Anda di halaman 1dari 14

PEMBAHASAN

1. Pengertian Komite Audit


Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh Komisaris. Fungsi utamanya
adalah untuk membantu Komisaris dalam memenuhi tanggung jawab
pengawasannya. Komite audit biasanya berasal dari pihak independen yang tidak
memiliki hubungan dengan eksekutif serta berasal dari luar perusahaan, dan
dipimpin oleh komisaris independen. Setiap tahun komite audit akan melakukan
pertemuan sebanyak tiga sampai empat kali untuk membahas mengenai hal yang
berkaitan dengan perincian pekerjaan audit termasuk besaran biaya audit, menerima
dan mendiskusikan rekomendasi Kantor Akuntan Publik (KAP) yang memerlukan
pengawasan dan tindakan lebih lanjut. Komite audit juga dapat merekomendasikan
penggantian KAP perusahaan kepada dewan komisaris.
Selain itu tugas komite audit adalah pemantauan manajemen risiko, sistem
pangendalian manajemen, audit internal dan kepatuhan terhadap Corporate
Governance. Peran dan tanggung jawab komite audit akan dituangkan dalam
piagam komite audit (audit committee charter) dan harus memperoleh persetujuan
komisaris dan ditinjau ulang secara regular.
Indonesia mewajibkan perusahaan membentuk komite audit dan tercantum
dalam pedoman Corporate Governance yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa
keuangan, dan juga tercantum dalam Code of Good Corporate Governance yang
disusun oleh Komite Nasional Korporat Governance. Biasanya komite audit
diangkat untuk jangka waktu tiga tahun dan dapat di perpanjang pada akhir masa
jabatan. Agar pelaksanaan tugas komite audit berjalan lancar maka dibentuk ikatan
formal dan pengelolaan, secara professional yang dituangkan dalam piagam komite
audit (audit committee charter) yang disetujui oleh dewan komisaris. Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55/Pojk.04/2015 Tentang Pembentukan dan
Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit menyatakan Komite Audit adalah
komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris dalam
membantu melaksanakan tugas dan fungsi Dewan Komisaris.
Dalam menjalankan fungsinya, Komite Audit memiliki tugas dan tanggung
jawab paling sedikit meliputi:

1
a. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten
atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain laporan
keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi keuangan
Emiten atau Perusahaan Publik;
b. Melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan
yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. Memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara
manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan
Akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang lingkup penugasan, dan
imbalan jasa;
e. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor internal;
f. Melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang
dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki
fungsi pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. Menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. Menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan
adanya potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik; dan
i. Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik.
Dalam melaksanakan tugasnya, Komite Audit mempunyai wewenang
sebagai berikut:
a. Mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik
tentang karyawan, dana, aset, dan sumber daya perusahaan yang diperlukan;
b. Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang
menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan Akuntan terkait tugas
dan tanggung jawab Komite Audit;
c. Melibatkan pihak independen di luar anggota Komite Audit yang diperlukan
untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan); dan
d. Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.

2
Menumt Komite Nasional Kebijakan Governance Komite Audit bertugas
membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa:
a. Laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum,
b. Struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik,
c. Pelaksanaan audit internal maupun eksterna| dilaksanakan sesuai dengan standar
audit yang berlaku, dan tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh
manajemen;
d. Komite Audit memproses calon auditor eksternal termasuk imbalan jasanya
untuk disampaikan kepada Dewan Komisaris;
e. Jumlah anggota Komite Audit harus disesuaikan dengan kompleksitas
Perusahaan dengan tetap memperhatikan efektifitas dalam pengambilan
keputusan.
Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, demikian juga
perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan
mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh
masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap
kelestarian lingkungan, Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen dan
anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi dari luar
perusahaan. Salah seorang anggota memiliki latar belakang dan kemampuan
akuntasi dan atau keuangan.
2. Komite Lainnya
a. Komite Remunerasi dan Nominasi
Di Indonesia Komite Nominasi dan Remunerasi adaIah Komite Dewan
Komisaris Perusahaan yang dubentuk untuk memenuhi Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan no. 34/POJK.O4/2014 tentang Komite Nominasi dah Remunerasi
Emiten atau Perusahaan Publik yang diterbitkan pada 8 Desember 2014 (POJK no.
34/2014). Menurut POJK no 34 POJK.O4/2014 Tanggung Jawab
Komite Nominasi dan Remunerasi melakukan evaluasi serta menyusun dan
memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai system kebijakan
remunerasi dan nominasi bagi Komisaris, Direksi, Pejabat eksekutif secara
menyeluruh. Dengan demikian, tugas utama komite remunerasi adalah membantu

