Anda di halaman 1dari 30

Makalah Asuhan Keperawatan Klien dengan

Gangguan Sistem Pernafasan

Ca Paru

Nama anggota kelompok :

1. DEVI RAHMAWATI (1702008)


2. ISKANDAR PRASETYO (1702080)

3. M.ABU TAUHID (1702110)

Prodi D3 Keperawatan

STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Makalah
Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan Ca Paru”

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Dan kami berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Klaten, 29 Agustus 2019

Penulis

i
Daftar Isi

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 19

A. Latar Belakang ................................................................................................................... 19

B. Rumusan Masalah .............................................................................................................. 19

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................. 21

A. Pengertian .......................................................................................................................... 21

B. Karakteristik Neoplasma .................................................................................................... 21

C. Faktor Risiko ...................................................................................................................... 22

D. Patologi .............................................................................................................................. 23

E. Patofisiologis...................................................................................................................... 24

F. Metastasis ........................................................................................................................... 25

G. Stadium .............................................................................................................................. 26

H. Tanda bahaya kanker paru ................................................................................................. 28

I. Manifestasi Klinis .............................................................................................................. 29

J. Pemeriksaan Diagnostik..................................................................................................... 29

K. Penatalaksanaan ................................................................................................................. 31

L. Asuhan Keperawatan ......................................................................................................... 33

BAB III Penutup .......................................................................................................................... 26

A. Kesimpulan ........................................................................................................................ 26

B. Saran .................................................................................................................................. 26

Daftar pustaka ............................................................................................................................... 27

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker paru atau Ca Paru merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan prognosis yang sering kali buruk.
Kanker paru biasanya tidak dapat diobati dan penyembuhanya hanya mungkin dilakukan dengan jalan pembedahan, dimana
sekitar 13% dari klien yang menjalani pembedahan mampu bertahan selama 5 tahun. Metastasis penyakit biasanya muncul dan
hanya sekitar 16% klien yang penyebaran penyakitnya dapat dilokalisasi pada saat diagnosis (Boring, et al, 1994).
Dikarenakan terjadinya metastasis, penatalaksanaan kanker paru sering kali hanya berupa tindakan paliatif (mengatasi gejala)
dibandingkan dengan kuratif (penyembuhan). Diperkirakan 85% dari kanker paru terjadi akibat merokok. Oleh karena itu,
pencegahan yang paling baik adalah “jangan memulai untuk merokok”. (Irman Somantri, 2009 : 112)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian ca paru?
2. Bagaimana karakteristik ca paru?
3. Bagaimana patofisiologi ca paru?
4. Bagaimana manisfestasi klinis ca paru?
5. Bagaimana penatalaksanaan ca paru?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada Ca Paru?

19
20
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Carsinoma paru atau kanker paru adalah pertumbuhan jaringan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru-
paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan, terutama asap rokok. (Suryo, 2010 : 27)

Menurut WHO, kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun
pada wanita. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru, tetapi bisa juga berasal dari kanker
bagian tubuh lain yang menyebar ke paru-paru. (Suryo, 2010 : 27)

Karsinoma bronkogenik atau kanker paru dapat berupa metastasis atau lesi primer. Kebanyakan tumor ganas primer
dari sistem pernafasan bawah bersifat epithelial dan berasal dari mukosa percabangan bronkus (Muttaqin, 2008 : 198)

B. Karakteristik Neoplasma
Jinak (Benigna) Ganas (Maligna)
a. Pertumbuhanya lambat. a. Pertumbuhan cepat.
b. Biasanya berkapsul b. Jarang berkapsul.
c. Ekspansif, tidak menginfiltrasi c. Menginfiltrasi jaringan penunjang.
jaringan penunjang.
d. Tidak menyebar tapi terlokalisasi. d. Menyebar jaringan limfe, darah atau
akibat sekunder dari organ lain.
e. Tidak cenderung kambuh jika e. Cenderung untuk kambuh.

