Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

TRAUMA TAJAM

DISUSUN OLEH :
Agung Prasetyo
I4061162043

PEMBIMBING :
dr. Monang Siahaan, M.Ked(For), Sp.F

KEPANITERAAN KLINIK FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2019
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui referat dengan judul:

Trauma Tajam

Disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian dalam

Kepaniteraan Klinik Forensik dan Medikolegal

Telah disetujui,
Pembimbing, Pontianak, 15 Juni 2019

dr. Monang Siahaan, M. Ked(For), Sp. F Agung Prasetyo, S. Ked

2
BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu kedokteran forensik atau yang biasa dikenal dengan Legal Medicine adalah
suatu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari ilmu kedokteran untuk
kepentingan penegakan hukum. Untuk kesemuanya itu, dalam bidang ilmu kedokteran
forensik dipelajari tatalaksana medikolegal, tanatologi, traumatologi, toksikologi,
teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait.1
Kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli telah diatur dalam pasal 133
KUHAP, keterangan ahli akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan sidang
pengadilan (pasal 184 KUHAP). Keterangan ahli ini dapat diberikan secara lisan di
depan sidang pengadilan, dapat pula diberikan pada masa penyidikan dalam bentuk
laporan penyidik atau dapat diberikan dalam bentuk keterangan tertulis di dalam suatu
surat.2
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksud
dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat
kekerasan. Trauma dapat disebabkan oleh benda tajam dan benda tumpul. Sehingga
penting untuk mempelajari tentang trauma tajam yang penting dalam ilmu kedokteran
forensik.1

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Traumatologi
2.1.1 Definisi
Traumatologi berasal dari bahasa Yunani, yang berarti luka, adalah cabang ilmu
kedokteran yang mempelajari tentang trauma, perlukaan, cedera serta hubungannya
dengan berbagai kekerasan (ruda paksa), yang kelainannya terjadi pada tubuh karena
adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan yang menimbulkan jejas. Di dalam
melakukan pemeriksaan terhadap seseorang yang menderita luka akibat kekerasan,
pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari
permasalahan jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan yang menyebabkan luka, dan
kualifikasi luka.3
Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas
jaringan tubuh yang masih hidup sedangkan logos berarti ilmu. Jadi pengertian yang
sebenarnya dari traumatologi adalah ilmu yang mempelajari semua aspek yang
berkaitan dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup.4

2.1.2 Fungsi
Kegunaan dari ilmu traumatologi adalah selain untuk kepentingan pengobatan
(dalam hal ini merupakan cabang dari ilmu kedokteran bedah) juga untuk kepentingan
forensik sebab dapat diaplikasikan guna membantu penegakan hukum dalam rangka
membuat terang tindak pidana kekerasan yang menimpa tubuh seseorang. Dalam
kaitannya dengan forensik tersebut, traumatologi dapat dimanfaatkan untuk membantu
menentukan:4
1. Jenis penyebab trauma
2. Waktu terjadinya trauma
3. Cara melakukannya
4. Akibat trauma
5. Kontek peristiwa penyebab trauma

2.1.3 Klasifikasi
Berdasarkan sifat serta penyebabnya, trauma dapat diklasifikasikan atas trauma
yang bersifat:1

4
1. Mekanik
a. Trauma oleh benda tajam
b. Trauma oleh benda tumpul
c. Tembakan senjata api
2. Fisika
a. Suhu
b. Listrik dan petir
c. Perubahan tekanan udara
d. Akustik
e. Radiasi
3. Kimia
a. Asam kuat
b. Basa kuat

2.2 Trauma Tajam


2.2.1 Definisi
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini
adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang
bervariasi dari lat-alat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keping kaca, gelas,
logam, sembilu, bahkan tepi kertas atau rumput.1
Ciri-ciri umum dari luka akibat benda tajam adalah sebagai berikut:
 Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan sudutnya runcing.
 Bila ditautkan akan menjadi rapat (karena benda tersebut hanya memisahkan, tidak
menghancurkan jaringan) dan membentuk garis lurus atau sedikit lengkung.
 Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan.
 Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar.4

5
Tabel 2.1 Perbedaan luka akibat benda tumpul dan benda tajam1
Trauma Tumpul Tajam
Bentuk luka Tidak teratur Teratur
Tepi luka Tidak rata Rata
Jembatan jaringan Ada Tidak ada
Rambut Tidak ikut terpotong Ikut terpotong
Dasar luka Tidak teratur Berupa garis atau titik
Sekitar luka Ada luka lecet atau memar Tidak ada luka lain