3
Board of Directors dalam merancang paket kebijakaan balas jasa Directors dan
eksekutif senior yang memandai dan kompetitif, namun masih dalam batas
kewajaran. Dengan demikian, diharapkan kinerja perusahaan serta komisaris dan
eksekutif meningkat. Sedangkan komite nominasi bertanggung jawab mencari dan
menominasi kandidat yang memenuhi syarat untuk menduduki jabatan Presiden
Direktur, Direktur dan manajer senior. Secara periodik melakukan evaluasi kinerja
Direktur dan merencanakan penggantian jika diperlukan.
Komite Nominasi dan Remunerasi
1) Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi
serta sistem remunerasinya;
2) Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan mengusulkan
besaran remunerasinya. Dewan Komisaris dapat mengajukan calon tersebut dan
remunerasinya untuk memperoleh keputusan RUPS dengan cara sesuai
ketentuan Anggaran Dasar;
3) Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara,
perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat
luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian
lingkungan, Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris
Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi
dari luar perusahaan;
4) Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya dilaporkan
dalam RUPS.
b. Komite Kebijakan Risiko
Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
mengkaji sistem manajemen risko yang disusun oleh Direksi serta menilai toleransi
risiko yang dapat diambil oleh perusahaan. Anggota Komite Kebijakan Risiko
terdiri dari anggota Dewan Koinisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk
pelaku profesi dari luar perusahaan.
c. Komite Kebijakan Corporate Governance

4
Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang disusun oleh
Direksi serta menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang bertalian dengan
etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).
Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota
Dewan Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari
luar perusahaan; Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate Governance
dapat digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi.
3. Prinsip-Prinsip GCG Komite Audit
Komite audit memegang peranan yang cukup penting dalam mewujudkan
good corporate governance (GCG) karena merupakan “mata” dan “telinga” dewan
komisaris dalam rangka mengawasi jalannya perusahaan. Keberadaan komite audit
yang efektif merupakan salah satu aspek penilaian dalam implementasi GCG.
Untuk mewujudkan prinsip GCG di suatu perusahaan publik, maka prinsip
independensi (independency), transparansi dan pengungkapan (transparency and
disclosure), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility),
serta kewajaran (fairness) harus menjadi landasan utama bagi aktivitas komite
audit. Pelaksanaan prinsip-prinsip GCG dalam aktivitas komite audit akan
dijelaskan lebih lanjut dalam bagian berikut.
a. Prinsip Independensi
Komite audit diharapkan dapat bersikap independen terhadap kepentingan
pemegang saham mayoritas maupun minoritas. Selain itu, anggota komite audit
seharusnya tidak memiliki hubungan bisnis apa pun dengan perusahaan maupun
hubungan kekeluargaan dengan anggota direksi dan komisaris perusahaan,
sehingga terhindar dari benturan kepentingan. Oleh karena itu, nama-nama anggota
komite audit (terutama di perusahaan publik) hendaknya diumumkan ke masyarakat
atau publik sebagai wujud akuntabilitas terhadap sikap independensi mereka. Hal
ini penting agar masyarakat dapat melakukan kontrol sosial serta penilaian terhadap
para anggota komite audit tersebut.
b. Prinsip Transparansi
Prinsip ini ditunjukkan melalui piagam komite audit (audit committee
charter), program kerja tahunan, serta rapat komite audit secara periodik yang

