Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ILMU KALAM

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 7 / MBS 3C

1. Wahyu Saputra (185211087)


2. Zaituni Izzah Nur Aini (185211106)
3. Teuku Farhan Husain (185211107)

Dosen Pengampu :
Mamluatur Rahmah, S.PSI., M. Ag.

MANAJEMEN BISNIS SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA

1
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alhamdulillahhirobbil ‘Alamin, segala puji bagi Alloh Subhanahu Wa ta’ala
yang senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul : Ahlussunnah wal
Jama’ah

Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat dan keluarganya yang telah
membawa peradaban islam dari zaman jahiliyah hingga zaman yang terang-
benderang seperti saat ini,

Terima kasih kepadan teman-teman semua yang ikut andil dalam memberi sport
dan motivasi dalam rangka menyusun makalah ini. Dan kami memohon maaf
apabila penyusunan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan. Mudah-
mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Surakarta, Agustus 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................ 1

Kata Pengantar ....................................................................................................... 2

Daftar Isi ................................................................................................................. 3

BAB I Pendahuluan ................................................................................................ 4

A. Latar Bealakang ................................................................................... 4


B. Rumusan Masalah ................................................................................ 4
C. Tujuan .................................................................................................. 5

BAB II Pembahasan ............................................................................................. 6

A. Latar Belakang Kemunculan ASWAJA............................................... 6


B. Pengertian ASWAJA.............................................................................6
C. Tokoh yang berpengaruh dalam ASWAJA ...........................................9
D. Analisis dan Perbedaan Pemikiran Asy’ariyah dan Al-Maturidi....... 10

BAB III Penutup .................................................................................................. 17

A. Kesimpulan ........................................................................................ 17

Daftar Pustaka ...................................................................................................... 18

BAB 1

PENDAHULUAN

3
A. Latar Belakang

Di kehidupan ini, ada banyak sekali ras, suku, etnis, bangsa dan
agama, Semuanya menyatu dalam keberagaman. Dalam agama Islam juga tidak
hanya terdapat satu paham saja, namun berbagai aliran ada dalam Islam. Oleh
karena itu, sangat penting bagi kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui dan
mempelajarinya.

Sebagaimana yang telah diprediksikan oleh Nabi Muhammad SAW,


bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya ada 1 golongan
saja yang kelak akan selamat. Sedangkan yang lainnya akan binasa. Ketika beliau
ditanya oleh para sahabat: “siapakah mereka yang akan selamat?” Rasululloh
SAW menjawab: “mereka adalah orang-orang yang mengikuti ajaranku dan ajaran
para sahabatku”.

Berdasarkan perkataan Rasulullah SAW tersebut sudah sepatutnya sebagai


seorang muslim untuk mensyukuri nikmat Islam yang sesuai dengan ajaran Rasul.
Namun belum cukup bagi kita apabila hanya mengetahui dan meyakininya saja,
namun harus ada bentuk aktualisasi yang nyata serta jiwa untuk membela ajaran
Islam yang benar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Ahlussunnah wal jama’ah?
2. Bagaimana latar belakang kemunculan Ahlussunnah wal jama’ah?
3. Siapa tokoh yang berpengaruh dalam Ahlussunnah wal Jama’ah?
4. Bagaimana analisis dan perbedaan pemikiran Asy’ariyah dan Al-
Maturidi?

4
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Ahlussunnah wal jama’ah
2. Untuk mengetahui latar belakang kemunculan Ahlussunnah wal
jama’ah?
3. Untuk mengetahui siapa tokoh yang berpengaruh dalam Ahlussunnah
wal Jama’ah?
4. Untuk mengetahui bagaimana analisis dan perbedaan pemikiran
Asy’ariyah dan Al-Maturidi?

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Kemunculan Ahlussunnah wal Jamaah

