Anda di halaman 1dari 19

LECTURE NOTES

ECON 6032
Managerial Economics

Week 5
Evaluation of The Nature Evaluation
of Industry

ECON6032 – Managerial Economics|1


LEARNING OUTCOMES

Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengaplikasikan paradigm SCP dalam analisis
industri, yang terdiri dari struktur, perilaku dan kinerja industri.

OUTLINE MATERI :

- Market Structure
- Conduct
- Performance

ECON6032 – Managerial Economics|2


ISI MATERI

Struktur, perilaku, dan kinerja atau biasa disebut S-C-P


S (Structure
Structure-Conduct-
Performance)) merupakan tiga pilar utama yang dapat digunakan untuk melihat kondisi
struktur dan persaingan di dunia industri.

Paradigma dari teori SCP (Structure


Structure-Conduct-Performance) pertama kali dikembangkan
oleh Mason (1939) yang kemudian diaplikasikan oleh Bain (1951).. Tujuan dari paradigma ini
adalah untuk mengetahui derajat persaingan dalam industri berdasarkan karakteristik
struktural yang ditunjukkan melalui hubungan langsung antara struktur (structure
(structure) industri
dengan perilaku (conduct)
t) perusahaan, dan hubungan langsung dari perilaku perusahaan
dengan kinerja (performance)) perusahaan. Dapat diartikan bahwa Struktur perusahaan akan
mempengaruhi perilaku perusahaan dalam membuat keputusan untuk berkompetisi dan
berkolusi, yang kemudian
emudian akan mempengaruhi kinerja yang akan dicapai. Kinerja yang baik
merupakan hasil dari struktur dan perilaku yang kompetitif.

Paradigma SCP didasarkan pada beberapa hipotesis yaitu: (Martin, 2004)

1. Struktur mempengaruhi perilaku, semakin rendah konsentrasi pasar maka akan


semakin tinggi tingkat persaingan di pasar.
2. Perilaku mempengaruhi kinerja, semakin tinggi tingkat persaingan atau kompetisi
maka akan semakin rendah market power atau semakin rendah
rendah keuntungan
perusahaan yang diperoleh.
3. Struktur mempengaruhi kinerja, semakin rendah konsentrasi pasar maka akan
semakin rendah tingkat kolusi yang terjadi, atau semakin tinggi tingkat
persaingan/kompetisi maka akan semakin rendah market power-nya.
power

Hasill ketiga hipotesis di atas, menunjukkan struktur pasar mempengaruhi kinerja


perusahaan dalam suatu industri.

ECON6032 – Managerial
nagerial Economics
Economics|3
Relating the Five Forces to the SCP Paradigm and the Feedback Critique

1. Struktur Pasar// Struktur Industri

Struktur industri didefinisikan dalam terminologi distribusi jumlah dan ukuran dari
perusahaan-perusahaan
perusahaan yang ada dalam industri (Bain 1968). Struktur industri merupakan
cerminan dari struktur pasar suatu industri (Kuncoro 2007). Dalam studi empiris mengenai
struktur industri, digunakan peng
pengukuran
ukuran konsentrasi untuk mengukur intensitas dari
persaingan dalam industri. Konsentrasi industri ini menginformasikan ukuran relatif dari
perusahaan-perusahaan
perusahaan yang ada pada pasar (Jacobson 1996). Terdapat beberapa alat
pengukuran konsentrasi yang umum di
dipergunakan
pergunakan untuk menggambarkan distribusi dari
pangsa pasar di antara perusahaan
perusahaan-perusahaan
perusahaan yang ada dalam industri, yaitu: Rasio
Konsentrasi, Indeks Herfindhal, dan Koefisien Gini.

