Anda di halaman 1dari 620

Pembahasan

Paket Soal 5
BATCH AGUSTUS 2016
1. B. Pertusis
Keywords:
 Anak, 6 bulan
 Demam tinggi dan kejang
 Setelah imunisasi DPT Combo (DPT + Hep B + HiB)

Dx:
KIPI
Etiologi  efek samping imunisasi DPT (Pertusis)
Efek samping imunisasi DPT combo:
 DTP (ES krn komponen pertusis) reaksi lokal dan sistemik
ringan umum terjadi  bengkak, nyeri, kemerahan pada lokasi
suntikan disertai demam
Reaksi berat : demam tinggi, irritabilitas (rewel), dan menangis
dengan nada tinggi (dalam 24 jam setelah pemberian)
Kejang demam (1 kasus per 12.500 dosis pemberian)
 Tx:asetaminofen saat & 4-8 jam setelah imunisasi
mengurangi demam
 Hepatitis B dapat ditoleransi dengan baik
 Vaksin Hib ditoleransi dengan baik
IDAI
2. B. Keringkan, injeksi vit. K 1mg,
langsung menyusui
Keywords:
 Bayi baru lahir, 3500 g
 Menangis, AS 8/10

Asuhan bayi baru lahir, antara lain:


 Mencegah kehilangan panas (keringkan)
 Cegah perdarahan (injeksi vit. K 1mg)
 IMD
Asuhan bayi baru lahir:
 Pencegahan infeksi (PI)
 Penilaian awal  resusitasi pada bayi
 Pemotongan dan perawatan tali pusat
 Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
 Pencegahan kehilangan panas  keringkan (tanpa menghilangkan vernik), tunda
mandi selama 6 jam, kontak kulit bayi dan ibu, menyelimuti kepala dan tubuh
bayi
 Pencegahan perdarahan  penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal (1mg) di paha
kiri
 Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan (1 jam stlh
vit.K)
 Pencegahan infeksi mata  salep mata antibiotika (oxytetrasiklin 1%) dosis
tunggal
 Pemeriksaan bayi baru lahir
 Pemberian ASI eksklusif
Depkes RI,
Medscape
3. A. Sindrom Eisenmenger
Keywords:
 Anak 4 tahun
 Mudah lelah, batuk, sesak napas
 Tidak sianosis kemudian sianosis
 Murmur pansistolik SI ke 3&4 kiri

Dx:
VSD dengan sindrom eisenmenger
Murmur pansistolik (holosistolik): akibat aliran melalui bagian
jantung yg masih terbuka (harusnya tertutup saat kontraksi)
 VSD
 Insufisiensi/regurgitasi mitral  apex ke aksila
 Insufisiensi trikuspid  kiri tepi sternum (LLSB) ke kanan tepi sternum
VSD
 Bising pansistolik sela iga 3&4 tepi kiri sternum, menjalar sepanjang tepi
kiri sternum
 Bising baru terdengar setelah resistensi vaskular paru menurun (usia 2-6
minggu)
 Bila resistensi paru turun  menghisap susu lemah, kenaikan BB lambat,
sering infeksi paru, gagal jantung bila berat (kiri: sesak-OE,DOE,PND;
kanan: edema, asites)
 VSD (Aliran Shunt Kiri->Kanan) ↑ aliran ke ventrikel kanan ↑ aliran
darah ke paru  Hipertensi Pulmonal  Aliran shunt berbalik Kanan-
>Kiri Sianosis  Sindrom Eisssengmenger
PJB

Asianosis Sianosis

Tek. Pulmonal (N):


Tek. Pulmonal ↑ Tek. Pulmonal (N):
Tek. Pulmonal ↑:
-PS  midsistolik -TGA dg VSD
(ejection sistolic -PDA  continuous TGA tanpa PS
murmur)penjalaran murmur di atas SI 2
-Trunkus arteriosus
tidak seluas AS -ASD  S2 wide&fixed
-AS  midsistolik split; ejection sistolic Tek Pulmonal ↓: -Anomali total
murmur
(ejection sistolic -ToF (VSD,PS,Ao overiding, aliran vena
murmur) menjalar ke -VSD  pansystolic RVH)  ejection systolic
leher&apex murmur kiri sternum SI3
pulmonal
murmur; boot shape (Rö)
-CoA
-Pulmonary atresia
-Tricuspid atresia
TOF: ejeksi sistolik (stenosis pulmonal), klik sistolik
(dilatasi aorta)
ASD: wide n fixed split (BJ II lebar terpisah)
Stenosis pulmonal: ejeksi sitolik SI 2 tepi kiri
sternum
Stenosis aorta: ejeksi sitolik SI 2 tepi kanan/kiri
sternum, menjalar ke apeks&karotis

Buku Pemeriksaan Fisik


4. B. 20cc/kgBB segera
Keywords:
 Anak 4 tahun
 Lemas
 Akral dingin
 Nadi 150x/menit
Dx:
SSD (Sindrom syok Dengue)
Tx:
20cc/kgBB segera
DBD: Penyakit infeksi akut oleh virus dengue
Gejala klinis
 demam tinggi
 fenomena perdarahan
 hepatomegali
 kegagalan sirkulasi
 tanda perembesan plasma
Laboratorium
 trombositopenia <100 x 103/mm3
 hemokonsentrasi
 dikonfirmasi dengan uji serologi hemaglutinasi inhibisi
Derajat penyakit:
Derajat I
 demam tidak khas, uji Tourniquet positif
Derajat II
 derajat I + perdarahan spontan
Derajat III
 kegagalan sirkulasi (gelisah, nadi cepat & lembut, tek.drh turun
≥ 20mmHg, hipotensi, sianosis, akral dingin & lembab)
Derajat IV
 syok berat, nadi tak teraba, tek.darah tak terukur
Tatalaksana DBD derajat I & II
o Pencegahan dehidrasi (minum 2 liter/hari)
o Antipiretik (paracetamol) utk demam tinggi/riwayat kejang demam
o Observasi tanda vital & Hb, Ht, trombosit
o Indikasi cairan intravena
 muntah terus menerus,
 tidak mau minum,
 kadar Ht serial meningkat
1 3
2
1 2 3

WHO 2009
Tatalaksana
DSS
5. A. Cerebral Palsy
Keywords
 Pasien BBLR + riwayat sepsis
 Keluhan Kejang dan kaku seluruh tubuh  bukan kaku
kuduk
 Perkembangan lambat
Cerebral Palsy (CP)
TANDA DAN GEJALA CP
• Low muscle tone (baby feels ‘floppy’ when picked up)
• Unable to hold up its own head while lying on their
stomach or in a supported sitting position
• Muscle spasms or feeling stiff
• Poor muscle control, reflexes and posture
• Delayed development (can’t sit up or independently roll
over by 6 months)
• Feeding or swallowing difficulties
• Preference to use one side of their body
6. E. Golongan β-agonis
Keywords:
 An. 9 th
 Sesak  batuk, pilek, demam
 RP: batuk, sesak malam (asma)
 RPK: ibu alergi kepiting (atopi)
 PF: HR 116x/mt, RR 54x/mt, ekspirasi memanjang
Dx:
Asma + ISPA
Tx:
Nebulisasi β-agonis
Derajat
Serangan
Asma
Derajat
Serangan
Asma

PNAA, IDAI
PNAA, IDAI
7. E. Pankreatitis akut
Keywords:
 An. 10 th
 Nyeri ulu hati + nyeri di perut kanan atas
 Nyeri mendadak, semakin nyeri  makan  nyeri
bertambah & muntah
 Demam subfebris
 Nyeri tekan regio hipogastrik kanan
 Peningkatan serum amilase 510µ/L dan lipase 460 µ/L
Dx:
Pankreatitis akut
Pankreatitis: reaksi peradangan pankreas, secara klinis ditandai nyeri perut
akut dengan kenaikan enzim dalam darah dan urin
Diagnosis:
 Gejala:
 Nyeri perut bagian atas, timbul tiba-tiba  makin lama makin nyeri
 diperberat dengan makan
 mual/muntah
 Kasus berat  hipotensi
 Kenaikan amilase serum/urin yang tinggi ; nilai serum lipase sedikitnya harga normal tertinggi
 Gambaran USG yang sesuai dengan pankreatitis akut

Tatalaksana:
 Terapi Konservatif
 Analgesik kuat
 Puasa , nutrisi parenteral total, pemasangan NGT
 Antibiotik  demam ≥3 hari
 Terapi pembedahan laparotomi dan nekrossektomi
Gastritis akut  nyeri ulu hati saat perut kosong
makan  membaik
Tukak lambung  nyeri ulu hati  makan  nyeri
segera
Apendisitis akut  nyeri ulu hati pindah ke kanan
bawah
Tukak duodenum  nyeri ulu hati  makan 
nyeri setelah 2-3jam
Buku ajar IPD, Bedah
8. C. Isoniazid, Rifampisin,
Pirazinamid
Keywords:
 An. 10 tahun
 Batuk lama 3 bulan (1)
 BB tidak bertambah
 Ayah pengobatan TB (2/3)
 PF: ronkhi
 Radiologi  bercak perihiler paru kanan (1)
 Tes mantoux 12mm (3)

Dx: TB

Tx: 2RHZ/4RH  rifampisin, isoniazid,pirazinamid (2 bln)  rifampisisn isoniazid (4bln)


Dosis Kortikosteroid (Prednison)  1-2mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis (max
60mg/hr)
Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak-Kemenkes
9. E. Caput Succadenum
Keywords:
 Benjolan melewati garis sutura

Diagnosis:
 Caput Succadenum
Pembahasan
Cara membedakan caput succadenum dan cephal
hematom
 Caput: melewati sutura
 Cephal hematom: tidak melewati sutura

Spina bifida, Meningocele  tidak dipiilh karena


pasien dalam soal tidak menunjukkan adanya tanda-
tanda defisit neurologis, pada kedua kelainan ini
biasanya dijumpai defisit neurologis (paralisis tungkai
atau lengan)
Subdural hematom  seharusnya muncul tanda
peningkatan tekanan intrakranial
10. B. Pemberian cairan intravena 270 cc dalam 1 jam pertama,
dilanjutkan dengan 630 cc dalam 5 jam berikutnya
Keywords:
 Usia 8 bulan
 BB 9kg
 BAB cair 5x/hari selama 4 hari
 Lemas, tidak mau menyusu, cubitan kulit perut kembali dalam
3 detik
Diagnosis:
 Diare akut dengan dehidrasi berat
Pengobatan
 Rencana terapi C: rehidrasi dengan cairan IV(RL) 100 cc/kgBB
dengan regimen berikut:
Pemberian pertama Pemberian berikutnya
30 cc/ kgBB 70 cc/ kgBB
Bayi < 1 tahun 1 jam 5 jam
Anak 1-5 tahun 30 menit 2,5 jam
Pengobatan Diare Akut
Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare):
 Oralit
 Tablet Zinc selama 10 hari
 Teruskan ASI-makan
 Antibiotik selektif
 Nasihat pada ibu/keluarga
Rencana terapi Rehidrasi:
 Rencana terapi A
 Rencana Terapi B
 Rencana Terapi C
11. D. Asma episodik jarang
serangan sedang
Keywords:
 Anak usia 9 tahun
 batuk dan sesak nafas sejak 1 jam yang lalu
 berbicara dalam penggalan kalimat
 pernah terjadi 2 bulan sebelumnya
 retraksi suprasternal dan interkostal
 wheezing saat ekspirasi dan inspirasi
 Sudah diterapi inhalasi beta2 agonis short acting  respons parsial
Alur tata laksana jangka
panjang asma anak
12. C. Crosstable
Keywords:
 Bayi baru lahir
 Perut kembung 20 jam setelah dilahirkan.
 Belum mengeluarkan mekonium selama 20 jam terakhir
 Bayi tidak memiliki lubang anus

Diagnosis: Atresia ani


Atresia Ani
Jenis
Kelamin
Kelainan Tindakan
Pemeriksaan
Laki – laki
Kelompok 1 (Fistel urin, atresia Kolostomi  apakah terdapat anomali terkait yang
rektum, perineum datar, fistel neonatus; operasi dapat mengancam jiwa dan harus
tidak ada, invertogram udara > definitif pada usia ditangani segera (Vertebral-Anorectal-
1cm dari kulit) 4-6 bulan Cardiac-Trachea-Esophagus-Radial-
Kelompok II ( fistel perineum, Operasi langsung Lumbal)?
membran anal, steosis anus, pada neonatus
fistel tidak ada, invertogram  apakah bayi harus mendapatkan kolostomi
udara <1 cm dari kulit protektif atau tidak? Bergantung dari:
Perempuan Kelompok I ( kloaka, fistel Kolostomi neonatus  asal anomali dan level terminasi (letak
vagina, fistel rektovestibuler, tinggi/rendah)
atresia rektum, fistel tidak ada,
invertogram udara >1 cm dari  Ada tidaknya fistula
kulit  Radiologis (lihat usus dan traktur urinarius)
Kelompok II (fistel perineum, Operasi langsung  invertogram
stenosis anus, fistel tidak ada, pada neonatus
invertogram udara <1 cm dari
kulit
Atresia Ani
Apabila tidak terdapat
tanda-tanda yang dapat
membantu menentukan
lokasi AMR dalam 24 jam,
dilakukan cross-table
lateral film (Invertogram)
dengan bayi dalam posisi
tengkurap, pelvis elevasi
dan marker radioopak
ditempatkan di perineum
13. C. FSH, T3/T4
Keywords:
 anak 5 tahun
 keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
 Sulit mengikuti pelajaran yang sesuai anak seusianya
 lebih pendek dari anak seusianya
 Kepala kecil
 kulit keriput
 cepat lelah
 makroglosia
 sering gatal-gatal

Diagnosis: Hipotiroid kongenital


Hipotiroid Kongenital
Salah satu penyebab retardasi mental Pemeriksaan fisis:
 dapat dicegah dan diobati sebelum  Ubun-ubun besar lebar / terlambat
usia 1 bulan menutup
 Dull face
Anamnesis  Lidah besar
 Bayi baru lahir s/d 8 bulan  tak spesifik
 Kulit kering
 Retardasi perkembangan
 Hernia umbilikalis
 Gagal tumbuh (perawakan pendek)
 Mottling, kutis marmorata
 Letargi
 Penurunan aktivitas
 Konstipasi
 Kuning
 Malas menetek
 Hipotonia
 Suara menangis serak
 Sekilas seperti sindrom Down
 Pucat
 Lahir di daerah kretins endemic dan
kurang Iodium
 Lahir matur atau postmatur
 Riw. Gangguan tiroid di keluarga, obat
antitiroid yg diminum
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah
 Fungsi tiroid T4 dan TSH untuk
memastikan diagnosis (T4 rendah dan
TSH meningkat)
 Darah perifer lengkap
 Bila ibu dicurigai hipotiroid  bayi
perlu periksa antibodi antitiroid
 Thyroid Binding Globulin diperiksa
pada dugaan defisiensi TBG
Radiologis
 Bone age terlambat
 Skintigrafi kelenjar tiroid / sidik tiroid
untuk menentukan penyebab
hipotiroid
 USG  alternatif sidik tiroid
14. D. Glomerulonefritis akut
pasca Streptococcus
Keywords:  albumin +2
 Anak 10 tahun  eritrosit penuh/lpb dismorfik
 Pemeriksaan darah
 penurunan kesadaran
 albumin 3,2 g/dl
 kejang 5 jam SMRS  titer ASTO meningkat
 PF:
 Riwayat sakit kepala dan penglihatan
kabur
 Somnolen
 TD 180/110 mmHg
 edema periorbita (+)

 Lab:
 UL:
GNAPS
Anamnesis:
 Riwayat ISPA 1-2 minggu sebelumnya
 Gross hematuria / sembab mata
 Oliguria / anuria
PF:
 Edema kelopak mata dan tungkai
 Hipertensi
 Lesi infeksi di kulit
 Ensefalopati (penurunan kesadaran /
kejang)
 Hipervolemia
Lab:
 ASTO meningkat (75-80% kasus)
 Komplemen C3 menurun
 UL: proteinuria, hematuria, silinder eritrosit
15. E. Vibrio cholerae
Keywords:  PF:
 anak 5 tahun  Turgor kembali dalam 2
 lemas  BAB terus sejak 2 detik
hari  Nadi 125 x / menit
 BAB seperti air cucian beras
 Frekuensi > 10 x/hari
 Intake sulit
Kolera
Curigai pada anak > 2 tahun
yang mengalami diare cair
akut dan menunjukkan
tanda dehidrasi berat (jika
kolera mewabah)
Nilai dan tangani dehidrasi
yang terjadi
Beri pengobatan antibiotik
oral yang sensitif untuk
strain Vibrio cholerae:
tetrasiklin, doksisiklin,
kotrimoksazol, eritromisin,
kloramfenikol
16. B. Epilepsi absans
Keywords:
 Anak 9 tahun
 Ke IGD  bengong & tidak jawab pertanyaan ibunya
 Gerakan mengunyah & menggosok mata
 Sering terjadi sejak 2 tahun lalu
Epilepsi absans / petit-mal
seizures

Agak sulit dibedakan Kejang jarang terjadi <5


Pemeriksaan neurologi &
Penanda khusus: dengan kejang parsial tahun & tidak
pencitraan otak normal
kompleks berhubungan dengan aura

Hilangnya kesadaran Disertai otomatisasi Seringkali kebingungan


Otomatisasi pada kejang
terhadap lingkungan dalam (mengedip-ngedipkan pada kejang parsial
parsial kompleks lebih
waktu singkat (tampak mata, mulut mengecap, kompleks setelah kejang
rumit
seperti bengong) menganggukan kepala) berakhir
17. C. Obesitas
Keywords:
 Anak perempuan
 13 tahun
 Ibu menganggap anak pendek
 TB : 115 cm
 BB : 40 kg
 BMI sama / di atas persentil 95 kurva BMI
18. E. Profilaksis kontinu dgn As.
Valproat atau fenobarbital sampai
1 tahun bebas kejang
Keywords:  PF:
 Anak 3 tahun  Kesadaran CM
 Kejang general 10 menit 1 jam yang  T: 38,9oC
lalu  RR 27x/menit
 Setelah kejang pasien sadar  Status neurologis dbn

 Kejang kedua dalam 10 jam terakhir


 Diagnosis: Kejang demam kompleks
 Suhu tinggi saat kejang
Pengobatan Profilaksis
Indikasi: Jenis antikonvulsan Durasi

• Kejang lama> 15 menit • Obat pilihan: asam • Diberikan selama 1 tahun


• Adanya kelainan valproate 15-40 bebas kejang
neurologis yang nyata mg/kgBB/hari dalam 2-3 • Dihentikan bertahap
sebelum atau setelah dosis selama 1-2 bulan
kejang (hemiparesis, • Alternatif: fenobarbital 3-
paresis Todd, CP, 4 mg/kgBB/hari terbagi
hidrosefalus) dalam 1-2 dosis
• Kejang fokal • Waspada efek samping
• Dipertimbangkan bila: gangguan fungsi hepar
• Kejang berulang 2x pada as. Valproat (usia <2
atau lebih dalam 24 thn)
jam
• KD terjadi pada bayi <12
bulan
• Kejang demam
≥4x/tahun
19. B. Defisiensi vitamin K
Keywords:
 Anak laki-laki berusia 6 bulan
 Perdarahan pada bekas suntikan
imunisasi Hepatitis B
 Anak rewel
 Pembesaran organ (-)
 PT & aPTT memanjang
 Pem. darah lain normal
Pilihan
hemophilia
dapat
dieksklusi
karena PT
normal
Diagnosis Banding PT dan
aPTT memanjang
Pilihan yang memungkinkan untuk PT dan aPTT
tanpa kelainan lab darah lainnya adalah defisiensi
vit K
20. C. VSD
Keywords:
 Bayi, 3 bulan
 Tidak sianosis
 Murmur pansistolik SI ke 3&4 tepi kiri sternum

Dx:
VSD
Murmur pansistolik (holosistolik): akibat aliran melalui bagian
jantung yg masih terbuka (harusnya tertutup saat kontraksi)
 VSD
 Insufisiensi/regurgitasi mitral  apex ke aksila
 Insufisiensi trikuspid  kiri tepi sternum (LLSB) ke kanan tepi sternum
VSD
 Bising pansistolik sela iga 3&4 tepi kiri sternum, menjalar sepanjang tepi
kiri sternum
 Bising baru terdengar setelah resistensi vaskular paru menurun (usia 2-6
minggu)
 Bila resistensi paru turun  menghisap susu lemah, kenaikan BB lambat,
sering infeksi paru, gagal jantung bila berat
 Tx: medikamentosa gagal jantung, pembedahan
PJB

Asianosis Sianosis

Tek. Pulmonal (N): Tek. Pulmonal Tek. Pulmonal ↑:


Tek. Pulmonal ↑
-PS  midsistolik (N):
(ejection sistolic -PDA  continuous -TGA dg VSD
murmur)penjalaran murmur di atas SI 2 TGA tanpa PS
-Trunkus arteriosus
tidak seluas AS -ASD  S2 wide&fixed
-AS  midsistolik split; ejection sistolic Tek Pulmonal ↓: -Anomali total
murmur
(ejection sistolic -ToF (VSD,PS,Ao overiding, aliran vena
murmur) menjalar ke -VSD  pansystolic RVH)  ejection systolic
leher&apex murmur kiri sternum SI3
pulmonal
murmur; boot shape (Rö)
-CoA
-Pulmonary atresia
-Tricuspid atresia
TOF: ejeksi sistolik (stenosis pulmonal), klik sistolik
(dilatasi aorta)
ASD: wide n fixed split (BJ II lebar terpisah)
Stenosis pulmonal: ejeksi sitolik SI 2 tepi kiri
sternum
Stenosis aorta: ejeksi sitolik SI 2 tepi kanan/kiri
sternum, menjalar ke apeks&karotis

Buku Pemeriksaan Fisik


21. A. Gambaran darah tepi dan
elektroforesis Hb

Keywords:
Anak laki-laki 8 tahun
Sering pucat dan lemas, serta perut membesar
Rutin transfusi sejak 1 tahun yang lalu
Riwayat keluarga (+)
Hepatomegali
Sklera ikterik dan kulut hitam
Hb 6gr/dL, leukosit 7000/uL, trombosit 210.000/uL
Diagnosis: thalasemia mayor
Pembahasan
Thalasemia merupakan salah satu jenis anemia hemolitik
dan merupakan penyakit yang diturunkan secara autosomal
Gejala klinis dan tanda yang dapat muncul
 Pucat, tampak agak ikterik, pembesaran abdomen akibat
hepatospleomegali
 Anemia berat, Hb l3-7 g/dL
 Kegagalan pertumbuhan
 Deformitas tulang
Diagnosis
 Anemia mikroitik hipokrom, RDW yang sangat meningkat
 Gambaran darah tepi menunjukkan : anemia mikrositik hipokrom
 Elektroforesis Hb merupakan diagnosis pasti pada thalasemia
22. A. Hirschprung disease
Keywords:
 Riwayat mekonium keluar terlambat
 BAB tidak lancar
 Colok dubur  BAB cair menyemprot

Diagnosis
 Hirschprung disease
Pembahasan Hirschprung
Tiga masalah Intussusepsi/ invaginasi Atresia duodenum Hirschprung
a. Muntah(kehijauan) a. Muntah hijau a. Muntah (-)
bedaah anak yang menyembur (krn b. Konstipasi tidak b. Mekonium terlambat
obstruksi) ada pengeluaran keluar (>24 jam)
sering muncul: b. Diare darah seperti mekonium sama c. Seringkali muncul
 Hirschprung agar-agar (currant
jelly)
sekali
d.
sejak lahir
Biasanya dapat
 Intussusepsi c. Kolik (nyeri perut
hilang timbul) pada
disertai dengan
kelainan kongenital
 Atresia duodenal anak biasanya
dijelaskan anak
lainnya

terkadang diam
terkadang nangis
keras
Teraba massa seperti Terlihat gambaran double BAB menyemprot setelah
sosis di kuadran kanan bubble/ double balloon RT
atas pada pemeriksaan foto
polos abdomen
Pembahasan
Gambaran radiologis biasanya terlihat pembesaran
segmen usus proksimal dan jika menggunakan
barium enema, akan terlihat penyempitan segmen
usus yang dekat rektum
23. B. Metronidazole
Keywords:
Anak usia 7 tahun
Mencret sejak 3 hari
Ditemukan Entamoeba histoltyca
Pembahasan
Diare pada anak sebagian besar disebabkan oleh
infeksi virus
Pada beberapa kasus, disebabkan oleh patogen
lain seperti bakteri dan parasit
Parasit yang paling banyak menjadi penyebab diare
pada anak adalah Entamoeba histolityca
Terapi paling tepat untuk infeksi protozoa adalah :
metronidazole yang diberikan dengan dosis 35-
50mg/kgBB/ hari dibagi menjadi tiga dosis
24. C. Cek leukosit, trombosit,
CRP, IT ratio
Keywrods:
 Bayi baru lahir
 Demam
 Riwayat KPD 20 jam, air ketuban bau

Diagnosis:
 Suspek sepsis neonatorum e.c. KPD

Langkah selanjutnya sesuai dengan algoritme adalah


melakukan cek leukosit, trombosit, CRP, dan IT ratio
Pembahasan
Faktor risiko mayor sepsis neonatorum:
 Ketuban pecah > 24 jam
 Ibu demam saat intrapartum dengan suhu >380C
 korioamnionitis,
 DJJ > 160 x/meni
 Ketuban berbau/ berwarna hijau

Faktor risiko minor:


 Ketuban pecah >12 jam
 Ibu demam saat intrapartum dengan suhu > 37.5 0C
 BBLSR < 1500 gram
 Usia gestasi < 37 minggu
 Nilai APGAR Rendah
25. E. Defisiensi surfaktan
Keywords:
 Bayi prematur
 Keluhan sesak
 Hasil foto toraks terdapat perselubungan seluruh lapang
paru
 Air bronchogram (+)