5
didokumentasikan dalam notulen rapat. Komite audit hendaknya membuat laporan
secara berkala kepada komisaris tentang pencapaian kinerjanya sebagai wujud
pengungkapan (disclosure). Diharapkan agar laporan tersebut dituangkan dalam
laporan tahunan (annual report) perusahaan yang dipublikasikan kepada publik.
c. Prinsip Akuntabilitas
Prinsip ini ditunjukkan oleh frekuensi pertemuan dan tingkat kehadiran
anggota komite audit. Selain itu, komite audit seharusnya memiliki kapabilitas,
kompetensi, dan pengalaman di bidang audit serta proses bisnis perusahaan agar
dapat bekerja secara profesional.
d. Prinsip Pertanggungjawaban
Prinsip ini ditunjukkan oleh aktivitas komite audit yang dijalankan sesuai
dengan peraturan atau ketentuan yang berlaku. Selain itu, kinerja komite audit
hendaknya dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada publik, selain
kepada dewan komisaris
e. Prinsip Kewajaran
Prinsip ini ditunjukkan oleh sikap komite audit dalam pengambilan keputusan
yang didasarkan atas sikap adil (fair) dan objektif terhadap semua pihak.
Mengingat sangat pentingnya aspek manajemen risiko (risk management)
dalam pengelolaan perusahaan, maka komite audit diharapkan dapat melakukan
identifikasi risiko potensial (potential risk) yang dihadapi perusahaan serta
alternatifpemecahannya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah bahwa komite
audit juga berkewajiban untuk menjaga tingkat kepatuhan (compliance) perusahaan
terhadap kebijakan atau peraturan yang berlaku.
4. Komite Audit di Indonesia
Perkembangan praktik komite audit di Indonesia dapat dibedakan menjadi
tiga sesuai dengan jenis atau karakteristik perusahaan yang ada, seperti perbankan,
Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan perusahaan publik.
a. Komite Audit Perbankan
Seperti halnya komite audit di perusahaan, komite audit perbankan dapat
dipandang sebagai wujud mekanisme pengendalian yang diharapkan dapat
mengoptimalkan fungsi pengawasan. Tetapi menurut para pengamat ekonomi atau
perbankan, pada praktiknya, sebagian besar komite audit perbankan ternyata tidak

6
berjalan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya bank yang
dilikuidasi karena pailit sehingga usahanya terpaksa harus dibekukan. Hal ini
membuktikan bahwa aspek pengendalian di perbankan di Indonesia sangatlah
lemah. Salah satu penyebab timbulnya kebangkrutan bank tersebut adalah belum
diterapkannya good corporate governance serta kinerja komite audit perbankan
yang belum efektif. Bank Indonesia akhirnya mengeluarkan Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No.8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate
Governance bagi Bank-bank Umum. Pasal 12 ayat (1) dari peraturan tersebut
menyebutkan bahwa dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan
tanggung jawabnya, dewan komisaris wajib membentuk paling tidak komite audit,
komite pemantau risiko, serta komite remunerasi dan nominasi. Sementara, Pasal
38 dari peraturan itu menyebutkan bahwa struktur keanggotaan komite audit
setidaknya terdiri atas:
1) Seorang komisaris independen (yang sekaligus menjabat sebagai ketua)
2) Seseorang yang berasal dari pihak independen dan memiliki keahlian di bidang
keuangan atau akuntansi
3) Seseorang yang berasal dari pihak independen dan memiliki keahlian di bidang
hukum atau perbankan.
Jumlah komisaris independen dan pihak independen yang menjadi anggota
komite audit paling tidak merupakan 51% dari jumlah anggota komite audit.
Anggota komite audit wajib memiliki integritas, ahlak, dan moral yang baik.
b. Komite Audit di Badan Usaha Milik Negara
Ketentuan mengenai komite audit BUMN diatur dalam Undang-Undang No.
19 Tahun 2003 tanggal 19 Juni 2003. Pasal 70 UU tersebut menyebutkan bahwa
komisaris dan dewan pengawas BUMN wajib membentuk komite audit yang
bekerja secara kolektif dan berfungsi untuk membantu komisaris dan dewan
pengawas dalam melaksanakan tugasnya. Komite audit tersebut dipimpin oleh
seorang ketua yang bertanggung jawab kepada komisaris atau dewan pengawas.
Sementara, keterangan lebih rinci tentang komite audit diatur dalam Keputusan
Menteri Badan Usaha Milik Negara No. 103 Tahun 2002, yang merupakan revisi
terhadap Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN No.KEP-133/M-

