Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN

1. Organisasi dan Lingkungan


Perusahaan sebagai suatu organisasi bisnis tidak dapat mencapai tujuannya
untuk mewujudkan prinsip - prinsip GCG karena tidak didukung oleh fungsi dari
sejumlah elemen yang terdapat di dalamnya. Dalam hal ini, untuk membenahi
fungsi dari sejumlah elemen yang terdapat di dalam oragniasi perusahaan,
diperlukan model organisasi. Model organisasi merupakan representasi dari suatu
organisasi yang membantu seseorang untuk lebih memahami secara jelas dan cepat
apa yang diamati dalam organisasi tersebut. Secara lebih rinci, Burke menjelaskan
berbagai kegunaan dari model organisasi: (i) model membantu untuk meningkatkan
pemahaman tentang perilaku organisasi, (ii) model membantu untuk
mengelompokkan data tentang organisasi, (iii) model membantu
menginterpretasikan data tentang organisasi, dan (iv) model membantu untuk
memberikan bahasa yang umum serta singkat tentang organisasi (Falletta, 2005).
Organisasi sebagai suatu sistem yang terbuka mengacu pada pandangan yang
dikemukakan oleh teori organisasi moderen yang berkembang sejak tahun 1950-an.
Dalam teori ini, organisasi cenderung dipandang sebagai berikut: (i) organisasi
merupakan suatu sistem yang terbuka, (ii) di dalam organisasi terjadi transformasi
masukan yang menghasilkan keluaran tertentu, masukan diperoleh dari
lingkungannya sedangkan keluaran akan diberikan organisasi kepada
lingkungannya, (iii) di dalam organisasi terdapat elemenelemen yang penting yang
saling berhubungan satu sama lain, serta (iv) organisasi memiliki tujuan dan batasan
tertentu yang membedakan organisasi tersebut dari lingkungannya. Pandangan
tentang organisasi yang dikemukan oleh teori organisasi moderen tersebut,
terutama memberikan wawasan kepada manajemen untuk memandang organisasi
secara keseluruhan maupun sebagai bagian dari lingkungan eksternal
(Reksohadiprodjo dan Handoko, 2004). Secara lengkap, penggambaran organisasi
sebagai suatu sistem yang terbuka dapat dilihat pada gambar berikut.
2. Struktur Kepemilikan Korporasi
a. Kepemilikan Tersebar
Pada model ini perusahaan memiliki pemegang saham yang banyak
dengan jumlah saham yang sedikit. Pemegang saham minoritas ini kurang

1
mengawasi aktivitas perusahaan dan cenderung tidak terlibat dalam
pengambilan keputusan atau kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, pemegang
saham tersebut disebut outsider, dan kepemilikan yang tersebar tersebut disebut
sebagai outsider system dan menurut Roche (2005), kepemilikan yang tersebar
ini merupakan model dari negara-negara common law seperti Amerika Serikat
dan Inggris.
Outsider system atau Anglo-American ini merupakan market-based model
yang dikarakteristikkan oleh perusahaan yang individualis dan kepemilikan
privat, pasar modal yang mapan dan likuid, dengan jumlah pemegang saham
yang banyak dan konsentrasi investor yang kecil. Pengendalian perusahaan
diwujudkan melalui pasar dan investor luar. Dalam outsider system ini terdapat
anggota dewan yang independen untuk mengawasi perilaku manajerial agar
tetap terkontrol, sehingga menurut Roche (2005), sistem ini lebih dapat
dipertanggungjawabkan, tidak korupsi serta membantu perkembangan pasar
modal yang likuid.
Meskipun demikian, sistem ini memiliki kelemahan, yaitu kepemilikan
yang terkonsentrasi ini hanya tertarik pada maksimalisasi profit jangka pendek,
dan mereka cenderung untuk menyetujui kebijakan dan strategi yang
menguntungkan keuntungan jangka pendek, tetapi tidak mempertimbangkan
kinerja perusahaan jangka panjang.
b. Kepemilikan yang Terkonsentrasi (Concentrated Ownership)
Pada tipe perusahaan yang seperti ini, terdapat dua kelompok pemegang
saham, yaitu pemegang saham mayoritas yang bertindak sebagai pengendali dan
pemegang saham minoritas. Menurut Bae et al. (2003) kepemilikan yang
terkonsentrasi ini merupakan salah satu ciri dari control based model, selain
menekankan pada insider board, pengungkapan yang terbatas,dan
ketergantungan pada keuangan atau sistem perbankan keluarga. Karakteristik
perusahaan ini banyak dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang
(seperti Indonesia, Korea) dan Continental European. Masalah keagenan yang
timbul terutama adalah antara pengendali dan pemegang saham minoritas.
Kelemahan dari sistem ini antara lain, pemegang saham mayoritas dapat
berkolusi dengan manajemen untuk mengambil alih asset perusahaan dengan

