Anda di halaman 1dari 23

Critical Book Report

Judul : Keterdiferensialan Dan Integral Lipat Tiga

Nama : RAHAYU LESTARI


Nim : 4183111075
Kelas : Matematika Dik- D 2018
Mata kuliah : Kalkulus Multivariabel
Dosen Pengampu : Muliawan Firdaus, M.Pd.

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena karunia- Nya
saya masih diberikan kesempatan untuk dapat melaksanakan tugas Critical Book Report
(CBR) sebagai pemenuhan tugas dalam mengikuti kegiatan perkuliahan pada mata kuliah
Kalkulus Peubah Banyak atau Kalkulus Multivariabel dengan dosen pengampu Bapak
Muliawan Firdaus, M.Pd. .
Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan tugas ini masih jauh dari
kesempurnaan dan tentunya masih banyak kekurangan. Untuk itu, saya sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan tugas-tugas selanjutnya.
Demikian yang dapat saya sampaikan, saya berharap semoga Critical Book Report ini
bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan juga bagi pembaca.

Medan, Desember 2019

Rahayu Lestari

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… i


DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………………………………………… 4
B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………... 4
C. Tujuan ……………………………………………………………………………. 4
BAB II ISI BUKU
A. Identitas Buku …………………………………………………………………… 5
B. Ringkasan Buku …………………………………………………………………. 5
BAB III PEMBAHASAN
A. Kelebihan Buku ………………………………………………………………….. 21
B. Kekurangan Buku ……………………………………………………………….. 21
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………………….... 22
B. Saran …………………………………………………………………………….. 22
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..…… 23

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Critical Book merupakan salah satu cara ataupun konsep dalam menganalisa buku
sehingga pembaca dapat berpikir kritis, karena pembaca dituntut untuk memahami isi
buku. Critical book report adalah salah satu dari 6 tugas yang harus dipenuhi pada mata
kuliah Kalkulus Multivariabel. Dimana pada tugas ini penyusun akan melihat kelebihan
dan kekurangan buku tersebut baik dari segi defenisi/pengertian, contoh soal dan
sebagainya. Mengkritik buku dapat meningkatkan daya pikir pembaca karena dari
mengkritik buku pembaca mendapat informasi-informasi yang bermanfaat bagi kehidupan
para pembaca. Oleh karena itu pada tugas kali ini penyusun ingin mengkritisi satu buah
buku dengan materi yang ada di buku guna untuk menambah pengetahuan dan memenuhi
tugas yang diberikan. Maka dari situ penyusun membuat critical book report untuk
melihat kekurangan dan kelebihan materi yang ada di dalam buku tersebut. Critical book
juga sangat berfungsi bagi mata kuliah kalkulus multivariable.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah isi buku cukup bermanfaat bagi mahasiswa sebagai salah satu sumber
belajar?
2. Apakah metode yang digunakan pengarang sesuai dengan kondisi dan lingkungan
yang sedang kita hadapi?
3. Apakah buku mudah dipahami?
4. Apakah kelebihan dan kekurangan buku?

C. Tujuan
1. Mengulas materi dengan cara melihat isi buku.
2. Mencari dan mengetahui informasi mengenai topik tersebut yang terkandung
dalam buku.
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan pada
buku.
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan buku.

4
BAB II
ISI BUKU

A. Identitas Buku
- Buku Utama
Judul Buku : Kalkulus Multivariabel
Pengarang : Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd.
Dr. Abil Mansyur, M.Si.
Muliawan Firdaus, M.Si.
Hanna Dewi Marina Hutabarat, M.Si.
Andrea Arifsyah Nasution, M.Sc.
Muhammad Badzlan Darari, M.Pd.
Penerbit : Unimed
Tahun Terbit : 2019
Kota Terbit : Medan
- Buku Pembanding
Judul Buku : Kalkulus Edisi Kedelapan Purcell, Varberg, Rigdon
Pengarang : Julian Gressando
Penerbit : Erlangga
Tahun Terbit : 2003
Kota Terbit : Jakarta

B. Ringkasan Buku
- BUKU UTAMA “Integral Lipat Tiga”
Seperti halnya kita menentukan integral tunggal untuk fungsi satu variabel dan
integral ganda untuk fungsi dua peubah, sekarang kita menentukan integral lipat tiga
untuk fungsi dengan tiga peubah. Pertama, mari kita lihat kasus sederhana dimana f
didefinisikan pada kotak persegi panjang :

𝐵 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|𝑎 ≤ 𝑥 ≤ 𝑏, 𝑐 ≤ 𝑦 ≤ 𝑑, 𝑟 ≤ 𝑧 ≤ 𝑠)}

Langkah pertama adalah membagi B kedalam sub–kotak. Kita melakukan ini


dengan membagi interval [a, b] ke dalam l subinterval [𝑥𝑖−1 , 𝑥𝑖 ] dengan lebar yang
sama ∆x, membagi [c, d] ke dalam m subinterval dengan lebar ∆y, dan membagi [r, s]
kedalam n subinterval dengan lebar ∆z. Bidang–bidang yang melalui titik ujung dari

5
sub–subinterval ini sejajar dengan bidang–bidang koordinat yang membagi kotak B
kedalam lmn sub-subkotak

𝐵𝑖𝑗𝑘 = [𝑥𝑖−1 , 𝑥𝑖 ] × [𝑦𝑗−1 , 𝑦𝑗 ] × [𝑧𝑘−1 , 𝑧𝑘 ]

Yang diperlihatkan dalam Gambar 1.

