Anda di halaman 1dari 18

FILSAFAT ILMU

Ontology, epistemology, aksiologi

OLEH :

KELOMPOK III

HIDAYATI KARDENA
WATIN DEHISTORA
ANDRIANI DOTIMINELI

DOSEN PEMBIMBING:

Dr. HARDELI M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat-Nya lah dan hidayah-Nya jualah penulisan makalah ini dapat selesai dengan tepat
waktu. Makalah ini disusun untuk dijadikan referensi yang lengkap dan menyeluruh tentang
“Ontology, epistemologi, dan aksiologi”.
Makalah ini disusun secara khusus dan sistemika untuk memenuhi tugas dari Mata Kuliah
“Filsafat Ilmu” dan penyusunannya dilakukan secara kelompok. Substansi yang terdapat
dalam makalah ini berasal dari beberapa referensi buku dan literatur-literatur lain, ditambah
pula dari sumber-sumber lain yang berasal dari media elektronik melalui pengambilan bahan
dari internet. Sistematika penyusunan makalah ini terbentuk melalui kerangka yang
berdasarkan acuan atau sumber dari buku maupun literatur-literatur lainnya.
Makalah yang berjudul “Ontology, epistemologi, dan aksiologi” ini dapat dijadikan
sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa, dosen atau masyarakat umum dan juga sebagai
bahan pembanding dengan makalah lain yang secara substansial mempunyai kesamaan.
Tentunya dari konstruksi yang ada dalam makalah ini yang merupakan tugas mata kuliah
“Filsafat Ilmu” banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap diberikan
kritikan yang membangun kepada para pembaca.

Padang, Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 2
A. Objek Studi dan Metode Filsafat .................................................................................... 2
B. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi .......................................................................... 3
C. Aliran/Mazhab dalam Filsafat......................................................................................... 9
D. Jalinan Ilmu Filsafat dan Agama .................................................................................. 12
KEPUSTAKAAN .................................................................................................................... 14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filsafat merupakan sikap atau pandangan hidup dan sebuah bidang terapan untuk
membantu individu untuk mengevaluasi keberadaannya dengan cara yang lebih
memuaskan. Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman membawa kita
kepada tindakan yang telah layak, filsafat perlu pemahaman bagi seseorang yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan karena ia menentukan pikiran dan pengarahan
tindakan seseorang untuk mencapai tujuan.
Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat
abstrak ataupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Sehingga untuk faham
betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan- pemetaan dan
mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.
Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau bagian yaitu;
epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh
pengetahuan, ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat segala sesuatu
yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang membahas tentang guna
pengetahuan. Sehingga, mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah penting dalam
memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan pembahansannya.
Ketiga teori di atas sebenarnya sama-sama membahas tentang hakikat, hanya saja
berangkat dari hal yang berbeda dan tujuan yang beda pula. Epistemologi sebagai teori
pengetahuan membahas tentang bagaimana mendapat pengetahuan, bagaimana kita bisa
tahu dan dapat membedakan dengan yang lain. Ontologi membahas tentang apa objek yang
kita kaji, bagaimana wujudnya yang hakiki dan hubungannya dengan daya pikir.
Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai membahas tentang pengetahuan kita akan
pengetahuan di atas, klasifikasi, tujuan dan perkembangannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa objek studi dan metode filsafat?
2. Apa itu ontology, epistemologi, dan aksiologi?
3. Apa saja aliran/mazhab dalam filsafat?
4. Bagaimana jalinan ilmu filsafat dan agama?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah di atas, secara garis besar makalah ini bertujuan untuk
mengetahui tentang apa itu objek studi dan metode filsafat, ontology, sepistemologi, dan
aksiologi, aliran/mazhab dalam filsafat, jalinan ilmu filsafat dan agama.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Objek Studi dan Metode Filsafat