2.2.2 Klasifikasi
Dengan melihat bentuk serta ciri-ciri luka, dapat pula diketahui cara benda
penyebabnya digunakan. Sudah barang tentu tergantung dari jenis benda penyebab luka
tersebut. Untuk senjata tajam, cara senjata itu digunakan dapat dibedakan yaitu
diiriskan, ditusukkan dan dibacokkan.4
1. Luka iris
Istilah diiriskan mengandung pengertian bahwa mata tajam dari senjata
tersebut ditekankan lebih dahulu ke suatu bagian dari tubuh dan kemudian digeser
ke arah yang sesuai dengan arah senjata. Luka yang ditimbulkannya merupakan
luka iris yang ciri-cirinya:
 Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
 Panjang luka lebih besar dari dalamnya luka

Gambar 1. Luka iris

6
2. Luka tusuk
Ditusukkan artinya bagian ujung dari senjata tajam ditembakkan pada suatu
bagian dari tubuh dengan arah tegak lurus atau miring dan kemudian ditekan ke
dalam tubuh sesuai arah tadi. Luka yang ditimbulkannya merupakan luka tusuk
yang ciri- cirinya:
 Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
 Dalam luka lebih besar dari panjangnya luka.

Gambar 2. Luka tusuk

3. Luka bacok
Istilah dibacokkan mengandung pengertian bahwa senjata tajam yang
ukurannya relatif besar dan diayunkan dengan tenaga yang kuat sehingga mata
tajam dari senjata tersebut mengenai suatu bagian dari tubuh. Tulang-tulang di
bawahnya biasanya berfungsi sebagai bantalan sehingga ikut menderita luka. Luka
yang ditimbulkannya merupakan luka bacok yang ciri-cirinya:
 Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
 Ukuran luka besar dan menganga
 Panjang luka kurang lebih sama dengan dalam luka
 Biasanya tulang-tulang dibawahnya ikut menderita luka
 Jika senjata yang digunakan tidak begitu tajam maka di sekitar garis batas
luka terdapat memar.4

7
Gambar 3. Luka bacok

2.2.3 Deskripsi luka


Dalam mendeskripsikan luka terbuka harus mencakup jumlah, lokasi, bentuk,
ukuran, dan sifat luka. Sedangkan untuk luka tertutup, sifat luka tidak perlu
dicantumkan dalam pendeskripsian luka. Untuk penulisan deskripsi luka jumlah, lokasi,
bentuk, ukuran tidak harus urut tetapi penulisan harus selalu ditulis diakhir kalimat.5
1. Jumlah luka
2. Lokasi luka, meliputi:
a. Lokasi berdasarkan region anatomi nya
b. Lokasi berdasarkan garis koordinat atau berdasarkan bagian-bagian tertentu
dari tubuh
c. Menentukan lokasi berdasarkan garis koordinat dilakukan untuk luka pada
regio yang luas seperti di dada, perut, punggung. Koordinat tubuh dibagi
dengan menggunakan garis khayal yang membagi tubuh menjadi dua yaitu
kanan dan kiri, garis khayal mendatar yang melewati puting susu, garis khayal
mendatar yang melewati pusat, dan garis khayal mendatar yang melewati
ujung tumit. Pada kasus luka tembak harus selalu diukur jarak luka dari garis
khayal mendatar yang melewati kedua ujung tumit untuk kepentingan
rekonstruksi. Untuk luka di bagian punggung dapat dideskripsikan lokasinya
berdasarkan garis khayal yang menghubungkan ujung bawah tulang belikat
kanan dan kiri.

8
3. Bentuk luka, meliputi :
a. Bentuk sebelum dirapatkan
b. Bentuk setelah dirapatkan
4. Ukuran luka, meliputi sebelum dan sesudah dirapatkan ditulis dalam bentuk
panjang x lebar x tinggi dalam satuan sentimeter atau milimeter.
5. Sifat-sifat luka, meliputi :
a. Daerah pada garis batas luka, meliputi :
- Batas (tegas atau tidak tegas)
- Tepi (rata atau tidak rata)
- Sudut luka (runcing atau tumpul)
b. Daerah di dalam garis batas luka, meliputi:
- Jembatan jaringan (ada atau tidak ada)
- Tebing (ada atau tidak ada, jika ada terdiri dari apa)
- Dasar luka
c. Daerah di sekitar garis batas luka, meliputi :
- Memar (ada atau tidak)
d. Lecet (ada atau tidak)
e. Tatoase (ada atau tidak)5