Tingkat persaingan pasar yang diindikasikan oleh penguasaan pangsa pasar dapat
dapat dibedakan :
1. Pure monopoly: satu perusahaan menguasai pangsa pasar 100%
2. Dominant firm: satu perusahaan menguasai pangsa pasar 40-99%
40
3. Tight oligopoly: empat perusahaan menguasai pangsa pasar lebih 60%
4. Loose oligopoly: empat perusahaan menguasai pangsa pasar kurang dari 60%

ECON6032 – Managerial
nagerial Economics
Economics|4
5. Monopolistic competition: banyak perusahaan bersaing dengan masing-masing
memiliki market power yang tidak sama
6. Pure competition: banyak perusahaan bersaing dengan masing-masing tidak memiliki
market power
Dalam prakteknya, 4,5,6 merupakan kategori yang merupakan persaingan yang efektif.
1.1. Ukuran perusahaan (Firm size)

Ukuran perusahaan berbeda dari satu industri ke industri lainnya. Sebagai contoh,
perusahaan pada sektor semen mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan
perusahaan pada sektor rumah makan. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah
perusahaan semen membutuhkan modal yang besar untuk berdiri. Karena barrier to entry
cukup besar, maka modal yang dibutuhkan besar, maka ukuran perusahaan menjadi besar.
Hal yang sebaliknya untuk rumah makan, modal yang diperlukan tidak terlalu besar.

1.2. Konsentrasi industri (industry concentration)

Faktor lain yang dapat mempengaruhi keputusan manajer adalah ukuran distribusi dari
perusahaan-perusahaan di dalam suatu industri. Apakah di dalam industri tersebut terdiri dari
banyak perusahaan kecil atau hanya terdiri dari beberapa perusahaan besar. Hal ini sangat
penting untuk dikaji karena keputusan optimal manager yang menghadapi persaingan kecil
akan berbeda dengan manager yang bekerja pada suatu industri dimana terdapat banyak
perusahaan.

Untuk menilai struktur pasar ini diperlukan sejumlah variabel, antara lain jumlah
penjual dan pembeli, tingkat diferensiasi produk, kemampuan perusahaan (khususnya
bagaimana perusahaan menciptakan pilihan-pilihan produk bagi konsumen), kemampuan
perusahaan dalam menembus pasar bebas, seperti memperoleh lisensi dari pemerintah,
franchise, hak monopoli, hak paten, dan hambatan yang terkait dengan biaya.

Untuk mengukur konsentrasi industri digunakan rasio konsentrasi pasar (Concentration


ratio/ CR). Rasio konsentrasi secara luas dipergunakan untuk mengukur pangsa dari output,
turnover, value added, jumlah pegawai atau nilai asset dari total industri. Biasanya jumlah
perusahaan N yang dihitung proporsi pangsa pasarnya adalah 4, sehingga dikenal sebagai

ECON6032 – Managerial Economics|5


CR4. Sebuah industri yang 70 % pangsa pasarnya dikuasai oleh hanya 2 perusahaan dalam
industri misalnya, dapat disebut memiliki struktur pasar yang sangat terkonsentrasi.

Jika wi mewakili pangsa pasar, dan jika proporsi dari output, turnover, value added,
jumlah pegawai atau nilai asset dari total industri yang diwakili oleh perusahaan i = 1,2, …,
dengan w1 ≥ w2 ≥ w3 ≥ …, maka Concentration Ratio, CRN, untuk N perusahaan dihitung
sebagai:

CRN = w1 + w2 + w3 + … + wN

Rasio konsentrasi berkisar antara nol hingga satu dan biasanya dinyatakan dalam
persentase. Nilai konsentrasi yang mendekati angka nol mengindikasikan bahwa sejumlah n
perusahaan memiliki pangsa pasar yang relatif kecil. Sebaliknya, angka rasio konsentrasi
yang mendekati satu mengindikasikan tingkat konsentrasi yang relatif tinggi. CRN sangatlah
tergantung pada jumlah keseluruhan perusahaan yang ada dalam industri. CRN akan menurun
jika jumlah perusahaan dalam industri meningkat. CRN dapat memberikan gambaran tentang
peran n perusahaan yang ada dalam industri, namun demikian CRN tidak cukup dapat
memberikan informasi mengenai keterkaitan antar perusahaan di dalam industri.

Sebagaimana dikemukakan di atas, CR4 yang mewakili empat perusahaan dengan


pangsa pasar paling besar, adalah rasio konsentrasi yang banyak dipergunakan. Beberapa
kategori pasar dapat didefinisikan dengan menggunakan CR4 untuk menggambarkan tingkat
kompetisi sebagaimana ditampilkan dalam gambar 1.