Sebelum pemakalah menjelaskan obyek Filsafat Ilmu, akan terlebih dahulu
menjelaskan obyek filsafat secara umum. Seperti ilmu pengetahuan pada umumnya, filsafat
juga memiliki obyek studi yang meliputi obyek materi maupun obyek forma.
Obyek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
Tentang obyek materia ini banyak yang sama dengan obyek materia sains. Bedanya ialah
dalam dua hal. Pertama, sains menyelidiki obyek materia yang empiris, filsafat menyelidiki
obyek yang itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya.
Kedua, ada obyek materia filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan,
hari akhir, yaitu obyek materia yang untuk selama-lamanya tidak empiris.1 Hal itu berarti
bahwa filsafat mempelajari apa saja yang menjadi isi alam semesta mulai dari mineral (benda
mati), benda hidup (vegetativa, animalia, dan manusia), dan causaprima (sang Pencipta).
Selanjutnya obyek ini sering disebut pula sebagai realitas atau kenyataan (the reality).2
Sementara itu, Tri Astutik Haryati menyebutkan ada perbedaan lain antara filsafat dan
ilmu. Kalau ilmu-ilmu lain membatasi pembahasannya pada alam yang dapat diamati
(empiris), menyelidiki obyeknya dengan pertanyaan “bagaimana” dan “apa sebabnya”. Maka
filsafat menggunakan pertanyaan “apa itu”, “dari mana”, dan “ke mana”. Sehingga yang
hendak dicari dalam filsafat bukan sebab dan akibat dari suatu masalah—seperti yang
diselidiki oleh ilmu—tapi apa hakekat yang sebenarnya dari sesuatu itu, dari mana asalnya,
dan ke mana tujuannya. Secara singkat bisa dikatakan bahwa pertanyaan dalam filsafat
menyangkut persoalan kenyataan sebagai kenyataan, dan hal ini perlu dibedakan antara yang
nampak (appearance) dengan kenyataan (reality). Inilah yang membedakan filsafat dengan
ilmu-ilmu lain.3
Sedangkan yang dimaksud obyek forma filsafat adalah sudut pandang atau pendekatan
yang digunakan oleh filsafat dalam mengkaji obyek materia. Obyek forma dari filsafat adalah
berpikr radikal, bebas, dan berada dalam dataran makna untuk mencari hakekat segala
sesuatu yang terdapat dalam obyek materia (yaitu alam, manusia, dan Tuhan).
Jadi sudut pandang filsafat tidak terbatas pada salah satu perspektif saja melainkan
menyeluruh dan terbuka bagi sudut pandang lain sebanyak-banyaknya untuk dapat mencakup
wawasan yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, sehingga hakekat dan keberadaan
realitas, baik menurut bagian-bagiannya maupun keseluruhannya menjadi jelas.4
Kajian dalam filsafat terhadap obyeknya (obyek materia) dari waktu ke waktu mungkin
tidak berubah, tetapi corak dan sifatnya serta dimensi yang menjadi tekanan dan fokus kajian
harus berubah dan menyesuaikan dengan perubahan serta konteks kehidupan manusia, dan
semangat baru yang selalu muncul dalam perkembangan jaman.5
Itulah sekilas tentang obyek filsafat secara umum. Berangkat dari kerangka tersebut
maka obyek filsafat ilmu juga terdiri dari dua hal, yaitu obyek material dan obyek formal.
Dengan mengutip pendapat Noeng Muhajir, Suwardi Endraswara mengatakan bahwa obyek

1
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung: Remaja Rosda
Karya, Cet . XII 2003, h. 21.
2
Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat, Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2004, h. 114.
3
Tri Astutik Haryati, Manusia Perspektif Soren Kierkegaard dan Muhammad Iqbal, Pekalongan:
STAIN Pekalongan Press, 2012, h. 22.
4
Suparlan Suhartono. Op. Cit. h. 116.
5
Tri Astutik Haryati, Op. Cit. h. 28.

2
material filsafat ilmu adalah (1) fakta dan (2) kebenaran dalam semua disiplin ilmu. Jadi
obyek material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri yaitu pengetahuan yang telah
disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.6
Sedangkan obyek formal filsafat ilmu akan menelaah masalah (1) konfirmasi dan (2)
logika. Kedua hal ini menjadi dasar bagaimana filsafat ilmu menemukan kebenaran. Jadi
obyek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu
lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat
ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu
bagi manusia. Problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu
pengetahuan, yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.7
B. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
1. Ontologi
Ontologi berasal dari perkataan Yunani yaitu ontos yang berarti being, dan
logos yang berarti ilmu. Jadi ontologi adalah the theory of being qua being (teori
tentang keberadaan sebagai keberadaan). Atau bisa juga disebut ontologi sebagai ilmu
tentang “yang ada”. Yang dimaksud “ada” adalah dari dan akan ke mana ada itu.
Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun
rohani/abstrak. Dua pengertian ini merambah ke dunia hakikat sebuah ilmu. Ontologi
membahas masalah ada dan tiada. Ilmu itu ada, tentu ada asal-muasalnya. Ilmu itu ada
yang nampak dan ada yang tidak nampak. Dengan berfikir ontologi, manusia akan
memahami tentang eksistensi sebuah ilmu.8
Sementara itu dalam studi ilmu-ilmu keislaman terbagi menjadi dua kelompok,
yaitu ilmu qauliyah, seperti syari’a, Ushul al-din dan dakwah atau tarbiyah; serta
kelompok ilmu kauniya, yang obyeknya adalah alam semesta dan manusia. Kelompok
yang kedua ini kurang diperkenalkan dalam studi ilmu-ilmu keislaman.9 Karena filsafat
ilmu memiliki obyek berupa kebenaran dalam semua disiplin ilmu, maka ilmu-ilmu
keislaman tersebut akan menjadi obyek kajian ontologis filsafat Ilmu.
2. Epsitemologi
Menurut Jacques Veuger, sebagaimana yang dikutip oleh Suparman Syukur, di
antara gejala-gejala eksistensi manusia yang dialami,satu hal yang amat menyolok mata
dan amat penting ialah pengetahuan. Sebab ia merefleksikan eksistensinya secara
menyeluruh, manusia terpaksa merefleksikan pengetahuannya juga. Bagaian filsafat
yang dengan sengaja berusaha menjalankan refleksi atas pengetahuan manusia itu
disebut epistemologi, atau ajaran tentang pengetahuan.10
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu
pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kata, episteme yang berarti
pengetahuan dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang teori ilmu pengetahuan. Cabang ini berusaha menemukan

6
Suwardi Endraswara, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: CAPS, 2012, h. 80.
7
Suwardi Endraswara, Op. Cit. h. 81.
8
Ibid, h. 98
9
Suparman Syukur, Epistemologi Islam Skolastik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, h. 204
10
Ibid, h. 42.

