Anda di halaman 1dari 9

BAB 2

TINAJUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Terapi Bermain


Terapi bermain merupakan terapi yang menggunakan alat-alat permainan
dalam situasi yang dipersiapkan untuk membantu anak mengekspresikan
perasaannya, baik senang, sedih, marah, dendam, tertekan, atau emosi yang lain
(Zellawati, 2011).
Bermain adalah media terbaik untuk belajar karena dengan bermain, anak-
anak akan berkomunikasi, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan
melakukan apa yang dapat dilakukannya (Whaley dan Wong, 2009). Bermain
penting untuk mengembangkan emosi, fisik dan pertumbuhan kognitif anak,
selain itu bermain juga merupakan cara anak untuk belajar, bermain bisa
menurunkan dampak kecemasan dan untuk meningkatkan kreatifitas anak
melalui beberapa jenis permainan (Nelson dalam Aidar, 2011).
Terapi bermain diyakini mampu menghilangkan batasan, hambatan
dalam diri, kecemasan, frustasi serta mempunyai masalah emosi dengan tujuan
mengubah tingkah laku anak yang tidak sesuai menjadi tingkah laku yang
diharapkan dan anak sering diajak bermain akan lebih kooperatif dan mudah
diajak kerjasama ketika menjalani pengobatan (Mulyadi, 2017).
2.2 Tujuan Terapi Bermain
Supartini (2012) mengemukakan beberapa tujuan dari terapi bermain antara lain
:
1) Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada
saat sakit anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangannya,
walaupun demikian selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan
stimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap di lanjutkan
untuk menjaga kesinambungannya.
2) Mengespresikan perasaan, keinginan dan fantasi, serta ide-idenya pada
saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit anak mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Pada anak yang belum dapat

9
mengespresikannya secara verbal, permainan adalah media yang sangat
efektif untuk mengeskpresikannya.
3) Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah,
permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi dan fantasinya untuk
menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.
4) Dapat beradaptasi secara efektif terhadap sters karena sakit dan dirawat di
rumah sakit.
2.3 Fungsi Terapi Bermain
Fungsi bermain menurut Saputro & Fazrin, 2017, yaitu :
1) Perkembangan sensori-motorik : aktivitas sensori-motorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting
untuk perkembangan fungsi otot
2) Perkembangan intelektual : anak melakukan eksplorasi dan manipulasi
terhadap segala sesuatu yang ada dilingkungan sekitarnya, teruatam
mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek.
Misalnya, anak bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan
anak dapat memperbaikinya maka anak telah belajar memecahkan
masalahnya melalui eksplorasi alat mainnya dan untuk mencapai
kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya
semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi, akan
melatih kemampuan intelektualnya.
3) Perkembangan sosial : perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan
berinterajsu dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan
belajar memberi dan menerima
4) Perkembangan kreativitas : berkreasi adalah kemampuan untuk
menciptakan sesuatu mewujudkan kedalam bentuk objek dan atau
kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar
dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya
5) Perkembangan kesadaran diri : melalui bermain, anak akan
mengembangkan kemampuannya dalam mengatur tingkah laku. Anak
akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan

10
orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran
baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain
6) Bermain sebagai terapi : pada saat anak dirawat dirumah sakit, anak akan
mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti :
marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan
dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa
stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu dengan melakukan
permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya
karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa
sakitnya pada permainannya (distraksi).
2.4 Prinsip Pelaksanaan Terapi Bermain
Menurut Supartini (2004), terapi bermain yang dilaksanakan di rumah sakit
tetap harus memperhatikan kondisi kesehatan anak. Adapun beberapa prinsip
permainan pada anak di rumah sakit, yaitu :
1) Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang
dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih
permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, anak tidak boleh diajak
bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di
ruangan rawat.
2) Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana.
Pilih jenis permainan yang tidak melelahkan anak, menggunakan alat
permainan yang ada pada anak atau yang tersedia diruangan. Kalaupun
membuat suatu alat permainan, pilih yang sederhana supaya tidak
melelahkan anak.
3) Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak. Pilih alat permainan
yang aman untuk anak, tidak tajam, tidak merangsang anak untuk berlari-
lari dan bergerak secara berlebihan misalnya: bercerita atau membacakan
cerita yang sifatnya menghibur.
4) Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama.
5) Melibatkan orang tua. Satu hal yang harus diingat bahwa orang tua
mempunyai kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuh
kembang pada anak walaupun sedang dirawat di rumah sakit, termasuk

