Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi manusia. Dalam

Undang- undang no 23 tahun 1992 dijelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan

sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup

produktif secara sosial dan ekonomi. Atas dasar definisi kesehatan tersebut, dapat

dikatakan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

kesehatan dan unsur utama dalam terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.1

Masalah gangguan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah

yang sangat serius. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa

yang menjadi perhatian dan dikategorikan dalam gangguan psikis yang paling

serius karena dapat menyebabkan menurunnya fungsi manusia dalam

melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti kesulitan dalam merawat diri

sendiri, bekerja atau bersekolah, memenuhi kewajiban peran, dan membangun

hubungan yang dekat dengan seseorang. Skizofrenia merupakan gangguan psikotik

yang paling sering, hampir 1% penduduk dunia menderita psikotik selama hidup

mereka di Amerika. Skizofrenia lebih sering terjadi pada Negara industri terdapat

lebih banyak populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah.1,2

Walaupun insidennya hanya 1 per 1000 orang di Amerika Serikat,

skizofrenia seringkali ditemukan di gawat darurat karena beratnya gejala,

ketidakmampuan untuk merawat diri, hilangnya tilikan dan pemburukan sosial

yang bertahap. Kedatangan diruang gawat darurat atau tempat praktek disebabkan

1
oleh halusinasi yang menimbulkan ketegangan yang mungkin dapat mengancam

jiwa baik dirinya maupun orang lain, perilaku kacau, inkoherensi, agitasi dan

penelantaran.3

Skizofrenia mempunyai karakteristik dengan gejala positif dan negatif.

Gejala positif antara lain thougt echo, delusi, halusinasi. Gejala negatifnya seperti:

sikap apatis, bicara jarang, efek tumpul, menarik diri. Gejala lain dapat bersifat non

skizofrenia meliputi kecemasan, depresi dan psikosomatik.4,5

Depresi pasca skizofrenia merupakan suatu episode depresif yang mungkin

berlangsung lama dan timbul setelah suatu serangan penyakit skizofrenia. Gejala

depresif merupakan masalah yang mempengaruhi seluruh tubuh, dengan

mengganggu kesehatan mental, kesehatan fisik, rasa dan perilaku pada aktifitas

yang biasa dilakukan. Semakin cepat keluarga memeriksakan seorang anggota

keluarganya yang dicurigai depresi ke layanan kesehatan, semakin cepat strategi

penanganan yang sesuai untuk menghadapi masalah ini yang sebetulnya adalah

gangguan yang sangat nyata terhadap kesehatan.6

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Depresi pasca skizofrenia merupakan gejala depresif setelah suatu

episode psikotik pada seorang pasien skizofrenik dikategorikan sebagai contoh


6,8,12
dari gangguan depresif yang tidak ditentukan dalam DSM-II-R.

Depresi pasca skizofrenia adalah episode depresi yang muncul setelah

penyakit skizofrenia terlewati. Dalam kondisi ini, beberapa gejala alam

perasaan (suasana hati) khas skizofrenia masih terjadi di bawah kadar normal.

Seseorang yang mengalami depresi pasca-skizofrenia dapat mengalami gejala-

gejala depresi dan juga gejala-gejala skizofrenia dalam kadar yang lebih rendah.

Sayangnya, depresi sebagai gejala-gejala yang umum ditemukan pada pasien

dengan skizofrenia tidak dikenali selama bertahun-tahun sebelum orang lain

menyadari kehadiran depresi pada diri sang pasien.7

B. EPIDEMIOLOGI

Perkiraan tingkat prevalensi sindrom depresi pada pasien dengan

skizofrenia berkisar dari 7% menjadi 78% dengan rata-rata sekitar 25% . Studi

telah bervariasi dalam hal definisi yang digunakan untuk skizofrenia dan

depresi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa depresi selama fase kronis

