Anda di halaman 1dari 13

Di dalam operasional asuransi syari’ah yang sebenarnya terjadi adalah saling bertanggung jawab,

membantu dan melindungi diantara para peserta sendiri. Perusahaan asuransi diberi kepercayaan
(amanah) oleh para peserta untuk mengelola premi, mengembangkan dengan jalan yang halal,
memberikan santunan kepada yang mengalami musibah sesuai isi fakta perjanjian tersebut.

Adapun proses yang dilalui seputar mekanisme kerja asuransi syariah dapat diuraikan:

1. Underwriting

Underwriting adalah proses penafsiran jangka hidup seorang calon peserta yang dikaitkan dengan
besarnya resiko untuk menentukan besarnya premi. Underwriting asuransi syariah bertujuan
memberikan skema pembagian resiko yang proposional dan adil diantara para peserta yang secara relatif
homogen.

Dalam melakukan proses underwriting terdapat tiga konsep penting yang menjadi dasar bagi perusahaan
asuransi untuk menerima dan menolak suatu penutupan resiko. Pertama, kemungkinan menderita
kerugian, kondisi ini diramalkan berdasarkan apa yang terjadi pada masa lalu. Kedua, tingkat resiko, yaitu
ketidakpastian akan kerugian pada masa yang akan datang. Ketiga, hukum bilangan dimana makin
banyak obyek yang mempunyai resiko yang sama atau hampir sama, akan makin bertambah baik bagi
perusahaan karena penyebaran risiko akan lebih luas dan kemungkinan menderita kerugian dapat secara
sistematis diramalkan.

Pada asuransi syariah underwriting berperan:

a. Mempertimbangkan risiko yang diajukan. Proses seleksi yang dilakukan oleh underwriting
dipengaruhi oleh faktor usia, kondisi fisik atau kesehatan, jenis pekerjaan, moral dan kebiasaan, besarnya
nilai pertanggungan, dan jenis kelamin.

b. Memutuskan meneriama atau tidak risiko-risiko tersebut.


c. Menentukan syarat, ketentuan dan lingkup ganti rugi termasuk memastikan peserta membayar
premi sesuai dengan tingkat risiko, menetapkan besarnya jumlah pertanggungan, lamanya waktu
asuransi, dan plan sesuai dengan tingkat risiko peserta.

d. Mengenakan biaya upah (ijarah/fee) pada dana kontribusi peserta.

e. Mengamankan profit morgin dan menjaga agar perusahaan asuransi tidak rugi.

f. Menjaga kestabilan dana yang terhimpun agar perusahaan dapat berkembang.

g. Menghindari anti seleksi.

h. Underwriting juga harus memperhatikan pasar kompetetif yang ada dalam ketentuan tarif,
penyebaran resiko dan volume, dan hasil survei.[3]

Beberapa hal yang patut menjadi perhatian para underwriter pada asuransi umum, sebelum mengambil
keputusan untuk mengaksep atau tidak suatu prospek adalah sebagai berikut:

a. Kompetisi

Disisni dituntut kematangan seorang underwriter. Underwriter yang baik adalah yang adil.

b. Penyebaran resiko dan volume.

c. Survei
Survei akan memungkinkan underwriter memperoleh setiap detail kemungkinan mengenai resiko kondisi
fisik dan juga kesempatan mengamankan informasi mengenai keadaan moral pemohon. Laporan survei
meliputi sejumlah ciri-ciri berikut:

1) Deskripsi utuh terhadap resiko.

2) Penilaian tingkat resiko.[4]

3) Pengukuran kemungkinan kerugian maksimal.

