Anda di halaman 1dari 5

Bejat, Guru Honorer di Jambi Minta Disodomi 23 Murid Selama Tujuh Tahun

Budi Utomo

Selasa, 17 September 2019 - 18:17 WIB

TEBO - Seorang guru honorer SMP di Tebo, Jambi berinisial FR (38) dibekuk karena tega
mencabuli 23 muridnya. Perbuatan bejat pelaku yang sudah mempunyai istri dan dua anak ini
terungkap setelah korban berinisial SGM dan HD dicabuli pelaku pada Februari 2019 sekitar
pukul 13.30. Pencabulan dilakukan di dalam kamar rumah pelaku di Desa Bangun Seranten,
Kecamatan Muara Tabir. SGM akhirnya menceritakan pencabulan tersebut kepada orang
tuanya.

Selanjutnya orang tua korban langsung melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke Polsek
Muara Tabir pada 13 September 2019.
Kasat Reskrim Polres Tebo AKP Muhammad Ridho Syawaluddin Taufan, yang didampingi
Kanit PPA Polres Tebo menjelaskan bahwa pelaku berhasil mencabuli para korbannya dengan
cara disuruh datang ke rumahnya guna membicarakan masalah kegiatan Pramuka.

Selanjutnya, setelah sampai dirumah SGM dan HD langsung diajak oleh pelaku masuk
kedalam kamar dan dicabuli. Selain dicabuli, korban juga dipaksa mensodomi pelaku. Kasat
menambahkan bahwa aksi pelaku ini sudah berlangsung sejak 2012 lalu hingga 2019. Selama
7 tahun tersebut terhitung ada 23 orang anak laki-laki menjadi korban pencabulan. Bahkan,
para korban ada yang sudah bersekolah SMP, SMA dan ada yang sudah kuliah.

"Saat ini pihak Polres Tebo bekerjasama dengan TP2A untuk tahap pemulihan psikologi
korban untuk bimbingan konsling. Pelaku dikenakan dua pasal yaitu pasal 82 ayat 1 dan 2
dengan ancaman 20 tahun penjara," pungkas Kasat Reskrim.
Akibat perbuatan pelaku para korban mengalami trauma serta menahan malu terhadap teman-
temannya.

"Dari pengakuan korban, ada 15 orang menjadi korban yang sama. Korban mau menuruti
kemauan pelaku karena pelaku menjanjikan akan diberikan nilai yang bagus disekolah," jelas
kasat lagi.
Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/1440567/174/bejat-guru-honorer-di-jambi-
minta-disodomi-23-murid-selama-tujuh-tahun-1568718997
Analisis :
Seorang guru honorer SMP di Tebo, Jambi berinisial FR (38) dibekuk karena tega mencabuli
23 muridnya. Aksi pelaku ini sudah berlangsung sejak 2012 lalu hingga 2019, namun baru
dilaporkan pada 13 September 2019. Selama 7 tahun tersebut terhitung ada 23 orang anak laki-
laki menjadi korban pencabulan. Bahkan, para korban ada yang sudah bersekolah SMP, SMA
dan ada yang sudah kuliah.

Perbuatan pelaku ini dapat mengakibatkan beberepa hal. Pertama, dampak psikologis korban
kekerasan dan pelecehan seksual akan mengalami trauma yang mendalam, selain itu stres yang
dialami korban dapat menganggu fungsi dan perkembangan otaknya. Kedua, dampak fisik.
Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak merupakan faktor utama penularan Penyakit
Menular Seksual (PMS). Selain itu, korban juga berpotensi mengalami luka internal dan
pendarahan. Pada kasus yang parah, kerusakan organ internal dapat terjadi.

Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian. Ketiga, dampak sosial. Korban
kekerasan dan pelecehan seksual sering dikucilkan dalam kehidupan sosial, hal yang
seharusnya dihindari karena korban pastinya butuh motivasi dan dukungan moral untuk
bangkit lagi menjalani kehidupannya. Salah satu penyebab utama semakin tingginya kasus-
kasus kekerasan seksual adalah, semakin mudahnya akses pornografi di dunia maya, dengan
situs yang sengaja ditawarkan dan disajikan kepada siapa saja dan di mana saja.

Karena itu harus ada kemauan dan kontrol yang ketat terhadap situs-situs tersebut. Selain itu,
gerakan pendidikan moral dan pendidikan seksual yang efektif harus diberikan di
sekolahsekolah. Hukuman berat yang menimbulkan efek jera pun harus diterapkan kepada
pelaku yang terbukti. Kondisi ini mengharuskan para orangtua lebih mewaspadai adanya
perilaku ketergantungan gadget pada anak.

Selain itu, perlu dibangun budaya melapor, sehingga jika ada kasus pelecehan seksual bisa
segera melaporkannya kepada pihak berwajib. Apalagi, aturan hukum Pelaku dikenakan dua
pasal yaitu pasal 82 ayat 1 dan 2 dengan ancaman 20 tahun penjara, yang mungkin regulasi itu
belum mampu memberikan efek jera yang lebih.
Dua Tahun Dipaksa Mengemis, Bocah 9 Tahun Dirantai Orangtua Jika Tak Bawa Rp 100 Ribu

Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi


Editor : Khairina

ACEH UTARA, KOMPAS.com - Tim Polres Lhokseumawe mengungkap fakta baru terkait
penganiayaan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan ayah tiri dan ibu kandung di Desa
Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Kasat Reskrim Polres
Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang menjelaskan, tersangka merupakan ayah tiri korban
berinisial UG (34) dan ibu kandung, MI (39) ibu kandung. Keduanya tega melakukan
kekerasan terhadap anaknya MS (9) dengan cara dirantai jika tidak membawa uang hasil
mengemis sebesar Rp 100 ribu per hari.