skizofrenia memiliki dampak negatif pada jalannya penyakit. Hal ini terkait

dengan risiko yang lebih besar bunuh diri dan kambuh. Depresi dapat terjadi

3
secara independen dari gejala skizofrenia dan beberapa bulan setelah sembuh

dari episode akut, yaitu pasca depresi pasca psikotik, pada 30% kasus diketahui

untuk menjadi prekursor bunuh diri.9

C. ETIOLOGI

Tidak ada sebab yang jelas tentang bagaimana pasien dengan

skizofrenia menjadi depresi pasca-skizofrenia sementara yang lainnya melewati

tahapan ini. Akan tetapi, ada beberapa teori tentang sebab-sebab yang mungkin.

Mereka yang mengalami depresi pasca-skizofrenia seringkali mengalami

isolasi sosial karena penyakit mereka, yang justru menambah kadar depresi

mereka. Terdapat bukti kuat bahwa isolasi karena stigma terjadi pada mereka

yang mengalami penyakit kejiwaan dalam berbagai jenis masyarakat. Isolasi ini

terjadi terutama pada mereka yang mengalami skizofrenia yang dipandang

sebagai berbahaya dan perilakunya tidak dapat diprediksi.10

Karena isolasi ini dan beberapa penelitian yang mengaitkan antara

isolasi sosial dan depresi ini, terdapat kemungkinan bahwa pasien-pasien yang

berada di bawah tekanan akhirnya mengembangkan depresi pasca-

skizofrenia.11 Depresi pada pasien dengan skizofrenia dapat juga disebabkan

oleh penyalahgunaan bahan, yang cukup umum di antara orang yang

mengalami skizofrenia; karena bahan-bahan seperti alkohol dan ganja dipakai

sebagai penekan sistem saraf pusat (depressant) agar merilekskan sang

pasien.13 Selain itu, karena minimnya informasi yang diketahui tentang depresi

pasca-skizofrenia, awal (onset) skizofrenia mungkin disebabkan karena pasien

4
dengan skizofrenia tersebut tidak diberikan antipsikotik. Setelah obat-obatan

antipsikotik berhenti diberikan, dosis antidepresan untuk pasien dengan

skizofrenia harus mulai ditingkatkan. Adapun mereka yang diberikan

pengobatan antipsikotik dilaporkan mengalami lebih sedikit gejala-gejala

depresi. Karena itu, dipercaya bahwa kurangnya penggunaan antipsikotik pada

tahap awal skizofrenia dapat mengakibatkan orang tersebut untuk mengalami

depresi pasca-skizofrenia.14

Akan tetapi, beberapa profesional dalam bidang psikologi masih

memaksakan pengurangan penggunaan obat-obatan neuroleptik, sejalan

dengan kepercayaan populer bahwa depresi pasca-skizofrenia disebabkan oleh

pengobatan neuroleptik. Para terapis juga diyakini untuk [turut] terlibat dalam

[penanganan] depresi pada orang dengan skizofrenia, dengan banyak

memberikan terapi wicara setelah sang pasien mengatasi gejala-gejala

skizofrenianya. Skizofrenia itu sendiri dapat pula dilihat sebagai salah satu

penyebab depresi pasca-skizofrenia ini. Penelitian yang dilakukan selama dua

tahun yang mengamati pasien dengan skizofrenia serta memantau depresi

mereka gagal untuk menemukan penyebab potensial seperti yang telah

disebutkan di atas, maka terdapat kemungkinan bahwa merupakan karakter

(nature) dari skizofrenia itu sendirilah yang menjadi sebab utama depresi ini.14

5
D. DIAGNOSIS

Pedoman Diagnosis Depresi Pasca-skizofrenia (F20.4) menurut

PPDGJ-III dapat ditegakkan jika :

1. Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum

skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;

2. Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi

gambaran klinisnya); dan

3. Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi paling

sedikit kriteria untuk episode depresif (F32,-), dan telah ada dalam kurun

waktu paling sedikit 2 minggu.

Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis

menjadi Episode Depresif (F32,-). Bila gejala skizofrenia masih jelas dan

menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai

(F20.0-F20.3).15

Skizofrenia adalah suatu psikosa fungsional dengan gangguan utama

pada proses pikir serta disharmonisasi antara proses pikir, afek atau emosi,

kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataaan terutama karena waham

dan halusinasi, assosiasi terbagi-bagi sehingga muncul inkoherensi, afek dan

emosi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalensi dan

perilaku bizar. Skizofrenia berasal dari dua kata “skizo” yang berarti retak atau

pecah (split), dan ”frenia” yang berarti jiwa. Dengan demikian seseorang yang

menderita gangguan jiwa skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan


1,3
atau keretakan kepribadian (splitting of personality).

6
Pedoman Diagnosis Skizofrenia (F20.-) menurut PPDGJ-III :

 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya

dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :

a - “thought echo” = ini pikiran dirinya sendiri yang berulang atau


.
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan,

walaupun sama, namun kualitasnya berbeda; atau

- “thought insertion or withdrawal" = isi pikiran yang asing dari luar

masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau ini pikirannya diambil

keluar sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan

- “thought broadcasting" = isi pikirannya tersiar ke luar sehingga

orang lain atau umum mengetahuinya;

b - “delusion of control" = waham tentang dirinya dikendalikan oleh


.
. suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
.
- "delusion of influence" = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh

suatu kekuatan tertentu dari luar; atau

- "delusion of passivity" = waham tentang dirinya tidak berdaya dan

pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang "dirinya" = secara

jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran,

tindakan, atau penginderaan khusus);

- "delusional perception" = pengalaman inderawi yang tak wajar,

yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik

atau mukjizat;

7
c Halusinasi auditorik :
.
. - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
.
perilaku pasien, atau

- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara), atau

- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh

d Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal

keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan

di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau

berkomunikasi dengan mahluk asing dari dunia lain).15

 Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara

jelas:

a. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai

baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk

tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide

berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap

hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus;

b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan, atau neologisme;

c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi

tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme,

8
mutisme, dan stupor;

d. Gejala-gejala "negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,

dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak

disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

 Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun

waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik

prodromal);

 Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal

behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan,

tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude),

dan penarikan diri secara sosial.15

Pedoman Diagnosis Episode Depresif (F32.-) menurut PPDGJ-III :

 Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat

- Afek depresif

- Kehilangan minat dan kegembiraan

- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah

(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan aktivitas

menurun.

 Gejala lain, meliputi:

9
- Konsentrasi dan perhatian berkurang.

- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.

- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.

- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistik.

- Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.

- Tidur terganggu.

- Nafsu makan berkurang.

 Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan

masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan

tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya

dan berlansung cepat.15

E. PENATALAKSANAAN

Pemakaian anti depresan dalam pengobatan gangguan depresif

pascapsikotik dari skizofrenia telah dilaporkan dalam beberapa penelitian.

Kira-kira setengah dari beberapa penelitian telah melaporkan efek yang positif,

dan setengah penelitian lain tidak melaporkan adanya efek hilangnya gejala

depresif. Medikasi antidepresan kemungkinan menghilangkan gejala depresif

pada beberapa pasien, tetapi hasil campuran dari penelitian mencerminkan

ketidakmampuan sekarang ini untuk membedakan pasien mana yang akan

berespons dan pasien mana yang tidak berespons terhadap antidepresan. 6,8

Penatalaksanaan pada penderita depresi harus dilakukan secara adekuat

dengan menggunakan kombinasi terapi psikologis dan farmakologis disertai

10
pendekatan multidisiplin yang menyeluruh. Adapun penatalaksanaan depresi

meliputi:12,16

1. Terapi Fisik

a. Obat. Secara umum, semua obat anti-depresan sama efektifitasnya.

Pemilihan jenis anti-depresan lebih ditentukan oleh pengalaman

klinikus dan familiarity terhadap jenis-jenis anti-depresan.