Diagnosis:
 Hyaline membrane disease  penyebabnya adalah
defisiensi surfaktan
26. B. Pangkal Ibu Jari Sisi Medial
dan Lateral
Keyword:
 Etty, 22 tahun
 Nyeri dan bengkak pada ibu jari tangan kanan sejak 5 hari
yang lalu
 Dx: paronikia, disarankan ekstraksi kuku dengan anestesi
lokal
Indikasi ekstraksi kuku
 Trauma kuku
 Paronikia
 Tinea unguium
27. C. Akalasia Esofagus
Keyword:
 Tn. Tomy, 30 tahun
 Sulit menelan 2 minggu SMRS, terutama makanan padat
 Hanya bisa menelan makanan cair
 Rasa makanan naik dari kerongkongan (+), BB sulit naik
(+)
 Radiologis: dilatasi pada esofagus (+)
Akalasia esofagus:
 Tidak adanya peristaltik korpus
esofagus bawah dan SEB (spingter
esofagus bawah) yang hipertonik
 tidak bisa relaksasi sempurna
 stasis makanan  pelebaran
esofagus
 Gejala: disfagia, regurgitasi, BB
sulit naik, nyeri dada
 Xray:
 Foto polos dada: kontur ganda di atas
mediastinum ganas, mediastinum
melebar, adanya gambaran batas cairan
dan udara
 Radiologis dengan barium: dilatasi
esofagus, sering berkelok-kelok dan
memanjang dengan ujung distal yang
meruncing berbentuk paruh burung
Sumber: Akalasia Esofagus, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Atresia esofagus:
 Kondisi medis kongenital yang ditandai
dengan tersedak dan batuk sewaktu bayi
menyusu. Terjadi akibat kelainan esofagus
yang tidak terbentuk secara sempurna
Divertikulum Merkel:
 Kelainan bawaan yang merupakan suatu
kantung (divertikula) yang
menjulur/menonjol dari dinding usus halus;
divertikula bisa mengandung jaringan
lambung maupun jaringan pankreas
28. B. Limpa
Keywords:
KLL, Tekanan darah 70 mmHg per-palpasi, denyut
nadi 140 x/menit, frekuensi napas 30x/menit.
Pasien tidak sadar, jejas pada hipokondrium kiri,
pekak alih (+), bising usus melemah.
Cedera organ Limpa
Letak Limpa dalam rongga
abdomen
Cedera limpa
Tanda yang dapat ditemukan pada pemeriksaan
fisik
 Tanda iritasi peritoneal (nyeri tekan, guarding, rebound)
 Nyeri dan jejas di hipokondrium kiri
 Bila perdarahan  hipotensi atau takikardia

Bila menyebabkan instabilitas hemodinamik 


tindakan operatif
29. D. Ruptur Uretra Posterior
Keyword:
 Tn. Ilham, 38 tahun
 Gangguan berkemih sejak 1 hari yang lalu
 BAK keluar darah (+)
 Pasca KLL 3 hari sebelumnya, benturan di pinggul (+)
 PF:
 Keluar darah dari OUE
 RT: floating prostate (+)
Ruptur Uretra Anterior Ruptur Uretra Posterior Ruptur Ginjal
Paling sering disebabkan Paling sering disebabkan Trauma dan jejas pada
straddle injury (cedera fraktur tulang pelvis pinggang, punggung,
selangkangan) (ramus/simfisis pubis) dada bawah, perut atas
Gambaran: Sering datang dalam Hematuria
1. Perdarahan OUE keadaan syok Fraktur costa bawah (T8-
2. Retensio urin Gambaran: 12)/fraktur proc.
3. Hematoma/jejas 1. Perdarahan OUE Spinosus vertebrae
peritoneal/urin 2. Retensio urin
infiltrat 3. RT: floating prostate
Tindakan: sistostomi (prostat melayang)
Tindakan: sistostomi
Derajat Trauma Uretra dan Penanganannya
Derajat Jenis Kerusakan
I Kontusio ginjal/hematoma perianal
II Laserasi ginjal terbatas pada korteks
III Laserasi ginjal sampai medulla ginjal, mungkin
terdapat trombosis a. segmentalis
IV Laserasi sampai sistem kalises ginjal
V • Avulsi pedikel ginjal, mungkin terjadi
trombosis a. renalis
• Ginjal terbelah (shatered)

Derajat Kerusakan Trauma Ginjal dan Manajemennya


30. C. Kalsium Oksalat
Perempuan, 51 tahun, nyeri pinggang kiri, jarang
minum air. Radiografi: radioopaque, kesan batu
saluran kemih.
Apa penyusun batu paling mungkin?
Radiologi Batu Saluran Kemih

Guideline on Urolithiasis, European Association of Urology 2013


Guideline on Urolithiasis, European Association of Urology 2013
Etiologi Batu Saluran Kemih
 Sebagian Idiopatik
Jenis Batu Yang Berperan
Asam Urat Makananan tinggi purin, pemberian sitostatik pada terapi
keganasan, dehidrasi kronis, obat-obatan: tiazid, lasix, salisilat
Kalsium Hiperkalsiuria absorptif: gangguan metabolisme (absorpsi usus
berlebih), vitamin D, hiperpartiroid
Hiperkalsiuria renalis: kebocoran pada ginjal
Oksalat Primer autosomal resesif; ingesti-inhalasi: vitamin C, ethylen glycol,
methoxyflurane, anestesi; hiperoksalouria enternik: inflamasi
saluran pencernaan, reseksi usus halus, bypass jejunoileal, sindrom
malabsorpsi
Fosfat Infeksi kronik (bakteri menghasilkan urease sehingga urin menjadi
Amonium alkali karena pemecahan ureum)
Magnesium

Sumber: Kapita Selekta Kedokteran


31. C. Epididimitis
Keywords: Laki-laki, 21 tahun, nyeri pada buah
zakar sisi kiri, nyeri timbul tiba-tiba pada saat
bangun tidur, testis kiri sedikit bengkak dan
kemerahan, Prehn sign (+)

Diagnosis pada pasien ini adalah...


dd/ nyeri skrotum
Phren’s sign
Positif bila nyeri berkurang dengan melakukan
elevasi pada testis yang nyeri

Negatif bila nyeri tidak berkurang dengan


melakukan elevasi pada testis yang nyeri

Phern’s sign positif  khas untuk epididimitis


Epididimitis
Radang epididimis  nyeri
skrotum
 Biasanya disebabkan refluks
bakteri dari vas deferens

Biasanya onset-nya gradual,


namun bisa juga akut dan tiba-
tiba

Biasanya disertai tanda &


gejala ISK (nyeri, demam,
ditemukan peningkatan
leukosit pada urin)
32. B. 8
Perempuan, 61 tahun, pasca KLL, mengerang,
rangsang nyeri  membuka mata, bergerak refleks
menjauhi nyeri.
Berapa skor GCS pasien tersebut?
Glasgow Coma Scale (GCS)
PENILAIAN SCORE Skor total =
Eye Opening (E) E+V+M
• Spontan 4
• Terhadap suara 3 Tertinggi: 15
• Terhadap nyeri 2 Terendah 3
• Tidak ada 1
Verbal Response (V) Pada soal:
• Berorientasi baik 5 E2 + V2 + M4 =
• Berbicara meracau (bingung) 4 8
• Kata-kata tidak teratur 3
• Suara tidak jelas 2
• Tidak ada 1
Motoric (M)
• Mengikuti perintah 6
• Melokalisir nyeri 5
• Fleksi normal (menarik anggota tubuh yang dirangsang) 4
• Fleksi abnormal (dekortikasi) 3
• Ekstensi abnormal (deserebrasi) 2
• Tidak ada 1
Sumber: ATLS Student Course Manual
33. C. Appendisitis Akut
Keywords:
Laki-laki, 19 tahun, nyeri perut (2 hari), awalnya di
ulu hati menjalar ke kanan bawah, mual muntah
(+), febris (+); nyeri tekan & lepas Mc burney;
leukosit 18.000, neutrofil 80%.
Diagnosis?
Diagnosis Banding
Nyeri Abdomen Kanan Bawah
Tambahan DD pada wanita:
Appendisitis Endometriosis
Hernia inkarserata Kehamilan Ektopik
Divertikulitis Terganggu
Ileitis Kista Ovarium Terpuntir

Perforasi caecum Adneksitis


Batu ureter
Abses psoas
Sumber: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI
Appendisitis Akut
Peradangan appendiks akibat infeksi bakteri
Gejala:
-Nyeri di epigastrium, berpindah ke kanan bawah
(titik McBurney) dalam beberapa jam;
-mual muntah; nafsu makan ;
-konstipasi;
-demam ringan
Lab: Leukositosis
34. C. Hemoroid interna grade III
Keywords:
Perempuan, 45 tahun, darah menetes saat BAB
(tidak bercampur feses), benjolan keluar dari anus
& bisa dimasukkan kembali
Apa diagnosisnya?
Darah menetes dari lubang anus & tidak bercampur
feses tanda darah segar, bukan melena
Adanya darah menetes dari lubang anus merupakan
gejala hemoroid

Hemoroid: pleksus arteri-vena yang berfungsi sebagai


katup dalam saluran anus  membantu sistem sfingter
anus, mencegah inkontinensia
H. interna: pleksus vena hemoroidalis superior
H. eksterna: pelebaran & penonjolan pleksus hemoroid
inferior
35. B. Fraktur Colles Tertutup
Perempuan, 53 tahun, nyeri dan sulit
menggerakkan lengan kanannya pasca terjatuh.
Lengan bawah kanan: dinner fork deformity (+),
NVD dbn, luka terbuka (-).
Radiologi: fraktur distal radius extraarticular
dengan angulasi dorsal.
Diagnosis?
Fraktur Monteggia
Fraktur antebrachii  patah tulang ulna + luksasi kaput os
radius

Fraktur Colles
• Pergelangan tangan  fraktur tulang radius distal dengan
dislokasi ke arah dorsal
• Lengan bawah & tangan tampak seperti garpu dari samping

Faktur Reverse Colles / Smith


• Fraktur os radius distal dengan dislokasi ke arah palmar/volar

Fraktur Barton
• Bagian dari fraktur Smith
• Fraktur intra-artikular, patah tulang radius distal

Fraktur Galleazi
• Fraktur distal radius + dislokasi / subluksasi sendi radioulnar
distal

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong


36. A. Epicondylitis Medial
Keywords:
Perempuan, 60 tahun, nyeri siku, penjual rujak
(sehari-hari mengulek sambal dan memotong
buah). ROM aktif dan pasif dbn (normal). Nyeri
terutama saat palpasi siku bagian medial.
Apa diagnosisnya?
EPICONDYLITIS
Robekan kecil pada tendon di siku, terjadi pada aktivitas
fisik berulang yang melibatkan tumpuan pada siku
Lateral – Tennis elbow
Medial – Golfer’s elbow
Faktor risiko: > 40 tahun, aktivitas fisik berulang
Tatalaksana: terapi fisik + analgetik; bedah; injeksi
kortikosteroid

Catatan: Pada kasus di soal ini, fraktur dan dislokasi


disingkirkan karena tidak ada gangguan pada ROM

Sumber: Medscape
37. B. Kuning
Laki-laki, 32 tahun, post kecelakaan, sadar, tanda
vital normal, deformitas tungkai bawah dekstra
tanpa luka terbuka.
Apakah kategori triase untuk pasien tersebut?
TRIAGE
Simple Triage And Rapid Treatment:
4: Hitam, Merah, Kuning, Hijau
Advanced Triage System
5: Hitam, Merah, Kuning, Hijau, Putih

Sumber: Medical Triage: Code Tags and Triage Terminology (medicine.net)


Disaster triage: START, then SAVE--a new method of dynamic triage for victims of a catastrophic
earthquake (pubmed)
TRIAGE
• Expectant
Hitam • Meninggal / cedera fatal yang tidak
memungkinkan resusitasi

• Immediate
Merah • Cedera berat / mengancam jiwa, membutuhkan
penanganan segera

• Observation
• Saat ini dalam keadaan stabil / tidak mengancam
Kuning jiwa dalam waktu dekat, penanganan cedera
dapat ditunda dalam beberapa jam, namun
dapat membutuhkan re-triage

• Wait
Hijau • Walking wounded, cedera tidak membutuhkan
penanganan segera oleh tenaga medis

• Dismiss
Putih • Luka ringan, tidak membutuhkan perawatan
dokter
38. A. Pasang kateter
Keywords:
 Laki-laki 65 tahun
 Tidak bisa BAK sejak 2 hari
 Rasa penuh pada perut bagian bawah (+), BAK menjadi
sedikit (+), pancarannya lemah
 PF: TD 170/80, abdomen: ballotement (+), massa kistik
suprapubik (+)
 RT: prostat berukuran sekitar 60 gr, nyeri tekan (+), darah
pada sarung tangan (+)
Kateter Urin
Indikasi
 Retensi urin akut dan kronis.
 Menampung arus urin yang keluar terus menerus pada pasien
dengan kesulitan menahan kencing akibat gangguan neurologis
 Perlu untuk pengukuran akurat dari output urin pada pasien
dengan sakit kritis
 Penggunaan perioperatif untuk beberapa prosedur bedah
 Pasien yang menjalani operasi urologi atau operasi lain pada
struktur yang berdekatan pada saluran genitourinaria
 Durasi operasi yang diduga berkepanjangan
 Pemantauan output urin intra-operatif
 Pasien memerlukan imobilisasi berkepanjangan
 Untuk memungkinkan irigasi/lavage kandung kemih
Pungsi Suprapubik
Suatu tindakan pembedahan untuk mengalirkan
kencing melalui lubang yang dibuat supra pubik
untuk mengatasi retensi urin dan menghindari
komplikasi
Indikasi:
Retensio urin dimana
Kateterisasi gagal: striktur uretra, batu uretra yang menancap (impacted)
Kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra
39. B. Pasang Mayo / Goedell
Keywords:
Laki-laki, 43 tahun, post KLL, penurunan
kesadaran, suara snoring (mendengkur).
Suara napas abnormal / berisik  penanda pernapasan
yang tersumbat

Sumbatan parsial pada faring / laring:


Snoring (mendengkur): karena terhalang lidah
 bebaskan dengan pemasangan mayo/goedell
Gargling (berkumur): karena ada cairan menumpuk
 finger sweeps, suction
Stridor/crowing (bersiul): karena kelainan anatomis

Hoarseness (suara parau)  sumbatan pada laring / plika


vokalis

Sumber: ATLS Student Course Manual


40. D. Pemasangan Cervical Collar
Keywords:
Perempuan, 29 tahun, post-KLL, jejas pada kepala
dan leher, sadar, nadi teraba kuat

Tatalaksana awal?
TRAUMA: PRIMARY SURVEY
A • AIRWAY
• Jaga patensi jalan napas + kontrol servikal

B • BREATHING
• Jaga ventilasi

C • CIRCULATION
• Cek nadi, kontrol perdarahan

D • DISABILITY
• Status neurologis

E • EXPOSURE / ENVIRONMENTAL CONTROL


• Buka pakaian pasien, cegah hipotermia
Manuver untuk menjaga patensi jalan napas (airway)
pada pasien dengan penurunan kesadaran yang
bernapas spontan:
Head tilt + chin lift Jaw thrust

Cervical collar  untuk imobilisasi/stabilisasi servikal


41.D.Sirkumsisi
Keyword:
Anak laki-laki usia 4 tahun
sakit setiap BAK, ujung penis tampak menggelembung.
kulit yang melingkupi kepala penis sulit ditarik ke
belakang.
demam (-).
Diagnosis: Fimosis
Tatalaksana: Sirkumsisi  untuk membebaskan
perlekatan kulit yang menyelimuti kepala penis
42.D.Hipospadia
Keyword:
Anak laki-laki, 3 tahun
BAK merembes dari bawah
Penis agak melengkung seperti kipas

Diagnosis: Hipospadia
Tatalaksana: Sirkumsisi / Bedah rekonstruksi
(tergantung kelainan)
Hipospadia
Muara uretra terletak di sisi bawah (ventral) penis

Sebagian disertai dengan kelainan anatomi:


• Banyak  Bentuk penis melengkung seperti kipas
(chordee) karena biasanya di sekitar OUE terbentuk
jaringan ikat yang menarik dan mengerutkan kulit di
sekitarnya
• Kadang testis belum turun ke kantung kemaluan
(undescended testis)

Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhijdajat & de Jong


Pilihan Lain
A. Orkitis  peradangan pada testis akibat infeksi
B. Balanitis  peradangan pada glans / ujung
penis
C. Parafimosis  sudah dijelaskan
D. Hipospadia  sudah dijelaskan
E. Epispadia  sudah dijelaskan
43.D.Varikokel
Keyword:
Laki-laki, 37 tahun
kantung kemaluan nyeri & terasa berat
nyeri timbul setelah duduk lama
PF: testis kanan < kiri, tampak pelebaran pembuluh darah
seperti cacing.

Diagnosis: Varikokel
Terapi: Bedah (bila ada keluhan nyeri / atrofi testis /
infertilitas)
Kelainan Skrotum & Isinya
• Varikokel
• Hidrokel Testis
• Kista Epididimis
• Epididimitis
• Orkitis
• Torsio Testis
• Fasitis Nekrotikans kulit
• Fimosis & Parafimosis
Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhijdajat & de Jong
Varikokel
= Pembesaran pembuluh darah vena (varises pleksus
pampiniformis) yang terletak pada funikulus spermatikus di
dalam skrotum  teraba seperti kumpulan cacing

Penyebab: adanya hambatan pada pembuluh darah balik

Keluhan: testis terasa berat karena tekanan meninggi di


dalam v. testis yang tidak berkatup dari muara v. kava inferior
atau v. renalis sampai ke testis
Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhijdajat & de Jong
Pilihan Lain
A. Epididimitis  peradangan epididimis, terutama ec
infeksi bakteri

B. Kriptorkidisme = E. Undensensus testikulorum 


kegagalan testis turun ke rongga skrotum

C. Hidrokel  penumpukan cairan berlebihan di


sekitar testis sehingga skrotum tampak membengkak
(membesar); pemeriksaan khas: disenteri
44. B. Rongga intrapleura terisi darah
dan mendesak paru kanan
Keyword:
Laki-laki, 22 tahun
tertusuk pisau pada dada kanan belakang
sesak napas, nyeri dada, keringat dingin.
PF: TD 112/74 mmHg, napas 40 kali/menit (takipnea), nadi
122 kali/menit, suhu 36.9°C;
gerak dada kanan tertinggal, perkusi pekak, dan auskultasi
suara napas ↓

Diagnosis: Hematotoraks
Hematotoraks
= Pengumpulan darah di dalam rongga
Antar pleura viseral dan parietal

Klinis: nyeri, sesak napas, bisa disertai gejala


Pneumotoraks (hematopneumotoraks), pucat

Inspeksi gerakan napas tertinggal, fremitus lebih keras


pada sisi yang kena, perkusi pekak dengan batas miring
/ tidak jelas, auskultasi bunyi napas menurun /
Penanganan Trauma Toraks; Panduan ATLS
menghilang
45. E. Riwayat Fr. Os Ulna
Keywords:
 Perempuan bekerja di pabrik sol sepatu
 Memiliki kista ganglion di lengan bawahnya
 Pasien bekerja sehari-hari dengan mengangkat beban
berat dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci
dengan tangan
 Riwayat fraktur ulna (+)
Kista Ganglion
 Massa kistik jaringan lunak pada pergelangan tangan atau
tangan
 Jinak, konsistensi lunak, tidak menyebar
 Dapat terasa nyeri
 Wanita dekade 2-3 lebih sering daripada pria
 Penyebab belum pasti. Kemungkinan disebabkan oleh
trauma/cedera berulang
 Terapi: aspirasi kista
46. A. Cetirizin
Keywords:
 Anak laki-laki 5 tahun
 Gatal-gatal di tubuh setelah makan udang
 Ibu pasien juga mengalami keluhan serupa
 Pasien mendapatkan CTM dari dokter sebelumnya namun
ibu pasien mengatakan pasien jadi sering mengantuk di
sekolah
Pilih antihistamin generasi ke-2
47. D. Cushing Syndrome
Keywords:
 Kortikosteroid topikal

Diagnosis: -
Tatalaksana: Stepping down KS / Penghentian KS
Efek samping kortikosteroid
Efek samping lokal: Efek samping sistemik:
1. Atrofi kulit (cigarrette paper) 1. Cushing syndrome
2. Steroid rosacea 2. Gangguan pertumbuhan
3. Acne steroid 3. Penekanan HP Aksis
4. Dermatitis perioral
5. Hipopigmentasi, hipertrikosis
6. Peningkatan tekanan
intraokuler
7. Dermatitis kontak alergika
48. A. Menghambat agregasi
trombosit dan relaksasi pembuluh
darah
Keyword:
Laki2 40 tahun nyeri dada kiri menjalar ke lengan kiri
EKG ST elevasi
diberikan aspirin dan nitrogliserin

Diagnosis: STEMI
Pengobatan: Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin, B-blocker
(setelah stabil), ACE-inhibitor, Clopidogrel, Heparin,
serta rencana revaskularisasi (PCI atau streptokinase)
Proses agregasi
trombosit

aspirin bekerja dengan menghambat secara permanen


(asetilasi) COX-1 --> menghambat agregasi trombosit
clopidogrel menghambat P2Y --> menghambat
agregasi trombosit
Nitrogliserin
nitrat, organik nitrat, senyawa nitrat dan berbagai varian
nitrogen lainnya menghasilkan gas radikal bebas NO yang
reaktif dan senyawa yang mengandung NO lainnya
fosforilasi rantai myosin menyebabkan keadaan kontraksi
pada otot polos
NO akan mengaktifkan guanil siklase --> cyclic GMP
meningkat --> aktivasi PKG --> modulasi aktivitas
fosfodiesterase
Hasil akhirnya pada otot polos (khususnya vaskular):
 reduksi fosforilasi rantai miosin --> relaksasi otot polos
 reduksi konsentrasi Ca2+ dalam sitosol --> relaksasi otot polos
49. B. Meningkatkan tonus
vagus
Keywords:
 Laki- laki 45 tahun
 Sesak sejak 1 hari yang lalu
 Dx: gagal jantung
 Os diberikan digoksin
50. B. Propiltiourasil
Keywords
 Sering berdebar dan berat badan semakin turun dalam 1
bulan terakhir
 Sering kepanasan dan selalu berkeringat berlebihan
 Pembesaran simetris kelenjar tiroid
 Tremor
 TSH menurun dan T4 meningkat
Diagnosis: Hipertiroid
Pembahasan
Gejala klinis pada pasien mengarah pada usatu
tirotoksikosis
Hal ini ditunjang dengan pemeriksaan fisik yang
menunjukkan pembesaran kelenjar tiroid dan
pemeriksaan penunjang yang menunjukkan
penurunan TSH dan peningkatan FT4
Pengobatan pada hipertiroid salah satunya adalah
mencegah konversi T4 menjadi T3 di perifer yaitu
dengan memberikan obat golongan tiourasil yaitu
propiltiurasil (PTU)
Propanolol  golongan B bloker bekerja untuk
mengurangi takikardia pada pasien dengan hipertiroid
Metimazol  tidak menghambat perubahan T4
menjadi T3 di perifer
Yodium radioaktif 
 Untuk merusak atau membersihkan sisa sel tiroid ganas pada
pasien kanker tiroid setelah operasi.
 Untuk merusak atau membersihkan kekambuhan kanker tiroid
Tiosianat  merupakan antagonis reseptor iodium
pada sel tiroid
51. C. Pola Luka Akibat
Pembekapan
Keywords :
Jenazah bayi ditemukan di tempat sampah
Pemeriksaan : luka lecet berbentuk bulan sabit di sekitar
mulut, hidung, dan pipi, berwarna kemerahan dan perabaan
kasar, memar ditemukan di sekitar luka lecet dan selaput
mukosa bibir
Wajah tampak gelap, sklera mata merah, mukosa bibir dan
ujung-ujung jari kebiruan, bendungan pembuluh darah di
semua organ dalam (+)  asfiksia

Pola luka pada jenazah : pola luka akibat pembekapan


Pembekapan  luka lecet berbentuk bulan sabit
(dari kuku) di area mulut, hidung, pipi, dapat
disertai memar
Pencekikan  luka lecet di area leher, disertai
memar
52. D. Seorang anak panti asuhan,
yang dicabuli oleh pegawai panti
asuhan
Keywords :
Undang-undang No. 23 tahun 2004 mengatur
tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
KDRT  kekerasan yang dilakukan dalam lingkup
rumah tangga

Yang termasuk KDRT : Seorang anak panti asuhan,


yang dicabuli oleh pegawai panti asuhan
UU No. 23 Tahun 2004
Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama
perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam
lingkup rumah tangga
Yang termasuk lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang KDRT
suami, isteri, dan anak;
orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang
sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah,
perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap
dalam rumah tangga; dan/atau
orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam
rumah tangga tersebut

Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud pada huruf c dipandang


sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam
rumah tangga yang bersangkutan
53. A. Luka Robek
Keywords :
•Pasien mengalami KDRT
•PF : trauma tumpul

Luka yang ditemukan : luka robek


•Luka robek : luka terbuka akibat trauma benda
tumpul yang menyebabkan kulit teregang ke satu
arah sehingga batas elastisitas kulit terlampaui

•Luka tusuk : tepi dan dinding luka rata, tidak ada


jembatan jaringan, berbentuk garis, terdapat sudut
luka yang dapat memperkirakan benda penyebab
 pisau bermata dua (kedua sudut lancip); pisau
bermata satu (satu sudut lancip dan yang lain
tumpul)
•Luka sayat : tepi dan dinding luka rata, tidak ada
jembatan jaringan, berbentuk garis, kedua sudut luka
lancip dan kedalaman luka tidak melebihi panjang luka

•Luka iris = luka sayat

•Luka gores  termasuk luka lecet  luka lecet gores :


oleh karena benda runcing yang menggeser kulit
(epidermis) di depannya dan menyebabkan lapisan
tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah
kekerasan yang terjadi
54. A. Asfiksia
Bedakan dahulu penyebab, mekanisme, dan cara
kematian
Penyebab kematian
 Adanya perlukaan atau penyakit yang menimbulkan
kekacauan fisik pada tubuh yang menghasilkan kematian pada
seseorang
 Misal: luka tembak pada kepala, luka tusuk pada dada,
adenokarsinoma pada paru-paru, dan aterosklerosis koroner
Mekanisme kematian
 Kekacauan fisik yang dihasilkan oleh penyebab kematian yang
menghasilkan kematian
 Misal: perdarahan, septikemia, dan aritmia jantung
Cara kematian
 Bagaimana penyebab kematian itu datang
 Secara umum dapat dikategorikan sebagai:
 Wajar
 Pembunuhan
 bunuh diri
 Kecelakaan
 Tidak dapat dijelaskan (pada mekanisme kematian yang
dapat memiliki banyak penyebab dan penyebab yang
memiliki banyak mekanisme, penyebab kematian dapat
memiliki banyak cara)
Misal:
 Seseorang dapat meninggal karena perdarahan masif
(mekanisme kematian) dikarenakan luka tembak pada
jantung (penyebab kematian), dengan cara kematian
secara pembunuhan (seseorang menembaknya), bunuh
diri (menembak dirinya sendiri), kecelakaan (senjata
jatuh), atau tidak dapat dijelaskan (tidak dapat diketahui
apa yang terjadi).
55. E. Terdapat busa halus
pada hidung dan mulut
Keywords :
•Nelayan menemukan sesosok mayat di pinggir
sungai  diduga meninggal akibat tenggelam.