2
biaya dari pemegang saham minoritas. Ini merupakan risiko yang signifikan bagi
pemegang saham minoritas yang tidak dilindungi dengan hukum. Hal yang
sama, ketika manajer mengendalikan sejumlah besar saham atau hak suara yang
digunakan untuk mempengaruhi keputusan dewan yang menguntungkan mereka
dengan biaya perusahaan. Jadi terdapat masalah keagenan antara pemegang
saham minoritas dengan pengendali (pemegang saham mayoritas).Selain itu
kemungkinan terjadi masalah keagenan antara pemilik dan kreditur lebih besar
daripada tipe perusahaan yang kepemilikannya menyebar. Samad (2004) dalam
penelitiannya pada perusahaan-perusahaan di Malaysia menemukan bahwa
kepemilikan yang terkonsentrasi dapat membuat kinerja perusahaan menjadi
lebih baik, dan komposisi kepemilikan tersebut merupakan elemen penting
untuk memacu kinerja perusahaan yang lebih baik.
c. Kepemilikan Manajerial
Para pemegang saham yang mempunyai kedudukan di manajemen
perusahaan baik sebagai kreditur maupun sebagai dewan komisaris disebut
sebagai kepemilikan manajerial (managerial ownership). Adanya kepemilikan
saham oleh pihak manajemen akan menimbulkan suatu pengawasan terhadap
kebijakan-kebijakan yang diambil oleh manajemen perusahaan. Kepemilikan
manajerial juga dapat diartikan sebagai persentase saham yang dimiliki oleh
manajer dan direktur perusahaan pada akhir tahun untuk masingmasing periode
pengamatan.
Masalah teknis tidak akan timbul jika kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan tidak dijalankan secara terpisah. Pemilik (pemegang saham)
bertujuan untuk memaksimumkan kekayaannya dengan melihat nilai sekarang
dari arus kas yang dihasilkan oleh investasi perusahaan sedangkan manajer
bertujuan pada peningkatan pertumbuhan dan ukuran perusahaan. Tujuan
manajer ini dilandasi oleh dua alasan, yaitu:
1) Pertumbuhan yang meningkat akan memberikan peluang bagi manajer bawah
dan menengah untuk dipromosikan. Selain itu, manajer dapat membuktikan
diri sebagai karyawan yang produktif sehingga dapat diperoleh penghargaan
lebih dari wewenang untuk menentukan pengeluaran (biaya-biaya)