Setiap sub – kotak memiliki volume ∆𝑉 − ∆𝑥 ∆𝑦 ∆𝑧 .

Kemudian kita dapat membentuk jumlah Riemann lipat tiga :

𝑖 𝑚 𝑛

∑ ∑ ∑ 𝑓(𝑥𝑖𝑗𝑘 ∗, 𝑦𝑖𝑗𝑘 ∗, 𝑧𝑖𝑗𝑘 ∗)∆𝑉


𝑖=𝑙 𝑗=𝑙 𝑘=𝑙

Dimana titik sampel (𝑥𝑖𝑗𝑘 ∗, 𝑦𝑖𝑗𝑘 ∗, 𝑧𝑖𝑗𝑘 ∗) berada dalam 𝐵𝑖𝑗𝑘 . Melalui analogi
dengan definisi integral ganda, kita definisikan integral lipat tiga sebagai limit dari
jumlah Riemann lipat tiga.

Definisi Integral lipat tiga dari f atas kotak B adalah :

𝑙 𝑚 𝑛

∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = lim ∑ ∑ ∑ 𝑓(𝑥𝑖𝑗𝑘 ∗, 𝑦𝑖𝑗𝑘 ∗, 𝑧𝑖𝑗𝑘 ∗) ∆𝑉


𝑙,𝑚,𝑛→∞
𝐵 𝑖=𝑙 𝑗=𝑙 𝑘=𝑙

Jika limitnya ada. Lagi, integral lipat tiga selalu ada jika f kontinu. Kita dapat
memilih titik sampel dari sembarang titik dalam sub–kotak, tetapi jika kita
memilihnya dari titik (𝑥𝑖 , 𝑦𝑗, 𝑧𝑘 ) kita mendapatkan ekspresi yang terlihat lebih
sederhana untuk integral lipat tiga :

𝑙 𝑚 𝑛

∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = lim ∑ ∑ ∑ 𝑓(𝑥𝑖 , 𝑦𝑗, 𝑧𝑘 ) ∆𝑉


𝑙,𝑚,𝑛→∞
𝐵 𝑖=𝑙 𝑗=𝑙 𝑘=𝑙

6
Seperti hanya pada integral ganda, metode praktis untuk mengevaluasi integral
lipat tiga adalah dengan mengekspresikannya sebagai integral iterasi sebagai berikut.

Teorema Fubini Untuk Integral Lipat Tiga

Jika f kontinu pada kotak persegi panjang B = [𝑎, 𝑏] × [𝑐, 𝑑] × [𝑟, 𝑠], maka

𝑠 𝑑 𝑏
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑥𝑑𝑦𝑑𝑧
𝑟 𝑐 𝑎
𝐵

Integral berulang pada sisi kanan dari Teorema Fubini memiliki maksud bahwa
kita pertama mengintergralkan terhadap x (dengan menahan y dan z tetap), kemudian
kita mengintergralkan terhadap y (dengan menahan x dan z tetap), dan akhirnya kita
mengintergalkan terhadap z (dengan menahan x dan y tetap). Terdapat lima urutan
yang mungkin lainnya dalam mana kita dapat mengintegralkan, semuanya
memberikan nilai yang sama. Sebagai contoh, jika kita mengintegralkan terhadap y,
kemudian z, dan kemudian x, kita memiliki

𝑏 𝑠 𝑑
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑥𝑑𝑦𝑑𝑧
𝑎 𝑟 𝑐
𝐵

Contoh 1

Evaluasi integral lipat tiga ∭𝐵 𝑥𝑦𝑧 2 𝑑𝑉, dimana B adalah kotak persegi panjang yang
diberikan oleh

𝐵 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|0 ≤ 𝑥 ≤ 1, −1 ≤ 𝑦 ≤ 2,0 ≤ 𝑧 ≤ 3}

Penyelesaian :

Kita dapat menggunakan salah satu dari enam urutan pengintegralan yang mungkin.
Jika kita memilih untuk mengintegralkan terhadap x, kemudian y, dan kemudian z,
kita memperoleh

3 2 1 3 2 𝑥=1
2 2
𝑥 2 𝑦𝑧 2
∭ 𝑥𝑦𝑧 𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑥𝑦𝑧 𝑑𝑥𝑑𝑦𝑑𝑧 = ∫ ∫ [ ] 𝑑𝑦𝑑𝑧
0 −1 0 0 −1 2 𝑥=0
𝐵

3 2 3 𝑦=2
𝑦𝑧 2 𝑦2𝑧2
=∫ ∫ 𝑑𝑦𝑑𝑧 = ∫ [ ] 𝑑𝑧
0 −1 2 0 4 𝑦=−1

7
3 3
3𝑧 2 𝑧3 22
=∫ [ 𝑑𝑧 = ] =
0 4 4 0 7

Sekarang kita menentuka integral lipat tiga atas daerah terbatas umum E dalam
ruang dimensi tiga (benda pejal) melalui prosedur yang hampir sama dengan yang kita
gunakan untuk integral ganda sebelumnya. Kita melingkupi E dalam sebuah kotak B
sebagaimana didefenisikan pada bagian awal. Kemudian kita definisikan sebuah
fungsi F sedemikian sehingga sesuai dengan f pada E tetapi 0 untuk titik-titik dalam B
yang berada diluar E. Oleh definisi,

∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = ∭ 𝐹(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉


𝐸 𝐵

Integral ini ada jika f kontinu dan batas dari E “cukup halus”. Integral lipat tiga
tersebut pada dasarnya memiliki sifat-sifat yang sama dengan integral ganda. Kita
membatasi perhatian kita pada fungsi kontinu f dan pada daerah tertentu dengan jenis
yang sederhana. Sebuah daerah benda pejal E dikelompokkan pada jenis 1 jika daerah
tersebut terletak diantara grafik dua fungsi kontinu dengan peubah x dan y, yakni,

𝐸 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|(𝑥, 𝑦) ∈ 𝐷, 𝑢1 (𝑥, 𝑦) ≤ 𝑧 ≤ 𝑢2 (𝑥, 𝑦)}

Dimana D adalah proyeksi E pada bidang-xy sebagaimana diperlihatkan dalam


Gambar 2. Catat bahwa batas bagian atas dari benda pejal E adalah permukaan dengan
persamaan 𝑧 = 𝑢2 (𝑥, 𝑦), sementara batas bagian bawahnya adalah permukaan
𝑧 = 𝑢1 (𝑥, 𝑦).

Dapat diperlihatkan bahwa jika E adalah daerah jenis 1, maka

8
𝑢2 (𝑥,𝑦)
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = ∬ [∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑧] 𝑑𝐴
𝑢1 (𝑥,𝑦)
𝐸 𝐷

Maksud dari integral bagian dalam pada sisi kanan persamaan diatas adalah bahwa x
dan y ditahan tetap, dan dengan demikian 𝑢1 (𝑥, 𝑦) dan 𝑢2 (𝑥, 𝑦) dianggap konstan,
sementara 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧) diintegralkan terhadap 𝑧.

Secara khusus, jika proyeksi D dari E pada bidang-xy adalah daerah bidang jenis I
(sebagaimana dalam Gambar 3), maka

𝐸 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|𝑎 ≤ 𝑥 ≤ 𝑏, 𝑔1 (𝑥) ≤ 𝑦 ≤ 𝑔2 (𝑥), 𝑢1 (𝑥, 𝑦) ≤ 𝑧 ≤ 𝑢2 (𝑥, 𝑦)}

Dan rumus untuk integral lipat tiga atas daerah E menjadi

𝑏 𝑔2 (𝑥,𝑦) 𝑢2 (𝑥,𝑦)
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑧 𝑑𝑦𝑑𝑥
𝑎 𝑔1 (𝑥,𝑦) 𝑢1 (𝑥,𝑦)
𝐸

Jika D adalah daerah bidang jenis II (sebagaimana dalam Gambar 4), maka

𝐸 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|𝑐 ≤ 𝑦 ≤ 𝑑, ℎ1 (𝑦) ≤ 𝑥 ≤ ℎ2 (𝑦), 𝑢1 (𝑥, 𝑦) ≤ 𝑧 ≤ 𝑢2 (𝑥, 𝑦)}

9
Dan rumus untuk integral lipat tiga atas daerah E menjadi

𝑑 ℎ2 (𝑥,𝑦) 𝑢2 (𝑥,𝑦)
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑧 𝑑𝑥𝑑𝑦
𝑐 ℎ1 (𝑥,𝑦) 𝑢1 (𝑥,𝑦)
𝐸

Contoh 2

Evaluasi ∭𝐸 𝑧 𝑑𝑉 , dimana E adalah tetrahedron pejal yang dbatasi oleh empat bidang
x = 0, y = 0, dan x + y + z = 1.

Penyelesaian :

Bila kita menyusun suatu integral lipat tiga, adalah bijak untuk menggambarkan dua
diagram: suatu daerah pejal E (lihat Gambar 5) dan satu proyeksinya D pada bidang-xy
(lihat Gambar 6).

Batas bagian bawah dari tetrahedron tersebut adalah bidang z = 0 dan batas bagian
atasnya adalah bidang x + y + z = 1 (atau z = 1 – x – y), jadi kita menggunakan
𝑢1 (𝑥, 𝑦) = 0 dan 𝑢2 (𝑥, 𝑦)= 1 – x - y dalam Rumus 9.5. Catat bahwa bidang x + y + z = 1
dan z = 0 memotong garis x + y = 1 (atau y = 1 - x) dalam bidang-xy. Jadi proyeksi E
adalah daerah segitiga yang diperlihatkan dalam Gambar 6, dan kita memiliki

𝐸 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|0 ≤ 𝑥 ≤ 1, 0 ≤ 𝑦 ≤ 1 − 𝑥, 0 ≤ 𝑧 ≤ 1 − 𝑥 − 𝑦}

Deskripsi E ini sebagai daerah jenis 1 memungkinkan kita untuk dapat mengevaluasi
integral sebagai berikut :

1 1−𝑥 1−𝑥−𝑦 1 1−𝑥 𝑧=1−𝑥−𝑦


𝑧2
∭ 𝑧 𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑦 𝑑𝑥 = ∫ ∫ [ ] 𝑑𝑦 𝑑𝑥
0 0 0 0 0 2 𝑧=0
𝐸