Pada PL ditemukan  busa halus pada hidung dan mulut


Pemeriksaan Luar Jenazah
Tenggelam
•Mayat dalam keadaan basah
•Busa halus pada hidung dan mulut
•Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang ada
perdarahan atau perbendungan
•Kutis anserina
Tampilan kulit seperti merinding (bintil2 seperti kulit
jeruk) akibat kontraksi otot erector pili yang terjadi karena
rangsang dinginnya air
•Washer woman’s hand  telapak tangan dan kaki
keputihan dan keriput yang disebabkan imbalans
cairan ke dalam kutis
•Cadaveric spasme (tanda intravital)  terjadi saat
korban berusaha menyelamatkan diri dengan
memegang apa saja
•Luka-luka lecet pada tubuh akibat benturan dan
gesekan benda – benda dalam air
56. A. Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia
Keyword:
 Melaporkan STR / SIP palsu

Pelanggaran STR = Pelanggaran Disiplin


Pelanggaran Teknis prosedur medis (malpraktik)
dan STR  Lapor ke MKDKI
Pelanggaran Etika dlm praktek Lapor ke MKEK
57. B. Kontusio
Keywords:
 pemain bola menabrak tiang gawang
 luka robek, perdarahan, atau deformitas (-)
 Timbul warna kebiruan pada kulit dan bengkak
Kontusio
 karena tekanan yang besar dalam waktu yang singkat
 kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan
perdarahan pada jaringan bawah kulit atau organ di bawahnya
 pengumpulan darah dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang
masih hidup krn pecahnya kapiler karena kekerasan benda
tumpul
 Pada jaringan longgar, memar seringkali meluas ke daerah
lebih rendah sesuai gravitasi (raccoon eyes atau battle sign)
 Umur luka memar:
 Hari ke 1 : terjadi pembengkakan warna merah kebiruan
 Hari ke 2 – 3 : warna biru kehitaman
 Hari ke 4 – 6 : biru kehijauan–coklat
 > 1 minggu-4 minggu : menghilang / sembuh
Pilihan Lain
Luka lecet tekan: Luka lecet geser: Luka lecet gores:

• penjejakan benda tumpul pada • Pergeseran  terkikisnya • Oleh benda runcing ( misalnya
kulit. epidermis kuku jari yang menggores kulit)
• bentuk luka lecet tekan belum • Bagian yang pertama bergeser yang menggeser lapisan
tentu sama dengan bentuk memberikan batas lebih rata, permukaan kulit (epidermis) di
permukaan benda tumpul dan saat benda tumpul depannya dan mengakibatkan
• masih memungkinkan meningalkan kulit yang tergeser lapisan tersebut terangkat
identifikasi benda penyebab berbatas tidak rata • dapat menunjukan arah
yang mempunyai bentuk yang • Tampak goresan epidermis yang kekerasan yang terjadi.
khas berjalan sejajar
• contoh kisi-kisi radiator mobil, • Dapat diketahui arah kekerasan
jejas gigitan penyebab
• pada mayat: daerah kulit yang
kaku dengan warna yang lebih
gelap dari sekitarnya
58. C. Tes dengan sinar UV
Keywords:
 wanita 30 tahun
 tewas di sebuah kamar hotel
 tanpa busana
 bercak kering pada seprai  diduga sperma (olah TKP)
Fluoresensi UV Visual
 Dibawah sinar ultraviolet, bercak Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak
semen menunjukkan flouresensi
putih segar menunjukkan permukaan mengkilat dan
translusen kemudian mengering. Dalam waktu
Bercak pada sutera buatan atau kira-kira 1 bulan akan berwarna kuning sampai
nilon mungkin tidak berflouresensi coklat.
Flouresensi terlihat jelas pada
bercak mani pada bahan yang Pada tekstil yang menyerap, bercak segar
terbuat dari serabut katun tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-angsur menguning sampai coklat
Bahan makanan, urin, sekret dalam waktu 1 bulan.
vagina, dan serbuk deterjen yang
tersisa pada pakaian sering
berflouresensi juga
59. B. 15 cm
Keywords :
Ditemukan kelim api, kelim mesiu, kelim tato,
kelim jelaga
Kelim api  Maksimal 15 cm
60. C. Beneficence-Autonomy
Kasus:
 Anak thalassemia, dokter menganjurkan transfusi darah.
Namun pasien menolak
 Dokter menganjurkan transfusi darah untuk kepentingan
pasien  beneficence
 Ibu pasien menolak atas dasar agama yang diyakininya 
autonomy
Beneficence: seorang dokter melakukan suatu
tindakan untuk kepentingan pasiennya
Contoh:
 memberi obat generik, tidak polifarmasi
 menyempatkan edukasi ke pasien
 pemberian obat anti nyeri pada pasien terminal (untuk
mengurangi penderitaan)
 menolong anak yang diduga menjadi korban kekerasan
dalam keluarga
 membuat rujukan yang dianggap perlu
Non-Maleficence: prinsip gawat darurat, dokter tidak
melakukan suatu perbuatan atau tindakan yang dapat
memperburuk pasien (first do no harm), contoh:
 dokter menolak aborsi tanpa indikasi medis (misal hamil di luar
nikah)
 dokter melakukan kuret atas indikasi medis (misal pendarahan)
 tidak melakukan euthanasia
 dokter mengutamakan pasien gawat
 dokter melakukan bius terlebih dahulu sebelum tindakan
medis walaupun pasiennya tidak sadar
 tidak melakukan rujukan lab/memberi obat yang sebenarnya
tidak mutlak dibutuhkan
Autonomy: seorang dokter wajib menghormati
martabat dan hak manusia, terutama hak untuk
menentukan nasibnya sendiri. Pasien diberi hak untuk
berfikir secara logis dan membuat keputusan sesuai
dengan keinginannya sendiri. Sangat berhubungan
dengan informed consent
Contoh:
 melakukan informed consent
 menjaga rahasia pasien bila orang lain tidak ada hubungannya
(misalnya, tetangga atau orang tua menanyakan)
 memberi pasien hak untuk memutuskan sendiri (syarat:
dewasa dan sehat mental), misal: keluarga menolak
tranfusi/operasi, maka dokter tidak memaksa kepada pasien
Justice: tindakan yang memegang prinsip sama
rata, tidak membeda-bedakan pasien atas dasar
SARA, status sosial, dll
 Dokter tidak membeda-bedakan pelayanan walaupun
beda suku/agama
 Pemerintah menyebarkan tenaga kesehatan secara
merata sampai ke daerah
 Dokter boleh membongkar rahasia pasien dalam keadaan
menyangkut orang lain yang rentan, misal: suami ISK (istri
adalah pihak rentan), sopir bus epilepsi (penumpang
adalah pihak rentan)
61. D. Kejadian diare meningkat 2x
lipat dari periode sebelumnya
Kriteria KLB:
Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak
ada atau tidak dikenal
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus
selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis
penyakitnya (jam, hari, minggu)
Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau
lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari,
minggu, bulan, tahun).
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan
kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan
angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
62. A. Primary prevention
Keywords:telah terjadi peningkatan angka kejadian
malaria di desa C. Petugas puskesmas kemudian
membagikan kelambu ke seluruh warga desa.
Analisis: tujuan dibagikan kelambu ke warga adalah
untuk mencegah warga terinfeksi malaria (mencegah
sakit).
Maka, kegiatan tersebut termasuk primary prevention.
Catatan: primary prevention merupakan pencegahan
timbulnya penyakit, meliputi: promosis kesehatan dan
pencegahan khusus.
Pilihan lain
Secondary prevention: diagnosis dini dan
pengobatan yang tepat (tatalaksana sesuai
guideline)
Tertiary prevention: pencegahan agar tidak terjadi
kecacatan (mis: rehabilitasi)
Primary health care: pelayanan kesehatan tingkat
pertama (mis:puskesmas)
Secondary health care: pelayanan kesehatan
lanjutan (mis: rumah sakit)
63. A. Paternalistik
Keywords:
dokter mendominasi anamnesis
pengobatan tanpa mempertimbangkan keinginan
pasien
dokter paling mengerti ilmu kedokteran
Yehezkiel dan Linda Emanuel mengusulkan 4
model hubungan dokter pasien
 Paternalistik
 Informatif
 Interpretative
 Deliberative
Paternalistik: dokter adalah dewa yang ahli soal
penyakit, dokter membuat semua keputusan
perawatan medis tanpa konsultasi dengan pasien,
hubungan ini tidak memperhatikan otonomi pasien
Informative: semua keputusan perawatan medis ada di
tangan pasien, pasien yg menentukan sesuai
keinginannya, dokter hanya memberikan informasi tanpa
opini kepada pasien
Interpretative: dokter sebagai konselor yang menafsirkan
nilai yg dianut pasien, kemudian membantu pasien
menentukan perawatan medis yang terbaik
Deliberative: dokter lebih berperan aktif dalam
menafsirkan nilai yang dianut pasien, dokter
menyampaikan opininya dan melakukan persuasi untuk
perawatan medis yang terbaik, tp keputusan ttp di pasien
Optimistic: tidak diketahui apa maksudnya
64. E. Non Maleficience
NON MALEFICIENCE
KEYWORD • PASIEN TANPA KELUARGA
• INFORMED CONCENT TIDAK MEMUNGKINKAN
• HARUS SELAMATKAN NYAWA
Prinsip dasar non-maleficence adalah primum non nocere, yang artinya
pertama-tama jangan menyakiti. Prinsip ini melarang dokter berbuat jahat
atau membuat derita pasien, serta mewajibkan dokter untuk
meminimalisasi akibat buruk.
Kewajiban dokter untuk menganut non-maleficence berdasarkan hal-hal
berikut :
1. pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko kehilangan sesuatu
yang penting
2. dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
3. tindakan dokter terbukti efektif
4. manfaat bagi pasien lebih besar daripada kerugian dokter
65. B. 5 dari 100.000
Keywords:
angka kejadian baru 5 (juni 2015)
total angka kejadian lama 10 (akhir juni 2015)
jumlah penduduk hingga akhir 2015 200.000
perhitungan dari januari - juni 2015

Berapa angka incidence ratenya?


Incidence rate =
Kasus baru dalam suatu waktu
Jumlah populasi berisiko pada pertengahan tahun

kasus baru juni 5 orang, populasi akhir tahun


200.000 orang, sehingga populasi juni =
pertengahan tahun 100.000 orang
Incidence rate = 5:100.000

191
66. D. Vertikal
JENIS RUJUKAN
ANTAR INSTANSI

132
HORIZONTAL Puskesmas A ke puskesmas B dalam satu strata

VERTIKAL Dari puskemas A ke rumah sakit B ATAU SEBALIKNYA


67. B. Implied consent
Keywords:
Laki-laki 45 tahun sesak nafas
dokter menanyakan keluhan, pasien langsung buka
kancing baju tanpa menjawab pertanyaan
dokter meminta izin untuk PF dan langsung melakukan
PF seperlunya tanpa menunggu jawaban pasien

dari tingkah lakunya, pasien mengizinkan untuk


diperiksa dokter
Bentuk Consent
Expressed Consent  persetujuan yang diberikan oleh pasien secara
Consent lisan maupun tertulis. Cth: Pasien bilang “Ya,dok. Silakan periksa
perut saya”
Implied Consent  persetujuan yang diberikan oleh pasien dari
perbuatan / tingkah lakunya. Cth: Menganggukan
kepala,membukakan baju,dll
Informed Consent  persetujuan yang diberikan pasien setelah
mendapat penjelasan lengkap(indikasi,prosedur,risiko,dll) tentang
tindakan medis, umumnya dalam bentuk tertulis.
Presumed Consent  pasien dianggap setuju oleh dokter, walaupun
pasien tidak menunjukkan expressed atau implied consent. Cth:
Dokter menganggap setuju walaupun pasien diam
Mandatory Consent  kondisi dimana seorang dokter tidak dapat
melakukan apa pun tanpa ada persetujuan

194
68. C. 3
• JUMLAH PUSKESMAS INDUK PER 30.000 JIWA
ADALAH SATU
• PERBANDINGAN JUMLAH PUSKESMAS
PEMBANTU: INDUK = 3:1
69. B. Tetap memberitahukan orang tua, dan
pengobatan dan rehabilitasi diserahkan kepada
keputusan orang tua
TETAP MEMBERITAHUKAN ORANG TUA, DAN
PENGOBATAN DAN REHABILITASI DISERAHKAN KE ORANG
TUA
• KASUS PASIEN BELUM DEWASA  TANGGUNG JAWAB
ORANG TUA !!!
Dasar teori
Promosi kesehatan:
pendidikan kesehatan (mis:
pendidikan gizi)
Perlindungan khusus (mis: penggunaan
kondompencegahan HIV
Diagnosis dini dan pengobatan segera
Pembatasan cacat (mis: fisioterapi)
Rehabilitasi (mis: rehabilitasi pecandu narkoba)
70. E. Mandiri
Keywords:
Posyandu memiliki 7 orang kader
Jumlah balita yang terdaftar pada posyandu adalah 65 orang
balita yang berasal dari 65KK dari total 300KK (kurang dari
cakupan 50%)
Kegiatan penimbangan dilakukan 10 kali dalam setahun
Cakupan program kesehatan ibu anak 90% , imunisasi 60%, gizi
55%, keluarga berencana 60%
Sudah ada program tambahan
Kepala dinas kesehatan ingin meningkatkan kualitas posyandu
tersebut karena dirasakan daerah tersebut akan terus
berkembang
Tingkat posyandu apa yang ingin dicapai oleh kepala dinkes
tersebut?
Posyandu: sistem pelayanan yang dipadukan antara satu program dengan
program lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan terpadu dan
dinamis seperti halnya program KB dengan kesehatan atau berbagai
program lainnya yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat

Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu, hal ini bertujuan


untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat karena di
posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan lengkap pada
waktu dan tempat yang sama
Jenis posyandu
1. Posyandu pratama
posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum
bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Keadaan
ini dinilai ‘gawat’ sehingga intervensinya adalah pelatihan
kader ulang. Artinya kader yang ada perlu ditambah dan
dilakukan pelatihan dasar lagi.
2. Posyandu madya
Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8
kali per tahun dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang
atau lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA,
Gizi, dan Imunisasi) kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian
posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya
3. Posyandu purnama
Posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah
kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB,
KIA, Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan,
bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana dengan
cakupan anggota kurang dari 50% KK
4. Posyandu mandiri
Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur,
cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan dan
Dana Sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah
pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut
menggunakan prinsip JPKM
Saat ini posyandu berada dalam tahap purnama,
sehingga jika ingin ditingkatkan, akan menjadi
posyandu mandiri
71. B. Meningkatkan sensitivitas
insulin
Keywords: sering kencing (6x per hari) meskipun
pasien cukup minum, cepat merasa lapar dan haus,
GDS 280 mg/dl
Diagnosis: DM tipe II
Tatalaksana: edukasi, diet, aktivitas fisik,
medikamentosa
Dasar teori
Latihan fisik menyebabkan
terjadinya reaksi kaskade
dari translokasi GLUT-4 ke
membran
selpeningkatan
sensitivitas insulin.
Selain itu, latihan fisik juga
dapat menstimulasi
peningkatan sintesis
insulin.
72 A. Limfadenitis TB
KEYWORDS
 Benjolan di leher kiri, tidak nyeri, riwayat keringat
malam (+), penurunan BB (+)
 Benjolan teraba multipel
 Gambaran giant limfosit, nekrosis perkijuan.

Diagnosis? Limfadenitis TB
Gambaran PA
73. B. HCT
Keywords: TD 165/100 mmHg, pada regio
metatarsalpalangeal II terdapat satu buah tophus,
asam urat 8,2 mg/dl.
Diagnosis: HT grade II
Tatalaksana: Obat anti hipertensi (hindari
golongan tiazid)
Dasar teori
Kadar asam urat dalam
darah seringkali meningkat
karena tiazid disekresi oleh
sistem sekresi asam organik
dalam tubulus dan
berkompetensi dengan
sekresi asam urat.
74. C. FEV1 < 70%
Keywords: mengeluh batuk berdahak sejak satu
tahun SMRS, dahak berwarna putih, sering merasa
sesak napas terutama pada malam hari, memiliki
riwayat merokok dua bungkus per hari sejak
berusia 17 tahun, fremitus melemah di kedua
lapang paru, wheezing +/+.
Diagnosis: PPOK
Tatalaksana: oksigen, bronkodilator, steroid.
Dasar teori
PPOK:
 Penyakit kronik yang dapat
dicegah dan diobati
 Ditandai dengan
keterbatasan aliran udara
yang tidak sepenuhnya
reversibel.
 Gangguan bersifat progresif.
 Respon inflamasi kronik dari
paru terhadap pajanan
partikel atau gas beracun
yang cukup lama.
Dasar teori
Dasar teori
Pemeriksaan yang rutin:
 Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht,
Leukosit) dan foto toraks untuk
menyingkirkan penyakit paru lain.
 Pemeriksaan spirometri dilakuka
n untuk memeriksa VEP1, KVP
dan VEP1/KVP. VEP1 Disebut
obstruksi apabila %VEP1
(VEP1/VEP1 prediksi) <80% atau
VEP1% (VEP1/KVP) < 75%.
Apabila spirometri tidak tersedia
atau tidak mungkin dilakukan,
bisa dilakukan pemeriksaan APE
(arus puncak ekspirasi), dengan
memantau variabiliti harian pagi
dan sore tidak melebihi 20%.
75 D. Pneumonia
KEYWORDS
 Sesak nafas sejak 6 hari
 Demam menggigil dan batuk berdahak hijau
kekuningan
 Daerah redup, ronchi basal paru kanan dan
penurunan suara napas.

Diagnosis? Pneumonia
ATELEKTASIS
Analisis cairan Pleura
76. A. Kandidiasis
Keywords:
 Wanita 40 tahun
 Rasa terbakar pada mulut
 Riwayat asma (+), selalu menggunakan inhaler
 PF mulut: plak mukosa putih (+), difus, bergumpal atau
seperti beludru pada palatum molle. Plak dapat dihapus
dan meninggalkan permukaan merah dan kasar
 Pemeriksaan mikroskopis: sel deskuamasi (+), fibrin dan
hifa (+)
Stomatitis Gingivitis Glossitis
• Inflamasi dan ulserasi • Inflamasi pada gusi, • Infeksi dan inflamasi
pada membran mukosa terbatas pada jaringan pada lidah
mulut epitel mukosa yang • Lidah dapat bengkak dan
• Akibat hipovitaminosis mengelilingi bagian dapat menyebabkan
vit C servikal gigi dan kesulitan saat
• Tampak erosi yang prosessus alveolaris mengunyah maupun
berwarna putih • Gejala: perdarahan gusi berbicara
kekuningan berbentuk saat sikat gigi, saat • Permukaan lidah
cekung/lonjong dengan makan makanan menjadi halus akibat
sekitarnya berwarna konsistensi keras papil-papil yang rusak
lebih merah dari mukosa karena infeksi
oris
Kandidiasis
 Infeksi opportunistik akibat pertumbuhan berlebih Candida albicans
 Kandidiasis pseudomembranosus akut (oral thrush)
 Tampak sebagai plak mukosa yang putih
 Difus, bergumpal atau seperti beludru, terdiri dari sel epitel
deskuamasi, fibrin, dan hifa jamur, dapat dihapus meninggalkan
permukaan merah dan kasar
 Pada umumnya dijumpai pada mukosa pipi, lidah, dan palatum
lunak
 Penderita kandidiasis ini dapat mengeluhkan rasa terbakar pada
mulut
 Sering diderita oleh pasien dengan sistem imun rendah, seperti
HIV/AIDS, pada pasien yang mengkonsumsi kortikosteroid, dan
menerima kemoterapi
 Kandidiasis Atropik Akut
 Daerah permukaan mukosa oral mengelupas dan tampak sebagai bercak-
bercak merah difus yang rata
 Terjadi karena pemakaian antibiotik spektrum luas, terutama Tetrasiklin
 Rasa sakit seperti terbakar
77. A. NSAID
Keywords:
 Wanita 40 tahun
 Nyeri pada kedua lututnya sejak 1 minggu lalu
 PF: palpasi hangat dan nyeri pada lutut
 Lab: asam urat ↑
Gejala artritis gout akut:
 Nyeri, bengkak, terasa hangat dan merah di lokasi
persendian, dengan manifestasi sistemik berupa demam,
menggigil dan lelah
 Lokasi sendi paling sering MTP-1, dapat pula mengenai
pergelangan tangan/kaki, lutut, dan siku
Tatalaksana gout akut:
 Menghilangkan nyeri dan peradangan dengan kolkisin,
OAINS, kortikosteroid, atau hormon ACTH
 Obat penurun asam urat seperti allopurinol dan
urikosurik tidak boleh diberikan pada stadium akut.
Namun pada pasien yang sebelumnya telah rutin
mengonsumsi obat asam urat sebaiknya tetap diberikan
 NSAID diberikan karena memiliki efek anti-inflamasi juga
memiliki efek anti-analgetik

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Bab Artritis Pirai
78. B. Hospital Acquired
Pneumonia + Stroke Iskemi
Keywords:
 Wanita 65 tahun
 Dirawat di rumah sakit selama 7 hari dengan stroke
iskemi
 1 hari SMRS os mengeluh batuk dengan dahak kuning
kehijauan
 PF: RR 32x/menit suhu 38°C, TTV lain dbn. Pulmo: rhonki
basah halus pada seluruh lapang paru
 Ro thoraks: infiltrat pada kedua lapang paru
Pneumonia:
 Pneumonia nosokomial/Hospital Acquired Pneumonia
(HAP) adalah pneumonia yang terjadi setelah pasien 48
jam dirawat di rumah sakit dan disingkirkan semua infeksi
yang terjadi sebelum masuk rumah sakit
 Ventilator Associated Pneumonia (VAP) adalah
pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam setelah
pemasangan intubasi endotrakeal
 Community Acquired Pneumonia (CAP) adalah
pneumonia yang didapat dari masyarakat

Sumber 1: Pneumonia Komunitas, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003


Sumber 2: Pneumonia Nosokomial, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003
Diagnosis pneumonia:
 Diagnosis pasti pneumonia ditegakkan jika pada foto toraks
terdapat infiltrat baru atau infiltrat progresif ditambah dengan
2 atau lebih gejala di bawah ini:
 Batuk-batuk bertambah
 Perubahan karakteristik dahak/purulen
 Suhu tubuh > 38˚C (aksila)/riwayat demam
 Pemeriksaan fisis: ditemukan tanda-tanda konsolidasi,
suara napas bronkial dan ronki
 Leukosit > 10.000 atau < 4500

Sumber 1: Pneumonia Komunitas, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003


Sumber 2: Pneumonia Nosokomial, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003
79. A. Insufisiensi Vena Kronik
Keywords:
 Laki-laki 73 tahun
 Luka berbau pada tungkai kanan
 Tungkai tampak bengkak, pegal, berat, gatal dan keram
 Keluhan dirasakan memberat saat tungkai terjuntai dan
membaik saat tungkai ditinggikan
 Pasien mengalami nyeri kontak hebat pada luka
 Riwayat HT dan stroke non-hemoragik (+)
 PF: submaleolus venous flare dan atrophie blanche (+)
Selulitis Ulkus Mole/Chancroid Ulkus Dekubitus/Bedsores
• Infeksi kulit akut • Disebabkan infeksi H. • Luka yang terjadi akibat
umumnya disebabkan ducreyi penekanan
streptococcus • Ulkus nekrotik/kotor, • Kulit mendapatkan
• Gejala: eritema merah berbentuk tekanan  kurang
cerah berbatas tegas, cawan/bergaung, tepi aliran darah ke kulit tsb
teraba hangat dan tidak rata, nyeri di  kulit mati
nyeri, disertai infiltrat tempat inokulasi, • Bagian tersering di
subkutan sering disertai lokasi penonjolan
• Sering disertai gejala pembesaran KGB tulang mis: siku,
konstitusi seperti regional punggung, bahu,
demam dan malese kepala bagian belakang
Insufisiensi Vena Kronik
 Terjadi karena kegagalan katup vena di tungkai  darah sulit kembali ke
jantung
 Faktor risiko: obesitas, DM, hipertensi, merokok, kehamilan, riwayat
DVT/stroke
 Biasanya berhubungan dengan varises (tekanan vena tungkai meningkat,
vena tampak membesar, menonjol dan berkelok-kelok)
 Gejala:
 Rasa keram, berat, atau kesemutan pada tungkai
 Nyeri tungkai yang memburuk jika berdiri dan membaik jika tungkai
dinaikkan atau berjalan
 Pembengkakan tungkai, terutama jika berdiri dalam waktu lama
 Kemerahan atau perubahan warna pada tungkai dan pergelangan kaki
 Penebalan dan pengerasan kulit pada tungkai dan pergelangan kaki
(lipodermatosklerosis)
 Luka dalam pada tungkai (ulkus stasis)/luka yang sulit sembuh pada
tungkai
 Tanda
 Leg ulcer
 Skin changes
1. Hiperpigmentasi/discoloration of the
skin
2. Dermatitis eritematosa, dapat
melepuh dan bersisik 3 1
3. Lipodermatosklerosis (inflamasi
kronik dan fibrosis pada kulit dan
jaringan subkutan)
4. Atrophie blanche (atrofi putih): area
yang atrofi berwarna putih,
terlokalisasi, bentuk sirkular. Biasanya
dikelilingi kapiler yang berdilatasi dan
hiperpigmentasi
5. Corona Phlebectasia: malleolar flare