3
2) Ukuran perusahaan yang semakin besar memberikan keamanan pekerjaan
atau mengurangi kemungkinan lay-off dan kompensasi yang semakin besar.
Semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan, maka
manajemen cenderung berusaha lebih giat untuk kepentingan pemegang saham
yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Kepemilikan saham manajerial akan
membantu penyatuan kepentingan antar manajer dengan pemegang saham.
Namun, tingkat kepemilikan manajerial yang terlalu tinggi juga dapat
berdampak buruk terhadap perusahaan. Dengan kepemilikan manajerial yang
tinggi, manajer mempunyai hak voting yang tinggi sehingga manajer
mempunyai posisi yang kuat untuk mengendalikan perusahaan, hal ini dapat
menimbulkan masalah pertahanan, dalam artian, adanya kesulitan bagi para
pemegang saham eksternal untuk mengendalikan tindakan manajer.
d. Kepemilikan Institusioanal
Kepemilikan suatu perusahaan dapat terdiri atas kepemilikan institusional
maupun kepemilikan individual. Atau campuran keduanya dengan proporsi
tertentu. Investor institusional memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan
investor individual, diantaranya yaitu:
1) Investor institusional memiliki sumber daya yang lebih daripada investor
individual untuk mendapatkan informasi.
2) Investor institusional memiliki profesionalisme dalam menganalisa
informasi, sehingga dapat menguji tingkat keandalan informasi.
3) Investor institusional, secara umum, memiliki realsi bisnis yang lebih kuat
dengan manajemen.
4) Investor institusional memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan
pengawasan lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.
5) Investor institusional lebih aktif dalam melakukan jual beli saham sehingga
dapat meningkatkan jumlah informasi secara cepat yang tercermin di tingkat
harga.
Adanya pemegang saham seperti institusional ownership memiliki arti
penting dalam memonitor manajemen. Adanya kepemilikan oleh institusional
seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan-perusahaan investasi dan
kepemilikan oleh institusi-institusi lain akan mendorong peningkatan

4
pengawasan yang lebih optimal. Mekanisme monitoring tersebut akan menjamin
peningkatan kemakmuran pemegang saham. Signifikasi institusional ownership
sebagai agen pengawas ditekankan melalui investasi mereka yang cukup besar
dalam pasar modal. Apabila institusional merasa tidak puas atas kinerja
manajerial, maka mereka akan menjual sahamnya ke pasar.
Perubahan perilaku institusional ownership dari pasif menjadi aktif dapat
meningkatkan akuntabilitas manajerial sehingga manajer akan bertindak lebih
hati-hati dalam pengambilan keputusan. Meningkatnya aktivitas institusional
ownership dalam melakukan monitoring disebabkan oleh kenyataan bahwa
adanya kepemilikan saham yang signifikan oleh institusional ownership telah
meningkatkan kemampuan mereka untuk bertindak secara kolektif. Dalam
waktu yang sama, biaya untuk keluar dari investasi yang mereka lakukan
menjadi semakin mahal karena adanya resiko saham akan terjual pada harga
diskon. Kondisi ini akan memotivasi institusional ownership untuk lebih serius
dalam mengawasi maupun mengoreksi semua perilaku manajer dan
memperpanjang jangka waktu investasi.
3. Governance: Pemisahan Kepemilikan dan Pengendalian
Terdapat dua konsep dasar pada pemisahan kepentingan dan pengendalian yaitu:
a. Konsep Pertama
Pada dasarnya konsep perusahaan (modern) mulai muncul pada saat
perusahaan tersebut dimiliki oleh banyak pihak, tidak lagi dimiliki oleh
perorangan ataupun hanya dimiliki beberapa pihak saja. Kebutuhan modal usaha
dan pengembangan bisnis mungkin menjadi salah satu alasan mengapa
kepemilikan perusahaan dibuka kepada banyak pihak. Pada mulanya pada saat
perusahaan masih belum berkembang (tertutup), pemilik (owner) masih
merangkap juga sebagai manajer perusahaan yang menjalankan usaha sehari-
hari. Namun seiring dengan berkembangnya kepemilikan pada banyak pihak
(diverse ownership), maka para pemilik perusahaan (shareholders) harus
menyerahkan pengendalian perusahaan (control) kepada pihak lain, dalam hal
ini management yang akan menjalankan kegiatan sehari-hari.
Inilah awal konsep “separation of ownership and control”- pemisahan
antara kepemilikan (ownership) dan pengendalian (control). Pemisahan ini

