Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS VEGETASI METODE GARIS

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi yang dibimbing oleh:

Prof. Dr. Ir. Suhadi, M.Si. dan Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc.

Oleh:

Calista Dhea S. 180341617540

Sherina Nabila W. P. 180341617594

Setyaningrum Tri W. 180341617562

Suci Yana Lestari 180342618026

Verona Tri Nur J. 180341617541

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2020
A. Topik
Analisis Vegetasi Dengan Menggunakan Metode Garis

B. Tujuan
1. Untuk Mengetahui frekuensi, kerapatan, dan dominansi suatu tipe vegetasi yang
diamati di sekitar lingkungan FMIPA UM.
2. Mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) setiap jenis tumbuhan pada suatu
vegetasi
3. Mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap dominansi tumbuhan.

C. Dasar Teori
Menurut Marsono (1977), Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-
tumbuhan, biasanya terdiri atas beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu
tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat,
baik diantara sesame individu penyususn vegetasi itu sendiri maupun dengan
organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang tumbuh dan hidup serta
dinamis.
Pada suatu wilayah yang berukuran luas atau besar, vegetasinya terdiri dari
beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Hal ini
menyebabkan adanya berbagai tipe vegetasi. Vegetasi terdiri dari semua spesies
tumbuhan dalam suatu wilayah dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang
dan waktu. Tipe-tipe vegetasi sendiri dicirikan oleh bentuk pertumbuhan tumbuhan
dominan atau paling besar atau paling melimpah dan tumbuhan karakteristik atau
paling khas (Harjosuwarno, 1990).
Salah satu metode untuk mendeskripsikan suatu vegetasi yaitu analisis
vegetasi. Analisa vegetasi merupakan cara untuk mempelajari susunan (komposisi
jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Pada suatu
kondisi hutan yang luas, kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling
sehingga cukup ditempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat
tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dala sampling ini, yaitu jumlah petak
contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan
(Soerianegara, 2005). Metode garis adalah suatu metode pengambilan sampel
untuk analisis vegetasi yang berupa garis. Penggunaan metode pada hutan, biasanya
panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m, sedangkan untuk vegetasi semak
belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada
vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei,
1990). Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variable-variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting)
yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan
sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan
berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan
prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu
tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh
berdasarkan berapa kali suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang
disebar (Rahmadani dan Sumberartha, 2012).
Menurut Odum (1993), analisis vegetasi suatu lahan atau daerah penting
dilakukan. Tujuannya adalah suatu analisis secara objektif dari segi floristik
sebenarnya yang terdapat pada saat pengkajian. Prosedur pengkajian mengikuti dua
langkah yaitu:

1. Analisis lapang, yang meliputi seleksi plot-plot contoh atau kwadrat –


kwadrat enomerasi semua semua tumbuhan didalamnya. Kurva spesies area sangat
luas digunakan untuk menentukan ukuran yang sesuai dan jumlah dari petak-petak
contoh.
2. Sintesis data untuk menentukan derajat asosiasi dari populasi-populasi
tumbuhan , kurva frekuensi seringkali digunakan untuk menentukan homogenitas
atau heterogenitas dari suatu tegaknya vegetasi khusus.
Menurut Mc Noughton dan Wolf (1990), bentuk-bentuk pertumbuhan
(growth form) dapat dinyatakan berdasarkan batas ketinggiannya, misalnya untuk
komunitas hutan, terdapat 4 tingkatan:
1. Lapisan pohon (tree layer)
Tingkatan ini terdiri atas semua tumbuhan yang tingginya lebih dari 5 m.
Pada hutan-hutan tinggi, lapisan ini dapat dibagi lagi menjadi 2, 3, atau bahkan 4
lapisan.
2. Lapisan semak (schrub layer)
Tingkatan ini terdiri atas tumbuhan dengan tinggi antara 0,5 m sampai 5 m.
Lapisan ini dapat dibagi lagi menjadi S1 (tinggi 2-5 m) dan S2 (tinggi 0,3 atau 0,5
m sampai 2 m).
3. Lapisan herba (herb layer)
Pada tingkatan ini, tumbuhan yang ada adalah dengan tinggi kurang dari 0,3
atau 0,5 m atau kurang dari 1 m. Seperti tingkatan di atas, lapisan ini dibagi lagi
menjadi H1 atau lapisan herba tinggi (tinggi lebih dari 0,3 m), H2 (tinggi 0,1 – 0,3
m), dan lapisan herba rendah (tinggi kurang dari 0,1 m).
4. Lapisan lumut dan lichenes
Merupakan lapisan yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan lumut.
Pada suatu vegetasi terdapat beberapa macam growth form, yaitu sebagai
berikut:
1. Perdu/semak
2. Herba
3. Rumput
4. Sapling
5. Seeding
Lingkungan Universitas juga akan membuat berbagai jenis keragaman
vegetasi di dalamnya, salah satunya adalah lingkungan kebun biologi Universitas
Negeri Malang. Kebun biologi tersebut memiliki vegetasi yang perlu diketahui, atas
dasar faktor-faktor di atas maka dibuatlah proposal kegiatan analisis vegetasi di
Kebun Biologi Universitas Negeri Malang perlu dibuat dan dilakukan.
D. Alat Bahan
1. Roll meter 1. Kertas Label
2. Alat tulis 2. Plastik
3. Kamera HP
3. Soil termometer
4. Soil tester
5. Lux meter
6. Tali rafia/tali tampar 1 m

