Anda di halaman 1dari 8

KEPERAWATAN DASAR 2

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Debora Kembuan

17061041

Kelas D

UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE

FAKULTAS KEPERAWATAN
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP

PPemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis pemeriksaaan penyaring
untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap
suatu penyakit. Disamping itu juga pemeriksaan ini sering dilakukan untuk melihat kemajuan atau
respon terapi pada pasien yang menderita suatu penyakit infeksi. Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri
dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu :

1. Hemoglobin

2. Hematokrit

3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)

4. Trombosit (platelet)

5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)

6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)

7. Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)

8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)

9. Platelet Disribution Width (PDW)

10. Red Cell Distribution Width (RDW)

Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada setiap pasien yang datang ke suatu Rumah
Sakit yang disertai dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar nilai normal biasanya
dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik terhadap gangguan tersebut, sehingga diagnosa dan
terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang dibutuhkan suatu laboratorium untuk
melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 2 jam. Hemoglobin Hemoglobin adalah molekul protein
pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan
tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang
terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Dalam menentukan normal atau tidaknya
kadar hemoglobin seseorang kita harus memperhatikan faktor umur, walaupun hal ini berbeda-beda di
tiap laboratorium klinik, yaitu :

• Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl

• Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl

• Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl


• Anak anak : 11-13 gram/dl

• Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl

• Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl

• Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl

• Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl .

Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab
anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang,
pengobatan kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus,dll). Sedangkan kadar hemoglobin yang
tinggi dapat dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit
seperti radang paru paru, tumor, preeklampsi, hemokonsentrasi, dll.

Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah dalam 100 ml
darah yang dinyatakan dalam persent (%). Nilai normal hematokrit untuk pria berkisar 40,7% - 50,3%
sedangkan untuk wanita berkisar 36,1% - 44,3%. Seperti telah ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin
berbanding lurus dengan kadar hematokrit, sehingga peningkatan dan penurunan hematokrit terjadi
pada penyakit- penyakit yang sama.

Leukosit (White Blood Cell / WBC) Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan dalam
memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses metabolik toksin, dll. Nilai normal
leukosit berkisar 4.000 - 10.000 sel/ul darah. Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada kasus
penyakit akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll, sedangkan peningkatannya bisa ditemukan
pada penyakit infeksi bakteri, penyakit inflamasi kronis, perdarahan akut, leukemia, gagal ginjal, dll
Trombosit (platelet) Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses
pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam morfologi trombosit antara
lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping (trombosit bergerombol). Nilai normal
trombosit berkisar antara 150.000 - 400.000 sel/ul darah. Trombosit yang tinggi disebut trombositosis
dan sebagian orang biasanya tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah disebut trombositopenia, ini bisa
ditemukan pada kasus demam berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP), supresi
sumsum tulang, dll.

Eritrosit (Red Blood Cell / RBC) Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang paling
banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke
seluruh tubuh dan membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke paru-paru.Nilai normal eritrosit pada
pria berkisar 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah, sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta - 5,4 juta sel/ul
darah.Eritrosit yang tinggi bisa ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif
kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan eritrosit yang rendah bisa
ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit sistemik seperti kanker dan lupus, dll Indeks
Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia
(Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah).

Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain : MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit
Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl) MCV =
Hematokrit Eritrosit x 10 Nilai normal = 82-92 fl MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin
Eritrosit Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg) MCH =
Hemoglobin Eritrosit x 10 Nilai normal = 27-31 pg MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per
eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah “gr/dl”) MCHC = Hemoglobin
Hematokrit x 100 Nilai normal = 32-37 % Laju Endap Darah Laju Endap Darah atau Erithrocyte
Sedimentation Rate (ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku,
dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses
inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid,
malignansi, dan kondisi.