5
kemudian dikenal dengan teori “agency theory / agency relationship”, dimana
terdapat pihak principal (shareholders) yang mendelegasikan kewenangan
mengelola perusahaan kepada agent (manajemen) dan untuk bertindak mewakili
kepentingan principal. Adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian
ini juga menimbulkan permasalahan yang dikenal sebagai “agency problem”,
yaitu adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen.
Secara teoritis, agency theory and agency problem merupakan cikal bakal
tumbuhnya ilmu corporate governance. Secara sederhana corporate governance
bisa diartikan bagaimana mekanisme perusahaan dikelola dan dijalankan serta
mempelajari hubungan antara berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan.
Dari sinilah muncul berbagai macam pengaturan terhadap perusahaan yang
dikenal sebagai “good corporate governance” untuk melindungi kepentingan
shareholders dan stakeholders.
b. Konsep Kedua
Dalam konteks ini, konsep “separation of ownership and control” adalah
terkait dengan struktur/ kepemilikan perusahaan publik. Kalau dalam konsep
pertama lebih bersifat kepada asal mula teori pemisahan kepemilikan dan
pengendalian dalam suatu perusahaan, maka dalam makna kedua ini lebih terkait
dengan struktur kepemilikan perusahaan publik yang sudah modern dan bersifat
komplek.
Dalam konsep ke-dua ini, terdapat dua pengertian fundamental terkait
dengan kepemilikan perusahaan, yaitu Ownership Right (OR) dan Control Right
(CR). Ownership Right (OR) mengacu kepada besarnya kepemilikan suatu pihak
terhadap perusahaan yang diukur dari jumlah uang/modal yang telah
diinvestasikan dalam perusahaan, yang sering kita lihat sebagai persentase
kepemilikan. Atas dasar investasi ini, maka pemodal berhak mendapatkan Cash
flow right (CFR) dalam bentuk dividen atas sahamnya. Dalam kerangka
pengertian ini, maka Ownership Right (OR) juga sering disebut sebagai Cash
flow right (CFR). Control Right (CR) mengacu kepada kekuatan mengontrol
perusahaan yang tercermin pada kekuatan suara dalam penentuan kebijakan
strategis perusahaan dalam sebuat rapat umum pemegang saham, sehinggga
Control Right (CR) sering juga disebut sebagai Voting Right (VR).

6
Secara teori, seharusnya cash flow right dan voting right adalah sama
dikarenakan saham menganut prinsip one-share-one-vote principle. Artinya
persentase kepemilikan suatu pihak yang tercermin dari jumlah nominal
investasinya adalah sama dengan persentase suara yang dimiliki pihak tersebut
dalam rapat pengambilan keputusan. Ini adalah konsep yang fair, dimana uang
yang dikeluarkan untuk investasi dalam perusahaan memberikan hak yang
sebanding dalam mengontrol perusahaan melalui kekuatan suara dalam rapat.
Namun demikian, terdapat kondisi atau penyimpangan dimana ownership
right/cash flow right adalah tidak sama dengan control right/voting right. Yang
terjadi adalah control/voting right melebihi dari ownership/cash flow right.
Adanya voting right yang lebih besar dari cash flow right mencerminkan
ketidakadilan, dimana ada pemegang saham yang memperoleh control (suara)
lebih besar dibanding persentase kepemilikan (investasi)-nya. Atau dengan kata
lain, investasi sedikit pada perusahaan namun mendapat hak voting yang lebih
besar.
4. Struktur Kepemilikan dan Mekanisme Pengendalian
Menurut Grosfeld dan Hashi, (2003) menyatakan bahwa struktur kepemilikan
perusahaan, derajat kepemilikan dan identitas pemegang saham mayoritas memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap corporate governance dan kinerja perusahaan.
Mekanisme corporate Governance merupakan suatu aturan main, prosedur dan
hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang
melakukan control/pengawasan terhadap keputusan tersebut. Mekanisme
governance diarahkan untuk menjamin dan mengawasi berjalannya sistem
governance dalam sebuah organisasi (Walsh dan Seward, 1990). Walsh dan Seward
(1990) menyatakan bahwa terdapat 2 mekanisme untuk membantu menyamakan
perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer dalam rangka
penerapan GCG, yaitu mekanisme pengendalian internal perusahaan dan
mekanisme pengendalian eksternal berdasarkan pasar.
Mekanisme pengendalian internal adalah pengendalian perusahaan yang
dilakukan dengan membuat seperangkat aturan yang mengatur tentang mekanisme
bagi hasil, baik yang berupa keuntungan, return maupun risiko – risiko yang

