Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keluarga Berencana (KB)


1. Definisi KB
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak
dan jarak kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah
mencanangkan program atau cara untuk mencegah dan menunda
kehamilan (Sulistya, 2013).
2. Tujuan Program KB
Tujuan dilaksanakan program KB yaitu untuk membentuk keluarga
kecil sesuai dengan kekuatan social ekonomi suatu keluarga dengan cara
pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dam
sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (Sulistya, 2013).
Tujuan program KB lainnya yaitu untuk menurunkan angka kelahiran
yang bermakna, untuk mencapai tujuan tersebut maka diadakan kebijakan
yang dikategorikan dalam tiga fase (menjarangkan, menunda, dan
menghentikan) maksud dari kebijakan tersebut yaitu untuk
menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia muda, jarak
kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua (Hartanto,
2004).
3. Ruang Lingkup Program KB
Ruang lingkup program KB secara umum adalah sebagai berikut :
a. Keluarga berencana
b. Kesehatan reproduksi remaja
c. Ketahanan dan pemberdayaan keluarga
d. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
e. Keserasian kebijakan kependudukan
f. Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)
g. Penyelenggaraan pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan.
B. Kontrasepsi
1. Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan usaha-usaha itu dapat bersifat sementara dan
permanen (Wiknjosastro, 2007). Kontrasepsi yaitu pencegahan
terbuahinya sel telur oleh sel sperma (Konsepsi) atau pencegahan
menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding Rahim (Nugroho dan
Utama, 2014).
2. Efektivitas (Daya Guna) Kontrasepsi
Menurut Wiknjosastro (2007) efektivitas atau daya guna suatu cara
kontrasepsi dapat dinilai pada 2 tingkat, yakni :
a. Daya guna teoritis (theoretical effectiveness), yaitu kemampuan suatu
cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak
diinginkan, apabila kontrasepsi tersebut digunakan dengan mengikuti
aturan yang benar.
b. Daya guna pemakaian (Use effectiveness), yaitu kemampuan
kontrasepsi dalam keadaan sehari hari dimana pemakaiannya
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemakaian yang tidak hati-hati,
kurang disiplin dengan aturan pemakaian dan sebagainya.
3. Memilih Metode Kontrasepsi
Menurut Hartanto (2004), ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih kontrasepsi. Metode kontrasepsi yang
baik ialah kontrasepsi yang memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a. Aman atau tidak berbahaya
b. Dapat diandalkan
c. Sederhana
d. Murah
e. Dapat diterima oleh orang banyak
f. Pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi).
Faktor-faktor dalam memilih metode kontrasepsi yaitu :
a. Faktor pasangan
1) Umur
2) Gaya Hidup
3) Frekuensi senggama
4) Jumlah keluarga yang diinginkan
5) Pengalaman dengan kontrasepstivum yang lalu
6) Sikap kewanitaan
7) Sikap kepriaan.
b. Faktor kesehatan
1) Status kesehatan
2) Riwayat haid
3) Riwayat keluarga
4) Pemeriksaan fisik
5) Pemeriksaan panggul.
4. Macam-macam Kontrasepsi
a. Metode Kontrasepsi Sederhana
Metode kontrasepsi sederhana terdiri dari 2 yaitu metode
kontrasepsi
Sederhana tanpa alat dan metode kontrasepsi dengan alat. Metode
kontrasepsi tanpa alat antara lain : Metode Amenorhae Laktasi (MAL),
Couitus Interuptus , Metode Kalender, Metode Lendir Serviks,
Metode Suhu Basal Badan, dan Simptoternal yaitu perpaduan antara
suhu basal dan lendir servik. Sedangkan metode kontrasepsi sederhana
dengan alat yaitu kondom, diafragma, cup serviks dan spermisida.
Metode kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR),metode Kontrasepsi ini secara garis besar dibagi menjadi 2
yaitu kombinasi (mengandung hormone progesterone dan estrogen
sintetik) dan yang hanya berisi progesterone saja. Kontrasepsi
hormonal kombinasi terdapat pada pil dan suntikan injeksi. Sedangkan
kontrasepsi hormone yang berisi progesterone terdapat pada pil, suntik
dan implant (Handayani, 2010).
b. Metode Kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
AKDR yang mengandung hormone sintetik (sintetik
progesterone) dan yang tidak mengandung hormone (Handayani,