Menurut sebagian sejarawan, istilah Ahlussunnah wal-Jama’ah itu


digunakan sejak abad III H. mereka menyebutkan satu bukti yang
ditemukan pada lembaran surat Al-Ma’mun (khalifah dinasti Abbasiyah
ke-6). Di sana, tercantum kata-kata, “wa nassaba nafsahum ilaa as-
Sunnah (mereka menisbatkan diri pada sunnah). Abad ini adalah periode
tabi’in dan para imam-imam mujtahid, di kala pemikiran-pemikiran bid’ah
sudah mulai menjalar terutama bid’ah dari kaum mu’tazilah. Sejarah
mengatakan bahwa khalifah al-Ma’mun merupakan khalifah yang
mengambil mu’tazilah sebagai akidah resmi negara kemudian
memaksakan doktrin-doktrin Mu’tazilah kepada kaum muslimin.
(Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, 2008: 170)
Munculnya istilah Ahlusunnah wal-Jamaah merupakan perwujudan
dari sabda Rasulullah SAW “Selalu segolongan dari umatku mendapatkan
pertolongan” (H.R. Ibnu Majah). Untuk orang-orang inilah, istilah
ahlusunnah wal-jama’ah ditujukan. Dengan kata lain, ahlu sunnah wal-
jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh sunnah Rasulullah
SAW dan ajaran para sahabat, baik dalam masalah akidah, ibadah,
maupun etika batiniah (tasawuf). (Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, 2008:
171)
Aliran Ahlu sunnah wal Jama’ah tak lepas dari para pendirinya
yaitu Imam Abu Hasan Al-asy’ari dan juga imam Abu Mansur Al-
Maturidi. Saat kondisi perpolitikan Abbasiyah tengah tergoncang dan
akidah pada masa itu semakin kabur dengan paham-paham baru yang
muncul, lahirlah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Kelahirannya saat
Abbasiyah berada pada kepemimpinan Al- Mu’tamid ‘ala Allah.
(Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, 2008: 238)

6
Bersama dengan imam Al-Maturidi, Imam al-Asy’ari berjuangan
keras mempertahankan sunnah dari lawan-lawannya. Mereka bagaikan
saudara kembar. Dari gerakan-gerakan al-Maturidi muncul karya-karya
yang memperkuat madzhabnya, seperti kitab Al-Aqaid an-Nasafiyah karya
Najmudin an-Nasafi, sebagaimana muncul dari al-Asy’ari beberapa karya
yang memperkokoh madzhabnya seperti as-Sanusiyah dan al-Jauharoh.
(Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, 2008: 255)

B. Pengertian Ahlussunnah wal Jamaah


1. Makna sunnah

Berasal dari kata sanna-yasunnu-sannan secara bahasa ia memliki


banyak pengertian, yaitu sebagai berikut: (Waskito, 2012: 21)

a) Menjelaskan sesuatu. Seperti pada kalimat “sannallahu dzalika”,


artinya adalah ketetapan, perintah dan larangannya. Adapun maknya
yang “menjelaskan”, berasal dari kalimat “sunnallahu lin-nas”.
b) Riwayat atau jalan. Dalam hadist banyak kata kata yang di ulang ulang
yang bersumber darinya. Asal makna nya adalah riwayat dan jalan,
sedangkan al-farisi berkata, sunnah rasul maksutnya jalan
kehidupannya. Dalam kalimat “ath-thariqoh” dan “as-sirah” maknanya
adalah “metode atau cara” dan “perjalanan hidup”.
c) Kebiasaan yang kuat. “sunnata man qod arsalna qablaka min rusulina,
wa laa tajidu li sunnatina tahwila” (sebagai sesuatu ketetapan oleh
rasul rasul yang kami utus sebelummu, kamu tidak akan mendapati ada
perubahan atas kamu itu) al-israa ayat 77. Sunnah disini bermakna,
suatu kebiasaan yang kuat yang telah allah tetapkan hukum dan
keputusan atasnya.

Adapun secara istilah, sunnah memiliki sejumlah makna, yaitu sebagai


berikut: (Waskito, 2012: 21-23)

7
a) Makna bahasa : metode, kebiasaan, dan perjalanan hidup.
b) Dalam fiqih ia bermakna : suatu amalan yang terpuji dan di cintai,
sebagai tambahan dari amal amal wajib. Para ahli fiqih berkata “siwak
itu sunnah secara ijma’.” Maksutnya disukai.
c) Dalam ushul fiqih bermakna : salah satu dari dalil dalil syariat. Dalil
syariat yang di sepakati yaitu : al-quran, as-sunnah dan ijma’.
d) Dalam ilmu hadist bermakna. Sesuatu yang di kaitkan dengan nabi.
Berupa perkataan, perbuatan, atau pembiaraan nabi atas suatu perkara,
atau sifat sifat akhlak dan fisik nabi.
e) Sunnah juga bermakna lawan dari bid’ah. Ibnu mas’ud berkata
“ sederhana dalam sunah lebih baik daripada bersusah payah dalam
bid’ah. Karena amalan sunah meskipun kecil, di terima disisi allah.
Sedangkan amalan bid’ah meskipun besar hanya akan sia sia belaka.
f) Sunnah juga bermakna aqidah. Kitab kitab ulama tentang aqidah diberi
judul as-sunnah, seperti kitab ushul as-sunnah karya imam ahmad,
syarah as-sunnah karya al-barbahari dll.
g) Ibnu taimiyah dalam majmu’ al fatawa, berkata “sunnah adalah syariat.
Ia adalah apa yang di syariatkan oleh allah dan rasulnya dari agama
ini.”