21
dilakukan operasi.
f. Menyebabkan kerusakan jaringan f. Menyebabkan kerusakan hebat pada
minimal. jaringan.
g. Tidak menyebabkan kaheksia. g. Menyebabkan kaheksia, anemia.
h. Tidak menyebabkan kematian kecuali h. Selalu menyebabkan kematian jika
letaknya pada organ vital. tidak dilakukan pembedahan sebelum
metastasis.
(Irman Somantri, 2009 : 113)
C. Faktor Risiko
Mayoritas penyakit kanker paru disebabkan oleh karsinogen dan zat promotor tumor yang masuk ke dalam tubuh
melalui kebiasaan merokok. Secara keseluruhan, risiko relative terjadinya kanker paru meningkat sekitar 13 kali lipat oleh
kebiasaan merokok yang aktif dan sekitar 1,5 kali lipat oleh pajanan pasif asap rokok dalam waktu lama. Beberapa zat
karsinogen tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Rokok tembakau.
Yaitu kandungan tar, suatu persenyawaan hidrokarbon aromatic polisiklik (risiko meningkat 60-70 kali lipat
untuk seseorang yang merokok 2 bungkus sehari selama 20 tahun dibandingkan individu bukan perokok). Dalam hal
ini, seseorang yang mulai merokok diusia yang lebih muda akan lebih berisiko untuk menderita kanker paru. Factor
lain yang berhubungan adalah jenis rokok yang diisap (kandungan tar, filter vs non filter)
2. Polusi udara.
Banyak sekali polusi udara yang dapat menyebabkan kanker paru, diantaranya sulfur, emisi kendaraan
bermotor, dan polutan yang berasal dari pabrik. Data menunjukan bahwa insidensi kanker paru lebih banyak pada
daerah urban sebagai hasil dari peningkatan polutan dan asap kendaraan bermotor.

22
3. Asap pabrik/industri/tambang.
4. Debu radioaktif/ledakan nuklir (radon), beberapa zat kimia (seperti asbeb, arsen, krom, nikel, besi dan uranium)
5. Genetika.
Pada sel kanker paru didapatkan sejumlah lesi genetic termasuk aktivasi onkogen ominan dan inaktivasi
supresor tumor atau onkogen resesif.
(Irman Somantri, 2009 : 113)

D. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan
deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka
menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia
dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan
korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini
menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal.

23
E. Pathway

Merokok, debu, asbes, uap kimiawi, zat karsinogen, genetik, faktor makanan

Rangsangan pada sel-sel paru

Pembesaran (abnormalitas pertumbuhan sel-sel paru

CARSINOMA PARU

Lesi di perifer Lesi di perifer

Menembus rongga pleura Obstruksi dan ulserasi


bronkus

Inflamasi pada costa dan


korpus vertebra Kerusakan bagian distal

Nyeri
Batuk Dyspepsia Hemoptisis Demam
Nyeri
Anoreksia Kerusakan Ansietas
Pertukaran
Gas
Pemenuhan Hipertermia
Nutrisi : 24
Kurang
Dari
Kebutuhan
Pola Nafas
Tidak
Efektif
Resti
terhadap
Kekurangan
Bersihan Volume
Jalan Nafas Cairan
Tidak
Efektif
sumber : Sylvia A. Price, 2001 dalam Nixson Manurung, 2016 : 62

F. Metastasis
1. Invansi Langsung (Direct Invasion)
Tumor bronkial dapat menyebar dengan menginvasi secara langsung dan berkembang untuk membendung bronkus
secara parsial atau total. Invasi dinding bronkial atau obstruksi jalan napas juga dapat timbul. Penyebaran pada paru dapat
menekan struktur paru-paru yang lainya termasuk alveoli, saraf, pembuluh darah dan pembuluh limfatik.
2. Invasi Limfatik
Pola metastasis bergantung pada tipe sel tumor dan lokasi anatomis dari tumor. Penyebaran ke limfatik biasanya
berhubungan dengan embolisasi dan invasi oleh tumor. Mediastinum, paratrakeal dan sentral hilar nodus limfatikus
merupaka bagian yang sering terkena. Tumor lobus bawah cenderung menyebar secara difusi dan penyebarannya lebih
sering melalui jalur limfatik dari pada tumor yang berada pada daerah lain paru.
3. Hematogeneous
Metastasis kanker paru terjadi akibat invasi dari sistem vena pulmonal. Tumor emboli menyebar ke daerah yang jauh
dari tubuh. Metastasis yang jauh bisa terjadi pada lower thoracic dan upper lumbar vertebra, tulang panjang, kelenjar
adrenal, CNS, dan hati.