Calon peserta harus mengisi formulir permohonan secara lengkap yang intinya antara lain sebagai
berikut:

a. Uraian bisnis secara rinci.

b. Perubahan bisnis yang dilakukan belakangan ini dan kemungkinan pengembangannya selama masa
keikutsertaannya asuransi syariah.

c. Catatan perkara yang telah dialami.[5]

2. Polis

Polis asuransi adalah surat perjanjian antara pihak yang menjadi peserta asuransi dengan perusahaan
asuransi. Polis asuransi merupakan bukti auntetik berupa akta mengenai adanya perjanjian asuransi.
Unsur-unsur yang harus ada dalam polis adalah:

a. Deklarasi, memuat data yang berkaitan dengan peserta seperti nama, alamat, jenis dan lokasi objek
asuransi, tanggal dan jangka waktu penutupan, perhitungan dan besarnya premi serta informasi lain
yang diperlukan.
b. Perjanjian asuransi, memuat pernyataan perusahaan asuransi menyatakan kesanggupannya
mengganti kerugian atas objek asuransi apabila terjadi kerusakan.

c. Pernyataan polis, memuat kondisi objek, batas waktu pembayaran premi, permintaan pembatalan
polis, prosedur pengajuan klaim, asuransi ganda, subrogasi.

d. Pengecualian, memuat penyebutan dengan jelas musibah apa saja yang tidak ditutup atau diluar
penutupan asuransi.

e. Kondisi pertanggungan, memuat kondisi objek yang diasuransikan.

f. Polis ditandatangani oleh perusahaan asuransi.

Dalam asuransi Islam, untuk menghindari unsur-unsur yang diharamkan di atas kontrak asuransi, maka
diberikan beberapa pilihan kontrak alternatif dalam polis asuransi tersebut. Sebagai ilustrasi:

-->

a. Polis dengan akad Mudhorobah atau mudhobbah musyarakah. Pada akad Mudhorobah peserta
asuransi menyediakan modal untuk dikelola oleh operator asuransi. Sedangkan Mudhorobah
musyarakah perusahaan asuransi sebagai Mudhorib menyertkan modal atau dananya dalam investasi
bersama dana peserta. Dalam kontrak tercantum persetujuan kontribusi yang dijadikan dana asuransi
syariah dan pihak operator berhak mengelola dan mengivestasikan dana asuransi untuk kepentingan
perusahaan sesuai dengan prinsip Mudhorobah. Peserta menyetujui kontribusinya dijadikan tabarru’ dan
digunakan untuk membantu peserta lain yan tertimpa musibah dalam bentuk hibah.

b. Wakalah bil ujrah, yaitu pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi untuk mengelola
dana peserta dengan pemberian ujrah (fee). Persetujuan kontribusi yang dimasukkan dapat
dinvestasikan dan dikelola sesuai dengan prinsip syariah, persetujuan pembayaran klaim/manfaat
asuransi, provisi dan cadangan sesuai pedoman dan kebijakan otoritas. Persetujuan membayar biaya
wakalah bil ujrah.

3. Premi (Kontribusi)

Premi asuransi bagi peserta secara umum bermanfaat untuk menentukan besar tabungan peserta
asuransi, mendapatkan santunan kebajikan atau dana klaim terhadap suatu kejadian yang
mengakibatkan terjadinya klaim, menambahkan investasi pada masa yang akan datang. Sedangkan bagi
perusahaan premi berguna untuk menambah investasi pada suatu usaha untuk dikelola. Premi yang
dikumpulkan dari peserta paling tidak harus cukup untuk menutupi tiga hal, yaitu klaim resiko yang
dijamin, biaya akuisisi, dan biaya pengelolaan operasional perusahaan.

Premi dalam asuransi syariah umumnya dibagi beberapa bagian, yaitu:

1) Premi tabungan, yaitu bagian premi yang merupakan dana tabungan pemegang polis yang dikelola
oleh perusahaan dimana pemiliknya akan mendapatkan hak sesuai dengan kesepakatan dari pendapatan
investasi bersih. Premi tabungan dan hak bagi hasil investasi akan diberikan kepada peserta bila yang
bersangkutan dinyatakan berhenti sebagai peserta.