2. Makna jama’ah

Secara bahasa jama’ah di temui dalam beberapa bentuk yang masing


masing memiliki makna tertentu, antara lain sebagai berikut: (Waskito,
2012: 23)

a) Al-ijtima’ , lawan dari tafarruq (berpecah-pecah) atau furqoh


(kelompok-kelompok).
b) Tajamma’ (al-qaum), jika berkumpul dari sana sini, mengumpulkan
yang terpecah belah.
c) Al-jam’u, yaitu sebutan untuk sejumlah manusia.

8
d) Al-ijma’ yaitu kesepakatan dalam hukum. Dikatakan “ijma’u ahlul
ilmi” maksutnya mereka sepakat dengan suatu hukum.
e) Al-jama’ah, sejumlah besar manusia, suatu golongan dari kalangan
manusia yang di bentuk oleh keinginan individu.

Secara istilah al-jama’ah memiliki makna: (Waskito, 2012: 23-25)


a) Para sahabat nabi, asy-syathibi berkata: “al-jama’ah adalah sahabat
secara khusus”. Mereka yang menegakkan tiang tiang agama,
mengingatkan pasak pasaknya. Dan mereka tidak perna berkumpul
diatas kesesatan.
b) Ahli ilmu. Imam bukhari berkata “ bab... dan apa yang nabi
perintahkan agar komitmen dengan al-jamaah, yaitu mereka yang ahli
ilmu.”
c) Berkumpul diatas kebenaran. Dengan meniadakan berpecah-belah.
d) Himpunan kaum muslimin dan sawadul a’zham (jumlah umat islam),
yang berada diatas sunah, ketika mereka berkumpul di bawah seorang
imam, atau seorang pemimpin dalam urusan agama, seorang pemimpin
dalam dalam urusan duniawi yang bersifat mubah.
e) Ahlul hadi wal aqdi. Mereka adalah ulama, umara (pemimpin
pemerintahan), para panglima, para hakim, dan pribadi pribadi, atau
sebagian dari mereka, jika mereka berkumpul diatas kemaslahatan
kaum muslimin, seperti urusan kekuasaan imam dan baiatnya, atau
pemecatannya.
f) Sekelompok manusia yang berkumpul di atas suatu urusan.

Ahlus sunnah wal jama’ah adalah para sahabat nabi dan orang
orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan siapa saja yang
berkomitmen dengan manhaj mereka , menjadikan mereka tuntutan,
mengikuti jalan mereka, dari kalangan orang orang yang beriman yang
berpegang teguh dengan jejak mereka, sampai hari kiamat. (Waskito, 2012:
26)

9
Mereka disebut ahlus sunnah karena mereka mengambil sunnah
dari rasulullah, berilmu dengan nya dan mengamalkannya hukum hukum
nya. (Waskito, 2012: 26)

Mereka disebut al-jamaah, karena mereka berkumpul di atas al-haq,


meyakini kebenaran itu, mengikuti jejak jama’atul musimin, yaitu orang
orang yang berpegang teguh dengan sunnah, dari kalangan sahabat, tabi’in,
tabi’ut tabi’in. Dan mereka berkumpul kepada pemimpin allah berikan
urusan wilayah (kekuasaan politik) kepadanya, tidak mengoyak ketaatan
dengan maksiat, sebagaimana yang rasullullah perintahkan atas mereka.
(Waskito, 2012: 26-27)

Dan mereka adalah siapa yang berkumpul diatas kalangan umat


manusia, dengan tidak menyimpag dari jalan itu lalu berbelok dari arah
jalan lain. Mereka diatas jalan sunnah dan sikab ittiba’ (mengikuti) dengan
tidak menyimpang kearah bid’ah dan hawa nafsu , dengan hati hati mereka,
badan badan mereka dan apapun yang memungkinkan untuk itu. (Waskito,
2012: 27)

