Anda di halaman 1dari 8

OBAT BAHAN ALAM INDONESIA

BESERTA KEAMANANNYA

Oleh: Oktafian VF Kawulusan (Apoteker)

Bahan Alam Sumber Kekayaan Indonesia


Sumber daya alam Indonesia yang melimpah perlu digali, dikembangkan,
dilestarikan secara berkelanjutan, serta dimanfaatkan demi kemajuan dan
kesejahteraan bangsa. Sumber daya alam Indonesia yang berlimpah ini merupakan
sumber bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, misalnya
bidang farmasi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan kosmetik.
Bahan alam adalah bahan yang berasal dari organisme, baik yang masih
dalam keadaan hidup maupun yang sudah tidak hidup lagi, yang dalam keadaan
dipelihara (budidaya) atau yang dibiarkan tanpa pemeliharaan secara khusus
(hidup/tumbuh liar). Atau dengan perkataan lain, bahan alam adalah tumbuhan
dan hewan yang masih hidup atau yang sudah tidak hidup, juga berbagai macam
mineral dan bahan tambang yang merupakan fosil organik dan anorganik.
Bahan alam merupakan sumber bahan kimia yang berasal dari produk
metabolisme dan disebut metabolit, yang terdiri atas senyawa kimia dan dari
semua golongan senyawa kimia. Metabolit atau hasil/produk metabolisme terdiri
dari metabolit primer maupun metabolit sekunder. Karena berasal dari
produk/hasil metabolisme, maka semua bahan alam memiliki aktivitas fisiologi
selama masih berada di dalam organisme hidup, bahkan setelah tidak lagi berada
di dalamnya.
Berdasarkan lingkungan hidupnya, bahan alam terdapat di daratan maupun
di lautan. Dan karena memiliki perbedaan yang mendasar, maka perlu dibedakan
antara bahan alam daratan dan bahan alam lautan.
Dengan meningkatnya jenis dan tipe senyawa yang ditemukan di dalam
berbagai bahan alam, berkembang juga system klasifikasi senyawa yang
digunakan untuk membahasnya, yaitu:
1. Klasifikasi berdasarkan struktur kimia;
2. Klasifikasi berdasarkan aktivitas fisiologi;
3. Klasifikasi berdasarkan taksonomi;
4. Klasifikasi berdasarkan biogenesis.
Bahan alam merupakan bahan kajian yang sangat rumit dan memerlukan
pengkajian komprehensif yang bersifat antardisiplin dari:
1. Bidang biologi (anatomi, morfologi, fisiologi, dan budidaya);
2. Bidang farmasi (farmakognosi, fitokimia, farmakologi, toksikologi, kimia
farmasi dan formulasi);
3. Bidang kimia (organic, analisis kimia, sintesis).
Perhatian terhadap penelitian bahan alam dewasa ini juga sudah sangat
luas, baik dalam bidang maupun kedalaman penelitian. Sedangkan disiplin ilmu
yang terlibat tidak lagi hanya farmasi dan kimia, melainkan juga kedokteran,
farmakologi, botani, ekologi, dan sebagainya.
Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia
Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia disebut juga Obat Asli Indonesia.
Menurut Keputusan Kepala BPOM RI No. HK.00.05.4.2411 tahun 2004 tentang
Ketentuan Pokok Pengelompokan & Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia,
Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia adalah obat bahan alam yang diproduksi di
Indonesia. Artinya diproduksi di Indonesia adalah bahwa bahan bakunya di ambil
dari tumbuhan berkhasiat obat yang ada di Indonesia & diolah (langsung) di
Indonesia, sehingga dapat digunakan dalam usaha pengobatan baik bersifat
tradisional maupun modern oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Kemajuan IPTEK yang pesat telah mendorong perkembangan Obat Bahan
Alam (OBA), meliputi:
1. peningkatan mutu,
2. keamanan,
3. penemuan indikasi baru &
4. formulasi.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenal bentuk perkembangan Obat Bahan
Alam (OBA).
Menurut Hargono (1986) dalam Donatus & Nurlaila (1986), dalam
perkembangannya, Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia atau Obat Asli Indonesia,
dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Kelompok Obat Tradisional atau Jamu.
Kelompok obat tradisional atau jamu adalah obat dari bahan alam yang
khasiatnya masih sepenuhnya didasarkan kepada pengalaman dan bahan
bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang umumnya belum
memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan.
2. Kelompok Fitoterapi.
Kelompok fitoterapi adalah obat bahan alam, terutama dari bahan nabati,
yang khasiatnya sudah jelas melalui suatu uji kemanfaatan & bahan
bakunya terdiri dari simplisia atau sedian galenik yang telah memenuhi
persyaratan minimal yang ditetapkan, sehingga terjamin keseragaman
komponen aktif, keamanan & kegunaannya. Kelompok fitoterapi terdiri
atas 2 jenis, yaitu:
a. Obat Herbal Terstandar
b. Fitofarmaka
Sedangkan,menurut Keputusan Kepala BPOM RI No. HK.00.05.4.2411 tahun
2004 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan & Penandaan Obat Bahan Alam
Indonesia, Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia dibagi berdasarkan cara
pembuatan serta jenis klaim penggunaan & tingkat pembuktian khasiat, yaitu:
1. Obat Tradisional atau Jamu
2. Obat Herbal Terstandar
3. Fitofarmaka
Perkembangan Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia tentunya ditujukan
untuk lebih mendayagunakan & menghasilgunakan Obat Bahan Alam agar
memiliki manfaat klinik yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat & Makanan Republik Indonesia
telah mengembangkan kerangka tahap pengujian Obat Bahan Alam (OBA)
Indonesia (Uji Kemanfaatan), yang meliputi:
1. Tahap pemilihan.
2. Tahap uji penyaringan biologik (efek farmakologi & toksisitas akut).
3. Tahap penelitian farmakodinamik.
4. Tahap uji toksisitas lanjut (uji toksisitas sub-akut, kronik & berbagai uji
toksisitas khusus).
5. Tahap pengembangan sediaan & standarisasi.
6. Tahap pengujian klinik pada manusia.
Jika Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia yang beredar di pasaran telah mengalami
berbagai tahap Uji Kemanfaatan tersebut, tentunya persyaratan keamanan,
kemanjuran & akseptabilitasnya ketika dipergunakan oleh penderita akan terjamin
& dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Pengelompokan dan Deskripsi Obat Bahan Alam Indonesia