2010). AKDR yang mengandung hormon Progesterone atau
Leuonorgestrel yaitu Progestasert (Alza-T dengan daya kerja 1 tahun,
LNG-20 mengandung Leuonorgestrel (Hartanto, 2002).
c. Metode Kontrasepsi Mantap
Metode Kontrasepsi mantap terdiri dari 2 macam yaitu Metode
Opeatif Wanita (MOW) dan Metode Operatif Pria (MOP). MOW
sering dikenal dengan tubektomi karena prinsip metode ini adalah
memotong atau mengikat saluran tuba/tuba falopii sehingga mencegah
pertemuan antara ovum dan sperma. Sedangkan MOP sering dikenal
dengan nama Vasektomi, vasektomi yaitu memotong atau mengikat
sluran vas deferens sehingga cairan sperma tidak dapat keluar atau
ejakulasi (Handayani, 2010).
C. Kontrasepsi Hormonal
1. Definisi Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi hormonal merupakan salah satu kontraepsi yang paling
efektif dan reversible untuk mencegah terjadinya konsepsi (Baziad,2008).
Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi dimana estrogen dan
progesterone memberikan umpan balik terhadap kelenjar hipofisis
melalui hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap folikel dan proses
ovulasi (Manuaba, 2010).
2. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Hormonal
Hormon estrogen dan progesterone memberika umpan balik, terhadap
kelenjar hipofisis melalui hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap
perkembangan folikel dan proses ovulasi. Melalui hipotalamus dan
hipofisis, estrogen dapat menghambat pengeluaran Folicle Stimulating
Hormone (FSH) sehingga perkembangan dan kematangan Folicle De
Graaf tidak terjadi. Di samping itu progesterone dapat menghambat
pengeluaran Hormone Luteinizing (LH). Estrogen mempercepat peristaltic
tuba sehingga hasil konsepsi mencapai uterus endometrium yang belum
siap untuk menerima implantasi (Manuaba, 2010).
Selama siklus tanpa kehamilan, kadar estrogen dan progesterone
bervariasi dari hari ke hari. Bila salah satu hormone mencapai puncaknya,
suatu mekanisme umpan balik (feedback) menyebabkan mula-mula
hipotalamus kemudian kelenja hypophyse mengirimkan isyarat-isyarat
kepada ovarium untuk mengurangi sekresi dari hormone tersebut dan
menambah sekresi dari hormone lainnya. Bila terjadi kehamilan, maka
estrogen dan progesterone akan tetap dibuat bahkan dalam jumlah lebih
banyak tetapi tanpa adanya puncak-puncak siklus, sehingga akan
mencegah ovulasi selanjutnya. Estrogen bekerja secara primer untuk
membantu pengaturan hormone realisting factors of hipotalamus,
membantu pertumbu han dan pematangan dari ovum di dalam ovarium
dan merangsang perkembangan endometrium. Progesterone bekerja secara
primer menekan atau depresi dan melawan isyarat-isyarat dari
hipotalamus dan mencegah pelepasan ovum yang terlalu dini atau
premature dari ovarium, serta juga merangsang perkembangan dari
endometrium (Hartanto, 2002).
Adapun efek samping akibat kelebihan hormone estrogen, efek
samping yang sering terjadi yaitu rasa mual, retensi cairan, sakit kepala,
nyeri pada payudara, dan flour albus atau keputihan. Rasa mual kadang
disertai muntah, diare, dan raa perut kembung. Retensi cairan disebabkan
oleh kurangnya pengeluaran air dan natrium, dan dapat meningkatkan
berat badan. Sakit kepala disebabkan oleh retensi cairan. Kepada penderita
pemberian garam perlu dikurangi dan dapat diberikan diuretic. Kadang-
kadang efek samping demikian mengganggu akseptor, sehingga hendak
menghentikan kontrasepsi hormonal tersebut. Dalam kondisi tersebut,
akseptor dianjurkan untuk melanjutkan kontrasepsi hormonal dengan
kandungan hormon estrogen yang lebih rendah. Selain efek samping
kelebihan hormon estrogen, hormon progesteron juga memiliki efek
samping jika dalam dosis yang berlebihan dapat menyebabkan perdarahan
tidak teratur, bertambahnya nafsu makan disertai bertambahnya berat
badan, acne (jerawat), alopsia, kadang-kadang payudara mengecil, fluor
albus (keputihan), hipomenorea. Fluor albus yang kadang-kadang
ditemukan pada kontrasepsi hormonal dengan progesteron dalam dosis
tinggi, disebabkan oleh meningkatnya infeksi dengan candida albicans
(Wiknjosastro, 2007).
Komponen estrogen menyebabkan mudah tersinggung, tegang, retensi
air, dan garam, berat badan bertambah, menimbulkan nyeri kepala,
