Anda di halaman 1dari 14

DIFRAKSI PADA CELAH GANDA DAN CELAH BANYAK

Arjun Syarif*), Andi Husnatunnisa, Syefi Ary

Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Makassar Tahun 2014

Abstrak. Telah dilakukan eksperimen mengenai difraksi pada celah ganda dan celah banyak. Dimana
tujuan eksperimen ini yakni memahami pengaruh jarak antar celah (d) dan lebar celah (b) pada
pembentukan pola difraksi pada celah ganda, memahami pengaruh banyak celah pada pembentuksn
pola difraksi, dan menentukan panjang gelombang laser. Pada eksperimen ini alat dan bahan yang
digunakan yakni diafragma, laser He-Ne, dudukan, lensa, presisi bangku oprik, pengendara 4 optik,
layar tembus, dan pelana dasar. Percobaan ini terbagi menjadi 3 kegiatan. Pada kegiatan 1 yaitu
melihat ketergantungan difraksi pada celah ganda terhadap jarak antar celah, pada kegiatan 2 yaitu
melihat ketergantungan difraksi pada celah ganda terhadaplebar celah, dan pada kegiatan 3 yaitu
melihat ketergantungan difraksi pada banyak celah. Berdasarkan hasil pengamatan, pada kegiatan 1
dapat dilihat bahwa pada jarak antar celah d=1,00 mm; 0,75 mm; 0,50 mm, dan 0,25 mm, masing-
masing diperoleh jarak rata-rata pola difraksi yaitu |1,0 ± 0,5| mm, |2,0 ± 0,5| mm, |3,0 ± 0,5| mm,
dan |6,0 ± 0,5|mm. Pada kegiatan 2untuk untuk lebar celah yang berbeda menghasilkan jarak rata-
rata pola difraksi sebesar |6,0 ± 0,5|mm. dan pada kegiatan 3 untuk banyak celah 40, 5, 4, dan 3,
semuanya juga menghasilkan jarak rata-rata pola difraksi sebesar |6,0 ± 0,5|mm. Sehingga dapat
dikatakan bahwa bahwa pengaruh jarak antar celah (d) pada pembentukan pola difraksi pada celah
ganda berbanding terbalik, dan lebar celah (b) dan banyak celah (N) tidak mempengaruhi
pembentukan pola difraksi. Sedangkan untuk menentukan panjang gelombang laser dapat diketahui
𝑑𝑦
dengan menggunakan persamaan 𝜆 = .
𝐿

KATA KUNCI: difraksi, Interferensi, panjang gelombang, jarak antar celah, lebar celah.

PENDAHULUAN
Eksperimen kali ini adalah eksperimen mengenai difraksi pada celah ganda dan
celah banyak. Adapun tujuan dari eksperimen ini adalah agar mahasiswa dapat memahami
pengaruh jarak antar celah pada pembentukan pola difraksi pada celah ganda, memahami
pengaruh lebar celah pada pembentukan pola difraksi pada celah ganda, memahami
pengaruh banyak celah terhadap pembentukan pola difraksi , dan menentukan panjang
gelombang laser.
Melihat tujuan yang harus dicapai oleh mahasiswa setelah melakukan praktikum,
maka eksperimen ini sangat penting untuk dilakukan. Seperti yang diketahui pula bahwa
ketika berbicara mengenai disiplin ilmu fisika maka kita tidak hanya bergelut dengan teori
ataupun rumus, melainkan eksperimen-eksperimen juga sangat penting dilakukan agar kita
semakin mengerti terhadap prinsip dari teori yang ada.
Eksperimen ini terdiri atas 3 kegiatan yaitu pada kegiatan pertama yang diamati
adalah pengaruh dari jarak antar celah terhadap pembentukan pola difraksi, kemudian pada
kegiatan kedua yang diamati adalah pengaruh lebar celah terhadap pembentukan pola
difraksi dan kegiatan ketiga yang diamati adalah pengaruh dari banyak celah terhadap pola
difraksi. Setelah itu ditentukan panjang gelombang dari laser tersebut menggunakan data
yang diperoleh dari kegiatan eksperimen.