3
jawaban atas pertanyaan bagaimana ada itu berada. Proses ada itu dari sisi ilmu
pengetahuan tentu mengkuti prinsip-prinsip teoritik yang jelas.11
Dengan kata lain epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul,
asumsi dasar, sifat-sifat dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu
penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi
tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan ”kebenaran” macam
apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak.
Dengan demikian, definisi epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang
mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan fondasi, alat, tolok ukur,
keabsahan, validitas dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia.12 Dalam
filsafat ada banyak macam aliran epistemologi, di antaranya adalah rasionalisme,
empirisme, positivisme dan intuisionisme serta masih banyak lagi aliran lain seperti
kritisisme, idealisme, pragmatisme, fenomenologi dan eksistensialisme. Namun dalam
makalah ini tidak akan dibahas semuanya, melainkan hanya akan membahas
epistemologi rasionalisme, empirisme, positivisme dan intuisionisme saja.
1) Rasionalisme
Tokoh aliran Rasionalisme adalah Rene Descartes (1596-1650).13 Ia adalah
matematikawan, fisikawan dan filosof dari Perancis yang dijuluki sebagai Bapak
Filsafat Modern. Karyanya yang paling terkenal dalam bidang filsafat adalah
Meditations First Philosopy yang berisi sejumlah spekulasi agenda filsafat
pemikiran dan epistemologi untuk 300 tahun depan. Dia mengajukan skeptisisme
yang cukup radikal tentang pengetahuan manusia terhadap semesta. Satu-satunya
hal yang menurutnya dapat dipastikan oleh manusia adalah eksistensinya.
Ungkapan terkenal mengenai hal ini adalah “Cagito ergo sum” (Saya berpikir maka
saya ada).
Baginya, Cagito ergo sum” adalah pijakan awal untuk mencoba menggapai
kebenaran eksistensi Tuhan agar eksisensi pengetahuan yang dipersepsikan oleh
manusia terjamin kebenarannya.14 Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal
adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diukur dengan akal.
Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal
menangkap obyek.15
Aliran Rasionalisme ini memandang bahwa indera manusia sering menipu,
sehingga pengetahuan yang berasal dari pengamatan indera bernilai salah. Menurut
Rene Descartes, ilmu pengetahuan yang murni adalah ilmu pengetahuan yang
hanya berdasarkan logika sebab-akibat (reasoning).16
Namun demikian, bukan berarti aliran rasionalisme ini mengingkari
kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan
untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal
dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia pada kebenaran adalah
semata-mata dengan akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan
yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam
pengalaman berfikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk

11
Suwardi Endraswara, Op. Cit. h. 118
12
Ibid, h. 120.
13
Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Kanisius, Cet ke-8, 1992, h. 18.
14
Kumara Ari Yuana, The Greatest Philosophers, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010, h. 150.
15
Ahmad Tafsir, Op. Cit. h. 25.
16
Kumara Ari Yuana, Op. Cit. h. 151

4
pengetahuan yang benar. Jadi akal bekerja karena ada bahan dari indera. Akan
tetapi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan
inderawi sama sekali. Jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang
obyek yang betul-betul abstrak.17
2) Empirisme
Bertentangan dengan rasionalisme yang mengindahkan rasio sebagai
sumber utama pengenalan, maka sesudah masa Rene Descartes di Inggris timbul
suatu aliran lain yang dinamakan empirisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani
empeiria yang berarti “pengalaman inderawi”. Epirisme memilih pengalaman
sebagai sumber utama pengenalan dan yang dimaksudkan dengannya ialah baik
pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang
menyangkut pribadi manusia saja. Tidak menghrankan bila rasionalisme dan
empirisme masing-masing mempunyai pendirian yang sangat berlainan tentang
sifat pengenalan manusiawi. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang
sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk
pengenalan yang kabur saja. Sebaliknya, empirisme berpendapat bahwa
pengetahuan berasal dari pengalaman, sehingga pengenalan inderawi merupakan
bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.18
Orang pertama yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas
Hobbes (1588-1679) yang mendapat pendidikannya di Oxford. Filsafat Hobbes
mewujudkan suatu sistem yang lengkap mengenai keterangan tentang “yang ada”
secara mekanis. Ia adalah seorang materialis yang pertama dalam filsafat modern.
Dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang materialis di bidang ajaran tentang “yang
ada”, dan seorang naturalis di bidang ajaran tentang antropologi, seorang absolutis
di bidang ajaran tentang negara.
Materialisme yang dianut oleh Hobbes adalah bahwa segala yang ada
bersifat bendawi. Yang dimaksud bendawi ialah segala sesuatu yang tidak
tergantung kepada gagasan kita. Ia juga mengajarkan bahwa segala kejadian adalah
gerak, yang berlangsung karena keharusan. Realitas segala yang bersifat bendawi,
yaitu yang tidak tergantung pada gagasan kita, terhisab di dalam gerak itu.
Berdasarkan pandangannya yang demikian itu manusia tidaklah lebih dari
pada suatu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Oleh karena itu maka
segala sesuatu yang terjadi padanya dapat diterangkan dengan cara yang sama
dengan cara menerangkan kejadian-kejadian alamiah, yaitu secara mekanis.
Manusia hidup selama darahnya beredar dan jantungnya bekerja, yang disebabkan
karena pengaruh mekanis dari hawa atmosfer. Hidup manusia adalah gerak
anggota-anggota tubuhnya.
Pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena pengalaman. Pengalaman
adalah awal segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang
diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala ilmu pengetahuan diturunkan
dari pengalaman. Hanya pengalamanlah yang meberi jaminan akan kepastian.19
Tradisi empiris Thomas Hobes kemudian dilanjutkan oleh John Locke
(1632-1704). Menurutnya, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak

17
Ahmad Tafsir, Op. Cit. h. 25.
18
Kees Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, cet. Ke-11, 1993, h. 50
19
Harun Hadiwiyono, Op. Cit. h. 33.

5
lebih dari itu.20 John Locke mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa
berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari
pengetahuan. Lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, maka ia
memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana,
lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Berarti bagaimanapun
kompleksnya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada
pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah
pengetahuan yang benar. Jadi pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang
benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah
metode eksperimen.21
Akhirnya pemikiran empirisme ini dikokohkan oleh David Hume (1711-
1776) yang menggunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara yang paling
radikal.22 Namun empirisme radikal Hume ini justru akhirnya menjadi
”skeptisisme”.23 Hal ini terlihat dalam pemikirannya tentang ”diri pengetahuan dan
probabilitas”.yang dimaksud Hume dengan ”probabilitas” bukanlah sejenis
pengetahuan yang terdapat dalam teori probabilitas matematika. Pengetahuan ini
tidak dengan sendirinya bersifat mungkin dalam pengertian apapun. Ia memiliki
kepastian sebagaimana yang dimiliki pengetahuan. Yang menjadi perhatian Hume
adalah pengetahuan tak pasti, semisal yang didapat dari data empiris dengan
penyimpulan yang tidak demonstratif. Ini mencakup semua pengetahuan kita
mengenai masa depan dan mengenai bagian tak teramati dari masa lalu dan masa
kini.24
3) Positivisme
Positivisme adalah filsafat yang menyatakan bahwa pengetahuan yang
autentik hanyalah pengetahuan yang berdasarkan pengalaman nyata. Pengetahuan
hanya dapat diperoleh melalui pengujian dengan metode ilmiah. Pendekatan
metafisika akan sangat dihindari oleh para positivis. Pada abad ke-19 dan awal abad
ke-20, filsafat ini berkembangdi Eropa dan Amerika. Pandangan positivisme ini
dipegang oleh para teknokrat yang menggantikan sejarah pemikiran metafisika
dengan metode ilmiah.25
Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang
positif. Segala uraian dan persoalan yang di luar apa yang ada sebagai fakta atau
kenyataan dikesampingkan. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang
tampak, segala gejala.26
Tokoh aliran ini adalah Auguste Comte (1798-1857). Gagasan pokok
positivisme Comte ialah menerima ilmu pengetahuan positif sebagai titik tolak
kefilsafatan, dan menolak pengalaman batiniah sebagai titik tolak atau sumber
pengetahuan.27 Comte membagi perkembangan pemikiran manusia menjadi tiga
tahap, yaitu teologis, metafisik dan positif-ilmiah. Pada tahap pertama manusia
memahami gejala-gejala alam sebagai hasil tindakan langsung dari kekuatan Ilahi.
20
Ibib, h. 36
21
Ahmad Tafsir, Op. Cit. h. 24
22
K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1993, h. 52.
23
Ibid, h. 53.
24
Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, h. 868
25
Kumara Ari Yuana, Op. Cit. h. 228
26
Harun Hadiwiyono, Op. Cit. h. 109
27
Bernard Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 1992, h.
165.

6
Manusia mencari penjelasan eksistensi dan aktivitas segala sesuatu dengan
menggunakan roh yang membimbing dan yang tinggal di dalamnya. Alam semesta
dimengerti dari kerangka tatanan mitos spiritual. Pada tahap ke dua, pelaku ilahi
yang personal digantikan oleh prinsip-prinsip metafisika. Manusia mulai
memproduksi ide-ide abstrak, menjelaskan kejadian-kejadian alam dengan konsep-
konsep dan prinsip-prinsip abstrak spekulasi filsafat. Pada tahap ke tiga, yakni
tahap positif-ilmiah, manusia berhenti mencari penyebab absolut atau sebab-sebab
transenden. Manusia hanya berkonsentrasi pada pengamatan dunia sosial dan fisik
untuk mencari hukum-hukum yang mengaturnya.28
Menurut Comte, zaman positif sekarang ini adalah zaman ketika orang tahu
bahwa tidak ada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan
yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun pengenalan metafisis. Ia tidak lagi
mau melacak hakekat yang sejati dari segala sesuatu yang berada di belakang
segala sesuatu.29
Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh
pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan
eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Panas diukur
dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan timbangan dan
sebagainya. Kita tidak cukup hanya dengan mengatakan api panas, matahari panas,
kopi panas, ketika panas. Kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah
kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung
bukti empiris yang terukur. ”Terukur” itulah sumbangan positivisme.
Jadi pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang berdiri sendiri. Ia
hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan
kata lain, ia menyempurnakan methode ilmiah dengan memasukkan perlunya
eksperimen dan ukuran-ukuran.30

