Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

Pengendalian Penyakit Daerah Tropis

'' MORBUS HANSEN DAN ANTHRAX ''

Disusun oleh :
Kelompok 6
Andriano Tuwaidan P07220118065
Devita Riska Hidayah P07220118075
Iqramullah. N P07220118086
Octaviana Nur Ardiyati P07220118089
Windani Dwi Urliana P07220118109

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN KELAS C


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN AJARAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan rahmat-Nya lah makalah ini dapat terselesaikan.

Melalui makalah ini,kita dapat mengetahui tentang " Morbus Hansen dan
Anthrax"

Pembuatan makalah ini menggunakan metode data-data kami peroleh dari


beberapa sumber dan pemikiran yang kami gabungkan menjadi sebuah
makalah yang semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

Kami menyadari akan kelemahan dan kekurangan dari makalah ini.


Oleh sebab itu,saya membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun,agar makalah ini akan semakin baik sajiannya.

Balikpapan, 10 Januari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN................................................................................... 1

A. Latar Belakang ........................................................................................... 1


B. Tujuan Penulisan ........................................................................................ 1
C. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2

BAB II : TINJAUAN TEORI ............................................................................. 3

A. Morbus Hansen ........................................................................................ 3


1. Pengertian Morbus Hansen .................................................................. 3
2. Etiologi dan cara penularan Morbus Hansen ....................................... 3
3. Patofisiologi Morbus Hansen ............................................................... 4
4. Manifestasi klinis Morbus Hansen ....................................................... 5
5. Stadium Morbus Hansen ...................................................................... 5
6. Komplikasi dan pemeriksaan penunjang Morbus Hansen ................... 7
7. Penatalaksanaan dan pencegahan Morbus Hansen .............................. 9
8. Pengkajian keperawatan penyakit Morbus Hansen.............................. 14
9. Diagnosa keperawatan penyakit Morbus Hansen ................................ 16
10. Intervensi keperawatan penyakit Morbus Hansen ............................... 17
B. Anthrax ..................................................................................................... 20
1. Pengertian Anthrax............................................................................... 20
2. Etiologi dan cara penularan Anthrax.................................................... 20
3. Patofisiologi Anthrax ........................................................................... 21
4. Manifestasi klinis Anthrax ................................................................... 22
5. Komplikasi dan pemeriksaan penunjang Anthrax ............................... 23
6. Penatalaksanaan dan pencegahan Anthrax........................................... 24
7. Pengkajian keperawatan penyakit Anthrax .......................................... 24

ii
8. Diagnosa keperawatan penyakit Anthrax............................................. 26
9. Intervensi keperawatan penyakit Anthrax ............................................ 26

BAB III : PENUTUP......................................................................................... 28

A. Kesimpulan ............................................................................................. 28
B. Saran ........................................................................................................ 28

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 29

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Morbus Hansen atau dikenal dengan nama penyakit kusta atau leprae
merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat
kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas
sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial
(Kemenkes, 2012). Penyakit ini dapat berdampak pada kecacatan yang permanen
jika tidak ditangani dengan baik. Tidak hanya bagi segi medis saja, kusta juga
berpengaruh terhadap masalah sosial dan ekonomi (Depkes, 2007). Para
penderita kusta akan cenderung kehilangan produktivitas dalam bekerja. Selain
itu, sikap dan perilaku masyarakat yang negatif akan menyebabkan penderita
kusta merasa tidak mendapatkan tempat di keluarga maupun lingkungan
masyarakat.
Antraks adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang
disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas.
Antraks bermakna ” batubara" dalam bahasa yunani
dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam. Antraks
paling sering menyerang herbivora - herbivora liar dan yang telah djinakkan.P
enyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia
namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia.

B. Tujuan Penulisan
1. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Penegetian Morbus Hansen dan
Anthrax
2. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Etiologi dan cara penularan
Morbus Hansen dan Anthrax
3. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Patofisiologi Morbus Hansen
dan Anthrax
4. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Manifestasi klinis Morbus
Hansen dan Anthrax
1
5. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Stadium Morbus Hansen dan
Anthrax
6. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Komplikasi dan pemeriksaan
penunjang Morbus Hansen dan Anthrax
7. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Penatalaksanaan dan pencegahan
Morbus Hansen dan Anthrax
8. Mampu Mengetahui dan memahami tentang Pengkajian keperawatan
Penyakit Morbus Hansen dan Anthrax
9. Mampu Menegakkan Diagnosa keperawatan Penyakit Morbus Hansen dan
Anthrax
10. Mampu membuat Intervensi keperawatan Penyakit Morbus Hansen dan
Anthrax

C. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian dari Morbus Hansen dan Anthrax ?
2. Bagaimanakah Etiologi dan cara penularan penyakit Morbus Hansen dan
Anthrax ?
3. Bagaimana patofisiologi Morbus Hansen dan Anthrax ?
4. Apa sajakah Manifestasi klinis Morbus Hansen dan Anthrax ?
5. Bagaimana Stadium Morbus Hansen dan Anthrax ?
6. Apa Komplikasi dan pemeriksaan penunjang Morbus Hansen dan Anthrax ?
7. Bagaimana Penatalaksanaan dan pencegahan Morbus Hansen dan Anthrax ?
8. Bagaimana Pengkajian keperawatan penyakit Morbus Hansen dan Anthrax ?
9. Apa Diagnosa keperawatan penyakit Morbus Hansen dan Anthrax ?
10. Apa Intervensi keperawatan penyakit Morbus Hansen dan Anthrax ?

BAB II

TINJAUAN TEORI
2
A. Morbus Hansen
1. Pengertian Morbus Hansen
Morbus hansen yang juga dikenal dengan nama lepra atau kusta,
adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir
pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada
kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa. (kusta, 2017)
Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini
memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam
tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah
bakteri menginfeksi tubuh penderita.
Penemuan kasus baru untuk penyakit kusta di Indonesia tergolong
tinggi. Indonesia menempati uratan ketiga, setelah India dan Brasil, untuk
penemuan kasus baru penyakit kusta pada tahun 2015. Sebenarnya kusta
adalah penyakit yang dapat diobati, namun adanya stigma negatif di
masyarakat seringkali menyebabkan munculnya diskriminasi terhadap
penderitanya. Stigma negatif dan diskriminasi ini berakibat kepada penemuan
kasus baru dan pengobatan yang tertunda.