4 2

5
80. E. NSTEMI
Keywords:
 Laki-laki 45 tahun
 Nyeri dada setelah habis berolahraga
 PF: TD: 130/90 mmHg, nadi 118x/menit
 EKG: ST depresi V5-V6, ↑ CK dan CK-MB
Perbedaan Angina Stabil dan Angina Tidak Stabil
Cukup Jelas
81. C. Ulkus dekubitus
Keywords:
 Laki-laki 45 tahun
 Luka di pantat, riwayat jatuh 2 bulan sebelumnya
 Setelah jatuh tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan
hanya terbaring di tempat tidur
 PF sakrum: luka ukuran 3x4 cm, tepi tidak beraturan,
dasar jaringan otot
Ulkus Varikosum Ulkus Arteriosum
• Ulkus pada tungkai bawah yang • Ulkus yang terjadi akibat gangguan
disebabkan gangguan aliran darah peredaran darah arteri
dalam vena • Paling sering disebabkan ateroma
• =Ulkus Venosum pembuluh darah abdomen dan tungkai
• Disebabkan paling sering akibat • Gangguan aliran darah arteri 
trombosis/tromboflebitis pembuluh jaringan iskemi  kuit bersisik, kering,
darah, kelainan katup vena, atau sianotik  gangren  ulkus
bendungan di proksimal tungkai bawah • Bentuk ulkus dalam (punched out),
• Bendungan proksimal/kerusakan katup kotor, tepi jelas. Nyeri hebat biasanya
vena  tek vena naik  edema, tek malam hari, makin nyeri saat diangkat
kapiler juga naik  purpura dan keadaan dingin
• Vena superfisial memanjang, melebar • Distal lebih dingin dari proksimal
dan berkelok-kelok  varises • Denyut nadi dorsum pedis teraba lemah
• Jaringan iskemi  nekrosis  atau sama sekali tidak teraba
dermatitis stasis
• Ulkus umumnya soliter, lokasi di atas
maleolus internus, dangkal, tertutup
jaringan nekrotik. Umumnya tidak nyeri
• Dx: flebografi (menentukan letak vena
yang terganggu)
Ulkus Dekubitus Ulkus Diabetikum
• Luka yang terjadi akibat penekanan • Ulkus yang terbentuk akibat komplikasi kronis
• Kulit mendapatkan tekanan  kurang aliran penderita DM karen kadar gula yang tidak
darah ke kulit tsb  kulit mati terkontrol
• Bagian tersering di lokasi penonjolan tulang • Wagner (1983). membagi gangren kaki
mis: siku, punggung, bahu, kepala bagian diabetik menjadi enam tingkatan, yaitu:
belakang • Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit
masih utuh dengan kemungkinan
• disertai kelainan bentuk kaki seperti “
claw,callus “.18
• Derajat I : Ulkus superfisial terbatas
pada kulit.
• Derajat II : Ulkus dalam menembus
tendon dan tulang.
• Derajat III : Abses dalam, dengan atau
tanpa osteomielitis.
• Derajat IV : Gangren jari kaki atau
bagian distal kaki dengan atau tanpa
• selulitis.
• Derajat V : Gangren seluruh kaki atau
sebagian tungkai.
82. A. Buerger disease
Keywords: mengeluh nyeri di kaki kiri yang semakin
memberat sejak tiga minggu SMRS. Selain nyeri, pasien
juga merasa kaki kanannya kadang-kadang kram.
Riwayat trauma sebelumnya disangkal oleh pasien.
Pasien memiliki riwayat merokok sejak usia 15 tahun.
Dari pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 110/70 mmHg,
nadi 90x/menit, suhu 36,7oC, napas 16xmenit,
pemeriksaan neurologis dalam batas normal, pulsasi
arteri tibialis anterior tidak teraba.
Diagnosis: Buerger disease
Tatalaksana: bedah
Dasar teori
Buerger disease/ tromboangitis obliterans:
 Penyakit oklusi kronis pembuluh darah arteri dan vena yang berukuran kecil dan sedang
 Pembuluh darah mengalami konstriksi atau obstruksi sebagian yang dikarenakan oleh inflamasi dan
bekuan sehingga mengurangi aliran darah ke jaringan.
 Penyebab: idiopatik, studi lain: ada kaitannya dengan merokok
 Gambaran klinis:

Gambaran klinis:
 Jari iskemik yang nyeri pada ekstremitas atas dan bawah
 Klaudikasio kaki
 Umumnya pria dewasa muda
 Perokok berat
 Adanya gangren yang sukar sembuh
 Riwayat tromboflebitis yang berpindah
 Tidak ada tanda (sign) arterosklerosis di tempat lain
 Yang terkena biasanya ekstremitas bawah
 Diagnosis pasti dengan patologi anatomi
 Sindrom reynauld
83. B. Defisiensi Insulin Relatif
dan Resistensi Insulin
Keyword:
 Ny. Anty, 44 tahun
 penurunan berat badan dengan cepat dalam 1 bulan
terakhir
 nafsu makannya dirasakan meningkat
 sering berkemih malam hari
 Gula darah sewaktu 275 mg/dL
84. A. Kadar hormon estrogen
menurun
Keywords:
 Perempuan 70 tahun
 Nyeri punggung tiba – tiba 1 hari SMRS setelah mendadak
berdiri dari posisi berbaring ke berdiri
 PF: TD 135/90 mmHg, HR 80x/menit, RR 24x/menit, T
afebris
 Rontgen tulang belakang: kompresi berbentuk baji pada
vertebra L3 dan L4 dan struktur vertebra porotik
 BMD: T-score -2,5
Osteoporosis
 Penyakit tulang sistemik ditandai dengan penurunan
densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur
tulang  tulang rapuh dan mudah patah
 Dibagi menjadi tipe I (pasca menopause, akibat defisiensi
estrogen) dan II (senilis, akibat gangguan absorbsi kalsium
di usus  hiperparatiroidisme sekunder)
 Estrogen merupakan regulator pertumbuhan dan
homeostasis tulang yang penting
85. E. Menghentikan semua
OAT
Kata kunci: mual dan muntah, konsumsi OAT, batu
darah 2 minggu, sklera ikterik, ronki kedua basal
paru
Diagnosis: TB paru on OAT dengan komplikasii
suspect drug induced hepatitis
Tatalaksana: hentikan pengobatan OAT dan
lakukan uji fungsi hati
Efek samping OAT dan
tatalaksananya
86. C. Agar tercukupi
kebutuhan karbohidrat dasar
Kata kunci: demam sejak 2 hari, nafsu makan
berkurang, perut kembung, nyeri perut kanan atas,
enzim hepar meningkat,
Diagnosis: hepatitis A akut
Tatalaksana: tirah baring, diet liver
Diet Hati
1.Energi Tinggi, untuk mempertahankan kadar karbohidrat atau
glukosa dalam darah yang berfungsi sebagai sumber energi utama 4. Vitamin dan Mineral, diberikan
sehingga mencegah pemecahan protein, yang diberikan bertahap sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila
sesuai dengan kemampuan pasien, ayitu 40 – 45 kkal.kgbb, . perlu, diberikan suplemen vitamin B
2. Lemak Cukup, yaitu 20 – 25% dari kebutuhan energi total, dalam kompleks, C, dan K serta mineral seng
bentuk yang mudah dicerna atau dalam bentuk emulsi.
3. Protein Agak Tinggi, yaitu 1,25 – 1,5 g/kg BB agar terjadi dan zat besi bila ada anemia.
anabolisme protein. Pada kasus hipatitis Fulminan dengan nekrosis 5. Natrium, diberikan rendah tergantung
dan gejala ensefalopati yang disertai peningkatan amoniak dalam tingkat edema dan asites. Bila pasien
darah, pemberian priteian harus dibatasi untuk mencagah koma,
yaitu sebanyak 30 – 40 g/hari. Pada sirosis hati terkompensasi, mendapat diuretika, garam natrium
proteian diberikan sebanyak 1,25 g/kg BB. Proteian nabati dapat diberikan labih luas.
memberikan keuntungan karena kandungan serat yang dapat 6. Cairan, diberikan labih dari baisa
mempercepat pengeluaran amoniak mellaui fesis. Namun, sering kecuali bila ada kontraindikasi.
timbul keluhan berupa rasa kembung dan penuh. Diet ini dapat
mengurangi status ensefalopi, tetapi tidak dapat memperbaiki
keseimbangan nitrogen.
87. A. Beri antibiotik broad
spectrum 5-7 hari
Kata kunci: nyeri perut kanan atas, demam disertai
mual dan muntah, riwayat operasi batu empedu, S
38oC, sklera ikterik, murphy sign (+), leukosit
10.000/ul.
Diagnosis: Kolangitis karena adanya TRIAS
CHARCOT yaitu demam, ikterus, nyeri perut kanan
atas.
Tatalaksana: terapi konservatif (antibiotik),
dekompresi biliaris dengan operasi
GUIDELINE TATALAKSANA
KOLANGITIS
88. B.Artesunat dan
Amodiaquin IV
Keyword:
 Tn. Bayu, 32 tahun
 Penurunan kesadaran disertai dengan kejang sejak 8 jam
yang lalu
 Sebelumnya sempat demam tinggi selama beberapa hari
disertai dengan menggigil
 PF: GCS E1V1M1 T 39.5 C
 Sclera ikterik +/+, lien teraba S III
 Lab: Hb 9.5 g/dL trombosit 70.000/ul, MCV 72 pg, MCH
25
Pada pasien ini:
 Demam + menggigil
 Ada anemia  Hb 9.5 g/dL
 Ada splenomegali  ikterik (+) Schuffner III
trombositopenia 70rb
 Penurunan kesadaran

MALARIA BERAT/DENGAN KOMPLIKASI


(P. falciparum)
MALARIA
BERAT/DENGAN
KOMPLIKASI
Tx Malaria Non Komplikasi
FALCIPARUM LINI PERTAMA
Tx Malaria Non Komplikasi
FALCIPARUM LINI KEDUA

LINI KEDUA DIBERIKAN BILA LINI PERTAMA TIDAK


EFEKTIF
• KLINIS TIDAK MEMBURUK NAMUN PARASIT
ASEKSUAL TIDAK BERKURANG (PERSISTEN)
• PARASIT ASEKSUAL TIMBUL KEMBALI
(REKRUDESENSI)
Tx Malaria Non Komplikasi
VIVAX/OVALE LINI VIVAX/OVALE LINI KEDUA
PERTAMA

CATATAN:
PRIMAKUIN TIDAK BOLEH DIBERIKAN PADA
1. IBU HAMIL
2. BAYI < 1 TAHUN
3. PENDERITA DEF G6-PD
MALARIAE
89. D. pemeriksaan darah tepi,
urinalisis, gula darah sewaktu
Keywords:
Demam tinggi dan menggigil sejak 3 hari yang lalu
Nyeri pinggang belakang, mual, muntah
Riwayat DM
Ketok CVA +
Diagnosis: pyelonefritis akut, DM tipe II
Pembahasan
Pyelonefritis akut ditandai dengan gejala panas tinggi,
suhu dapat mencapai 39-41 derajat, disertai keluhan
menggigil, sakit pinggang, nyeri ketok CVA
Diagnosis:
 Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis
 Ditemukan nya bakteri dan sel darah putih pada urinalisis
 Kultur urine
 Foto polos abdomen
 Pielografi intravena
Dengan riwayat DM pada pasien ini, diperlukan
pemeriksaan gula darah
90. A. PPI
Keyword:
 Tn. Kosmas, 38 tahun
 Dada terasa panas seperti terbakar sejak 2 minggu
terakhir
 Sering sendawa asam (+), muntah (+) kadang bercampur
darah
 Memiliki kebiasaan langsung berbaring telentang setiap
habis makan
Drug of Choice
GERD: PPI
Lama
pengobatan
minimal 4
minggu
91. A. Atrial Fibrilasi
Keyword:
 Ny. Juni, 49 tahun
 Berdebar-debar dan tidak tahan panas sejak 2 minggu
terakhir
 BB sulit naik sejak 1 bulan terakhir
 PF: benjolan kenyal yang ikut saat menelan, bruit (+), fine
tremor (+)
 Lab: FT4 ↑ TSH ↓
92. B. Kortikosteroid intravena
Kata kunci: sesak akut, berkurang dengan
salbutamol inhalasi, memiliki riwayat asma sejak
kecil, serangan siang 3x seminggu, serangan malam
3x sebulan,
Diagnosis: asma akut sedang pada asma persisten
ringan
Tatalaksana: O2, salbutamol inhalasi, steroid oral
atau sistemik, anti leukotrien,
GUIDELINE TATALAKSANA ASMA
AKUT
DI RS
93. A. Defisiensi hormon
insulin
Kata kunci: penurunan kesadaran sejak 2 hari
SMRS, luka di kaki kanannya yang tidak kunjung
sembuh dan semakin membusuk, memiliki riwayat
DM tipe 2, RR 34 x/menit dan dalam, GDS 334
mg/dl, analisis gas darah pH 7,19, PaO2 72 mmHg,
PaCO2 35 mmHg, HCO3 14 mEq/L, BE -8, satirasi O2
92%, keton dalam urin positif.
Diagnosis: Ketoasidosis Diabetikum (KAD)
(komplikasi akut DM tipe II)
Tatalaksana: O2, Rehidrasi NaCl 0,9%, Insulin
PATOFISIOLOGI DM TIPE 2
DAN KAD
94. D. Sedimen leukosit > 10
perlapang pandang besar
Keyword:
 Mery, 27 tahun
 Tidak bisa kencing sejak 5 hari (+) demam (+) nyeri perut
bawah
 PF: nyeri ketok CVA (-/-), nyeri tekan suprapubik (+)
 Lab: leu 10.200
Perbedaan
SISTITIS dan
PYELONEFRITIS
Perbedaan
terutama di:
 Demam
tinggi/tidak
(demam
subfebris)
 Lokasi nyeri
Diagnosis ISK
 Gejala Klinis + Lab
 Lab:
 Bakteri >100rbu/CFU
 Sedimen leukosit >10/LPB
Manajemen
Sistitis
95. B. Penumpukan Benda
Keton
Keyword:
 Ny. Maemunah, 71 tahun
 KU: Penurunan kesadaran
 Os merupakan penderita HT dan DM
 PF: TD 160/60 RR 36x/menit cepat dan dalam, tercium
bau manis buah dari napasnya
Napas cepat dan dalam  Kussmaul  asidosis
Bau napas manis seperti buah  bau aseton

KETOASIDOSIS
Terjadinya ketoasidosis
disebabkan penumpukan benda
keton akibat peningkatan
lipolisis
96. C. Lemak jenuh
Keyword:
 Maruto, 38 tahun
 Mengalami peningkatan berat badan yang cukup
signifikan selama sebulan terakhir
 PF: BB 75 kg TB 153 cm
 Lab: LDL 137, kolesterol total 272, HDL 30
SATURATED: lemak
jenuh (jahat)

UNSATURATED:
lemak tak jenuh
(baik)
 Linolenat: omega 3
 Linoleat: omega 6
97. A. Metformin
Keyword:
 Tn. Arif, 52 tahun
 Penderita DM sejak lama, minum OHO teratur
 Lab: Ur 45 Cr 5.7
PERBANDINGAN OHO
Metformin TIDAK BOLEH DIBERIKAN pada
1. Nilai kreatinin > 1.5 (gangguan fungsi
ginjal)
2. Gangguan fungsi hati
3. Pasien dengan kecenderungan
hipoksemia
1. Serebrovaskuler
2. Sepsis
3. CHF

Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM Tipe


II di Indonesia, PERKENI, 2011
98. C. Bone densitometri
Keyword:
 Ny. Sitohang, 57 tahun
 Nyeri pinggul yang memberat sejak 1 minggu terakhir
 Nyeri sudah dirasakan sejak 2 tahun terakhir, hilang
timbul
 Sudah menopause selama 5 tahun terakhir
 Trauma (-), ↓ BB (-), demam (-).
 PF: normal
Wanita + usia tua + nyeri pinggul +
sudah menopause  CURIGA
OSTEOPOROSIS
Osteoporosis
1. Tipe I: O. pasca-menopause; akibat
def estrogen
2. Tipe II: O. senilis; akibat gang absorbsi
kalsium di usus  hiperparatiroidisme
sekunder
PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN UNTUK DIAGNOSIS DAN
TERAPI:
BONE MINERAL DENSITY
99. A. CHF + anemia
Keyword:
 Tn. Kurdi, 63 tahun
 Sesak nafas berat sejak 7 jam SMRS + batuk berdahak warna
merah segar
 Mual muntah sejak 3 bulan terakhir (+) BAK sedikit
 Riwayat HT (+) DM (+)
 PF: TD 150/90 mmHg, HR 110x/menit RR 40x/menit cepat dan
dalam. Konjungtiva ODS anemis, JVP 5+2 cm H2O, rhonki
basah halus di kedua paru, hepar 2 jari BAC, pitting edema
(+/+)
 Lab: Hb 7.9 leukosit 10.230, trombosit 172.000, Ur 167 Cr 7.9,
Na 134 K 6.7
 Urin Lengkap: protein (++), glukosa (-)
Pendekatan
Sesak
KRITERIA FRAMINGHAM DALAM DX
CHF

Pada pasien ini:


 Batuk berdahak merah segar  mungkin TB/edema
paru
 Mual muntah + BAK sedikit  mungkin CKD
 PF: hipertensi, RR 40x cepat dan dalam  kussmaul
TANDA DAN GEJALA  curiga asidosis metabolik
CKD
 Peningkatan JVP + rhonki basah halus +
hepatomegali + edema  gejala CHF
Berbagai penyebab
asidosis metabolik
Edema paru:
 Riwayat/klinis CHF (+)
 Sesak hebat + penggunaan otot bantu napas (retraksi
intercostal) + tidak bisa telentang SAMA SEKALI (pasien
hanya bisa duduk)
 JVP naik ± batuk berwarna kemerahan (pink frothy
sputum), takipneu, takikardia, hipo/hipertensi
 Rhonki basah setengah lebih lapangan paru, wheezing ±
 Edema perifer ± akral dingin (sianosis)
Data-data pada pasien ini:
 Ada CHF  edema paru
 JVP naik + rhonki basah halus kedua lapang paru + hipertensi + hepatomegali
 Ada CKD (Ur 167, Cr 7.9)
 Anemia DISEBABKAN karena CKD-nya  defisiensi eritropoietin
 Hiperkalemia (K 6.7) karena CKD-nya
 Asidosis karena CKD-nya  renal failure  gangguan metabolisme asam 
asidosis met
 Asidosis metabolik juga MUNGKIN disebabkan DM-nya,
meskipun data tidak jelas mengarah ke KAD
 Pada pasien ini, edema disebabkan CHF + CKD
 Batuk kemerahan SEPERTINYA karena edema paru. Pada
soal tidak ada data yang mengarah ke TB paru (klinis +
riwayat TB sebelumnya)
100. A. Uji filtrasi glomerulus
Keyword:
 Tn. Parto, 59 tahun
 Lemah, mual dan muntah setiap makan sejak 1 bulan
terakhir
 BAK sedikit (+)
 Os merupakan penderita DM
 PF: KU lemah GCS 15
 Lab: Hb 14.2 Ureum 67 Kreatinin 10.1
GEJALA
CKD

Menentukan STADIUM CKD dengan MENGHITUNG


LAJU FILTRASI GLOMEROLUS
101. E. Ektima
Keywords: luka-luka di tungkai kanan, sering
bermain bola di tanah lapang tanpa alas kaki, SD:
ulkus ditutupi krusta, krusta sulit dilepas
Diagnosis: ektima
Tatalaksana: antibotik
Dasar teori
Ektima merupakan pioderma ulseratif yang disebabkan oleh
Streptococcus β-hemolyticus. Predileksi di tungkai bawah. Erat
kaitannya dengan higiene buruk. Sering pada usia muda.
Manifestasi klinis:
Awalnya berupa vesikel atau pustul di atas kulit yang eritem,
lalu pecah
Membentuk krusta tebal dan kering, sulit dilepaskan
Bila krusta terlepas, tertinggal ulkus superficial dengan
gambaran “punched out appearance” atau berbentuk cawan
dengan dasar merah dan tepi meninggi.
Pilihan lain
Impetigo: mirip dengan ektima, namun predileksi di
wajah dan dada, biasa pada anak-anak, krusta mudah
dilepaskan
Selulitis: infeksi kulit difus, batas tidak tegas, tampak
eritem dan edema, krusta (-)
Erisipelas: infeksi kulit superfisial, eritema, batas tegas
Folikulitis: infeksi pada folikel rambut, predileksi juga di
tungkai bawah, namun di tengah luka ada rambut.
102. E. H. ducreyi
Keywords :
 Keluhan luka-luka koreng pada kemaluannya yang timbul
3 hari yang lalu.
 Koreng terasa nyeri dan mudah berdarah.
 Pemeriksaan fisik didapatkan ulkus multiple, eritema,
tepi tidak rata, dasar ulkus berupa jaringan granulasi
yang mudah berdarah, indurasi (-)
Diagnosis : Ulkus Molle
Etiologi : H. ducreyi
103. A. Metronidazol
Keywords: muncul keputihan, suami mengeluh
keluhan yang sama, keputihan kuning, kental,
disertai rasa gatal dan terbakar, saat BAK terasa
nyeri
Diagnosis: trikomoniasis
Tatalaksana: metronidazol 3x500 mg selama 7 hari
atau dosis tunggal 2 gram per oral. Pasangan juga
harus diobati.
Dasar teori
Etiologi: Trichomonas
vaginalis
(parasit anaerob) Gejala dan tanda trikomoniasis:
 Dinding vagina edema, eritema, abses kecil
 Duh tubuh vagina seropurulen, kekuningan, kuning
kehijauan, bau tidak enak, berbusa
 Duh banyak  iritasi lipat paha atau sekitar genital
 Keluhan penyerta: dispareuni, perdarahan pasca koitus
atau antar masa haid
 Kasus kronik: gejala ringan, duh tubuh tidak berbusa
 Disuria
Pilihan lain
Ceftriaxon: terapi buat gonore
Azitromycin: terapi buat infeksi chlamydia
Ketokonazol: terapi buat candidiosis vulvovaginalis
Ciprofloxacin: terapi buat gonore, namun second
line
104 B. Skin prick test
KEYWORDS
Sering bersin-bersin, keluar ingus encer, dan gatal
pada hidung hingga mata
Mukosa hidung livid

Pemeriksaan penunjang ? Skin prick test


Rinitis alergi
Tes Cukit Kulit
PILIHAN LAIN
A. Patch test
 tes tempel, untuk membedakan jenis dermatitis kontak
C. Tes intradermal
 tes tuberkulin / mantoux, untuk diagnosis TB anak.
D. Tes nikolsky
 tes menilai epidermolisis, untuk membedakan SSJ dan
TEN.
E. Tes Ziehl Nielsen
 pewarnaan Basil Tahan Asam
105. D. Candida
Keywords: keputihan dengan sekret putih dan gatal, tinggal
di pemukiman kumuh dan berkerja sebagai buruh kasar, PF:
ditemukan sekret putih dan banyak bekas garukan
Diagnosis: candidiosis vulvovaginalis
Tatalaksana:
 Klotrimazol vaginal tablet 500 mg dosis tunggal
 Klotrimazol vaginal tablet 200 mg selama 3 hari
 Ketokonazol* 2 x 200 mg/hari per oral selama 5 hari
 Itrakonazol* 1 x 200 mg/hari selama 3 hari atau 2 x 200 mg
 Flukonazol* 150 mg dosis tunggal per oral
Dasar teori
Penyebab paling banyak Candida albicans (85-90%)
Manifestasi klinis:
 Duh tubuh vagina putih, kental, bergumpal
 Dapat disertai pruritus vulva, eritema, iritasi, lesi satelit

Sering dikaitkan dengan:


 Diabetes
 Kortikosteroid
 Antibiotika berulang
 Kehamilan
 Infeksi HIV
Pilihan lain
Gonococcus: penyebab gonore
Gardnerella: penyebab bakterial vaginosis
Trichomonas: penyebab trikomoniasis
HPV: penyebab herpes genital
106. A. Ulkus durum
Keywords: luka di kemaluan, riwayat berhubungan
seksual dengan PSK, PF: ditemukan ulkus soliter di
glans penis, teraba teras, tidak nyeri, dasar bersih,
tepi rata, pembesaran KGB (-)
Diagnosis: sifilis
Tatalaksana: antibiotik
Dasar teori
Sifilis adalah infeksi menular seksual
yang disebabkan oleh bakteri
spiroset Treponema pallidum. Rute
utama melalui kontak seksual.
Gejala:
Lesi primer: ulkus durum(keras,
tidak sakit, dasar bersih)
Erupsi di kulit
Ruam makulopapular di telapak
tangan dan kaki bahkan generalisata
Gejala konstitusional
107 E. Kusta MB
KEYWORDS
Bercak-bercak putih di wajah, punggung, dan
lengan kanan yang tidak nyeri
Lesi hipopigmentasi berbatas tegas, hipoanestesi,
penebalan saraf, BTA(+)

Diagnosis ? Kusta MB
PILIHAN LAIN
A. Vitiligo
B. Ptiriasis rosea
C. Pitiriasis versikolor
D. Kusta PB
108. C. Furunkel
Keywords:
bisul-bisul di pantat terasa gatal dan nyeri
peradangan folikel rambut dan sekitarnya
PF: nodus eritematosa kerucut dengan pustul di
tengahnya

Diagnosis: furunkel
Pengobatan: antibiotik topikal dan/atau oral
Folikulitis: peradangan pada folikel rambut, disebabkan
S. aureus
Furunkel: peradangan pada folikel rambut dan
sekitarnya
Karbunkel: kumpulan furunkel yang menjadi satu

Furunkel sering terjadi pada tempat yang mengalami


gesekan (aksila dan bokong), dapat juga di leher dan
kepala; berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut,
nyeri, di tengah terdaoat pustul
Erisipelas: infeksi akut epidermis dan dermis,
berupa edema, eritematosa berwarna cerah, batas
tegas, pinggirnya meninggi, disertai tanda radang
akut
Selulitis: infeksi akut serupa erisipelas yang
mengenai hingga subkutis, berupa infiltrat difus
dengan batas tidak tegas disertai tanda radang akut
Pionikia: infeksi kulit yang terjadi di sekitar kuku
Ektima: ulkus superfisial dengan krusta di atasnya,
disebabkan streptococcus b hemolyticus
109. B. Impetigo bulosa
Keywords:
Stephanie, 5 tahun lepuh-lepuh berisi nanah pada
daerah leher dan dada kanan
Pemeriksaan: bula hipopion dan coleret pada lesi.
Impetigo Bulosa
Predileksi: Ketiak, dada, punggung
Efloresensi: Eritema, bula, bula hipopion
Kadang vesikel atau bula sudah pecah  saat
pasien datang hanya tampak koleret dan dasarnya
masih eritematosa
Pilihan lain
A. Impetigo krustosa bukan bula, tetapi eritema,
vesikelpecahkrusta madu di daerah wajah sekitar
lubang hidung dan mulut
C. Impetigo neonatorum  pada neonatus, lokasi
menyeluruh, dapat disertai demam
D. Epidermolisis bulosa  penyakit bulosa kronik
diturunkan, bisa dipicu trauma. Bula jernih, kadang
hemoragik. Diagnosis: mikroskop elektron untuk melihat
taut dermoepidermal
E. Herpes zoster  umut lebih sering pada dewasa,
didahului gejala prodromal, vesikel berkelompok sesuai
dermatom
110. A. Dermatitis seboroik
Keywords: bercak kemerahan bersisik di lipatan
hidung dan alis mata, gatal, SD: patch eritem,
skuama halus, berminyak warna kekuningan,
simetris
Diagnosis: dermatitis seboroik
Tatalaksana: obat anti inflamasi,
immunomodulator, obat keratolitik, anti jamur.
Dasar teori
Dermatitis seboroik
adalah: penyakit
papuloskuamosa kronis ,
menyerang bayi dan orang
dewasa, predileksi pada
daerah tubuh dengan
aktivitas kelenjar sebasea
tinggi, seperti wajah, kulit
kepala, telinga, dan daerah
lipatan.
111. A. Azitromisin 1 gr DT
Keywords:
Laki-laki 25 tahun, nyeri bagian genital, keluar
sekret, dan kemerahan
riwayat coitus dengan PSK tanpa kondom
PF: duh serosa, tanda inflamasi di ujung penis
Lab: sel PMN > 5/lpb pada sediaan duh

Diagnosis: infeksi genital non spesifik


pada laki2 tersebut
terdapat tanda uretritis:
nyeri dan kemerahan
sekitar orifisium uretra
eksterna, disuria,
polakisuria, duh tubuh
terdapat riwayat coitus
dengan PSK tanpa
kondom: infeksi menular
seksual
pada pemeriksaan lab tidak dikatakan ditemukan bakteri kuman negatif
diplokokus (gonore), sehingga diasumsikan penyebabnya adalah
nonspesifik
 Chlamydia trachomatis (tersering), Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma
hominis, dll.