ECON6032 – Managerial Economics|6


Sumber: Buzzelli (2001); Ma (1993)
Gambar 1. Tipe dari Struktur Pasar
Pada struktur pasar perfect competition dimana terdapat banyak perusahaan maka
pangsa pasar masing-masing perusahaan relatif kecil, sehingga individu perusahaan tidak
mampu mengendalikan harga. Perusahaan-perusahaan menghasilkan produk yang homogen,
dan pembeli mengetahui harga dan dan memiliki informasi. Tidak ada entry dan exit barriers
pada perfect competition.

Sedangkan pada struktur pasar monopoli dimana hanya ada satu perusahaan, maka
memiliki 100 persen pangsa pasar dan tidak ada produsen baru yang dapat memasuki pasar,
dengan demikian perusahaan ini memiliki kekuatan monopoli. Kompetisi dan jumlah
perusahaan adalah besar pada perfect competition dan sedikit pada monopoli.

Angka CR4 yang tinggi akan menunjukkan bahwa pasar didominasi oleh sejumlah kecil
perusahaan, yang berarti bentuk struktur oligopoly. Pada struktur oligopoly, produsen besar
dapat mempengaruhi harga dengan cara mengendalikan output produksi. Terdapat tingkatan
oligopoly, mulai dari moderately concentrated oligopolistic markets hingga highly
concentrated oligopolies, yang mengindikasikan tingkat rendah hingga tinggi dari pengaruh
pasar.

Semakin rendah CR4, semakin dekat pasar pada kondisi perfectly competitive.

ECON6032 – Managerial Economics|7


1.3. Herfindahl-Hirschman Index (HHI)

Herfindahl-Hirschman Index atau disebut Indeks Herfindhal adalah jenis ukuran konsentrasi
lain yang cukup penting. Indeks Herfindhal didefinisikan sebagai jumlah pangkat dua pangsa
pasar dari seluruh perusahaan yang ada dalam industri, dan diformulasikan:

HHI = 10,000 × ∑ wi2,

Dimana,

wi = Si/ST ;
Si = Jumlah penjualan pada perusahaan ke i dan
ST = Total penjualan pada seluruh perusahaan

Nilai HHI akan berkisar dari nol hingga satu. Nilai HHI akan sama dengan 1/n jika terdapat n
perusahaan yang mempunyai ukuran yang sama. Jika HHI mendekati nol, maka akan berarti
terdapat sejumlah besar perusahaan dengan ukuran usaha yang hampir sama dalam industri,
dan konsentrasi pasar adalah rendah. Sebaliknya, industri bersifat monopoly jika HHI sama
dengan satu. Semakin tinggi HHI, semakin tinggi disribusi ukuran dari perusahaan. The
Federal Trade and Commission in the US menetapkan bahwa pasar terkategori highly
concentrated jika nilai HHI lebih besar dari 0.18 (Chiang 2001).

ECON6032 – Managerial Economics|8


Sumber : * Hasibuan (1993) ; ** Jaya (2001)

1.4. Kurva Lorenz dan Koefisien Gini

Pendekatan lain untuk melihat konsentrasi industri adalah dengan menggunakan


pemetaan Kurva Lorenz dan penghitungan Koefisien Gini (Adelaja, dkk. 1998, Wang 2004).
Kurva Lorenz dan Koefisien Gini dipergunakan untuk mengukur dan membandingkan
inequality dari perusahaan-perusahaan
perusahaan di dalam industri. Kurva Lorenz dan Koefisien Gini
mengindikasikan tingkat kompetisi dalam suatu pasar dengan mengukur inequality da
dalam
distribusi ukuran dari perusahaan-perusahaan
perusahaan (Hart and Prais 1956).

Koefisien Gini adalah ukuran statistik yang diperoleh dari Kurva Lorenz, yang terkait
dengan pangsa kumulatif dari total nilai suatu variabel (output, revenue, jumlah pekerja, dsb.)

ECON6032 – Managerial
nagerial Economics
Economics|9
terhadap angka atau persentase dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam suatu industri
yang diurutkan meningkat sesuai ukurannya. Jika kurva berbentuk lurus, seluruh perusahaan
memiliki ukuran yang sama, dan industri dapat dipandang sebagai completely
unconcentrated, mengindikasikan tingkat kompetisi yang tinggi di pasar. Secara umum,
perusahaan-perusahaan tidak mempunyai ukuran yang sama dalam suatu industri, dan
semakin besar deviasi dari garis diagonal terhadap Kurva Lorenz, semakin besar inequality
dari ukuran perusahaan dan semakin besar konsentrasi pasar. Sebaliknya, semakin dekat
kepada garis diagonal, semakin terdistribusi dan perusahaan-perusahaan semakin tidak
terkonsentrasi.