2. Etiologi dan cara penularan


Penyebab penyakit kusta adalah bakteri Mycobacterium leprae.
Bakteri tersebut ditularkan melalui kontak kulit yang lama dan erat dengan
penderita. Sekitar 95 persen orang kebal terhadap
bakteri penyebab penyakit kusta, dan hanya sekitar 5 persen yang dapat
tertular bakteri tersebut.
Cara penularan bakteri ini diduga melalui cairan dari hidung yang
biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin, dan dihirup
oleh orang lain. Namun penyakit ini tidak mudah untuk ditularkan, perlu
beberapa bulan kontak yang sering dengan penderita kusta,
sehingga penyakit ini dapat ditularkan. Inilah mengapa dahulu
pengidap kusta diasingkan, agar tidak mewabah dan menular ke orang
lain. Kusta atau lepra terjadi karena infeksi bakteri jenis Mycobacterium

3
leprae. Gangguan kesehatan ini menyerang bagian saraf ekstremitas, saluran
pernapasan atas, dan lapisan hidung.

3. Patofisiologi Morbus Hansen


Kuman masuk ke dalam tubuh melalui salurang pernapasan dan kulit
yang tidak intak atau tidak utuh. Sumber penularannya adalah penderita kusta
yang banyak mengandung kuman (Tipe Multibasiler) yang belum diobati.
Dan ada syaratnya yaitu Prolonged contact dan intimate. Artinya bisa
menular jika terdapat kontak yang lama dan intim. Misal dalam satu anggota
keluarga, pergaulan sehari-hari. (patofisiologi leprae, 2017)
a. Transmisi Mycobacterium Leprae
Bakteri Mycobacterium leprae ditularkan dengan kontak dekat dan
lama antara individu yang rentan dengan pasien yang terinfeksi melalui
sekresi nasal atau droplet. Rute transmisi utama adalah sekresi nasal.
Selain itu, transmisi juga dapat terjadi melalui erosi kulit. Rute transmisi
lain seperti darah, transmisi vertikal, ASI dan gigitan serangga, juga
mungkin terjadi walaupun jarang.Individu yang tinggal di daerah endemis
dapat terinfeksi Mycobacterium leprae walaupun tidak menderita
penyakit lepra. Hal ini ditandai dengan adanya DNA Mycobacterium
leprae di biopsi hidung dan seropositif terhadap antigen bakteri pada
individu yang sehat yang tinggal di daerah endemis.
b. Peran faktor genetik
Faktor genetik diduga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit
lepra. Studi genetik mengidentifikasi mutasi pada regio kromosom
berhubungan dengan lepra.
c. Peran imunitas seluler
Manifestasi klinis lepra dipengaruhi oleh sistem imunitas seluler pasien
terhadap Mycobacterium leprae. Pertahanan pertama pada saat
infeksi Mycobacterium leprae adalah imunitas alamiah yang diwakili oleh
integritas epitel, sekresi IgA, sel NK (natural killer), dan makrofag yang
teraktivasi.
d. Reaksi leprae
4
Reaksi lepra dibagi menjadi :
e. Reaksi tipe 1 ditandai dengan kemerahan di kulit dan lesi baru yang
muncul tiba-tiba. , terdapat peningkatan respon imun seluler Th1
seperti sitokin IL-1, TNF-α, IL-2 dan IFN-γ.
f. Reaksi tipe 2 dikenal juga dengan Eritema Nodosum Leprosum (ENL)
yang ditandai dengan banyak nodul kulit, demam, mata merah, nyeri
otot dan nyeri sendi. Terdapat peningkatan respon imun Th2 yang
ditandai dengan peningkatan IL-6, IL-8 dan IL-10. (patofisiologi
laprae, 2012)

4. Manifestasi klinis
Gejala dan tanda kusta tidak nampak jelas dan berjalan sangat lambat.
Bahkan, gejala kusta bisa muncul 20 tahun setelah bakteri berkembang biak
dalam tubuh penderita. Beberapa di antaranya adalah:
a. Mati rasa, baik sensasi terhadap perubahan suhu, sentuhan, tekanan
ataupun rasa sakit.
b. Muncul lesi pucat dan menebal pada kulit.
c. Muncul luka tapi tidak terasa sakit.
d. Pembesaran saraf yang biasanya terjadi di siku dan lutut.Kelemahan otot
sampai kelumpuhan, terutama otot kaki dan tangan.
e. Kehilangan alis dan bulu mata.
f. Mata menjadi kering dan jarang mengedip, serta dapat menimbulkan
kebutaan.
g. Hilangnya jari jemari.
h. Kerusakan pada hidung yang dapat menimbulkan mimisan, hidung
tersumbat, atau kehilangan tulang hidung.

5. Stadium Morbus Hansen


a. Intermediate leprosy
Jenis kusta ini ditandai dengan beberapa lesi datar yang kadang
sembuh dengan sendirinya, namun dapat berkembang menjadi jenis kusta
yang lebih parah.
5
b. Tuberculoid leprosy
Jenis kusta ini ditandai dengan beberapa lesi datar yang di antaranya
berukuran besar dan mati rasa. Selain itu, beberapa saraf juga dapat
terkena. Tuberculoid leprosy dapat sembuh dengan sendirinya, namun
bisa berlangsung cukup lama atau bahkan berkembang menjadi jenis
kusta yang lebih parah.
c. Borderline tuberculoid leprosy
Lesi yang muncul pada kusta jenis ini serupa dengan lesi yang ada
pada tuberculoid leprosy, namun berukuran lebih kecil dan lebih banyak.
Kusta jenis borderline tuberculoid leprosy dapat bertahan lama atau
berubah menjadi jenis tuberculoid, bahkan berisiko menjadi jenis kusta
yang lebih parah lagi. Pembesaran saraf yang terjadi pada jenis ini hanya
minimal.
d. Mid-borderline leprosy
Jenis kusta ini ditandai dengan plak kemerahan, kadar mati rasa
sedang, serta membengkaknya kelenjar getah bening. Mid-borderline
leprosy dapat sembuh, bertahan, atau berkembang menjadi jenis kusta
yang lebih parah.
e. Borderline lepromatous leprosy
Jenis kusta ini ditandai dengan lesi yang berjumlah banyak (termasuk
lesi datar), benjolan, plak, nodul, dan terkadang mati rasa. Sama
seperti mid-borderline leprosy, borderline lepromatous leprosy dapat
sembuh, bertahan, atau berkembang menjadi jenis kusta yang lebih parah.
f. Lepromatous leprosy
Ini merupakan jenis kusta paling parah yang ditandai dengan lesi yang
mengandung bakteri dan berjumlah banyak, rambut rontok, gangguan
saraf, anggota badan melemah, serta tubuh yang berubah bentuk.
Kerusakan yang terjadi pada lepromatous leprosy tidak dapat kembali
seperti semula
6. Komplikasi dan pemeriksaan penunjang
a. Komplikasi