Pertimbangkan baik, untung dan rugi dari setiap pemberian terapi

dengan mengacu pada 4 hal yaitu efektivitas, tolerabilitas,

keamanan, dan interaksi obat.

b. Terapi ECT (Electroconvulsive Therapy). Untuk pasien depresi

yang tidak bisa makan minum, mau bunuh diri atau retardasi

psikomotor yang hebat, maka ECT merupakan pilihan terapi yang

efektif dan aman. ECT diberikan 1-2 kali seminggu pada pasien

rawat inap, dengan metode unilateral untuk mengurangi confusion

atau memory problem. Terapi ECT diberikan sampai ada perbaikan

mood (sekitar 5-10 kali), sementara anti-depresan maintenance

harus diberikan untuk mencegah relaps atau kekambuhan.

c. Terapi profilaksis. Terapi profilaksis harus diberikan untuk

mencegah terjadinya kekambuhan depresi. Setelah gejala-gejala

depresi membaik, terapi anti-depresan masih harus dilanjutkan

selama 4-6 bukan dengan dosis terapeutik penuh. Beberapa

penelitian bahkan menganjurkan agar terapi diteruskan sampai 2

tahun. Kapan anti-depresan boleh dihentikan, sangatlah tergantung

11
pada evaluasi klinis (perkembangan efek samping, munculnya

penyakit fisik atau kelemahan kondisi umum).

2. Terapi psikologik antara lain:

a. Psikoterapi

Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika

dilakukan bersama- sama dengan pemberian anti-depresan. Baik

pendekatan secara psikodinamik maupun kognitif behavioural

adalah sama keberhasilannya.

b. Terapi kognitif

Terapi kognitif perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang

selalu negatif (persepsi diri yang buruk, masa depan yang suram,

dunia yang tak ramah, diri yang tak berguna lagi, tak mampu dan

sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif.

c. Terapi keluarga

Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan gangguan

depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien adalah

sangat penting. Tujuan dari terapi terhadap keluarga pasien yang

depresi adalah untuk meredakan perasaan frustasi dan putus asa,

merubah dan memperbaiki sikap/struktur dalam keluarga yang

menghambat proses penyembuhan pasien.

d. Penanganan ansietas (relaksasi)

Macam relaksasi antara lain (Davis et.al., 1995): Relaksasi progresif,

pernafasan dalam, meditasi, guided imagery, mendengarkan musik,

biofeedback, kesadaran tubuh, dan visualisasi.


12
PENGGOLONGAN OBAT ANTIDEPRESAN

No Golongan Nama obat

1. Tricyclic Compound Amitriptyline (Amitriptyline)

Imipramine (Tofranil)

Clomipramine (Anafranil)

Tianeptine (Stabion)

Opipramol (Insidon)

2. Tetracyclic Coumpound Maprotiline (Ludiomil)

Mianserin (Tolvon)

Amoxapine (Asendin)

3. Mono-Amine-Oxydase Moclobemide (Aurorix)

inhibitor(MAOI)-

Reversible

4. Selective Serotonin Re- Sertraline (Zoloft)

uptake Inhibitor (SSRI) Paroxetine (Seroxat)

Fluvoxamine (Luvox)

Fluoxetine (Prozac, Nopres)

Citalopram (Cipram)

5. Atypical Antidepresants Trazodone (Trazodone)

Mirtazapine (Remeron)

13
a. Mekanisme kerja obat Anti-Depresi adalah :

- Menghambat “re-uptake aminergic neurotransmitter”

- Menghambat penghancuran oleh enzim “Monoamino Oxidase”

sehingga terjadi peningkatan jumlah “Aminergic neurotransmitter”

pada sinaps neuron di SSP.

b. Efek samping obat Anti-Depresi berupa :

- Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja

psikomotor menurun, kemampuaan kognitif menurun)

- Efek antikolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur,

konstipasi, sinus takikardia)