Pengobatan
 azitromisin 1 g dosis tunggal
 cotrimoksazol 2x2 tab selama 1 minggu
 spiramisin atau ofloksasin
 tetrasiklin, doksisiklin, eritromisin

Jika dianggap mix dengan gonore, diberikan:


 ciprofloksasin 500 mg hari I dilanjutkan doksisiklin 2x100 mg selama 7 hari
 azitromsin 2 g dosis tunggal
112. A. Staphylococcus Auerus
Keyword:
 An. Putri, 2 tahun
 Benjolan pada kepala dan leher sejak 5 hari yang lalu
 Benjolan bernanah, nyeri, dan sekitarnya terdapat
kemerahan
 Status dermatologikus: nodul multipel, bentuk kerucut,
terdapat pustul di tengahnya
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012

Furunkel Folikulitis
 Radang folikel rambut dan  Radang folikel rambut
sekitarnya  Etiologi: biasanya
 Lebih dari 1  karbunkel Staphylococcus aureus
 Etiologi: umumnya  Klasifikasi
Staphylococcus aureus  Folikulitis superfisialis/impetigo
 Gejala klinis Bockhart
 Predileksi di tungkai bawah
 Nyeri
 Papul atau pustul yang eritematosa, di
 Nodus eritematosa berbentuk kerucut, tengahnya terdapat rambut, biasanya
di tengahnya terdapat pustul multipel
 Tempat predileksi umumnya aksila dan  Folikulitis profunda
bokong (tempat yang banyak friksi)
 Seperti superfisialis, hanya teraba
 Terapi: antibiotik infiltrat di subkutan
topikal/sistemik  Sikosis barbe

FURUNKEL
 Terapi: Ab sistemik/topikalFOLIKULITIS
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012
113. C. Herpes Genitalis
rekurens
Keyword:
 Tn. Marsel, 45 tahun
 Bintil-bintil kecil di kemaluan, perih dan gatal
 5 bulan yang lalu, keluhan serupa juga pernah dialami
 Sebelumnya berhubungan seksual dengan seorang PSK
 Demam (+), nyeri pinggang (+)
 Status dermatologikus: vesikel multipel berkelompok di
korpus penis, sebagian tertutup pus
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012

Ulkus Mole Ulkus Durum


 Infeksi pada alat kelamin  Penyebab Treponema
 Penyebab Haemophilus pallidum (Sifilis std I)
ducreyi  Gejala klinis
 Gejala klinis  Umumnya soliter, tepi
bulat/lonjong
 Ulkus nekrotik, nyeri, sering disertai
pernanahan KGB regional  Tepi ulkus teratur, batas tegas,
dengan tanda-tanda radang negatif
 Ulkus kecil, lunak pada perabaan,
indurasi (-), berbentuk cawan,  Dinding ulkus tegak
pinggir tidak rata  Dasar ulkus bersih, warna merah
 Bergaung , dikelilingi halo yang  Isi ulkus berisi cairan serous
eritematosa  Terdapat indurasi (durum), nyeri
 Ulkus tertutup jaringan nekrotik tekan (-) (indolen)
ULKUS MOLE: multipel,  biasanya
Dasardaerah
ulkusgenital
merupakan jaringan ULKUS DURUM: soliter, tepi bulat/lonjong.
granulasi
Indurasi (-), dinding bergaung, yang
nyeri tekan (+), mudah berdarah Indurasi (+), dinding tegak, nyeri tekan (-), dasar
dasar kotor  Nyeri pada perabaan bersih
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012

Herpes Genitalis  Fase Laten


 Gejala: tidak ada
 Tipe I
 VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak
 Predileksi: Pinggang ke atas, terutama mulut aktif pada ganglion dorsalis
dan hidung
 Infeksi Rekuren
 Dapat menyebabkan herpes ensefalitis
 VHS pada ganglion dorsalis awalnya tidak
 Tipe II aktif, dengan mekanisme pacu menjadi
 Predileksi: pinggang ke bawah, terutama aktif dan mencapai kulit sehingga muncul
daerah genital gejala klinis
 Dapat menyebabkan herpes meningitis dan  Mekanisme pacu: trauma fisik (demam,
infeksi neonatus infeksi, kurang tidur, hubungan seksual,
psikis, atau makanan/minuman yang
 Berlangsung dalam 3 tingkat merangsang
 Infeksi primer  Gejala: rasa panas, gatal, dan nyeri
 Gejala:  Pemeriksaan
 Vesikel berkelompok di atas kulit yang  Ditemukannya VHS pada vesikel
sembab dan eritematosa, berisi cairan  Percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa,
jernih, kemudian menjadi seropurulen ditemukan sel datia berinti banyak dan badan
 Pada perabaan tidak terdapat indurasi inklusi intranuklear
 Kadang-kadang dapat timbul infeksi
sekunder sehingga gambaran tidak jelas
 Terapi Herpes Simpleks
 Belum ada pengobatan yang
dapat mencegah episode
rekurens secara tuntas
 Lesi dini: preparat idoksuridin
 Asiklovir topikal  mengganggu
replikasi DNA virus
 Asiklovir oral: dosis 5x200 mg
sehari selama 5 hari

Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012


114. D. Dermatitis
intertriginosa
Keywords:
gatal di bokong setiap bulan setelah selesai
menstruasi
suka menggunakan celana pendek
berobat dan keluhan membaik, dan muncul
kembali
PF: plakat dan makula hiperpigmentasi dengan tepi
papula eritema, hiperpigmentasi, erosi, ekskoriasi
gatal di bokong setiap bulan setelah selesai
menstruasi --> lembab
berobat dan keluhan membaik, dan muncul
kembali --> kronik
PF: plakat dan makula hiperpigmentasi dengan tepi
papula eritema, hiperpigmentasi, erosi, ekskoriasi -
-> lesi polimorfik, efloresensi khas dermatitis

dermatitis intertriginosa: dermatitis yang muncul


pada daerah friksi, muncul karena kelembaban
tinggi
Eritrasma: penyakit bakteri kronik pada stratum korneum,
Kandidiasis kutis: infeksi jamur candida
Tinea kruris: infeksi jamur dermatofita pada selangka, lipat paha,
perineum
Tinea korporis: infeksi jamur dermatofita pada badan, tungkai, dan
lengan

Tinea ditandai dengan lesi pinggir yang lebih aktif dan central healing
kandida ditandai dengan lesi satelit
eritrasma ditandai dengan lesi eritema dan skuama halus terutama
daerah ketiak dan lipat paha
115. E. Seluruh Tubuh kecuali
Wajah
Keyword:
 Ny. Eni, 27 tahun
 Gatal dan muncul kemerahan di sekitar rambut kemaluan
 Pekerjaan seorang PSK
 Pernah melihat kutu di rambut kemaluannya
Pedikulosis  Pubis
 Gatal di pubis dan sekitarnya, dapat
 Epidemiologi dan Penularan meluas ke abdomen dan dada 
 Kapitis: Benda perantara (sisir, bantal, bercak-bercak abu-abu/kebiruan
kasur, topi) (macula serulae)
 Korporis: jarang mandi/ganti pakaian  Kutu dapat dilihat mata biasa, sulit
dilepaskan
 Pubis: termasuk PHS (Penyakit Hub.
Seksual), sering menyerang jenggot dan  Black dot appearance: bercak-bercak
kumis. Pada anak-anak sering menyerang hitam pada celana dalam warna putih,
alis/bulu mata terlihat sehabis bangun tidur (krusta dari
darah)
 Gejala Klinis  Diagnosis
 Kapitis
 Mencari telur atau bentuk dewasa
 Gatal di oksiput dan temporal, dapat
meluas ke seluruh kepala
 Garukan  erosi, ekskoriasi, infeksi
sekunder (pus, krusta)
 Korporis
 Bekas garukan (+)
 Infeksi sekunder dengan pembengkakan
KGB regional
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012
 Pengobatan  Pubis
 Kapitis  SAMA DENGAN KORPORIS
 Malathion 0.5% atau 1% secara  Rambut kemaluan dicukur
topikal dalam bentuk losio/spray   Pakaian dalam direbus/disetrika
dapat diulangi seminggu kemudian  Mitra seksual diperiksa dan diobati
 Gameksan 1%: oleskan  diamkan 12 juga
jam  cuci  serit. Dapat diulang
seminggu kemudian
 Rambut dicukur
 Korporis
 Gameksan 1% dioleskan tipis di
SELURUH TUBUH  diamkan 24 jam
 mandi. Dapat diulang 4 hari
kemudian
 Emulsi benzil benzoat 25%
 Bubuk malathion 2%
 Pakaian direbus dan disetrika
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012
 Pemeriksaan langsung sediaan basah dengan mikroskop
 Pembesaran 10x10  10x45
 Letakkan bahan di atas gelas alas, lalu ditambahkan 1-2 tetes larutan KOH
 Rambut: KOH 10%
 Kulit dan kuku: KOH 20%
 Hasil pemeriksaan
 Kulit dan kuku
 Hifa (dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang)
 Artrospora  pada kelainan kulit lama/sudah diobati
 Rambut
 Spora kecil/mikrospora atau spora besar/makrospora
 Eksotriks atau endotriks

 PEMERIKSAAN BIAKAN
 Menggunakan medium agar dekstrosa Sabouraud + antibiotik (kloramfenikol ±
klorheksimid)
Sumber: ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, 2012
116.A. Hifema
Keywords:
Laki-laki, 27 tahun
visus OD  setelah terkena kock kemarin
PF OD: Ada hematom palpebra, perdarahan
subkonjungtiva, bilik mata depan penuh. Sklera dan
iris sulit dinilai. Pupil membayang.
Penyebab penurunan penglihatan?
Hifema
= bilik mata depan (antara kornea dan
iris) terisi darah --> dapat menurunkan
penglihatan

= akibat trauma tumpul yang merobek


pembuluh darah iris / badan siliar dan
bercampur dengan aqueous humor
117.D. Keratitis
Keywords:
Laki-laki, 20 tahun
Terkena percikan las
Nyeri kedua mata, merasa perih & silau
Pemeriksaan ODS: injeksi silier (+), visus , luka
bagian hitam bola mata. Fluoresen test (+).
Diagnosis?
Anatomi Mata
Keratitis
Peradangan/inflamasi bagian kornea mata
Kornea = bagian hitam bola mata = “jendela” mata
Klinis: mata merah visus turun, nyeri, fotofobia,
mata berair
Akibat infeksi atau trauma
118.B. Tes Ishihara
Keywords:
Laki-laki, 22 tahun
Hanya dapat melihat warna hitam-putih

Pemeriksaan?

Ishihara test  untuk pemeriksaan buta warna


119.D. Pterygium grade IV
Keywords:
Laki-laki, 52 tahun
Mata merah, rasa mengganjal, penglihatan buram.
Ada jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga
dengan apeks jaringan menutupi pupil
Pekerjaan: nelayan
VOD 20/60 ph (-), VOS 20/30 ph 20/20
Diagnosis?
Pterygium
Grade Secara Klinis
I terbatas pada limbus kornea
II sudah melewati tepi limbus kornea, tapi < 2 mm
III udah melewati tepi limbus > 2 mm, tapi tidak melewati pinggiran pupil
dalam keadaan cahaya normal (Ø pupil 3-4 mm)
IV sudah melewati pupil sehingga sudah ada gangguan penglihatan
120 A. Miopia sedang
KEYWORDS
Mata kanan buram
Riwayat DM
Visus kedua mata 6/60 dikoreksi dengan lensa
sferis -2,50 didapat visus 6/24
Gula darah pasien saat itu 187.

Diagnosis ? Miopia sedang


DEFINISI
PEMBAHASAN
Pada pasien dijumpai riwayat DM, ada
kemungkinan penyakit DM pasien memicu
kekeruhan lensa  perubahan daya refraksi lensa
 miopia refraktif. Namun, GDS pasien saat ini <
200  sudah terkontrol. Selain itu, di soal tidak
disebut kata kunci yang mengarah ke katarak DM.
Pada pemeriksaan kedua mata 6/60 dikoreksi
dengan lensa sferis -2,50 didapat visus 6/24, masih
belum terkoreksi. Jadi, kemungkinan besar perlu
lensa > -3,00 D  miopia sedang.
121. D. Iridosiklitis
Mata merah dengan pandangan kabur
Tidak keluar kotoron, mata silau
Injeksi siliar, keratic presipitate, tyndall effect
Pembahasan
Iridocyclitis atau uveitis posterior
merupakan peradangan pada
traktus uvea yang melibatkan iris
dan vadan siliar
Paling sering disebabkan oleh
suatu proses imunologi, seperti
pada pasien ankylosing spondilitis,
rheumatoid disease
Gejala klinis: nyeri tumpul pada
mata atau kepala bagian depan,
gangguan penglihatan, fotofobia,
dan ephipora (excessive tearing)
Tanda klinis: injeksi siliar,
ditemukannya keratic precipitate
dengan tyndal effect (+)
 Glaukoma sudut terbuka

Katarak insipient tidak ditemukan mata merah, di usia tua


Keratokonjunctivits  disebabkan oleh mata kering
Retinopati diabetikum  pasien memiliki riwayat DM, pada
kasus tidak disebutkan
122. A. Merujuk pasien ke
rumah sakit
Keywords:
 Mata merah dengan pandangan buram
 AVOD 1/60 tidak dapat koreksi
 Terdapat hifema dan segmen posterior sulit dinilai
Diagnosis:
 Trauma Ocular
Pembahasan
Penyakit ini termasuk ke dalam kelompok  MATA
MERAH DENGAN PENURUNAN VISUS
Setiap keadaan dengan kelompok kasus ini adalah
keadaan emergency pada mata karena mengancam
hilangnya fungsi penglihatan seseorang
Kondisi trauma ocular adalah salah satu keadaan
emergency yang harus segera dibawa ke fasilitas
kesehatan tingkat kedua, yaitu Rumah Sakit
Memberi obat tetes mata anti glukoma  tidak sesuai,
karena pada kasus ini penyebab mata merah dengan visus
yang menurun adalah trauma pada mata tersebut, bukan
karena peningkatan tekanan intra ocular
Memberi obat tetes mata antibiotik  tidak sesuai, karena
bukan akibat infeksi bakteri
Melakukan irigasi pada permukaan bola mata  tidak
sesuai, irigasi biasanya dilakukan pada kasus-kasus trauma
kimia pada mata
Melakukan pemeriksaan laboratorium darah tepi  bukan
merupakan pertolongan pertama pada keadaan emergency
mata, dapat dilakukan kemudia setelah keadaan emergency
teratasi
123 B. Compound astigmat
miop
KEYWORDS
Tidak bisa melihat tulisan di papan tulis.
Riwayat trauma disangkal
VOD S-1,50 C-0,50 A 90° VOS S-1,25 C-0,25 A 180°.

Diagnosis? Compound astigmat miop


TIPE ASTIGMATISME
PEMBAHASAN
Simplex astigmat miop
 Titik bayangan jatuh di depan retina dan pada retina. Ditolong
dengan lensa C (-)
Simplex astigmat hipermetrop
 Titik bayangan jatuh di belakang retina dan pada retina. Ditolong
dengan lensa C (+)
Compound astigmat miop
 Kedua titik bayangan jatuh di depan retina. Ditolong dengan lensa C
(-) dan S (-)
Compound astigmat hipermetrop
 Kedua titik bayangan jatuh di belakang retina. Ditolong dengan lensa
C (+) dan S (+).
Astigmat mixtus
 Titik bayangan jatuh di depan retina dan di belakang retina. Ditolong
dengan lensa kombinasi.
124. D. Menggunakan
cotton buds
Keyword:
Anak perempuan, 11 tahun
mata kemasukan benda asing (semacam sayap
serangga)
mata sudah diirigasi  tetap tidak bisa terlepas
Korpus Alienum Intraokular
Untuk menyingkirkan benda asing di konjungtiva
(menempel di bagian depan, tidak menembus ke
dalam):
Anestesi topikal
Gunakan cotton-tipped applicator atau jarum 30
gauge (usahkan menghindari yang
tajam/traumatik)
Berikan antibiotik topikal
125 A. Staphylococcus aureus
KEYWORDS
Bengkak dan terdapat benjolan pada kelopak mata
kanan
Massa noduler berwarna kemerahan pada tepi
kelopak mata, konsistensi lunak dan disertai nyeri.

Mikroorganisme penyebab ? Staphylococcus aureus


126. A. Elevasi kepala 30o
Keywords :
Pasien, usia 24 tahun  tidak sadarkan diri akibat
kecelakaan lalu lintas
PF : TD 170/80 mmHg, Nadi 72x/menit, RR
24x/menit, pupil anisokor, refleks cahaya langsung
negatif pada mata kiri dan positif pada mata kanan,
hemiparese pada sisi tubuh sebelah kiri

Tindakan awal : Elevasi kepala 30o


Peningkatan TIK
Hukum Monroe Kelli : kandungan intracranial
ditentukan oleh 3 komponen, yaitu jaringan otak,
system vascular, CSF  jika salah satu meningkat
 TIK meningkat
Etiologi : massa serebral / ekstraserebral, edema
otak difus, obstruksi aliran dan absorpsi CSF, dsb
Tanda Peningkatan TIK
Sakit kepala
Muntah proyektil (tidak didahului mual)
Perubahan kesadaran
Gelisah, iritabilitas, letargi
Perubahan tanda vital  Cushing triad : TD sistolik ↑,
bradikardi (muncul belakangan), pola napas iregular
(late sign), suhu ↑, ocular sign (pelebaran pupil ec
tekanan N.III, reflex pupil melambat dan anisokor)
Penurunan fungsi motorik  hemiparesis atau
hemiplegia, dekortikasi, deserebrasi
Pada pasien ini, tanda peningkatan TIK  tidak sadarkan
diri, TD 170/80 mmHg, pupil anisokor, hemiparese
Penyebab peningkatan TIK : suspek perdarahan
intrakranial yang menimbulkan efek SOL (Space
Occupying Lesion)  o/k ditemukan tanda refleks cahaya
langsung negatif pada mata kiri dan positif pada mata
kanan, serta hemiparese pada sisi tubuh sebelah kiri
Tata Laksana Peningkatan TIK
Tata Laksana Umum
Elevasi kepala 30o untuk menurunkan tekanan
intratorakal dan memperbaiki venous return (drainase vena
jugularis)
Mengusahakan TD optimal
Mengatasi kejang yang terjadi
Mengatasi rasa nyeri
Menjaga suhu tubuh normal
Koreksi kelainan metabolic dan elektrolit
Atasi hipoksia
Tata Laksana Peningkatan TIK
Tata Laksana Khusus
Mengurangi efek massa  tindakan pembedahan
Mengurangi edema dan volume cairan interstitial
 manitol 20% atau deksametason
127. D. Lesi pada persarafan
parasimpatis
Keywords:
Laki2 35 tahun terdapat luka tusuk di punggung
bagian bawah sejak 1 jam
anamnesis dan PF mengarah pada lesi kauda
ekuina
terdapat inkontinensia urin, penyebab
inkontinensia urin?
persarafan pada buli
dan sfingter interna

Faal berkemih:
- persarafan simpatik berfungsi untuk
relaksasi buli

- persarafan parasimpatik berfungsi


untuk kontraksi buli dan kontraksi
sfingter eksternal

Jika terdapat lesi pada parasimpatik,


maka sfingter tidak dapat kontraksi -->
inkontinensia urin
128. D. Kejang Umum Klonik
Keywords :
Pasien, usia 40 tahun  kejang 30 menit yang lalu
Kejang  Mata mendelik ke atas, leher menoleh ke
kanan, lidah tergigit, dan mulut berbusa, tangan dan
kaki tersentak-sentak
Teman-teman pasien tidak mengetahui keadaan pasien
sebelum kejang
Pada PF umum dan neurologi dalam batas normal

Tipe kejang : kejang umum klonik


Epilepsi
Epilepsi Umum Epilepsi Parsial

• Absans • Parsial sederhana


• Tonik • Parsial kompleks
• Klonik • Secondary generalized
• Tonik klonik
• Mioklonik
• Atonik
Epilepsi umum
Tonik  tonus – tonus otot meningkat (kaku)
Klonik  kelojotan / menghentak - hentak
Tonik klonik (grand mal)  gambaran kejang tonik
yang kemudian dilanjutkan gambaran klonik
Mioklonik  gerakan menghentak pada otot tertentu,
tiba – tiba melempar barang
Atonik  pasien tiba – tiba jatuh
Absans  melamun / bengong beberapa detik,
automatisme (+), kegiatan motoric berhenti, penderita
diam tanpa reaksi
Epilepsi Parsial Sederhana  perubahan kesadaran (-),
awalnya kejang fokal lalu menyebar di sisi yang sama,
Parsial kepala menengok ke arah sisi tubuh yang kejang

Parsial Kompleks  kejang fokal disertai dengan


terganggunya kesadaran, automatisme (+), kejang
parsial sederhana yang disertai gangguan kesadaran

Secondary Generalized  kejang parsial kemudian


menjadi kejang umum (kejang umum bersifat tonik
klonik)
129. D. Sindrom Guillain Barre
Keywords :
Pasien, usia 25 tahun  sesak napas sejak 4 hari yang lalu
Dua minggu yang lalu pasien mengeluh demam dan infeksi saluran
pernapasan atas
Satu minggu terakhir ini, pasien merasa lemah pada kedua tangan dan
kaki  awalnya pada ujung jari tangan dan kaki lalu menyebar sampai
siku tangan dan lutut kaki  Ascending paralysis
PF : kelemahan flaksid keempat ekstremitas dan kekuatan otot
menghilang
Lab : CSF  protein 600mg/dl dan leukosit 0-2 per lapang pandang

Diagnosis : Guillain Barre Syndrome


Guillain Barre Syndrome
Patogenesis : demielinisasi serabut saraf perifer yang
disebabkan autoimun
Gejala klinis :
Ascending paralysis  dimulai dari ekstremitas bawah
kemudian ke ekstremitas atas. Bisa sampai pada paresis
pernafasan
Terkait riwayat infeksi sebelumnya (biasanya oleh C.jejuni) 
timbul reaksi autoimun akibat kemiripan antigen (mimikri)
Lab : peningkatan protein pada CSF tetapi jumlah sel tetap
(disosiasi albuminositologik)
Tatalaksana : plasmaferesis atau IVIG
130. A. Terjepitnya Saraf Leher
Keywords :
Pasien, usia 52 tahun  nyeri nyeri dirasakan menjalar
dari leher sampai siku kanannya sejak 3 hari lalu
Keluhan lebih terasa saat pasien kelelahan
Pasien sehari-hari bekerja mengangkat barang di pasar