6
1) Kerusakan pada membran mukosa hidung (lapisan di bagian
dalam hidung) dapat menyebabkan hidung tersumbat dan
mengalami mimisan kronis. Jika tidak diobati, tulang rawan di
ujung hidung (septum) bisa terkikis dan hancur.
2) Peradangan pada iris mata yang dapat berujung pada munculnya
glaukoma.
3) Perubahan pada bentuk wajah, contohnya benjolan dan
pembengkakan yang permanen.
4) Kondisi kornea mata menjadi tidak peka, sehingga dapat
menyebabkan terbentuknya jaringan parut hingga kebutaan.
5) Khusus pengidap laki-laki, mereka bisa berpotensi mengalami
disfungsi ereksi dan infertilitas.
6) Gagal ginjal.
7) Kelumpuhan pada tangan dan kaki juga dapat terjadi karena
adanya kerusakan saraf. Dalam kasus-kasus yang lebih serius,
penderita bisa mengalami cedera dan tidak merasakan apa-apa
hingga berujung pada hilangnya jari-jari kaki maupun jari-jari
tangan.
8) Luka-luka yang tumbuh pada telapak kaki bagian tumit bisa
mengalami infeksi dan memicu rasa sakit yang hebat ketika
penderita berjalan.
9) Mati rasa.
10) Kelemahan otot.
(komplikasi kusta, 2019)
b. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan bakterioskopik (bakteri di laboratorium)
Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu
menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat
dari kerokan kulit atau mukosa hidung yang diwarnai dengan
pewarnaan terhadap bakteri tahan asam, antara lain dengan Ziehl
Neelsen. Pemeriksaan bakteri negatif pada seorang penderita, bukan
berarti orang tersebut tidak mengandung M. leprae.
7
Pertama-tama kita harus memilih tempat-tempat di kulit yang
diharapkan paling padat oleh bakteri, setelah terlebih dahulu
menentukan jumlah tempat yang akan diambil. Untuk pemeriksaan
rutin biasanya diambil dari minimal 4-6 tempat, yaitu kedua cuping
telinga bagian bawahd an 2-4 tempat lain yang paling aktif, berarti
yang paling merah di kulit dan infiltratif
2) Pemeriksaan histopatologi (jaringan sel abnormal)
Diagnosis penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan
pemeriksaan klinis secara teliti dan pemeriksaan bakterioskopis. Pada
sebagian kecil kasus bila diagnosis masih meragukan, pemeriksaan
histopatologis dapat membantu. Pemeriksaan ini sangat membantu
khususnya pada anak-anak bila pemeriksaan saraf sensoris sulit
dilakukan, juga pada lesi dini contohnya pada tipe indeterminate, serta
untuk menentukan tipe yang tepat.
3) Pemeriksaan serologis
Kegagalan pembiakan dan isolasik uman M. leprae
mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling
diharapkan. Beberapa tes serologis yang banyak digunakan untuk
mendiagnosis kusta adalah :
a) tes FLA-ABS
b) tes ELISA
c) tes MLPA untuk mengukur kadar antibodi Ig G yang telah
terbentuk di dalam tubuh pasien, dapat ditentukan secara
kuantitatif dan kualitatif.
4) Tes Lepromin
Menentukan tipe kusta pada penderita. Teslepromin : injeksi
ekstrak basil M.leprae inaktif yang telah distandarkan pada subkutan
lengan atas. Tempat injeksi ditandai dan diperiksa 3 dan 28 hari
kemudian untuk melihat reaksinya. Pasien dengan kusta tipe
lepromatosa hasilny anegatif (tidak adanya reaksi antigen pada kulit).
(pemeriksaan penunjang kusta, 2017)
7. Penatalaksanaan dan pencegahan
8
a. Penatalaksanaan
Pada tahun 1982, WHO menetapkan regimen terapi yang digunakan
baik untuk pasien lepra pausibasiler (PB) ataupun pasien lepra
mulitibasiler (MB) adalah MDT (Multi Drug Therapy).
MDT adalah kombinasi dua atau lebih obat antilepra dimana salah
satunya adalah rifampicin yang merupakan obat bakterisidal kuat. Obat
antilepra selain rifampicin bersifat bakteriostatik yaitu menghambat
pertumbuhan bakteri. Pengobatan MDT tidak mengobati kecacatan yang
sudah terjadi. Pengobatan MDT bertujuan untuk memutuskan rantai
penularan, mencegah terjadinya cacat atau mencegah kecacatan
bertambah parah, memperpendek masa pengobatan, mencegah terjadinya
resistensi kuman serta meningkatkan keteraturan berobat.
1) Lepra Pausibasilar
Regimen terapi untuk pasien lepra pausibasilar (PB) berbeda
antara anak dan dewasa.
Dewasa
Pada pasien dewasa, lama pengobatan berkisar antara 6 – 9 bulan.
Pengobatan dibagi menjadi obat bulanan dan harian.
Pengobatan bulanan (diminum hari pertama di depan petugas):
a) 2 kapsul Rifampicin @300 mg (600 mg)
b) 1 tablet Dapson / DDS 100 mg
Pengobatan harian (hari ke 2 – 28) :
a) 1 tablet Dapson / DDS 100 mg

Anak (umur 10-15 tahun)


Lama pengobatan berkisar 6 – 9 bulan. Pengobatan dibagi menjadi
dua, yaitu obat bulanan dan harian.
Pengobatan bulanan (hari pertama, diminum di depan petugas):
a) 2 kapsul Rifampicin 150 mg dan 300 mg
b) 1 tablet Dapson / DDS 50 mg
Pengobatan harian (hari ke 2 – 28) :
a) 1 tablet Dapson / DDS 50 mg
9
Anak (umur 5 – 9 tahun)
Lama pengobatan berkisar 6 – 9 bulan. Pengobatan dibagi menjadi
dua, yaitu obat bulanan dan harian.
Pengobatan bulanan (hari pertama, diminum di depan petugas):
a) 2 kapsul Rifampicin @150 mg (total 300 mg)
b) 1 tablet Dapson / DDS 25 mg
Pengobatan harian (hari ke 2 – 28):
a) 1 tablet Dapson / DDS 25 mg.