Sumber: Wikipedia
Gambar 2. Kurva Lorenz
Koefisien Gini didefinisikan sebagai sebagai rasio dari luasan yang terletak di antara
garis diagonal dan Kurva Lorenz dibagi dengan luasan segitiga di bawah garis diagonal. Nilai
maksimum dan minimum adalah satu dan nol, berturut-turut mewakili total inequality dan
total equality.

1.5. The Rothschild Index (R)

The Rothschild Index atau indeks Rothschild memberikan ukuran kepekaan terhadap harga
permintaan untuk kelompok produk secara keseluruhan relatif terhadap sensitivitas kuantitas
yang diminta dari satu perusahaan ke perubahan harga. Rumus Indeks Rothschild adalah :

R = ET / EF

ECON6032 – Managerial Economics|10


Dimana ET adalah elastisitas permintaan pasar total dan EF adalah elastisitas permintaan
untuk produk sebuah perusahaan individu.

Nilai Indeks Rothschild antara 0 dan 1. Ketika indeks tersebut adalah 1, perusahaan
individu menghadapi kurva permintaan yang memiliki sensitivitas yang sama untuk harga
sebagai kurva permintaan pasar. Sebaliknya, ketika elastisitas permintaan untuk produk
sebuah perusahaan individu jauh lebih besar, maka Indeks Rothschild mendekati 0.

Sumber : Baye, 2013.

1.6. Hambatan Masuk (Barrier to entry)

Ukuran lain yang digunakan untuk mengetahui dinamika struktur pasar yaitu ada atau
tidaknya hambatan masuk ke pasar (barriers to entry). Hambatan masuk (barrier to entry)
pada suatu pasar merupakan penghalang bagi pemain baru yang ingin masuk dalam suatu
industry. Hambatan masuk merupakan perilaku ekonomi di dalam perusahaan yang
merefleksikan jumlah saingan yang ada dalam pasar. Seorang monopolis dapat saja
menaikkan harga di atas harga rata-rata untuk meningkatkan keuntungan, tetapi hal ini tidak
dilakukan karena dengan begitu akan menarik perusahaan lain untuk masuk ke pasar. Untuk
mencegah masuknya perusahaan lain maka monopolis akan menetapkan harga kompetisi
sehingga tidak menghasilkan keuntungan yang berlebihan (excees profit).

Terdapat tiga jenis hambatan masuk, yaitu : skala ekonomi (economies of scale),
diferensiasi produk (product differentiation), dan keunggulan biaya absolut (absolute cost
advantage).

ECON6032 – Managerial Economics|11


Pada mulanya pendatang baru mendapatkan pangsa pasar yang relative kecil dan
memiliki biaya produksi per unit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain lama. Skala
ekonomi membatasi jumlah kegiatan yang dapat dilakukan dengan biaya minimum dalam
pasar yang telah diketahui ukurannya. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui besar
hambatan masuk adalah Minimum Efficiency Scale (MES) (Martin, 1988).

rata - rata output 4 perusahaan yang menghasilkan 50% output industri


MES =
output industri

2. Perilaku Industri (Conduct)

Menurut Ferguson dan Ferguson (1994), istilah conduct mengacu pada perilaku
perusahaan terhadap pasar dalam menentukan harga (baik harga yang ditentukan secara
independen ataupun berdasarkan kesepakatan), strategi produk dan iklan, serta riset dan
inovasi (Wirth dan Bloch, 1995). Scherer dan Ross (1990: 4) mengidentifikasi dua variabel
lain dalam conduct : investasi dalam fasilitas produksi (misalnya, bagaimana perusahaan
menyusun anggaran) dan sesuai dengan aturan hukum (yaitu penggunaan sistem hukum
untuk menentukan posisi perusahaan dalam pasar) (Wirth dan Bloch, 1995).