Penyebab gangguan pada pasien : terjepitnya saraf


leher  cervical root syndrome
Cervical Root Syndrome
Definisi : kumpulan gejala yang disebabkan oleh iritasi atau
kompresi dari akar saraf cervical yang akan menimbulkan
nyeri, ngilu, kesemutan, kram-kram serta rasa tidak enak
pada leher bagian belakang dan bisa menjalar ke bahu,
lengan atas dan lengan bawah tergantung dari akar mana
yang terkena
Etiologi : proses inflamasi akibat kompresi akar saraf
cervical (kompresi terjadi o/k herniasi diskus, perubahan
degenerative foramen saraf, atau kombinasi keduanya)
PF : tes spurling (+)
Terapi : Analgetik , Muscle relaxant, Transquilizer, dan
Neuroroborantia
Tes Spurling
Tes Spurling (+)  ketiga tahap penekanan kepala
menimbulkan nyeri yang menjalar sampai siku
131. B. Sensorik, Motorik, Tes
Laseque
Keywords :
Pasien, usia 60 tahun  nyeri pada punggung bawah
yang menjalar ke paha
Nyeri bertambah saat menunduk dan mengangkat
benda berat

Diagnosis : HNP
Pemeriksaan yang dibutuhkan : pemeriksaan sensorik,
motoric, dan tes Laseque
HNP (Herniated Nucleus
Pulposus)
HNP : nucleus pulposus yang
tadinya dilingkupi anulus
mengalami bulging atau
hernia melewati annulus
menuju kanalis spinalis
(biasanya di lokasi
posterolateral intervertebral)
 memicu pelepasan
mediator inflamasi  nyeri
Etiologi : degenerasi anulus
fibrosus, trauma, cedera
akibat mengangkat benda
berat
Pemeriksaan HNP
Sensorik  dermatomal numbness examination
Motorik  ROM (Range of Motion) regio lumbar
Neurologi :
Weakness, reflex change
Tes Laseque  pada HNP hasil tes Laseque (+)  nyeri
(+) saat manuver
132. D. Amitriptyline
Keywords :
Pasien, usia 20 tahun  sakit kepala sejak 2 tahun yang lalu
Sakit kepala dirasakan pada sebelah kanan terkadang juga kiri, sangat
nyeri dan berdenyut, disertai mual muntah
Nyeri bertambah jika melihat sinar dan mendengar suara berisik
Terjadi 10-12 jam perhari  sering mengganggu aktivitas
Dokter akan memberikan terapi untuk mencegah kekambuhan sakit
kepala pasien

Diagnosis : Migrain
Terapi : Amitriptyline
Tension Type Headache Migrain Cluster Headache
(TTH)
Lokasi di kepala Bilateral Unilateral Bilateral
Sensasi Seperti diikat Berdenyut Seperti ditusuk-tusuk
Intensitas Ringan - sedang Sedang - berat Sangat berat
Mual +/- + -
Muntah - + -
Fotofobia - + -
Fonofobia - + -
Memberat dengan - + -
aktivitas
Aura - Classic migrain  aura -
(+)
Common migrain  aura
(-)
Penyerta Injeksi konjungtiva,
lakrimasi, rinore,
perpirasi pada sisi wajah
ipsilateral
Terapi Migrain
Terapi migrain : terapi abortif / definitif dan terapi profilaksis / preventif

1) Terapi Abortif / Definitif


Untuk terapi serangan akut
Terapi non spesifik : NSAID, antiemetik
Terapi spesifik : Golongan triptan (cth : Sumatriptan), ergotamine (gol.ergot sudah
jarang dipakai)
Terapi awal : analgetik (asetaminofen, NSAID), jika tidak mempan pakai
gol.triptan
Gol.triptan  pemakaian terbatas untuk 2-3 hari / minggu untuk mencegah
rebound headache phenomenon  sehingga hanya digunakan untuk saat
akut, tidak bisa digunakan menetap
Terapi Abortif / Definitif
Moderate Severe Extremely Severe
NSAIDs Naratriptan DHE (IV)
Isometheptene Rizatriptan Opioids
Ergotamine Sumatriptan (SC,NS) Dopamine antagonists
Naratriptan Zolmitriptan
Rizatriptan Almotriptan
Sumatriptan Frovatriptan
Zolmitriptan Eletriptan
Almotriptan DHE (NS/IM)
Frovatriptan Ergotamine
Eletriptan Dopamine antagonists
Dopamine antagonists
DHE=Dihydroergotamine; NSAIDs=nonsteroidal anti-inflammatory drugs
2) Terapi Profilaksis / Preventif

Indikasi terapi profilaksis :


 Frekuensi migrain > 2x/bulan
 Durasi serangan >24 jam
 Serangan migrain mengganggu lifestyle pasien  disabilitas signifikan ≥ 3 hari
 Terapi abortif/definitif gagal atau overused
 Penggunaan terapi abortif/definitif > 2x/minggu

Tujuan terapi profilaksis :


 Mengurangi frekuensi serangan, keparahan, dan durasi serangan
 Meningkatkan respons terapi saat serangan akut
 Menurunkan disabilitas

Terapi profilaksis : antidepresan trisiklik (cth : Amitriptyline), beta


blocker (cth : propranolol), asam valproat
133 C. Meningoensefalitis
KEYWORDS
 Sulit dibangunkan
 Sulit diajak berkomunikasi sejak 1 minggu.
 Riwayat minum obat TB hanya 3 bulan saja
 Kaku kuduk (+) babinski (+/+) kejang (+).

Diagnosis ? Meningoensefalitis
Washingtong manual therapy
PEMBAHASAN
Pada pasien dijumpai riwayat minum obat TB yang
tidak adekuat, sehingga dicurigai telah terjadi
penyebaran kuman ke meninges. Hal ini dibuktikan
dengan adanya kaku kuduk (+).
Namun, pada pasien juga dijumpai kejang,
penurunan kesadaran sehingga dicurigai infeksi
telah meluas ke parenkim otak.
Oleh karena itu, diagnosis yang tepat :
meningoensefalitis TB.
134 E. Mild Cognitive
Impairment
KEYWORDS
 Laki-laki 60 tahun dengan keluhan gangguan
mengingat
 Sering lupa kalau pasien sudah mandi dan makan.
 Pemeriksaan lain normal

Diagnosis? Mild Cognitive Impairment


PEMBAHASAN
Pada pasien hanya dijumpai gangguan memori,
sedangkan hasil pemeriksaan lain dalam batas
normal  pasien baru di tahap predemensia (mild
cognitive impairment).
Bila gangguan kognitif meluas, disertai gangguan
fungsi (hendaya), pasien dapat dikategorikan
demensia.
PILIHAN LAIN
C. Amnesia
 gangguan mengingat , biasanya terkait trauma
D. Paramnesia
 de javu, ingatan palsu
135. E. Absans Umum
Keywords :
•Pasien, usia 8 tahun  sering bengong disertai
mata berkedip-kedip sejak 5 bulan yang lalu
•Keluhan tiba – tiba, durasi sekitar 10 – 15 detik
•Setelah tersadar dari bengong, pasien beraktivitas
seperti tidak terjadi apa – apa

Diagnosis : absans umum


Klasifikasi Epilepsi
Epilepsi Umum Epilepsi Parsial

• Absans • Parsial sederhana


• Tonik • Parsial kompleks
• Klonik • Secondary generalized
• Tonik klonik
• Mioklonik
• Atonik
Absans / Petit Mal / Lena
•Absans  melamun / bengong beberapa detik,
automatisme (+), kegiatan motoric berhenti,
penderita diam tanpa reaksi

•Klasifikasi absans :
Absans umum / tipikal  setelah serangan, pasien
beraktivitas seperti tidak terjadi apa - apa
Absans atipikal  setelah serangan, pasien bingung
Epilepsi umum lainnya
•Tonik  tonus – tonus otot meningkat (kaku)
•Klonik  kelojotan / menghentak - hentak
•Tonik klonik (grand mal)  gambaran kejang tonik
yang kemudian dilanjutkan gambaran klonik
•Mioklonik  gerakan menghentak pada otot
tertentu, tiba – tiba melempar barang
•Atonik  pasien tiba – tiba jatuh
Parsial Sederhana  perubahan kesadaran (-), awalnya
Epilepsi kejang fokal lalu menyebar di sisi yang sama, kepala
Parsial menengok ke arah sisi tubuh yang kejang

Parsial Kompleks  kejang fokal disertai dengan


terganggunya kesadaran, automatisme (+)

Secondary Generalized  kejang parsial kemudian menjadi


kejang umum (kejang umum bersifat tonik klonik)
136. D. Meniere’s Disease
Keywords :
•Pasien, usia 47 tahun  pusing berputar, telinga
berdenging dan penurunan pendengaran sejak 2
bulan yang lalu

Diagnosis : Meniere’s disease


Vertigo
Vertigo Sentral Vertigo Perifer

• Onset gradual • Onset mendadak /


• Intensitas serangan rendah, serangan mendadak
mual (-), muntah (-) • Serangan hebat, mual (+),
• Ada riwayat hipertensi, ggn. muntah (+)
Serebrovaskular, ggn. • Keluhan telinga (+) 
Keseimbangan dan tinitus, penurunan
koordinasi pendengaran, dsb
Meniere’s Disease
•Patofisiologi : tekanan system endolimfatik telinga
dalam yang meningkat
•Gejala klinis 
Trias Meniere’s disease :
Vertigo
Tinitus
Penurunan pendengaran
•Termasuk dalam vertigo perifer
•Terapi : beta histin, diazepam, bedah
Pilihan lain
•Labirinitis  komplikasi dari otitis media atau
meningitis, gejala berupa adanya gangguan
pendengaran dan gangguan keseimbangan
•Neuritis vestibularis  vertigo terjadi secara
mendadak dan tanpa pencetus, pendengaran
normal
137. A. E2 V4 M5
Keywords :
•Pasien penurunan kesadaran
•Pemeriksaan GCS  pasien membuka mata
dengan rangsang nyeri, dapat menampik tangan
pemeriksa saat diberi rangsangan nyeri, dan
bicaranya melantur

Nilai GCS : 11  E2 V4 M5
138. C. Brudzinsky dan Kernig
Keywords:
 Laki-laki 20 tahun
 Penurunan kesadaran
 Sebelumnya mengeluh nyeri kepala
 Riwayat mastoiditis (+), sudah disarankan operasi namun
os menolak
 PF status neurologi: GCS E3M5V4, TD 120/80, HR
90x/menit, RR 20x/menit, T 36,9°C
Pemeriksaan Tanda Rangsang Meningeal

Kernig • Pasien berbaring lurus di tempat tidur, lalu difleksikan pahanya pada
sendi panggul sampai membuat sudut 90 derajat. Setelah itu tungkai
bawah diekstensikan pada persendian lutut
• Kesan: Kerniq (+) = Bila terdapat tahanan dan rasa nyeri sebelum
tercapai sudut 135̊ derajat
Brudzinsky I • Pasien berbaring di tempat tidur. Dengan tangan yang ditempatkan di
bawah kepala pasien yang sedang berbaring, kita tekukkan kepala
sejauh mungkin sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satunya
lagi sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk mencegah
diangkatnya badan
• Kesan: Brudzinsky I (+) ditemukan fleksi pada kedua tungkai
Brudzinsky II • Pasien berbaring di tempat tidur. Satu tungkai difleksikan pada sendi
panggul, sedang tungkai yang satu lagi berada dalam keadaan lurus.
• Kesan: Brudzinsky II (+) ditemukan tungkai yang satu ikut pula fleksi,
tapi perhatikan apakah ada kelumpuhan pada tungkai.
Geelsman?
Trommer • Bagian dari Releks Patologis
• Tangan penderita kita pegang pada pergelangan dan jari-jarinya
disuruh fleksi-entengkan. Kemudian jari tengah penderita kita jepit di
antara telunjuk dan jari-tengah kita. Dengan ibu-jari kita "gores-kuat"
(snap) ujung jari tengah penderita
• Positif bila fleksi jari telunjuk, serta fleksi dan aduksi ibu jari
Laseque • Menunjukkan diagnosis HNP
(Straight leg • Pasien berbaring lurus, lakukan ekstensi pada kedua tungkai.
raise) test Kemudian salah satu tungkai diangkat lurus, difleksikan pada sendi
panggul. Tungkai yang satu lagi harus berada dalam keadaan
ekstensi/lurus
• Kesan: Laseq (+): bila timbul rasa sakit atau tahanan sebelum
mencapai 70 derajat
139. A. Nyeri kepala
Keywords:
 Laki-laki 50 tahun
 Nyeri kepala hebat
 Muntah (+)
 PF: TD: 130/80 mmHg, HR 120x/menit, RR 20x/menit, T
37.8oC, kaku kuduk positif
 CT Scan: pendarahan subarachnoid (+)
Perdarahan Subarachnoid
 Pendarahan ke dalam ruang (ruang subarachnoid)
diantara lapisan dalam (pia mater) dan lapisan tengah
(arachnoid mater) para jaringan yang melindungan otak
(meninges)
 Salah satu bentuk kegawatdaruratan neurologi
 Umumnya disebabkan pecahnya aneurisma (70%-80%)
dan malformasi arteriovenosa/AVM (5-10%)
 Aneurisma paling sering ditemukan pada percabangan
arteri, dimana tekanan pulsasi maksimal
 Gejala:
 Nyeri kepala sangat hebat, sering disertai mual muntah fotofobia
 Dapat disertai gejala neurologis akut fokal maupun global
 PF:
 Kaku kuduk ditemukan (+) pada 70% kasus
 Dapat terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial
 Penunjang:
 CT Scan tanpa kontras  gold standard (sensitivitas
mendekati 100%), paling baik dilakukan pada 12 jam pertama
saat serangan
 Pungsi lumbal  jika hasil CT Scan (-). Hasil pungsi lumbal
yang mendukung:
 Eritrosit (+), xantokromia (+)
 CT angiografi
 Terapi
 Identifikasi sumber perdarahan
 Rawat ruang ICU, observasi ketat hemodinamik
 Analgesik
 Labetalol/nicardipin IV bila ada hipertensi
 Aneurisma (+): operasi
 Manajemen komplikasi
140. B. Nyeri Neuropatik
Keywords:
 Laki-laki 45 tahun
 Tidak bisa tidur sejak 6 hari karena nyerinya
 Dua minggu yg lalu pasien merasakan nyeri dan panas
pada dada dan punggung kanan, kemudian muncul bintil-
bintil berisi air pada tempat yang sama
 Seminggu kemudian bintil-bintil mengering, namun rasa
nyeri masih ada
 Sangat kesakitan bila memakai baju
 PF dbn, nyeri hebat saat lesi disentuh (+)
Herpes Zoster
 Disebabkan varicella-zoster yang reaktivasi setelah infeksi
primer varicella
 Berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan
ganglion kranialis
 Kelainan kulit berlokasi setingkat persarafan ganglion
(dermatom)
 Daerah paling sering terkena regio torakal
 Gejala:
 Prodromal sistemik: muncul sebelum ada kelainan kulit (demam, pusing,
malaise)
 Prodromal lokal (nyeri otot, gatal, pegal)
 Lesi kulit: eritema  vesikel berkelompok dengan dasar kulit eritematosa
dan edema
 Pembesaran KGB regional kadang ditemukan
 Neuralgia pascaherpetik: nyeri pada daerah bekas penyembuhan >1 bulan
setelah dinyatakan sembuh
Herpes Zoster Oftalmikus:
 Infeksi cabang pertama nervus trigeminus
Sindrom Ramsay Hunt
 Salah satu komplikasi dari Herpes Zoster
 Gangguan nervus fasialis dan otikus
 Gejala:
 Bell’s Palsy
 Kelainan kulit sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo, gangguan
pendengaran, nistagmus, nausea dan gangguan pengecapan
Nyeri Nosiseptif Nyeri yang terjadi akibat adanya stimulus mekanik, kimiawi, termis,
elektrik, iskemik maupun infark terhadap nosiseptor atau reseptor
nyeri perifer. Nosiseptor merupakan elemen sensoris yang
berfungsi untuk mengirimkan sinyal ke susunan saraf pusat (SSP)
Nyeri Neuropatik Nyeri neuropatik adalah nyeri yang berhubungan dengan lesi yang
terjadi pada serabut saraf, yang letak kerusakan atau gangguannya
bisa terjadi baik pada selaput pembungkus saraf maupun pada
serabut sarafnya
Nyeri Inflamasi Nyeri oleh karena stimuli yang sangat kuat sehingga merusak
jaringan. Jaringan yang dirusak mengalami inflamasi dan
menyebabkan fungsi berbagai komponen nosiseptif berubah
Kebanyakan pasien mengeluhkan nyeri bila jaringan atau organ
yang berlesi
Nyeri Traumatik Nyeri yang terjadi akibat trauma
Nyeri Phantom Nyeri pada salah satu organ tubuh yang sebenarnya sudah tidak
dimiliki oleh orang tersebut. Misal: nyeri dari kaki kiri, padahal kaki
kirinya sudah diamputasi
141. E. Pasang infus 2 jalur
dan resusitasi cairan
Keywords:
Perempuan 35 tahun perdarahan dari vagina 6 jam lalu
TD 70/50, nadi 128, RR 28, suhu 36,8
palpasi uterus di umbilicus kontraksi lemah
periksa dalam: tampak perdarahan jalan lahir, plasenta lepas
sebagian

Diagnosis: solusio plasenta


Tatalaksana awal: SC; jika terdapat tanda syok, amankan ABC
Perempuan 35 tahun perdarahan dari vagina 6 jam
lalu, palpasi uterus di umbilicus --> usia kehamilan
sekitar 24 minggu (hamil tua, > 20 minggu)
TD 70/50, nadi 128, RR 28, suhu 36,8 --> tanda
syok
kontraksi uterus lemah; periksa dalam: tampak
perdarahan jalan lahir, plasenta lepas sebagian
Pasien didiagnosis solusio plasenta
Terdapat tanda syok --> atasi syok segera
Perdarahan pada kehamilan tua > 20 minggu yaitu
 solusio plasenta
 plasenta previa: plasenta terimplantasi dekat atau pada
ostium serviks interna; klinis: perdarahan tanpa nyeri
 vasa previa: kondisi pembuluh darah janin berada dalam
selaput ketuban dan melewati ostium uteri internum
untuk mencapai insersinya di tali pusat; klinis tidak ada,
ditemukan dengan USG
Solusio plasenta: lepasnya plasenta, sehingga
perdaharan tersimpan dalam kavum uteri,
termasuk kondisi emergensi
klinis: nyeri abdomen, perdarahan vagina pada
80% kasus, kontraksi abnormal, terdapat bagian
janin yang tidak teraba, ibu seringkali syok
Tatalaksana:
 amankan ABC, atasi syok
 SC; dapat per vaginam jika derajat pemisahan plasenta
sedikit serta hasil CTG reassuring atau derajat pemisahan
luas, tapi janin sudah meninggal
142. A. Swab vagina
Keyword:
Perempuan, 35 tahun
keputihan berbau 3 hari
OUE tertutup, portio livide, fluor (+) warna
kehijauan.
Portio livid (kebiruan)  tanda hipervaskularisasi =
tanda Chadwick, merupakan tanda dugaan kehamilan

Pada kehamilan awal (trimester 1) para ibu seringkali


mengalami keputihan (bisa karena hormonal maupun
infeksi)

Dapat dilakukan pemeriksaan apusan vagina untuk


mencari penyebab keputihan
143. C. ischium, illium,
sakrum, coccyx, pubis
Struktur tulang yang menyusun panggul antara
lain:
A. ischium, illium, pubis
B .ischium, illium, sakrum, pubis
C. ischium, illium, sakrum, coccyx, pubis
D. trochanter, illium, sakrum, coccyx, pubis
E. illium, sakrum, coccyx, pubis
Anatomi Panggul
Struktur panggul
disusun oleh:
1. Os coccae (os ilium +
os ischium + os pubis)
2. Os sacrum
3. Os coccygis
144. C. 20 April 2015
Keywords:
Perempuan, 26 tahun, HPHT 13 Juli 2014.
Taksiran persalinan?
Rumus Naegele
(Hari + 7) (Bulan - 3) (Tahun + 1)*

Pada kasus:
HPHT 13 Juli 2014, maka:
Hari (13 + 7) Bulan (7 - 3) Tahun (2014 + 1)
20 April 2015

*Rumus Naegele dapat digunakan bila siklus haid teratur (± 28


hari)

Sumber: Medscape
145.B.AKDR
Keyword:
Perempuan, 28 tahun,
akseptor KB suntik
ingin mengganti KB karena BB ↑signifikan
memiliki 1 anak umur 2 tahun
masih ingin punya anak lagi dalam beberapa tahun
ke depan.
Pemilihan Kontrasepsi
Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat
mempengaruhi BB, oleh sebab itu pada pasien
dapat direkomendasikan yang sifatnya non-
hormonal.
Sterilisasi dihindari karena pasien masih ingin
menambah anak lagi.

Pilihan: IUD / AKDR


146. E. 26- 29 hari setelah haid
Keyword:
Perempuan, 22 tahun
baru menikah
ingin menunda keturunan
siklus menstruasi antara 28-36 hari
program KB alamiah  pantang berkala
Kontrasepsi Alamiah
Pantang Berkala
Prinsip: tidak melakukan senggama pada masa
subur
Masa Ovulasi: 14 ± 2 hari sebelum hari pertama
haid yang akan datang
Fase ovulasi: mulai 48 jam sebelum hingga 24 jam
setelah ovulasi (3 hari)
Kasus: siklus haid 28-36 hari
Garis merah menunjukkan masa
1 1
subur, sehingga senggama tidak
1 1 2
2 4
aman dilakukan pada masa itu
6 8
 hindari senggama di periode
waktu 12-24 hari setelah haid
1 2 2 2 3  di luar area itu, aman
0 2 4 6
147. D. Positif IVA
Keywords:
 Wanita 46 tahun, keputihan
 Pernah menikah 3 kali, mempunyai 6 orang anak,
menikah usia 16 tahun
 IVA: bercak putih  IVA positif
Pemeriksaan IVA
IVA (Inspeksi Visual Prinsip: Melihat
dengan Asam asetat)  perubahan warna
Pemeriksaan dengan menjadi putih
mengamati leher rahim (acetowhite) pada lesi
yang telah diberi asam prakanker jaringan
asetat/asam cuka 3-5% ektoserviks rahim yang
secara inspekulo dan diolesi larutan asam
dilihat dengan asetoasetat
penglihatan mata
telanjang
Apabila hasil skrining positif, perempuan yang diskrining menjalani
prosedur selanjutnya yaitu konfirmasi untuk penegakan diagnosis
melalui biopsi yang dipandu oleh kolposkopi
Jika jaringan abnormal tidak dapat terlihat dengan kolposkopi,
dapat dilakukan cone biopsi
Karsinoma Serviks
Kanker servix disebabkan 99,7% oleh HPV.
95% infeksi HPV oleh hubungan seksual
70% ca servix oleh strain ganas 16 dan 18 (onkogenik).
Strain 6 dan 11 (jinak) lebih jarang menimbulkan
Infeksi HPV menetap menjadi sel kanker butuh waktu 3-
17 tahun
Faktor risiko: hub seksual usia muda, kehamilan sering,
merokok, KB hormonal jangka panjang (10 tahun
meningkatkan risiko 2 kali), infeksi HSV 2 dan chlamidya,
pasangan tidak di sirkumsisi
Gejala Karsinoma serviks
Post-coital/contact bleeding
Menometroragia spontan
Keputihan bercampur darah dan berbau
Nyeri panggul, gangguan BAK
Nyeri ketika berhubungan/dispaurenia
Diagnosis: deteksi dini: IVA, papsmear, thin-
prep/LBC, pap-net, hybrid capture
148.C. Kista Bartholin
Keyword:
Perempuan, 32 tahun
benjolan pada kemaluan
PF: benjolan di sisi dalam dari labia mayora kiri,
hiperemis, nyeri (+) , dan fluktuasi (+).
Tumor Vulva & Vagina
NYERI TIDAK NYERI

Kista Bartholin Terinfeksi Kista Bartholin (di vulva)


Adenokarsinoma Bartholin Kista Duktus Gardner (di
Kista Duktus Skene dalam vagina)
Kista Inklusi Kista Sebasea
Mioma Geburt Lipoma
Hidradenoma
Ilmu Kandungan. Hanifa Wiknjosastro. (Buku Biru)
Kista Bartholin
Penyebab: tersumbatnya bagian distal dan duktus
kelenjar yang menyebabkan retensi dan sekresi
sehingga terjadi pelebaran duktus dan pembentukan
kista
Kelenjar Bartholin terletak bilateral di posterior
introitus dan bermuara dalam vestibulum (arah jam 4
dan 8)
Kista dapat terinfeksi  menjadi abses
Pada awal asimtomatik, bila sudah terinfeksi menjadi
nyeri, dispareunia (nyeri saat hubungan seksual)
149 C. MgSO4 40% 2 g iv
KEYWORDS
 wanita G2P1A0 kejang-kejang
 TD 180/110, edema tungkai, urin protein +4

Tatalaksana kejang ? MgSO4 40% 2 g iv


Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu
PILIHAN LAIN
D. MgSO4 40 % 4 g IV
 Untuk pencegahan eklamsia
150. B. Superimposed preeklampsia
Keyword:
Riwayat HT sblm kehamilan +
Tanda preeklampsi (+)  HT + edema +
albuminuria

Diagnosis:
Superimposed preeklampsia
 Hipertensi kronik : HT (+) < 20 minggu kehamilan, HT
menetap > 6minggu setelah persalinan
 Superimposed preeklamsia: HT kronik + tanda
preeklamsia
 Preeklamsia: HT + edema + proteinuria setelah usia
kehamilan 20 minggu
 Ringan: TD 140/90 mmHg – 160/110 mmHg, proteinuria +1 , +2
 Berat: TD >160/110 mmHg, proteinuria >+3
 Impending Eklamsia: Preeklamsia berat + Tanda
impending
 Eklamsia: Tanda preeklamsia disertai kejang/penurunan
kesadaran, & kejang bukan karena kelainan neuro
Tanda impending eklamsia ditegakkan bila PEB di+
1 atau lebih gejala:
 Nyeri kepala hebat
 Gangguan visus
 Muntah-muntah
 Nyeri epigastrium
 Kenaikan tekanan darah progresif

Buku ajar Ilmu Kebidanan, Williams Obstetrics


151. D. Platypeloid
Perempuan, G1P0A0, UK 36 minggu.
Panggul: diameter transversa > diameter
anteroposterior.
Bentuk panggul?
Bentuk Panggul
(Klasifikasi Caldwell & Molloy)