- Efek anti-adrenergik alfa (penurunan EKG, Hipotensi)

- Efek neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi)

Pada keadaan Overdosis/Intoksikasi trisiklik dapat timbul : “atropine

toxic syndrome” dengan gejala eksitasi SSP, hipertensi, hiperpireksia,

konvulsi, toxic confusional state (delirium, disorientasi). Tindakan untuk

keadaan tersebut adalah :

1. Gastric lavage.

2. Diazepam 10 mg (im) untuk mengatasi konvulsi.

3. Prostigmine 0,5-1.0 mg (im) untuk mengatasi efek anti-kolinergik (dapat

diulang setiap 30’-40’ sampai gejala mereda.

4. Monitoring EKG untuk deteksi kelainan jantung.8

14
Kematian dapat terjadi oleh karena “cardiac arrest”. Obat anti

depresi golongan SSRI relatif paling aman pada overdosis.

Selama bertahun-tahun, para ahli berdebat apakah antipsikotik

memiliki kecenderungan untuk meningkatkan depresi atau sebaliknya

membantu pasien mengelola penyakit kejiwaan mereka. Akan tetapi, bukti-

bukti penelitian mengarahkan pada kesimpulan bahwa antipsikotik pada

kenyataannya membantu pasien untuk mengatasi depresi bersamaan dengan

manfaat lainnya dalam menekan episode skizofrenia.14 Secara

spesifik: risperidon, olanzapin, quetiapin, flufenazin, haloperidol, dan L-

sulpiride telah terbukti merupakan obat terbaik berdasarkan uji klinis dalam

kaitannya dengan gangguan skizofrenia.17 Bersama dengan pemberian

antipsikotik, pasien mungkin saja juga diberikan antidepresan untuk secara

aktif mengobati depresinya.14

F. EDUKASI KELUARGA

Obat-obatan tentu saja bukan jawaban satu-satunya. Pada dasarnya, baik

pada depresi maupun skizofrenia, penarikan diri dari pergaulan sosial adalah gejala

yang muncul di kedua penyakit tersebut. Orang dengan skizofrenia membutuhkan

sistem dukungan yang kuat untuk tetap sehat, sebagaimana anggota masyarakat

lainnya. Kesempatan untuk menjadi anggota masyarakat yang setara adalah cara

lain untuk mengenyahkan depresi pada pasien dengan skizofrenia, maka bantulah

mereka untuk menciptakan ikatan sosial dan membuat perasaan telah berhasil

mencapai sesuatu.18

15
G. PROGNOSIS

Mereka yang mengalami depresi pasca-skizofrenia juga umum untuk

punya resiko untuk bunuh diri.18 Ada tren yang mengaitkan bunuh diri dengan

depresi pasca-skizofrenia berdasarkan penelitian Mulholland dan Cooper dalam

riset mereka yang berjudul The Symptoms of Depression in Schizophrenia and

its Management (Gejala-Gejala Depresi pada Skizofrenia dan Pengelolaannya).