Perilaku industri diartikan bagaimana cara yang dilakukan oleh sebuah perusahaan agar
mendapatkan sebuah pasar. Dengan kata lain perilaku merupakan pola tanggapan dan
penyesuaian sebagai perusahaan yang terdapat dalam suatu industri untuk mencapai
tujuannya dan menghadapi persaingan. Perilaku dapat dilihat dalam bagaimana perusahaan
menentukan harga jual, promosi produk atau periklanan, koordinasi kegiatan dalam pasar
(misalnya, dengan berkolusi, kartel, dsb), serta litbang (research and development).

2.1. Perilaku Harga

Harga pasar tidak ditentukan oleh keputusan sebuah atau sekelompok penjual atau
pembeli, melainkan terbentuk dari keseimbangan seluruh supply dan demand. Penjual akan
menjual outputnya dengan harga yang sama dengan biaya marjinalnya, sedangkan pembeli
akan membeli barang dengan harga yang sama dengan benefit marjinalnya. Dengan
demikian umumnya pasar persaingan mempunyai harga efisien, tidak seperti pasar oligopoli,
oligopsoni, monopoli atau monopsoni yang sering mengalami masalah distorsi harga karena
perusahaan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi harga dan mempraktekkan market
power. Pengertian market power ini kemudian diformulasi oleh Lerner (1934) dengan sebuah
indeks yang dikenal sebagai Lerner index.

ECON6032 – Managerial Economics|12


Jadi, Lerner Index mengukur kemampuan perusahaan berlandaskan permintaan yang
dihadapi perusahaan dengan menghitung angka indeks. Indeks Lerner merupakan perbedaan
antara harga dan marginal cost (MC) yang dihasilkan dari pemanfaatan kekuatan pasar
(market power). Indeks ini merupakan parameter pengaruh kekuasaan pasar pada kinerja
ekonomi. Formulasi indeks Lerner adalah :

P − MC
L=
P

Dimana,

P = Harga
MC = Biaya marginal
Ed = elastisitas permintaan
L = Indeks Lerner

Pada saat sebuah perusahaan menetapkan harga yang sama dengan biaya marjinal, maka
indeks Lerner bernilai nol. Hal ini berarti harga yang dibayarkan oleh konsumen untuk
membeli suatu produk persis sama dengan biaya tambahan perusahaan untuk memproduksi
satu produk kembali. Sebaliknya, jika perusahaan menetapkan harga di atas biaya
marjinalnya, maka indeks Lerner akan lebih besar dari nol.

Indeks Lerner dapat pula digunakan untuk melihat besarnya mark-up harga yang
dilakukan oleh perusahaan. Indeks Lerner yang semakin rendah berarti perusahaan
melakukan mark-up yang rendah pula terhadap harga suatu produk. Hal seperti ini pada
umumnya terjadi pada perusahaan yang berada dalam industri yang memiliki persaingan
yang sangat ketat. Sementara itu, indeks Lerner yang tinggi atau mendekati satu berarti
perusahaan melakukan mark-up yang besar. Perusahaan yang melakukan mark-up harga
seperti ini umumnya berada dalam industri dengan persaingan tidak terlalu ketat.

Indeks Lerner berhubungan dengan biaya mark-up yang dikenakan oleh perusahaan. Oleh
karena itu, kita dapat memodifikasi persamaan indeks Lerner menjadi :

 1 
P=  MC
1− L 

Dimana:

ECON6032 – Managerial Economics|13


 1 
  disebut mark-up factor, yaitu faktor pengali dari biaya marjinal untuk mendapatkan
1− L 
harga suatu produk. Jika indeks Lerner bernilai nol, maka faktor mark-up akan bernilai 1.
Artinya, harga produk tepat sama dengan biaya marjinal. Kemudian jika indeks Lerner
bernilai 1/2 , maka factor mark-up bernilai 2. Artinya, harga produk 2 kali dari biaya
marjinalnya.

