Anda di halaman 1dari 31

CLINICAL SCIENCE SESSION

PEMERIKSAAN FISIK NEUROLOGI

Disusun oleh :
Richard Kurniawan 130112180647
Maryam Hanifah Mardliyyah 130112180649
Ginulur Gensyaf Adgani 130110150138
Aghni Qalbi Imansyah 130112180598
M. Tito Anugerah Ramadhan 130112180648
Alvin Farhan Geovano 130112180512

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT DR. HASAN SADIKIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2019
1. PEMERIKSAAN TINGKAT KESADARAN
Tingkat kesadaran pasien dapat dinilai secara kuantitatif menggunakan Glasgow Coma
Scale dengan indicator Eye, Motor, dan Verbal:

Interpretasi (Rentang 3-15)


 3-7 : Coma
 8-11 : Sopor
 12-14 : Somnolent
 15 : Compos mentis (Alert)
Selain secara kuantitatif dengan menggunakan GCS, tingkat kesadaran juga dapat
diperiksa secara kualitatif, yaitu:
1. Compos Mentis (conscious): kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat
menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.
2. Apatis: keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.
3. Delirium: gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-
teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
4. Somnolen (Obtundasi, Letargi): kesadaran menurun, respon psikomotor yang
lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah
dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
5. Stupor (soporo koma): keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap
nyeri (rangsang nyeri dapat diberikan pada kuku, supraorbital atau sternum).
6. Coma (comatose): tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan
apapun (tidak ada respon kornea maupun refleks muntah, mungkin juga tidak ada
respon pupil terhadap cahaya).
2. PEMERIKSAAN MOTORIK
Pemeriksaan sistem motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk
menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan.
2.1. Inspeksi
 Gaya berjalan dan tingkah laku.
 Simetri tubuh dan ektremitas.
 Kelumpuhan badan dan anggota gerak, dan lain-lain.
2.2. Gerakan volunter
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:
 Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.
 Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.
 Mengepal dan membuka jari-jari tangan.
 Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul.
 Fleksi dan ekstensi artikulus genu.
 Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.
 Gerakan jari- jari kaki.
2.3. Palpasi otot
 Pengukuran besar otot.
 Nyeri tekan.
 Kontraktur.
 Konsistensi (kekenyalan)
o dapat meningkat pada:
 Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal: meningitis, HNP
 Kelumpuhan jenis UMN (spastisitas)
 Gangguan UMN ekstrapiramidal (rigiditas)
o menurun pada:
 Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot.
 Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di “motor end plate”
2.4. Perkusi otot
 Normal: otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan
berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja.
 Miodema: penimbunan sejenak pada tempat yang telah diperkusi (biasanya
terdapat pada pasien mixedema, pasien dengan gizi buruk).
 Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh karena
kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa.
2.5. Tonus otot
Merupakan tahanan yang timbul pada sendi saat digerakkan secara pasif. Pasien
diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas tersebut kita
gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan lutut. Pada orang normal terdapat
tahanan yang wajar.
 Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan LMN).
 Hipotoni : tahanan berkurang.
 Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan, ini dijumpai pada
kelumpuhan UMN.
 Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson.
2.6. Kekuatan otot
Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, dapat menggunakan dua cara:
 Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa
menahan gerakan ini.
 Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disurun
menahan.
Penilaian kekuatan otot:
 0: Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total.
 1: Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada
persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
 2:Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat
(gravitasi).
 3: Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
 4: Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan
yang diberikan.
 5: Tidak ada kelumpuhan (normal)
3. PEMERIKSAAN SENSORIS
3.1. Eksteroseptif
Terdiri atas:
 Rasa nyeri: bisa dibangkitkan dengan berbagai cara, misalnya dengan menusuk
menggunakan jarum, memukul dengan benda tumpul, merangsang dengan api atau
hawa yang sangat dingin dan juga dengan berbagai larutan kimia.
 Rasa suhu: diperiksa dengan menggunakan tabung reaksi yang diisi dengan air es
untuk rasa dingin, dan untuk rasa panas dengan air panas. Penderita disuruh
mengatakan dingin atau panas bila dirangsang dengan tabung reaksi yang berisi air
dingin atau air panas. Untuk memeriksa rasa dingin dapat digunakan air yang
bersuhu sekitar 10-20 °C, dan untuk yang panas bersuhu 40-50 °C. Suhu yang
kurang dari 5 °C dan yang lebih tinggi dari 50 °C dapat menimbulkan rasa-nyeri.
 Rasa raba: dapat dirangsang dengan menggunakan sepotong kapas, kertas atau kain
dan ujungnya diusahakan sekecil mungkin. Hindarkan adanya tekanan atau
pembangkitan rasa nyeri. Periksa seluruh tubuh dan bandingkan bagian-bagian
yang simetris.
3.2. Proprioseptif
Merupakan rasa raba dalam yang terdiri atas:
 Rasa gerak: pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan jempol
jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah maupun kesamping kanan dan
kiri, kemudian pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol nya berada
diatas atau dibawah atau disamping kanan/kiri.
 Rasa getar: Garpu tala digetarkan dulu/diketuk pada meja atau benda keras lalu
letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien dan mintalah pasien menjawab untuk
merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut.
3.3. Diskriminatif
Adalah daya untuk mengenal bentuk/ukuran; daya untuk mengenal /mengetahui berat
sesuatu benda dsb:
 Rasa gramestesia : untuk mengenal angka, aksara, bentuk yang digoreskan diatas
kulit pasien, misalnya ditelapak tangan pasien.
 Rasa barognosia : untuk mengenal berat suatu benda.
 Rasa topognosia : untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien.
4. PEMERIKSAAN KOORDINASI
4.1. Intensio tremor
Tremor yang timbul bila melakukan gerakan volunter (degan kemauan) dan menjadi
lebih nyata bila menghampiri tujuannya. Tremor intensi dapat pula diperiksa dengan jalan
menyuruh pasien mengambil benda yang kecil, makin dekat ia pada benda tersebut makin jelas
tremor pada tangannya.
4.2. Test telunjuk hidung
Pasien disuruh menutup mata dan meluruskan lengannya kesamping, kemudian ia
disuruh menyentuh hidubgnya dengan telunjuk. Pada lesi sereberal telunjuk tidak sampai di
hidung tetapi melewatinya dan sampai di pipi. Bila jari mendekati hidung terlihat tremor
(tremor intensi) atau pasien disuruh menunjuk telunjuk pemeriksa, kemudian menunjuk
hidungnya, berulang-ulang.
4.3. Tes tumit – lutut
Penderita berbaring dengan kedua tungkai diluruskan, kemudian ia dusuruh
menempatkan tumit pada lutut kaki yang lain. Tumit ini tidak tepat mengenai lutut. Terlihat
pasien mengadakan fleksi lutut yang berlebihan sehingga tumit melampaui lutut dan sampai di
paha.
4.4. Ataksi (gangguan koordinasi gerakan)
Gangguan gerakan adalah berkurangnya kerjasama antar otot. Pada orang normal bila
ia mengedik kebelakang, pada waktu yang bersamaan ia akan memfleksikan lutut atau tungkai
untuk menjaga keseimbangan. Akan tetapi pada penderita gangguan sereberal, saat
mengedikkian badannya ke belakang, ia selalu menegangkan tungkainya, sehingga ia berada
dalam bahaya akan jatuh.