C. Tokoh yang Berpengaruh dalam Ahlussunnah wal Jamaah


1. Al-Asy’ari
Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan Ali Bin Ismail bin
Ishak bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi
Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari. Menurut beberapa riwayat, Al-
Asy’ari lahir di Bashar pada tahun 260 H/875M. Ketika berusia lebih
dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun
324 H/935M. (Rozaq dan Anwar, 2012:146)

Menurut Ibn Asakir, ayah Al-Asyr’ari adalah seorang yang


berfaham Ahlussunah dan ahli hadis. Ia wafat ketika Al-Asy’ary masih
kecil. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada seorang sahabatnya yang

10
bernama Zakaria bin Yahya As-saji agar mendidik As-Sy’ary. Ibu As-
Asy’Ari, sepeningal ayahnya, menikah lagi dengan seorang tokoh
Mu’tazilah yang bernama Abu Ali Al- Jubba’i ( w. 303 H/915 M),
ayah kandung abu Hasyim Al-Jubba’i (w. 321 H/932 M). Berkat
didikan ayah tirinya itu, Al-Asy’ari kemudian menjadi tokoh
Mu’tazilah. Ia sering mrngantikan Al- Jubba’i dalam perdebatan
menentang lawan-lawan Mu’tazilah. (Rozaq dan Anwar, 2012:146-147)

2. Al-Maturidi
Abu Mansyur al-Maturidi nama lengkapnya ialah Abu mansur
Muhammad bin Muhammadbin Mahmud al-Hanafi al-Mutakallim al-
Matu-ridi al-Samarkhandi.[4] Beliau dilahirkan di Maturid, sebuah
kota kecil di daerah samarkand, wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah,
daerah yang sekarang di sebut Uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak
diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-
3 Hijriah. Ia wafat pada tahun 333H/944 M. Gurunya dalam bidang
fiqih dan teologi bernama Nasyr bin Yahya Al-Balakhi. Ia wafat pada
tahun 268H. Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutawakkil
yang memerintah tahun 232-274/846-861 M. (Rozaq dan Anwar,
2012:150-151)

D. Analisis dan Perbedaan Pemikiran Asy’ariyah dan Al-Maturidi

1. Teologi Al-Asy’ari

Formulasi pemikiran Al-Asy’ari, secara esensial menampilkan sebuah


upaya sintetis antara formulasi ortodoks ekstrem pada satu sisi dan
Mu’tazilah pada sisi lain. Pada segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki
semangat ortodoks. Aktualitas formulasinya jelas menampakkan sikap

11
yang reaksionis terhadap Mu’tazilah, sebuah reaksi yang tidak bisa 100%
menghindarinya. Corak pemikiran yang sintetis ini, dipengaruhi teologi
kullabiah (teologi Sunni yang dipelopori Ibn Kullab) (w.854 M). (Rozaq
dan Anwar, 2012:147)

Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari yang terpenting adalah sebagai berikut.

a. Tuhan dan sifat-sifat-Nya

Perbedaan pendapat di kalangan mutakalimin mengenai sifat-sifat


Allah tidak dapat dihindarkan meskipun mereka setuju bahwa mengesakan
Allah adalah wajib. Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan yang
ekstrem,. Pada satu pihak, ia berhadapan dengan kelompok sifatiah
(pemberi sifat), kelompok mujassimah (antropomorfis), dan kelompok
musyabbihah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang
disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa sifat-sifat itu harus
dipahami menurut arti harfiahnya. Pada pihak lain, ia berhadapan dengan
kelompok Mu’tazilah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain
selain esensi-Nya, dan tangan, kaki, telinga Allah atau Arsy atau kursi
tidak boleh diartikan secara harfiah, tetapi harus dijelaskan secara alegoris.
(Rozaq dan Anwar, 2012:147-148)

Menghadapi dua kelompok yang berbeda tersebut, Al-Asy’ari


berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat (bertentangan dengan
Mu’tazilah) dan sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki, tidak
boleh diartikan secara harfiah, tetapi secara simbolis (berbeda dengan
pendapat kelompok sifatiah). Selanjutnya, Al-Asy’ari berpendapat bahwa
sifat-sifat Allah itu unik dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat
manusia yang tampaknya mirip. Sifat-sifat manusia berbeda dengan Allah
tetapi –sejauh menyangkut realitas (haqiqah)- tidak terpisah dari esensi-
Nya. Dengan demikian, tidak berbeda dengan-Nya. (Rozaq dan Anwar,
2012: 148)

b. Kebebasan dalam berkehendak (free-will)