25
Manifestasi patofisiologi lainya dikenal dengan sindrom paraneoplastik, merupaka sindrom yang disebabkan oleh
beberapa hormone, antigen atau enzim. Small cell carcinoma sering kali berhubungan dengan sindrom paraneoplastik.
(Irman Somantri, 2009 : 115)

G. Stadium
Penentuan stadium kanker paru dapat di lakukan berdasarkan system TNM (T = Tumor Primer, N = Nodus Limfe, M =
Metasitesis), sesuai denganklasifikasi dari American Joint Commite on Cancer pada tahun 1987. Untuk menggunakansistem
tersebut terdapat beberapa peraturanpengklasifikasian, yaitusebagai berikut.

1. Klasifikasi hanya berlaku untuk karsinoma.


2. Harus ada bukti histologi untuk bisa mengklasifikasikan kasus ke dalam tipe
histologinya. Tiap keadaanyang belum di konfirmasikan harus di laporkanterisah.
3. Hasil yng berasal dari eksplorasi bedah sebelum pengobatan definitive dapat dimasukkan untuk penderajatan klinis.

Pembagian Stadium Klinik


T = Tumor Primer
Tis : Karsinoma in situ/preinvasif
T0 : Taka da tumor primer
T1 : Diameter terbesar 3 cm atau kurang, di kelilingi oleh paru atau pleura viseralis dan tidak ada bukti-bukti adanya
invasi proksimal dari bronkus dalam lobus pada bronkoskopi.
T2 : Diameter terbesar lebih dari 3 cm, atau tumor ptimer pada ukuran apapun, dengan tambahan adanya atelectasis
atau pneumonitis obstruktif dan membesar kearah hilus. Pada bronkoskopi ujung proksimaltumor yang tampak, paling

26
sedikit 2cm distal dari karina. Setiap atelectasis atau pneumonia obstruktif yang menyertai harus melinatkan
kurang dari sebelah paru dan tidak ada efusi pleura.
T3 : Tumor dengan ukuran apapun yang membesar akan langsung ke struktur sekitarnya seperti dinding dada, diagfrahma
atau mediastinum,atau tumor pada bronkoskopi berjarak 2cm distal dari karina atau tumor yang disertai atelektatis
dan pneumonitis obstruktif dari satu paru atau adanya efusi pleura.
Tx : tiap tumor yang tidak bisa diketahui atau dibuktikan dengan radiografi atau bronkoskopi tetapi didapatkan
adanya sel ganas dari sekresi bronkopumoner.

N=Nodus Limfe
N0 : Tak ada tanda terlibatnya/pembesaran kelenjar limfe regional.
N1 : Terdapat tanda terkenanya kelenjar peribonkial atau hilus homolateral, termasuk penjalaran/pembesaran
langsung tumor primer.
N2 : Terkenanya kelenjar getah benig.
NX :Syarat minimal untuk membuktikan terkenanya kelenjar regional tidak terpenuhi.

M = Metastatis
Mo : Tak ada bukti adanya metastatis jauh.
M1 :Terdapat bukti adanya metastatis jauh.
MX :syarat minimal untuk menentukan adanya metastasis jauh tidak bisa dipenuhi.

Derajat (stadium) klinis berdasarkan klasifikasi TNM

27
Stadium OCCULT : Tx M0, Yaitu suatu karsinoma OCCULT dimana secret
bronkokulmuner mengandung sel-sel ganas tetapi tidak ada bukti atau data adanya
tumor primer,pembesaran atau metastatis kekelenjar regional atau metastasis jauh.
Stadium I : Tis N0 M0, Karsinoma in situ ; T1 N0 M0; T2 N0 M0
Stadium II : T1 N1 M0; T2 N1 M0
Stadium III-a :T3 N0 M0; T3 N1 M0; T-3 N2 M0
Stadium III-b : Banyak T N3 M0;T3 Banyak N M0; Banyak T dan N M1
Stadium IV : Banyak T Banyak N M1
(Irman Somantri, 2009 : 116-118)