5. REFLEKS FISIOLOGIS
Refleks neurologik bergantung pada suatu lengkungan (lengkung refleks) yang terdiri
atas jalur aferen yang dicetus oleh reseptor dan sistem eferen yang mengaktifasi organ efektor,
serta hubungan antara kedua komponen ini. Bila lengkung ini rusak maka refleks akan hilang.
Selain lengkungan tadi didapatkan pula hubungan dengan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak
yang tugasnya memodifikasi refleks tersebut. Bila hubungan dengan pusat-pusat yang lebih
tinggi di otak yang tugasnya memodifikasi refleks tersebut. Bila hubungan dengan pusat yang
lebih tinggi ini terputus, misalnya karena kerusakan pada sistem piramidal, hal ini akan
mengakibatkan refleks meninggi.
Bila dibandingkan dengan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya, misalnya pemeriksaan
sensibilitas, maka pemeriksaan refleks kurang bergantung kepada kooperasi pasien. Ia dapat
dilakukan pada orang yang kesadarannya menurun, bayi, anak, orang yang rendah
inteligensinya dan orang yang gelisah. Dalam sehari-hari kita biasanya memeriksa 2 macam
refleks fisiologis yaitu refleks dalam dan releks superfisial.
Respons refleks dapat dibagi atas beberapa tingkat yaitu:
 (negatif) : tidak ada refleks sama sekali
 ± : respons lemah
 + : respons normal
 ++ : respons berlebih (refleks meningkat)

5.1. Refleks Dalam (Refleks Regang Otot)


Refleks dalam timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan, dan sebagai
responsnya maka otot berkontraksi. Refleks dalam juga dinamai refleks regang otot (muscle
stretch reflex). Nama lain bagi refleks dalam ini ialah refleks tendon, refleks periosteal, refleks
miotatik dan refleks fisiologis.
5.1.1. Biceps Reflex (C5-6)
a. Pasien dalam keadaan tidur telentang.
b. Minta pasien untuk rileks.
c. Taruh 1 jari di atas fossa cubiti lalu letakkan diatas perut.
d. Ketuk jari dengan palu refleks.
e. (+): Fleksi tangan (kontraksi otot biceps).
f. Bandingkan kanan dan kiri.
5.1.2. Triceps Reflex (C6-8)
a. Masih telentang, rileks.
b. Fleksi siku 90o lalu letakkan di atas perut.
c. Ketuklah tendo otot triseps pada fosa olekrani
d. (+): Ekstensi tangan (kontraksi otot triceps)
e. Bandingkan kanan dan kiri.
5.1.3. Brachioradialis Reflex (C5-6)
a. Kedua tangan pasien disamping badan, rileks.
b. Pegang lengan bawah pasien, letakkan jari telunjuk/jempol
kita diatas sendi pergelangan pasien (radius-sejajar jempol).
c. Ketuk jari dengan palu refleks.
d. (+): Fleksi tangan (kontraksi brachioradialis).
e. Bandingkan kanan dan kiri.
5.1.4. Knee Jerk Reflex / Patellar Reflex (L2-4)
a. Fleksikan kaki pasien (lututnya), satu tangan
pemeriksa dibawah lutut.
b. Minta pasien rileks.
c. Ketuklah pada tendon muskulus kuadriseps
femoris di bawah patella
d. (+): Ekstensi tungkai kaki bawah.
e. Bandingkan kanan dan kiri.
5.1.5. Achilles Tendon Reflex / Ankle Tendon Reflex (L5-S2)
a. Tekuk kaki pasien, letakkan diatas kaki yang lainnya.
b. Fleksikan tungkai bawah sedikit, kemudian pegang
kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap
dorsofleksi ringan pada kaki
c. Ketuk tendon achilles dengan bagian palu yang
tumpul, bersilangan.
d. (+): Fleksi plantar.
e. Bandingkan kanan dan kiri.

5.2. Superficial Reflex


Refleks ini timbul karena terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan
berkontraksinya otot yang ada di bawahnya atau di sekitarnya. Jadi bukan karena teregangnya
otot seperti pada refleks dalam. Salah satu contohnya adalah refleks dinding perut superfisialis
(refleks abdominal).
a. Izin buka baju pasien sampai area abdominal terlihat.
b. Gores kulit abdomen dengan sisi ujung satunya dari palu reflex (gently).
c. Arah: diagonal dan horizontal dari lateral ke medial menuju midline (umbilicus).
d. Area stimulasi: atas umbilicus, di level umbilicus, dan dibawah umbilicus.
o Segmen epigastrium (otot yang
berkontraksi diinervasi oleh Th 6 – Th 7)
o Supra umbilikus (perut bagian atas,
diinervasi oleh Th 7 – Th 9)
o Umbilikus (perut bagian tengah,
diinervasi oleh Th 9 – Th 11)
o Infraumbilikus ( perut bagian bawah,
diinervasi oleh Th 11, Th 12 dan lumbal
atas)

Interpretasi:
 Nilai Positif : Kontraksi otot abdomen, pusar bergerak kea rah otot yang
berkontraksi.
 Nilai Negatif:
- Biasanya negatif pada wanita normal yang banyak anak (sering hamil), yang
dinding perutnya lembek, demikian juga pada orang gemuk dan orang usia
lanjut, juga pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun.
- Pada orang muda yang otot-otot dinding perutnya berkembang baik, bila
refleks ini negatif (-), hal ini mempunyai nilai patologis.
- Refleks dinding perut superfisialis menghilang pada lesi piramidalis.
Hilangnya refleks ini berkombinasi dengan meningkatnya refleks otot dinding
perut adalah khas bagi lesi di susunan piramidalis. Pada keadaan-keadaan
perut tersebut di atas dan lesi di segmen-segmen medulla spinalis yang dilintasi
busur refleks kulit dinding perut, sudah barang tentu refleks kulit dinding perut
tidak dapat dibangkitkan.
6. REFLEKS PATOLOGIS
Refleks patologik adalah refleks-refleks yang tidak dapat dibangkitkan pada orang-
orang yang sehat, kecuali pada bayi dan anak kecil. Kebanyakan merupakan gerakan
reflektorik defensif atau postural yang pada orang dewasa yang sehat terkelola dan ditekan oleh
akifitas susunan piramidalis. Anak kecil umur antara 4 – 6 tahun masih belum memiliki
susunan piramidal yang sudah bermielinisasi penuh, sehingga aktivitas susunan piramidalnya
masih belum sempurna. Maka dari itu gerakan reflektorik yang dinilai sebagai refleks patologik
pada orang dewasa tidak selamanya patologik jika dijumpai pada anak-anak kecil, tetapi pada
orang dewasa refleks patologik selalu merupakan tanda lesi UMN.
Refleks-refleks patologik ada yang bersifat dalam maupun superfisialis. Reaksi yang
diperlihatkan oleh refleks patologik sebagian besar adalah sama, akan tetapi memiliki istilah
yang beragam karena cara membangkitkannya berbeda-beda. Adapun refleks-refleks patologik
yang sering diperiksa di dalam klinik antara lain refleks Hoffmann, refleks Tromner dan
ekstensor plantar response atau tanda Babinski.