12
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan menetukan serta
mengaktualisasikan perbuatannya. Al-Asy’ari mengambil pendapat
menengah di antara dua pendapat yang ekstrem, yaitu Jabariah yang
fatalistik dan menganut paham pra-determinisme semata-mata, dan
Mu’tazilah yang menganut paham kebebasan mutlak dan berpendapat
bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. (Rozaq dan Anwar,
2012:148)

Untuk menengahi dua pendapat diatas, Al-Asy’ari membedakan antara


khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan
manusia, sedangkan manusia adalah yang mengupayakannya (muktasib).
Hanya Allah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keingian
manusia). (Rozaq dan Anwar, 2012:148)

c. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk

Meskipun Al-Asy’ari dan orang-orang Mu’tazilah mengakui


pentingnya akal dan wahyu, tetapi berbada dalam menghadapi persoalan
yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-Asy’ari
menutamakan wahyu, sementara Mu’tazilah mengutamakan akal. (Rozaq
dan Anwar, 2012: 149)

Dalam menentukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat


diantara mereka. Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus
berdasarkan wahyu, sedangkan Mu’tazilah mendasarkannya pada akal.
(Rozaq dan Anwar, 2012: 149)

d. Qadimnya Al-Qur’an

Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrem dalam personal


qadimnya Al-Qur’an: Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an
diciptakan (makhluk), dan tidak qadim; serta pandangan mazhab Hanbali
dan Zahiriah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah
(yang qadim dan tidak diciptakan). Bahkan, Zahiriah berpendapat bahwa
semua huruf, kata-kata, dan bunyi Al-Qur’an adalah qadim. Dalam rangka

13
mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu, Al-Asy’ari
mengatakan bahwa walaupun Al-Qur’an terdiri atas kata-kata, huruf dan
bunyi, tetapi hal itu tidak melekat pada esensi Allah dan tidak qadim.
(Rozaq dan Anwar, 2012: 149)

e. Melihat Allah

Al-Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrem,


terutama Zahiriah, yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di Akhirat
dan memercayai bahwa Allah bersemayam di ‘Arsy. Selain itu, Al-Asy’ari
tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah
(melihat Allah) di akhirat. Al-Asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di
akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi
ketika Allah yang menyebabkan dapat dilihat atau Ia menciptakan
kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya. (Rozaq dan Anwar,
2012: 149-150)

f. Keadilan

Pada dasarnya Al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil.
Mereka hanya berbeda dalam cara pandang makna keadilan. Al-Asy’ari
tidak sependapat dengan ajaran Mu’tazilah yang mengharuskan Allah
berbuat adil sehingga Ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi
pahala kepada orang yang berbuat baik. Al-Asy’ari berpendapat bahwa
Allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah penguasa Mutlak.
Jika Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki
dirinya, sedangkan Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik
Mutlak. (Rozaq dan Anwar, 2012: 150)

g. Kedudukan orang berdosa

Al-Asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang dianut Mu’tazilah.


Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufur, predikat bagi
seseorang harus satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh karena
itu, Al-Asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar

14
adalah mukmi yang fasik sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa
selain kufur. (Rozaq dan Anwar, 2012: 150)

2. Teologi Al-Maturidi

a. Akal dan wahyu


Dalam pemikiran teologinya, Al-Maturidi mendasarkan pada Al-Qur’an
dan akal. Dalam hal ini, ia sama dengan Al-Asy’ari, akan tetapi, porsi yang
diberikan pada akal lebih besar daripada yang diberikan oleh Al-Asy’ari.
(Rozaq dan Anwar, 2012: 151)

Menurut Al-Maturidi, mengetahui tuhan dan kewajiban mengetahui tuhan


dapat diketahui dengan akal. Kemampuan akal mengetahui dua hal tersebut
sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung perintah agar manusia
menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan iman terhadap
Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk
ciptaan-Nya. Apabila akal tidak memiliki kemampuan memperoleh
kemampuan tersebut, Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk
melakukannya. Orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh
iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang
diperintahkan ayat-ayat tersebut. Menurut Al-Maturidi, akal tidak mampu
mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya kecuali dengan bimbingan dari
wahyu. (Rozaq dan Anwar, 2012: 151-152)

Al-Maturidi membagi sesuatu yang berkaitan dengan akal pada tiga


macam, yaitu:
1) Akal hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu;
2) Akal hanya mengetahui keburukan sesuatu itu;
3) Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali
dengan petunjuk ajaran wahyu.