2) Premi tabarru’, yaitu sejumlah dana yang dihibahkan oleh pemegang polis dan digunakan untuk
tolong menolong dan menaggulangi musibah kematian yang akan disantunkan kepada ahli waris bila
peserta meninggal dunia sebelum masa asuransi berakhir.

3) Premi biaya adalah sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta kepada perusahaan yang
digunakan untuk membiayai operasional perusahaan dalam rangka pengelolaan dana asuransi.

Penetapan besarnya tarif premi tidak ditentukan oleh pemerintah, karena diserahkan pada mekanisme
pasar yang berlaku. Namun pada dasarnya tarif premi menurut aturan pemerintah harus memenuhi
unsur berikut:
Penetapan tarif premi asuransi kerugian, perhitungan jumlah premi yang akan mempengaruhi dana
klaim tergantung pada beberapa hal, antara lain:

1) Penetapan tarif premi harus dilakukan dengan memperhitungkan:

a. Premi murni dihitung berdasarkan profil kerugian untuk jenis asuransi yang bersangkutan sekurang-
kurangnya 5 tahun terakhir.

b. Biaya perolehan, termasuk komisi agen.

c. Biaya administrasi dan biaya umum lainnya.

2) Tarif premi harus ditetapkan pada tingkat yang mencukupi, tidak melebihi dan tidak ditetapkan
secara diskriminatif. Demikian pula tidak boleh terlalu berlebihan sehingga tidak sebanding dengan
manfaat yang dijanjikan.

4. Pengeolaan dana asuransi (Premi)

Pengelolaan dana asuransi (premi) dapat dilakukan dengan akad mudharabah, mudharabah musyarakah,
atau wakalah bil ujrah. Pada akad mudhorobah, keuntungan perusahaan asuransi syariah diperoleh dari
bagian keuntungan dana dari investasi (sistem bagi hasil). Para peserta asuransi syariah berkedudukan
sebagai pemilik modal dan perusahaan asuransi syariah berfungsi sebagai pihak yang menjalankan
modal. Keuntungan yang diperoleh dari pengembangan dana itu dibagi antara peserta dan perusahaan
sesuai ketentuan yang telah disepakati.

Pada akad mudharobah musyarakah, perusahaan asuransi bertindak sebagai mudharib yang
menyertakan modal atau dananya dalam investai bersama dana para peserta. Perusahaan dan peserta
berhak memperoleh bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh dari investasi. Sedangkan pada akad
wakalah bil ujrah, perusahaan berhak mendapatkan fee sesuai dengan kesepakatan. Para peserta
memberikan kuasa kepada perusahaan untuk mengelola dananya dalam hal: kegiatan administrasi,
pengelolaan dana, pembayaran klaim, underwriting, pemasaran, dan investasi.[6]
Dalam mendeskripsikan tentang cara atau mekanisme kerja asuransi syariah ini, akan dibagi kepada dua
pembahasan pokok sesuai dengan pembagian asuransi syariah itu sendiri, yakni asuransi syariah keluarga
dan asuransi umum. Pembagian ini sangat penting dilakukan mengingat mekanisme kerja dari kedua
syariah itu memiliki sedikit perbedaan, yakni dalam pengelolaan premi yang disetor kepada perusahaan
asuransi syariah. Perbedaan itu muncul disebabkan sesuatu yang diasuransikannya berbeda; kalau
asuransi umum (kerugian) yang diasuransikan itu harta atau hak milik peserta asuransi, sedangkan
diasuransi keluarga (jiwa) yang diasuransikan adalah diri peserta asuransi itu sendiri.

Selain kedua topik diatas, dalam bagian ini akan dibahas pula tentang pembayaran klaim oleh
perusahaan asuransi kepada peserta asuransi yang tertimpa musibah atau bencana.