perdarahan banyak saat menstruasi, meningkatkan pengeluaran leukorhea,
dan menimbulkan perlunakan serviks. Komponen progesteron
menyebabkan payudara tegang, acne (jerawat), kulit dan rambut kering,
menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram (Manuaba, 2010).
3. Macam-Macam Kontrasepsi Hormonal
a. Kontrasepsi Pil
Kontrasepsi oral akan menggantikan produksi normal estrogen
dan progesteron oleh ovarium. Pil oral akan menekan hormon
ovarium. Selama siklus haid yang normal, sehingga juga menekan
releasingfactors di otak dan akhirnya mencegah ovulasi. Pemberian Pil
Oral bukan hanya untuk mencegah ovulasi, tetapi juga menimbulkan
gejala-gejala pseudo pregnancy (kehamilan palsu) seperti mual,
muntah, payudara membesar, dan terasa nyeri (Hartanto, 2002).
Efektivitas pada penggunaan yang sempurna adalah 99,5% 99,9% dan
97% (Handayani, 2010).
Menurut (Saifudin, 2006) pil dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Pil kombinasi adalah pil yang mengandung kombinasi antara
hormone estrogen dan progesterone dimana pil ini dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu:
a) Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengamdung hormon aktif estrogen atau progestin, dalam dosisi
yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, jumlah dan porsi
hormonnya konstan setiap hari.
b) Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen, progestin, dengan dua dosis berbeda 7
tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi.
c) Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen atau progestin, dengan tiga dosis yang
berbeda 7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi
setiap hari.
a) Cara kerja KB Pil menurut Saifuddin (2010) yaitu:
1. Menekan ovulasi
2. Mencegah implantasi
3. Mengentalkan lendir serviks
4. Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi ovum akan
terganggu.
b) Keuntungan KB Pil menurut Handayani (2010) yaitu:
1. Tidak mengganggu hubungan seksual \
2. Siklus haid menjadi teratur (mencegah anemia)
3. Dapat digunakan sebagai metode jangka panjang
4. Dapat digunakan pada masa remaja hingga menopouse
5. Mudah dihentikan setiap saat
6. Kesuburan cepat kembali setelah penggunaan pil dihentikan
7. Membantu mencegah: kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker
endometrium, kista ovarium, acne, disminorhea.
c) Keterbatasan KB Pil menurut Sinclair (2010) yaitu:
1. Amenorhea
2. Perdarahan haid yang berat
3. Perdarahan diantara siklus haid
4. Depresi
5. Kenaikan berat badan
6. Mual dan muntah
7. Perubahan libido
8. Hipertensi
9. Jerawat
10. Nyeri tekan payudara
11. Pusing Sakit kepala
2) Pil Progestin/ minipil adalah pil yang hanya mengandung
progesterone saja, jenis minipil yaitu:
a) Kemasan dengan isi 35 pil: 300ug levonorgestrel atau 350 ug
noretindron.
b) Kemasan dengan isi 28 pil: 75 ug desogestrel
Cara kerja Minipil menurut Saifuddin (2010) yaitu:
1. Menekan sekresi gonadotoprin dan sintesis steroid seks
di ovarium (tidak begitu kuat).
2. Endometrium mengalami transformasi lebih awal
sehingga implantasi lebih sulit
3. Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat
penetrasi sperma.
4. Mengubah moyilitas tuba sehingga transportasi sperma
terganggu.
b. Kontrasepsi Suntik
Menurut Sulistyawati (2013), kedua jenis kontrasepsi suntik
mempunyai efektivitas yang tinggi, dengan 30% kehamilan per 100
perempuan per tahun, jika penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai
jadwal yang telah ditentukan. DMPA maupun NET EN sangat efektif
sebagai metode kontrasepsi. Kurang dari 1 per 100 wanita akan
mengalami kehamilan dalam 1 tahun pemakaian DMPA dan 2 per 100
wanita per tahun pemakain NET EN (Hartanto, 2002).
Suntik dibagi menjadi 2 (Syaifudin, 2006)
a. Suntikan kombinasi yaitu: 25 mg Depo Medroksiprogesteron
Asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi IM
sebulan sekali (Cyclofem), dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5
mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali.
Cara kerja kontrasepsi Suntik menurut Sulistyawati (2013) yaitu:
(a) Mencegah ovulasi
(b) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma
(c) Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
(d) Menghambat transportasi gamet oleh tuba falloppii.