2.2.4 Konteks peristiwa penyebab luka


Latar belakang terjadinya luka dapat disebabkan oleh peristiwa pembunuhan,
bunuh diri atau kecelakaan.
1. Pembunuhan
Ciri-ciri lukanya adalah sebagai berikut.
 Lokasi luka di sembarang tempat, yaitu di daerah yang mematikan maupun
yang tidak mematikan
 Lokasi tersebut di daerah yang dapat dijangkau maupun yang tidak dapat
dijangkau oleh tangan korban
 Pakaian yang menutupi daerah luka ikut robek terkena senjata
 Dapat ditemukan luka tangkisan yaitu pada korban yang sadar ketika
mengalami serangan. Luka tangkisan tersebut terjadi akibat reflek menahan
serangan sehingga letak luka tangkisan biasanya pada lengan bawah bagian
luar.

9
2. Bunuh diri
Ciri-ciri lukanya adalah sebagai berikut.
 Lokasi luka pada daerah yang dapat mematikan secara cepat
 Lokasi tersebut dapat dijangkau oleh tangan yang bersangkutan
 Pakaian yang menutupi luka tidak ikut robek oleh senjata
 Ditemukan luka-luka percobaan
Luka pecobaan tersebut terjadi karena yang bersangkutan masih ragu-ragu
atau karena sedang memilih letak senjata yang pas sambil mengumpulkan
keberaniannya, sehingga ciri-ciri luka percobaan adalah :
 Jumlah lebih dari satu
 Lokasinya di sekitar luka yang mematikan
 Kualitas lukanya dangkal
 Tidak mematikan
3. Kecelakaan
Jika ciri-ciri luka yang ditemukan tidak menggambarkan pembunuhan atau
bunuh diri maka kemungkinannya adalah akibat kecelakaan. Untuk lebih
memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan di tempat kejadian.4

Tabel 2 Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh
diri, atau kecelakaan1
Pembunuhan Bunuh diri Kecelakaan
Lokasi luka Sembarang Terpilih Terpapar
Jumlah luka Banyak Banyak Tunggal/banyak
Pakaian Terkena Tidak terkena Terkena
Luka tangkis Ada Tidak ada Tidak ada
Luka percobaan Tidak ada Ada Tidak ada
Cedera sekunder Mungkin ada Tidak ada Mungkin ada

10
2.2.5 Akibat trauma
Kelainan yang terjadi akibat trauma dapat dilihat dari 2 aspek, yaitu:
1. Aspek medik
Berdasarkan prinsip inersia dari Galileo Galilei, setiap benda akan tetap
bentuk dan ukurannya sampai ada kekuatan luar yang mampu merubahnya.
Selanjutnya Isaac Newton dengan 3 buah hukumnya berhasil menemukan metode
yang dapat dipakai untuk mengukur dan menghitung energi.
Dengan dasar-dasar tadi maka dapat diterangkan bagaimana suatu energi
potensial dalam bentuk kekerasan berubah menjadi energi kinetik yang mampu
menimbulkan luka, yaitu kerusakan jaringan yang dapat disertai atau tidak disertai
oleh diskontinuitas permuakaan kulit.4
Konsekuensi dari luka yang ditimbulkan oleh trauma dapat berupa:
a. Kelainan fisik/organis
Bentuk dari kelainan fisik atau organik ini dapat berupa:
 Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh
 Hilangnya sebagian atau seluruh organ tertentu
b. Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu
Bentuk dari gangguan fungsi ini tergantung dari organ atau bagian tubuh yang
terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain lumpuh, buta, tuli
atau terganggunya fungsi organ-organ dalam.
c. Infeksi
Seperti diketahui bahwa kulit atau membran mukosa merupakan barier
terhadap infeksi. Bila kulit atau membran tersebut rusak maka kuman akan
masuk lewat pintu ini. Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah memar atau
bahkan iritasi akibat benda yang terkontaminasi oleh kuman. Jenis kuman
dapat berupa streptococcus, staphylococcus, Escheria coli, Proteus vuulgaris,
Clostridium tetani serta kuman yang menyebabkan gas gangren.
d. Penyakit
Trauma sering dianggap sebagai precipitating factor terjadinya pnyakit
jantung walaupun hubungan kausalnya suli diterangkan dan masih dalam
kontroversi.