7
PBUMN/1999 Tanggal 8 Maret 1999 tentang Pembentukan Komite Audit bagi
BUMN.

Pasal 14 ayat (1) dalam Keputusan Menteri BUMN No.Kep-117/M-


MBU/2002 mengenai Penerapan Praktik Good Corporate Governance pada BUMN
menyebutkan bahwa komisaris atau dewan pengawas BUMN yang harus
membentuk komite audit mencakup:
1) BUMN yang mempunyai kegiatan usaha di bidang asuransi dan jasa keuangan
lainnya
2) BUMN yang menjadi perusahaan terbuka
3) BUMN yang berada dalam persiapan privatisasi
4) BUMN yang asetnya bernilai paling tidak Rp 1.000.000.000.000,00 (satu triliun
rupiah).
Untuk BUMN selain yang dimaksudkan dalam ayat 1 tersebut, komisaris atau
dewan pengawasnya juga dapat membentuk komite audit yang bekerja secara
kolektif dan berfungsi membantu mereka dalam melaksanakan tugasnya. Lebih
lanjut lagi, ayat 5 menyebutkan bahwa komite audit tersebut bertugas untuk
membantu komisaris atau dewan pengawas dalam memastikan efektivitas sistem
pengendalian internal serta efektivitas pelaksanaan tugas auditor eksternal maupun
internal.
Komite audit di BUMN yang sudah menjadi perusahaan terbuka (go public)
diatur dengan Keputusan Menteri BUMN No.KEP-103/MBU/ZOOZ Tanggal 4
Juni 2002 tentang Pembentukan Komite Audit bagi BUMN. Keputusan tersebut
merupakan revisi dari Keputusan Menteri Negara BUMN No.KEP-l33/M-
PBUMN/1999 Tanggal 8 Maret 1999 yang mengatur mengenai hal yang sama.
Pasal 3 ayat l dalam Keputusan Menteri BUMN tersebut menyatakan bahwa tugas
komite audit memiliki lima tugas sebagai berikut.
1) Menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh Satuan
Pengawasan Internal (SPI) maupun auditor eksternal sehingga pelaksanaan dan
pelaporan yang tidak memenuhi standar dapat dicegah.
2) Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian
manajemen perusahaan serta pelaksanaannya.

8
3) Memastikan bahwa telah terdapat prosedur penelaahan yang memuaskan
terhadap informasi yang dikeluarkan oleh BUMN kepada pemegang saham,
termasuk brosur, laporan keuangan berkala, proyeksi atau ramalan, dan
informasi keuangan lainnya.
4) Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian komisaris atau dewan
pengawas.
5) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh komisaris atau dewan pengawas
sepanjang masih berada dalam lingkup tugas dan kewajiban komisaris atau
dewan pengawas berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Komite audit bertugas untuk memberikan pendapat profesional dan
independen kepada dewan komisaris mengenai laporan atau hal-hal lain yang
disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris, serta untuk mengidentiflkasikan
hal-hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris. Komite audit diharapkan
untuk menaati seluruh ketentuan yang berlaku sebagaimana ditetapkan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal - Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Bank Indonesia,
Bursa Efek Indonesia (BEI), maupun keputusan menteri BUMN bagi BUMN yang
sudah menjadi perusahaan terbuka (go public).
Selain itu, komite audit juga dapat menilai efektivitas pengendalian internal
(internal control), termasuk fungsi auditor internal maupun Satuan Pengawasan
Internal (SPI), sehingga dapat memberikan rekomendasi tentang peningkatan
efektivitas auditor internal guna meningkatkan sistem pengendalian internal
perusahaan. Komite audit di BUMN dapat berperan lebih aktif apabila ternyata
auditor internal BUMN tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Komite
audit juga dapat melakukan sinergi dengan auditor internal, seperti melakukan audit
bersama (joint audit) untuk aspek-aspek strategis yang memerlukan pendalaman
audit lebih lanjut.
c. Komite Audit di Perusahaan Publik
Kehadiran komite audit di perusahaan publik telah mendapat respon yang
cukup positif dari berbagai pihak, antara lain pemerintah, BaPepam-LK, Bursa Efek
Indonesia, para investor, profesi penasihat hukum (advokat), profesi akuntan, serta
perusahaan penilai independen (independent appraisal company). Surat Edaran dari
Direksi PT Bursa Efek Jakarta No.SE-008/BEI/12-2001 Tanggal 7 Desember 2001
perihal keanggotaan komite audit disebutkan bahwa:

9
1) Komite audit sekurang-kurangnya terdiri atas 3 orang, termasuk ketua komite
audit
2) Anggota komite audit yang berasal dari komisaris maksimum hanya 1 orang.
Anggota komite audit yang berasal dari komisaris tersebut harus merupakan
komisaris independen perusahaan tercatat yang sekaligus menjabat sebagai
ketua komite audit
3) Anggota komite audit lainnya berasal dari pihak eksternal yang independen.
Yang dimaksud dengan pihak eksternal adalah pihak di luar perusahaan tercatat
yang bukan merupakan komisaris, direksi, maupun karyawan dari perusahaan
tercatat tersebut. Sedangkan, yang dimaksud dengan pihak independen adalah
pihak di luar perusahaan tercatat yang tidak memiliki hubungan usaha dan
hubungan afiliasi dengan perusahaan tercatat tersebut maupun dengan
komisaris, direksi, serta pemegang saham utamanya, serta mampu memberikan
pendapat profesional secara bebas sesuai dengan etika profesionalnya dengan
tidak memihak kepada kepentingan siapapun.
Ketentuan mengenai keanggotaan komite audit juga diatur dalam Surat
Edaran Bapepam No.SE-03/PM/2000 Tanggal 5 Mei 2000 dan Keputusan Direksi
Bursa Efek Jakarta (BEJ) No. Kep-315/BEJIO6/2000. Dalam surat dan keputusan
tersebut dinyatakan bahwa komite audit sekurang-kurangnya terdiri atas tiga orang
anggota, seorang di antaranya merupakan komisaris independen yang sekaligus
merangkap sebagai ketua komite audit, sedangkan anggota lainnya merupakan
pihak eksternal yang independen, di mana setidaknya satu di antaranya memiliki
kemampuan di bidang akuntansi dan/atau keuangan
5. Komunikasi Komite Audit
Komite audit hendaknya dapat melakukan komunikasi secara efektif dengan
komisaris, direksi, maupun auditor internal dan eksternal. Salah satu fungsi komite
audit adalah menjembatani antara pemegang saham dan dewan komisaris dengan
kegiatan pengendalian yang diselenggarakan oleh manajemen serta auditor internal
dan eksternal. Komite audit pada umumnya memiliki akses langsung ke setiap
unsur pengendalian dalam perusahaan.
a. Komunikasi Komite Audit dengan Dewan Komisaris

10
Salah satu fungsi pokok komite audit adalah membantu tugas komisaris
dalam aspek pengendalian perusahaan. Dalam rapat internal yang diselenggarakan
secara rutin, komite audit melaporkan hasil tugas yang dibebankan oleh komisaris
dalam bentuk laporan berkala. Selain itu, apabila ditugaskan secara khusus oleh
komisaris, maka komite audit akan membuat laporan khusus yang ditujukan kepada
komisaris.
b. Komunikasi Komite Audit dengan Manaiemen
Komunikasi antara komite audit dengan manajemen memegang peranan yang
cukup penting dalam rangka meningkatkan pengendalian perusahaan. Menurut
Institute of Internal Auditors Research Foundation, dalam rangka melaksanakan
tanggung jawabnya, komite audit memerlukan interaksi yang signifikan dan efektif
dengan manajemen. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa kehadiran manajemen
dalam tiap rapat merupakan suatu keharusan. Yang baik adalah jika manajemen
berpartisipasi secara aktif dalam rapat komite. Selain itu, komite audit juga
bertanggung jawab untuk melaporkan aktivitas manajemen yang krusial bagi
komite tersebut.
c. Komunikasi Komite Audit dengan Auditor Internal
Komunikasi antara auditor internal dengan komite audit antara lain diatur
dalam Pernyataan Standar Auditing (Statement on Auditing Standard-SAS) No.61.
Dalam standar tersebut disebutkan 8 hal yang perlu dikomunikasikan oleh auditor
internal dengan komite audit, yaitu:
1) Pertanggungjawaban atas struktur kendali internal clan bahwa laporan keuangan
bebas dari kesalahan material
2) Seleksi kebijakan akuntansi
3) Estimasi akuntansi
4) Dampak penyesuaian dari hasil audit
5) Pertanggungjawaban data nonkeuangan yang disepakati bersama
6) Ketidaksepakatan antara manajemen dan auditor internal
7) Diskusi pemilihan auditor eksternal
8) Masalah proses akuntansi, seperti keterlambatan penyampaian laporan atau
batas waktu laporan yang tidak masuk akal.
d. Komunikasi Komite Audit dengan Auditor Eksternal