4) Intuisionisme
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 ilu pengetahuan dan tehnik
berkembang dengan cepat, yang mengakibatkan perkembangan industrialisasi yang
cepat juga. Hal ini menjadikan segala pemikiran orang diarahkan kepada hal-hal
yang badani saja. Akal manusia dipakai untuk menyelidiki segala sesuatu. Segala
sesuatu dianalisa, dibongkar dan ditafsirkan, serta disusun kembali. Juga ilmu yang
menyelidiki jiwa manusia (psikologi) berbuat demikian. Baik jagat raya maupun
manusia dipandang sebagai mesin, yang terdiri dari banyak bagian, yang masing-
masing menempati tempatnya sendiri-sendiri, serta yang bekerja yang menurut
hukum yang telah ditentukan bagi masing-masing bagian itu. Demikian juga halnya
dengan manusia. Ruh bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Kerjanya disebabkan
karena akibat proses-proses bendani yang berjalan karena keharusan, seperti
umpamanya: ginjal harus mengeluarkan air kencing, jantung harus memompa
darah, otak harus mengeluarkan buah pikiran dan lain sebagainya.
Salah satu reaksi terhadap pandangan yang demikian itu adalah filsafat
hidup, yang salah seorang penganutnya adalah Henri Bergson (1859-1941), seorang

28
Darius Djehanih, “HumanismeAteistik” dalam Bambang Sugiharto (Ed), Humanisme dan Humaniora,
Bandung: Matahari, 2013, h. 116.
29
Harun Hadiwijono, Op. Cit, h. 111
30
Ahmad Tafsir, Op. Cit. h. 26

7
yang berdarah campuran Perancis dan Yahudi. 31Menurut Bergson, akal dan indera
memiliki kemampuan yang terbatas. Obyek-obyek yang kita tangkap itu adalah
obyek yang selalu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap.
Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya memahami suatu obyek bila ia
menonsentrasikan dirinya pada obyek itu. Jadi dalam hal seperti itu manusia tidak
mengetahui keseluruhan, tidak juga dapat mengetahui sifat-sifat yang tetap pada
obyek. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari obyek, kemudian bagian-
bagian itu digabungkan oleh akal. Itu tidak sama dengan pengetahuan menyeluruh
tentang obyek itu.
Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal seperti diterangkan di atas,
Bergson mengembangkan suatu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia,
yaitu intuisi.32 Intuisi ini berfungsi untuk menyelami hakekat segala kenyataan.
Intuisi merupakan tenaga ruhani, suatu kecakapan yang dapat melepaskan diri dari
akal, kecakapan untuk menyimpulkan serta meninjau dengan sadar. Intuisi adalah
naluri yang telah mendapatkan kesadaran diri, yang telah dicakapkan untuk
memikirkan sasarannya serta memperluas sasaran itu menurut kehendak sendiri
tanpa batas. Intuisi adalah bentuk pemikiran yang berbeda dengan pemikiran akal,
sebab pemikiran intuisi bersifat dinamis. Fungsi intuisi ialah untuk mengenal
hakikat pribadi atau ”aku” dengan lebih murni dan untuk mengenal hakekat seluruh
kenyataan.33
Bergson berpendapat bahwa penalaran lebih cenderung mengurai (analysis)
kenyataan sehingga berakibat pemilahan (fragmentasi) yang berlanjut dengan
hilangnya kenyataan itu sebagai keseluruhan yang utuh. Sekuntum bunga sebagai
kenyataan yang utuh tampil indah. Manakala bunga itu diuraikan bagian-bagiannya
secara tersendiri, maka fragmentasinya sekaligus meniadakan keindahannya.
Keindahan yang tampil melalui bunga sebagai kenyataan yang utuh itu hanya dapat
ditangkap secara langsung oleh intuisi, karena intuisi tidak mengurai dan memilah-
milah, melainkan menangkap secara keseluruhan. Berbeda dengan penalaran yang
bersifat mengraikan kenyataan, intuisi cenderung secara langsung menangkap
kenyataan dalam keutuhannya.34
Demikialah sekilas pembahasan tentang Epistemologi. Diharapkan setelah
tahu tentang beberapa macam epistemologi tersebut kita bisa memahami
epitemologi ilmu-ilmu keislama. Mungkin saja ilmu-ilmu keislaman yang kita
pelajari ada yang menggunakan epistemologi rasionalisme, seperti ilmu fiqh,
kalamdan filsafat, dan aja juga yang menggunakan epistemologi intuisionisme
seperti Tasawuf. Dengan demikian, ketika kita akan menganalisa atau mengkritik
disiplin ilmu-ilmu keislaman harus menggunakan kaca mata epistemologi sesuai
dengan epistemologi yang digunakan dalam bidang keilmuan tersebut.
3. Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang
berarti nilai, sesuai atau wajar, dan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai
teori nilai. Dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu
sistem seperti politik, sosial dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana
31
Harun Hadiwijono, Op. Cit, h. 135.
32
Ahmad Tafsir, Op. Cit. h. 27.
33
Harun Hadiwijono, Op. Cit, h. 137
34
Fuad Hasan, Op. Cit. h. 87.