TEORI
Difraksi terjadi apabila sebagaian muka gelombang dibatasi oleh rintangan atau
lubang permukaan (Celah sempit). Intensitas cahaya di sembarang titik dalam ruangan dapat
dihitung dengan menggunakan prinsip Huygens dengan mengambil setiap titik pada muka
gelombang menjadi titik sumber dan dengan menghitung pola interferensi yang terjadi. Pola
franhoufer diamati pada jarak yang sangat jauh dari rintangan atau celah sempit sehingga
sinar-sinar yang mencapai sembarang titik hampir sejajar, atau pola itu dapat diamati dengan
menggunakan lensa untuk memfokuskan sinar-sinar sejajar pada layar pandang yang
ditempatkan pada bidang fokus lensa tersebut. Pola yang lain, yaitu pola Fresnel diamatil di
titik yang dekat dengan sumbernya[1].

Gambar 1. Difraksi

Difraksi cahaya sering sulit diamati karena panjang gelombang demikian kecilnya
atau karena intensitas cahayanya tidak cukup. Kecuali untuk pola franhoufer celah sempit
dan panjang, pola difraksi biasanya sulit diamati[2].
Pola difraksi- interferensi franhoufer dua celah sama dengan pola interferensi
untuk dua celah. Pada mekanika kuantum, eksperimen celah ganda yang dilakukan oleh
Thomas Young menunjukkan sifat yang tidak terpisahkan dari cahaya sebagai gelombang
dan partikel. Sebuah sumber cahaya koheren yang menyinari bidang halangan dengan dua
celah akan membentuk pola interferensi gelombang berupa pita cahaya yang terang dan
gelap pada bidang pengamatan, walaupun demikian, pada bidang pengamatan, cahaya
ditemukan terserap sebagai partikel diskrit yang disebut foton.Pita cahaya yang terang pada
bidang pengamatan terjadi karena interferensi konstruktif, saat puncak gelombang
berinterferensi dengan puncak gelombang yang lain, dan membentuk maksimal[3]. Pita
cahaya yang gelap terjadi saat puncak gelombang berinterferensi dengan landasan
gelombang dan menjadi minima. Interferensi konstruktif terjadi saat:

𝑛𝜆 𝑥
= (1.1)
𝑎 𝐿
Dimana :
λ adalah panjang gelombang cahaya
a adalah jarak antar celah,
n adalah banyak celah
x adalah jarak antara pita cahaya dan central maximum (disebut juga fringe distance) pada
bidang pengamatan
L adalah jarak antara celah dengan titik tengah bidang pengamatan

Gambar 2. Skema ilustrasi difraksi pada celah ganda

Jika cahaya dilewatkan pada sebuah celah maka cahaya tersebut akan mengalami
difraksi yang pada gilirannya akan mengalami interferensi, ditandai dengan adanya pola
gelap-terang yang terlihat pada layar. Pada dasarnya setiap gelombang cahaya yang melalui
suatu penghalang akan mengalami pembelokan arah rambat. Berdasarkan eksperimen yang
dilakukan para ilmuwan, difraksi dapat juga diamati jika cahaya dilewatkan pada banyak
celah[4].
Suatu penghalang yang terdiri dari banyak sekali celah dimana jarak antara celah
tersebut seragam (jarak antar celah sama dan teratur) disebut dengan kisi difraksi. Jumlah
celah dalam suatu kisi dapat mencapai orde ribuan celah tiap cm. Kisi difraksi memiliki
beberapa kelebihan dibanding celah tunggal atau ganda. Ketika cahaya melalui kisi, setiap
celah pada kisi tersebut dapat dianggap sebagai sumber gelombang cahaya. Setiap cahaya
dibelokkan dengan besar sudut tertentu sehingga cahaya-cahaya tersebut memiliki lintasan
yang berbeda satu dengan yang lainnya[5].