6.1 Babinski Reflex (Plantar Toe Reflex)


a. Pegang kaki pasien di ankle joint (agak diangkat sedikit).
b. Goreskan ujung dasar palu reflex ke aspek lateral sole (telapak kaki bagian sejajar
kelingking) dari plantar lateral tumit ke arah kelingking, setelah sampai pangkalnya
dibelokkan menuju basis kepala tulang metatarsal medial (ibu jari kaki).
c. Lihat apakah ada respon refleks/tidak.
d. Bandingkan kanan dan kiri.
e. Positif (+) jika didapatkan gerakan
dorsofleksi ibu jari, dapat disertai
mekarnya jari-jari lainnya (abduksi
dan fleksi ringan).

6.2 Chaddock Reflex


a. Caranya sama seperti Babinski tetapi dilakukan di
punggung kaki. Gores bagian lateral kaki, mulai dari
bagian bawah malleolus lateral ke depan.
b. Lihat apakah ada respon refleks/tidak.
c. Bandingkan kanan dan kiri.
d. (+) : gerakan dorsofleksi ibu jari, dapat disertai mekarnya jari-jari lainnya (abduksi
dan fleksi ringan).

6.3 Oppenheim Reflex (Shin-toe Reflex)


a. Jari telunjuk dan tengah pemeriksa difleksikan.
b. Goreskan dengan tekanan pada tulang tibia bagian proximal kebawah sampai distal
tibia. Jari pemeriksa di antara tulang tibia pasien.
c. Lihat apakah ada respon refleks/tidak.
d. Bandingkan kanan dan kiri.
e. (+) : gerakan dorso fleksi ibu jari, dapat disertai
mekarnya jari-jari lainnya (abduksi dan fleksi
ringan).

6.4 Gordon Reflex (Calf-toe Reflex)


a. Tekan otot gastrocnemius (otot betis) pasien.
b. Lihat apakah ada respon refleks/tidak.
c. Bandingkan kanan dan kiri.
d. (+): gerakan dorso fleksi ibu jari, dapat disertai
mekarnya jari-jari lainnya (abduksi dan fleksi ringan).

6.5 Schaeffer Reflex (Achilles-toe Reflex)


a. Tekan tendon achilles pasien (cubit).
b. Lihat apakah ada respon refleks/tidak.
c. Bandingkan kanan dan kiri.
d. (+): gerakan dorso fleksi ibu jari, dapat disertai
mekarnya jari-jari lainnya (abduksi dan fleksi ringan).

6.6 Rossolimo Reflex


a. Ketuk aspek anterior telapak kaki (plantar pledis)
pada tulang cuboid dengan palu refleks.
b. Lihat apakah ada respon refleks atau tidak.
c. (+): Kontraksi jari-jari kaki.
d. Bandingkan kanan dan kiri.
6.7 Mendel-Bechterew Reflex
a. Ketuk aspek posterior telapak kaki (dorsal pedis)
pada metatarsal 3-5 dengan palu refleks.
b. Lihat apakah ada respon refleks atau tidak.
c. (+): Kontraksi jari-jari kaki.
d. Bandingkan kanan dan kiri.

6.8 Refleks Hoffmann


a. Mintalah pasien berbaring telentang atau duduk
dengan santai
b. Tangan pasien dipegang oleh pemeriksa pada
pergelangan, minta pasien me-rilekskan jari-jari
tangan.
c. Jepit jari tengah pasien diantara telunjuk dan jari
tengah pemeriksa.
d. Dengan ibu jari, ”gores kuat” ujung jari tengah pasien.
e. (+): fleksi jari telunjuk, fleksi dan adduksi ibu jari. Kadang disertai fleksi jari
lainnya.

6.9 Refleks Tromner


a. Mintalah pasien berbaring telentang atau duduk dengan santai
b. Tangan pasien dipegang oleh pemeriksa pada pergelangan, minta pasien me-
rilekskan jari-jari tangan.
c. Jepit jari tengah pasien diantara telunjuk dan jari
tengah pemeriksa.
d. Dengan jari tengah pemeriksa mencolek-colek
ujung jari pasien.
e. (+): fleksi jari telunjuk, serta fleksi dan aduksi ibu
jari. Kadang disertai fleksi jari lainnya.
7. REFLEKS PRIMITIF
Refleks primitif adalah gerakan reflektorik yang bangkit secara fisiologis pada bayi dan
tidak dijumpai lagi pada anak-anak yang sudah besar. Apabila pada orang dewasa refleks
tersebut masih dapat muncul, maka hal itu menandakan kemunduran fungsi susunan saraf
pusat. Adapun refleks-refleks yang menandakan proses regresi tersebut ialah refleks menetek,
snout reflex, refleks memegang (grasp refleks), refleks glabella dan refleks palmomental.

7.1 Glabellar Reflex


a. Ketuk tengah dahi pasien tepat diatas hidung dengan jari
telunjuk pemeriksa.
b. Stimulus harus diberikan diluar jangkauan pandang pasien.
c. Respon normal: Kontraksi kelopak mata (menutup mata)
dan hilang setelah beberapa detik.
d. (+) (abnormal): Kontraksi (menutup mata) lebih dari 8x
walaupun sudah diulang ketukannya beberapa kali.

7.2 Snout Reflex


a. Ketuk pada bagian filtrum pasien (antara bibir atas dan
hidung) dengan jari telunjuk kita.
b. (+) (abnormal): mencucu/monyong/mencari-cari arah
stimulus.

7.3 Sucking Reflex


a. Taruh jari pemeriksa di bibir pasien.
b. (+) (abnormal): pasien menghisap jari pemeriksa.

7.4 Palmo-Mental Reflex


a. Gores palmar/telapak tangan pasien (aspek
lateral area metacarpal dari proximal ke
distal).
b. (+) (abnormal): kontraksi otot mentum
pada dagu (kedutan pada dagu).
c. Bandingkan kanan dan kiri.
7.5 Grasp Reflex
a. Grasp/tekan palmar pasien dengan jari tengah dan
telunjuk pemeriksa.
b. (+) (abnormal): fleksi jari-jari tangan dan
menggenggam jari tangan pemeriksa.
c. Bandingkan kanan dan kiri.