1. Mekanisme kerja asuransi keluarga

Mekanisme asuransi keluarga ini diawali oleh terjadinya akad atau transaksi antara perusahaan asuransi
dengan peserta asuransi. Akad tersebut dilakukan sesuai dengan produk asuransi yang akan
dimanfaatkan oleh peserta asuransi. Untuk satu produk asuransi akan dilakukan satu akad. Pada saat
akad berlangsung peserta asuransi harus sudah menentukan produk asuransi yang akan diambil, seperti
Asuransi Berjangka (10, 15, atau 20 tahun), Asuransi dana Investasi, Asuransi Kesehatan, Asuransi
Kecelakaan Diri. Setelah akad berlangsung, maka dalam asuransi keluarga diatur menurut sebagai
berikut:

a. Peserta asuransi syariah bebas memilih salah satu jenis syariah keluarga yang ada dengan
ketentuan umur peserta antara 18 sampai dengan 50 tahun dengan masa pembayaran klaim berakhir
sebelum mencapai umur 60 tahun.

b. Perusahaan asuransi syariah dan peserta asuransi syariah mengadakan perjanjian mudhorobah
(bagi hasil), yang sekaligus dinyatakan pula hak dan kewajiban diantara kedua belah pihak.

c. Setiap peserta asuransi syariah menyerahkan premi asuransi yang dapat dilakukan secara bulanan,
kuartalan, setengah tahunan, atau tahunan. Premi yang diserahkan dengan kemampuan peserta, tetapi
tidak boleh kurang dari jumlah minimal yang ditetapkan perusahaan asuransi sebagai berikut:
1) Setiap premi yang dibayarkan peserta dibagi kedalam dua rekening, yaitu rekening peserta dan
rekening derma atau tabarru’. Presentase kedua rekening itu ditentukan sesuai kelompok umur peserta
dan jangka waktu pertanggung.

2) Uang angsuran (premi) oleh perusahaan asuransi akan akan disatukan ke dalam “Kumpulan Dana
Peserta”, yang selanjutnya diinvestasikan dalam pembiayaan-pembiayaan proyek yang dibenarkan
syariah.

3) Keuntungan yang diperoleh dari investasi itu akan dibagi dengan peserta sesuai dengan perjanjian
mudhorobah yang telah disepakati sebelumnya.

4) Keuntungan bagian peserta akan dikreditkan ke dalam rekening peserta dan rekening derma atau
tabarru’ secara proposional.

Mekanisme kerja di asuransi Syariah Keluarga ini secara sederhana dapat dibuatkan gambar
sebagaimana terlihat dibawah ini.

BAGAN

Dalam uraian diatas dapat diketahui bahwa ada beberapa tahap yang dilalui dalam pengelolaan dana di
Asuransi Syariah Keluarga., yaitu: (1) peserta menyerahkan sejumlah premi kepada perusahaan asuransi;
(2) perusahaan asuransi menerima premi dari peserta, yang dimasukkan ke dalam dua rekening
tabungan peserta dan tabungan derma, yang selanjutnya disatukan kembali ke dalam kumpulan dana
peserta; (3) perusahaan asuransi mengivestasikan dana yang terkumpul kepada investor dengan prinsip
syariah (mudhorobah atau musyarokah); (4) investor melakukan investasi dan menyerahkan sebagian
keuntungan kepada perusahaan asuransi sesuai porsi pembagian yang disepakati; (5) perusahaan
asuransi menerima keuntungan dari investor yang dimasukkan ke dalam kumpulan dana peserta; (6)
perusahaan asuransi memilah kembali kumpulan dana peserta kepada tabungan peserta dan tabungan
derma; (7) perusahaan asuransi menyerahkan pembayaran klaim kepada peserta yang tertimpa musibah
atau peserta yang habis masa kontraknya, atau peserta yang mengundurkan diri.[7]

2. Mekanisme kerja asuransi syariah umum


Mekanisme kerja asuransi syariah umum juga diawali oleh terjadinya akad atau transaksi
antara perusahaan asuransi dengan peserta asuransi. Akad tersebut dilakukan sesuai dengan produk
asuransi yang akan dimanfaatkan oleh peserta asuransi. Untuk satu produk asuransi akan dilakukan satu
akad. Pada saat akad berlangsung peserta asuransi harus sudah menentukan produk asuransi yang akan
diambil, seperti Asuransi Kendaraan Bermotor, Asuransi Kebakaran, Asuransi Resiko Pembangunan,
Asuransi Mesin, Asuransi Pengangkutan, atau produk asuransi syariah umum lainnya.