11
dalam aktifitas bermain anaknya. Orang tua harus terlibat secara aktif dan
mendampingi anak mulai dari awal permainan sampai mengevaluasi hasil
permainan anak bersama dengan perawat dan orang tua anak lainnya.
2.5 Syarat Bermain
Ada beberapa hal yang dipersyaratkan untuk dapat melakukan kegiatan
bermain yang baik untuk anak (Adriana, 2013), yaitu :
1) Perhatikan faktor usia anak
Sesuaikan mainan aktivitas dengan kematangan motorik anak, yaitu sejauh
mana gerakan-gerakan otot tubuh siap melakukan gerakan-gerakan tertentu.
Juga sesuaikan dengan kognisinya, yaitu sejauh mana anak mampu
memahami permainan itu. Jika terlalu sulit, anak jadi malas bermain dan
jika terlalu gampang ia cepat bosan. Untuk itu pilihlah mainan yang dapat
merangsang kreativitas anak.
2) Tidak harus sehat
Tentu akan lebih baik jika anak dalam kondisi sehat, namun anak yang
sakitpun diperbolehkan untuk bermain, malah bisa mempercepat proses
kesembuhannya tentunya jenis permainannya disesuaikan kondisi fisik.
Misalnya pilih permainan yang bisa dilakukan ditempat tidur seperti
melipat, mewarnai, menggambar atau mendengarkan dongeng, memainkan
jari-jemari sambil bercerita, main tebak-tebakan, dll.
3) Lama bermain
Tergantung karakteristik anak, ada yang aktif dan pasif. Namun sebaiknya
bermain tak terlalu lama agar anak tak mengabaikan tugas-tugas lainnya
seperti makan, mandi dan tidur. Untuk bayi, cukup 10-30 menit karena
rentang perhatiannya pun masih terbatas. Untuk anak yang lebih besar,
buatlah komitmen lebih dulu. Misal, boleh main selama 1 jam, setelah itu
makan atau mandi. Namun kita harus konsisten dengan aturan itu agar anak
tidak bingung. Bagi anak yang sakit, jika ia butuh banyak istirahat, jangan
dipaksa.
4) Pastikan mainannya aman
Terlebih untuk bayi, keamanan mainan harus diperhatikan betul. Pilih yang
tidak mudah rusak pecah ataupun terurai seperti manik-manik karena di

12
khawatirkan akan masuk mulut atau lubang telinga hidung. Jangan pula
memberikan mainan yang bertali panjang, berukuran kecil dan
menggunakan listrik. Selain itu secara umum mainan anak haruslah tidak
boleh ada bagian yang mudah tertelan, tidak tajam atau berujung runcing,
catnya tidak beracun (nontoxic), tidak mudah mengelupas, menjepit, dan
tidak menimbulkan api.
5) Dampingi anak
Perlu diingat, mainan bukan pengganti orang tua, melainkan sarana untuk
mendekatkan hubungan orang tua dengan anak jadi, selalu dampingi anak
kala bermain. Tanpa arahan kita, anak akan bermain sendiri tanpa mengenal
tujuan dari permainan tersebut. Oleh karena itu kita perlu selalu
mendampingi mereka dalam bermain. Hal ini juga untuk mengatasi segala
persoalan yang dihadapi tiap anak, seperti sulitnya berkonsentrasi terhadap
suatu kegiatan. Situasi ini juga dapat memacu pertumbuhan harga diri anak
dengan memberikan penghargaan pada setiap hasil kegiatan atau
penemuan-penemuan anak dalam proses bermain .
2.6 Tahap Perkembangan Aktivitas Bermain
Tahap-tahap perkembangan bermain Menurut Jean Piaget tahapan
perkembangan bermain anak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok
sebagai berikut:
1. Sensori motor (sensory motor play)
Tahap ini terjadi pada anak usia 0-2 tahun. Pada tahap ini bermain
anak lebih mengandalkan indra dan gerak-gerak tubuhnya. Untuk itu, pada
usia ini mainan yang tepat untuk anak ialah yang dapat merangasang panca
indranya, misalanya mainan yang berwarna cerah, memiliki banyak bentuk
dan tekstur, serta mainan yang tidak mudah tertelan oleh anak.
2. Praoprasional (symbolic play)
Tahap ini terjadi pada anak usia 2-7 tahun. Pada tahap ini anak sudah
mulai bisa bermain khayal dan pura-pura, banyak bertanya, dan mulai
mencoba hal-hal baru, dan menemui simbol-simbol tertentu. Adapun alat
permainan yang cocok untuk usia ini adalah yang mampu merangsang
perkembangan imajinasi anak, seperti menggambar, balok/lego, dan puzzle.