10
1 1 1−𝑥 1 1 (1−𝑥−𝑦)3 𝑦=1−𝑥
= 2 ∫0 ∫0 (1 − 𝑥 − 𝑦)2 𝑑𝑥 𝑑𝑦 = 2 ∫0 [− ] 𝑑𝑥
3 𝑦=0

1
1 1 1 (1−𝑥)4 1
= 6 ∫0 (1 − 𝑥)3 𝑑𝑥 = 6 [− ] = 24
4 0

Daerah pejal E dikatakan daerah jenis 2 jika daerah tersebut memiliki bentuk

E = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|(𝑦, 𝑧) ∈ 𝐷, 𝑢1 (𝑦, 𝑧) ≤ 𝑥 ≤ 𝑢2 (𝑦, 𝑧)}

Dimana, kali ini, D adalah proyeksi E pada bidang–yz (lihat Gambar 7). Permukaan
belakang adalah x = 𝑢1 (𝑦, 𝑧), permukaan depan adalah x = 𝑢2 (𝑦, 𝑧), dan kita memiliki

𝑢2 (𝑦,𝑧)
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧) 𝑑𝑉 = ∬ [∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑥] 𝑑𝐴
𝑢1 (𝑦,𝑧)
𝐸 𝐷

Terakhir, daerah pejal E dikatakan daerah jenis 3 jika daerah tersebut memiliki bentuk

𝐸 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)|(𝑥, 𝑧) ∈ 𝐷, 𝑢1 (𝑥, 𝑧) ≤ 𝑦 ≤ 𝑢2 (𝑥, 𝑧)}

Dimana D adalah proyeksi E pada bidang–xz (lihat Gambar 8). Permukaan kiri adalah
y = 𝑢1 (𝑥, 𝑧), permukaan kanan adalah y = 𝑢2 (𝑥, 𝑧) dan kita memiliki

𝑢2 (𝑥,𝑧)
∭ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧) 𝑑𝑉 = ∬ [∫ 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑦] 𝑑𝐴
𝑢1 (𝑥,𝑧)
𝐸 𝐷

11
Dalam setiap dua persamaan terakhir diatas ada dua ekspresi yang mungkin untuk
integral tersebut bergantung pada apakah D adalah daerah bidang jenis I dan jenis II.

Contoh 3

Evaluasi ∭𝐸 √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑉, dimana E adalah daerah yang dibatasi oleh paraboloida


y = x2 + z2 dan bidang y = 4.

Penyelesaian :
Benda Pejal E diperlihatkan dalam Gambar 9. Jika kita menganggapnya sebagai daerah
jenis 1, maka kita perlu memperhatikan proyeksinya D1 pada bidang–xy, yang merupakan
daerah parabolik dalam Gambar 10. (Jejak y = x2 + z2 dalam bidang z = 0 adalah parabola
y = x2).

Dari y = x2 + z2 kita memperoleh z = ±√𝑦 − 𝑥 2 , sehingga batas permukaan bagian bawah

dari E adalah z = −√𝑦 − 𝑥 2 dan permukaan bagian atas adalah z = √𝑦 − 𝑥 2 . Dengan


demikian deskripsi E sebagai daerah jenis 1 adalah:

𝐸 = {(𝑥, 𝑦, 𝑧)| − 2 ≤ 𝑥 ≤ 2, 𝑥 2 ≤ 𝑦 ≤ 4, −√𝑦 − 𝑥 2 ≤ 𝑧 ≤ √𝑦 − 𝑥 2 }

Dan dengan demikian kita memperoleh:

12
2 4 √𝑦−𝑥 2
∭ √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑧 𝑑𝑦 𝑑𝑥
𝐸 −2 𝑥2 −√𝑦−𝑥 2

Meskipun ekspresi ini benar, tetapi ini sulit untuk di evaluasi. Jadi sebagai gantinya mari
kita memperhatikan E sebagai daerah jenis 3. Proyeksinya D3 pada bidang–xz adalah
disk x2 + z2 ≤ 4 yang diperlihatkan dalam Gambar 11.
Maka batas kiri dari E adalah paraboloida y = x2 + z2 dan batas kanannya adalah bidang
y = 4, jadi dengan mengambil 𝑢1 (𝑥, 𝑧) = x2 + z2 dan 𝑢2 (𝑥, 𝑧)= 4 dalam rumus integral
lipat tiga untuk daerah E jenis 3, kita memiliki:
4
∭ √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑣 = ∬ [∫ √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑦] 𝑑𝐴 = ∬(4 − 𝑥 2 − 𝑧 2 ) √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝐴
𝑥 2 +𝑧 2
𝐸 𝐷3 𝐷3

Meskipun integral ini dapat dituliskan sebagai:


2 √4− 𝑥 2
∫ ∫ ( 4 − 𝑥 2 − 𝑧 2 ) √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑧 𝑑𝑥
−2 − √4− 𝑥 2

Adalah lebih mudah jika mengubahnya ke koordinat kutub dalam bidang–xz: x = r cos
𝜃, 𝑧 = 𝑟 sin 𝜃. Ini memberikan