11
Salah satu tanggung jawab komite audit adalah menilai laporan audit dari
auditor eksternal. Kedudukan komite audit yang merupakan kepanjangan tangan
dari dewan komisaris dan kompetensi yang dimilikinya diharapkan dapat
mengoptimalkan fungsi auditor eksternal bagi perusahaan. Dalam Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP), Standar Auditing No.380 mengatur mengenai
komunikasi antara akuntan publik (auditor eksternal) dengan komite audit.
Komunikasi antara komite audit dengan auditor'eksternal dapat berbentuk lisan
maupun tertulis. Masalah yang dapat dikomunikasikan antara lain meliputi:
1) Tanggung jawab auditor berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia
2) Kebijakan akuntansi yang signifikan
3) Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi
4) Penyesuaian audit yang signiflkan
5) Informasi lain dalam dokumen yang berisi laporan keuangan auditan
6) Ketidaksepakatan dengan manajemen
7) Konsultansi dengan akuntan lain
8) Masalah besar yang dibicarakan dengan manajemen sebelum mengambil
keputusan untuk mempertahankan auditor
9) Kesulitan yang dijumpai dalam pelaksanaan audit.
6. Kasus di Indonesia PT Kereta Api Indonesia
a. Latar Belakang
Kasus PT KAI berawal dari perbedaan pandangan antara Manajemen dan
Komisaris, khususnya Ketua Komite Audit dimana Komisaris menolak menyetujui
dan menandatangani laporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal.
Komisaris meminta untuk dilakukan audit ulang agar laporan keuangan dapat
disajikan secara transparan dan sesuai dengan fakta yang ada. Perbedaan tersebut
bersumber pada perbedaan mengenai (1) masalah piutang PPN; (2) masalah Beban
Ditangguhkan yang berasal dari penurunan nilai persediaan; (3) masalah persediaan
dalam perjalanan; (4) masalah uang muka gaji; dan (5) masalah Bantuan
Pemerintah yang Belum Ditentukan Statusnya (BPYDBS) dan Penyertaan Modal
Negara (PMN).
b. Penyebab

12
Beberapa hal yang direfentifikasi berperan dalam masalah pada laporan
keuangan PT KAI Indonesia antara lain:
1) Auditor internal tidak berperan aktif dalam proses audit, yang berperan hanya
auditor Eksternal.
2) Komite audit tidak ikut serta dalam proses penunjukkan auditor sehingga tidak
terlibat proses audit.
3) Manajemen (tidak termasuk auditor eksternal) tidak melaporkan kepada komite
audit dan komite audit tidak menanyakannya.
4) Adanya ketidakyakinan manajemen akan laporan keuangan yang telah disusun,
sehingga ketika komite audit mempertanyakan manajemen merasa tidak yakin.
Intinya permasalahan ini didasari oleh tidak berjalannya fungsi check and
balances yang merupakan fungsi substantif dalam perusahaan. Selain itu, rumitnya
laporan keuangan PT KAI menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya
kasus PT KAI. Hal ini karena terdapat ratusan stasiun, puluhan depo dan gudang
yang seluruhnya memiliki laporan keuangan yang terpisah, sehingga yang
berpotensi menyebabkan masalah maupun perbedaan pendapat di kemudian hari.
Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa baru sebagian kecil proses akuntansi
dilaksanakan dengan komputer.
c. Solusi
Berikut ini beberapa solusi dan rekomendasi yang disarankan kepada PT KAI
untuk memperbaiki kondisi yang telah terjadi:
1) Komite Audit tidak memberikan second judge atas opini Auditor Eksternal,
karena opini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Auditor Eksternal.
2) Harus ada upaya untuk membenarkan kesalahan tahun-tahun lalu, karena
konsistensi yang salah tidak boleh dipertahankan.
3) Komite Audit tidak berbicara kepada publik, karena esensinya Komite Audit
adalah organ Dewan Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit
harus disampaikan kepada Dewan Komisaris.
4) Manajemen menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat dan full
disclosure.
5) Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk
membangun budaya pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi,

13
sehingga pengawasan merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan
individu dalam organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Asri Dwija Putri, I.G.A.M dan I.G.K. Agung Ulupui. 2017. Pengantar Corporate
Governance. Denpasar: CV. Sastra Utama.
Iswadi Hindri. 2015. Kasus Audit Umum PT KAI. https://www.kompasiana.com.
(Diakses tanggal 15 April 2019)
. 2018. Good Corporate Governance Komite Audit.
https://www.campuranpedia.com/2018/07/komite-audit.html. (Diakses tanggal 15
April 2019)

14