8. MENINGEAL SIGN
8.1 Neck Stiffness/Nuchal Rigidity/Kaku Kuduk dan Brudzinski I
a. Posisi pasien supinasi dan relaks.
b. Rotasi kanan dan kiri kepala pasien kemudian ekstensi leher pasien dengan
mengangkat bahunya (untuk mengecek apakah ada kerusakan vertebrae ataupun
kuduk kaku).
c. Fleksikan kepala sampai dagu pasien menyentuh dada (tangan kanan pemeriksa di
dada pasien, tangan kiri pemeriksa di belakang kepala pasien).
d. Abnormal: Ada tahanan gerakan kepala dan pasien merasa sakit.
e. Brudzinski 1 Bersamaan dengan fleksi kepala pasien, lihat apakah ada gerakan
fleksi pada kaki pasien. Jika ada: (+) Brudzinski I

8.2 Brudzinski II dan Kernig’s Sign


a. Brudzinski II  Angkat salah satu kaki pasien, lihat apakah ada gerakan fleksi
pada kaki yang lainnya. Jika ada: (+) Brudzinski II.
b. Bandingkan kanan dan kiri.
c. Kernig’s sign Angkat kaki sampai paha dan abdomen membentuk sudut 90o.
Tungkai diangkat/kaki bawah diekstensikan.
Abnormal: Sudut antara lutut dan paha <130o dan pasien merasa sakit.

8.3 Brudzinski III


a. Tekan tulang zygomatic (tulang pipi) pasien.
b. Abnormal: fleksi lengan bawah.

8.4 Brudzinski IV
a. Tekan bagian bawah abdomen (suprapubic area/simfisis pubis).
b. Abnormal: fleksi paha atas dan lutut, disertai abduksi pada tungkai.

8.5 Lasique’s Sign


a. Elevasi kaki pasien keatas secara lurus. Satu
tangan pemeriksa mengangkat tungkai
dengan memegang tumit pasien sedangkan
tangan pemeriksa yang lain memegang serta
menekan pada lutut pasien.
b. Abnormal: Sudut antara kasur dan kaki <70o dan pasien merasa sakit.
c. Bandingkan kanan dan kiri.

9. Pemeriksaan Saraf Kranial


Saraf otak atau saraf kranial ada 12 pasang, mungkin bersifat motorik, sensorik, otonom,
atau kombinasi. Setiap saraf kranial diperiksa sistematik dan selalu dibandingkan antara kanan
dengan kiri.

9.1 Pemeriksaan N. I (N. Olfactorius)


Tujuan: mendeteksi adanya gangguan penciuman dan penyebabnya baik gangguan saraf atau
penyakit hidung lokal. Kerusakan saraf menyebabkan hilangnya penciuman (anosmia) atau
berkurangnya penciuman (hiposmia).
Kelemahan : pemeriksaan bersifat subjektif karena tergantung pada laporan pasien.
Cara pemeriksaan :
- Periksa lubang hidung, lihat apakah ada sumbatan atau kelainan setempat misalnya
ingus atau polip
- Zat pengetes yang digunakans sebaiknya zat yang dikenal sehari-hari, misalnya kopi,
teh, tembakau, jeruk. Jangan menggunakan zat yang dapat merangsang mukosa hidung,
seperti mentol, ammonia, alkohol dan cuka.
- Zat pengetes didekatkan kehidung pasien dan pasien diminta untuk menciumnya.
- Pasien diminta untuk menutup mata.
- Periksa setiap lubang hidung satu persatu dengan menutup lubang hidung lainnya
dengan tangan secara bergantian.
Interpretasi : anosmia (sama sekali tidak mencium bau), hiposmia (kurang membau),
hiperosmia (kuat sekali membau, sering pada hysteria), dan parosmia (salah membau, sering
pada skizofrenia).

9.2 Pemeriksaan N. II ( N. Opticus)


1) Visus (ketajaman penglihatan)
Membandingkan ketajaman penglihatan pasien dengan pemeriksa (ketajaman
penglihatan pemeriksa harus “normal”, jika tidak pemeriksa telah mengkoreksi tajam
penglihatannya misalnya dengan kacamata).
Alat : optotip Snellen.
Gambar Snellen ialah huruf-huruf atau gambar-gambar yang disusun makin ke bawah makin
kecil; barisan paling bawah mempunyai huruf-huruf yang paling kecil yang oleh mata normal
dapat dibaca dari jarak 6 meter.
Cara pemeriksaan:
- Pasien diperintahkan untuk membaca gambar Snellen dari jarak 6 meter, kemudian
ditentukan sampai barisan mana masih dapat terbaca.
- Jika pasien dapat membaca sampai barisan paling bawah, maka ketajaman
penglihatannya normal (6/6).
- Jika tidak, dapat membaca pada baris paling bawah, maka visusnya tidak normal, hal
ini dinyatakan dengan menggunakan pecahan, misalnya 6/20. Ini berarti bahwa huruf
yang seharusnya dapat dibaca dari jarak 20 meter hanya dapat terbaca dari jarak 6
meter.
- Apabila pasien tidak dapat membaca huruf teratas dari Snellen Chart, pemeriksaan
dilakukan dengan cara menghitung jari, menggerakkan tangan atau persepsi sinar.
Pasien dapat menghitung jari dari jarak tidak lebih dari 1 meter berarti visus = 1/60.
Hanya dapat melihat gerakan tangan berarti visus 1/300, hanya dapat membedakan
gelap-terang/persepsi cahaya, visus = 1/~. Buta dengan visus = 0.

2) Campus/Visual Field (Lapang Pandang)


Metode konfrontasi Donder:
Secara kasar pemeriksaan lapang pandang dilakukan dengan membandingkan campus
penglihatan pemeriksa (yang dianggap normal) yaitu dengan metode konfrontasi Donder.
- Pasien diminta duduk atau berdiri berhadapan dengan pemeriksa dari jarak kira-kira 1
meter. Pada saat memeriksa mata kanan, maka mata kiri pasien harus ditutup dengan
tangannya atau kertas, sedangkan pemeriksa menutup mata kanannya.
- Kemudian pasien diminta melihat terus (memfiksasi matanya) pada mata kiri pemeriksa
dan pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien.
- Setelah itu pemeriksa menggerakkan jari tangannya di bidang pertengahan antara
pemeriksa dan pasien. Gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam.
- Apabila pasien mulai melihat gerakan jari-jari pemeriksa, pasien harus memberitahu,
dan hal ini dibandingkan dengan pemeriksa, apakah pemeriksa telah melihatnya.
- Jika terdapat gangguan campus penglihatan, maka pemeriksa akan lebih dahulu melihat
gerakan tersebut.
- Gerakan jari tangan harus dilakukan dari semua arah dan masing-masing mata harus
diperiksa.
Alat-alat yang juga bisa dipakai adalah kampimeter dan perimeter.