Keuntungan pengguna KB suntik yaitu sangat efektif,


pencegah kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada
hubungan seksual, tidak mengandung estrogen sehingga tidak
berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan
darah, tidak mempengaruhi ASI, efek samping sangat kecil, klien
tidak perlu menyimpan obat suntik, dapat digunakan oleh perempuan
usia lebih 35 tahun sampai perimenopause, membantu mencegah
kanker endometrium dan kehamilan ektopik, menurunkan kejadian
tumor jinak payudara, dan mencegah beberapa penyebab penyakit
radang panggul (Sulistyawati, 2013).

Adapun keterbatasan dari kontrasepsi Suntik menurut


Sulistyawati (2013) yaitu:

1. Gangguan haid
2. Leukorhea atau Keputihan
3. Jerawat
4. Rambut Rontok
5. Perubahan Berat Badan
6. Perubahan libido.
b. Suntikan progestin dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Depo Medroksiprogesteron Asetat (Depoprovera),
mengandung 150mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan
dengan cara disuntik intramuscular (di daerah bokong).
b. Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat), yang
mengandung 200mg Noretindron Enantat, diberikan setiap 2
bulan dengan cara disuntik intramuscular.

Cara kerja kontrasepsi Suntik menurut Sulistyawati (2013) yaitu:


a. Mencegah ovulasi
b. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan
penetrasi sperma
c. Menjadikan selaput lendir Rahim tipis dan atrofi
d. Menghambat transportasi gamet oleh tuba

c. Kontrasepsi Implant
Profil kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
Efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk Jedena, Indoplant, atau
Implanon dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi,
Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan,kesuburan segera kembali
setelah implan dicabut
Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur,
perdarahan bercak, dan amenorea, Aman dipakai pada masa laktasi.
Jenis kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
a) Norplant: terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan
panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 3,6
mg levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
b) Implanon: terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang
kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg
3Keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
c) Jadena dan indoplant: terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75
mg. Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

Cara kerja kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:

(a) Lendir serviks menjadi kental


(b) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi
(c) Mengurangi transportasi sperma
(d) Menekan ovulasi.

Keuntungan kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:

(a) Daya guna tinggi


(b) Perlindungan jangka panjang
(c) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
(d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
(e) Tidak mengganggu dari kegiatan senggama
(f) Tidak mengganggu ASI.
(g) Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.
(h) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
4. ASI Eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) sedini mungkin
setelah persalinan, diberikan tana jadwal dan tidak diberi makanan lain,
walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan (Wati, 2011). ASI
eksklusif menurut WHO adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan
lain baik susu formula, air putih, air jeruk ataupun makanan tambahan
lainyang diberikan saat bayi lahir sampai berumur 6 bulan (Soetjiningsih dan
Ranuh, 2013).

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja, termasuk kolostrum tanpa


tambahan apa pun sejak dari lahir, dengan kata lain pemberian susu formula,
air matang, air gula, dan madu untuk bayi baru lahir tidak diberikan (Saleha,
2009). Bayi dianjuurkan untuk disusui secara eksklusif selama 6 bulan
pertama kehidupan. Perlindungan terhadap infeksi paling besar terjadi selama
beberapa bulan pertama kehidupan pada bayi yang mendapatkan ASI
eksklusif, pada 6 bulan pertama, air, jus, dan makanan lain secara umum tidak
dibutuhkan oleh bayi (Yuliarti, 2010).

Dari beberapa pendapat mengenai pengertian ASI eksklusif dapat


ditarik kesimpulan bahwa tidak dibenarkan memberikan makanan atau
minuman apapun kepada bayi dalam 6 bulan pertama melainkan hanya
mengkonsumsi ASI saja sebagai makanan dan minuman utamanya.

