Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

SIK PELAPORAN KASUS DALAM MANAJEMEN


KEBIDANAN (KB)
TUGAS MATA KULIAH SISTEM INFORMASI
KESEHATAN

DISUSUN OLEH :
NURUZ ZAKIAH (183112540120648)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


DIPLOMA IV KEBIDANAN
TAHUN 2018/2019
Jl. RM. Harsono No. 1, RT 09/04, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jaksel 12550
Tahun 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan pencatatan dan pelaporan program KB Nasional merupakan suatu proses

untuk mendapatkan data dan informasi yang merupakan suatu substansi pokok dalam

system informasi program KB Nasional dan dibutuhkan untuk kepentingan operasional

program. Data dan informasi tersebut juga merupakan bahan pengambilan keputusan,

perencanaan, pemantauan, dan penilaian serta pengendalian program.

Oleh karena itu data dan informasi yang dihasilkan harus akurat, tepat waktu dan

dapat dipercaya. Dalam upaya memenuhi harapan data dan informasi yang berkualitas,

maka selalu dilakukan langkah-langkah penyempurnaan sesuai dengan perkembangan

program dengan visi dan misi program baru serta perkembangan kemauan teknologi

informasi.

Dalam tahun 2001 pencatatan dan pelaporan program KB nasional telah

dilaksanakan sesuai dengan system, pencatatan dan pelaporan yang disempurnakan

melalui instruksi Mentri Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN Nomor 191/HK-

011/D2/2000 tanggal 29 september 2000. Kegiatan pencatatan dan pelaporan program KB

Nasional meliputi pengumpulan, pencatatan, serta pengelolahan data dan informasi

tentang kegiatan dan hasil kegiatan operasiona.

System pencatatan dan pelaporan saat ini telah disesuaikan dengan tuntutan

informasi, desentralisasi dan perbaikan kualitas. System pencatatan dan pelaporan

program KB Nasional yang disesuaikan meliputi sub system pencatatan pelaporan

pelayanan kontrasepsi, subsistem PPelaporan Pengendalian Lapangan. Subsistem

pencatatan Pelaporan Pengendalian Keluarga dab Subsistem Pencatatan Pelaporan

Pendataan Keluarga Miskin.


BAB II

PENDAHULUAN

A. Pencatatan dan Laporan

Pencatatan dan pelaporan Pelayanan Kontrasepsi Program KB ditujukan kepada


kegiatan dan hasil kegiatan operasional yang meliputi:

 Kegiatan Pelayanan Kobtrasepsi


 Hasil Kegiatan Pelayanan Kontrasepsi baik di Klinik KB maupun di Dokter/bidan
Praktek Swasta
 Pencatatan keadaan alat-alat kontrasepsi di klinik KB
Pencatatan dan pelaporan adalah indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa
ada pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak
akan terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah data
dan informasi yang berharga dan bernilai bila menggunakan metode yang tepat dan
benar. Jadi, data dan informasi merupakan sebuah unsur terpenting dalam sebuah
organisasi, karena data dan informasilah yang berbicara tentang keberhasilan atau
perkembangan organisasi tersebut (Tiara, 2011).
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1) pencatatan,
pelaporan, dan pengolahan; (2) analisis; dan (3) pemanfaatan. Pencatatan hasil
kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-
masing program. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan
SP3 yang sudah dibukukan. Koordinator SP3 di puskesmas menerima laporan-laporan
dalam format buku tadi dalam 2 rangkap, yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya
untuk dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Kabupaten. Koordinator SP3 di
Dinas Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di
Dinas Kesehatan Kabupaten. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten, setelah diolah dan
dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya
dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya. Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1)
bulanan; (2) tribulan; (3) tahunan. Laporan bulanan mencakup data kesakitan, gizi,
KIA, imunisasi, KB, dan penggunaan obat-obat. Laporan tribulanan meliputi kegiatan
puskesmas antara lain kunjungan puskesmas, rawat tinggal, kegiatan rujukan
puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. Laporan tahunan terdiri dari data dasar
yang meliputi fasilitas pendidikan, kesehatan lingkungan, peran serta masyarakat dan
lingkungan kedinasan, data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu.
Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang
dilaporkan dalam SP3 yang bernilai, yaitu data atau informasi harus lengkap dan data
tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, sehingga dapat
dianalisis dan diinformasikan (Santoso, 2008).
Puskesmas merupakan ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi
dinas kesehatan kota dan Sitem Pencatatan dan Pelaporan Terpadi Puskesmas juga
merupakan fondasi dari data kesehatan. Sehingga diharapakan terciptanya sebuah
informasi yang akurat, representatif dan reliable yang dapat dijadikan pedoman dalam
penyusunan perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data. Data
yang dihasilkan perlu dicatat, dianalisis dan dibuat laporan. Data yang disajikan
adalah informasi tentang pelaksanaan progam dan perkembangan masalah kesehatan
masyarakat. Informasi yang ada perlu dibahas, dikoordinasikan, diintegrasikan agar
menjadi pengetahuan bagi semua staf puskesmas. Pencatatan harian masing-masing
progam Puskesmas dikombinasi menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disbut
dengan system pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP) (Tiara, 2011).
Muninjaya (2004) berpendapat bahwa “untuk pengembangan efektifitas
Sistem Informasi Manajemen Puskesmas, standar mutu (Input, Proses, Lingkungan
dan Output) perlu dikaji dan dirumuskan kembali, masing-masing komponen terutama
proses pencatatan dan pelaporannya perlu ditingkatkan”.
B. Fasilitas Pelayanan KB

Fasilitas pelayanan KB sederhana adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin

oleh minimal seorang paramedis atau dan yang sudah mendapat latihan KB dan

memberikan pelayanan: cara sederhana (kondom,obat vaginal), pil KB,suntik KB, IUD

bagi fasilitas pelayanan yang mempunyai bidang yang telah mendapat pelatihan serta

upaya penanggulangan efek samping, komplikasi ringan dan upaya rujukannya.

Fasilitas pelayanan KB lengkap adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin

oleh minimal dokter umum yang telah mendapat pelatihan dan memberikan pelayanan:

cara sederhana, suntik KB, IUD bagi dokter atau bidan yang telah mendapat pelatihan,
implant bagi dokter yang telah mendapat pelatihan, kontap pria bagi fasilitas yang

memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap pria.

Fasilitas pelayanan KB sempurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin

oleh minimal dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis bedah/dokter umum yang

telah mengikuti pelatihan dan memberikan pelayanan: cara seerhana, pil KB, suntik

KB, IUD, pemasangan dan pencabutan implant, kontap pria, kontap wanita bagi

fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap wanita.

Fasilitas pelayanan KB paripurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin

oleh minimal dokter spesialis kebidanan yang telah mngikuti pelatihan penanggulangan

infertilisasi dan rekanalisasi/dokter spesialis bedah yang telah mengikuti pelatihan

pengaggulangan infertilitas dan rekanalisasi serta memberikan pelayanan semua jenis

kontrasepsi ditambah dengan pelayanan rekanalisasi dan penanggulangan infertilitas.

a. Status fasilitas pelayanan KB adalah status kepemilikan pengelolaan fasilitas

pelayanan KB yang dikelompokkan dalam 4 (empat) status kepemilikan yaitu:

Depkes, ABRI, Swasta serta instansi pemerintah lain diluar Depkes dan ABRI

b. Konseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedik

dalam bentuk percakapan individual dalam usaha untuk membantu PUS guna

meningkatkan kemampuan dalam memilih pengunaan metode kontrasepsi serta

memantapkan penggunaan kontrasepsi yang telah dipili

c. Konseling baru adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis

atau paramedic kepada calon peserta KB yang akhirnya menjadi peserta KB baru

pada saat itu.

d. Konseling lama adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis

atau paramedik kepada peserta KB untuk memantapkan penggunaan kontrasepsi.


e. Akibat sampingan atau komplikasi adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan

akibat penggunaan kontrasepsi.

f. Akibat sampingan atau komplikasi ringan adalah kelainan dan atau gangguan

kesehatan penggunaan kontrasepsi yang penanganannya tidak memerlukan rawat

inap.

g. Akibat sampingan atau komplikasi berat adalah kelainan dan atau gangguan

kesehatan akibat penggunaan kontrasepsi yang penanganannya memerlukan rawat

inap.

h. Kegagalan adalah terjadinya kehamilan pada peserta KB.