Dia menjelaskan, kasus eksploitasi anak ini selama dua tahun, sejak anak tersebut berusia enam
tahun. Awalnya anak itu tidak mau, namun dipukuli sehingga terpaksa mengemis. “Jika anak
ini pulang tanpa membawa uang hasil mengemis minimal Rp 100 ribu, maka anak tersebut
kembali mendapat kekerasan,”katanya kepada awak media dalam konferensi pers di Mapolres
setempat, Jumat (20/9/2019). Sedangkan, dari pengakuan tersangka,sambung Indra, orangtua
melarang anaknya untuk keluar dan mengemis. Namun, karena sudah biasa anak tersebut tetap
mengemis di jalan protokol dan kafe di Lhokseumawe. “Karena anak itu sering keluar rumah
tindakan itu kembali dilakukan oleh ibu kandung dan ayah tirinya itu, maka itu anak tersebut
mendapat kekerasan dengan cara diborgol dan dirantai agar tidak keluar dari rumah,”
ungkapnya.

Anak itu sudah dilakukan pemeriksaan psikologis. Selanjutnya,diserahkan Dinas Sosial


Lhokseumawe, apakah nanti akan dirawat pihak dinas atau dikembalikan kepada keluarga dari
ibu kandungnya. Terkait perbuat tersebut tersangka dikenakan Pasal 88 jo Pasal 76 (i) UU RI
No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
dan atau Pasal 44 ayat (1) UJ RI no 23 tahun 2004 tentang P-KDRT Jo Pasal 65 KUHP dengan
ancaman paling lama 10 tahun denda paling banyak Rp 200 Juta.

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2019/09/20/21441341/dua-tahun-dipaksa-
mengemis-bocah-9-tahun-dirantai-orangtua-jika-tak-bawa-rp.

Analisis :

Dampak buruk dari eksploitasi anak sangat jelas karena yang seperti kita ketahui Eksploitasi
anak itu adalah pengambilan hak anak secara paksa. Hak anak yang seharusnya belajar dan
bermain diganti atau ditarik paksa untuk mencari uang. Di dalam agama dijelaskan bahwa anak
adalah amanah tuhan yang harus dijaga namun pada kenyataannya banyak anak yang terlantar
tidak mendapatkan pendidikan yang layak bahkan menjadi korban tindak kekerasan sehingga
masa depan anak tersebutpun menjadi tidak jelas dan rentah terhadap berbagai upaya
eksploitasi.

Anak adalah anugerah dari yang maha kuasa yang diamanahkan kepada orang tua. Lewat anak
kebahagiaan dalam pernikahan menjadi lebih indah dan lewat anak lah pintu rezeki semakin
terbuka lebar, alangkah indahnya ketika memiliki anak yang saleh dan salehah. Tetapi mengapa
banyak orang tua diluar sana yang menelantarkan anak dan lebih memilih anaknya kerja
ketimbang belajar atau sekolah.

Dalam kasus ini, ada faktor penyebab anak dieksploitasi yaitu yang kurang materi, tuntutan
orangtua, sifat matrealistis. Hal ini terjadi karena realitas masyarakat yang konsumtif.

UG (34) selaku ayah tiri dan MI (39) selaku ibu kandung telah mengeksploitasi anaknya selama
dua tahun, sejak anak tersebut berusia enam tahun. Awalnya anak itu tidak mau, namun
dipukuli sehingga terpaksa mengemis. Jika anak ini pulang tanpa membawa uang hasil
mengemis minimal Rp 100 ribu, maka anak tersebut kembali mendapat kekerasan

Mungkin si orangtuanya berfikir harta adalah segala-galanya sedangkan didalam Al-Quran


anak itu adalah amanah yang harus dijaga dan di nafkahi oleh orangtuanya, bukan mencari duit
sendiri, sedangkan usia kerja anak seharusnya 17 atau 18 tahun keatas anak umur segitu belum
sepantasnya mencari uang sendiri.

Eksploitasi anak juga dapat merubah perilaku anak, seperti matang sebelum umurnya dan
bergaul yang keras, ketika disuruh orangtuanya jangan bekerja pasti anaknya akan membantah
karena dia bisa mencari duit sendiri, anak kalo sudah mengedal uang pasti akan lupa segalanya.
Dampak lainnya adalah dia sudah mengenal materil sebelum pada waktunya, nanti ujungnya
ketergantungan. .

Disamping itu, pemerintah juga harus memberi pemahaman tentang hak-hak anak kepada
anak-anak korban eksploitasi dan orang-orang terdekat anak-anak korban eksploitasi supaya
anak korban eksploitasi ini tidak lagi menjadi korban. Setidaknya pemerintah memberikan
keterampilan kerja yang layak kepada para anak-anak yang dieksploitasi, dan menegur
orangtuanya yang telah mempekerjakan Selain memberi hukum yang berat kepada pelaku
kasus eksploitasi anak, untuk meminimalisirnya pemerintah juga harus memberi pemahaman
kepada masyarakat luas tentang undang-undang perlindungan anak sehingga masyarakat
paham dan bisa membantu pemerintah untuk melindungi anak-anak dari kasus eksploitasi.

Orang tua harus memenuhi hak-hak untuk anak, yakni hak untuk bermain, hak untuk
mendapatkan permainan, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk mendapatkan
identitas, hak untuk mendapatkan status kebangsaan, hak untukmendapatkan makanan, hak
untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan
kesamaan, hak untuk memiliki peran pembangunan.