Setelah akad berlangsung, maka dalam asuransi syariah umum diatur menurut aturan sebagai berikut:

a. Peserta dapat terdiri dari perorangan, perusahaan, lembaga/yayasan/badan hukum, atau yang
lainnya.

b. Perjanjian kerjasama antara perusahaan asuransi dan peserta asuransi syariah umum dilakukan
berdasarkan prinsip mudhorobah.

c. Besarnya nominal premi tergantung dari jenis asuransi yang dipilih. Setoran premi dilakukan
sekaligus pada awal kontrak dibuat. Jangka waktu pertanggungan adalah satu tahun, dan harus
diperbarui jika kontrak hendak diperpanjang untuk tahun berikutnya.

d. Premi asuransi dikumpulkan dalam satu kumpulan dana yang kemudian dinvestasikan dalam proyek
atau pembiayaan lainnya sejalan dengan syariah.

e. Keuntungan dari investasi akan dikreditkan ke dalam kumpulan dana peserta.

f. Jika terjadi musibah atas harta benda peserta yang diasuransikan, maka perusahaan asuransi
membayarkan ganti rugi kepada peserta tersebut dengan dana yang diambil dari kumpulan dana peserta
asuransi syariah umum.
g. Biaya-biaya yang diperlukan oleh perusahaan asuransi diambil dari kumpulan dana peserta. Jika
masih terdapat terdapat kelebihan dana akan dibayarkan kepada peserta dan perusahaan asuransi
menurut prinsip mudhorobah.

Mekanisme kerja asuransi syariah umum ini secara sederhana dapat dibuatkan dengan sebagaimana
termuat pada halaman berikut.

BAGAN

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa ada beberapa tahap yang dilalui dalam pengelolaan dana di
asuransi syariah umum, yaitu: (1) peserta menyerahkan sejumlah premi; (2) perusahaan asuransi
menerima premi dari peserta yang dimasukkan ke dalam kumpulan dana peserta; (3) perusahaan
asuransi menginvestasikan dana yang terkumpul kepada investor dengan prinsip syariah (mudhorobah
atau musyarokah); (4) investor melakukan investasi dan menyerahkan sebagian keuntungannya kepada
perusahaan asuransi sesuai kesepakatan; (5) perusahaan asuransi menerima keuntungan dari investor
yang dimasukkan ke dalam kumpulan dana peserta; (6) perusahaan asuransi menyerahkan pembayaran
klaim kepada peserta yang tertimpa musibah atau peserta yang habis masa kontraknya, atau peserta
yang mengundurkan diri.

3. Pembayaran klaim asuransi syariah

Apabila peserta tertimpa musibah selama masa kontrak atau habis masa kontrak atau
mengundurkan diri, maka peserta yang bersangkutan akan mendapatkan pembayaran klaim yang
diberikan oleh perusahaan asuransi. Peserta yang tertimpa musibah sumber pembayaran klaimnya ada
perbedaan antara peserta asuransi syariah keluarga (jiwa) dengan peserta asuransi syariah umum
(kerugian). Perbedaan diantara keduanya terletak dalam pembayaran klaim yang bersumber dari
tabungan tabarru’. Dalam asuransi syariah keluarga, peserta selain mendapatkan tabungan dan porsi
bagi hasil, ia juga mendapatkan bagian dari tabungan tabarru’, yakni tabungan yang berasal dari peserta
yang secara ikhlas diinfakan untuk membantu peserta lain yang tertimpa musibah. Sedangkan dalam
asuransi syariah umum, peserta hanya mendapatkan pembayaran klaim yang bersumber dari tabungan
peserta dan porsi bagi hasil, dan tidak mendapatkan pembayaran klaim yang bersumber dari tabungan
tabarru’.
Sedangkan peserta yang habis masa kontraknya akan memperoleh pembayaran kalim yang
bersumber dari tabungan peserta dan porsi bagi hasil. Selain itu, khusus dalam asuransi syariah keluarga,
peserta juga akan memperoleh bagian dari tabungan tabarru’ apabila terdapat kelebihan setelah
dikurangi pembayaran klaim dan biaya operasional.