stress fisiologis (misalnya kehamilan). International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH)
merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen dalam pemeriksaan LED, hal ini
dikarenakan panjang pipet Westergreen bisa dua kali panjang pipet Wintrobe sehingga hasil LED yang
sangat tinggi masih terdeteksi. Nilai normal LED pada metode Westergreen : Laki-laki : 0– 15 mm/jam,
Perempuan : 0 – 20 mm/jam Hitung Jenis

Leukosit (Diff Count) Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit.
Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan
patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit
memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit
hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari
masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total dan hasilnya dinyatakan
dalam sel/μl. Nilai normal : Eosinof il 1-3%, Netrofil 55-70%, Limfosit 20-40%, Monosit 2-8% Platelet
Disribution Width (PDW) PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW tinggi dapat
ditemukan pada sickle cell disease dan trombositosis, sedangkan kadar PDW yang rendah dapat
menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang kecil.

Red Cell Distribution Width (RDW)RDW merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW yang
tinggi dapat mengindikasikan ukuran eritrosit yang heterogen, dan biasanya ditemukan pada anemia
defisiensi besi, defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12, sedangkan jika didapat hasil RDW yang
rendah dapat menunjukan eritrosit yang mempunyai ukuran variasi yang kecil.

2. EKG
Elektrokardiografi merupakan alat yang sederhana, sangat berguna dan tersedia untuk mendiagnosa
kelainan jantung. EKG yang dilakukan segera setelah penderita tiba di rumah sakit dapat digunakan
untuk mengidentifikasi penderita yang memiliki resiko tinggi yang memerlukan penanganan
segera.Perubahan gambaran EKG pada fase akut stroke telah dilaporkan sejak tahun 1947. Sejak saat itu,
banyak penelitian yang mempublikasikan perubahan gambaran EKG, seperti aritmia, abnormalitas
hantaran dan repolarisasi pada penderita akut stroke (Khechinashvili dkk, 2002). Abnormalitas EKG
paling sering terjadi pada penderita perdarahan subarakhnoid, tetapi abnormalitas ini juga ditemukan
pada penderita stroke iskemik perdarahan intrakranial, trauma kapitis, prosedur bedah saraf, meningitis
akut, tumor intrakranial dan epilepsi (Mieghem dkk, 2004). Abnormalitas EKG yang paling sering
berhubungan dengan stroke adalah perpanjangan interval QT, dimana dijumpai pada 71 % penderita
perdarahan subarakhnoid, 64 % penderita perdarahan intraparenkim dan 38 % penderita stroke iskemik
(Familloni dkk, 2006). Pada beberapa studi stroke iskemik, prognostik yang terpenting dari parameter
EKG , khususnya perubahan ST segment dan perpanjangan interval QT telah dibuktikan. Namun, sedikit
penelitian pada dispersi QT dan dispersi QT corrected (QTc) (Familloni dkk, 2006). Dispersi QT adalah
perbedaan antara interval QT maksimal dan minimal pada EKG 12 sadapan yang merupakan marker
repolarisasi ventrikel yang heterogen (Lazar dkk, 2003). Studi yang telah dilakukan menunjukkan dispersi
QT merupakan prediktor outcome yang jelek pada berbagai penyakit jantung. Peningkatan dispersi QT
berhubungan dengan aritmia jantung dan kematian mendadak penderita infark miokard, hipertrofi
ventrikel kiri, gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan gagal ginjal tahap
akhir (Afsar dkk, 2003; Lazar dkk, 2008). Beberapa studi juga telah meneliti bermaknasi pengukuran
dispersi QT pada penderita stroke (Randell dkk, 1999; Eckardt dkk, 1999; Afsar dkk, 2003; Lazar dkk, 2003
). Menurut Jain dkk (2004), perubahan EKG yang paling sering dijumpai pada penderita perdarahan
subarakhnoid adalah prolongation interval QT, ST segmen elevasi atau depresi, gelombang T inverted
dan prevalensinyaberkisar antara 50-100%.

3.PEMERIKSAAN ELEKTROLIT PLASMA UNTUK MENDETEKSI GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN


TUBUH.