7
disetujui oleh principal dan agen. Mekanisme pengendalian eksternal adalah
pengendalian perusahaan yang dilakukan oleh pasar.
Menurut teori pasar untuk pengendalian perusahaan (market for corporate
control), pada saat diketahui bahwa manajemen berperilaku menguntungkan diri
sendiri, kinerja perusahaan akan menurun yang direflesikan oleh nilai saham
perusahaan. Pada kondisi tersebut, kelompok manajer lain akan menggantikan
manajer yang sedang memegang jabatan. Dengan demikian bekerjanya market for
corporate bias menghambat tindakan menguntungkan manajer sendiri (Jensen dan
Meckling, 1976).
5. Struktur Kepemilikan di Asia, Asia Tenggara, dan Indonesia
a. Struktur Kepemilikan di Asia
Di kawasan Asia, pada umumnya pemisahan antara kepemilikan dan
kepengelolaan perusahaan tidak terlalu berkembang. Bisnis lebih bersifat
kekeluargaan sehingga kelompok-kelompok usaha besar yang berkembang
selalu dikendalikan oleh anggota keluarga dari hubungan darah atau hubungan
perkawinan. Hal tersebut sangat terasa dalam sistem Keiretsu di Jepang, Chebol
di Korea, dan Konglomerasi di Indonesia.
Dalam sistem Anglo-Saxon, pemisahan antara pemilik dan pengelola
perusahaan umumnya cukup tegas.Pemilik modal menyerahkan sepenuhnya
pengelolaan perusahaan kepada para professional. Hal tersebut bisa terjadi
karena adanya dukungan sistem pasar modal yang kuat sehingga kepemilikan
perusahaan bisa dijualbelikan dengan baik.
Dalam hal ini, kepemilikan perusahaan bisa saja terjadi secara anonym
lewat pembelian kepemilikan perusahaan lewat mekanisme pasa modal.
Umumnya, para pemilik modal ini memiliki suara dalam Rapat Umum
Pemegang Saham. Para pemilik modal dikelompokkan dalam pemilik modal
besar (blockholder) atau pemilik modal kecil (ritel). Pemilik modal besar
memiliki hak suara cukup besar serta posisi lemah dalam menyuarakan
kepentingan. Bahkan, banyak diantara mereka yang merasa tidak memiliki
insentif untuk menyuarakan kepentingan. Namun, dalam perusahaan dikenal
sebagai “komisaris independen” yang bertugas melindungi kepentingan
pemegang saham minoritas.