11
e. Kelainan psikik
Trauma, meskipun tidak menimbulkan kerusakan otak, kemungkinan dapat
menjadi precipitating factor bagi terjadinya kelainan mental yang
spektrumnya amat luas yaitu dapat berupa compensational neurosis, aniety
neurosis, dementia praecox primer (schizophrenia), manic depressive, atau
psikosis. Kepribadian serta potensi individu untuk terjadinya reaksi mental
yang abnormal merupakan faktor utama timbulnya gangguan mental tersebut;
meliputi jenis, derajat serta lamanya gangguan. Oleh sebab itu, pada setiap
gangguan mental post-trauma perju dikaji elemen-elemen dasarnya yang
terdiri atas latar belakang mental dan emosi serta nilai relatif bagi yang
bersangkutan atas jaringan atau organ yang terkena.4

2. Aspek yuridis
Jika dari sudut medik, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai
atau tidak disertai diskontinuitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut
hukum, luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana,
baik yang bersifat sengaja, ceroboh, atau kurang hati-hati. Untuk menentukan berat
ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat ringannya luka.4
Kebijakan hukum pidana di dalam penentuan berat ringannya luka tersebut
didasarkan atas pengaruhnya terhadap:
 Kesehatan jasmani
 Kesehatan rohani
 Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan
 Estetika jasmani
 Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian
 Fungsi alat indera
Klasifikasi derajat luka berdasarkan KUHP adalah sebagai berikut.(4)
a. Luka ringan
Luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya.

12
b. Luka sedang
Luka sedang adalah luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencariannya untuk sementara
waktu.
c. Luka berat
Luka berat adalah luka yang sebagaimana diuraikan di dalam pasal 90
KUHP, yang terdiri atas:
1) Luka atau penyakit yang tidak da[at diharapkan akan sembuh dengan
sempurna. Pengertian tidak akan sembuh dengan sempurna lebih
ditujuka pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang
menyebabkan kornea robek. Sesudah dijahit sembuh, tetapi mata
tersebut tidak dapat melihat.
2) Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Dapat mendatangkan
bahaya maut pengertiannya memiliki potensi untuk menimbulkan
kematian, tetapi sesudah diobati dapat sembuh.
3) Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan
jabatan atau mata pencariannya. Luka yang dari sudut medik tidak
membahayakan jiwa, dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai luka
berat. Contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah
seseorang peragawati dapat dikategorikan luka berat jika akibatnya
mereka tidak dapat lagi menjalankan pekerjaan tersebut selamanya.
4) Kehilangan salah satu dari panca indera. Jika trauma menimbulkan
kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga, tidak dapat
digolongkan kehilangan indera. Meskipun demikian tetap digolongkan
sebagai luka berat.
5) Cacat besar atau kudung
6) Lumpuh
7) Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir
tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa
amnesia, disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan lainnya.
8) Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Yang dimaksud
dengan keguguran ialah keluarnya janin sebelum masa waktunya, yaitu
tidak didahului oleh proses yang sebagaimana umumnya terjadi seorang
wanita ketika melahirkan. Sedangkan kematian janin mengandung

13
pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukkan tanda-tanda hidup. Tidak
dipersoalkan bayi keluar atau tidak dari perut ibunya.4

2.3 Aspek Hukum pada Trauma


1. Luka ringan
Pasal 352 KUHP: maks 3 bulan
2. Luka sedang
a. PS 351 (2) KUHP: maks 2 tahun 8 bulan
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.
b. PS 353 (1) KUHP: maks 4 tahun
Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun.
3. Luka berat
a. PS 351 (3) KUHP: maks 5 tahun
Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
b. PS 353 (2) KUHP: maks 7 tahun
Jika perbuatan itu mengakibatka luka-luka berat, yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
c. PS 354 (1) KUHP: maks 8 tahun
Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan
penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
d. PS 355 (1) KUHP: maks 12 tahun
Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.2

14
BAB III
KESIMPULAN

Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa) Benda-benda yang dapat
mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam,
baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari lat-alat seperti pisau, golok, dan
sebagainya hingga keping kaca, gelas, logam, sembilu, bahkan tepi kertas atau rumput.
Latar belakang terjadinya luka dapat disebabkan oleh peristiwa pembunuhan, bunuh
diri atau kecelakaan. Untuk menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan
lebih dahulu berat ringannya luka Klasifikasi derajat luka berdasarkan KUHP adalah
luka ringan, luka sedang dan luka berat.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanti A, Widiatmika W, Sudiono S, Winardi T, Mun’im A, Sidhi. Ilmu


Kedokteran Forensik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1997.
2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam: Himpunan Peraturan
Perundang-undangan Republik Indonesia menurut sistem Engelbrecht. Jakarta:
Intermasa; 2006.
3. Idries A, Tjiptomartono A. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Sagung Seto; 2008.
4. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik: Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2007.
5. Apuranto H. Luka akibat benda tajam. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal. Ketiga. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2007.

16