H. Tanda bahaya kanker paru


 Parau ( hoarsenes )
 Perubahan pola nafas
 Batuk persisten atau perubahan batuk
 Sputum mengandung darah
 Sputum berwarna kemerahan atau kurulen
 Hemoptysis
 Nyeri dada (chest pain)
 Nyeri dada, punggung dan lengan
 Pleural efusi, pneumonia atau bronchitis
 Dyspnea
 Demam berhubungan dengan satu atau dua tanda lain

28
 Wheezing
 Penurunan berat badan
 Clubbing finger
(Irman Somantri, 2009 : 118)

I. Manifestasi Klinis
1. Gejala awal .
Stridor lokal dan dyspnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus.
2. Gejala umum.
1) Batuk
Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa
membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam
berespon terhadap infeksi sekunder.
2) Hemoptisis
Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi.
3) Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.
(Padila, 2013 : 55)

J. Pemeriksaan Diagnostik
1. Radiologi.
1) Foto thorax posterior-anterior (PA) dan lateral serta Tomografi dada.

29
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk,
ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hillus, effuse pleural, ateklektasis erosi
tulang rusuk atau vertebra.
2) Bronkografi
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2. Laboratorium.
1) Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe)
Digunakan untuk mengkaji adanya/tahap karsinoma.
2) Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
3) Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru)
3. Histopatologi.
1) Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian, dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik
dapat diketahui)
2) Biopsi Trans Torakal (TTB)
Biopsi dengan TTb terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2cm, sensitivitasnya mencapai
90-95%.
3) Torakoskopi
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi.
4) Mediastinosopi

30
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.
5) Torakotomi
Untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam-macam prosedur non invasive dan invasive
sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.
4. Pencitraan
1) CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
2) MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum
(Padila, 2013 : 58-59)

K. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan non bedah ( non surgical managemen)
a) Terapi oksigen
Jika terjadi hipoksemia perawat dapat memberikan oksigen via masker atau nasal kanul sesuai dengan
permintaan. Bahkan jika klien tidak terlalu jelas hipoksemiannya, dokter dapat memberikan oksigen sesuai yang
dibutuhkan untuk memperbaiki dipsnea dan kecemasan.
b) Terapi obat
Jika klien mengalami bronkospasme, dokter dapat memberikan obat golongan bronkodilator (seperti pada klien
asma) dan kortikosteroid untuk mengurangi bronkospasme, inflamasi, dan edema.

31
c) Kemoterapi
Merupakan pilihan pengobatan pada klien pada kanker paru, terutama pada small-cell lung cancer karena
metastasis. Kemoterapi dapat juga digunakan bersamaan dengan terapi bedah. Obat-obatan kemoterapi yang biasana
diberikan untuk menangani kanker paru, termasuk kombinasi dari obat-obat berikut :
 Cyclophosphamide, deoxorubicin, methotrexate, dan procarbazine.
 Etoposide dan cisplatin
 Mitomycin, vinblastine,dan cisplatin.
d) Imunoterapi
Banyak klien kanker paru mengalami gangguan imun. Obat imunoterapi (Cytokin) biasa diberikan.
e) Terapi radiasi
Dilakukan dengan indikasi sebagai berikut :
 Klien tumor paru yang operable tetapi resiko jika dilakukan pembedahan.
 Klien adenokarsinoma atau sel skuamosa inoperable yang mengalami pembesaran kelenjar getah bening
pada hilus ipsilateral dan mediastinal.
 Klien kanker bronkus dengan oat cell.
 Klien kambuhan sesudah lobektomi atau pneumunektomi.
Dosis umum 5.000-6.000 rad dalam jangka waktu 5-6 minggu. Pengobatan dilakukan dalam 5 kali seminggu
dengan dosis 180-200 rad/hari. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sebagai berikut :
 Esofangitis, hilang 1 minggu sampai dengan 10 hari sesudah pengobatan.
 Pnuemongitis, pada rontgen terlihat bayangan eksudat didaerah penyinaran.
f) Terapi laser
g) Torakosentesis dan pleurodesis

32
 Efusi pelura dapat menjadi masalah bagi klien kanker paru.
 Efusi timbul kibat adanya tumor pada pleura viseralis dan parietalis serta obstruksi kelenjar limfe mediaspinal.
 Tujuan akhir dari terapi ini adalah mengeluarkan dan mencegah akumulasi cairan.