Gambar 3. Difraksi pada celah banyak

Prinsip kisi difraksi banyak digunakan untuk mengkarakterisasi suatu molekul atau
atom tertentu berdasarkan panjang gelombang yang dihasilkannya. Suatu alat yang
digunakan untuk difraksi memiliki tingkat akurasi yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
disperse angular dan resolusi. Suatu alat yang baik harus mampu membedakan spektrum
panjang gelombang cahaya yang memiliki nilai berdekatan[6].

METODOLOGI EKSPERIMEN
Pada percobaan rangkaian difraksi pada celah ganda dan celah banyak ini alat dan
bahan yang digunakan yakni diafragma, laser He-Ne, dudukan, lensa, presisi bangku optik,
layar tembus, dan pelana dasar.
Percobaan ini terbagi menjadi 3 kegiatan yang terdiri dari kegiatan 1, yaitu
mengamati ketergantungan difraksi pada celah ganda terhadap jarak antar celah (d), kegiatan
2, yaitu mengamati ketergantungan difraksi pada celah ganda terhadap lebar celah (b), dan
kegiatan 3, yaitu mengamati ketergantungan difraksi pada banyak celah.
Percobaan ini merupakan percobaan eksperimen yang terdiri dari tiga variabel yaitu,
variabel kontrol, variabel manipulasi dan variabel respon. Dimana yang bertindak sebagai
variabel kontrol pada ketiga kegiatan yaitu jarak celah ke layar (L), dan variabel responnya
yaitu jarak rata-rata pola difraksi (y), sedangkan untuk variabel manipulasinya pada kegiatan
1 yaitu jarak antara celah (d), kegiatan 2 yaitu lebar celah (b), dan kegiatan 3 yaitu banyak
celah (N).
Definisi Operasional Variabel
- Jarak layar dengan celah adalah jarak antara layar dengan celah yang dilalui oleh
sinar laser, yang diukur menggunakan mistar dengan satuan mm.
- Jarak rata-rata pola difraksi maksimum berdekatan adalah jarak antara titik pusat
terang dengan ordenya yang diukur dengan menggunakan mistar dengan satuan mm.
- Jarak antar celah adalah jarak celah yang satu dengan celah yang lain dimana
jaraknya terdapat pada diafragma yang digunakan yaitu diafragma dengan 4 celah
(469 85) dengan satuan mm.
- Lebar celah adalah besarnya celah yang digunakan, dimana lebarnya terdapat pada
diafragma dengan 3 celah (469 84) dengan satuan mm.
- Banyak celah jumlah celah yang digunakan pada satu diagfragma yang sama,
dimana banyak celah terdapat pada diafragma dengan 5 celah (469 86) dengan
satuan mm.

HASIL PERCOBAAN DAN ANALISA DATA


Hasil Pengamatan

Jarak celah ke layar : | 237,00 ± 0,05| cm

Kegiatan 1. Ketergantungan Difraksi pada celah ganda pada jarak antar celah d.
b = 0,20 mm

Tabel 1. Pengaruh jarak antar celah (d) terhadap pembentukan pola difraksi
No. Jarak antar celah (mm) Jarak rata-rata pola difraksi
maksimum berdekatan (mm)
1. 1,00 │1,0 ± 0,5│
2. 0,75 │2,0 ± 0,5│
3. 0,50 │3,0 ± 0,5│
4. 0,25 │6,0 ± 0,5│

Kegiatan 2.Ketergantungan difraksi pada celah ganda pada celah lebar b


d = 0,25 mm

Tabel 2. Pengaruh lebar celah (b) terhadap pembentukan pola difraksi


No. Lebar celah b (mm) Jarak rata-rata pola difraksi
maksimum berdekatan (mm)
1. 0,20 │6,0 ± 0,5│
2. 0,15 │6,0 ± 0,5│
3. 0,10 │6,0 ± 0,5│