a. Komposisi ASI
Komposisi ASI sangat rumit dan berisi lebih dari 100.000 biologi
komponen unit, Meskipun tidak semua keuntungan dari semua komponen
telah diteliti (Welford, 2008).
1) Kolostrum
Kolostrum adalah cairan susu kental berwarna kekuning-kuningan
yang dihasilkan pada sel alveoli payudara ibu. Merupakan pencahar yang
ideal untuk membersihkan meconium dan lebih banyak mengandung
antibody dibandingkan dengan ASI matur, sehingga dapat memberikan
perlindungan bayi sampai 6 bulan. Sesuai untuk kapasitas pencernaan
bayi dan kemampuan ginjal bayi baru lahir yang belum mampu
menerima makanan dalam volume yang besar. Jumlahnya tidak terlalu
banyak tetapi kaya akan gizi dan sangat baik bagi bayi.
2) Protein
Protein dalam ASI terdiri dari casein (protein yang sulit dicerna ) dan
whey daripada casein. Sedangkan pada susu sapi kebalikannya, sehingga
ASI eksklusif wajib diberikan sampai berusia 6 bulan.
3) Lemak ASI
Lemak ASI adalah penghasil kalori (energy) utama dan merupakan
komponen zat gizi yang sanggat bervariasi. Lebih mudah dicerna karena
sudah dalam bentuk emulsi.
4) Laktosa
Merupakan karbohidrat utama pada ASI. Fungsinya sebagai sumber
energy, meninggalkan absorbs kalium dan merangsang pertumbuhan
lactobacillus bifidus.
5) Vitamin A
Konsentrasi vitamin A berkisar pada 200.000 IU/dl.
6) Zat Besi
Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0,5-1,0 mg/l), bayi yang
menyusui jarang kekurangan zat besi. Hal ini dikarenakan zat besi pada
ASI lebih mudah diserap.
7) Taurin
Berupa Asam Amino dan berfungsi sebagai neurotransmitter, berperan
penting dalam maturasi otak bayi, Docosahexanoic acid (DHA) dan
Arachidonic Acid (ARA) merupakan bagian dari molekul yang dikenal
sebagai omega fatty acid. DHA adalah sebuah blok bangunan utama di
otak sebagai pusat kecerdasan dan di jala mata. ARA yang ditemukan
diseluruh tubuh dan bekerja bersama-sama dengan DHA untuk
mendukung visual dan perkembangan mental bayi.
8) Lactobacillus
Berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri
E.coli yang sering menyebabkan diare.
9) Lactoferin
Sebuah besi batas yang mengikat protein, ketersediaan besi untuk
bakteri dalam intertines, serta memungkinkan bakteri sehat untuk
berkembang.
10) Lisozim
Dapat mencegah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries
dentis dan molekul ( kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat
menyusu dengan botol dan dot ). Lisozim menghancurkan bakteri
berbahaya dan akhirnya mempengaruhi keseimbangan rumit bakteri yang
menghantui usus.
b. Keunggulan ASI
Menurut (Prasetyo, 2009) keunggulan ASI antara lain :
1. Mengandung semua gizi dalam susunan dan jumlah yang cukup umtuk
memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama.
2. Meringankan fungsi saluran pencernaan dan ginjal
3. Mengandung berbagai zat antibody, sehingga mencegah terjadi infeksi
4. Mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi
5. Tidak mengandung laktolobelin yang dapat menyebabkan alergi
6. Ekonomis dan praktis, tersedia waktu pada suhu yang ideal dan dalam
keadaan segar, serta bebas kuman.
c. Manfaat ASI eksklusif
Menurut (Meiliasari, 2008) manfaat penting bagi bayi dalam pemberian ASI
antara lain:
a. ASI merupakan nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang terbaik
b. ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh
c. ASI dapat meningkatkan kecerdasan dan
d. Pemberian ASI dapat meningkatkan jalinan kasih sayang atau
bonding.
5. Durasi Menyusui Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) telah terbukti secara ilmiah sebagai sumber nutrisi
terbaik untuk bayi. ASI tidak hanya mengandung nutrisi yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi juga faktor bioaktif
yang berkontribusi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh (Ballard,
2013). ASI terbukti telah memberikan manfaat yang luar biasa sehingga
World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar setiap bayi
mendapatkan ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan (WHO,
2018).
Memberikan ASI eksklusif dapat mencegah kematian 823.000 anak balita
per tahun di negara-negara berkembang (Victoria, 2016). Beberapa
penelitian telah membuktikan bahwa ada hubungan antara praktik
pemberian ASI eksklusif dan kematian bayi. Selain itu, memberikan ASI
eksklusif berkontribusi mengurangi risiko penyakit infeksi pada bayi,
seperti diare dan infeksi saluran pernapasan. Efek jangka panjang dari
pemberian ASI eksklusif adalah melindungi anak-anak dari penyakit
kronis pada saat dewasa dan meningkatkan skor kecerdasan (Anatolitou,
2017; Khan, 2017;Kelishadi, 2018;Rollins, 2016).
Selain memperkuat ikatan emosional antara ibu dan anak, pemberian
ASI eksklusif juga dapat mempercepat pemulihan postpartum dan
memberikan efek perlindungan pada kesehatan ibu, seperti kanker
payudara dan kanker ovarium (Anatolitou, 2017; Beatty, 2017). Selain itu,
memberikan ASI eksklusif juga dapat menekan konsekuensi ekonomi
seperti kerugian ekonomi lebih dari $ 302 miliar per tahun.
Secara umum, tingkat menyusui di dunia cukup rendah. Berdasarkan
laporan Global Breastfeeding Scorecard yang mengevaluasi data
menyusui dari 194 negara, persentase bayi di bawah enam bulan yang