2. Pembedahan (surgical management)


a. Dilakuakan pada tumor stadium I, II jenis karsinoma adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar undifferentiated.
b. Dilakukan khusus pada stadium III secara individual dan mencakup 3 kriteria berikut :
 Karakteristik biologis tumor.
 Hasil baik pada tumor dari sel skuamosa dan epidermoid.
 Hasil cukup baik pada adenokarsinoma dan karsinoma sel besar undifferentiated.
 Hasil buruk pada oat cell
 Letak tumor dan pembagian stadium klinik.
 Untuk menentukan reseksi terbaik.
 Keadaan fungsional penderita

L. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian (Wijaya Andara Saferi, Yessie Mariza Putri, 2013 : 183-186)
a. Identitas

33
Nama klien, umur, pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa, dan alamat klien.
b. Riwayat kesehatan
a) RKS
 Batuk produktif, dahak bersifat mukoid atau purulen, atau batuk darah
 Malaise
 Anoreksia
 Badan makin kurus
 Sesak nafas pada penyakit yang lanjut dengan kerusakan paru yang makin luas
 Nyeri dada dapat bersifat lokal atau pleuritik.
b) RKD
 Terpapar asap rokok
 Industry asbeb, uranium, kromat, arsen (insektisida), besi dan oksida besi
 Konsumsi bahan pengawet
c) RKK
 Riwayat keluarga penderita kanker
c. Kebutuhan dasar
a) Makanan dan cairan
Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, kesulitan menelan mengakibatkan kurangnya asupan makanan.
Kurus kerempeng, penurunan BB, rasa haus
b) Eliminasi
Diare, peningkatan frekuensi, jumlah urine
c) Higiene / pemeliharaan kesehatan

34
Kebiasaan merokok, konsumsi bahan pengawet, penurunan toleransi dalam, melakukan aktivitas personal
higiene
d) Aktivitas / istirahat
Kesulitan beraktivitas, mudah lelah, susah untuk istirahat, nyeri, sesak, kelesuan, insomnia.
d. Pengkajian fisik
a) Integumen
 Pucat atau sianosis sentral atau perifer, yang dapat dilihat pada bibir atau ujung jari / dasar kuku
menandakan penurunan perfusi perifer
b) Kepala dan leher
 Peningkatan tekanan vena jugularis, deviasi trakea
c) Telinga
 Biasanya tidak ada kelainan
d) Mata
 Pucat pada konjungtivasebagai akibat anemia atau gangguan nutrisi
e) Muka, hidung, dan rongga mulut
 Pucat atau sianosis bibir / mukosa menandakan penurunan perfusi
 Ketidakmampuan menelan
 Suara serak
f) Thoraks dan paru-paru
 Pernafasan takipnea (50x/menit atau lebih pada saat istirahat)
 Nafas dangkal
 Penggunaan otot aksesori pernafasan

35
 Batuk kering / nyaring / non produktif atau mungkin batuk trus menerus dengan atau tanpa sputum
 Peningkatan fremitus, krekels inspirasi atau ekspirasi
g) Sistem CV
 Frekuensi jantung makin meningkat / takikardi (150x/menit atau lebih pada saat istirahat
 Bunyi gerakan pericardial (pericardian effusion)
h) Abdomen
 Bising usus meningkat / menurun
i) Sistem urogenital
 Peningkatan frekuensi atau jumlah urine
j) Sistem reproduksi
 Ginekomastia, amenorrhea, impotensi
k) Sistem limfatik
 Pembesaran kelenjar limfe regional : leher, ketiak (metastase)
l) Sistem muskuloskeletal
 Penurunan kekuatan otot
 Jari-jari tubuh (clubbing fingers)
m) Sistem persarafan
 Perubahan status mental / kesadaran : apatis, latergi, bingung, disorientasi, cemas dan depresi,
kesulitan berkomunikasi
e. Data psikologi
Kegelisahan, pertanyaan yang diulang-ulang, perasaan tidak berdaya, putus asa, emosi yang labil, marah, sedih
f. Pemeriksaan diagnostik