Kegiatan 3. Ketergantungan difraksi pada banyak celah (N)


b = 0,20 mm d = 0,25 mm
Tabel 3. Pengaruh banyak celah (N) terhadap pembentukan pola difraksi
No. Banyak celah N (mm) Jarak rata-rata pola difraksi
maksimum berdekatan (mm)
1. 40 │6,0 ± 0,5│
2. 5 │6,0 ± 0,5│
3. 4 │6,0 ± 0,5│
4. 3 │6,0 ± 0,5│

ANALISIS DATA
Analisis Grafik
Kegiatan 1. Ketergantungan difraksi pada celah ganda pada jarak antar celah d
7
Jarak rata-rata pola difraksi

6
5
4
3
y = -6.4x + 7
2 R² = 0.9143
1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Jarak antar celah (d)

Gambar 4. Grafik pengaruh jarak antar celah terhadap pembentukan pola difraksi

Kegiatan 2. Ketergantungan difraksi pada celah ganda pada celah lebar b

7
Jarak rata-rata pola difraksi

6
5
4
3
2
1
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Lebar celah (b)

Gambar 5. Grafik pengaruh lebar celah terhadap pembentukan pola difraksi


Kegiatan 3. Ketergantungan difraksi pada banyak celah (N)

Jarak rata-rata pola difraksi


6
5
4
3
2
1
0
0 10 20 30 40 50
Banyak celah

Gambar 6. Grafik pengaruh banyak celah terhadap pembentukan pola difraksi

Analisis Perhitungan
Kegiatan 1
𝜆𝐿
y= 𝑚 𝑑

Karena m= 1, maka
𝜆𝐿
y= 𝑚
𝑑
𝒅𝒚
𝝀= 𝑳
𝑑𝑦
𝜆= 𝜆= d y 𝐿−1
𝐿
𝛿𝜆 𝛿𝜆 𝛿𝜆
Δ𝜆 = | | Δ𝑑 | | Δ𝑦 + | | Δ𝐿
𝛿𝑑 𝛿𝑦 𝛿𝐿
= |𝑦 𝐿−1 |Δ𝑑 + |𝑑 𝐿−1 |Δ𝑦 + |𝑑 𝑦 𝐿−2 |Δ𝐿
Δ𝜆 𝑦 𝐿−1 𝑑 𝐿−1 𝑑 𝑦 𝐿−2
𝜆
=|
𝑑 𝑦 𝐿−1
| Δ𝑑 +|
𝑑 𝑦 𝐿−1
| Δ𝑦 +|
𝑑 𝑦 𝐿−1
| Δ𝐿
Δ𝑑 Δ𝑦 Δ𝐿
Δ𝜆= | 𝑑 + 𝑦
+ 𝐿
|𝜆

KarenaΔ𝑑= 0, maka:
Δ𝑦 Δ𝐿
Δ𝜆= | 𝑦 + 𝐿
|𝜆

1. Untuk jarak antara celah (d) = 1,00 mm


𝑑𝑦
λ= 𝑙
1 × 1,0
𝜆1 = = 0,00042 𝑚𝑚
2370
Δ𝑦 Δ𝐿
Δ𝜆 = | 𝑦 + 𝐿
|𝜆
0,5 0,5
Δ𝜆1 = | + | 0,00042 = 0,0002 𝑚𝑚
1,0 2370
Δ𝜆1
𝐾𝑅1 = 𝜆1
× 100%

0,0002
= x100%
0,00042
= 47,6%
PF = |𝜆 ± ∆𝜆|
= |0,00042 ± 0,00020|mm

2. Untuk jarak antara celah (d) = 0,75 mm


𝑑𝑦
λ= 𝑙
1 × 2,0
𝜆1 = = 0,00063 𝑚𝑚
2370
0,5 0,5
Δ𝜆1 = | + | 0,00063 = 0,0002 𝑚𝑚
2,0 2370
0,0002
𝐾𝑅1 = x100% = 25,0%
0,00063
PF = |0,00063 ± 0,00020|mm