Selain itu, depresi dan skizofrenia telah diteliti secara mandiri oleh berbagai

pihak agar ditemukan kaitan antara keduanya, dan berbagai penelitian telah

mengindikasikan bahwa ada kecenderungan untuk pasien dengan depresi atau

dengan skizofrenia untuk bunuh diri.14

Menurut statistik, dari keseluruhan pasien dengan skizofrenia, 10%

meninggal dunia dengan cara bunuh diri. Pasien depresi pasca-skizofrenia

punya resiko yang tinggi untuk bunuh diri pada bulan-bulan pertama setelah

diagnosa dan setelah pulang dari rawat-inap di rumah sakit. Faktor resiko yang

meningkatkan kecenderungan bunuh diri adalah – dari yang tertinggi ke yang

terendah – riwayat depresi sebelumnya, riwayat percobaan bunuh diri,

penyalahgunaan bahan, dan beberapa faktor lainnya. The ICD-10 Classification

of Mental and Behavioural Disorders (Panduan Penggolongan Gangguan Jiwa

dan Perilaku) yang diterbitkan oleh WHO secara resmi mengenali bunuh diri

sebagai aspek yang menonjol pada depresi pasca-skizofrenia. Karena

peningkatan yang tajam dalam hal bunuh diri ini, merupakan hal yang sulit

untuk mempelajari depresi pasca-skizofrenia seiring dengan banyak korbannya

yang meninggal karena hal ini.14

16
BAB III

KESIMPULAN

Depresi pasca skizofrenia merupakan suatu episode depresif yang

mungkin berlangsung lama dan timbul setelah suatu serangan penyakit

skizofrenia. Gejala depresif merupakan masalah yang mempengaruhi seluruh

tubuh, dengan mengganggu kesehatan mental, kesehatan fisik, rasa dan perilaku

pada aktifitas yang biasa dilakukan. Semakin cepat keluarga memeriksakan

seorang anggota keluarganya yang dicurigai depresi ke layanan kesehatan,

semakin cepat strategi penanganan yang sesuai untuk menghadapi masalah ini

yang sebetulnya adalah gangguan yang sangat nyata terhadap kesehatan.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, Sadock. Skizofrenia. Sinopsis Psikiatri Jilid 1: edisi 7; Penerbit Bina


Rupa Aksara, Jakarta; 1997: p685-729.
2. Anna L, Sarah G. Severity among Schizophrenics . Journal of Behavioural
Sciences; 2012:p125-133.
3. Hawari D. Skizofrenia dalam Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2003.
4. Sadock, Benjamin J, Virginia A. Schizophrenia and Other Psychotic

Disorders. Kaplan and Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, 8th


ed ; 2005.
5. American Psychiatric Association. Depressive Disorders. DSM V, 5th ed.
Washington DC; 2013;12-7.
6. Nurmiati A. Skizofrenia. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI; 2010:170-90.
7. Mulholland C, Cooper S. The symptom of depresion in schizophrenia and
its management. Advances in Psychiatric Treatment (2000). Vol 6. p167-77.
8. Maslim. R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Penerbit
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Jakarta; 2001: 14-23.
9. The Four Dopamine Pathways Relevant to Antipsychotics Pharmacology.
Gusman, Flavio. Psychopharmacology Institute. Diunduh dari:
http://psychopharmacologyinstitute.com/
10. Nordt C, Rossler W, Lauber C. Attitude of Mental Health Professinals
Toward People With Schizophrenia and Major Depression. Psychiatric
University Hospital : Switzerland. 2006. p709-1411.
11. Chrisp A, Gelder MG, Rix S, Melter H, Rowland O. Stigmatisation of people
with mental illness.”. The British Journal of Psychiatry. 2000.p1-4
12. Mark G, Williams, Kuyken W. Mindfulness-based cognitive therapy: a
promising new approach to preventing depressive relapse. The British
Journal of Psychiatry; 2012. p359-60.
13. Mauri MC, Volunteri LS, Gaspari ID, Colasanti A, Brambilla M, Cerruti L.

18
Substance abuse in first-episode schizophrenic patients : a retrospective
study. Clinic Practice and Epidemiology in Mental Health. 2006. p1-8.
14. Wikipedia. Depresi pasca-skizofrenia. dikutip dari :
https://id.wikipedia.org/wiki/Depresi_pasca-skizofrenia
15. Maslim R. Buku saku Diagnosis Gangguan Jiwa (Rujukan Ringkas dari
PPDGJ III dan DSM 5. Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya: Jakarta.
2013.p50
16. Glanville, D.N, Dixon, L. Family treatment appraisal and service use in
families of patient schizophrenia. The Israel Journal of Psychiatry and
Related Sciences.2008;42,15-23.
17. Siris SG.Treating 'deperession' in patients with schizophrenia.Current
Psychiatry Vol 11 No. 8. 2012. p35-9

19