36
a) Pemeriksaan non invansif
 Sinar X (PA dan lateral), tomografi dada : menggambarkan bentuk, ukuran, dan lokasi lesi. Dapat
menyatakan massa udara pada bagian hillus, efusi pleural, atelectasis, erosi tulang rusuk eatau
vertebra
 Pemeriksaan sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe) : dilakukan untuk mengkaji adanya
karsinoma
 Mediastinoskopi; digunakan untuk per tahapan karsinoma
 Scan radioisotope; dapat dilakukan pada paru, hati, otak, tulang dan organ lain untuk bukti
metastasis
 Pemeriksaan fungsi paru dan GDA : dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan ventilasi pasca operasi
b) Pemeriksaan invansif
 Bronkoskopi dan biopsy dan penyikatan mukosa bronkus serta pengambilan bilasan bronkus yang
kemudian diperiksa secara patologianatomik. Bronkoskopi serat optik : memungkinkan visualisasi,
pencucian bagian dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat dilihat)
 Biopsi transtorakal dengan bimbingan USG atau CT Scan
 Biopsi dapat dilakukan pada nodus skalen, nodus limfe hilus, atau pleura untuk membuat diagnosa
 Tes kulit, jumlah absolut limfosit : dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum
pada kanker paru)

2. Diagnosa Keperawatan (Wijaya Andara Saferi, Yessie Mariza Putri, 2013 :186)
1) Kerusakan pertukaran gas b.d hipoventilasi

37
2) Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d peningkatan jumlah / viskositas secret, sekresi darah
3) Nyeri akut b.d invasi sel kanker

3. Intervensi Keperawatan (Wijaya Andara Saferi, Yessie Mariza Putri, 2013 :186-187)

No Diagnosa Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Kerusakan pertukaran Tujuan : 1. Catat frekuensi, kedalaman Pernapasan meningkat sebagai
gas B.d Hipoventilasi Setelah di lakukan pernapasan, kesukaran akibat nyeri atau sebagai
intervensi keperawatan, bernapas, observasi mekanisme kompensasi awal
klien menunjukkan penggunaan otot bantu terhadap kerusakan jaringan
perbaikan pertukaran pernapasan, napas bibir, paru.
gas. perubahan kulit/ membrane
Kriteria hasil : mukosa, misalnya pucat,
- Klien akan sianosis
menunjukkan
hasil GDA 2. Auskultasi paru Konsulidasi dan berkurangnya
dalam rentang aliran udara pada sisi
batas normal menunjukkan area paru yang
- Kulit akan bebas terlibat.
dari gejala
distress 3. Selidiki perubahan status Dapat menunjukkan peningkatan
pernapasan mental/ tingkat kesadaran hipoksia atau komplikasi seperti

38
- Klien akan pergeseran mediastinal bila di
memperlihatkan sertai dengan takipnea, takikardi,
perbaikan status deviasi trakea.
mental
4. Pertahankan kepatenan Obstruksi jalan napas
jalan napas dengan mempengaruhi ventilisasi dan
pemberian posisi, mengganggu pertukaran gas.
penghisapan, dan
penggunaan alat bantu
pernapasan

5. Ubah posisi dengan sering, Memaksimalkan ekspansi paru


tempatkan pasien dalam dan drainase sekret.
posisi duduk, dan atau
berbaring

6. Dorong/ bantu latihan Meningkatkan ventilasi dan


napas dalam oksigenasi maksimal dan
mencegah atelectasis.

7. Kaji respon kien terhadap Peningkatan konsumsi


aktivitas, dorong periode kebutuhan oksigen dan stress

39
istirat atau batasi aktivitas mengakibatkan peningkatan
sesuai toleransi klien dispnea dan perubahan tanda
vital

8. Berikan oksigen tambahan Memaksimalkan sediaan oksigen


dengan humifikasi sesuai
indikasi

9. Pantau AGD, oksimetri Penurunan PO2 atau peningkatan


nadi, Catat kadar Hb PCO2 dapat menunjukkan
kebutuhan untuk dukungan
ventilisasi. Kehilngan darah
bermakna dapat mengakibatkan
penurunan kapasitas pembawa
oksigen
2. Tak efektif bersihan Tujuan : 1. Auskultasi dada untuk Pernapasan bising, ronki dan
jalan napas B.d Setelah dilakukan karakteristik bunyi napas mengi menujukkan tertahannya
peningkatan jumlah/ intervensi keperawatan, dan adanya sekret. sekret atau obstruksi jalan napas.
viskositas sekret, diharapkan klien
sekresi darah menunjukkan kepatenan 2. Bantu klien dan intruksikan Posisi duduk memungkinkan
jalan napas. untuk napas dalam dan ekspansi paru maksimal dan
Kriteria hasil : batuk efektif dengan posisi penekanan upaya batuk