Industry Lerner Index Markup Factor

Food 0.26 1.35

Tobacco 0.76 4.17

Textiles 0.21 1.27

Apparel 0.24 1.32

Paper 0.58 2.38

Chemicals 0.67 3.03

Petroleum 0.59 2.44

2.2. Kegiatan Integrasi dan Merger

Integrasi dapat dilakukan melalui merger, yang didefinisikan sebagai penggabungan


antara dua perusahaan atau lebih menjadi perusahaan yang lebih besar. Para ekonom
membagi aktivitas integrasi menjadi tiga jenis, yaitu integrasi vertikal (vertical integration),
integrasi horisontal (horizontal integration), dan merger konglomerat (conglomerate merger).

a. Integrasi vertikal
Strategi integrasi vertikal adalah usaha perusahaan untuk memperoleh kendali
terhadap inputnya, outputnya, atau keduanya. Strategi integrasi vertikal dianggap
sebagai strategi pertumbuhan karena memperluas oprasi perusahaan.
Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan utama strategi vertikal

ECON6032 – Managerial Economics|14


Kelebihan Kekuranan

Mengurangi biaya penjualan dan Mengurangi flaksibilitas, karena


pembelian perusahaan terkunci dalam produk dan
teknologi.
Memperbaiki koordinasi antarfungsi dan Kesulitan dalam mengintegrasikan
kapabilitas. bermacam operasi.
Melindungi hak kepemilikan terhadap Beban finansial ketika memulai usaha
teknologi atau akuisisi

b. Integrasi horisontal
Integrasi vertikal melibatkan satu perusahaan yang bergerak dalam industri yang
sama, tetapi memasok input atau mendistribusikan output sendiri. Sebaliknya
integrasi horisontal memperluas oprasi perusahaan dengan mengkombinasikan
perusahaannya dengan perusahaan lain dalam industri yang sama dan melakukan hal
yang sama denganya. Artinya adalah bagaimana mengkombinasikan operasionalnya
dengan pesaingnya.
c. Marger konglomerat
Merger konglomerat adalah usaha diversiasi operasional perusahaan yang tengah
dilakukan ke dalam industri yang sama sekali berbeda.
3. Kinerja (Performance) Industri

Kinerja merupakan hasil kerja yang dipengaruhi oleh struktur dan perilaku industri
dimana hasil biasa diidentikan dengan besarnya penguasaan pasar atau besarnya keuntungan
suatu perusahaan di dalam suatu industri. Pada prakteknya, ukuran kinerja dapat bermacam-
macam. Pertama, ukuran kinerja berdasarkan sudut pandang menejemen, pemilik, atau
pemberi pinjaman. Kedua, kinerja dalam suatu industri dapat diamati melalui nilai tambah,
produktivitas, dan efisiensi. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai input dengan output.
Nilai input terdiri atas bahan baku, biaya bahan bakar, jasa industri, biaya sewa gedung,
mesin dan alat-alat, serta jasa industri. Sementara itu nilai output merupakan nilai barang
yang dihasilkan.

Produktifitas merupakan hasil yang dicapai per tenaga kerja atau unit faktor produksi
dalam jangka waktu tertentu. Pada umumnya, tingkat produktivitas dipengaruhi oleh
perkembangan teknologi, alat produksi dan keahlian (skill) yang dimiliki oleh tenaga kerja.
Produktifitas tenaga kerja merupakan perbandingan antara nilai output dangan tenaga kerja.

ECON6032 – Managerial Economics|15


Efisiensi adalah perbandingan seberapa besar kita dapat mengambil manfaat dari suatu
variabel untuk mendapatkan output sebanyak-banyaknya.untuk mengukur suatu efisiensi, kita
dapat menggunakan perbandingan nilai tambah dan nilai input.

Lebih jauh dijelaskan oleh Baye bahwa kinerja dapat dilihat dari tingkat keuntungan
dan juga kesejahteraan sosial yang diciptakan oleh industri tersebut (Baye, 2010 : 251).
Keuntungan dapat dilihat melalui keuntungan yang di dapat oleh masing-masing peusahaan
yang ada di dalam industry tersebut. Indikator kinerja lain yaitu kesejahteraan sosial
merupakan indikator yang cukup sulit untuk diketahui. Baye menjelaskan bahwa
kesejahteraan sosial didefinisikan sebagai jumlah surplus yang diterima baik oleh konsumen
maupun produsen dalam kegiatan pasar industry tersebut (Baye, 2013).

R. E Dansby dan R D. Willig kemudian mengajukan suatu index untuk mengukur


tingkat kesejahteraan sosial yang diciptakan oleh suatu industry yang disebut dengan
Dansby–Willig Performance Index. Dansby–Willig Performance Index berisi tingkatan dalam
industri yang menunjukan seberapa besar kesejahteraan akan meningkat jika output yang
dihasilkan oleh industri tersebut meningkat dalam jumlah kecil. (Baye, 2013).