C. Batasan – Batasan

Dalam melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang tepat dan benar diperlukan

keseragaman pengertian sebagai berikut :

1. Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam

dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas

pelayanan KB.

2. Peserta KB adalah pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan kontrasepsi.

3. Peserta KB baru adalah PUS yang pertama kali mengguakan kontrasepsi atau PUS

yang kembali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang

berakhir dengan keguguran atau persalinan.

4. Peserta KB lama adalah peserta KB yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa

diselingi kehamilan.

5. Peserta KB ganti cara adalah peseta KB yang berganti pemakaian dari satu metode

kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya.

6. Pelayanan fasilitas pelayanan KB adalah semua kegiatan pelayanan kontrasepsi

oleh fasilitas pelayanan KB baik berupa pemberian atau pemasangan kontrasepsi


maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang

diberikan pada PUS baik calon maupun peserta KB.

7. Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di dalam fasilitas pelayanan

adalah pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain

yang berkaitan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB yang dilakukan dalam

fasilitas pelayanan KB.

8. Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di luar fasilitas pelayanan

adalah pemberian peayanan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB maupun

tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang

dilakukan di luar fasilitas pelayanan KB (TKBK,Safari,Posyandu).

D. Jenis-jenis Serta Kegunaan, Register, dan Formulir.

1. Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/85)

Digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama bagi klinik KB baru dan

pendaftaran ulang semua klinik KB. Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun

anggaran (bulan maret setiap tahun). Kartu ini berisi infomasi tentang identitas

klinik KB, jumlah tenaga, dan sarana klinik KB serta jumlah desa di wilayah kerja

klinik KB yang bersangkutan.

2. Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/B/89)

Dipergunakan sebagai tanda pengenal dan tanda bukti bagi setiap peserta KB.

Kartu ini diberikan terutama kepada peserta KB baru baik dari pelayanan KB jalur

pemerintah maupun swasta (dokter/bidan praktek swasta/apotek dan RS/Klinik KB

swasta). Pada jalur pelayanan pemerintah, kartu ini merupakan sarana untuk

memudahkan mencari kartu status peserta KB (K/IV/KB/85). Kartu ini merupakan

sumber informasi bagi PPKBD/Sub PPKB tentang kesertaan anggota binaannya di

dalam berKB.
3. Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/85)

Dibuat bagi setiap pengunjung baru klinik KB yaitu peserta KB baru dan peserta

KB lama pindahan dari klinik KB lain atau tempat pelayanan KB lain. Kartu ini

berfungsi untuk mencatat ciri-ciri akseptor hasil pemeriksaan klinik KB dan

kunjungan ulangan peserta KB

4. Kartu Klinik KB (R/I/KB/90)

Dipergunakan untuk mencatat semua hasil pelayanan kontrasepsi kepada semua

peserta KB setiap hari pelayanan. Tujuan penggunaan register ini adalah untuk

memudahkan petugas klinik KB dalam membuat laporan pada akhir bulan.

5. Register Alat-alat Kontrasepsi di Klinik KB (R/II/KB/85)

Dipergunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (mutasi) alat-alat

kontrasepsi di klinik KB. Tujuan adalah untuk memudahkan membuat laporan

tentang alat kontrasepsi setiap akhir bulan.

6. Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)

Dipergunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan :

 1 lembar untuk Unit Pelaksana Ka

E. Cara Pengisian Kartu, Register dan Formulir

1. Kartu Pendaftaran Klinik Keluarga Berencana (K/O/KB/85)

a. Kartu ini digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama dan pendaftaran

ulang semua klinik KB. Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun

anggaran (bulan Maret setiap tahun). Kartu ini berisi informasi tentang identitas

klinik, tenaga dan saran klinik KB yang bersangkutan.

b. Kartu ini dibuat dalam rangkap 5 (lima) dengan tambahan lembar ”khusus” pada

lembar pertama yang dipergunakan untuk laporan ke BKBN pusat.

c. Ditandatangani oleh penanggung jawab klinik KB yang bersangkutan.


d. Kartu pendaftaran ini setelah diisi dan masing – masing dikirim :

 1 lembar K/O/KB/85 yang khusus (bagian sebelah kanan dari lembar

pertama untuk BKBN pusat di Jakarta.

 1 lembar untuk BKBN propinsi

 1 lembar untuk Unit Pelaksana Propins

 1 lembar untuk BKBN Kabupaten/kotamadya

2. Halaman depan terdiri dari dua bagian yaitu:

a. Bagian sebelah kiri, untuk mencatat cir-ciri peserta KB. Bagian ini terutama

dimaksudkan untuk mencatat cir-ciri setiap peserta KB baik peserta KB baru

maupun peserta KB pindahan dari klinik KB/tempat pelayanan kontrasepsi lain

b. Data dibagian ini sangat diperlukan apabila suatu saat untuk mengetahui ciri-ciri

akseptor KB secara Nasional maupun tingkat wilayah lainya.Bagian sebelah kanan,

untuk mencatat hasi-hasil pemeriksaan klinik.

c. Petugas klinik KB yang melakukan pengisisan K/IV/KV/85 membutuhkan tanda

tangan dan nama terang pada K/IV/KV/85 di tempat yang telah disediakan.

2. Register Alat-alat Kontrasepsi KB (R/II/KB/85)

a. Register ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah petugas klinik KB

memuat/mengisi laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/9), khususnya untuk

bagian tabel V : “Persediaan Kontrasepsi di Klinik KB”

b. Pada setiap hari pelayanan, semua penerimaan dan engeluaran kontrasepsi

dicatat/dibukukan dalam register alat-alat kontrasepsi ini.

c. Setiap baris menunjukan penerimaan/pengeluaran kontrasepsi pada satu

tanggal tertentu. Pada hari/tanggal berikutnya, pengeluaran/pemasukan dicatat

pada hari/tanggal berikutnya, emikian seterusnya untuk setiap hariplayanan,

sampai habis periode satu bulan.


d. Setelah sampai pada hari/tanggal terakhir dari satu bulan yang bersangkutan

dilakukan penjumlahan untuk penerimaan dan pengeluaran alat kontrasepsi

selama satu bulan.

e. Disamping, kedalam register ini dituliskan pula siss(stock) alat-alat kontrasepsi

yang ada diklinik KB pada akhir bulan.

f. Untuk tiap hari dalam bulan berikutnya pencatatan dilakukan pada lembar

(halaman) baru.

3. Laporan Bulanan Klinik Keluarga Berencan (F/II/KB/90)

a. Laporan bulanan klinik KB dibuat oleh petugas klinik KB sebulan sekali,

yaitu pada setiap akhir bulan kegiatan pelayanan kontrasepsi di klinik KB.

b. Laporan bulanan klinik KB sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan

pelayanan kontrasepsi dan haasilnya, yaitu pelayanan ole klinik KB(di

dalam dan diluar klinik KB) serta PPKBD/Sub PPKBD diwilayah binaan

klinik KB yang bersangkutan

c. Laporan bulanan klinik KB ditandatangani oleh pimpinan klinik KB atau

petugas yang ditunjuk.

d. Laporan bulanan klinik KB dibuat rangkap 5(lima), yaitu:

 1 (satu) lembar dikirim ke BKKBN Pusat

 1(satu) lembar dikirim ke BKKBN Kabupaten Kota Madya

 1 (satu) lembar dikirim ke Unit Pelaksanatingkat Kabupaten Kota

Madya

 1 (satu) lembar dikirim ke Camat

Laporan bulanan klinik KB yang dikirim ke BKKBN Pusat (Minat Biro

Pencatatan dan Pelaporan) dengan menggunakan sampul atau amplop khusus


tanpa dibubuhi perangko dan sudah harus dikirimkan selambat-lambatnya

tanggal 5 bulan berikutnya.