2) Lepra Multibasilar
Regimen terapi untuk pasien lepra multibasilar (MB) berbeda antara
anak dan dewasa.
Dewasa
Lama pengobatan berkisar 12 – 18 bulan. Pengobatan dibagi menjadi
dua, yaitu obat bulanan dan harian.
Pengobatan bulanan (diminum hari pertama di depan petugas):
a) 2 kapsul Rifampicin @300 mg (600 mg)
b) 3 tablet Clofazimine @100 mg (300 mg)
c) 1 tablet Dapson / DDS 100 mg
Pengobatan harian (hari ke 2 – 28):
a) 1 tablet Clofazimine 50 mg
b) 1 tablet Dapson / DDS 100 mg
Anak (umur 10 – 15 tahun)
Lama pengobatan berkisar 12 – 18 bulan. Pengobatan dibagi menjadi
dua, yaitu obat bulanan dan harian.
Pengobatan bulanan (diminum hari pertama di depan petugas):
a) 2 kapsul Rifampicin 150 mg dan 300 mg
b) 3 tablet Clofazimine @50 mg (150 mg)
c) 1 tablet Dapson / DDS 50 mg
Pengobatan harian (hari ke 2 – 28):
a) 1 tablet Clofazimine 50 mg selang sehari
b) 1 tablet Dapson / DDS 50 mg
10
Anak (umur 5 – 9 tahun)
Lama pengobatan berkisar 12 – 18 bulan. Pengobatan dibagi menjadi
dua, yaitu obat bulanan dan harian.
Pengobatan bulanan (diminum hari pertama di depan petugas)
a) 2 kapsul Rifampicin @150 mg (300 mg)
b) 3 tablet Clofazimine @25 mg (75 mg)
c) 1 tablet Dapson / DDS 25 mg
Pengobatan harian (hari ke 2 – 28):
a) 1 tablet Clofazimine 50 mg 2 kali seminggu.
Anak di bawah 5 Tahun
Untuk pasien anak dibawah 5 tahun, dosis anak berdasarkan berat
badan:
a) Rifampicin: 10 – 15 mg/kgBB
b) Dapson: 1-2 mg/kgBB
c) Clofazimine: 1 mg/kgBB. [10]

3) Kondisi khusus
Berikut ini adalah regimen pengobatan untuk pasien dengan kondisi
khusus:
a) Pasien ibu hamil dan menyusui: regimen MDT aman
dikonsumsi untuk ibu hamil dan menyusui.
b) Pasien lepra yang menderita Tuberkulosis: Obat anti TB dapat
diberikan bersamaan dengan obat antilepra. Untuk rifampicin
dapat disesuaikan dosisnya. Dosis rifampicin untuk penderita
TB dan lepra tipe PB adalah menambahkan dosis 100 mg
karena rifampicin juga ada di dalam regimen obat TB. Untuk
penderita TB dengan lepra tipe MB cukup diberi dapson dan
clofazimine karena rifampicin sudah didapatkan dari obat
antituberkulosis.
c) Untuk pasien PB yang alergi terhadap dapson dapat diganti
dengan clofazimine

11
d) Untuk pasien MB yang alergi terhadap dapson maka regimen
pengobatan yang diberikan hanya rifampicin dan clofazimine.

1) Tata laksana reaksi lepra


Tatalaksana reaksi lepra tergantung dari berat-ringan reaksi. Pada
reaksi ringan, modalitas tatalaksana adalah :
a) Berobat jalan, istirahat di rumah
b) Pemberian analgesik dan antipiretik jika perlu
c) MDT dilanjutkan tanpa penyesuaian dosis
d) Menghindari dan menghilangkan faktor pencetus

Pada reaksi berat, modalitas tatalaksana adalah :


a) Imobilisasi lokal pada lokasi yang dirasa nyeri
b) Pemberian analgetik dan antipiretik sesuai berat-ringan keluhan
c) MDT tetap diberikan tanpa penyesuaian dosis
d) Menghindari atau menghilangkan faktor pencetus

2) Medika Mentosa
a) Prednison dengan dosis awal 40 mg/hari diberikan pagi hari
setelah makan selama 2 minggu. Setelah itu, dosis diturunkan
setiap 2 minggu menjadi 30 mg, 20 mg, 10 mg, 15 mg, 10 mg, dan
5 mg untuk dewasa
b) Dosis maksimal awal prednison pada anak adalah 1 mg/kgBB
diturunkan setiap 2 minggu, dengan lama maksimal
penatalaksanaan 12 minggu
c) Pada erythema nodosum leprosum berat yang berulang diberikan
prednisone sesuai skema di atas, ditambahkan lampren dengan
dosis awal 300 mg/hari selama 2 bulan. Kemudian, dosis
dikurangi setiap 2 bulan menjadi 200 mg/hari, lalu 100 mg/hari.

Indikasi rujuk pada pasien dengan reaksi lepra adalah :