E. Langkah Kerja

Ditentukan tempat pengamatan berupa vegetasi semak yang kompleks

Ditentukan titik mulai pengamatan

Disiapkan rafia yang diikatkan pada pemberat (pasak/batu)

Diltakkan tali rafia di atas vegetasi secara horizontal

Individu yang menyentuh garis transek baik yang terletak di atas maupun
dibawah garis tersebut merupakan jenis yang diamati dan dicatat datanya.

Data yang tercatat dari masing-masing individu itu adalah berupa pengukuran
panjang transek yang terpotong dan lebar maksimum tajuk tumbuhan yang
diproyeksikan kedalam transek.

Untuk individu yang terukur yang tidak dikenal di lapangan, maka harus
diidentifikasi dilaboratorium. Untuk hal ini harus diambil contoh herbarium.
Di ukur faktor abiotik masing-masing plot

Dihitung variabel: dominansi relatif, frekuensi relatif, kerapatan relatif, dan


indeks nilai penting.

F. Data Pengamatan

Metode Garis

PLOT
NO SPESIES TOTAL
1 2 3
1 Axonopus compressus 49 cm 66cm 91 cm 206 cm
2 Cyperus rotundus - - 9 cm 9cm
3 Lactula serriola - 10 cm - 10cm

Tabel Analisis

KR DR FR INP
NO SPESIES KM DM FM
(%) (%) (%) (%)
Axonopus
1 0,687 91,6 0,915 91,6 1 60 243,2
compressus
2 Cyperus rotundus 0,033 4 0,04 4 0,333 19,988 27,988
3 Lactula serriola 0,033 4,4 0,044 4 0.333 19,988 28,788
TOTAL 0,75 0,999 1,666
Faktor Abiotik

Alat Plot 1 Plot 2 Plot 3


Soil Tester pH = 7 pH = 6,9 pH = 7
Kelembapan: 50% Kelembapan: 70% Kelembapan: 50%
Soil Survey Suhu: 29o Suhu: 30o Suhu: 30o
Instrumen pH: 7 pH: 6 pH: 6,5
Lux meter 96 x 100 Lux 85 x 100 Lux 92 x 100 Lux
Termohigrometer Suhu: 32o Suhu: 32o Suhu: 32o
Kelembapan: 68% Kelembapan: 68% Kelembapan: 68%

G. Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami lakukan yaitu pada metode
garis plot pertama yaitu terdapat hanya tanaman Axonopus compressus saja
sepanjang 49 cm. Pada plot kedua yaitu terdapat tanaman Axonopus compressus
sepanjang 66 cm dan Lactula serriola sepanjang 10 cm. sedangkan pada plot ketiga
terdapat tanaman Axonopus compressus sepanjang 91 cm dan Cyperus rotundus
sepanjang 9 cm. Kerapatan terjadi pada metode garis plot 3, karena sepanjang 1
meter, tidak terdapat celah antar tanaman. Total panjang kerapatan tanaman
Axonopus compressus pada tiga plot yaitu 209 cm. Total panjang kerapatan
tanaman Cyperus rotundus hanya 9 cm. sedangkan total panjang kerapatan tanaman
Lactula serriola yaitu 10 cm.
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum analisis vegetasi metode garis
yang telah kami lakukan, kami mendapatkan 3 spesies tanaman dari ketiga plot.
Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi terdapat pada spesies Axonopus compressus
sebesar 243,2%. Sedangkan Indeks Nilai Penting pada spesies Lactula serriola
sebesar 28,788% dan spesies Cyperus rotundus sebesar 27,988%. Faktor abiotik
saat melakukan analisis vegetasi dengan metode garis yaitu pH, suhu, kelembapan
dan intensitas cahaya. Antara plot 1, plot 2 dan plot 3 selisih nilai dari keempat
faktor abiotic tidak begitu jauh.
H. Pembahasan
Pada praktikum analisis vegetasi dengan metode garis ini, didapatkan hasil
pengamatan terdapat tiga spesies tumbuhan (A, B, dan F) yang setelah dilakukan
identifikasi, diketahui bahwa spesies A adalah Axonopus compressus, spesies B
adalah Cyperus sp. , dan spesies F adalah Lactula serriola. Didapatkan bahwa jenis
dan jumlah cacah spesies pada plot B dan C lebih beragam dan banyak
dibandingkan dengan jenis dan jumlah cacah spesies pada plot B. Didapatkan
bahwa lokasi yang diamati yaitu di depan gedung O4 FMIPA UM didominasi oleh
rumput gajah (Axonopus compressus), hal tersebut menunjukkan bahwa rumput
gajah lebih mudah tumbuh di depan gedung O4 FMIPA UM. Hasil pengamatan
sesuai dengan teori bahwa rumput umumnya tumbuh liar serta memiliki kecepatan
tumbuh yang cepat dan daya tahan hidup yang tinggi (Arrijani, 2006).
Pada hasil praktikum, didapatkan bahwa rumput gajah (Axonopus
compressus) merupakan vegetasi yang mendominasi daerah depan gedung O4
FMIPA UM dengan indeks nilai pentingnya 243,2 % yang sangat berbeda jauh
dengan indeks nilai penting Cyperus sp. yang bernilai 27,988% dan juga indeks
nilai penting Lactula serriola yaitu 28,788%. Begitu pula dengan kerapatan,
dominansi, dan nilai frekuensi rumput gajah (Axonopus compressus) jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan kerapatan, dominansi, dan nilai frekuensi Cyperus sp.
dan Lactula serriola. Pada kegiatan praktikum juga didapatkan bahwa plot satu
hanya didapatkan satu jenis tumbuhan yaitu rumput gajah (Axonopus compressus),
plot dua didapatkan tumbuhan Axonopus compressus dan Lactula serriola,
sedangkan plot 3 didapatkan terdapat tumbuhan Axonopus compressus dan Cyperus
sp.. rumput gajah (Axonopus compressus) dan Lactula serriola ditemukan paling
dominan pada plot tiga yang memiliki pH kurang lebih netral, kelembaban sekitar
50%- 68% (tergolong kelembaban tinggi), dan intensitas cahaya yang cukup tinggi.
Hasil pengamatan sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa umumnya
tumbuhan herba dan rumput-rumputan dapat hidup optimal pada tempat dengan
intensitas cahaya dan sumber air yang cukup dan pH kurang lebih 7 (Sri dan
Istomo, 1995). Sedangkan Cyperus sp. ditemukan dominan terdapat pada plot dua
yang memiliki kelembaban tinggi, pH sekitar 6, dan intensitas cahaya yang cukup
yaitu 85x 100 lux. Hasil pengamatan sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
pada umumnya tumbuhan teki (Cyperus sp.) tumbuh secara optimal pada tempat
yang terdapaat air yang cukup dan intensitas cahaya yang cukup tinggi untuk
melakukan proses fotosintesisnya, selain itu teki umumnya tumbuh optimal pada
pH tanah normal yang berkisar antara 6-8 (Welles, dkk, 1996).

I. Kesimpulan

Berdasarkan Praktikum yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan


sebagai berikut :

1. Frekuensi Axonopus compressus adalah 60%, kerapatannya 91,6 %, dan


dominansinya adalah 91,6%. Frekuensi Cyperus sp. adalah 19,988%, kerapatannya
4%, dan dominansinya adalah 0,04%. Sedangkan frekuensi Lactula serriola adalah
19,988%, dominansinya 4,4 %, dan kerapatannya adalah 4,4%.
2. Pada hasil praktikum, didapatkan bahwa rumput gajah (Axonopus compressus)
merupakan vegetasi yang mendominasi daerah depan gedung O4 FMIPA UM
dengan indeks nilai pentingnya 243,2 % yang sangat berbeda jauh dengan indeks
nilai penting Cyperus sp. yang bernilai 27,988% dan juga indeks nilai penting
Lactula serriola yaitu 28,788%.
3. Pengaruh faktor abiotik pada kerapatan, dominansi, dan frekuensi suatu vegetasi
sangat berpengaruh. Pada umumnya, pH kurang lebih netral (+- 7), kelembaban
tinggi, dan intensitas cahaya tinggi, serta suhu kurang lebih 30 ℃ cukup optimal
untuk pertumbuhan kelompok tumbuhan herba seperti yang ditemukan pada
praktikum ini, yaitu Axonopus compressus, Cyperus sp. , dan Lactula serriola. Pada
umumnya kelembaban tinggi dan intensitas cahaya yang tinggi akan sangan optimal
bagi proses fotosintesis tumbuhan tersebut.
Daftar Rujukan

Arrijani, dkk. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. Biodiversitas. Volume 7, Nomor 2, Hal 147-153.
Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM.
Marsono, D. 1977. Deskripsi Vegetasi dan Tipe-Tipe Vegetasi Tropika. Fakultas
Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Mc Noughton, S. J. dan Wolf, L. L. 1990. Ekologi Umum. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Odum, E. 1993. Fundamentals Of Ecology. W.B.Saunder Company Philadelphia. London,
Toronto.
Rahmadani, F. Dan Sumberartha, I. W. 2012. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.
JICA, Malang.
Soerianegara, I. dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Sri dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Fahutan IPB, Bogor.
Syafei, E. S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB. Bandung.
Welles et al, J. E. dan Clements, F. E. 1996. Plant Ecology. McGraw-Hill Book Company,
inc, London.
LAMPIRAN