8
Di Korea, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, kontrol keluarga terhadap
perusahaan begitu tinggi. Kontrol para pemilik perusahaan dilakukan melalui
struktur piramida dan kepemilikan silang diantara beberapa perusahaan. Model
ini nampaknya sangat umum terjadi di semua negara di kawasan Asia Tenggara.
Jadi pada dasarnya, pemisahan antara pemilik dan pengelola sangat jarang
terjadi di kawasan tersebut. Ditambah lagi, pemisahan antara kontrol dan
manajerial juga jarang terjadi karena para pemilik menguasai hak suara dengan
model kepemilikan silang yang dipertahankan untuk mempertahankan posisi
suara.
b. Struktur Kepemilikan di Asia Tenggara
Dalam perkembangan kapitalisme industrial berikutnya, ternyata yang
lebih menjadi masalah bukan lagi masalah keagenan tipe pertama, melainkan
tipe kedua. Dalam kasus di berbagai Negara di kawasan Asia Tenggara,
kepemilikan biasanya memiliki ciriciri:
1) Saham mayoritas umumnya dipegang di tangan keluarga dan Negara.
2) Pemegang saham pengontrol memiliki hak suara (control right) yang
melebihi kepemilikan (cash flow right) karena sistem kepemilikan yang
bersifat pyramidal, atau karena mereka menempatkan para manajer dari
anggota keluarga di perusahaan-perusahaan yang di kontrolnya.
c. Struktur Kepemilikan di Indonesia
Peraturan perundang-undangan Indonesia adalah peraturan berdasarkan
civil law. Artinya, hukum dijalankan berdasarkan aturan-aturan yang telah
dibuat. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perusahaan adalah
Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-
Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan
Peraturan Bapepam LK sebagai otoritas pengawas pasar modal bagi perusahaan
terbuka No. 8 Tahun 1995. UU PT menyebutkan bahwa organ perusahaan terdiri
dari Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Direksi, dan Dewan
Komisaris.RUPS memiliki kekuasaan tertinggi dalam pengambilan keputusan di
perusahaan, misal untuk hal penambahan modal, perubahan modal, pemilihan
eksekutif perusahaan, dan lain-lain.Struktur ini juga diterapkan dalam BUMN
berbentuk perseroan.

9
Informasi kepemilikan saham yang wajib dipublikasikan adalah
kepemilikan saham di atas 5% dan kepemilikan oleh eksekutif perusahaan.
Perusahaan tidak wajib mengungkapkan kepemilikan di bawah nilai tersebut
karena dianggap tidak material, kecuali untuk kepemilikan Direksi dan
Komisaris karena menunjukkan kontrol akan perusahaan. Di Indonesia, struktur
kepemilikan biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Saham mayoritas umumnya dipegang di tangan keluarga dan negara. Dalam
kasus perusahaan keluarga, pemisahan antara kontrol dan kepemilikan
sebenarnya tidak terjadi karena biasanya para pengelola perusahaan adalah
anggota keluarga dari pemilik perusahaan.
2) Pemegang saham pengontrol memiliki hak suara yang melebihi kepemilikan
karena sistem kepemilikan yang bersifat pyramidal, atau karena mereka
menempatkan para manajer dari anggota keluarga di perusahaan-perusahaan
yang dikontrolnya.
3) Kepemilikan bank secara signifikan tidak begitu lazim. Terdapat hubungan
antara struktur kepemilikan dengan pemilihan Dewan Pengawas.

10
DAFTAR PUSTAKA

Dominique, Lius Lady Inez. 2013. Praktik Good Corporate Governance Terkait
Struktur Kepemilikan Perusahaan di Indonesia.
Hudanusantara. 2010. Good Corporate Governance. Diakses dari:
http://hudanusantaraend.blogspot.com/2010/11/good-corporate-
governance_2805.html Pada 11 Maret 2019
Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial
Beharvior, Agency Cost and Owership Stucture. Journal of Financial
Economics 3. Hal. 305-360.
Kompasiana. 2018. Struktur Kepemilikan Perusahaan di Indonesia. Diakses dari:
https://www.kompasiana.com/inezlius/551ff41f81331198019dfb7a/praktik-
goodcorporate-governance-terkait-struktur-kepemilikan-perusahaan-di-
indonesia. Pada 11 Maret 2019
Prasetyantoko, A. 2008.Corporate Governance: Pendekatan Institusional. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Susanty, Aries. 2009. Pemilihan Model Organisasi Dan Terwujudnya Prinsip-
Prinsip Good Corporate Governance. J@TI Undip 4(1). Hlm. 81-82.
Sutojo, Siswanto. E. John Aldridge. 2008. Good Corporate Governance Tata
Kelola Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.

11