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Cairan tubuh
adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia
yang menghasilakn patikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan
dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan
didistribusikan ke seluruh bagian tubuh. Jumlah penderita ginjal di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar
150 ribu pasien. Jumlah penderita bisa dikurangi jika ilmu kedokteran bisa lebih efektif mencegah atau
menunda kerusakan tahap akhiran. Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh antara lain : umur, iklim, diet, stress, kondisi sakit. Seharusnya pemasukan air (intake)
seharusnya seimbang dengan pengeluaran air (output). Bila kesehatan baik, tubuh mempertahankan
sifat kenetralan elektriknya. Ini berarti bahwa ada suatu keseimbangan atau kesamaan antara kelompok
kation dan anion. Untuk mendeteksi adanya gangguan keseimbangan cairan tubuh dapat dilakukan
pemeriksaan elektrolit plasma yang meliputi pemeriksaan Na, K, CI dan pemeriksaan Ca. Pemeriksaan
elektrolit plasma tersebut menggunakan banyak metode dan cara. Baik secara konvensional maupun
menggunakan teknologi terbaru yang telah diotomatisasi dengan komputer. Apabila hasil pemeriksaan
dibawah maupun diatas batas nilai normal maka dapat dikatakan bahwa ada ketidak seimbangan
elektrolit plasma dan cairan pada tubuh.

4.PEMERIKSAAN LABORATORIUM BERKALA SEBAGAI DETEKSI DINI PENYAKIT KRONIS PADA LANSIA

Populasi lansia di dunia pada tahun 2002 diperkirakan sekitar 605 juta. Pada tahun 2025 jumlah populasi
lansia diperkirakan sebesar 1,2 miliar dan sebanyak 840 juta terdapat di negara yang sedang
berkembang. Menua merupakan suatu proses alamiah yang akan dialami oleh semua orang dan tak
seorangpun dapat menghindari. Peningkatan populasi lansia sedemikian besar dan harus ditunjang
dengan konsep proses menua yang sehat (healthy aging). Dengan konsep ini maka akan diperoleh
kualitas hidup lansia yang lebih baik. Healthy aging dapat dicapai dengan jalan peningkatan mutu
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pemeriksaan
laboratorium secara berkala merupakan salah satu cara untuk mencapai healthy aging. Untuk dapat
membuat keputusan atau memilih pemeriksaan laboratorium yang diperlukan maka perlu diketahui
permasalahan kesehatan yang dialami oleh lansia. Penilaian pertanda radang merupakan pemeriksaan
penyaring yang sangat bermanfaat untuk diagnosis dini berbagai penyakit kronis pada lansia.
Pemeriksaan laboratorium umum ini adalah sekumpulan pemeriksaan laboratorium rutin yang perlu
diperiksa pada pasien lansia untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang sering dijumpai pada pasien
lansia. Panel ini ditujukan untuk mereka yang berusia lebih dari 55 tahun yang belum diketahui adanya
gangguan/penyakit tertentu (terutama penyakit degeneratif) pada waktu sebelumnya. Jenis tes yang
termasuk dalam panel ini meliputi pemeriksaan hematologi rutin, urin rutin, feses rutin, glukosa puasa,
profil lipid, apo B, fungsi hati, fungsi ginjal, fungsi tiroid dan homosistein. Pemeriksaan hematologi rutin
meliputi pemeriksaan hemoglobin.

5. TERAPI OKSIGEN

Indikasi klinisnya: Henti jantung paru,Gagal nafas, Gagal jantung atau ami,Syok,Meningkatnya
kebutuhan o2 (luka bakar, infeksi berat, multiple trauma), Keracunan co,Post operasi, dll.Metode &
peralatan min. yang harus diperhatikan pada therapi O2: Mengatur % fraksi O2 (% FiO2),Mencegah
akumulasi kelebihan CO2 , Resistensi minimal untuk pernafasan, Efesiensi & ekonomis dalam
penggunanan 02, Diterima pasien Pa02 kurang dari 60 mmHg. Perkiraan konsentrasi oksigen pada alat
masker semi rigid Kecepatan aliran02 % Fi02 yang pasti 4 1/mnt 0,35 6 1/mnt 0,50 8 1/mnt 0,55 10
1/mnt 0,60 12 l/mnt 0,64 15 l/mnt 0,70.