3. Untuk jarak antara celah (d) = 0,50 mm


𝑑𝑦
λ= 𝑙
1 × 3,0
𝜆1 = = 0,00127 𝑚𝑚
2370
0,5 0,5
Δ𝜆1 = | + | 0,00127 = 0,0002 𝑚𝑚
3,0 2370
0,0002
𝐾𝑅1 = x100% = 16,7%
0,00127
PF = |0,00127 ± 0,00020|mm

4. Untuk jarak antara celah (d) = 0,25 mm


𝑑𝑦
λ=
𝑙
1 × 6,0
𝜆1 = = 0,00253 𝑚𝑚
2370
0,5 0,5
Δ𝜆1 = | + | 0,00253 = 0,0002 𝑚𝑚
6,0 2370
0,0002
𝐾𝑅1 = x100% = 8,4%
0,00253
PF = |0,00253 ± 0,00020|mm
Tabel 4. Hasil Analisis perhitungan kegiatan 1
d (mm) 𝜆 (mm)
1,00 |0,00042 ± 0,00020|
0,75 |0,00063 ± 0,00020|
0,50 |0,00127 ± 0,00020|
0,25 |0,00253 ± 0,00020|

Kegiatan 2
Secara umum untuk mencari panjang gelombang sinar laser He-Ne dapat digunakan
persamaan (2) di atas.
ℷ = 𝑏 𝑦 𝐿−1
Untuk mencari kesalahan perhitungan dari panjang gelombang kita harus mencarinya
melalui turunan parsial. Karena mengingat persamaan lebar celah (b) merupakan tetapan dari
diafragma yang digunakan maka b ini kita dapat abaikan karena tidak memiliki kesalahan.
Sehingga persamaan di atas menjadi:
ℷ = 𝑦 𝐿−1
Berikut adalah penurunan untuk mencari kesalahan panjang gelombang yang digunakan.
𝜕ℷ 𝜕ℷ
∆ℷ = | | ∆𝑦 + | | ∆𝐿
𝜕𝑦 𝜕𝐿
𝜕ℷ 𝜕ℷ
∆ℷ = | | ∆𝑦 + | | ∆𝐿
𝜕𝑦 𝜕𝐿
∆ℷ = | 𝐿−1 ∆𝑦 | + | 𝑦 𝐿−2 ∆𝐿 |
∆ℷ | 𝐿−1 ∆𝑦 | + | 𝑦 𝐿−2 ∆𝐿 |
=
ℷ 𝑦 𝐿−1
∆ℷ ∆𝑦 ∆𝐿
= | |+| |
ℷ 𝑦 𝐿
∆𝑦 ∆𝐿
∆ℷ = (| | + | |) ℷ
𝑦 𝐿

1. Untuk lebar celah = 0,20 mm


𝑑𝑦
ℷ=
𝐿
0,25 𝑚𝑚 × 6,0 𝑚𝑚
ℷ=
2370 𝑚𝑚
ℷ = 6,329 × 10−4 𝑚𝑚
∆𝑦 ∆𝐿
∆ℷ = (| | + | |) ℷ
𝑦 𝐿
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 6,329 × 10−4 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,529 × 10−4 𝑚𝑚
∆ℷ
𝐾𝑅 = × 100%

0,529 × 10−4 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100%
6,329 × 10−4 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = 8,4%
ℷ = |6,3 ± 0,5| × 10−4 𝑚𝑚

2. Untuk lebar celah = 0,15 mm


0,25 𝑚𝑚 × 6,0 𝑚𝑚
ℷ= = 6,329 × 10−4 𝑚𝑚
2370 𝑚𝑚
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 6,329 × 10−4 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,529 × 10−4 𝑚𝑚
0,529 × 10−4 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100% = 8,4%
6,329 × 10−4 𝑚𝑚
ℷ = |6,3 ± 0,5| × 10−4 𝑚𝑚