Adapun peserta yang mengundurkan diri sementara saat masa kontrak masih berlangsung,
tetap akan mendapatkan pembayaran klaim berupa tabungan peserta dan porsi bagi hasil. Tabungan
peserta yang diberikan kepada peserta adalah tabungan sejak menjadi peserta asuransi sampai pada
saat pengunduran diri. Jumlah tabungan ini pun ikut menentukan pula pada bagian kentungan yang
diperolehnya dari prinsip mudhorobah.[8]

BAB III

PENUTUP

Proses yang dilalui mekanisme kerja asuransi syariah, yaitu Pertama, underwriting adalah
proses penafsiran jangka hidup seorang calon peserta yang dikaitkan dengan besarnya resiko untuk
menentukan besarnya premi. Kedua, polis asuransi adalah surat perjanjian antara pihak yang menjadi
peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Polis asuransi merupakan bukti auntetik berupa akta
mengenai adanya perjanjian asuransi. Ketiga, Premi asuransi bagi peserta secara umum bermanfaat
untuk menentukan besar tabungan peserta asuransi, mendapatkan santunan kebajikan atau dana klaim
terhadap suatu kejadian yang mengakibatkan terjadinya klaim, menambahkan investasi pada masa yang
akan datang. Keempat, Pengelolaan dana asuransi (premi) dapat dilakukan dengan akad mudharabah,
mudharabah musyarakah, atau wakalah bil ujrah.

Dalam mendeskripsikan tentang cara atau mekanisme kerja asuransi syariah ini, akan dibagi
kepada dua pembahasan pokok sesuai dengan pembagian asuransi syariah itu sendiri, yakni asuransi
syariah keluarga dan asuransi umum.

Perbedaan antara asuransi syariah keluarga dan asuransi syariah umum terletak dalam pembayaran
klaim yang bersumber dari tabungan tabarru’. Dalam asuransi syariah keluarga, peserta selain
mendapatkan tabungan dan porsi bagi hasil, ia juga mendapatkan bagian dari tabungan tabarru’, yakni
tabungan yang berasal dari peserta yang secara ikhlas diinfakan untuk membantu peserta lain yang
tertimpa musibah. Sedangkan dalam asuransi syariah umum, peserta hanya mendapatkan pembayaran
klaim yang bersumber dari tabungan peserta dan porsi bagi hasil, dan tidak mendapatkan pembayaran
klaim yang bersumber dari tabungan tabarru’.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Hasan. 2004. Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam. Jakarta: Kencana.

Burhanuddin. 2010. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Iqbal, Muhaimin. 2006. Asuransi Syariah Umum. Jakarta: Gema Insani.

Janwari, Yadi. 2005. Asuransi Syariah. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Soemitro, Andri. 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana.

[1] AM. Hasan Ali, MA. Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam. (Jakarta: Kencana, 2004), hal: 57

[2] Burhanuddin S. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), hal: 97

[3] Andri Soemitra. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. (Jakarta: Kencana, 2009), hal:273-274

[4] Ir. Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS. Asuransi Syariah. (Jakarta: Gema Insani), 2004. Hal:257-258

[5] Muhaimin Iqbal. Asuransi Umum Syariah. (Jakarta: Gema Insani), 2006. Hal: 90
[6] Ibid, hal:275-279

[7] Drs. Yadi Janwari, M.Ag. Asuransi Syariah. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal: 71-75

Anda mungkin juga menyukai