8
tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap institusi
terwujud.
Nilai sebuah ilmu berkaitan dengan kegunaan. Guna suatu ilmu bagi kehidupan
manusia akan mengantarkan hidup semakin tahu tentang resep-resep kehidupan.
Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya. Aksiologi
memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.
Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode
ilmiah dengan norma-norma nilai.35
Aksiologi ini penting karena pada kenyataannya tidak semua orang yang
memiliki penalaran tinggi selalu diikuti dengan perilaku yang baik. Bahkan sebaliknya,
semakin tinggi penalaran orang, kadang semakin tinggi pula kemampuannya untuk
membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat
berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka
pemenuhan kebutuhan manusia bia dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah di
samping penciptaan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan,
pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi. Namun dalam kennyataannya,
ilmu tidak selamanya membawa berkah. Malah sebaliknya, ilmu justru membawa
malapetaka dan kesengsaraan.
Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya, ilmu sudah dikaitkan
dengan tjuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga
untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-
macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan namun juga berbagai teknik
penyiksaan dan cara memperbudak massa. Di pihak lain, perkembangan ilmu sering
melupakan faktor kemanusiaan. 36
Sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya di jalan yang benar. Oleh karena itu, dalam kaca mata aksiologi,
ilmu tidak lagi bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai
kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya
meningkatkan kesejahteraan bersama.
C. Aliran/Mazhab dalam Filsafat
1. Mazhab Rasionalisme
Filosof yang menganut mazhab ini berpandangan bahwa Pertama, akal dalam
diri manusia merupakan sumber dari semua ilmu yang hakiki. Jadi sumber pengetahuan
manusia itu bagi mereka adalah rasio/akal. Kedua, terkait alam (kosmik), mereka
menerima adanya wujud spiritual atau rasio yang merupakan asal usul dari segala
entitas. Dalam mazhab rasionalisme ini terdapat tokoh-tokoh yang terkenal
diantaranya: Plato (427-347 SM), Rene Descartes dan Leibniz untuk masa modern.
Dalam dunia filsafat Barat, Plato dikenal sebagai murid dari Sokrates. Ketika
gurunya dihukum mati pada tahun 399 SM, Plato berusia kurang lebih 31 tahun. Ada
35
Suwardi Endraswara, Op. Cit. h. 146

9
sebuah ungkapan terkenal bahwa keseluruhan filsafat Barat hanyalah sekedar catatan
kaki untuk Plato saja. Ini karena tulisan-tulisan Plato telah meletakkan suatu tujuan
yang kemudian dapat dikatakan menjadi pedoman filsafat pada umumnya.38 Menurut
Prof K. Bertens, Plato adalah filosof pertama dalam sejarah filsafat yang memilih
dialog sebagi bentuk sastra untuk mengeskpresikan pikiran-pikirannya. Plato memilih
dialog sebagai sastra karena ia yakin bahwa inti filsafat adalah dialog. Namun disatu
sisi karena Plato mengarang filsafatnya dengan format dialog, tidak mengherankan pula
kalau pemikirannya kurang bersifat sistematis.39 Secara garis besar ajaran filsafat Plato
meliputi: ajaran tentang Ide-ide, Jiwa, dan Negara.
Sekarang beralih ke Rene Descartes (1596-1650 M). Dia adalah filosof Perancis
yang berlatar belakang sebagai ilmuwan matematika. Namanya masyhur karena
ungkapan Cogito ergo sum yang artinya “Aku berfikir, maka aku ada”. Michael Hart
memasukkan Descartes di urutan 49 sebagai 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam
sepanjang masa. Descartes layak masuk dikarenakan ada 5 ide Descartes yang punya
pengaruh penting terhadap jalan pikiran di Eropa seperti: 1) pandangan mekanisnya
mengenai alam semesta, 2) sikapnya yang positif terhadap penelitian ilmiah 3)
perhatiannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan, 4) pembelaannya
terhadap dasar awal sikap skeptis, 5) pemusatan perhatian terhadap epistemologi.
Meski dia dipandang sebagai bapak filsafat modern yang memiliki pengaruh besar di
Eropa, akan tetapi seumur hidupnya dia tidak pernah menikah. Walau tidak menikah,
dia punya anak perempuan bernama Francine yang lahir di Belanda pada tahun 1635.
Adapun Gottfried Wilhelm Leibniz, dia adalah filosof asal Jerman. Jenjang
pendidikannya sampai doktor hukum di Universitas di mana ayahnya mengajar. Dia
dikenal sebagai pencetus “Monadologi”, maksudnya Leibniz ini mengasumsikan
adanya subtansi-subtansi yang tak terbatas jumlahnya yang dianggap sebagai unsur-
unsur utama

37
Bryan Magee, The Story Of Philosophy: Kisah Tentang Filsafat, (Kanisius, 2008), hal 24
38
K.Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles, (Jogjakarta: Kanisius, 1999), hal 125-
126
39
Tentang Monadologi Leibniz, lihat Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes
Sampai Wittgenstein, (PT. Panjta Simpati, 1986), hal 87-89; Fu’ad Farid Ismail, Cara Mudah… hal 81.