Paling ideal, diameter


anteroposterior sedikit lebih
kecil dari transversa
Bentuk pintu atas panggul hampir
segitiga, panjang diameter transversa
dekat dengan sakrum (umum pd pria)
Bentuk pintu atas panggul agak
lonjong seperti telur, diameter
anteroposterior lebih besar dari
diameter transversa
Diameter transversa lebih besar dari
diameter anteroposterior, menyempit
arah muka belakang
152. A. Ampula
Keyword:
 Lokasi KET tersering

KET paling sering terjadi pada bagian tuba


khususnya ampula
KET: kehamilan dimana implantasi dan tumbuh tidak di
tempat normal (endometrium kavum uteri)
Lokasi: 90% di tuba  ampula (70%)
Ciri KET:
 Amenore
 Perdarahan pervaginam, biasanya hitam
 Nyeri perut bagian bawah
 KU dapat normal – pucat,syok (tergantung banyaknya
perdarahan)
 Nyeri tekan perut bagian bawah, nyeri goyang portio,
penonjolan kavum Douglasi
Buku ajar Ilmu Kandungan, Williams Obstetrics
153. C. Pemberian Tokolitik
Keywords:
Perempuan, 24 tahun, G1P0A0 UK 32 minggu,
perut mulas sejak 5 jam, mulas semakin hebat,
belum ada cairan/darah keluar dari jalan lahir.
Kontraksi 4 kali/10 menit, DJJ 140 kali/menit.
Terapi?
Persalinan Preterm
Kriteria diagnosis:
Kontraksi minimal tiap 7-8 menit sekali / 2-3 kali dalam 10 menit
Low back pain
Bercak perdarahan
Terasa menekan daerah serviks
Pembukaan serviks minimal 2 cm, penipisan 50-80%
Presentasi janin rendah (mencapai spina isiadika)
Selaput ketuban pecah
Pada UK 22 – 37 minggu

Sumber: Buku Merah Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo


Manajemen Persalinan
Preterm
Tidak dihambat bila: Langkah mencegah
morbiditas & mortalitas:
Selaput ketuban sudah
pecah Tokolisis
Pembukaan mencapai 4 cm Kortikosteroid untuk
pematangan surfaktan paru
UK > 34 minggu, TBJ > 2000 (UK < 35 minggu)
gram
Antibiotik untuk cegah
infeksi (pada KPD)
Pertimbangkan: Penyebab/komplikasi persalinan preterm,
fasilitas NICU

Sumber: Buku Merah Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo


154. C. Eklampsia
Keywords:
Perempuan, 29 tahun, G1P0A0, kejang sejak 3 jam.
TD 192/100 mmHg. UK ± 35 minggu. USG: fetal
distress. Lab: proteinuria masif.
Diagnosis?
Hipertensi Pada Kehamilan
Klasifikasi Report of the National High Blood Pressure Education Program Working
Group on High Blood Pressure in Pregnancy (2001):

• HT timbul sebelum UK 20 minggu, atau


Hipertensi Kronik • Pertama didiagnosis saat UK > 20 minggu dan menetap setelah 12
minggu postpartum

Pre-eklamsia - • Preeklamsia =HT saat UK > 20 minggu + proteinuria


Eklamsia • Eklamsia = Preeklamsia + kejang dan/atau koma

Hipertensi Kronik
dengan • Hipertensi kronik + tanda-tanda preeklamsia / proteinuria
Superimposed Pre-
eklamsia

• HT timbul pada kehamilan , tanpa proteinuria, dan menghilang


Hipertensi setelah 12 minggu postpartum, atau
Gestasional • Tanda-tanda preeklamsia (+) tapi proteinuria (-)

Sumber: Buku Merah Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo + Kapita Selekta Kedokteran
Preeklamsia TD ≥ 140/90mmHg / sistolik↑ > 30mmHg / diastolik↑ >
Ringan (PER) 15mmHg; proteinuria +1/+2
Klinis: BB↑berlebihan, edema kaki-tangan-wajah

Preeklamsia TD ≥ 160/110mmHg; proteinuria (+) ≥ 3 (tes celup) / ≥


Berat (PEB) 5g/24 jam; oliguria (< 400ml/24 jam); nyeri kepala hebat /
gangguan penglihatan; nyeri epigastrium & ikterus; edema
paru / sianosis; trombositopenia; pertumbuhan janin
terhambat
Eklamsia Gejala preeklamsia + kejang / koma

Catatan: impending preeklamsia = gejala PEB + min.salah


satu gejala (nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah,
nyeri epigastrium, TD↑ progresif  ditangani sebagai
eklamsia

Sumber: Buku Merah Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo + Kapita Selekta Kedokteran
155. D. Observasi lanjutan
Keywords:
 Perempuan G2P1A0 hamil 39 minggu
 In partu
 Mules dan keluar air dari kemaluan (+)
 PF: pembukaan 4, His 5x dalam 10 menit
 Setelah dilakukan observasi 4 jam, pembukaan 5, His 2x
dalam 10 menit
His
 Gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus
yang dimulai dari daerah fundus uteri
 Resultante gaya kontraksi mengarah ke kanalis servikalis
yang membuka dan mendorong isi uterus keluar
 His yang baik dan ideal
 Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
 Dominasi di daerah fundus
 Ada periode relaksasi antar dua periode kontraksi
 Ada retraksi otot-otot korpus uteri tiap sesudah his
 His normal:
 Fase laten: tiap 10 menit amplitudo 40 mmHg, lama 20-
30 detik, serviks terbuka sd. 3 cm, frekuensi dan
amplitudo terus meningkat
 Fase aktif: peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat
sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4x/10 menit, lama 60-90
detik. Pembukaan serviks sd 10 cm (lengkap)
 Kala II: amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4x/10 menit.
Refleks mengejan (+)
 Kala III: amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi
berkurang, aktivitas uterus menurun
Inersia Uteri
 Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak
adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau
mendorong janin ke bawah
 Kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang
Hipotonik (sekunder)
 Frekuensi his jarang, kekutannya lemah, lamanya sebentar,
relaksasinya sempurna, dengan CTG terlihat tekanan yang kurang
dari 15 mmHg, dengan palpasi pada puncak kontraksi dinding rahim
masih bisa ditekan ke dalam
 Biasanya terjadi pada fase aktif atau kala II
 Nyeri berkurang, gawat janin lambat terjadi
 Reaksi terhadap oksitosin baik

Hipertonik (primer)
 His tidak terkoordinasi (his yang berubah-ubah). Tidak ada
sinkronisasi antara kontraksi. Tidak adanya kordinasi antara kontraksi
bagian atas, tengah, dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam
mengadakan pembukaan
 Biasanya terjadi pada fase laten
 Nyeri bertambah, gawat janin cepat terjadi
 Reaksi terhadap oksitosin tidak baik
Etiologi
 Menurut Rustam Mochtar (1998), sebab-sebab inersia
uteri adalah:
 Kelainan his sering dijumpai pada primipara
 Faktor herediter, emosi dan ketakutan
 Salah pimpinan persalinan dan obat-obat penenang
 Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen
bawah rahim, ini dijumpai pada kesalahan-kesalahan letak janin
dan disproporsi sefalopelvik
 Kelainan uterus, misalnya uterus bikornis unikolis
 Kehamilan postmatur (postdatism)
 Penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia
 Uterus yang terlalu teregang misalnya hidramnion atau kehamilan
kembar atau makrosomia
Penatalaksanaan
 Penatalaksanaan umum
 Observasi keadaan umum ibu dan janin
 Suportif, atasi kelelahan ibu
 Jangan beri makan dan minum seperti biasa karena
mungkin persalinan akan dilakukan dengan tindakan
 Penatalaksanaan khusus
 Stimulasi kontraksi uterus dengan oksitosin
 SC jika stimulasi kontraksi uterus dengan oksitosin gagal
156. A. Sindrom Asheerman
Keyword:
Tidak haid post kuretase (komplikasi kuretase)

Salah 1 komplikasi kuretase:


Sindrom Asheerman
Kuretase: Tindakan medis mengeluarkan jaringan
dari dalam rahim dengan alat kuretase
Komplikasi:
Indikasi (dx & tx): o Perdarahan
 Abortus inkomplit oPerforasi uterus
o Infeksi
 Blighted ovum o Sindrom Asheerman  perlekatan dinding
 Dead conseptus dalam rahim  keluhan tidak haid
o Komplikasi anestesi
 Mola hidatidosa
 Menometroraghia
Sindrom Asheerman: adhesi endometrium akibat tindakan pembedahan
 Menstruasi berkurang  kejang perut/rahim  tidak haid  infertilitas
 Dx: Histeroskopi/USG/HSG (histero-Salphyngo-Graphy)
 Tx: Operasi  potong+buang scar & perlengketan yang terjadi  bisa dengan
histeroskopi

Sindrom Kallman  kegagalan hipotalamus (GnRH), amenore primer


Sindrom Sheehan  kerusakan hipofisi ec tumor, trauma, TB, dll
Sindrom MRKH  Vagina & uterus tidak berkembang (duktus Mullerian tidak
berkembang sempurna)
Sindrom Stein-leventhal/PCOS (polycystic ovarian syndrome) ovarium membesar
mengandung banyak kista, biasanya hormon androgen tinggi (LH berlebih)  jerawat
+ hirsutism
Williams Obstetrics
157. D. Pap smear
Kata kunci: keputihan bercampur darah sejak 6
bulan yang lalu, nyeri saat berhubungan seksual,
tampak dinding vagina dan serviks hiperemis
Diagnosis: Ca Serviks
Tatalaksana: radioterapi/kemoterapi, operatif
GEJALA KLINIS KANKER
SERVIKS
TES PAP SMEAR
158. B. Hormon Prolaktin dan Oksitosin
Keywords:
Perempuan, 25 tahun, proses menyusui
Hormon yang berperan?
Proses Menyusui
(Let-down-reflex)
159. C. Estrogen
Keywords:
Perempuan, 31 tahun, tidak punya anak, menikah 4
tahun.  infertilitas primer
Haid tidak teratur sejak belum menikah (2-3 bulan
sekali). USG: gumpalan-gumpalan kecil di uterus.
Hormon yang mempengaruhi?
Mioma Uteri
Neoplasma jinak, berasal dari
miometrium
Dipengaruhi hormon estrogen dan
progesteron
Gejala: perdarahan pervaginam,
menoragia, dismenorea, bisa
infertilitas

Sumber: Kapita Selekta Kedokteran


160. A. Menghalangi ovulasi
Keywords:
Perempuan, KB suntik tiap 3 bulan, haid tidak
teratur.
Mekanisme kerja KB suntik terhadap siklus
menstruasi?
KB Injeksi
KB injeksi tiap 3 bulan mengandung progestin
(progestogen sintetis = progesteron).
Salah 1 fungsi  menghalangi terjadinya ovulasi
melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium
Kelebihan progesteron  perdarahan tidak teratur,
nafsu makan ↑, cepat lelah, depresi, jerawat,
alopesia, libido , hipomenore, keputihan
Kekurangan progesteron darah haid lebih
banyak dan lama
161. E. Mebendazole
Keyword:
 An. Azka, 4 tahun
 Gatal di sekitar anus dan terlihat rewel
 Sulit tidur (+), tidak nafsu makan (+)
 Sebelumnya pernah berkunjung ke rumah saudara
sepupunya dengan keluhan yang sama
 Bekas garukan pada anus (+)
Gatal-gatal di anus hingga terdapat bekas
garukan sering terjadi pada anak dengan
KREMIAN
KREMIAN
Penyebab: Oxyuris vermicularis atau Enterobius
vermicularis
Parasit ini hanya menyerang manusia 
oxyuriasis/enterobiasis
Penularan:
 Hand to mouth
 Debu
 Bulu anjing/kucing
Gejala klinis:
 Pruritus ani (sering terjadi malam hari)
Diagnosis:
 Menemukan telur dan cacing dewasa dengan anal swab
(dilakukan pagi hari sebelum anak BAB/cebok. Sebaiknya
dilakukan 3 hari berturut-turut)
Terapi kremian:
 Piperazin dosis tunggal 3-4 gram (dewasa) atau 25
mg/kgBB, ATAU
 Pirantel pamoat 10 mg/kgBB, ATAU
 Mebendazol dosis tunggal 100 mg, ATAU
 Albendazol dosis tunggal 400 mg
 Mebendazol efektif terhadap semua stadium perkembangan cacing kremi
 Pirantel dan pipreazin dosis tunggal tidak efektif terhadap stadium muda
 Terapi sebaiknya diulang 2 minggu kemudian untuk mencegah reinfeksi
Pada kasus ini dipilih Mebendazole karena efektif
pada semua stadium perkembangan cacing
162. A. Kina dan klindamisin
Keywords:
Demam tidak teratur 1 minggu terakhir
Menggigil, nyeri kepala, nyeri otot, mual, muntah
Pulang dari endemis malaria
Darah: gametosit bentuk pisang
Curiga hamil  telat mens 6 minggu
Diagnosis: malaria pada kehamilan trimester 1
Terapi: kina dan klindamisisn
Tatalaksana Malaria
Falsiparum
Hamil <3 bulan
 Kina 3x2 tab atau 3x10 mg/kg 7 hari DAN
 Klindamisin 2x300 mg atau 2x10 mg/kg 7 hari
 Parasetamol 1 tab tiap 6 jam bila demam
Hamil >3 bulan
 DHP 1x3 tab (41-59 kg) atau 4 tab (BB>60 kg) 3 hari ATAU
 Artesunat 1x4 tab DAN amodiakuin 1x4 tab 4 hari 3 hari
 Parasetamol 1 tab tiap 6 jam bila demam
163. B. Ancylostoma
duodenale
Kata kunci: lemah dan sering lelah sejak 6 bulan
lalu, profesi petani dan jarang menggunakan alas
kaki, konjungtiva mata nampak anemis, atrofi papil
lidah, tidak ada hepatosplenomegali. Pada
pemeriksaan feses ditemukan bentukan oval
dinding transparan dan tipis serta berisi ovum.
Diagnosis: ankilostomiasis
Tatalaksana: anti helmint
SIKLUS HIDUP
Ciri-ciri telur:
 bentuknya oval
 dindingnya jernih transparan
 mengandung ovum
bersegmen
 mengapung dalam larutan
garam jenuh
 dapat mencemari
lingkungan
 di luar hospes menetas
menjadi larva
 ukuran 40x65 mikron
TATALAKSANA
pirantel pamoat 10 mg/kg bb dosis tunggal. Khusus
untuk A.duodenale diberikan 3 hari berturut-turut
mebendazol 500 mg/dosis tunggal atau 2x100 mg, 3
hari berturut-turut
albendazol 400 mg/dosis tunggal
Atasi anemia
164. A. Entamoeba hystolitica
Kata kunci: BAB berdarah disertai lendir sejak 2
hari lalu, nyeri perut yang terasa hebat, nyeri tekan
di regio umbilikus, pemeriksaan feses ditemukan
bentukan bulat, dengan inti kariosom positif,
dinding tebal, dan terdapat satu inti.
Diagnosis: disentri amoeba
Tatalaksana: antibiotik
PERBEDAAN DISENTRI BASILER VS AMOEBA
MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP ENTAMOEBA
165. E. Ascaris lumbricoides
Keyword:
 An. Ahmad, 8 tahun
 BAB terus menerus
dengan frekuensi 5-
6x/hari. Ampas (-), darah
(-), lendir (-).
 Tampak lesu, nafsu makan
(+)
 PF: turgor kulit menurun
(+)
1. Ascaris Lumbricoides
 Oval
 Kulit luar tebal dan bergerigi
 Kulit telur terdiri dari dua lapisan di
dalam telur terdapat sel telur (jika
sudah di buahi)

2. Ancylostoma Duodenale
 Lonjong simetris
 Kulit telur bagian luar tipis
 Antara kulit telur dan sel telur
terdapat cairan yang bening
 Di dalam telur terdapat sel telur yang
terdiri dari 6-8 sel
3. Trichuris Trichura
 Bentuknya seperti tempayan
 (bola salju), kulit telur bagian luar
tebal,
 Warna kuning tenggulli
 Kedua ujung terdapat tonjolan yang
di dalamnya terdapat cairan bening
 Di dalam telur terdapat sel/larva jika
sudah di buahi

4. Oxyuris Vermicularis
 Lonjong asimetris(menyerupai huruf
D)
 Kulit telur bagian luar tipis
 Di dalam telur terdapat sel telur jika
sudah di buahi
Daur Hidup Ascaris
lumbricoides
Diagnosis
 Menemukan larva dan telur
dari pemeriksaan feses
 Lab: peningkatan eosinofil
Terapi askariasis:  Piperazine sitrat 30 cc dosis
 Mebendazol 100 mg 2x tunggal ( 5 cc ekuivalen
sehari selama 3 hari dengan 750 mg piperazin)
 Piperazin efektif juga terhadap
 Pirantel pamoat Oxyuris vermicularis, namun tidak
10mg/kgBB efektif terhadap cacing tambang
 Pirantel pamoat efektif terhadap
cacing kremi dan cacing tambang
 Levamisol HCl
 150 mg dosis tunggal (> 10 kg)
 50 mg dosis tunggal (< 10 kg)
166 C. Fluoxetin
KEYWORDS
Lemah, kehilangan minat dan lemas sejak 1 bulan
Tidak dapat melakukan kegiatan rumah tangga

Terapi ? Fluoxetin
Kriteria Diagnosis

Sumber : slideplayer.com
Mekanisme Depresi

Sumber : slideshare.net
Pilihan Utama : SSRI
(fluoxetin, sertralin)
Algoritme Tatalaksana Depresi
PILIHAN LAIN
A. Haloperidol  antipsikotik
B. Alprazolam  antianxietas
D. Olanzapin  antipsikotik
E. Amitriptilin  antidepresan
167. C. Trans Disosiatif
Keywords :
Pasien, usia 16 tahun sedang mengikuti ujian UN
Tiba – tiba berteriak-teriak dan berjalan mondar-
mandir, suara berubah menjadi suara laki-laki tua
yang mengaku sebagai penunggu sekolah
Pasien tidak ada kelainan jiwa sebelumnya

Diagnosis : Trans disosiatif


Gangguan Disosiatif
Merupakan sindrom psikiatrik dengan ciri khas
berupa terganggunya persepsi seorang terhadap
kesadaran, identitas, memori, perilaku, atau
lingkungannya
 Terjadi sebagai respon terhadap stres yang
patologis
Trans Disosiatif
• Persepsi pasien atas identitas dan lingkungannya terganggu
• Seakan – akan kesurupan / dikuasai oleh kekuatan lain
Amnesia Disosiatif
• Hilang ingatan  parsial atau total, tentang kejadian stressful yang baru
terjadi
Gangguan Identitas Disosiatif
• Kepribadian ganda atau lebih

Fugue Disosiatif
• Tiba-tiba pergi dari rumah/tempat kerja, dengan kesulitan untuk mengingat
sebagian atau seluruh masa lalu
• Pasien dapat menggunakan identitas baru
Depersonalisasi
• Merasa dirinya berubah
168. A. Amitrityline
Keywords :
Pasien, usia 42 tahun  gangguan tidur sejak 1 bulan yang
lalu
Pasien hanya tidur sebentar dan sering terbangun serta
tidak dapat tidur kembali
Sebelumnya, pabrik dorayaki pasien tersebut mengalami
kebangkrutan dikarenakan ditipu oleh temannya

Diagnosis : Late insomnia


Terapi : amitriptyline
Insomnia
Early Insomnia
• Susah memulai tidur

Middle Insomnia
• Sering terbangun di tengah – tengah tidur

Late Insomnia
• Terbangun di tengah – tengah tidur tapi tidak bisa tidur lagi
Terapi
Early insomnia / initial insomnia  golongan
benzodiazepine (nitrazepam, triazolam, estazolam)
Middle Insomnia / broken insomnia  golongan
fenobarbital atau golongan benzodiazepine
Late insomnia / delayed insomnia  golongan
antidepresan trisiklik (amitriptyline)
169. B. Apakah halusinasi
terjadi terus menerus?
Keywords:
dibawa ke rs karena mengamuk
mendengar suara yg bicara dengan dirinya
mengurung diri, tidak mau makan dan mandi
penampilan kotor, tidak terawat, gelisah, afek tidak
sesuai

Diagnosis: skizofrenia
Pengobatan: anti psikotik dan psikoterapi
Gejala pada pasien
 dibawa ke rs karena mengamuk --> gejala katatonik
 mendengar suara yg bicara dengan dirinya --> halusinasi
auditorik
 mengurung diri, tidak mau makan dan mandi --> gejala negatif
 penampilan kotor, tidak terawat, gelisah, afek tidak sesuai -->
gejala katatonik

Skizofrenia: sindrom psikotik kronis yang ditandai oleh


gangguan pikiran dan persepsi, afek tumpul,
anhedonia, deteriorasi, serta uji kognitif yang buruk
Pedoman diagnostik (PPDGJ III):
minimal 1 gejala di bawah ini yang sangat jelas atau 2 gejala bila tidak
terlalu jelas
 tought echo, insertion, withdrawl, broadcasting
 delusion of control, influence, passivity, perception
 halusinasi auditorik
 waham yang menetap

ATAU
minimal terdapat 2 gejala yang harus selalu ada secara jelas
 halusinasi yang menetap dari panca indra
 arus pikiran yang terputus
 gejala katatonik atau gejala negatif

gejala tersebut BERLANGSUNG dalam jangka waktu 1 BULAN ATAU


LEBIH
terdapat perubahan konsisten pada aspek prilaku pribadi
170. E. Gangguan Konversi
Keywords :
Pasien perempuan  buta mendadak saat
bertengkar dengan ayahnya
PF : pemeriksaan oftalmologi normal, terdapat
luka saat tes berjalan akibat tersandung

Diagnosis : Gangguan konversi


Gangguan Konversi / Disosiatif
Gangguan konversi / disosiatif : kehilangan sebagian /
seluruh dari integrasi normal (di bawah kendali sadar),
Antara :
Ingatan masa lalu
Kesadaran identitas dan penginderaan segera (awareness of
identity and immediate sensation)
Kontrol terhadap gerakan tubuh

Diagnosis :
Mencakup sebagian atau seluruh dari 3 kriteria di atas
Tidak ada bukti adanya gangguan fisik
Terdapat bukti adanya penyebab psikologis
Macam-macam Gangguan
Konversi
Amnesia disosiatif  pasien hilang ingatan
Fugue disosiatif  pasien pergi / pindah ke suatu
tempat dan di tempat itu dia memakai identitas baru
(lupa akan identitas lama)
Stupor disosiatif  penurunan / hilangnya gerakan
volunter dan respon normal terhadap rangsangan
Trans disosiatif  “kesurupan”
Gangguan motorik disosiatif  pasien tidak mampu
menggerakkan sebagian atau seluruh anggota gerak,
ggn.fisik / organic (-)
Macam – macam Gangguan
Konversi
Konvulsi disosiatif  mirip kejang epileptik
gerakannya tapi jarang disertai lidah tergigit, luka
serius karena jatuh saat serangan dan mengompol,
tidak ada hilang kesadaran
Anestesia dan kehilangan sensorik disosiatif 
dapat berupa beberapa gejala berikut : gejala
anestesi pada kulit, ggn. Penglihatan, tuli disosiatif
dan anosmia, pemeriksaan fisik dbn
Pada kasus ini, pasien mengalami gangguan
konversi  kehilangan sensorik disosiatif
171. B. Transvetisme
Keywords :
Pasien, usia 31 tahun  kebiasaan mencuri pakaian
dalam perempuan
Pasien sering mengenakan pakaian dalam tersebut
Setiap berhubungan seks, pasien sering mengenakan
celana dalam perempuan sehingga tidak terjadi
penetrasi

Diagnosis : Transvetisme
Fethisisme vs Transvetisme
Fethisisme Transvetisme

• Dorongan atau kepuasan seksual • Kepuasan seksual yang didapat


melalui benda mati  benda sebagai dengan memakai pakaian dari lawan
sumber utama rangsangan jenis
• Pasien tidak memakai benda tersebut • Tidak hanya dipakai, tapi untuk
menciptakan penampilan lawan jenis
 disertai penghayatan
• Sering tidak hanya pakaian, tapi juga
perlengkapan menyeluruh dari lawan
jenis, seperti rambut palsu, tata rias
wajah
Pilihan lain
Transeksualisme  adanya hasrat untuk diterima
sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, risih
dengan jenis kelamin sendiri, ada usaha pembedahan
atau terapi hormon untuk membuat tubuhnya semirip
mungkin dengan lawan jenis, minimal menetap 2 tahun
Voyeurisme  kepuasan seksual didapat dengan
mengintip orang lain yang sedang berhubungan seks
atau berperilaku intim seperti sedang melepas baju
Ekshibisionisme  suka menunjukkan kelamin di
depan umum tanpa berniat untuk berhubungan lebih
lanjut
172. A. Fobia Sosial
Keywords :
Pasien, usia 30 tahun  sering merasa takut apabia
presentasi
Jika presentasi, jantungnya berdegup kencang, sulit
konsentrasi, wajah memerah
Pasien tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang
baru ditemui  sering berpindah kerja

Diagnosis : Fobia sosial


Gangguan Ansietas Fobia
Pemicu jelas  pemicu dapat berupa objek atau
situasi tertentu
Pemicu sebenarnya tidak membahayakan
Pasien menghindari pemicu tersebut karena
merasa terancam
Fobia Sosial
• Fobia / takut pada situasi sosial tertentu 
presentasi, berbicara dengan orang baru
Agorafobia
• Fobia / takut bepergian sendirian dan berada di
tempat keramaian  pasien jadi house-bound
Fobia khas / spesifik  takut pada objek spesifik
 contoh : fobia ketinggian, klaustrofobia, dsb
Gangguan cemas menyeluruh  ansietas yang
berlangsung hampir setiap hari, disertai gejala
somatis, dan tidak disertai penyebab yang jelas
Gangguan panik  serangan panik berulang dalam
1 bulan, pemicu tidak jelas (unpredictable
situations), di antara serangan panik tidak ada
gejala apa-apa
173. E. Hipersomnia
Keywords :
Pasien, usia 56 th  sering mengantuk sepanjang hari sejak 1
bulan yang lalu
Padahal pasien sudah tidur mulai pukul 10 malam sampai dengan
pukul 6 pagi
Sering merasa kelelahan yang berlebihan dan harus tidur siang
Mengorok (-)
Kinerja di kantor menurun karena sering mengantuk