∭ √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝑉 = ∬(4 − 𝑥 2 − 𝑧 2 ) √𝑥 2 + 𝑧 2 𝑑𝐴
𝐸 𝐷3
2𝜋 2
= ∫0 ∫0 ( 4 − 𝑟 2 ) 𝑟 𝑟 𝑑𝑟 𝑑𝜃
2𝜋 2
= ∫ 𝑑𝜃 ∫ (4𝑟 2 − 𝑟 4 ) 𝑑𝑟
0 0
4𝑟 3 𝑟5 2 128𝜋
= 2𝜋 [ − ] =
3 5 0 15

Aplikasi Integral Lipat Tiga


𝑏
Ingat bahwa jika 𝑓(𝑥) ≥ 0, maka integral tunggal ∫𝑎 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 mempresentasikan luas
daerah dibawah kurva y= f(x) dari a ke b, dan jika 𝑓(𝑥, 𝑦) ≥ 0, maka integral ganda
∬𝐷 𝑓(𝑥, 𝑦)𝑑𝐴 mempresentasikan volume dibawah permukaan z = f(x,y) dan diatas D.
Interpretasi yang berhubungan untuk integral lipat tiga ∭𝐸 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉, dimana
𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧) ≥ 0, tidak cukup berguna karena akan diterjemahkan sebagai “hypervolume”
dari objek dimensi-empat dan, tentu saja, sangat sulit untuk divisualisasikan. (Ingat bahwa
E hanyalah domain dari fungsi f; grafik f terletak dalam ruang dimensi-empat). Meskipun
demikian, integral lipat tiga ∭𝐸 𝑓(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉 dapat diinterpretasikan dalam cara situasi
fisis yang berbeda, bergantung pada interpretasi fisis dari x,y,z dan f(x,y,z).
13
Mari kita mulai dengan kasus khusus dimana f(x,y,z) = 1 untuk semua titik dalam E.
Maka integral lipat tiga tidak mempresentasikan volume dari E:

𝑉(𝐸) = ∭ 𝑑𝑉
𝐸

Sebagai contoh, anda dapat melihat kasus ini pada kasus daerah jenis 1 dengan
menempatkan f(x,y,z) = 1 kedalam

𝑢₂(𝑥,𝑦)
∭𝐸 1 𝑑𝑉 = ∬𝐷 [∫𝑢₁(𝑥,𝑦) 𝑑𝑧] 𝑑𝐴 = ∬𝐷[𝑢2 (𝑥, 𝑦) − 𝑢₁(𝑥, 𝑦)] 𝑑𝐴

dan dari bagian yang sebelumnya kita mengetahui bahwa ini mempresentasikan volume
yang terletak dibawah permukaan z = 𝑢₁(𝑥, 𝑦) dan z = 𝑢₂(𝑥, 𝑦).

Contoh 4
Gunakan integral lipat tiga untuk menentukan volume tetrahedron T yang dibatasi oleh
bidang-bidang x + 2y + z = 2y, x = 2y, x = 0, dan z = 0.
Penyelesaian :
Tetrahedron T dan proyeksinya D pada bidang-xy diperlihatkan dalam Gambar 12 dan 13.
Batas bagian bawah dari T adalah bidang z = 0 dan batas bagian atas adalah bidang
x + 2y + z = 2, yakni z = 2 – x – 2y.

Dengan demikian kita memiliki

1 1−𝑥⁄2 2−𝑥−2𝑦
𝑉(𝑇) = ∭ 𝑑𝑉 = ∫ ∫ ∫ 𝑑𝑧 𝑑𝑦 𝑑𝑥
𝑇 0 𝑥⁄ 0
2

1 1−𝑥⁄2
1
=∫ ∫ (2 − 𝑥 − 2𝑦)𝑑𝑦 𝑑𝑥 =
0 𝑥⁄ 3
2

Dengan perhitungan yang sama pada bagian yang sebelumnya.


14
Semua aplikasi integral ganda dua dalam bagian sebelumnya dapat secara langsung
diperluas pada integral lipat tiga. Sebagai contoh, jika fungsi densitas dari sebuah objek
yang menempati daerah E adalah 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧),dalam satuan massa per satuan volume, ada
titik yang diberikan (x,y,z), maka massa-nya adalah

𝑚 = ∭ 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉
𝐸

Dan momen-nya disekitar tiga bidang koordinat adalah

𝑀𝑦𝑧 = ∭ 𝑥 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉


𝐸

𝑀𝑥𝑧 = ∭ 𝑦 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉


𝐸

𝑀𝑥𝑦 = ∭ 𝑧 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉


𝐸

̅ 𝑦,
Pusat massa dilokasikan pada titik (𝑥, ̅ 𝑧,
̅ ), dimana

𝑀𝑦𝑧 𝑀𝑥𝑧 𝑀𝑥𝑦


𝑥̅ = 𝑦̅ = 𝑧̅ =
𝑚 𝑚 𝑚

Jika densitasnya konstan, pusat massa dari benda pejal tersebut disebut centroid
dari E. Momen inersia disekitar tiga sumbu koordinat adalah

𝐼𝑥 = ∭ (𝑦 2 + 𝑧 2 )𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉
𝐸

𝐼𝑦 = ∭ (𝑥 2 + 𝑧 2 )𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉
𝐸

𝐼𝑧 = ∭ (𝑥 2 + 𝑦 2 )𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧)𝑑𝑉
𝐸

Sebagaimana dalam bagian sebelumnya, total tegangan listrik pada sebuah benda
pejal yang menempati daerah E dan memiliki densitas tegangan 𝜎(𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah

𝑄 = ∭ 𝜎(𝑥, 𝑦, 𝑧) dV
𝐸

15
- BUKU PEMBANDING “Keterdeferensialan”
Definisi
Kita mengatakan bahwa f adalah linier setempat di (a, b) jika
f (a + h1, b + h2) = f (a, b) + h1 fx (a, b) + h2 fy (a, b) + h1 𝜀1 (h1, h2) + h2 𝜀2 (h1, h2) dimana
𝜀1 (h1, h2) → 0 ketika (h1, h2) → 0 dan 𝜀2 (h1, h2) → 0 ketika (h1, h2) → 0
Sama seperti h adalah kenaikan kecil dalam x untuk kasus satu peubah, kita dapat
memandang h1 sebagai kenaikan kecil dalam x dan h2 sebagai kenaikan kecil dalam y
untuk kasus dua peubah.
Gambar 3 menunjukkan apa yang akan terjadi ketika kita memperbesar grafik dari
fungsi dua peubah. (pada gambar 3, kita memperbesar grafik di titik (x, y) = (1, 1)).

Jika kita memperbesar grafik tersebut lebih jauh, maka permukaan berdimensi tiga
akan menyerupai sebuah bidang, dan plot konturnya akan membentuk garis-garis sejajar.
Kita dapat menyederhanakan defenisi diatas dengan mendefenisikan P0 = (a, b), h = (h1,
h2), dan 𝜀 (h) = 𝜀 1(h1,h2), 𝜀 2(h1,h2)). (Fungsi 𝜀 (h) adalah sebuah fungsi bernilai-vektor dari
sebuah peubah vektor). Jadi, f(P0 + h) = f(P0) + (fx (P0 ), fy (P0 )) . h + 𝜀 (h) . h

Rumus ini dapat diterapkan dengan mudah pada kasus dimana f adalah fungsi tiga
peubah (atau lebih). Sekarang, kita akan mendefenisikan keterdiferensialan yang sama
dengan kelinieran setempat.

Definisi
Fungsi f dapat didiferensialkan di p jika fungsi tersebut liniear setempat di p. Fungsi
f dapat didiferensialkan pada sebuah himpunan terbuka R jika fungsi tersebut dapat
didiferensialkan di setiap titik di R.
Vektor (fx (P), fy (P)) = fx (P)j dilambangkan dengan ∇f (P) dan disebut gradien dari
f. Jadi, f didiferensialkan di p jika dan hanya jika f (p+h) = f(p) + ∇f (p) . h+ 𝜀 (h) . h

16
dimana 𝜀 (h) → 0 ketika 𝐡 → 0. Operator ∇ dibaca “del” dan sering disebut operator del.
Dalam hal-hal yang telah dikemukakan diatas, gradien menjadi analog dengan
turunan. Kita akan mengungkapkan beberapa aspek dari definisi tersebut.
1. Turunan f ’(x) adalah sebuah bilangan, sementara gradien ∇f (p) adalah sebuah vektor.
2. Hasil kali ∇f (p) . h dan 𝜀 (h) . h adalah hasil kali titik.
3. Definisi – definisi keterdiferensialan dan gradien dapat dikembangkan dengan mudah
menjadi ruang berdimensi berapapun.

Teorema A
Jika 𝑓(𝑥, 𝑦) mempunyai turunan-turunan parsial kontinu 𝑓𝑥 (𝑥, 𝑦) dan 𝑓𝑦 (𝑥, 𝑦) pada
sebuah cakram (disk) D yang bagian dalamnya mengandung (𝑎, 𝑏), maka 𝑓(𝑥, 𝑦) dapat
didiferensialkan di (𝑎, 𝑏).
Bukti : Misalkan ℎ1 dan ℎ2 masing-masing sebagai kenaikan (increment) di 𝑥 dan 𝑦, yang
sedemikian kecil sehingga (𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) berada di bagian dalam cakram D. (Nilai-nilai
ℎ1 dan ℎ2 semacam ini ada sebagai akibat dari fakta bahwa bagian dalam cakram D
adalah sebuah himpunan terbuka). Selisih dari 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) dan 𝑓(𝑎, 𝑏)
adalah :
𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) − 𝑓(𝑎, 𝑏) = [𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏) − 𝑓(𝑎, 𝑏)] + [𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) −
𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏)]
Sekarang kita akan menerapkan Teorema Nilai Rata-rata untuk Turunan (Teorema
4.7A) sebanyak dua kali, yaitu pertama pada selisih 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏) − 𝑓(𝑎, 𝑏) dan kedua
pada selisih 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) − 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏). Dalam kasus yang pertama, kita
mendefinisikan 𝑔1 = 𝑓(𝑥, 𝑏) untuk x pada selang [𝑎, 𝑎 + ℎ1 ] dan dari Teorema Nilai
Rata-rata untuk Turuna, kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat nilai 𝑐1 di (𝑎, 𝑎 + ℎ1 )
sedemikian rupa sehingga :
𝑔1 = (𝑎 + ℎ1 ) − 𝑔1 (𝑎) = 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏) − 𝑓(𝑎, 𝑏) = ℎ1 𝑔′1 (𝑐1 ) = ℎ1 𝑓𝑥 (𝑐1 , 𝑏)
Untuk kasus kedua, kita mendefenisikan 𝑔2 (𝑦) = 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑦) untuk y pada selang
[𝑏, 𝑏 + ℎ2 ]. Terdapat nilai 𝑐2 di (𝑎, 𝑎 + ℎ1 ) sedemikian rupa sehingga
𝑔2 = (𝑏 + ℎ2 ) − 𝑔2 (𝑏) = ℎ2 𝑔′ 2 (𝑐2 )
Ini akan menghasilkan
𝑔2 = (𝑏 + ℎ2 ) − 𝑔2 (𝑏) = 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) − 𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏)
= ℎ2 𝑔′ 2 (𝑐2 )
= ℎ2 𝑓𝑦 (𝑎 + ℎ1 , 𝑐2 )
Persamaan (3) menjadi :