diberikan ASI eksklusif hanya 40%. Selain itu, hanya 23 negara yang
pemberian ASI eksklusifnya di atas 60% (United Nations Children’s
Fund(UNICEF), 2017).
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa probabilitas survival
kumulatif dari pemberian ASI eksklusif menurun secara bertahap pada
bulan-bulan pertama kehidupan. Selain itu, usia ibu, status sosial ekonomi,
jumlah paritas, faktor psikososial, persalinan sesar, persepsi tentang ASI
yang tidak memadai, konseling pemberian makanan selama perawatan
postnatal, dan lamanya waktu melahirkan ibu merupakan prediktor dari
durasi menyusui (Vieira, 2014; Robert, 2014;Kasahun, 2016).
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki peraturan dalam
mendukung praktik pemberian ASI eksklusif. Namun, tingkat pemberian
ASI eksklusif di negara ini rendah. Menurut Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2012, hanya 42% anak-anak di b
Selain itu, bukti tentang probabilitas survival kumulatif selama periode
pemberian ASI eksklusif dan faktor-faktor yang mempengaruhi durasi
pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena
itu, kami tertarik untuk melihat probabilitas survival kumulatif pada
pemberian ASI eksklusif dan mengidentifikasi prediksi dari penghentian
menyusui dini di Indonesia.
Hasil penelitian kami dengan menggunakan data The Indonesian
Family Life Survey 5 (IFLS5) pada 1088 ibu bayi yang berusia 6-12 bulan
di Indonesia dengan menggunakan analisis survival ditemukan bahwa
setengah dari penghentian pemberian ASI eksklusif terjadi pada bulan
pertama usia bayi. Sementara probabilitas survival pemberian ASI
eksklusif adalah 21,3%. Durasi rata-rata menyusui di Indonesia adalah
2,03 bulan. Hasil dari cox regression mengungkapkan bahwa pendidikan
dan tempat persalinan ibu berperan untuk memprediksi penghentian
menyusui dini.
Durasi menyusui di antara ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi
lebih lama daripada kelompok ibu yang berpendidikan rendah. Hal yang
sama juga terjadi pada ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan. Mereka
tidak cenderung berhenti menyusui dini. Program promosi pemberian ASI
eksklusif dapat pada kelompok pendidikan rendah. Profesional kesehatan
juga dapat dilatih untuk memberikan dukungan menyusui dan informasi
yang valid tentang pemberian ASI eksklusif untuk ibu yang melahirkan di
fasilitas kesehatan.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif
Fenomena kurangnya pemberian ASI eksklusif disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya pengetahuan ibu yang kurang memadai tentang
ASI eksklusif, kesibukan ibu dalam melakukan pekerjaannya, faktor lain
adalah faktor ekonomi, faktor usia dan faktor tingkat pendidikan (Fikawati
dan Syafiq, 2010)
a. Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup (Prihatini,
2014). Jumlah persalinan yang pernah dialami memberikan pengalaman
pada ibu dalam memberikan ASI kepada bayi. Pada ibu dengan paritas 1-2
anak sering menemui masalah dalam memberikan ASI kepada bayinya.
Masalah yang paling sering muncul adalah putting susu yang lecet akibat
kurangnya pengalaman yang dimiliki atau belum siap menyusui secara
fisiologis (Savitri, 2018).
b. Usia
Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk
kehamilan persalinan dan menyusui adalah 20-35tahun karena pada usia
tersebut sesuai dengan masa reproduksi, sangat baik dan sangat
mendukung dalam pemberian ASI. Sedangkan umur yang kurang dari 20
tahun dianggap masih belum matang secara fisik dan mental sehingga
diragukan keterampilan perawatan diri dan bayinya. Kemudian umur lebih
dari 35 tahun dianggap juga berbahaya sebab baik alat reproduksi maupun
fisik ibu sudah jauh berkurang dan menurun selain itu ada kecenderungan
didapatkan penyakit lain pada ibu (Nofic, 2015).
c. Pekerjaan
Kebiasaan para ibu yang bekerja, terutama yang ditinggal di
perkotaan, juga turut mendukung rendahnya tingkat ibu menyusui. Para
ibu sering keluar rumah baik bekerja maupun tugas tugas social, maka
susu sapi menjadi satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan
bagi bayi yang ditinggalkan dirumah (Titik, 2018).
Fenomena kurangnya pemberian ASI eksklusif juga disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah kesibukkan ibu dalan melakukan
pekerjaannya, kebijakan instansi tempat ibu bekerja termasuk didalamnya
kebijakan atasan yang tidak atau kurang mendukung ibu untuk tetap
memberikan ASI dan singkatnya cuti melahirkan yang diberikan oleh
pemerintah terhadap ibu yang bekerja, merupakan alasan-alasan yang
sering diungkapan ibu yang tidak berhasil menyusui secara eksklusif
(Karbito, 2017)
d. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu yang rendah mengakibatkan kurangnya
pengetahuan ibu dalam menghadapi masalah, terutama dalam pemberian
ASI eksklusif. Pengetahuan ini diperoleh bak secara formal maupun
informal. Sedangkan ibu-ibu yang mempunyai tingkat pendidikan yang
lebih tinggi, umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal guna
pemeliharaan kesehatannya. Pendidikan juga akan membuat seseorang
terdorong untuk ingin tahu mencari pengalaman sehingga informasi yang
diterima akan menjadi pengetahuan (Febriani, 2015).
Pendidikan diperkirakan ada kaitannya dengan pengetahuan ibu