13
Namun sifat permainan anak usia dini lebih sederhana dibandingkan dengan
operasional konkret.
3. Operasional konkret (social play).
Tahap ini terjadi pada anak usia 7-11 tahun. Pada tahap ini anak bermain
sudah menggunakan nalar dan logika yang bersifat objektif. Adapun alat
permainan yang tepat untuk usia ini ialah yang mampu menstimulasi cara
berpikir anak. Melalui alat permainan yang dimainkan anak dapat
menggunakan nalar maupun logikanya dengan baik. Bentuk permainan
yang bisa digunakan di antaranya: dakon, puzzle, ular tangga, dam-daman,
dan monopoli.
4. Formal operasional (game with rules and sport)
Terjadi pada tahap anak usia 11 tahun ke atas. Pada tahap ini anak bermain
sudah menggunakan aturan-aturan yang sangat ketat dan lebih mengarah
pada game atau pertandingan yang menuntuk adanya menang dan kalah.
2.7 Hambatan yang Mungkin Muncul
1) Usia antar pasien tidak dalam satu kelompok usia
2) Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan
3) Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang
bersamaan.
2.8 Antisipasi Hambatan
1) Mencari pasien dengan kelompok usia yang sama
2) Libatkan orang tua dalam proses terapi bermain
3) Jika anak tidak kooperatif, ajak anak bermain secara perlahan-lahan
4) Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan
5) Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga kesehatan
lainnya.
2.9 Terapi Bermain dengan Mewarnai Gambar
1) Pengertian Mewarnai
Menurut Nursetyaningsih (2015) mewarnai merupakan proses
memberi warna pada suatu media, mewarnai gambar diartikan sebagai
proses memberi warna pada media yang sudah bergambar. Mewarnai buku
gambar adalah terapi permainan melalui buku gambar untuk

14
mengembangkan kreativitas pada anak untuk mengurangi stress dan
kecemasan serta meningkatkan komunikasi pada anak (Supartini, 2004).
2) Manfaat Mewarnai
Menurut Supartini (2004) manfaat mewarnai gambar sebagai berikut :
a. Mewarnai gambar merupakan media berekspresi.
b. Membantu mengenal perbedaan warna.
c. Mewarnai merupakan media terapi.
d. Mewarnai melatih kemampuan koordinasi.
e. Dapat membantu menggenggam pensil.
f. Mewarnai membantu kemampuan motoric
g. Mewarnai meningkatkan konsentrasi.
3) Tujuan Mewarnai
Menurut Gusnadi (2013) tujuan mewarnai gambar sebagai berikut :
a. Gerakan motorik halusnya lebih terarah
b. Berkembang kognitifnya
c. Dapat bermain sesuai tumbuh kembangnya
d. Dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman sebaya
e. Cemas/stress selama dirawat di RS berkurang/hilang
f. Mewarnai dapat melatih anak mengenal garis bidang
g. Mewarnai melatih anak membuat target.
h. Warna sebagai media komunikasi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adriana. D. (2013). Tumbuh Kembang & Terapi Bermain Pada Anak.Jakarta:


Selemba Medika.

Aidar, N. (2011). Hubungan Peran Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Anak


Usia Sekolah (6-12 Tahun) Yang Mengalami Hospitalisasi Di Ruang III
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Skripsi FKep USU.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/27095.

Gusnadi, Irvan. 2013. SOP Terapi Bermain Mewarnai Gambar. STIKES Ford De
Kock Bukittinggi. Diakses pada tanggal 5 januari 2020.

Saputro, H, dan Fazrin I. (2017). Penerapan Terapi Bermain Anak Sakit; Proses,
Manfaat dan Pelaksanaannya. Ponorogo: Forum Ilmiah Kesehatan
(FORIKES)

Supartini, . (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

Supartini.(2012). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC

Whaley & Wong, (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, edisi 2, Jakarta : EGC

Zellawati, A., 2011, Terapi Bermain untuk Mengatasi Permasalahan Pada Anak.
Majalah Ilmiah Informatika., 2:164-175.

16
17