagi : Gelisah, , terus bergerak, merasa haus, kulit
dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat dan dalam, bibir
dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.
5. Pencegahan dan Penanganan Komplikasi
Syok
Pencegahan :
a. Terapi penggantian cairan
b. Menjaga trauma bedah pda tingkat minimum
c. Pengatasan nyeri dengan membuat pasien senyaman mungkin dan dengan
menggunakan narkotik secara bijaksana
d. Pemakaian linen yang ringan dan tidak panas (mencegah vasodilatasi)
e. Ruangan tenang untuk mencegah stres
f. Posisi supinasi dianjurkan untuk memfasilitasi sirkulasi
g. Pemantauan tanda vital
Pengobatan :
a. Pasien dijaga tetap hangat tapi tidak sampai kepanasan
b. Dibaringkan datar di tempat tidur dengan tungkai dinaikkan
c. Pemantauan status pernafasan dan CV
d. Penentuan gas darah dan terapi oksigen melalui intubasi atau nasal kanul jika
diindikasikan
e. Penggantian cairan dan darah kristaloid (ex : RL) atau koloid (ex : komponen
darah, albumin, plasma atau pengganti plasma)
f. Terapi obat : kardiotonik (meningkatkan efisiensi jantung) atau diuretik
(mengurangi retensi cairan dan edema)
Hemorrhagi
Penatalaksanaan :
a. Pasien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok
b. Sedatif atau analgetik diberikan sesuai indikasi
c. Inspeksi luka bedah
d. Balut kuat jika terjadi perdarahan pada luka operasi
e. Transfusi darah atau produk darah lainnya
f. Observasi Vital Signs.
Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi dan ambulatif dini.
Buruknya integriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Tindakan pengendalian :
a. Dorongan kepada pasien untuk batuk dan nafas efektis serta sering mengubah
posisi
b. Penggunaan peralatan steril
c. Antibiotik dan antimikroba
d. Mempraktikkan teknik aseptik

16
e. Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
f. Pencegahan kerusakan kulit
g. Pantau tanda-tanda hemorrhagi dan drainage abnormal
h. Pantau adanya perdarahan
i. Perawatan insisi dan balutan
j. Penggantian selang intravena dan alat invasif lainnya sesuai program.
Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
a. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
b. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
c. Pencegahan infeksi.
d. Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas
dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
e. Mempertahankan konsep diri.
f. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy
karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan
terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat
dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana
perasaan pasien setelah operasi.
D. Ileustomy
a. Pengertian
Ileustomi adalah pembedahan dengan memotong ileum dan membentuk stoma.
Produk ileustomi biasanya bentuk cair, sehingga akan banyak cairan dan mineral
yg hilang terutama sodium (Na) dan Kalium (K).
b. Indikasi Illeostomi
o Infeksi yang menyebabkan patologi usus halus ( kolitis ulseratif,enteritis
regional
o Keganasan pada daerah usus halus.
o Trauma abdomen ( ruptura yeyunum atau illeum )
c. Pemeriksaan Penunjang
o Foto polos abdomen 3 posisi
o Colonoscopy (CT-Scan untuk melihat usus besar)
o Foto Follow through (pemeriksaan radiografi untuk melihat usus halus)
d. Komplikasi
Komplikasi operasi pada ileostomi dapat berupa hernia atau prolaps dari ileostomi
atau terjadinya obstruksi.

17
Pathway

18
DAFTAR PUSTAKA

Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta.


Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan pasien. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Doenges, Marilynn E. (2011). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2012. Capita ,Selekta Kedokteran. Bakarta :Media Aesculapius.
Muttaqin, Arif. 2014. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.
Jakarta: Salemba Medika
NANDA. 2015. Diagnosis Keperawatan NANDA : Masalah Yang Lazim Muncul
Nazir, Moh. 2011. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Nursalam. 2010. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Edisi II.
Salemba Medika. Jakarta
Setiawan, Wawan. 2010. Intervensi dan Rasional Ileus Obstruktif.
(http://wawanjokamblog.blogspot.com/ Diakses tanggal 11 Januari 2011).
Vanilow, Barry. 2010. Askep Ileus Obstruksi . (http://barryvanilow.blogspot.com//. Diakses
tanggal 11 Januari 2011).
Zwani. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Obstruksi Usus(http://keperawatan-
gun.blogspot.com/2007/07/obstruksi-usus.html Diakses tanggal 11 Januari 2011).

19