3. Untuk lebar celah = 0,10 mm


0,25 𝑚𝑚 × 6,0 𝑚𝑚
ℷ= = 6,329 × 10−4 𝑚𝑚
2370 𝑚𝑚
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 6,329 × 10−4 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,529 × 10−4 𝑚𝑚
0,529 × 10−4 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100% = 8,4%
6,329 × 10−4 𝑚𝑚
ℷ = |6,3 ± 0,5| × 10−4 𝑚𝑚

Tabel hasil analisis kegiatan 2


b (mm) 𝜆 (× 10−4 mm)
0,20 |6,3 ± 0,5|
0,15 |6,3 ± 0,5|
0,10 |6,3 ± 0,5|
Kegiatan 3
Secara umum untuk mencari panjang gelombang sinar laser He-Ne dapat mula
menggunakan persamaan (3) di atas.
ℷ = 𝑁 𝑦𝐿−1
Untuk mencari kesalahan perhitungan dari panjang gelombang kita harus mencarinya
melalui turunan parsial. Karena mengingat persamaan banyak celah (N) merupakan tetapan
dari diafragma yang digunakan maka N ini kita dapat abaikan karena tidak memiliki
kesalahan. Sehingga persamaan di atas menjadi:
ℷ = 𝑦 𝐿−1
Berikut adalah penurunan untuk mencari kesalahan panjang gelombang yang digunakan.
𝜕ℷ 𝜕ℷ
∆ℷ = | | ∆𝑦 + | | ∆𝐿
𝜕𝑦 𝜕𝐿
𝜕ℷ 𝜕ℷ
∆ℷ = | | ∆𝑦 + | | ∆𝐿
𝜕𝑦 𝜕𝐿
∆ℷ = | 𝐿−1 ∆𝑦 | + | 𝑦 𝐿−2 ∆𝐿 |
∆ℷ | 𝐿−1 ∆𝑦 | + | 𝑦 𝐿−2 ∆𝐿 |
=
ℷ 𝑦 𝐿−1
∆ℷ ∆𝑦 ∆𝐿
= | |+| |
ℷ 𝑦 𝐿
∆𝑦 ∆𝐿
∆ℷ = (| | + | |) ℷ
𝑦 𝐿

1. Untuk banyak celah = 40


𝑑𝑦
ℷ=
𝐿
0,25 𝑚𝑚 6,0 𝑚𝑚
ℷ= ×
40 2370 𝑚𝑚
ℷ = 1,58 × 10−5 𝑚𝑚
∆𝑦 ∆𝐿
∆ℷ = (| | + | |) ℷ1
𝑦 𝐿
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 1,58 × 10−5 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,13 × 10−5 𝑚𝑚
∆ℷ
𝐾𝑅 = × 100%

0,13 × 10−5 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100%
1,58 × 10−5 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = 8,2%
ℷ = |1,6 ± 0,1| × 10−5 𝑚𝑚

2. Untuk banyak celah = 5


0,25 𝑚𝑚 6,0 𝑚𝑚
ℷ= ×
5 2370 𝑚𝑚
ℷ = 1,26 × 10−5 𝑚𝑚
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 1,26 × 10−5 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,12 × 10−5 𝑚𝑚
0,12 × 10−5 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100% = 8,4%
1,26 × 10−5 𝑚𝑚
ℷ = |1,3 ± 0,1| × 10−5 𝑚𝑚

3. Untuk banyak celah = 4


0,25 𝑚𝑚 6,0 𝑚𝑚
ℷ= ×
4 2370 𝑚𝑚
ℷ = 1,58 × 10−4 𝑚𝑚
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 1,26 × 10−4 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,13 × 10−5 𝑚𝑚
0,13 × 10−4 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100% = 8,4%
1,58 × 10−4 𝑚𝑚
ℷ = |1,6 ± 0,1| × 10−4 𝑚𝑚