1. Obat Tradisional (Jamu)
a. Jamu harus memenuhi kriteria:
1) Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
2) Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris.
3) Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
b. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan jenis pembuktian tradisional &
tingkat pembuktiannya yaitu tingkat pembuktian umum & medium.
c. Jenis klaim penggunaan harus diawali dengan kata-kata: “Secara
tradisional digunakan untuk ... “, atau sesuai dengan yang disetujui pada
pendaftaran.
d. Kelompok jamu untuk pendaftaran baru harus mencantumkan logo &
tulisan “JAMU”. Tulisan “JAMU”, harus jelas & mudah dibaca, dicetak
dengan warna hitam di atas dasar warna putih atau warna lain yang
menyolok kontrans dengan tulisan “JAMU”.
e. Logo kelompok jamu berupa “RANTING DAUN TERLETAK DALAM
LINGKARAN”, dan ditempatkan pada bagian atas sebelah kiri dari
wadah/pembungkus/brosur.
f. Logo tersebut harus dicetak dengan warna hijau di atas dasar warna putih
atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo.
g. Produk obat bahan alam kelompok jamu yang telah memperoleh izin edar
sebelum keputusan ini ditetapkan, masih diperbolehkan menggunakan
penandaan dengan logo yang lama.
2. Obat Herbal Terstandar
a. Obat herbal terstandar harus memenuhi kriteria:
1) Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
2) Klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/pra-klinik.
3) Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan
dalam produk jadi.
4) Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
b. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian, yaitu tingkat
pembuktian umum & medium.
c. Obat herbal terstandar harus mencantumkan logo & tulisan “OBAT
HERBAL TERSTANDAR”.
d. Tulisan “OBAT HERBAL TERSTANDAR” harus jelas & mudah dibaca,
dicetak dengan warna hitam diatas dasar warna putih atau warna lain yang
menyolok kontras dengan tulisan “OBAT HERBAL TERSTANDAR”.
e. Logo kelompok obat herbal terstandar berupa “JARI-JARI DAUN 3
PASANG TERLETAK DALAM LINGKARAN”, dan ditempatkan pada
bagian atas sebelah kiri dari wadah/pembungkus/brosur.
f. Logo tersebut dicetak dengan warna hijau di atas dasar warna putih atau
warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo.
3. Fitofarmaka
a. Fitofarmaka harus memenuhi kriteria:
1) Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
2) Klaim khasiat harus dibuktikan berdasarkan uji klinik.
3) Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan
dalam produk jadi.
4) Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
b. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian medium &
tinggi.
c. Kelompok fitofarmaka harus mencantumkan logo & tulisan
“FITOFARMAKA”.
d. Tulisan “FITOFARMAKA” harus jelas & mudah dibaca, dicetak dengan
warna hitam di atas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok
kontras dengan tulisan “FITOFARMAKA”.
e. Logo kelompok fitofarmaka berupa “JARI-JARI DAUN YANG
KEMUDIAN MEMBENTUK BINTANG TERLETAK DALAM
LINGKARAN” dan ditempatkan pada bagian atas sebelah kiri dari
wadah/pembungkus/brosur.
f. Logo tersebut dicetak dengan warna hijau di atas dasar putih atau warna
lain yang menyolok kontras dengan warna logo.