12
a) Erythema nodosum leprosum yang ulserasi, dengan neuritis atau
demam tinggi
b) Reaksi tipe 1 dengan bercak ulserasi atau neuritis
Reaksi lepra yang disertai komplikasi penyakit lain yang berat,
misalnya hepatitis, diabetes mellitus, hipertensi, atau ulkus
peptikum
3) Tata laksana pasien gagal terapi (Defaulter)
Pasien dikatakan gagal terapi bila pasien PB tidak
mengkonsumsi obatnya lebih dari 3 bulan dan bila pasien MB tidak
mengkonsumsi obatnya lebih dari 6 bulan.
Bila pasien datang kembali, maka pasien harus segera
diperiksa tanda-tanda aktif seperti adanya lesi baru, kemerahan atau
peninggian pada lesi lama atau adanya pembesaran saraf baru. BIla
tidak ada tanda-tanda aktif maka pasien tidak perlu mengkonsumsi
obat lagi. Bila terdapat tanda-tanda aktif maka pasien harus
melakukan pengobatan kembali dari awal.
4) Tata laksana pasien kambuh (relaps)
Pasien dikatakan kambuh atau relaps bila setelah menyelesaikan
terapi timbul lesi baru pada kulit. Untuk pasien MB, dikatakan relaps
bila ditemukan peningkatan indeks bakteri +2 atau lebih bila
dibandingkan dengan saat diterapi. Untuk pasien yang relaps harus
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. (penatalaksanaan
leprae, 2017)
b. Pencegahan
Untuk mencegah penularan kusta, jagalah imunitas tubuh dengan
olahraga rutin dan makan sehat, menghindari kontak fisik dalam jangka
waktu lama, meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan, dan
meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara berolahraga dan
meningkatkan pemenuhan nutrisi.
Gerakan terpadu untuk memberikan informasi mengenai penyakit
kusta terhadap masyarakat, terutama di daerah endemik, merupakan
langkah yang penting dalam mendorong para penderita untuk mau
13
memeriksakan diri, mendapatkan pengobatan, dan agar mereka tidak
dikucilkan oleh masyarakat. Sampai dengan saat ini belum ada vaksin
untuk mencegah kusta. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat
merupakan pencegahan yang paling baik untuk mencegah kecacatan dan
mencegah penularan lebih luas. (pencegahan kusta, 2019)

8. Pengkajian keperawatan
PENGKAJIAN
a. Biodata
Kaji secara lengkap tentang umur, penyakit kusta dapat menyerang
semua usia, jenis kelamin; rasio pria dan wanita 2,3:1,0. Paling sering terjadi
pada daerah dengan sosial-strip ekonomi yang rendah dan insidennya
meningkat pada daerah tropis atau sub tropis. Kaji pula secara lengkap jenis
pekerjaan klien untuk mengetahui tingkat sosial-ekonomi, resiko trauma
pekerjaan, dan kemungkinan kontak dengan penderita kusta.
b. Keluhan Utama
Pasien sering datang ke tempat pelayanan kesehatan dengan keluhan
adanya bercak putih yang tidak terasa atau datang dengan keluhan kontraktur
pada jari-jari.
c. Riwayat penyakit sekarang
Pada saat melakukan anamnesis pada pasien, kaji kapan lesi atau
kontraktur tersebut timbul, sudah berapa lama timbulnya, dan bagaimana
proses perubahannya, baik warna kulit maupun keluhan lainnya. Pada
beberapa kasus, ditemukan keluhan, gatal, nyeri, panas atau rasa tebal. Kaji
juga apakah klien pernah menjalani pemeriksaan laboratorium. Ini penting
untuk mengetahui apakah klien pernah menderita penyakit tersebut
sebelumnya. Pernahkah klien memakai obat kulit yang dioles atau diminum?
pada beberapa kasus, reaksi obat juga dapat menimbulkan perubahan warna
kulit dan reaksi alergi yang lain. Perlu juga ditanyakan apakah keluhan ini
pertama kali dirasakan. Jika sudah, obat apa yang diminum? Teratur atau
tidak?
d. Riwayat penyakit dahulu.
14
Salah satu faktor penyebab penyakit kusta adalah daya tahan tubuh yang
menurun. Akibatnya, M. Leprae dapat masuk ke daam tubuh. Oleh karena itu,
perlu dikaji adakah riwayat penyakit kronis atau penyakit lain yang pernah
diderita.
e. Riwayat penyakit keluarga.
Penyakit kusta ukan penyakit turunan, tetapi jika anggota keluarga atau
tetangga menderita penyakit kusta, risiko tinggi tertular sangat mungkin
terjadi. Perlu dikaji adakah anggita keluarga lain yangmenderita atau
memiliki keluhan yang sama, baik yang masih hidup maupun sudah
meninggal.
f. Riwayat psikososial.
Kusta terkenal sebagai penyakit yang menakutkan dan menjijikan. Ini
disebabkan adanya deformitas atau kecacatan yang ditimbulkan. Oleh karena
itu, perlu dikaji bagaimana konsep diri klien dan respons masyarakat di
sekitar klien.
g. Kebiasaan sehari-hari.
Pada saat melakukan anamnesis tentang pola kebiasaan sehari-hari,
perawat perlu mengkaji status gizi, pola makan / nutrisi klien. Hal ini sangat
penting karena faktor gizi berkaitan erat dengan sistem imun. Apabila sudah
ada deformitas atau kecacatan, maka aktivitas dan kemampuan klien dalam
menjalankan kegiatan sehari-hari dapat terganggu.
h. Pemeriksaan fisik
Seperti pada kasus yang lain, pemeriksaan fisik harus dilakukan secara
menyeluruh tidak hanya terbatas pada lesi saja. Kelenjar regional juga harus
diperiksa karena pada penderita kusta dapat pula ditemukan adanya
pembesaran beberapa kelenjar limfe. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan
denagan cara inpeksi,palpasi dan pemeriksaan sederhana menggunakan
jarum, kapas, tabung reaksi (masing-masing dengan air panas dan es), pensil
tinta dan sebagaiya.
Inpeksi dilakukan untuk menetapkan ruam yang ada pada kulit. Biasanya
dapat ditemukan adanya macula hipopigmentasi/ hiperpigmentasi dan
eritematosa dengan permukaan yang kasar atau licin denga batas yang kurang
15
jelas atau jelas, bergantung pada tipe yang diderita. Pada tipe tuber kuloid,
dapat ditemukan gangguan saraf kulit yang disertai dengan penebalan serabut
saraf, nyeri akibat peradangan atau reaksi fibrosis,anhidrasis, dan kerontokan
rambut (sering dijumpai pada rambut asli dan bulu mata).
Pada kusta tipe repromatus , dijumpai hidung pelana dan wajah
singa(lionin face). Selain itu, ada pula kelainan otot berupa atrofi distese otot
di yang di tandai dengan keumpuhan otot otot, diikuti kekakuan, sendi atau
kontraktur sehingga terjadi clow hean , drop put, dan drop hean, kelainan
pada tulang dapat berupa osteomilitis dan resopsi tulang yang mengakibatkan
pemendakan dan kerusakan tulang( ujung bengkok),terutama jari jari tangan
dan kaki.
Pada penderita kusta, dapat juga ditemukan kelain pada mata akibat
kelumpuhan m.orbicularis aulisehingga terjadi lago pthalamus atau mata tidak
dapat dipejam kan, akibatnya mata menjadi kering dan berlanjut pada
keratitis,ulkus kornea,iritis,iridosikilitik dan berahir dengan kebutaan.
Pada testis dapat terjadi patrofi yang mengakibatkan ginekomastia.
Kecatatan yang seringa diderita oleh penderita kusta disebabkan kerusakan
fungsi saraftepi dan neuritis waktu terjadi reaksi kusta, juga cidera pada
anesthesia.

9. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan citra tubuh
terhadap lesi pada kulit.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kontraktur otot dan kaku
sendi.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh
primer dan kerusakan integritas kulit.
4. Resiko cidera berhubungan dengan kerusakan integritas kulit.

16
10. Intervensi keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi


Keperawatan
1 Gangguan citra Tujuan:  Kaji secara verbal dan
tubuh  Body image non verbal respon klien
berhubungan  Self esteem terhadap tubuhnya
dengan Kriteria hasil:  Monitor frekuensi
perubahan citra  Body image positif mengkritik dirinya
tubuh terhadap  Mampu mengindetifikasi  Jelaskan tentang
lesi pada kulit. kekuatan personal pengobatan, perawatan,
 Mendriskripsikan secara kemajuan dan prognosis
faktual perubahan fungsi penyakit
tubuh  Dorong klien
 Mempertahankan mengungkapkan
interaksi sosial perasaannya
 Identifikasi arti
pengurangan melalui
pemakaian alat bantu.
2 Gangguan Tujuan :  Monitor TTV
mobilitas fisik  Joint movement : aktive sebelum/sesudah latihan
berhubungan  Mobility level dan lihat respon pasien
dengan  Self care : ADLs saat latihan
kontraktur otot  Tranfer performance  Konsultasikan dengan
dan kaku sendi. Kriteria hasil : terapi fisik tentang
 Klien meningkat dalam rencana ambulasi sesuai
aktivitas fisik dengan kebutuhan

 Mengerti tujuan dalam  Ajarkan pasien tentang


peningkatan mobilitas teknik ambulasi

 Mengungkapkan  Kaji kemampuan pasien


perasaan secara lisan dalam mobilisasi
dalam meningkatkan  Latih pasien dalam

17
kekuatan dan pemenuhan kebutuhan
kemampuan berpindah. ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
3 Resiko infeksi Tujuan:  Bersihkan lingkungan
berhubungan  Immune status setelah dipakai pasien
dengan  Knowledge : Infection lain
ketidakadekuatan control  Pertahankan teknik
pertahanan tubuh  Risk control isolasi
primer dan Kriteria hasil:  Batasi pengunjung bila
kerusakan  Klien bebas dari tanda perlu
integritas kulit. dan gejala infeksi  Instruksikan pada
 Mendiskripsikan proses pengunjung untuk
penularan penyakit, mencuci tangan saat
factor yang berkunjung dan setelah
mempengaruhi penularan berkunjung
serta penatalaksanaannya meninggalkan pasien
 Menunjukkan  Gunakan sabun
kemampuan untuk antimikrobia untuk cuci
mencegah timbulnya tangan
infeksi  Cuci tangan sebelum
 Jumlah leukosit dalam dan sesudah tindakan
batas normal keperawatan
 Menunjukkan perilaku  Gunakan baju, sarung
hidup sehat tangan sebagai alat
pelindung
 Pertahankan lingkungan
aseptik selama
pemasangan alat
4. Resiko cidera Tujuan : NIC :
berhubungan  Risk control  Sediakan lingkungan
dengan Kreteria hasil : yang nyaman untuk

18
kerusakan  Pasien tebebas dari pasien
integritas kulit. cidera  Identifikasi kebutuhan
 Pasien mampu keamanan pasien sesuai
menjelaskan cara untuk dengan kondisi fisik dan
mencegah cidera fungsi kognitif serta
 Mampu mengenali riwayat penyakit
perubahan status terdahulu pasien
kesehatan  Sediakan tempat tidur
yang nyaman dan bersih
 Hindarkan lingkungan
yang berbahaya
 Anjurkan keluarga
untuk menemani pasien

B. Anthrax
1. Pengertian Anthrax
Penyakit anthrax (penyakit sapi gila) adalah infeksi bakteri serius
yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Pada keadaan normal, bakteri
menghasilkan spora yang tidak aktif (dorman) dan hidup di tanah. Saat spora
masuk ke dalam tubuh binatang atau manusia, spora menjadi aktif.
Spora aktif tersebut lalu mulai membelah diri, menghasilkan racun,
menyebarkannya ke seluruh tubuh dan menyebabkan penyakit yang berat.
Penyakit sapi gila ini dapat mengenai kulit, paru-paru, dan pada kasus yang
jarang saluran pencernaan. Walaupun antraks adalah penyakit yang
berbahaya, kondisi ini dapat diobati dengan antibiotik jika dideteksi dini.
Vaksin juga tersedia untuk orang yang berisiko. (penyakit anthrax, 2016)

2. Etiologi dan cara penularan


Penyebab penyakit antraks adalah spora bakteri Bacillus anthracis
yang aktif. Spora dapat bertahan hidup di lingkungan selama bertahun-tahun
lalu bertunas dan membelah diri.
19
Spora hanya menjadi racun dan menyebar ke seluruh tubuh saat
berkontak dengan binatang dan manusia. Proses masuknya
spora anthrax dapat dengan tiga cara, yaitu: inhaled anthrax, di mana
spora anthrax terhirup dan masuk ke dalam saluran pernapasan.
cutaneous anthrax, di mana spora anthrax masuk melalui kulit yang terluka.
Proses masukkanya spora ke dalam manusia sebagian besar merupakan
cutaneous anthrax (95% kasus).