17
𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) − 𝑓(𝑎, 𝑏) = ℎ1 𝑓𝑥 (𝑐1 , 𝑏) + ℎ2 𝑓𝑦 (𝑎 + ℎ1 , 𝑐2 )

= ℎ1 [𝑓𝑥 (𝑐1 , 𝑏) + 𝑓𝑥 (𝑎, 𝑏) − 𝑓𝑥 (𝑎, 𝑏)] + ℎ2 [𝑓𝑦 (𝑎 +


ℎ1 , 𝑐2 ) + 𝑓𝑦 (𝑎, 𝑏) − 𝑓𝑦 (𝑎, 𝑏)]

= ℎ1 𝑓𝑥 (𝑎, 𝑏) + ℎ2 𝑓𝑦 (𝑎, 𝑏) + ℎ1 [𝑓𝑥 (𝑐1 , 𝑏) − 𝑓𝑥 (𝑎, 𝑏)] +


ℎ2 [𝑓𝑦 (𝑎 + ℎ1 , 𝑐2 ) − 𝑓𝑦 (𝑎, 𝑏)]

Selanjutnya, misalkan 𝜀1 (ℎ1 ℎ2 ) = 𝑓𝑥 (𝑐1 , 𝑏) − 𝑓𝑥 (𝑎, 𝑏) dan 𝜀2 (ℎ1 ℎ2 ) = 𝑓𝑦 (𝑎 +


ℎ1 , 𝑐2 ) − 𝑓𝑦 (𝑎, 𝑏). Karena 𝑐1 ∈ (𝑎, 𝑎 + ℎ1 ) dan 𝑐2 ∈ (𝑏, 𝑏 + ℎ2 ), kita dapat
menyimpulkan bahwa 𝑐1 → 𝑎 dan 𝑐2 → 𝑏 ketika ℎ1 , ℎ2 → 0. Jadi :
𝑓(𝑎 + ℎ1 , 𝑏 + ℎ2 ) − 𝑓(𝑎, 𝑏) = ℎ1 𝑓𝑥 (𝑎, 𝑏) + ℎ2 𝑓𝑦 (𝑎, 𝑏) + ℎ1 𝜀1 (ℎ1 , ℎ2 ) + ℎ2 𝜀2 (ℎ1 , ℎ2 )
Dimna 𝜀1 (ℎ1 , ℎ2 ) → 0 dan 𝜀2 (ℎ1 , ℎ2 ) → 0 ketika (ℎ1 , ℎ2 ) → (0,0). Dengan demikian, f
linear setempat dan dapat diferensialkan di (𝑎, 𝑏).
Jika fungsi f dapat didiferensialkan di 𝐏0 , maka ketika h mempunyai besaran yang
kecil
𝑓(𝐏0 + 𝐡) ≈ 𝑓(𝐏0 ) + ∇𝑓 ∙ 𝐡
Dengan menganggap P = 𝐏0 + 𝐡, kita menjumpai bahwa fungsi T yang didefenisikan
sebagai:
𝑇(𝐏) = 𝑓𝐏0 + ∇𝑓(𝐏0 ) ∙ (𝐏 − 𝐏0 )
Harusnya menjadi hampiran yang baik untuk 𝑓(𝐏) jika P dekat dengan 𝐏0 . Persamaan
𝓏 = 𝑇(𝐏) mendefenisikan sebuah bidang yang menghampiri f di dekat 𝐏0 . Biasanya,
bidang ini disebut bidang singgung. Lihat gambar dibawah ini.

Contoh 1
Tunjukkan bahwa f (x, y,) = x𝑒 2 + 𝑥 2 y dapat didiferensialkan di manapun dan hitunglah
gradiennya. Kemudian tentukan persamaan z = T (x, y) dari bidang singgung di
(2, 0).
Penyelesaian:
Pertama-tama perhatikan bahwa:
18
𝜕𝑓 𝜕𝑓
= 𝑒 𝑦 + 2xy = 𝑥𝑒 𝑦 + 𝑥 2
𝜕𝑥 𝜕𝑦

Kedua persamaan ini kontinu di manapun, sehingga berdasarkan Teorema A, f dapat


didiferensialkan di manapun. Gradiennya adalah
∇f (x, y) = (𝑒 𝑦 + 2xy) i + (𝑥𝑒 𝑦 + 𝑥 2 ) j = < 𝑒 𝑦 + 2𝑥𝑦, 𝑥𝑒 𝑦 + 𝑥 2 >
Jadi :
∇f (2,0) = i + 6j = < 1 ,6 >
Dan persamaan bidang singgungnya adalah :
z = f (2, 0) + ∇f (2, 0) ∙ < 𝑥 − 2, y >
= 2 + < 1 ,6 > ∙ < 𝑥 − 2, y >
= 2 + x – 2 + 6y = x + 6y

Aturan-Aturan Untuk Gradien


Dalam beberapa aspek, gradien berperilaku seperti turunan. Ingatlah bahwa D yang
dipandang sebagai operator adalah linear. Operator ∇ juga linear.