10
dalam susunan alam. Dengan kata lain inilah Monad atau atom-atom spiritual.
Pemikirannya tentang monad inilah yang menjadi inti dari filsafat alamnya Leibniz. 40
2. Mazhab Empirisme
Jika mazhab Rasionalisme bertumpu pada akal sebagai sumber pengetahuan,
maka Empirisme memilih pengalaman (inderawi) sebagai sumber utama. Empirisme
berasal dari kata Yunani emperia yang berarti pengalaman. Pada masa modern,
terdapat dua pandangan mengenai siapa pelopornya, Pertama, Empirisme ini
dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626). Kedua, Empirisme ini dipelopori oleh John
Locke (1632-1704). Locke berkata, “Tidak ada pengetahuan manusia yang bisa
melebihi pengalamannya”. Doktrin empirisme ini sangat kuat mengakar di Inggris.
Mazhab Empirisme kemudian dikembangkan lebih luas oleh Thomas hobbes, Berkeley
dan yang terpenting adalah David Hume (1711-1776 M) dan John stuart Mills.10 Di
masa klasik, empirisme dikembangkan oleh Aristoteles. Bagi Aristoteles, pengetahuan
inderawi merupakan dasar dari semua pengetahuan kita.41
3. Mazhab Kritisisme
Kedua mazhab atau aliran diatas hanya berbeda pijakan. Yang satu mengacu
pada rasio dan yang lain pada pengalaman inderawi. Porsi perbedaan kedua aliran ini
makin tajam pada abad 17-18 M. Munculah mazhab Kritisisme yang diusung oleh
Emmanuel Kant (1724-1804). Ini adalah filsafat yang menengahi rasio/akal dan
pengalaman inderawi. Filsafat ini tidak murni rasional dan tidak murni empirik. Lantas
mengapa dinamai kritisisme? Kritisisme yang diusung Kant tujuannya untuk
mengkritisi dua mazhab tersebut dan mejelaskan kekurangan-kekurangannya.42
Sedikit membahas sosok Kant, dia adalah salah satu filosof yang berpengaruh
dalam sejarah filsafat modern. Akan tetapi pemikiran Kant sulit dipahami, bahkan oleh
orang yang menguasai bahasa Jerman sekaligus. Wilhem Windelband mengatakan
“Memahami Kant berarti melampaui dia”. Ajaran filsafat Kant bertumpu pada 3 hal:
Proses pengetahuan manusia, ajaran tentang moral serta hubungan Moral dengan
eksistensi Allah.43
4. Mazhab Kontemporer44
Selain ketiga Mazhab Rasionalisme, Empirisme dan Kritisisme, pengkaji ilmu
filsafat memasukkan aliran-aliran idealisme, pragmatisme (filsafat Praktis),
Materialisme,45 Eksistensialisme (filsafat yang mengkaji wujud manusia dan segala
persoalan hidupnya), fenomenologi,46 dan filsafat Positivisme ke dalam mazhab
kontemporer.

40
Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, (Belukar, 2004), hal 62; John Tyerman Williams, Pooh and The
Philosophers, (Yogyakarta: Jendela, 2002), hal 71
41
Fu’ad Farid Ismail, Cara Mudah… hal 90
42
Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman
Yunani Hingga Zaman modern, (Kanisius, 2004), Hal 278.
43
Ibid.
44
Diadaptasi dari Fu’ad Farid Ismail, Cara Mudah Belajar Filsafat, hal 125-127; Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (surabaya: PT Bina ilmu), hal 98
45
Sebuah Filsafat yang dipelopori Karl Marx (1818-1883 M). penganut filsafat ini cenderung mengingkari
hal-hal yang tidak dapat di indera.

11
D. Jalinan Ilmu Filsafat dan Agama
1. Jalinan Filsafat dan Agama
Terdapat beberapa asumsi terkait dengan jalinan filsafat dengan agama. Asumsi
tersebu didasarkan pada anggapan manusia sebagai makhluk social. Saifullah
memberikan ikhtisar dalam bagan yang lebih terperinci mengenai perbandingan jalinan
agama dan filsafat.
Table perbandingan antara agama dan filsafat.
Agama Filsafat
a. Agama adalah unsur a. Filsafat adalah salah satu
mutlak dan sumber unsure kebudayaan.
kebudayaan. b. Filsafat adalah hasil
b. Agama adalah ciptaan spekulasi manusia.
Tuhan. c. Filsafat menguji asumsi-
c. Agama adalah sumber- asumsi science, dan
sumber asumsi dari science mulai dari asumsi
filsafat dan ilmu tertentu.
pengetahuan (science). d. Filsafat mempercayakan
d. Agama mendahulukan sepenuhnya kekuatan daya
kepercayan dari pada pemikiran.
pemikiran. e. Filsafat tidak mengakui
e. Agama mempercayai dogma-dogma agama
akan adanya kebenaran sebagai kenyataan tentang
dan khayalan dogma- kebenaran.
dogma agama.