Pengisian laporan bulanan klinik kB ini didasarkan pada data yang terdapat

dalam :

 Register klinik KB (R/I/KB/89)

 Register alat kontrasepsi KB (R/I/KB/85

 Laporan bulanan PLKB (F/I/PLKB/90

 Laporan-laporan serta catatan-catatan lainya.

4. Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (REK/F/II/89)

a. Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB (REK/F/II/KB/89) ini dibuat sebuan

sekali, yaiu pada awal bulan berikutna dari bulan laporan. Tujuannya untuk

meaporkan seluruh kegiatan pelayanan KB dan hasilnya dari seluruh klinik KB

yang berada di suatu wilayah kabupaten/kotamadya pada satu bulan laporan.

b. Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB inidibuat oleh BKKBN

Kabupaten/Kotamadya dalam rangkap 3 (tiga) dan dikirim kepada:

 1 (satu) lembar untuk BKKBN Propins

 1 (satu) lembar untuk Unit Pelayanan KB Departemen Kesehatan

Tingkat Kabupaten/Kotamadya

 1 (satu) lembar untuk arsip.

c. Rekapitulasi

Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB ini harus sudah dikirimkan ke

BKKBN Propinsi yang bersankutan selambat-lambatnya tanggal 15

bulan berikutnya dari bulan laporan. Lembar rekapitulasi ini ditandatangani

oleh Kepala BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan.

F. Mekanisme pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi.


Sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi, diharapkan dapat

menyediakan berbagai data dan informasi pelayanan kontrasepsi diseluruh wilayah

sampai tingkat kecamatan dan desa. Adapun mekanisme pencatatan dan pelaporan

pelayanan kontrasepsi sebagai berikut:

 Pada waktu mendaftar untuk pembukaan klinik KB dan pendaftaran ulang setiap

bulan Januari, smua klinik KB mengisi Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/OO)

 Setiap peserrta KB baru dan pindahahn dibuat Kartu Status peserta KB

(K/IV/KB/00) yang antara lain memuat cirri-ciri peserta KB bersangkutan. Kartu

ini disimpan di klinik dan digunakan waktu kunjungan ulang.

 Setiap peserta KB baru atau pindahan dari klinik KB dibuat Kartu Pesreta KB

(K/I/KB/00)

 Setiap pelayanan KB di klinik KB, dicatat dalam Register klinik KB (R/I/KB/00)

dan pada akhir bulan dijumlahkan, karena register ini merupakan sumber data untuk

membuat laporan bulanan klinik

 Setiap penerimaan dan pengeliaran jenis alat kontrasepsi oleh klinik dicatat dalam

Register Alat kontrasepsi KB (R/II/OO), setiap akhir bulan dijumlahkan sebagai

sumber membuat laporan bulanan

 Pelayanan KB yang dilakukan oleh Dr/Bidan praktek swasta setiap hari dicatat

dalam buku hasil prlayanan kontrasepsi pada Dokter/Bidan Swasta (B/I/DBS/00).

Setiap akhir bulan dijumlahkan dan merupakan sumber data dalam membuat

laporan nulanan petugas penghubung DBS/PBS

 Setiap bulan PKB/PLKB tatu petugas yang ditunjuk sebagai petugas oenghubung

dokter/bidan praktek swasta membuat laporan bulanan ini merupakan sumber data

untuk pengisian laporan bulanan klinik KB.


 Setiap bulan, petugas klinik KB membuat laporan klinik KB (F/II/KB/000) yang

datanya diambil dari Register Hasil Pelayanan di klinik KB (R/KB/00) Laporan

bulanan petugas Penghubung Dokter/Bidan Praktek Swasta (F/I/PH/-DBS/00) dan

Register Alat Kontrasepsi Klinik KB (R/II/KB/00).