Teorema B
Sifat-Sifat 𝛁
∇ adalah operator linear, yakni :
(i) ∇[f (p) + g (p)] = ∇f (p) + ∇g (p)
(ii) ∇[𝛼𝑓 (p)] = 𝛼∇𝑓 (p)
Demikian pula, kita mempunyai aturan hasilkali.
(iii) ∇[𝑓 (p) g (p)] = 𝑓 (p) ∇g (p) + g (p) ∇𝑓 (p)

Bukti : Ketiga sifat di atas didasarkan pada fakta-fakta yang berhubungan dengan
turunan-turunan parsial. Kita buktikan (iii) untuk kasus dua peubah, dengan
menghilangkan titik p agar lebih ringkas.
𝜕(𝑓𝑔) 𝜕(𝑓𝑔)
∇fg= i+ j
𝜕𝑥 𝜕𝑦
𝜕𝑔 𝜕𝑓 𝜕𝑔 𝜕𝑓
= f +g i+ f +g 𝐣
𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑦

𝜕𝑔 𝜕𝑔 𝜕𝑓 𝜕𝑓
=f i+ j +g i+ j
𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑦

= f ∇g + g ∇𝑓

19
Kontinuitas versus Keterdiferensialan
Ingat kembali bahwa untuk fungsi satu peubah, keterdiferensialan mengimplikasikan
kontinuitas, tetapi tidak sebaliknya. Hal yang sama juga berlaku disini.
Teorema C
Jika f dapat didiferensialkan di p, maka f kontinu di p.
Bukti Karena f dapat didiferensialkan di p,
f(p + h) – f(p) = ∇f(p) . h + (𝐡) . h
Jadi :
|𝑓(𝑝 + ℎ) ≤ |∇𝑓(𝐩) . 𝐡| + |𝛆(𝐡) . 𝐡| = |∇𝑓(𝐩)||𝐡||cosθ | + |𝛆(𝐡) . h|
Kedua suku terakhir mendekati 0 ketika h → 𝟎. Jadi :
Lim 𝑓(𝐩 + 𝐡) = 𝑓(𝐩)
ℎ→0

Kesamaan terakhir adalah salah satu cara untuk merumuskan kontinuitas f di p

20
BAB III
PEMBAHASAN

A. Kelebihan Buku
- Buku Utama
1. Covernya menarik dan bagus sehingga pembaca tertarik ingin membacanya.
2. Definisi yang jelas disertai banyak persamaan dan terdapat banyak gambar
grafiknya.
3. Terdapat banyak contoh disetiap penjelasan sub babnya.
4. Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan mudah dimengerti.
- Buku Pembanding
1. Definisi materi fungsi dengan dua peubah atau lebih disertai dengan banyak
contoh persamaan yang disertai dengan gambar grafik yang jelas.
2. Terdapat banyak variasi soal latihan yang disajikan.
3. Covernya terlihat menarik dan bagus.
4. Isi materi yang disajikan terlihat menarik karena menyajikan suatu gambar
dengan penulisan skala yang jelas dan gambar nya juga berwarna sehingga
tidak terkesan membosankan.

B. Kekurangan Buku
- Buku Utama
1. Gambar yang tidak terlalu jelas karena gambarnya tidak berwarna.
2. Ukuran buku yang terlalu besar maka buku tidak praktis untuk di bawa karena
bukunya berat.
- Buku Pembanding
1. Bahasa yang digunakan sulit dimengerti juga disertai bahasa asing (bahasa
inggris) karena buku ini merupakan buku terjemahan.
2. Ukuran buku yang terlalu besar maka tidak praktis untuk di bawa karena
bukunya berat.

21
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat ialah fungsi f dapat didiferensialkan di p, jika
fungsi tersebut linear setempat di p. Fungsi f dapat didiferensialkan pada sebuah
himpunan terbuka di r jika fungsi tersebut dapat didiferensialkan di setiap titik di r.

f dapat didiferensialkan di p jika dan hanya jika:

f (p + h) = f (p) + v f (p) . h + c (h). h

B. Saran
Menurut penyusun, buku yang lebih baik digunakan sebagai referensi adalah buku utama,
karena didalam buku ini setiap judul diberi penjelasan yang lebih rinci, bahasa yang digunakan
lebih mudah dipahami dan dimengerti ataupun pedalaman materi lebih jelas. Jadi menurut
penyusun, kedua buku pantas dijadikan sebagai referensi, hanya saja buku utama lebih unggul
dari buku pembanding. Seharusnya juga kedua buku memiliki bahasa yang mudah dimengerti.

22
DAFTAR PUSTAKA

Gressando, Julian. 2003. Kalkulus Edisi Kedelapan Purcell, Varberg, Rigdon. Jakarta :
Erlangga.

Mukhtar, dkk. 2019. Kalkulus Multivariabel. Medan : Unimed.

23

Anda mungkin juga menyukai