menyusui dalam memberikan ASI eksklusif, hal ini dihubungkan dengan
tingkat pengetahuan ibu bahwa seseorang yang berpendidikan lebih
tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan
dengan tingkat pendidikan yang rendah (Mantik, 2011).
e. Tingkat Ekonomi
Penghasilan keluarga mempunyai tingkat yang berbeda yaitu ada
penghasilan rendah, sedang dan tinggi yang didasarkan pada pendapatan
yang diperoleh secara rutin. Ibu yang mempunyai penghasilan ekonomi
yang rendah mempunyai peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI
eksklusif dibandingkan dengan ibu yang mempunyai status ekonomi
tinggi, serta lapangan pekerjaan bagi perempuan berhubungan dengan
cepatnya pemberian susu botol, artinya mengurangi kemungkinan untuk
menyusui bayi dalam waktu yang lama (Fatmawati, 2013).
7. Penggunaan Kontrasepsi Hormonal dengan Durasi Menyusui
Keluarga Berencana (KB) bagi keluarga sangat besar manfaatnya
terutama bagi ibu. KB dan kontrasepsi menjamin bahwa bayi akan
mendapat nutrisi yang cukup untuk waktu tertentu, dengan mencegah
kehamilan lain yang terlalu dini. Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber
nutrisi dan imunitas yang paling baik untuk bayi. Menyusui dapat
dijadikan sebagai alat kontrasepsi jika menyusui dilaksanakan berdasarkan
permintaan atau kebutuhan bayinya dan dilaksanakan secara teratur
sepanjang hari. Ibu menyusui juga harus mengetahui bahwa melaksanakan
pola laktasi yang ketat, tetap ada 3-12% wanita akan hamil lagi sebelum
kembalinya haid pertama setelah melahirkan (BKKBN, 2015).
Masalah dalam KB khususnya ibu menyusui adalah pemilihan atau
penggunaan KB kurang tepat dan ketepatan menggunakan alat KB yaitu
ibu menyusui harus memilih alat kontrasepsi yang tidak mengganggu
laktasi dan ketepatan waktu untuk menggunakan KB. Metode kontrasepsi
yang dapat dipilih untuk ibu menyusui antara lain KB alamiah,
kontrasepsi hormonal berisi progestin, kondom, kontrasepsi mantap
(BKKBN, 2015).
Lama ibu menyusui memiliki hubungan yang erat dengan penggunaan
kontrasepsi hormonal. Beberapa metode kontrasepsi hormonal dapat
menurunkan produksi Air Susu Ibu (ASI) seperti pil kombinasi atau
injeksi tiap bulan yang berisi estrogen dan progesterone, sehingga selama
ibu menyusui sebaiknya menghindari penggunaan metode kontrasepsi
hormonal tersebut (Mutahar, 2011).
Menurut penelitian sebelumnya oleh (Wati, 2011) yang berjudul
Pengaruh Kontrasepsi Suntik terhadap pengeluaran ASI Eksklusif di BPS
Triparyati Kemalang Kabupaten Klaten, pemakaian kontrasepsi suntik
yang mengandung hormone estrogen dan progesterone mempengaruhi
pengeluaran ASI, hal ini didukung dari 53 responden yang tidak lancer
pengeluaran ASInya sebanyak 29% orang (54,7%).
Disamping itu, jumlah wanita pasca melahirkan yang menggunakan
kontrasepsi juga semakin meningkat dari tahun ke tahun terutama
kontrasepsi suntik, karena selain presentasi keberhasilan 99%, wanita
yang menggunakan kontrasepsi suntik tidak perlu mengingat waktu
minum (untuk kontrasepsi pil) setiap hari yang kadang bisa terlewat.
Sehingga pemakaian kontrasepsi suntik ini memungkinkan dapat
berpengaruh pada produksi ASI ibu yang sedang dalam masa menyusui.
Hal ini karena hormone yang ada dalam kontrasepsi suntik mempengaruhi
produksi ASI.
Hormon prolactin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa bagian depan
otak berfungsi untuk merangsang kelenjar produksi ASI. Kontrasepsi
suntik 3 bulan memiliki kandungan 150 mg Depo Medroxyprogesteron
Asetat (DMPA) atau Norethindrone enanthate (NET-EN). Kedua bahan
ini karena hanya mengandung efek progestin. Dengan cara pemberian
disuntikkan setiap 2-3 bulan. Yang perlu diperhatikan adalah waktu
progestin ini disuntikkan pada ibu dalam bentuk depot konsentrasinya
akan sangat tinggi maka transmisinya ke bayi juga akan sedikit
meningkat. Studi yang telah dilaksanakan tidak menunjukkan adanya efek
negative pada bayi yang menyusui dari ibu yang mendapat suntikan. Cara
ini dianjurkan sebagai alat KB pada ibu yang sedang menyusui (Affandi,
2014).
Bagi ibu yang dalam masa menyusui, tidak dianjurkan menggunakan
kontrasepsi suntik yang memiliki kandungan estrogen atau estradinol
sipionat karena hal ini dapat menurunkan jumlah produksi ASI, sehigga
menghambat kelancaran pengeluaran ASI selama masa laktasi (Suswati,
2016). Pengetahuan ibu tentang saat mulai menggunakan kontrasepsi
selama melahirkan dan kontrasepsi yang mengganggu dan tidak
mengganggu ASI, akan mengarahkan ibu menyusui untuk memilih
kontrasepsi yang tidak mengganggu ASI. Pengetahuan tersebut akan
menjadi landasan ibu menyusui untuk mempertimbangkan pemilihan
kontrasepsi selama menyusui. Ketidaktahuan ibu menyusui tentang alat
kontrasepsi selama menyusui akan menyebabkan ibu salah dalam
menentukan pilihan, sehingga memilih alat kontrasepsi yang mengganggu
laktasi (Rokhanawati, 2009).
8. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah model pendahuluan dari sebuah masalah
penelitian dan merupakan refleksi dari variabel-variabel yang diteliti. Tujuan
dari kerangka konsep adalah untuk membimbing atau mengarahkan
penelitian. Fungsi dari kerangka konsep adalah menggambarkan hubunga-
hubungan antara variabel-variabel dan konsep-konsep yang diteliti
(Rokhanawati, 2009).