Keamanan Obat Bahan Alam


Sampai saat ini, mitos bahwa obat bahan alam aman untuk selalu
dikonsumsi, selalu dipromosikan oleh berbagai pihak. Sebagian dari masyarakat
baik praktisi maupun pengguna obat bahan alam memiliki anggapan bahwa obat
bahan alam aman. Hal ini bisa benar adanya, karena penggunaan obat bahan alam
sudah lama, bahkan ada beberapa tumbuhan (yang biasanya digunakan sebagai
bahan baku obat bahan alam), yang sudah ratusan tahun digunakan sebagai obat
tradisional. Bahan baku obat bahan alam seperti dijelaskan di atas bisa didapatkan
dari tumbuhan, hewan maupun mineral. Namun, sumber obat bahan alam yang
banyak dikembangkan berasal dari tumbuhan. Sebab, tumbuhan mudah
dibudidayakan, ramah lingkungan, dan hampir seluruh bagian yang terdapat pada
tumbuhan (mulai dari akar, umbi, batang, kulit, daun, biji dan bunga) berkhasiat
untuk mengobati berbagai macam penyakit.
Penggunaan obat bahan alam yang berasal dari tumbuhan telah digunakan
dalam bidang kesehatan sejak lama. Tumbuhan berkhasiat obat yang ternyata
dapat menolong menghilangkan rasa sakit & penyakit ini, diistilahkan sebagai
tumbuhan obat, mulanya sebagai tumbuhan liar, kemudian dibudidayakan
manusia sebagai tanaman dan disebut tanaman obat. Definisi umum tanaman obat
yang bisa diterima hampir semua pihak adalah tanaman yang berkhasiat obat dan
digunakan sebagai obat. Pengertian ‘berkhasiat obat’ bisa berarti mengandung zat
aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau tanpa zat aktif tertentu
tetapi mengandung efek resultan/sinergis dari berbagai zat yang berfungsi
mengobati. Sehingga tidak harus zat-zat aktif tertentu yang mengobati tetapi bisa
efek dari gabungan zat-zat (bukan zat aktif) itulah yang mengobati. Sedangkan
pengertian ‘digunakan sebagai obat’ meliputi semua cara penggunaan yang
berdampak fisiko-kimia seperti diminum, ditempel, untuk cuci, untuk mandi dan
dihirup (aromaterapi atau sebagai bantal). Sehingga penggunaan ini dapat
memenuhi konsep kerja reseptor sel dalam menerima senyawa kimia atau
rangsangan.
Penggunaan bahan alam seperti tumbuhan juga sangat luas, beberapa
tumbuhan bahkan digunakan sebagai bumbu masak. Namun, harus diingat bahwa
kemungkinan ketidakamanan mungkin saja terjadi pada obat bahan alam. Sumber
ketidakamanan tersebut dapat berasal dari dalam bahan baku obat bahan tersebut.
Juga bisa berasal dari luar, misalnya karena pengaruh lingkungan, logam berat,
bahan kimia yang digunakan secara sengaja ataupun tidak sengaja dapat menjadi
penyebab ketidakamanan. Cemaran biologi seperti bakteri, jamur akan menjadi
faktor ketidakamanan. Penggunaan alat dan bahan yang tidak higienis dan
ditambah sanitasi yang buruk, ikut menyumbang masuknya kontaminan yang
tidak diinginkan.
Hal lain yang menjadi sumber ketidakamanan obat bahan alam dan saat ini
yang juga menjadi perhatian peneliti dan praktisi obat bahan alam adalah interaksi
obat bahan alam dengan obat modern (kimia sintetis), obat bahan alam dengan
obat bahan alam lainnya, serta obat bahan alam dengan makanan atau minuman.
Data interaksi antara obat bahan alam dengan obat modern (kimia sintetis) sangat