Paradigma Structure-Conduct-performance menunjukan bahwa ketiga aspek dari


industri tersebut berkaitan secara integral (Baye, 2013). Implikasi utama dari SCP Paradigm
adalah untuk membenarkan campur tangan pemerintah dalam kehidupan ekonomi. Hukum
dan peraturan antitrust dibuat dengan tujuan untuk mengembalikan efisiensi yang hilang
ketika perusahaan mengambil keuntungan dari kekuatan pasar mereka.(Boccard, 2010).

Salah satu kritik yang disampaikan terhadap paradigm S-C-P adalah kedekatan
hubungannya dengan Five Forces Framework yang disampikan oleh Michael Porter. Dalam
Five forces Framework dijelaskan bahwa kelima faktor Five Forces yang terdiri dari 1) Entry,
2) Power of Input Suppliers, 3) Power of Buyer, 4) Industry Rivalry dan 5) Substitutes and
Complement saling terkait mempengaruhi tingkat profit, pertumbuhan profit dan
kesinambungan keuntungan suatu industri. Kelima kekuatan merupakan elemen dari perilaku
(conduct) dan struktur pasar (Structure) sementara tingkat, pertumbuhan dan kesinambungan
profit mewakili kinerja (performance) (Baye, 2013).

Studi dengan menggunakan model SCP dilakukan melalui dua tahapan utama.
Pertama, pengukuran kinerja - melalui pengukuran langsung daripada melalui estimasi - dan
beberapa ukuran struktur industri bagi banyak industri. Kedua, melakukan regresi terhadap

ECON6032 – Managerial Economics|16


pengukuran kinerja pada berbagai tindakan struktur untuk menjelaskan perbedaan kinerja
dalam industri. (Perloff et. al, 2007).

ECON6032 – Managerial Economics|17


SIMPULAN

Struktur, perilaku, dan kinerja atau biasa disebut S-C-P (Structure-Conduct-


Performance) merupakan tiga pilar utama yang dapat digunakan untuk melihat kondisi
struktur dan persaingan di dunia industri. Tujuan dari paradigma dari teori SCP (Structure-
Conduct-Performance) adalah untuk mengetahui derajat persaingan dalam industri
berdasarkan karakteristik struktural yang ditunjukkan melalui hubungan langsung antara
struktur (structure) industri dengan perilaku (conduct) perusahaan, dan hubungan langsung
dari perilaku perusahaan dengan kinerja (performance) perusahaan. Dapat diartikan bahwa
Struktur perusahaan akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam membuat keputusan
untuk berkompetisi dan berkolusi, yang kemudian akan mempengaruhi kinerja yang akan
dicapai. Kinerja yang baik merupakan hasil dari struktur dan perilaku yang kompetitif.

ECON6032 – Managerial Economics|18


DAFTAR PUSTAKA

1. Michael R. Baye,. Jeffrey T. Prince, (2013). Managerial economics and business


strategy. 8th Edition. McGraw Hill. New York. ISBN: 9780077154509., Chapter 7
2. Ngatindriatun, (2014), Analysis Of Batik Semarang Business Performance Using
Scp (Structure-Conduct-Performance) Approach , International Journal of
Management and Sustainability, 2014, 3(4): 225-233
3. Kuncoro, M. 2007. Ekonomika Industri Indonesia – Menuju Negara Industri
baru 2030?. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
4. Rina Indiastuti. BB047-30-04-2011-83d21300411-Bab-1-Struktur-pasar-dan-
Persaingan, diunduh 25 Juli 2015. Pk 14.19.
5. Structure - Conduct - Performance Paradigm
http://rajkumar2850.weebly.com/uploads/1/4/9/8/14980396/unit_1-_scp_model.pdf
6. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20314685-T31766-Persaingan%20industri.pdf
7. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126991-6522-Analisis%20tingkat-Literatur.pdf
8. https://bincangmedia.wordpress.com/2011/10/13/analisis-industri-pers-pendekatan-s-
c-p/
9. https://strategika.wordpress.com/2008/08/04/mengukur-struktur-industri/

ECON6032 – Managerial Economics|19