Mengetahui kebaikan atau keburukan sesuatu dengan akal, Al-


Maturidi sependapat dengan Mu’tazilah. Perbedaannya, Mu’tazilah

15
mengatakan bahwa perintah kewajiban melakukan yang baik dan
meninggalkan yang buruk didasarkan pada pengetahuan akal. Al-Maturidi
mengatakan bahwa kewajiban tersebut harus diterima dari ketentuan ajaran
wahyu. Dalam persoalan ini, Al-Maturidi berbeda pendapat dengan Al-Asy’ari.
Menurut Al-Asy’ari, baik atau buruk tidak terdapat pada sesuatu itu sendiri.
Sesuatu itu dipandang baik karena perintah syara’ dan dipandang buruk karena
larangan syara’. Jadi, yang baik itu baik karena perintah Allah dan yang buruk
itu buruk karena larangan Allah. Pada konteks ini, ternyata Al-Maturidi berada
pada posisi tengah dari Mu’tazilah dan Al-Asy’ari. (Rozaq dan Anwar, 2012:
152)

b. Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi, perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena
segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya. Khusus mengenai
perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak Tuhan
mengharuskan manusia memiiki kemampuan berbuat (ikhtiar) agar
kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan. Dalam
hal ini, Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia
dengan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia. Tuhan
menciptakan daya (kasb) dalam diri manusia dan manusia bebas
menggunakannya. Daya-daya tersebut diciptakan bersamaan dengan perbuatan
manusia. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara qudrat Tuhan yang
menciptakan perbuatan manusia dengan ikhtiar yang ada pada manusia.
Kemudian, karena daya diciptakan dalam diri manusia dan perbuatan yang
dilakukan adalah perbuatan manusia dalam arti sebenarnya sehingga daya itu
daya manusia. Berbeda dengan Al-Maturidi, Al-Asy’ari mengatakan bahwa
daya tersebut adalah daya Tuhan karena ia memandang perbuatan manusia
adalah perbuatan Tuhan. (Rozaq dan Anwar, 2012: 152-153)
Dalam masalah pemakaian daya, Al-Maturidi membawa paham Abu
Hanifah, yaitu adanya masyi’ah (kehendak) dan rida (kerelaan). Kebebasan
manusia dalam melakukan baik atau buruk tetap dalam kehendak Tuhan.
(Rozaq dan Anwar, 2012: 153)

16
c. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Pernyataan ini menurut Al-Maturidi bukan berarti Tuhan berkehendak dan
berbuat dengan sewenang-wenang serta sekehendak-Nya. Karena qudrat
Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendak-Nya
itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-
Nya. (Rozaq dan Anwar, 2012: 154)
.
d. Sifat Tuhan
Pengertian Al-Maturidi tentang sifat Tuhan berbeda dengan Al-Asy’ari.
Al-Asy’ari mengartikan sifat Tuhan sebagai sesuatu yang bukan Dzat,
melainkan melekat pada Dzat. Menurut Al-Maturidi sifat tidak dikatakan
sebagai esensi-Nya dan bukan pula lain dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu
mulazamah (ada bersama, baca: inheren) Dzat tanpa terpisah (innaha lam
takun ‘ain adz-dzat wa la hiya ghairuhu). Menetapkan sifat bagi Allah tidak
harus membawa pada pengertian antropomorfisme karena sifat tidak berwujud
yang tersendiri dari dzat, sehingga berbilang sifat tidak akan membawa pada
berbilangnya yang qadim (taaddud al-qudama). (Rozaq dan Anwar, 2012: 154)
e. Melihat Tuhan

Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Tentang


melihat Tuhan ini diberitakan oleh Al-Qur’an, antara lain firman Allah dalam
surat Al-Qiyamah ayat 22 dan 23. Al-Maturidi lebih lanjut mengatakan bahwa
Tuhan kelak di akhirat dapat ditangkap dengan penglihatan karena Tuhan
mempunyai wujud, walaupun Ia immaterial. Melihat Tuhan kelak di akhirat
tidak memperkenalkan bentuknya karena keadaan di akhirat tidak sama
dengan keadaan di dunia. (Rozaq dan Anwar, 2012: 155)

f. Kalam Tuhan

Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca: sabda) yang tersusun


dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda yang sebenanarnya atau
makna abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam

17
yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadis). Al-Qur’an dalam
arti kalam yang tersusun dari huruf dan kata-kata adalah baharu. Kalam nafsi
tidak dapat diketahui hakikatnya dan bagaimana Allah bersifat dengannya
(bila kaifa) dan manusia tidak dapat mendengar atau membacanya, kecuali
dengan perantara. (Rozaq dan Anwar, 2012: 155)

g. Perbuatan manusia

Menurut Al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini,
kecuali semua adalah dalam kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan tidak ada yang
memaksa atau membatasinya, kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang
ditentukan oleh kehendak-Nya. Setiap perbuatan Tuhan yang bersifat
mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak
terlepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya. (Rozaq dan Anwar,
2012: 155-156)

h. Pengutusan Rasul

Al-Maturidi berpendapat bahwa akal memerlukan bimbingan ajaran


wahyu untuk dapat mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut. Jadi,
pengutusan Rasul adalah hal niscaya yang berfungsi sebagai sumber informasi.
Tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan Rasul, berarti manusia
membebankan akalnya pada sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
(Rozaq dan Anwar, 2012: 156)

Pandangan Al-Maturidi ini tidak jauh berbeda dengan pandangan


Mu’tazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah
umatnya adalah kewajiban Tuhan, agar manusia dapat berbuat baik dan
terbaik dalam kehidupannya dengan ajaran para Rasul. (Rozaq dan Anwar,
2012: 156)

i. Pelaku dosa besar (murtakib al-kabir)

Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan
tidak kekal di dalam neraka, walaupun ia meninggal sebelum bertobat. Hal ini

18
karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia
sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk
orang yang berbuat dosa syirik. Berbuat dosa besar selain syirik tidak akan
kekal di dalam neraka. Oleh karena itu, perbuatan dosa besar (selain syirik)
tidak menjadikan seseorang kafir atau murtad. Menurut Al-Maturidi iman itu
cukup dengan tashdiq dan iqrar. Adapun amal adalah penyempurnaan iman.
Oleh karena itu, amal tidak akan menambah atau mengurangi esensi iman,
kecuali menambah atau mengurangi pada sifatnya. (Rozaq dan Anwar, 2012:
156-157)

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Munculnya istilah Ahlusunnah wal-Jamaah merupakan perwujudan


dari sabda Rasulullah SAW “Selalu segolongan dari umatku mendapatkan
pertolongan” (H.R. Ibnu Majah). Untuk orang-orang inilah, istilah
ahlusunnah wal-jama’ah ditujukan. Dengan kata lain, ahlu sunnah wal-
jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh sunnah Rasulullah
SAW dan ajaran para sahabat, baik dalam masalah akidah, ibadah,
maupun etika batiniah (tasawuf). Ahlus sunnah wal jama’ah adalah para

19
sahabat nabi dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan
siapa saja yang berkomitmen dengan manhaj mereka, menjadikan mereka
tuntutan, mengikuti jalan mereka, dari kalangan orang orang yang beriman
yang berpegang teguh dengan jejak mereka, sampai hari kiamat. Mereka
disebut ahlus sunnah karena mereka mengambil sunnah dari rasulullah,
berilmu dengan nya dan mengamalkannya hukum hukum nya. Mereka
disebut al-jamaah, karena mereka berkumpul di atas al-haq, meyakini
kebenaran itu, mengikuti jejak jama’atul musimin, yaitu orang orang yang
berpegang teguh dengan sunnah, dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut
tabi’in. Dan mereka berkumpul kepada pemimpin allah berikan urusan
wilayah (kekuasaan politik) kepadanya, tidak mengoyak ketaatan dengan
maksiat, sebagaimana yang rasullullah perintahkan atas mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Waskito, Abu Muhammad, 2012. Mendamaikan ahlussunnah di nusantara: jaktim,


pustaka al-kautsar
Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, 2006. Syarah ‘aqidah ahlus sunnah wal jama’ah:
bogor, pustaka imam syafii.
Rozaq, Abdul dan Rosihon Anwar. 2012. Ilmu Kalam. Bandung : Pustaka Setia

Tim karya Ilmiah 2008, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pon-Pes Lirboyo.


2008. Aliran-aliran Teologi Islam. Kediri : Purna Siswa Aliyah 2008

20
21