terbatas. Seperti pada interaksi obat modern dengan obat modern, interaksi obat
bahan alam juga digolongkan pada interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik.
Interaksi farmakokinetik obat bahan alam mempengaruhi absorpsi, metabolisme
atau ekskresi obat. Sedangkan interaksi farmakodinamik terjadi pada obat yang
bekerja mirip atau sama dengan obat bahan alam.
Banyak masyarakat yang menyatakan bahwa penggunaan obat bahan alam
tidak menimbulkan efek samping. Pernyataan ini sering digabungkan dengan
opini yang mengklaim bahwa obat bahan alam tidak menimbulkan bahaya. Tentu
hal ini tidak benar, yang didukung adanya bukti bahwa tidak ada obat yang efektif
dan secara langsung bebas dari efek samping. Sesungguhnya, tidak dapat
dikatakan bahwa pengobatan dengan obat bahan alam yang tanpa diikuti oleh
adanya sesuatu yang berbahaya, umpamanya timbul alergi pada penggunaan obat
bahan alam.
Sering dikatakan bahwa obat bahan alam khususnya yang berasal dari
tumbuhan (obat herbal) dapat ditoleransi lebih baik, sedangkan obat kimia sintetis
memiliki efek samping yang potensial. Memang bahan alami dikenal memiliki
mutual evolusi cukup panjang, proses adaptif metabolisme obat bahan alam telah
lama ada dan lebih baik dari pada obat kimia sintetis, terutama dalam metabolisme
senyawa asing dalam hati.
Pada tahun 1990, Frohne telah mengelompokkan obat bahan alam (obat
herbal) berdasarkan risiko potensial dan efek yang tidak diinginkan, menjadi 4
kelompok seperti berikut:
1. Obat bahan alam yang sangat potensial memiliki efek yang tidak
diinginkan yang cukup tinggi. Kebanyakan kelompok ini sekarang
digunakan hanya dalam bentuk isolat.
2. Obat bahan alam yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan jika
digunakan melebihi dosis yang sudah ditentukan.
3. Obat bahan alam yang belum dibuktikan kebenarannya, tetapi memiliki
efek yang tidak diinginkan yang potensial.
4. Obat bahan alam yang berpotensi memiliki efek yang tidak diinginkan
yang cukup berbahaya, dan ini tidak dibenarkan keberadaannya sebagai
zat tambahan.
Bahkan beberapa ahli telah meneliti tentang efek mutagenesis dan karsinogenesis
beberapa obat bahan alam sehingga penggunaannya dibatasi hanya pada penyakit
tertentu dengan dosis tertentu.
Yang perlu digarisbawahi adalah obat-obatan kimia sintetis sudah banyak
diteliti sehingga dosis tepatnya sudah dapat ditentukan, sedangkan obat bahan
alam belum bisa ditentukan dosisnya mengingat penelitian untuk obat bahan alam
masih jarang dilakukan. Secara umum obat bahan alam memang lebih kecil efek
sampingnya jika dibandingkan dengan obat-obatan kimia sintetis. Namun
demikian, obat bahan alam juga tidak 100% aman bagi kesehatan. Oleh karena itu,
penggunaannya harus diatur sesuai batas-batas tertentu agar tetap aman.
Sebagaimana obat-obatan kimia sintetis yang memiliki aturan tertentu dalam
penggunaannya, obat bahan alam pun demikian.
Agar obat bahan alam aman dikonsumsi hendaknya pengguna obat bahan
alam memiliki pengetahuan yang cukup tentang obat bahan alam tersebut.