3. Patofisiologi Anthrax
Pada hakekatnya anthraks adalah "penyakit tanah", yang berarti
bahwa penyebabnya terdapat didalam tanah, kemudian bersama makanan
atau minuman masuk ke dalam tubuh hewan. Pada manusia infeksi dapat
terjadi lewat kulit, mulut atau pernafasan. Anthraks tidak lazim ditularkan
dari hewan yang satu kepada yang lain secara langsung.
Anthraks tidak lazim ditularkan dari hewan yang satu kepada yang
lain secara langsung. Wabah anthraks pada umumnya ada hubungannya
dengan tanah netral atau berkapur yang alkalis yang menjadi daerah
inkubator kuman tersebut. Di daerah-daerah tersebut spora tumbuh menjadi
bentuk vegetatif bila keadaan lingkungan serasi bagi pertumbuhannya, yaitu
tersedianya makanan, suhu dan kelembaban tanah, serta dapat mengatasi
persaingan biologik. Bila keadaan lingkungan tetap menguntungkan, kuman
akan berkembang biak dan membentuk spora lebih banyak.
Basil anthraks berkerumunan di dalam jaringan-jaringan hewan
penderita, yang dikeluarkan melalui sekresi dan ekskresi menjelang
kematiannya. Bila penderita anthraks mati kemudian diseksi atau termakan
burung-burung atau hewan pemakan bangkai, maka spora dengan cepat akan
terbentuk dan mencemari tanah sekitarnya. Bila terjadi demikian maka
menjadi sulit untuk memusnahkannya. Hal tersebut menjadi lebih sulit lagi,
bila spora yang terbentuk itu tersebar oleh angin, air, pengolahan tanah,
rumput makanan ternak dan sebagainya.
Di daerah iklim panas lalat pengisap darah antara lain jenis Tabanus
dapat bertindak sebagai pemindah penyakit. Masa tunas anthraks berkisar
20
antar 1-3 hari, kadang-kadang ada yang sampai 14 hari. Infeksi alami terjadi
melalui :
a. Saluran pencernaan
b. Saluran pernafasan dan
c. Permukaan kulit yang terluka
Infeksi melalui saluran pencernaan lazim ditemui pada hewan-hewan
dengan tertelannya spora, meskipun demikian cara infeksi yang lainpun dapat
saja terjadi. Pada manusia, biasanya infeksi berasal dari hewan melalui
permukaan kulit yang terluka, terutama pada manusia-manusia yang banyak
berhubungan dengan hewan. Infeksi melalui pernafasan mungkin terjadi pada
pekerja-pekerja penyortir bulu domba (wool-sorter's disease), sedangkan
infeksi melalui saluran pencernaan terjadi pada manusia-manusia yang makan
daging asal hewan penderita anthraks.

4. Manifestasi klinis
Gejala penyakit antraks tergantung tipe infeksi dan dapat dimulai
kapan saja, dari 1 hari hingga lebih dari 2 bulan untuk muncul. Penyakit sapi
gila ini bisa terbagi dalam 3 jenis infeksi.
a. Penyakit Anthrax Kulit
Penyakit anthrax jenis ini menyerang kulit. Bakteri biasanya
memasuki tubuh melalui kulit terbuka atau luka. Benjolan merah
kecoklatan yang gatal dan tidak nyeri muncul 1-12 hari setelah paparan.
Kebanyakan benjolan muncul di daerah wajah, leher, lengan, atau
tangan. Benjolan ini membentuk lenting yang akhirnya pecah dan
membentuk koreng hitan (eschar) dengan bengkak di sekitarnya. Kelenjar
getah bening terdekat dapat membesa dan terasa sakit. Penderita juga
terkadang megalami nyeri otot, sakit kepala, demam, mual dan muntah.
b. Penyakit Anthrax Inhalasi
Anthrax jenis ini menyerang paru-paru. Bakteri dapat memasuki paru-
paru saat Anda menghirup spora. Gejala awalnya mirip dengan flu namun
akan memburuk dengan cepat.

21
1) Demam dan menggigil
2) Berkeringat (sering basah)
3) Nyeri badan
4) Lelah berlebih
5) Sakit kepala, pusing, atau pening
6) Rasa tidak nyaman pada dada, seperti sesak dan batuk
7) Mual, muntah atau nyeri perut

Jika tidak diterapi, anthrax jenis ini sangat fatal. Jika Anda mengalami
gejala di atas, hubungi dokter Anda segera.

c. Penyakit Anthrax Gastrointestinal


Anthrax gastrointestinal jarang terjadi. Anthrax ini menyerang sistem
pencernaan. Anda dapat terkena anthrax ini dengan makan daging yang
terkontaminasi. Gejala antraks gastrointestinal yaitu:

1) Leher atau kelenjar di leher membengkak


2) Sakit tenggorokan
3) Nyeri menelan
4) Suara serak
5) Mual dan muntah, khususnya muntah darah
6) Diare atau BAB berbdarah
7) Nyeri perut
8) Perut membesar

5. Komplikasi dan pemeriksaan penunjang


a. Komplikasi
Komplikasi paling serius dari anthrax adalah peradangan pada
membran dan cairan yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang
(meningen), yang menyebabkan perdarahan masif (meningitis hemoragik)
dan kematian.
b. Pemeriksaan penunjang
1) Pewarnaan gram dan kultur darah.

22
Tes darah yang dilakukan guna mengetahui ada atau tidaknya
keberadaan bakteri antraks dalam darah
2) ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay)
3) Tes kulit yang dilakukan dengan mengambil cairan dari lepuhan kulit
yang menjadi jalan masuk bakteri penyebab antraks.
4) Rontgen dan CT scan dada.
Rontgen dada yang dilakukan guna melihat apakah ada kelainan pada
paru-paru saat menghirup bakteri antraks.
5) Pemeriksaan feses yang dilakukan guna melihat apakah ada bakteri
yang terdapat dalam feses
6) Pungsi lumbal
Pemeriksaan pungsi lumbal yang dilakukan dengan cara mengambil
cairan saraf tulang belakang. (pemeriksaan penunjang anthrax, 2019)
6. Penatalaksanaan dan pencegahan
a. Penatalaksanaan
Pengobatan anthraks lebih efektif jika dilakukan secepatnya. Dokter
akan memberikan kombinasi sejumlah antibiotik, seperti
penisilin, doxycycline, dan ciprofloxacin untuk memaksimalkan
pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan umumnya ditentukan oleh
faktor usia, kondisi kesehatan penderita secara umum, serta luas bagian
tubuh yang terinfeksi. (anthrax, 2015)
b. Pencegahan
1) Memastikan daging telah dimasak hingga matang sebelum dimakan.
2) Menghindari interaksi dengan binatang yang terinfeksi anthraks.
3) Perlakuan terhadap hewan yang dinyatakan berpenyakit anthraks
dilarang keras untuk dipotong.
4) Bagi daerah bebas anthraks, tindakan pencegahan di dasarkan pada
pengaturan yang ketat terhadap pemasukan hewan kedaerah tersebut.
5) Anthraks pada hewan ternak dapat dicegah dengan vaksinasi.
Vaksinasi dilakukan pada semua hewan ternak di daerah enzootik
anthraks setiap tahun sekali, disertai cara-cara pengawasan dan
pengendalian yang ketat. (anthrax, 2019)
23
7. Pengkajian keperawatan
a. Persepsi tentang penyakitnya
Os percaya bahwa penyakit yang dialaminya merupakan akibat dari
kelalaiannya sendiri dan merupakan sebagai cobaan dari Allah SWT.
b. Pola nutrisi dan metabolism
1) Jenis makanan : Nasi putih,sayur dan lauknya
2) Frekuensi : 3x/hari
3) Porsi : diit tidak dihabiskan
c. Program Therapi Tgl 15 April 2010
1) Diet ML 20 tetes/menità- IVFD RL
2) Ini Dexametason 500mg 1x1
d. Pola Eliminasi
1) BAB: BAB kurang lebih 3 kali dalam sehari
2) BAK: BAK kurang lebih 3 kali sehari
e. Pola Aktivitas dan Latihan
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
1) Makan/ minum
2) Mandi
3) Toileting
4) Berpakaian
5) Mobilitas tempat tidur
6) Berpindah/berjalan
7) Ambulasi/ROM
0: Mandir; 1: Alat bantu; 2: Dibantu orang lain; 3: Alat bantu dan
dibantu orang lain; 4: Tergantung total
f. Pola istirahat dan tidur
Klien mengatakan bahwa ia susah untuk tidur dan sering terjaga dari
tidurnya
g. Pola perceptual
Klien khawatir jika penyakit yang dideritanya merupakan kumpulan
dari penyakit yang berbahaya.
24
h. Sistem nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama Islam .