6. CT SCAN

Deskripsi CT scan adalah test diagnostik yang memiliki informasi yang sangat tinggi. Tujuan utama
penggunaan ct scan adalah mendeteksi perdarahan intra cranial, lesi yang memenuhi rongga otak (space
occupying lesions/ SOL), edema serebral dan adanya perubahan struktur otak. Selain itu Ct scan juga
dapat digunakan dalam mengidentikasi infark , hidrosefalus dan atrofi otak. Bagian basilar dan posterior
tidak begitu baik diperlihatkan oleh Ct Scan. Ct Scan mulai dipergunakan sejak tahun 1970 dalam alat
bantu dalam proses diagnosa dan pengobatan pada pasien neurologis. Gambaran Ct Scan adalah hasil
rekonstruksi komputer terhadap gambar X-Ray. Gambaran dari berbagai lapisan secara multiple
dilakukan dengan cara mengukur densitas dari substansi yang dilalui oleh sinar X. Patofisiologi Prinsip
kerja Pada alat konvensional ube sinar X berputar secara fisik dalam bentuk sirkuler. Sedangkan pada alat
elektron beam tomography (EBT) yang berputar adalah aliran elektronnya saja. Data yang dihasilkan
akan memperlihatkan densitas dari berbagai lapisan.

7. MRI

MRI adalah sebuah metode pemeriksaan diagnoatik yang mulai digunakan sejak tahun 1980. gambar
yang dihasilkan juga merupakan hasil rekonstruksi komputer. Namun berbeda dengan CT-Scan MRI tidak
menggunakan radiasi ion melainkan menggunakan medan magnet dan radiofrekuensi. MRI merupakan
studi pilihan bagi evaluasi pada sebagian besar lesi pada otak dan spinal. MRI melakukan scan terhadap
nukleus hidrogen yang merupakan atom terbanyak ditubuh manusia.

8. PEMERIKSAAN KREATIN

Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir
semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu
senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine
diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin
kinase, CK ). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi
kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin. Jumlah kreatinin yang
dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau
tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian
umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan
kerusakan masif pada otot.

9. PEMERIKSAAN URINE RUTIN (URINALISIS )

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran
kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan
penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status
kesehatan umum.
10. ULTRASONOGRAFI

Ultrasonografi (ultrasound ) atau USG adalah metode diagnostik yang menggunakan resonansi
gelombang suara frekuensi tinggi untuk membentuk gambar jaringan dan organ tubuh. Ultrasonografi
dikembangkan dari teknologi SONAR yang mulai digunakan pada Perang Dunia II untuk navigasi laut.
Pada 1950-an, para ilmuwan mulai memanfaatkan teknologi itu untuk pemindaian tubuh manusia,
dengan gambar-gambar awal tampak seperti rekaman seismograf (pencatat gempa bumi) yaitu berupa
garis-garis. Pada 1970-an, pencitraan pertama yang menampilkan penampang anatomi manusia mulai
dihasilkan. Berkat kemajuan komputer, kini USG dapat memberikan gambar visual yang dinamis dan rinci
mengenai tubuh manusia. Sebagian mesin USG bahkan bisa menampilkan gambar berwarna.

PAMERIKSAAN PENUNJANG UNTUK PENGKAJIAN :

-PENGKAJIAN POLA KESEHATAN : 1, 4, 10

-KAJIAN NUTRISI METABOLIK : 1, 3, 8, 9

-KAJIAN POLA ELIMINASI : 1, 3, 9

-KAJIAN POLA AKTIFITAS DAN LATIHAN : 1, 5, 6, 7

- KAJIAN POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT : 1

- KAJIAN POLA PERSEPSI KOGNITIF : 1, 2, 7, 6, 8, 10