Dengan demikian terlihat bahwa peran agama dalam meluruskan filsafat yang
spekulatif terhadap kebenaran mutlak yang terdapat dalam agama. Sedangkan peran
filsafat terhadap agama adalah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran
mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis.3747
2. Jalinan Filsafat dan Ilmu
Antara filsafat dan ilmu mempunyai persamaan, dalam hal bahwa keduanya
merupakan hasil ciptaan kegiatan pikiran manusia, yaitu berfikir filosofis, spkulatif dan
empiris ilmiah. Namun ke-eksakan pengetahuan filsafat tidak mungkin diuji seperti
pengetahuan ilmu. Yang pertama tersusun dari hasil riset dan eksperimen antara ilmu
dan filsafat juga mempunyai perbedaan, terutama untuk filsafat menuntukan tujuan
hidup sedangkan ilmu menentukan sarana untuk hidup. Filsafat disebut sebagai induk
dari ilmu pengetahuan. Hal ini didasarkan pada perbedaan berikut ini
a. Mengenai lapangan pembahasan
b. Mengenai tujuannya
c. Mengenai cara pembahasannya
d. Mengenai kesimpulannya

47
A. Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi, 2011, Jakarta: PT Bumi Aksara, hal 127

12
a) Persamaan
Antara ilmu, filsafat dan agama ketiganya mempunyai tujuan yang sama
yaitu memperoleh kebenaran. Walaupun dalam mencari kebenaran tersebut baik
ilmu, filsafat maupun agama mempunyai caranya sendiri-sendiri.
Ilmu dengan metodenya mencari kebenaran tentang alam, termasuk manusia
dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Filsafat dengan wataknya menghampiri
kebenaran, baik tentang alam maupun manusia yang tidak dapat dijawab oleh
ilmu. Sedangkan agama dengan kepribadiannya memberikan persoalan atas segala
persoalan yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia maupun
tentang tuhan.38 48
b) Perbedaan
Filsafat adalah induk pengetahuan, filsafat adalah teori tentang kebenaran.
Filsafat mengedepankan rasionalitas, pondasi dari segala macam disiplin ilmu
yang ada. Filsafat juga bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki
dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta
radikal. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menualangkan
(mengelanakan atau mengembarakan) akal-budi secara radikal dan integral serta
universal.
Agama lahir sebagai pedoman dan panduan. Agama lahir tidak didasari
dengan riset, rasis atau uji coba. Melainkan lahir dari proses peciptaan zat yang
berada diluar jangkauan manusia. Kebenaran agama bersifat mutlak, karena agama
diturunkan Dzat yang maha besar, maha mutlak, dan maha sempurna yaitu Allah.
Ilmu pengetahuan adalah suatu hal yang dipelopori oleh akal sehat, ilmiah,
empiris dan logis. Ilmu adalah cabang pengetahuan yang bekembang pesat dari
waktu kewaktu. Segala sesuatu yang berawal dari pemikiran logis dengan aksi
yang ilmiah serta dapat dipertanggung jawabkan dengan bukti yang konkret. Ilmu
dan filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya.
Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya dan iman.3949
c) Titik singgung
Baik ilmu, filsafat, dan agama ketiganya saling melengkapi. Karena tidak
semua masalah yang ada didunia ini dapat diselesaikan oleh ilmu. Karena ilmu
terbatas, terbatas oleh subjeknya, oleh objeknya maupun metodologinya. Sehingga
masalah tersebut diselesaikan oleh filsafat karena filsafat bersifat spekulatif dan
juga alternative. Agama memberi jawaban tentang banyak soal asasi yang sama
sekali tidak terjawab oleh ilmu, yang dipertanyakan namun tidak terjawab bulat
oleh filsafat. Namun ada juga masalah yang tidak dapat dijawab oleh agama
melain kan dijawab oleh ilmu.

48
ibid, hal 128

49
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, 1979, Jakarta: Bulan Bintang, hal: 60

13
KEPUSTAKAAN

Anshari, Endang Saefuddin.1992. Ilmu Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu
Bakri, Hasbullah. 1986. Sistematika Filsafat, Jakarta: Penerbit Widjaya.
Bertens, Kees . 1993. Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, cet. Ke-11
Delfgaauw, Bernard. 1992. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: Penerbit Tiara
Wacana
Hadiwiyono, Harun. 1992. Sari Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Kanisius, Cet ke-8
Hanafi, Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang
Haryati, Tri Astutik. 2012. Manusia Perspektif Soren Kierkegaard dan Muhammad Iqbal,
Pekalongan: STAIN Pekalongan Press
Hasan, Fuad. 2001. Pengantar Filsafat Barat, Jakarta: Pustaka Jaya, Cet ke-2
Hatta, Muhammad. 1986. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press
Nasution, Harun. 1991. Falsafat Agama, Jakarta: PT Bulan Bintang, Cet. Ke-8
Nasution, Hasyimsyah. 2005. Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama
Poedjawijatna. 1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta
Russel, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suhartono, Suparlan. 2004. Dasar-dasar Filsafat, Jogjakarta: Ar-Ruzz, h. 114.
Suriasumantri, Jujun S. 1990. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, cet. Ke-6
Sugiharto, Bambang (Ed). 2013. Humanisme dan Humaniora, Bandung: Matahari
Syukur, Suparman. 2007. Epistemologi Islam Skolastik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung:
Remaja Rosda Karya, Cet . XII
Yuana, Kumara Ari. 2010. The Greatest Philosophers, Yogyakarta: Penerbit Andi
Zuhri, Amat . 2005. Ilmu Tasawuf, Pekalongan: STAIN Pekalongan Press

14
1