Selanjutnya apabila kita membeli produk obat bahan alam yang telah siap pakai
dalam bentuk seduhan, cairan, pil atau kapsul adalah baca baik-baik kandungan
yang terdapat di dalamnya. Pastikan obat bahan alam tersebut tidak mengandung
bahan berbahaya yang dilarang Kementerian Kesehatan atau BPOM. Bila
meragukan bahan yang terkandung di dalamnya sebaiknya tanyakan kepada
ahlinya.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, obat bahan
alam baik yang diramu maupun yang sudah dikemas secara modern dilarang
menggunakan bahan kimia hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat yang sering
disebut dengan Bahan Kimia Obat (BKO), seperti narkotika atau psikotropika,
serta hewan atau tumbuhan yang dilindungi. Akan tetapi, sampai saat ini BPOM
masih menemukan beberapa produk obat bahan alam yang di dalamnya dicampur
BKO. BKO di dalam obat bahan alam inilah yang menjadi selling point bagi
produsen. Hal ini kemungkinan disebabkan kurannya pengetahuan produsen akan
bahaya mengonsumsi bahan kimia obat secara tidak terkontrol, baik dosis maupun
cara penggunaannya atau bahkan semata-mata demi meningkatkan penjualan
karena konsumen menyukai produk obat bahan alam yang bereaksi cepat pada
tubuh. Konsumen yang tidak menyadari adanya bahaya dari obat bahan alam yang
dikonsumsinya, apalagi memperhatikan adanya kontraindikasi penggunaan
beberapa bahan kimia bagi penderita penyakit tertentu maupun interaksi bahan
obat yang terjadi apabila pengguna obat bahan alam sedang mengonsumsi obat
lain, tentunya sangat membahayakan.
Jika pengguna obat bahan alam tidak merasa nyaman setelah kurang lebih
delapan jam mengonsumsi obat bahan alam, sebaiknya hentikan penggunaannya
terlebih dahulu. Harus dipikirkan apakah ini suatu reaksi ketidakcocokan atau
tanda healing crisis. Setiap orang akan bereaksi dengan sangat beragam,
tergantung respons tubuh masing-masing. Untuk mengetahui apakah ini agravasi
atau ameliorasi sebaiknya dikonsultasikan kepada ahlinya. Bagi pengguna yang
menderita penyakit tertentu dan menggunakan obat tertentu, reaksi yang terjadi
juga perlu dipikirkan, apakah obat bahan alam akan menambah efek obat kimia
sintetis atau menekan kerjanya.
Demi keamanan sang buah hati, jangan memberikan produk obat bahan
alam secara bebas kepada anak-anak, terutama yang berumur kurang dari lima
tahun tanpa konsultasi terlebih dahulu pada ahlinya. Bagi orang lanjut usia
(lansia), perlu diperhatikan takaran atau dosis obat bahan alam yang dikonsumsi,
hal ini berkaitan dengan fungsi organ lansia seperti hati dan ginjal yang mungkin
telah mengalami penurunan. Bagi yang sedang hamil atau menyusui, penggunaan
obat bahan alam harus dilakukan dengan lebih hati-hati karena ada beberapa
tanaman yang melewati sawar otak sehingga dapat terkonsumsi oleh janin yang
dikandung atau bayi yang disusui.
Obat bahan alam akan dengan mudah dapat kita temukan di sekitar kita,
mulai dari obat bahan alam yang diracik sendiri sampai berbagai jenis obat bahan
alam yang diracik dan diproduksi secara modern oleh pabrik besar.
Beberapa tips meramu obat bahan alam agar aman dan ampuh sehingga