Pada penelitian ini yang menjadi vaiabel dependen yaitu Pemakaian


Kontrasepsi Hormonal, sedangkan yang menjadi variabel independen yaitu
Durasi Menyusui pada anak usia 0-6 bulan.

Variabel Independen Variabel Dependen

Kontrasepsi Hormonal Durasi Menyusui

Variabel Confounding

1. Paritas
2. Usia
3. Tingkat
pendidikan
4. Pekerjaan
5. Tingkat ekonomi

Gambar 1.1 Kerangka Konsep


9. Definisi Operasional
Tabel 1.2
Definisi Operasional
Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional

Independen
Penggunaan Kontrasepsi Wawancara Lembar 1.Suntik Ordinal
Kontrasepsi yang Pertanyaan
2.Pil
Hormonal mengandung
estrogen dan 3. Implan
progesterone
seperti: DMPA,
Cyclofem, Pil
Mini,Pil
Kombinasi,
Implant
Dependen
Durasi Keadaan Wawancara Lembar 1.<4 bulan Ordinal
dimana bayi
Menyusui Pertanyaan 2.4-5 bulan
atau.ibu
menunjukkan 3. >6 bulan
beberapa
tanda yang
menunjukkan
adanya
kepuasan
dalam
produksi
ataupun
konsumsi ASI

Confounding
Paritas Paritas Kuisioner Lembar 1. Primipara Ordinal
adalah Pertanyaan 2. Multipara
jumlah 3.Grande
anak yang multipara
pernah
dilahirkan
hidup
Usia Usia yaitu Wawancara Lembar 1. <20 tahun Ordinal
waktu Pertanyaan 2. 20-35
hidup ibu tahun
sejak 3. >35 tahun
dilahirkan
sampai
dengan
saat
dilakukan
penelitian
Tingkat Tingkat Wawancara Lembar 1. Tidak Ordinal
Pendidikan Pendidikan Pertanyaan Sekolah
adalah 2. SD
jenjang 3. SMP
pendidikan 4. SMA
yang
pernah
ditempuh
oleh ibu

Pekerjaan Pekerjaan Wawancara Lembar 1. Bekerja Nominal


adalah Pertanyaan (PNS, petani,
kegiatan Swasta,
atau Karyawan
aktivita swasta)
yang 2. Tidak
dilakukan Bekerja
ibu sehari- (IRT)
hari

10. Hipotesis
1. Ada hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan durasi
menyusui eksklusif pada anak usia 0-6 bulan.