3) Fundus
Pemeriksaan fundus dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop. Pada pemeriksaan fundus
yang harus dilihat adalah perubahan papil (atrofi atau sembab). Papil adalah tempat serabut N.
II memasuki mata.
Interpretasi:
- Papil yang normal akan terlihat bentuknya lonjong berwarna jingga muda, di bagian
temporal sedikit pucat, batas dengan sekitarnya (retina) tegas, hanya di bagian nasal
agak kabur, selain itu didapatkan lekukan fisiologis (physiologic cup). Pembuluh darah
muncul di tengah, bercabang ke atas dan ke bawah; jalan arteri lurus sedangkan vena
berkelok-kelok; perbandingan besar vena : arteri ialah 3 :2 sampai 5:4. Normalnya C/D
(cup dan disc) ratio ≤ 0,3, A/V (arteri dan vena) ratio 2:3.
- Pada atrofi primer warna papil menjadi pucat, batasnya tegas dan pembuluh darah
berkurang.
- Pada atrofi sekunder warna papil pucat tetapi batasnya tidak tegas.

9.3 Pemeriksaan N. III, IV, dan VI.


N. III (N. Oculomotorius)
Gangguan total pada N. III ditandai oleh :
1. Lumpuhnya m.levator palpebra  ptosis.
2. Paralisis otot m.rectus superior, m. rectus internus, m. rectus inferior, dan m. obliqus
inferior.
3. Kelumpuhan saraf parasimpatis yang mengakibatkan pupil lebar (midriasis) serta tidak
bereaksi dengan cahaya dan konvergensi.
Hal ini mengakibatkan sikap bola mata terlirik keluar dan ke bawah.

N. IV (N. Trochlearis)
Nervus IV mempersarafi m.obliqus superior. Kerja otot ini menyebabkan mata dapat dilirikkan
ke arah bawah dan nasal. Kelumpuhan N. IV menyebabkan terjadinya diplopia bila mata
dilirikkan ke arah tersebut.

N. VI (N. Abducens)
Nervus VI menginervasi m.rectus externus (lateralis). Kerja dari otot ini mengakibatkan mata
dapat melirik ke arah temporal. Jadi kelumpuhan N. VI menyebabkan terganggunya melirik
mata ke arah luar pada mata yang terlibat, yang menyebabkan diplopia horizontal.

Pemeriksaan N. III, IV, dan VI.


Ptosis
Ptosis terjadi akibat kelumpuhan m. levator palpebra yang dipersarafi oleh N. III di mana
kelopak mata terjatuh, mata tertutup dan tidak dapat dibuka. Cara pemeriksaannya dapat dilihat
dengan meminta kedua mata pasien melihat ke depan. Pada keadaan normal, kelopak mata
tampak menutupi sebagian atas iris mata sama tinggi. Bila lebih rendah disebut ptosis. Cara
pemeriksaan kedua, pasien diminta untuk memejamkan mata, kemudian disuruh membukanya.
Pada waktu membuka mata, gerakan ini ditahan dengan memegang atau menekan pada kelopak
mata.
Strabismus (juling atau jereng)
Perhatikan posisi bola mata dalam keadaan istirahat. Jika satu otot mata lumpuh, hal ini
mengakibatkan kontraksi atau tarikan yang berlebihan dari otot antagonisnya dan
mengakibatkan strabismus (juling, jereng). Pada kelumpuhan m.rectus externus didapatkan
strabismus konvergen (mata yang lumpuh melirik lebih ke medial). Pada kelumpuhan m.rectus
internus didapatkan strabismus divergen (mata yang lumpuh melirik ke lateral). Strabismus
juga bisa terjadi karena m. rektus eksternus lebih panjang atau pada pasien miastenia gravis.

Exophtalmus (mata menonjol)


Perhatikan kedudukan bola mata apakah mata menonjol (exophtalmus) atau seolah-olah masuk
ke dalam (endophtalmus). Pada exophtalmus celah mata tampak lebih besar sedangkan pada
endophtalmus celah mata lebih kecil. Pada sindrom Horner (yang disebabkan kerusakan
serabut saraf simpatis leher) didapatkan endophtalmus. Exophtalmus bilateral dapat dijumpai
pada tirotoksikosis. Exophtalmus yang unilateral biasanya disebabkan proses setempat
misalnya desakan tumor di daerah orbita.

Nistagmus
Ialah gerakan bola mata bolak-balik yang involunter dan ritmis. Mempunyai komponen cepat
atau lambat. Jurusan nistagmus sesuai komponen cepat. Untuk maksud ini pasien diminta
melirik terus ke satu arah selama jangka waktu 5-6 detik. Akan tetapi mata jangan terlalu jauh
dilirikkan. Apabila ditemukan nistagmus, harus diperiksa :
1. Jenis gerakan
2. Bidang gerakan
3. Frekuensi
4. Amplitudo
5. Arah gerakan
6. Derajatnya
7. Lamanya

Gerakan Mata
Pemeriksa menggerakkan jari ke semua arah, jarak jangan terlalu dekat. Kedua bola mata
pasien mengikuti gerakan jari. Perhatikan apakah pergerakan bola mata terbatas, yang satu
tertinggal dari yang lain.
Pupil
Pupil yang normal berbentuk bundar dengan tepi rata dan diameter 2-4 mm, isokor (kiri =
kanan). Refleks cahaya direk diperiksa dengan meggunakan penlight yang terang, mata disinari
langsung, maka pupil konstriksi cepat. Refleks cahaya indirek yang diperiksa adalah mata yang
satu disinari, pupil mata lain konstriksi. Cara pemeriksaan refleks konvergensi seperti berikut;
pasien melihat jauh, jari pemeriksa diletakkan kira-kira 30 cm di depan mata pasien, lalu pasien
disuruh melihat jari pemeriksa, maka tampak kedua mata konvergensi, akomodasi dan kedua
pupil konstriksi.

9.4 Pemeriksaan N. V (N. Trigeminus)


Bersifat motorik dan sensorik. Bagian yang motorik menuju ke m. masseter, m. temporalis, m.
pterygoideus, sedangkan yang sensorik mempersarafi kulit wajah.

Pemeriksaan Motorik
a. Pasien diminta menggigit lalu pemeriksa meraba m. masseter dan m. temporalis,
bandingkan kanan dan kiri dengan memperhatikan besar, tonus serta konturnya.
b. Pasien membuka mulut perlahan-lahan, apabila m. pterygoideus lumpuh, rahang bawah
berdeviasi ke sisi yang sehat dan mudah didorong ke sisi lumpuh.