4. Untuk banyak celah = 3


0,25 𝑚𝑚 6,0 𝑚𝑚
ℷ= ×
3 2370 𝑚𝑚
ℷ = 2,11 × 10−4 𝑚𝑚
0,5 𝑚𝑚 0,5 𝑚𝑚
∆ℷ = (| |+| |) 2,11 × 10−4 𝑚𝑚
6,0 𝑚𝑚 2370 𝑚𝑚
∆ℷ = 0,18 × 10−4 𝑚𝑚
0,18 × 10−4 𝑚𝑚
𝐾𝑅 = × 100% = 8,4%
2,11 × 10−4 𝑚𝑚
ℷ = |2,1 ± 0,2| × 10−4 𝑚𝑚
Tabel hasil analisis kegiatan 3
N 𝜆 (mm)
40 |1,6 ± 0,1| × 10−5
5 |1,3 ± 0,1| × 10−5
4 |1,6 ± 0,1| × 10−4
3 |2,1 ± 0,2| × 10−4

PEMBAHASAN
Pada kegiatan 1, yaitu ketergantungan difraksi pada celah ganda terhadap jarak antar
celah (d). Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa pada jarak antar celah d=1,00
mm; 0,75 mm; 0,50 mm, dan 0,25 mm, masing-masing diperoleh jarak rata-rata pola difraksi
yaitu |1,0 ± 0,5| mm, |2,0 ± 0,5| mm, |3,0 ± 0,5| mm, dan |6,0 ± 0,5|mm. dan berdasarkan
hasil analisis perhitungan dapat kita lihat bahwa jarak antar celah berbanding terbalik
terhadap panjang gelombang yg dihasilkan, dimana hasilnya yaitu 𝜆1 = |0,00042 ±
0,00020| mm, 𝜆2 = |0,00063 ± 0,00020| mm, 𝜆3 = |0,00127 ± 0,00020|mm, dan 𝜆4 =
|0,00253 ± 0,00020|mm. Sehingga dapat dikatakan bahwa jarak antara cela (d)
berpengaruh terhadap pembentukan pola difraksi. Pengaruhnya yaitu jarak antar celah
berbanding terbalik dengan jarak rata-rata pola difraksi, maksudnya semakin kecil jarak
antar celah maka akan jarak rata-rata pola difraksi semakin besar. Hal ini sesuai dengan teori
yang ada.
Pada kegiatan 2 dan 3, yaitu ketergantungan difraksi pada celah ganda terhadap lebar
celah dan ketergantungan difraksi pada banyak celah. Berdasarkan hasil pengamatan dapat
kita lihat bahwa lebar celah (b) dan banyak celah (N) tidak mempengaruhi pembentukan pola
difraksi. Dimana untuk untuk lebar celah 0,20 mm; 0,15 mm; dan 0,100 mm, semuanya
menghasilkan jarak rata-rata pola difraksi sebesar |6,0 ± 0,5|mm. dan untuk banyak celah
40, 5, 4, dan 3, semuanya juga menghasilkan jarak rata-rata pola difraksi sebesar |6,0 ±
0,5|mm. Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa pola difraksi tidak dipengaruhi oleh
lebar celah (b) dan banyak celah (N).
SIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat kita kesimpulan bahwa pengaruh
jarak antar celah (d) pada pembentukan pola difraksi pada celah ganda berbanding terbalik,
dan lebar celah (b) dan banyak celah (N) tidak mempengaruhi pembentukan pola difraksi.
Sedangkan untuk menentukan panjang gelombang laser dapat diketahui dengan
𝑑𝑦
menggunakan persamaan 𝜆 = 𝐿
.

REFERENSI
[1][2] Tim Penyusun. 2014. Penuntun Praktikum Fisika Dasar 2. Makassar: Jurusan Fisika
FMIPA UNM.
[3]Anonim.2010.”Difraksi pada celah ganda”. http://id.wikipedia.org/wiki/Difraksi#
Difraksi_celah_ganda. Diakses pada tanggal 10 April 2014
[4][5][6]Eko. 2011. “Difraksi celah ganda”. ekophysicseducation.files.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 10 April 2014