Diagnosis : Hipersomnia
Hipersomnia
Hipersomnia  mengantuk sepanjang hari
walaupun jam tidur sudah cukup

Diagnosis Hipersomnia
• Rasa kantuk sepanjang hari yang berlebihan walaupun jam tidur cukup
dan/atau transisi yang memanjang dari saat mulai bangun tidur sampai
sadar sepenuhnya
• Terjadi setiap hari, minimal > 1 bulan
• Narkolepsi (-), obstructive sleep apnue (-)
• Penyakit organic (-)
Pilihan lain
Narkolepsi  tiba-tiba tertidur saat aktivitas, rasa
kantuk sebelumnya (-)
Parasomnia  gangguan mimpi buruk
Dibagi dua : somnambulisme (berjalan dalam tidur) dan
sleep terror (tiba-tiba terbangun sambil teriak-teriak tapi
tidak ingat mimpinya)
Insomnia  kesulitan tidur
Dibagi tiga : early insomnia (susah mulai tidur), middle
insomnia (sering terbangun di tengah tidur), late insomnia
(terbangun di tengah tidur dan sulit tidur lagi)
Obstructive sleep apnue  mengorok (+), sering
mengantuk di siang hari, saat bangun tidur merasa
tidak fresh
174. E. Amygdala
Kata kunci: sulit tidur sejak 3 bulan, sering
ketakutan di tempat umum, dan kaget jika didekati
oleh orang lain, pernah tinggal di lembaga
pemasyarakatan, mengalami post traumatic stress
disorder.
Diagnosis: post traumatic stress disorder.
Tatalaksana: psikoterapi, medikamentosa
GANGGUAN POST TRAUMATIC STRESS DISORDER
(PTSD)
GEJALA PTSD
Ingatan yang mengganggu, contohnya selalu mengingat detail
mengerikan dari kejadian tragis atau sering mimpi buruk tentang
kejadian tersebut.
Kecenderungan untuk menghindari membicarakan atau
memikirkan kejadian traumatis, menutup diri, serta menjauhi
lokasi, orang, atau aktivitas yang mengingatkan pasien pada
kejadian tersebut.
Pola pikir yang berubah negatif. Pengidap PTSD cenderung
memiliki perasaan negatif terhadap diri sendiri atau orang lain,
merasa terasing, serta merasa putus asa dalam menghadapi masa
depan.
Perubahan emosi, misalnya uring-uringan, rasa bersalah atau
malu yang ekstrem, selalu waspada, insomnia, serta mudah
terkejut dan takut
175. A. Gangguan Penyesuaian
Keywords :
Pasien, usia 41 tahun  jantung sering berdebar-
debar dan keringat dingin sejak 1 bulan yang lalu
Pasien baru mengalami gejala ini sejak dia diangkat
menjadi direktur pada sebuah perusahaan  stressor
Pemeriksaan fisik dan EKG normal

Diagnosis : Gangguan penyesuaian


Gangguan Penyesuaian
 Ada stresor yang jelas, menghilang setelah stresor
diatasi
 Onset biasanya terjadi 1 bulan setelah stressor,
dan gejala tidak bertahan lebih dari 6 bulan
 Tata laksana: psikoterapi, benzodiazepine,
antidepresan
176. A. Radius
Keywords:
 Post jatuh (trauma)
 Radiologi: gambaran seperti garpu

Dx:
Fraktur Colles  fraktur os. radius
Fraktur Colles: fraktur radius distal (dekat sendi
pergelangan), bagian distal ke arah posterolateral,
dg/tanpa fraktrus prosesus styloideus ulna akibat
jatuh dg keadaan tangan menumpu
Tampak dinner fork deformity (seperti garpu)

Text Book of Orthopedics


177. E. Osteosarcoma
Keywords:
 Anak 8 tahun
 Tungkai kaki kana membesar
 Codman triangle (+)

Diagnosis: Osteosarcoma
Tatalaksana: Reseksi tumor, Kemoterapi, amputasi
Osteosarcoma
Tumor ganas tulang . Prevalensi tersering anak &
dewasa muda.

Gejala & Tanda:


 Nyeri di tungkai bawah (di atas / di bawah lutut
 Bengkak
 Fraktur ec minor trauma Gambar. Prevalensi tersering
Karakteristik: Codman’s Triangle (Rontgen)
 Area triangular di subperiosteal (tumor mengangkat
periosteum dari tulang)

DD/ dari codman triangle: Ewing’s Sarcoma,


Eumycetoma, Abses superiosteal

Pemeriksaan: Rontgen, CT scan, PET scan, Bone scan, Gambar. Codman’s triangle
MRI
178. A. Fibrosis
Keywords:
 Batuk berdahak 1 bulan, sesak
 Riw. Pengobatan TB (+)

Diagnosis: TB Paru reinfeksi


Radiografi TBC
Lesi Aktif: Lesi Inaktif:
1. Nodul 1. Fibrosis
2. Kavitas 2. Kalsifikasi
3. Infiltrat
4. Konsolidasi
5. Efusi Pleura
6. Limfadenopati
Konsolidasi & limfadenopati Kavitasi Limfadenopati Tuberkuloma Fibrosis, kavitasi, kalsifikasi
pada paru kiri atas
179. C. Hiperaerasi
Rontgen thoraks pada
anak dengan Asma PERIBRONCHIAL CUFFING
 Saat serangan  hiperaerasi
 Saat tidak serangan 
umumnya normal

Foto thoraks serangan


asma akut
 Hiperaerasi
 Diafragma mendatar
 Peribronchial cuffing (edema
peribronchial)
 Ruang retrosternal
bertambah
180. A. Terganggunya
perkembangan alveolus
Keyword:
 By. Ny. Yati, usia 1 hari
 Sesak napas sejak 6 jam yang lalu
 Lahir secara pervaginam dengan usia kehamilan 7 bulan
 Pasca lahir, langsung menangis
 BBL 1800 g
 Tampak biru dan pucat bila menangis
 Ro thoraks: air bronchogram (+)
Hyaline Membrane Disease
 Sinonim; Respiratory Distress
Syndrome/Sindrom Gawat Napas tipe 1
 Gawat napas pada bayi kurang bulan yang terjadi segera
atau beberapa saat setelah lahir, menetap atau progresif
dalam 48-96 jam kehidupan
 Disebabkan kurangnya surfaktan karena masa
gestasi kurang  alveoli tidak berkembang
 Normalnya surfaktan berfungsi mencegah alveoli kolaps
pada akhir respirasi
 Surfaktan mulai muncul pada UK 22 minggu dan makin
banyak seiring peningkatan UK
 Gejala
 Takipnea, grunting, retraksi intercostal dan subcostal
 Pernapasan cuping hidung
 Sianosis, umumnya tidak responsif terhadap oksigen
 Radiologis
 Pola retikulogranuler yang uniform
 Air bronchogram
 Terapi
 Kortikosteroid sebelum melahirkan pada usia kehamilan 32
minggu
181. A. Adrenalin
Keyword:
 Budi, 25 tahun
 Hidung tersumbat dan bersin-bersin sudah 1 minggu
 Hipertrofi konka inferior bilateral
 Sekret serosa
 Membedakan polip dengan hipertrofi konka?
Polip Konka Polipoid
Bertangkai Tidak bertangkai
Mudah digerakkan Sukar digerakkan
Tidak mudah berdarah Mudah berdarah
Tidak nyeri bila ditekan Nyeri bila ditekan dengan pinset
Pada pemakaian vasokonstriktor (kapas Dapat mengecil pada pemakaian
adrenalin) tidak mengecil vasokonstriktor (adrenalin)

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


182.A. Benda Asing
Keyword:
 An. Baby, 3 tahun
 Keluar lendir kuning kental dan berbau sejak 4 hari
 Hidung kiri tertutup sekret kuning kental berbau, hidung
kanan (-)
Rhinitis Akut
 Radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan
virus/bakteri
 Merupakan manifestasi dari rhinitis simpleks (influenza,
common cold, dll)
 Gejala:
 Kering dan gatal, panas dalam hidung
 Bersin berulang-ulang, hidung tersumbat, ingus encer
 Demam, nyeri kepala
 Mukosa tampak merah dan membengkak
 Terapi: simtomatis, antibiotik bila infeksi sekunder

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Rhinitis Alergi
 Merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi
 Frekuensi terbanyak pada anak-anak, berkurang dengan
bertambahnya umur
 Gejala Klinik:
 Serangan bersin berulang
 Ingus (rinore) encer dan banyak
 Hidung tersumbat
 Hidung dan mata gatal
 ± lakrimasi
 Demam (-)
 Allergic shiner (bayangan gelap di bawah mata akibat stasis vena sekunder)
 Allergic salute (menggosok-gosok hidung karena gatal)
 Allergic crease (timbulnya garis melintang pada dorsum nasi 1/3 bawah)
 Rhinoskopi anterior: mukosa edema, basah, pucat/livid + sekret
encer
Polip Hidung
 Kelainan mukosa hidung berupa massa lunak bertangkai,
bulat/lonjong, putih/keabu-abuan, permukaan licin
mengandung cairan
 Gejala:
 Hidung tersumbat, menetap, makin lama makin berat
 Terasa ada massa di hidung, sukar membuang ingus
 Anosmia/hiposmia
 Gejala sekunder: post nasal drip, sakit kepala, bindeng, mendengkur, telinga rasa
penuh
 Pemeriksaan: rhinoskopi anterior  polip terlihat

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Rhinosinusitis
 Radang mukosa sinus paranasal
 Paling sering menyerang sinus maksila dan etmoid
 Penyebab: rhinitis akut, infeksi faring, infeksi gigi rahang,
berenang, menyelam, barotrauma
 Gejala:
 Ingus kental dan berbau terasa mengalir di nasofaring
 Hidung tersumbat
 Nyeri di lokasi sinus
 Pemeriksaan:
 Rhinoskopi anterior: mukosa konka hiperemis dan edema
 Rhinoskopi posterior: mukopus di nasofaring
 Radiologi: posisi Waters, PA, dan lateral  tampak perselubungan/air fluid level
pada sinus yang sakit

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


183. D. Faringitis Akut
Keyword:
 Ny. Ina, 52 tahun
 Sulit menelan sejak 3 hari
 Demam (+), bibir kering dan pecah-pecah
 Tonsil T1-T1, tidak hiperemis, faring tampak hiperemis
Tonsilitis Akut
 Disebabkan kuman grup A gol Streptokokus b-hemolitikus,
pneumokokus, Streptokokus viridan dan Streptokokus
piogenes
 Infiltrasi bakteri pada epitel tonsil  reaksi radang 
keluarnya leukosit PMN  terbentuk detritus (kumpulan
leukosit, bakteri yang mati + epitel yang terlepas)
 Gejala:
– nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam, lesu dan nyeri-nyeri sendi, tidak
nafsu makan, otalgia
 PF:
– tonsil bengkak, hiperemis, detritus (+) folikel/lakuna. KGB submandibula
bengkak (+), nyeri tekan (+)

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Tonsilitis Kronik
 Faktor predisposisi: rangsangan menahun rokok,
makanan, buruknya hygiene mulut, pengobatan tonsilitis
akut tidak adekuat
 Kuman penyebab sama dengan tonsilitis akut, kadang-
kadang berubah menjadi gol Gram (-)
 Gejala:
 Tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus melebar, beberapa
kripti terisi detritus
 Rasa mengganjal di tenggorok
 Tenggorok kering + napas berbau

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Faringitis Akut
 Sering ditemukan bersama-sama dengan tonsilitis akut
 Penyebab terbanyak: Streptococcus b-haemolyticus,
Streptococcus viridans, Streptococcus pyogenes
 Infeksi menular melalui droplet infections
 Gejala:
 Nyeri tenggorok, sulit menelan, demam, pembengkakan KGB.
 PF:
 Faring hiperemis, edema, dinding posterior faring bergranular

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


184. D. Tampon Bellocq 2 hari
Keyword:
 Maman, 18 tahun
 Hidung berdarah setelah jatuh dari motor
 PF: hidung edema (+), hiperemis (+), cavum nasi
hiperemis (+), bekuan darah (+), perdarahan aktif di
nasofaring (+)
Epistaksis Posterior
Perdarahan aktif di nasofaring  perdarahan
posterior
Tatalaksana
 Tampon Bellocq, menutupi nares posterior, terpasang
selama 2-3 hari
 Obat hemostatik
 Jika tidak dapat diatasi dengan tampon  ligasi arteri

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


185. C. Otitis Eksterna
Sirkumskripta
Keyword:
 Juno, 24 tahun
 Nyeri pada telinga kanan saat telinga ditarik ke lateral dan
ditekan
 Pemeriksaan otoskopi: hiperemis pada 1/3 lateral liang
telinga
OMA
 Peradangan sebagian atau
seluruh mukosa di telinga
tengah
 Penyebab: Sumbatan tuba
Eustachius  invasi kuman
ke telinga tengah
 Pada anak sering terjadi saat
infeksi saluran napas atas
 Disebabkan bakteri piogenik
(Streptokokus hemolyticus, S.
aureus, Pneumokokus)
 Terdiri atas 5 stadium

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Stadium OMA Tanda/gejala Pengobatan
St. Oklusi Retraksi membran timpani Obat tetes hidung
tuba HCL efedrin 0.5% (˂12 th)
Eustachius HCL efedrin 1% (>12 th +
dewasa) dalam larutan
fisiologik
St. Hiperemis Pembuluh darah membran timpani melebar Antibiotik
(Presupurasi) (membran timpani hiperemis + edema) (penisilin/ampisilin), obat
tetes hidung + analgetik

St. Supurasi Eksudat purulen + edem hebat di mukosa Antibiotik + miringotomi


telinga tengah  bulging membran timpani (bila MT masih utuh)
ke arah liang telinga luar.
Pasien tampak sakit, nadi dan suhu
meningkat. Nyeri hebat di telinga

St. Perforasi Ruptur membran timpani, nanah keluar Obat cuci telinga H2O2 3%
Suhu tubuh turun, gelisah menjadi tenang 3-5 hari + antibiotik
St. Resolusi Bila MT utuh  MT kembali normal
Bila MT sudah perforasi  sekret berkurang
dan kering  resolusi tanpa pengobatan

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Otitis media kronis  OMSK maligna
 Terjadi bila OMA lebih dari 2  Kena tulang
bulan  Disertai kolesteatom
 Perforasi marginal/atik
 > 3 minggu  otitis media sub-akut
 Sering komplikasi
 > 2 bulan  kronik
 OMSK dibagi 2  Kolesteatom adalah kista
 Benigna/mukosa/aman epitelial yang berisi
 Maligna/tulang/bahaya deskuamasi epitel (keratin).
 OMSK benigna:
 Terbatas pada mukosa, tidak kena
tulang
 Perforasi di sentral
 Jarang komplikasi
 Tidak ada kolesteatoma
Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI
Otitis eksterna  OE difusa
• Radang liang telinga (akut/kronik)  Mengenai kulit liang telinga 2/3
dalam
akibat bakteri
 Kulit hiperemis, edema, batas tidak
• Terbagi 2 jelas, furunkel (-)
 OE sirkumskripta (Furunkel/bisul)  Penyebab: Pseudomonas
 OE difus
 Gejala: sama dengan OE
• OE sirkumskripta sirkumskripta
 Infeksi pada adneksa kulit 1/3 luar liang  Terapi: tampon Ab
telinga
 Penyebab: S. aureus
 Gejala
• Nyeri hebat
• Gangguan pendengaran (bila furunkel
besar)
 Terapi: salep Ab lokal, antiseptik,
analgesik, aspirasi jika sudah menjadi
abses

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


186 B. Sinusitis maksilaris
KEYWORDS
Nyeri pada pipi sejak 5 hari
Sekret berwarna kehijauan, konka inferior edema
dan hiperemis, terdapat penyempitan di komplek
osteomeatal.

Diagnosis? Sinusitis maksilaris


Letak Sinus
Pada umumnya, sinusitis akut
disebabkan virus.
PEMBAHASAN
Keluhan nyeri pipi baru berlangsung 5 hari 
sifatnya akut
Adanya penyempitan kompleks osteomeatal pada
rinoskopi  sinusitis
Penunjang : foto sinus paranasal (waters), CT scan
Tatalaksana : simtomatik , antibiotik (bila curiga
karena bakterial).
187. C. Kripta Melebar
Keyword:
 Nazwa, 9 tahun
 Nyeri saat menelan sejak 1 tahun
 PF: didapatkan tonsil melebar, berbenjol-benjol, tidak
hiperemis, kripta melebar, detritus minimal
Tonsilitis akut
 Disebabkan kuman grup A gol Streptokokus b-hemolitikus,
pneumokokus, Streptokokus viridan dan Streptokokus piogenes
 Infiltrasi bakteri pada epitel tonsil  reaksi radang 
keluarnya leukosit PMN  terbentuk detritus (kumpulan
leukosit, bakteri yang mati + epitel yang terlepas)
 Gejala:
– nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam, lesu dan nyeri-nyeri sendi, tidak nafsu
makan, otalgia
 PF:
– tonsil bengkak, hiperemis, detritus (+) folikel/lakuna. KGB submandibula bengkak
(+), nyeri tekan (+)

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


Tonsilitis kronik
 Faktor predisposisi: rangsangan menahun rokok, makanan,
buruknya hygiene mulut, pengobatan tonsilitis akut tidak
adekuat
 Kuman penyebab sama dengan tonsilitis akut, kadang-kadang
berubah menjadi gol Gram (-)
 Gejala:
 Tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus melebar, beberapa kripti
terisi detritus
 Rasa mengganjal di tenggorok
 Tenggorok kering + napas berbau

Sumber: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, FKUI


188. D. Otitis media supuratif
kronik tipe maligna
Keywords :
Perempuan, usia 28 tahun  keluar cairan dari
telinga hilang timbul sejak 5 bulan
Nyeri telinga (+), pendengaran menurun (+)
PF : membran timpani ruptur di marginal, granulasi
(+), kolesteatoma (+), cairan bau khas (+)
Klasifikasi Otitis Media Supuratif
Kronik
OMSK TIPE AMAN/BENIGNA OMSK TIPE
• Peradangan hanya mukosa BAHAYA/MALIGNA/TULANG
• Perforasi sentral • Peradangan sampai tulang
• Kolesteotoma (-) • Perforasi marginal / atik
• Tatalaksana: • Kolesteotoma (+)
neomisin+polimisin b topikal • Tatalaksana: bedah
+ ear toilet
189. E. Tetesi karbogliserin
10% ke telinga kiri
Keywords:
nyeri telinga kiri hebat mendadak
merasakan telinga kemasukan serangga

Diagnosis: benda asing di liang telinga


Pengobatan: matikan serangga, keluarkan dengan
pinset, irigasi telinga dengan air hangat
Cara mematikan serangga
yang hidup:
1. masukkan tampon basah ke liang telinga
2. tetesi cairan minyak mineral yang bersih
atau karbogliserin
atau lidokain 10% selama 10 menit
190 C. Penekanan massa
pada N. Rececus laringeus
KEYWORDS
 Suara semakin serak sejak 6 bulan terakhir
 Benjolan leher ikut bergerak ketika menelan
 Benjolan teraba nodul keras multipel

Penyebab suara serak ? Penekanan massa pada N.


Rececus laringeus
Cedera nervus laringeal
recuren  serak.
Sering terjadi pada
kasus tumor tiroid
maupun pada kasus
tiroidektomi.
191. A. Uji T berpasangan
Keywords: melakukan penelitian tentang perbandingan
pengetahuan masyarakat mengenai diare sebelum dan
sesudah penyuluhan. Data pengetahuan diperoleh
dengan melakukan pretest dan postest terhadap
seluruh peserta penyuluhan. Apabila skala
pengetahuan adalah data interval.
Analisis:
 Pengetahuan: data interval, variabel terikat
 Pre dan post tes: variabel bebas, dua kelompok dan
berpasangan
Maka, uji statistik yang sesuai adalah uji T berpasangan
Dasar teori Cara menginterpretasi tabel ini, kolom
pertama (paling kiri) adalah jenis data
variabel terikat, semetara kolom kedua dan
ketiga adalah tujuan penelitian dan jenis data
variabel bebas
192. B. Statified sample
Keywords: penelitian mengenai hubungan antara perilaku hidup
bersih dengan kejadian tinea versicolor. Peneliti mengelompokkan
populasi berdasarkan tingkat pendidikan, sebelum mengambil
sampel.
Analisis: dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa peneliti
mengambil sampel berdasarkan kelompok/stratum (stratified
sample). Tujuannya agar sampel yang terpilih mewakili populasi.
193. E. 40/120
Keywords: Dari kegiatan tersebut diperoleh data anak yang
mengalami anemia pada tanggal 1 Januari 2014 adalah 30
dari 120 anak. Kemudian, pada tanggal 31 Desember 2014
dari anak yang tidak terkena anemia diteliti kembali dan
hasilnya terdapat 10 anak mengalami anemia
Analisis: dari kasus di atas, jumlah kasus anemia sepanjang
tahun 2014 adalah 30+10=40 anak, dan jumlah anak
berisiko 120 anak. Sehingga, insidensi anemia:

Insidensi= jumlah penderita/jumlah berisikox100%=40/120


194. B. Cross sectional
Keywords: Dokter tersebut ingin melakukan penelitian
hubungan antara konsumsi makanan berbahan formalin
dengan keluhan nyeri kepala. Waktu yang dimiliki
dokter sedikit
Analisis:
Desain cross sectional: untuk mengetahui hubungan
antara faktor risiko dan efek dengan pendekatan
observasi dan pengumpulan data pada saat yang sama
(point time approach)cocok untuk waktu singkat.
Maka desain cross sectional tepat pada kasus tersebut
Pilihan lain
Case control: untuk mengetahui hubungan antara
paparan dengan keadaan yang sesungguhnya
(mengetahui penyakitnya lalu menelusuri
penyebabnya)
Cohort: mengkaji hubungan antara faktor risiko
dengan dampaknya
Prospektif: idem
Case review: mengkaji suatu kasus klinis
195. C. Selection bias
Keywords: Pada penelitian tersebut didapatkan 50 sampel. 30 pasien
dirujuk untuk dilakukan pembedahan sebagai terapi utama dan sisanya
mendapat terapi farmakologis sebagai terapi utama. Ternyata hasil
terapi kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa pembedahan
sedikit lebih baik daripada terapi farmakologis. Kelompok yang
mendapatkan terapi pembedahan rerata usianya lebih mudah daripada
yang mendapat terapi farmakologis.
Analisis: dari kasus di atas, bias yang terjadi adalah sampel pada
kelompok yang mendapatkan terapi pembedahan usianya lebih mudah
dibandingkan kelompok yang mendapatkan terapi farmakologis. Hal
tersebut memberikan outcome klinis yang lebih baik pada kelompok
yang mendapatkan terapi pembedahan (Selection Bias). Seharusnya
rerata umur antara kedua kelompok sama.
Dasar teori
Selection bias: prosedur pemilihan sampel
menghasilkan over (atau under)-representasi.
Misal, dari populasi yang terdiri dari 80%
perempuan dan 20% laki-laki, diambil sampel 100
orang, 50 perempuan dan 50 laki-laki. Di sini,
responden perempuan di-under-representasi dan
laki-laki di-over-representasi.
196. E. Uji Korelasi Pearson
Keywords: ingin melakukan penelitian mengenai
hubungan antara lama olahraga dengan tekanan darah
30 menit setelah olahraga. Lama olahraga diukur dalam
bentuk jam sementara tekanan darah dalam bentuk
mmHg
Analisis: dari kasus di atas, disimpulkan:
 Variabel Bebas: Lama Olahraga (jam)  Numerik
 Variabel Terikat: Tekanan Darah (mmHg)  Numerik
Dalam Penelitian Komparatif, Variabel Bebas HARUS
berupa Skala Kategorik, sedangkan pada Soal berupa
Numerik  Sehingga penelitian ini bersifat Korelasi 
Diselesaikan dengan Uji korelasi
197. D. P/(P+Q)
Hipertensi Normotensi

Tes positif P Q

Tes negatif R S
𝑃
Sensitivitas :
𝑃+𝑅 *INGAT!! POSISI TABEL HARUS BENAR
𝑆
Spesifitas :
𝑄+𝑆

𝑃
PPV :
𝑃+𝑄

𝑆
NPV :
𝑅+𝑆
198. A. Tidak ada perbedaan
antara Anemia dengan BBLR
Keywords:Tim dokter puskesmas ingin
melakukan penelitan mengenai hubungan
antara anemia pada ibu hamil dengan BBLR
yang dinyatakan dengan kadar Hb dan berat
badan lahir.
Tujuan Penelitian: Mencari hubungan antara
Anemia pada ibu hamil dengan BBLR
Hipotesis nol: berdasarkan kasus di atas, maka
hipotesis nol yang dapat dibuat adalah tidak
perbedaan antara anemia dengan BBLR
Dasar teori
Hipotesis penelitian:
 Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang menyatakan
tidak adanya hubungan antara variabel independen (X)
dan variabel dependen (Y). Artinya, dalam rumusan
hipotesis, yang diuji adalah ketidakbenaran variabel (X)
mempengaruhi (Y). Ex: “tidak ada hubungan antara warna
baju dengan kecerdasan mahasiswa”.
 Hipotesis Kerja (H1) adalah hipotesis yang menyatakan
adanya hubungan antara variabel independen (X) dan
variabel dependen (Y) yang diteliti. Hasil perhitungan H1
tersebut, akan digunakan sebagai dasar pencarian data
penelitian.
199. E. Disesuaikan degan
kriteria yang ditentukan
Keywords: Puskesmas Kadia ingin melakukan penelitian mengenai status gizi
anak berusia di bawah 10 tahun. Metode pegambilan sampel dilakukan dengan
cara Consecutive sampling.
Analisis: Consequtive sampling merupakan teknik pengambilan sampel non
random, di mana peneliti memilih sampel secara berurutan dan memenuhi
kriteria penelitian.
200. E. Semua Pasien dengan
penyakit X