G. Arus Laporan Pelayanan Informasi adalah sebagai berikut:

 Kartu pembinaan klinik KB (KB/0/KB/00) dibuat oleh klinik KB rangkap 2 (dua).


1 lembar untuk kantor BKKBN kabupaten/kota yang dikirim selambat-lambatnya
tanggal 7 februari setiap bulan ke kantor BKKBN kabupaten/kota dan arsip
 Laporan bulanan petugas penghubung hasil pelayanan kontrsepsi oleh dokter/bidan

praktek swasta dalam rnagkap 2 (dua). Dikirim selambat-lambatnya tanggal 5 bulan

berikutnya ke klinik bidan induk di wilayah kerjanya dan arsip.

 Laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/00) dibuat oleh klinik KB dalam rangkap 4

(empat) dikirim selambat-lambatnya pada tanggal 7 bulan berikutnya, masing-

masing ke kantor BKKBN kabupaten/kota, mitra kerja tingkat II, kantor Camat dan

Arsip.

 Rekapitulasi kartu pendaftaran klinik KB Tingkat Kabupaten/lota

(RekKab.k/0/KB/00), dibuat rangkap 2 (dua) oleh kantor BKKBN kabupaten/kota

dan dikirim selambat-lambatnya pada tanggal 14 februari setiap tahun, masing-

masing ke kanwil BKKBN Kabupaten Propinsi dan Arsip.

 Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB Tingkat kabupaten/kota (Rek-

Kab/F/KB/00) dibuat 2 (dua) rangkap setiap bulan oleh kantor BKKBN

kabupaten/kota dikirim selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya ke kanwil

BKKBN Propinsi dan Arsip.

 Rekapitulasi Kartu pendaftaran klinik KB tingkat propinsi (Rek-prop.K/0/KB/00)

dibuat rangkap 2 (dua) oleh kanwil BKKBN propinsi dan dikirim selambat-

lambatnya tanggal 21 februari setiap tahun ke BKKBN pusat dan Arsip.


 Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB tingkat propinsi (Rek.prop./F/KB/00)

dibuat rangkap 2 (dua) oleh kanwil BKKBN propinsi dan dikirim selambat-

lambatnya tanggak 15 bulan berikutnya ke BKKBN Pusat dan Arsip.

 BKKBN propinsi (bidang informasi keluarga dan analisa program) setiap bulan

menyampaikan laporan umpan balik ke kantor BKKBN pusat, ke kanwil BKKBN,

kabupaten dan mitra kerja tingkat I.

 BKKBN Pusat (Direktorat Pelaporan dan Statistik) setiap bulan menyampaikan

umpan balik kepda semua pimpinan di jajaran BKKBN Pusat, ke kanwil BKKBN,

propinsi dan Mitra kerja Tingkat Pusat

H. Monitoring dan Evaluasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan

Kontrasepsi

Dalam pelaksanaan system pencatatan dan pelaporan kontrasepsi masih dirasakan

adanya kelebihan dan kekurangan, sehingga perlu selalu dilakukan monitoring dan

evaluasi. Melalui system pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrsepsi dari hasil

monitoring dan evaluasi tersebut dapat diketahui hambatan dan permasalahan yang

timbul, sehingga dapat dilakukan perbaikan kegiatan system pencatatan dan pelaporan

pelayanan kontrasepsi :

a. Cakupan laporan

Dalam melakukan monitoring dan evaluasi terhadap cakupan laporan

meliputi jumlah, ketepatan waktu data yang dilaporkan, mulai dari tingkat

ini lapangan sampai tingkat pusat.

b. Kualitas data

Dalam melakukan evaluasi terhadap kualitas data pencatatan dan pelaporan

pelayanan kontrasepsi perlu dilihat bagaimana masukan laporan, baik

laporan bulanan maupun laporan tahuna serta bagamana informasi yang


disajikan setiap bulan atau tahunan. Dalam hal ini sering/dapat terjadi

laporan mengalami keterlambatan dan cakupannya belum dapat optimal

maupun kualitas dan kuantitas datanya serta informasi yang disampaikan

belum optimal. Keterlambatan penyajian data informasi setiap bulannya

dapat disebabkan oleh proses pengumpulan data laporannya terlambat serta

banyaknya kesalahan pengelolahan ke bawah dan ke samping sehingga

memperlambat proses pengelolahannya.

c. Tenaga

Dalam melakukan evaluasi terhadap tenaga pencatatan dan pelaporan

pelayanan kontrasepsi, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu

ketersediaan/jumlah tenaga dan kualitas tenaga.