Pemeriksaan Sensorik
Pemeriksaan dilakukan dengan perabaaan memakai kapas, rasa nyeri memakai penusuk gigi
dan rasa suhu memakai tabung uji yang berisi air hangat atau air dingin pada kulit wajah. Pasien
kemudian diminta memejamkan mata dan merasakan perbedaan rasa raba antara kiri dan kanan
dimulai dari daerah dahi, pipi dan dagu. Pemeriksaan ini diulang untuk tes nyeri dan tes suhu.
1. N. Ophtalmicus (V1)
a. Refleks Kornea, limbus kornea disentuh dengan kapas maka mata akan berkedip
b. Foramen supraorbita ditekan, keadaan normal tak nyeri.
c. Dahi, diperiksa rasa raba, nyeri dan suhu, bandingkan kanan dan kiri
2. N. Maxilaris (V2)
a. Refleks bersin, cavum nasi bawah disentuh dengan kapas, pasien bersin.
b. Foramen Infraorbita ditekan, keadaan normal tidak nyeri.
c. Pipi, diperiksa rasa raba, nyeri dan suhu, bandingkan kanan dan kiri.
3. N. Mandibularis (V3)
a. Jaw jerk reflex, letakkan jari horizoontal pada dagu, mulut pasien terbuka sedikit dan
rileks, ketuk jari dengan palu reflex maka terjadi gerakan elevasi rahang.
b. Foramen mental ditekan, keadaan normal tidak nyeri.
c. Pipi dan rahang bawah, diperiksa rasa raba, nyeri dan suhu, bandingkan kanan dan kiri.

N VII (N. Fascialis)


Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :
- Serabut somato-motorik, mensarafi otot-otot wajah (kecuali m. levator palpebrae (N.
III)), otot platisma, stylohyoid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga
tengah.
- Serabut visero-motorik (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior.
Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung, sinus
paranasal, dan glandula submaksilar serta sublingual dan lakrimalis.
- Serabut visero-sensorik yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga
bagian depan lidah
- Serabut somato-sensorik rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh nervus trigeminus. Daerah
ovelapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf (tumpang tindih) ini terdapat di lidah,
palatum, meatus akustikus eksterna, dan bagian luar gendang telinga.

Bagan saraf fasialis


Otot-otot bagian atas wajah mendapat persarafan dari 2 sisi. Karena itu, terdapat perbedaan
antara gejala kelumpuhan saraf VII jenis sentral dan perifer. Pada gangguan sentral, sekitar
mata dan dahi yang mendapat persarafan dari 2 sisi tidak lumpuh; yang lumpuh ialah bagian
bawah wajah. Pada gangguan N VII jenis perifer (gangguan berada di inti atau di serabut saraf)
maka semua otot satu sisi wajah lumpuh dan mungkin juga termasuk cabang saraf yang
mengurus pengecapan dan sekresi ludah yang berjalan bersama saraf fasialis.

Fungsi Motorik
Untuk memeriksa fungsi motorik, perhatikan muka pasien, apakah simetris atau tidak.
Perhatikan kerutan pada dahi, pejaman mata, plika nasolabialis dan sudutn mulut. Bila asimetri
(dari) muka tampak jelas, maka hal ini disebabkan oleh kelumpuhan jenis perifer. Dalam hal
ini kerutan dahi menghilang, mata kurang dapat dipejamkan, plika nasolabialis mendatar dan
sudut mulut menjadi lebih rendah. Pada kelumpuhan jenis sentral (supranuklir), muka tampak
simetris waktu istirahat, kelumpuhan baru nyata bila penderita disuruh melakukan gerakan,
misalnya menyeringai.
Gejala Chvostek dibangkitkan dengan mengetok N VII. Ketokan dilakukan dibagian depan
telinga. Bila positif, ketokan ini menyebabkan kontraksi otot yang disarafinya. Pada tetani
didapatkan gejala Chvostek positif, tetapi dapat juga positif pada orang normal. Dasar gejala
Chvostek ialah bertambah pekanya nervus fasialis terhadap rangsang mekanik.
Minta pasien mengangkat alis dan mengerutkan dahi.
Perhatikan apakah ini dapat dilakukan, dan apakah ada asimetri. Pada kelumpuhan jenis
supranuklir satu sisi, penderita dapat mengangkat alis dan mengerutkan dahinya, sebab otot ini
mendapat persarafan bilateral. Pada kelumphan jenis perifer terlihat adanya asimetri.
Minta pasien memejamkan mata.
Apabila kelumpuhannya berat, maka penderita tidak dapat memejamkan mata; bila
kelumpuhannya ringan, maka tenaga pemejaman kurang kuat. Hal ini dapat dinilai dengan cara
mengangkat kelopak mata dengan tangan pemeriksa, sedangkan pasien diminta tetap
memejamkan mata. Minta pasien memejamkan matanya satu persatu. Hal ini merupakan
pemeriksaan yang baik untuk parese ringan. Bila terdapat parese, penderita tidak dapat
memejamkan matanya pada sisi yang lumpuh. Perlu diingat bahwa ada juga orang normal yang
tidak dapat memejamkan matanya satu persatu.

Minta pasien menyeringai (menunjukkan gigi-geligi), mencucurkan bibir


menggembungkan pipi).
Perhatikan apakah hal ini dapat dilakukan dan apakah simetri. Perhatikan sudut mulut pasien.
Minta pasien bersiul. Pasien yang tadinya dapat bersiul menjadi tidak mampu lagi setelah
adanya kelumpuhan. Pada pasien yang tidak kooperatif atau yang menurun kesadarannya, dan
tidak dapat disuruh menyeringai, dapat dibuat menyeringai bila apabila diberi rangsang nyeri,
yaitu dengan menekan pada sudut rahangnya (m.masseter).

Fungsi Pengecapan
Kerusakan N. VII, sebelum percabangan korda timpani, dapat menyebabkan ageusi (hilangnya
pengecapan) pada 2/3 lidah bagian depan. Untuk memeriksanya, pasien diminta menjulurkan
lidah, kemudian oleskan bubuk gula, kina, asam sitrat atau garam (hal ini dilakukan secara
bergiliran dan diselingi istirahat). Apabila bubuk dioleskan, pasien tidak boleh menarik
lidahnya ke dalam mulut, karena bubuk dapat tersebar ke bagian lidah lainnya yaitu ke sisi
lidah lainnya atau kebagian belakang lidah yang persarafannya diurus oleh saraf lain. Pasien
diminta menyatakan pengecapan yang dirasakan dirasakannya dengan isyarat, misalnya 1
untuk rasa manis, 2 untuk rasa pahit, 3 untuk rasa asin, 4 untuk rasa asam atau menuliskannya
pada kertas tanpa berbicara.
Kerusakan pada atau di atas n. petrosus mayor dapat menyebabkan kurangnya produksi air
mata, dan lesi korda timpani dapat menyebabkan kurangnya produksi ludah.