khasiatnya maksimal, sebagai berikut:
1. Sedapat mungkin gunakan bahan baku seperti tanaman yang ditanam
secara organik untuk meminimalkan kontaminasi pestisida, herbisida
maupun bahan sintetik lainnya.
2. Cucilah bahan baku obat bahan yang akan diramu dengan air bersih yang
mengalir sambil digosok-gosok untuk meminimalkan kontaminasi.
3. Bahan tambahan lain yang digunakan meramu, seperti air juga harus
bersih dan menyehatkan.
4. Sedapat mungkin gunakan penakar (misalnya timbangan dan penakar
lainnya), jangan hanya menggunakan perkiraan saja.
5. Patuhi aturan pakainya dan jangan menghentikan penggunaan sebelum
waktu yang dianjurkan, kecuali ada tanda-tanda ketidakcocokan. Obat
bahan alam membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bereaksi
dibandingkan dengan obat-obatan kimia sintetis.
6. Simpan ramuan obat bahan alam di tempat yang kering, sejuk, dan bersih.
Jauhkan dari bau-bauan yang menyengat dan jangkauan anak-anak serta
binatang.
7. Dianjurkan meramu obat bahan alam kembali dalam jumlah kecil agar
kesegaran dan khasiatnya lebih terjamin. Setelah obat bahan alam yang
diramu habis, barulah meramu kembali untuk dipakai dalam penggunaan
selanjutya. Selain lebih manjur, menggunakan ramuan yang selalu baru
juga dimaksudkan menghindarkan kita mengonsumsi ramuan obat bahan
alam yang sudah kadaluwarsa.
Kemudian, beberapa tips untuk memilih obat bahan alam kemasan atau yang telah
diracik dan diproduksi secara modern oleh pabrik, sebagai berikut:
1. Memilih obat bahan alam yang sudah teregistrasi.
2. Membiasakan diri untuk bersikap teliti dan hati-hati dengan mencermati
kemasannya dan perhatikan bentuknya.
3. Waspada produsen nakal.
4. Waspada obat bahan alam yang terlalu manjur atau obat bahan alam
“dewa” atau “yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit”.
5. Waspada efek samping obat bahan alam.
6. Waspada promosi yang tidak wajar.
7. Awas! Wanita hamil.
8. Awas! Penderita penyakit tertentu.
9. Awas! Anak-anak (terutama dibawah 5 tahun).
10. Awas! Lansia.
11. Jangan terlalu sering mengonsumsi obat bahan alam.
12. Jangan sembarangan mencampur obat bahan alam dengan obat kimia
sintetis atau obat bahan alam lainnya.
13. Perhatikan reaksi tubuh.
14. Patuhi anjuran memantang makanan tertentu.
15. Jangan langsung meninggalkan obat kimia sintetis.
16. Jangan tinggalkan gaya hidup sehat.

Sumber Pustaka:

Donatus IM., Nurlaila., 1986. Kursus Penyegaran: Obat Tradisional &


Fitoterapi Uji Toksikologi. Panitia Lustrum VIII & Reuni Fak. Farmasi
UGM. Yogyakarta.
Keputusan Kepala BPOM RI No. HK.00.05.4.2411 Tahun 2004 Tentang
Ketentuan Pokok Pengelompokan & Penandaan Obat Bahan Alam
Indonesia.
Mun’im A., Hanani E., 2011. Fitoterapi Dasar. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Yuliarti N., 2009. Sehat, Cantik, Bugar dengan Herbal dan Obat Tradisional.
Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Winarto, W.P., 2007. Tanaman Obat Indonesia untuk Pengobatan Herbal, Jilid
1. Jakarta: Karyasari Herba Media.
Wiryowidagdo S., 2007. Kimia & Farmakologi Bahan Alam. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.