I. PENDOKUMENTASIAN RUJUKAN KB

Tujuan sistem rujukan disini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan

efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus

terutama ditujukan umtuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek samping,

komplikasi dan kegagalan penggunaan kontrasepsi.

Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu system jaringan fasilitas

pelayanan kesehatan adalah suatu system jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang

memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas

masalah yang timbul, baik secara vertical maupun secara horizontal kepada fasilitas

pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau dan rasional. Tidak dibatasi oleh wilayah

adsministrasi. Dengan pengertian tersebut, maka merujuk berarti meminta pertolongan

secara timbal balik kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten dengan tujuan

untuk penanggulangan masalah yang sedang dihadapi.

J. Tata Laksana
Rujukan Medik dapat berlangsung

a. Internal antar petugas di satu puskesmas

b. Antara puskesmas pembantu dan puskesmas

c. Antara masyarakat dan puskesmas

d. Anatara satu puskesmas dan puskesmas lain

e. Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan

kesehatan lainnya

f. Internal antara bagian/unit palayanan di dalam satu rumah sakit

g. Antar rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan rumah

sakit laboratorium atau pelayanan fasilitas yang lain.

Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam system rujukan tersebut

berjenjang dari yang paling sederhana di tingkat keluarga sampai satuan fasilitas

pelayanan kesehatan nasional denga dasar pemikiran rujukan ditujukan secara timbal

balik kesatuan pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, dan rasional serta tanpa

dibatasi oleh wilayah administrasi.

Rujukan bukan berate melepaskan tanggung jawab dengan menyerahkan klien-

klien ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, akan tetapi karena kondisi klien yang

mengaharuskan pemberian pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui upaya

rujukan. Untuk itu dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan:

a. Konseling tentangkondisi klien yang menyebabkan memerlukan rujukan

b. Konseling tentang kondisi yang diharapka diperoleh di tempat rujukan

c. Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju

d. Penghantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam

dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas

pelayanan KB. Pelayanan fasilitas pelayanan KB adalah semua kegiatan pelayanan

kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB baik berupa pemberian atau pemasangan

kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan

kontrasepsi yang diberikan pada PUS baik calon maupun peserta KB.

Dalam upaya mewujudkan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi

Gerakan Keluarga Berencana Nasional, hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap

petugas dan pelaksana KB adalah mengetahui dan memahami batasan-batasan


pengertian dari istilah-istilah yang dipergunakan serta mengetahui dan memahami

berbagai jenis dan fungsi instrument-instrumen pencatatan dan pelaporan yang

dipergunakan, cara-cara pengisiannya serta mekanisme dan arus pencatatan dan

pelaporan tersebut.

 Tujuan system rujukan disini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan

efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian

khusus terutama ditujukan umtuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek

samping, komplikasi dan kegagalan penggunaan kontrasepsi.

 System rujukan upaya kesehatan adalah suatu system jaringan fasilitas pelayanan

kesehatan adalah suatu system jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang

memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas

masalah yang timbul, baik secara vertical maupun secara horizontal kepada fasilitas

pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau dan rasional.

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde. Prof.dr.DOSG. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB

untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC

DEPKES. RI. 2004. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : YBP-SP.

Hartanto, Hanafi, dr. KB dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2012

EGC, Obstetri, Williams Edisi 21, 2017

Helen Vareny dkk, Buku Asuhan Kebidnaan, EGC, Jakarta, 2014