N. VIII (N. Acusticus)


Saraf ini terdiri atas dua bagian yaitu saraf kokhlearis dan saraf vertibularis. Saraf kokhlearis
mempersarafi pendengaran, dan saraf vertibularis mengurus keseimbangan.
Saraf kokhlearis
Gangguan pada saraf kokhlearis dapat menyebabkan tuli, tinitus atau hiperakusis. Tuli ada 2
macam, yaitu : tuli perseptif/tuli saraf dan tuli konduktif/tuli obstruktif/tuli transmisi. Tinitus
adalah persepsi bunyi berdenging di telinga, yang disebabkan oleh eksitasi atau iritasi pada alat
pendengaran, saraf, inti serta pusat yang lebih tinggi. Hiperakusis adalah meningginya
ketajaman pendengaran yang bersifat patologis didapatkan pada paralisis muskulus stapedius,
pada migren, psikoneurosis dan dapat juga merupakan aura dari epilepsi lobus temporalis.
Pemeriksaan Saraf Kokhlearis
Ketajaman pendengaran secara ditentukan dengan jalan menyuruh pasien mendengarkan suara
bisikan pada jarak tertentu dan membandingkannya dengan orang yang normal. Bila ketajaman
pendengaran berkurang, atau terdapat perbedaan antara kedua telinga, maka dilakukan
pemeriksaan-pemeriksaan Schwabach, Rinne, Weber, dan audiogram.
Tes Schwabach
Pada tes ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa (yang dianggap
normal). Garpu tala dibunyikan kemudian ditempatkan di dekat telinga penderita. Setelah
penderita tidak mendengar bunyi lagi, garpu tala diletakkan di dekat telinga pemeriksa. Bila
masih terdengar bunyi oleh telinga pemeriksa, maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek
(untuk konduksi udara). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada
tulang mastoid pasien dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan dengan cara yang sama pada tes
schwabach untuk konduksi udara. Bila sudah tidak terdengar lagi, maka garpu tala ditempatkan
pada tulang mastoid pemeriksa. Bila pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka
dikatakan bahwa Schwabach (untuk konduksi tulang) lebih pendek.

Tes Rinne
Pada pemeriksaan ini dibandingkan konduksi tulang dengan konduksi udara. Pada telinga
normal, konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang (Rinne positif). Pada tuli
konduktif, konduksi tulang lebih baik baik daripada konduksi udara (Rinne negatif). Sedangkan
pada tuli perspektif, konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang namun berkurang bila
dibandingkan dengan normal.
Pada pemeriksaan tes Rinne biasanya digunakan garpu tala yang berfrekuensi 128, 256, dan
512 Hz. Garpu tala dibunyikan dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. Minta
untuk mendengarkan bunyinya. Bila tidak terdengar lagi, garpu tala segera didekatkan pada
telinga. Jika masih terdengar bunyi, maka konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang,
dan dalam hal ini dikatakan Rinne positif. Bila tidak terdengar lagi bunyi, segera setelah garpu
tala dipindahkan dari tulang mastoid ke dekat telinga, maka dikatakan Rinne negatif.

Gambar tes Rinne : membandingkan konduksi tulang dengan udara


Garpu tala dibunyikan, ditekankan ke pangkal telinga (A). Setelah bunyi tidak terdengar, garpu
tala diangkat dan didekatkan ke telinga (B). A : konduksi tulang, B : konduksi udara

Tes Webber
Garpu tala yang dibunyikan ditekankan pangkalnya pada dahi penderita tepat
dipertengahan. Penderita disuruh mendengarkan bunyinya dan menentukan pada telinga mana
bunyi terdengar lebih keras. Pada orang normal, bunyi sama kerasnya pada kedua telinga. Pada
tuli saraf, bunyi lebih keras pada telinga yang sehat dan pada tuli konduktif, bunyi lebih keras
terdengar pada telinga yang tuli. Kita katakan tes weber berlateralisasi ke kanan bila bunyi
terdengar lebih keras di telinga kanan dan sebaliknya.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa tuli perseptif, pendengaran berkurang, Rinne positif dan
Weber berlateralisasi ke telinga yang sehat. Pada tuli konduktiif, pendengaran berkurang,
Rinne negatif dan Webber berlateralisasi ke telinga yang tuli.

Saraf Vestibularis
Saraf vestibularis berperan dalam mempertahankan keseimbangan pada tiap macam sikap,
koordinasi gerakan badan dan anggota gerak. Sistem vestibular juga berperan dalam refleks
okuler, fiksasi dan gerakan terkonjugasi dari kepala dan mata yang memungkinkan seseorang
memfiksasi pandangannya pada benda yang diam bila kepala dan badannya bergerak.
Gangguan saraf vestibularis dapat menyebabkan vertigo, kehilangan keseimbangan,
nistagmus, dan salah tunjuk.
Pemeriksaan Saraf Vestibularis
Saraf Vestibularis
Gangguan saraf vestibularis atau hubungannya dengan sentral dapat menyebabkan terjadinya
vertigo, rasa tidak stabil, kehilangan keseimbangan, nistagmus, dan salah tunjuk (”past
pointing”).
Vertigo merupakan keluhan yang sering dikemukakan oleh penderita dengan gangguan sistem
vestibular, yaitu rasa bergerak (penderita merasa bahwa sekitarnya bergerak atau dirinya yang
bergerak) dan biasanya disertai oleh rasa tidak stabil dan kehilangan keseimbangan.
Cara khusus untuk menimbulkan nistagmus
Untuk menimbulkan atau memperjelas nistagmus dapat dilakukan manuver Nylen-
Barany/manuver Hallpike, atau tes kalori.
Manuver Nylen-Barany/manuver Hallpike. Pada tes ini pasien diminta untuk duduk pada
tempat tidur periksa. Kemudian direbahkan sampai kepalanya tergantung di pinggir dengan
sudut sekitar 30o dibawah horison. Selanjutnya kepala dimiringkan ke arah kiri. Tes kemudian
diulangi dengan kepala melihat lurus dan diulangi lagi dengan kepala menoleh ke kanan. Pasien
diminta tetap membuka mata agar pemeriksa dapat melihat jika muncul nistagmus. Tanyakan
pada pasien mengenai apa yang dirasakannya, apakah ada vertigo dan apakah vertigo yang
dialami pada tes ini serupa dengan vertigo yang pernah dialaminya.
Gambar manuver Nylen-Barany/manuver Hallpike