8. Diagnosa keperawatan
1) Gangguan integritas kulit b/d reaksi alergi
2) Gangguan pola tidur ,insomnia rimiten b/d rasa gatal pada
bagian lengan,tangan,dan kaki

9. Intervensi keperawatan
Diagnose I :
Setelah dilakukan perawatan, di harapkan kerusakan integritas kulit
klien teratasi dengan kriteriahasil:
1) Menyembuhkan lesi dan jaringan keropeng yang bewarna hitam
2) Integritas kulit utuh
3) Tidak gelisah
1) Kaji kulit setiap hari,catat warna,turgor,sirkulasi, dan sensasi
R/ Mengetahui therapy yang diberikan
2) Intruksikan pasien agar melakukan hygiene kulit
R/ Mempertahankan kebersihan kulit karena kulit kering dapat
menjadi barier infeksi
3) Secara teratur ganti posisi,dan ganti sprey
R/ Meningkatkan aliran darah kejaringan ,meningkatkan proses
penyembuhan
4) Anjurkan pasien agar tidak menggaruk-garuk dengan benda kasar
R/ Mencegah infeksi
5) Kolaborasi dgn dokter dalam pemberian obat-obatan.
R/ Kolaborasi dengan tim nutrisi untuk menentukan diit.
Diagnosa II :
Setelah dilakukan perawatan diharapkan Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan Anoreksia, mual, muntah dapat
teratasi dengan criteria:
a. Klien sudah mempunyai selera untuk makan
25
b. Klien sudah tidak merasa mual
c. Turgor kulit baik
d. Palpitasi abdomen berkurang
1) Anjurkan kelurga pasien memberikan perawatan oral
R/ Kebersihan oral menghilangkan bakteri penumbuh bau mulut dan
meningkatkan rangsangan nafsu makan
2) Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbon
R/ Menimbulkan distensi abdomen dan meningkatkan dispnea
3) Anjurkan makan sedikit tapi sering
R/ Mencegah perut penuh dan mencegah resiko mual
d. Kolaborasi dengan tim nutrisi untuk menentukan diit
R/ Menentukan diit yang tepat sesuai perhitungan ahli gizi.

26
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Morbus hansen yang juga dikenal dengan nama lepra atau kusta,
adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir
pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada
kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa. Kusta disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium leprae.
Penyakit anthrax (penyakit sapi gila) adalah infeksi bakteri serius
yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Pada keadaan normal, bakteri
menghasilkan spora yang tidak aktif (dorman) dan hidup di tanah. Saat spora
masuk ke dalam tubuh binatang atau manusia, spora menjadi aktif.

B. Saran
Semoga makalah sederhana ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat
bagi pembaca makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca
terutama perawat dalam membuat asuhan keperawatan.

27
DAFTAR PUSTAKA

anthrax. (2015, may friday). Retrieved january friday, 2020, from


http://wiki.isikhnas.com/w/Anthraks: wiki.isikhnas.com

anthrax. (2019, juny monday). Retrieved january friday, 2020, from


https://www.alodokter.com/anthrax: www.alodokter.com

komplikasi kusta. (2019, july thursday). Retrieved january friday, 2020, from
https://www.sehatq.com/artikel/terlambat-diobati-ini-komplikasi-kusta-yang-mengintai-
penderitanya: www.sehatq.com

kusta. (2017, november thursday). Retrieved january friday, 2020, from


https://www.alodokter.com/kusta: www.alodokter.com

patofisiologi laprae. (2012, march saturday). Retrieved january friday, 2020, from
https://www.scribd.com/doc/83637292/Patofisiologi: www.scribd.com

patofisiologi leprae. (2017). Retrieved january friday, 2020, from


https://www.alomedika.com/penyakit/penyakit-infeksi/lepra/patofisiologi:
www.alomedika.com

pemeriksaan penunjang anthrax. (2019, july tuesday). Retrieved january friday, 2020, from
https://www.halodoc.com/5-pemeriksaan-penunjang-jika-terjangkit-antraks:
www.halodoc.com

pemeriksaan penunjang kusta. (2017, november friday). Retrieved january friday, 2020,
from https://www.scribd.com/document/364037097/Pemeriksaan-Penunjang-Kusta:
www.scribd.com

penatalaksanaan leprae. (2017). Retrieved january friday, 2020, from


https://www.alomedika.com/penyakit/penyakit-infeksi/lepra/penatalaksanaan:
www.alomedika.com

pencegahan kusta. (2019, january sunday). Retrieved january friday, 2020, from
https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/merawat-dan-mencegah-penularan-kusta:
beritaga.id

penyakit anthrax. (2016, september thursday). Retrieved january friday, 2020, from
https://hellosehat.com/kesehatan/penyakit/anthrax/: hellosehat.com

28