Gambar manuver Nylen-Barany/manuver Hallpike

Tes untuk menilai keseimbangan


Untuk menilai keseimbangan penderita dapat dilakukan tes Romberg yang dipertajam dan tes
melangkah di tempat (stepping test).
Tes Romberg yang dipertajam. Pada tes ini pasien berdiri dengan kaki yang satu di depan
kaki yang lainnya; tumit kaki yang satu berada di depan jari-jari kaki yang lainnya. Lengan
dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. Tes ini berguna menilai adanya disfungsi sistem
vestibular. Orang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30
detik atau lebih.
Tes melangkah di tempat (stepping test). Pasien diminta berjalan di tempat, dengan mata
ditutup, sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti berjalan biasa. Sebelumnya dikatakan
kepada pasien bahwa pasien harus berusaha agar tetap berada di tempat, dan tidak beranjak
dari tempatnya selama tes ini. Hasil tes ini dianggap abnormal bila kedudukan akhir pasien
beranjak lebih dari 1 meter dari tempatnya semula, atau badan terputar lebih dari 30o.
Salah tunjuk (past pointing). Pasien diminta merentangkan lengannya dan telunjuknya
menyentuh telunjuk pemeriksa. Kemudian pasien disuruh menutup mata, mengangkat
lengannya tinggi-tinggi (sampai vertikal) dan kemudian kembali ke posisi semula. Pada
gangguan vestibular didapatkan salah tunjuk (deviasi), demikian juga dengan gangguan
cerebelar. Tes ini dilakukan dengan lengan kanan dan lengan kiri, selain pasien disuruh
mengangkat lengan tinggi-tinggi dapat pula dilakukan dengan menurunkan lengan ke bawah
sampai vertikal dan kemudian kembali ke posisi semula.

N. IX (N.Glossopharyngeus ) dan N. X (N.Vagus)


Fungsi motorik: perhatikan kualitas suara pasien. Apakah suaranya normal, berkurang, serak
(disfonia), atau tidak ada sama sekali (afonia)? Untuk itu pasien diminta menyebutkan: aaaaaa.
Kemudian pasien diminta mengucapkan kata-kata, perhatikan apakah ia dapat mengucapkan
kata-kata tersebut dengan baik dan perhatikan pula kualitas kata-kata yang diucapkan, apakah
bindeng (sengau). Pada kelumpuhan N.IX dan X, palatum mole tidak sanggup menutup jalan
ke hidung waktu berbicara, dan didapatkan suara hidung (bindeng).
Pasien diminta memakan makanan padat, lunak, dan menelan air. Perhatikan apakah ada salah
telan (tersedak, disfagia). Kelumpuhan N.IX dan X dapat menyebabkan disfagia.
Pasien diminta membuka mulut. Perhatikan palatum mole dan faring. Bagaimana posisi
palatum mole, arkus faring dan uvula dalam keadaan istirahat, dan apabila bergerak, misalnya
waktu bernafas atau bersuara (suruh penderita menyebut aaaa). Bila terdapat parese otot-otot
faring dan palatum mole, maka palatum mole, uvula, dan arkus faring sisi yang lumpuh
letaknya lebih rendah daripada yang sehat. Dan bila bergerak, uvula dan arkus seolah-olah
tertarik ke bagian yang sehat.
1. Refleks faring: Waktu pasien membuka mulut, kita rangsang (tekan-enteng) dinding
faring atau pangkal lidah dengan tongue-spatel. Dalam hal ini, terlihat faring terangkat
dan lidah ditarik (refleks positif). Bila ada gangguan N.IX dan X, refleks dapat negatif.
Bila rangsang tersebut di atas dilakukan dengan cukup keras, kita dapat membangkitkan
refleks muntah, yang juga dapat hilang pada kerusakan N.IX dan X.
2. Pengecapan: Periksa rasa kecap 1/3 lidah bagian posterior dengan larutan kina.

N. XI (N. Accesorius)
Hanya mempunyai komponen motorik
Pemeriksaan
1. Kekuatan otot sternocleidomastoideus diperiksa dengan menahan gerakan fleksi lateral
dari kepala/leher penderita atau sebaliknya (dokter yang melawan/mendorong
sedangkan penderita yang menahan pada posisi lateral fleksi).
2. Kekuatan m.trapezius bagian atas diperiksa dengan menekan kedua bahu penderita
kebawah, sementara itu penderita berusaha mempertahankan posisi kedua bahu
terangkat (sebaiknya posisi penderita duduk dan dokter berada di belakang pasien).
Disamping kekuatan otot yang perlu dilihat adalah tanda – tanda LMN pada kedua otot tersebut
diatas (atrofi dan fasikulasi).

N. XII (N. Hypoglossus)


Lesi LMN ditandai dengan adanya atrofi lidah dan fasikulasi (tanda dini berupa
perubahan pada pinggiran lidah dan hilangnya papil lidah dan fasikulasi (tanda dini berupa
perubahan pada pinggiran lidah dan hilangnya papil lidah).
Pemeriksaan
1. Menjulurkan lidah
Pada lesi unilateral, lidah akan berdeviasi ke arah lesi. Pada Bell’s palsy (kelumpuhan saraf
VII) bisa menimbulkan positif palsu (hati-hati).
2. Menggerakkan lidah ke lateral
Pada kelumpuhan bilateral dan berat, lidah tidak bisa digerakkan ke arah samping kiri dan
kanan.
3. Kekuatan otot lidah
Ujung jari pemeriksa ditempatkan pada salah satu pipi penderita, kemudian penderita diminta
mendorong ujung jari tersebut dengan kekuatan lidahnya. Bandingkan kekuatan dorongan
kanan dan kiri.
Meskipun inti saraf XII mendapat inervasi cortico-bulbar bilateral, lesi akut pada capsula
interna (pada CVD) bisa memperlihatkan deviasi lidah ke arah yang berlawanan dengan lesi
sewaktu menjulurkan lidah kedepan (pada stadium awal). Restitusi terjadi beberapa hari,
karena fungsi tersebut diambil alih oleh cortico-bulbar yang ipsilateral.
Sering terjadi bahwa pada pemeriksaan kekuatan otot-otot lidah, tidak tampak adanya
kelemahan, tetapi penderita mengeluhkan pembicaraannya jadi lain/berubah (disartria)
terutama saat mengucapkan nada tertentu (la.....la) yang menggunakan otot lidah.
Pada setiap penderita dengan disartria (gangguan artikulasi suara), maka harus dibedakan
apakah akibat kelumpuhan otot-otot bibir (NVII), kelumpuhan otot-otot lidah (N.XII),
kelumpuhan otot palatum (suara sengau akibat kelumpuhan N.IX-X) ataukah karena lesi
ekstrapiramidal dan serebelum (slurring/scanning speech).
Adanya atrofi dan fibrilasi lidah satu sisi, menunjukkan adanya disfungsi batang otak (inti N.
XII) atau saraf perifer. Sedangkan lesi bilateral lidah dapat dilihat pada true bulbar palsy atau
pseudo-bulbar palsy. Pada true bulbar palsy ditemukan atrofi dan fasikulasi lidah, gangguan
sensasi pada dinding belakang faring dan penurunan refleks muntah.