40
- Klien akan duduk tinggi dan menekan membantu untuk memobilisasi/
menunjukkan area insisi membuang sekret
bunyi napas
bersih, bebas 3. Observasi jumlah dan Adanya sputum yang kental,
bising/ bunyi karakteristik sputum berdarah,purulen memerlukan
tambahan pengobatan lebih lanjut.
- Klien akan
melaporkan 4. Lakukan penghisapan bila Penghisapan meningkatkan
secret mudah di batuk lemah atau ronki resiko hipoksia dan kerusakan
keluarkan batuk tidak hilang dengan mukosa. Penghisapan trakel
upaya batuk. Hindari dalam secara umum
penghisapan ETT/ OTT kontraindikasi pada klien
yang dalam pada klien pnemoknektomi untuk
pnemonektomi bila menurunkan resiko rupture
mungkin jahitan bronchial.

5. Dorong masukan cairan Hidrasi adekuat untuk


peroral (sedikitnya 2500 meningkatkan pengeluaran
ml/hari) dalam toleransi sekret.
jantung

6. Kaji nyeri/ ketidak Mendorong klien untuk

41
nyamnan dan lakukan bergerak, batuk lebih efektif, dan
latihan pernapasan napas dalam untuk mencegah
kegagalan pernapasan.
7. Gunakan oksigen Memberikan hidrasi maksimal
himidifikasi/ nebulizer membantu pengenceran sekret.
ultrasonic. Berikan cairan
tambahan secara IV sesua
indikasi

8. Berikan bronkodilator, Menghilangkan spasme bronkus


ekspektoran, atau analgesik untuk memperbaiki aliran udara,
sesuai indikan meningkatkan upaya
pengeluaran sekret
3. Nyeri akut b.d invasi Tujuan : 1. Tentukan lokasi,
sel kanker Setelah dilakukan kaakteristik, kualitas dan
intervensi keperawatan, keparahan nyeri sebelum
diharapkan klien mengobati pasien
menunjukkan tidak ada 2. Cek perintah pengobatan,
nyeri yg b.d invasi sel meliputi obat, dosis, dan
kanker frekuensi obat analgesik
Kriteria hasil : yang diresepkan
- Klien mengenali 3. Monitor TTV sebelum dan

42
kapan nyeri setelah memberikan
terjadi analgesik pada pemberian
- Klien dosis pertama kali atau jika
menggunakan ditemukan tanda yg tidak
tindakan biasa
pencegahan 4. Berikan analgesik sesuai
- Klien waktu paruhnya terutama
melaporkan pada nyeri yang berat
perubahan 5. Evaluasi keefektifan
terhadap gejala analgesik dengan interval
nyeri pada yang teratur pada setiap
profesional setelah pemberian
kesehatan khususnya setelah
pemberian pertama kali,
juga observasi adanya
tanda dan gejala efek
samping

43
BAB III

Penutup

A. Kesimpulan
Kanker paru-paru (bronchogenic carcinoma) merupakan penyebab tertinggi
kematian didunia. Mayoritas penyakit kanker paru disebabkan oleh karsinogen dan zat
promotor tumor yang masuk ke dalam tubuh melalui kebiasaan merokok. Lebih dari 90%
seluruh tumor kanker primer timbul pada jaringan epitel bronkial. Kanker ini berkumpul
sehingga disebut bronkogenik karsinoma. Kanker paru diklasifikasikan sesuai dengan
tipe histologi selnya,

B. Saran
Untuk menghidari penyakit kanker paru kita harus mempunyai kebiasaan hidup
sehat, tidak merokok, dan menjauhi bahan yang mengandung karsinogen.

26
Daftar pustaka

Padila, 2013, Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam, Yogyakarta : Nuha Medika

Somantri Irman, 2009, Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan,
Jakarta : Salemba Medika

Manurung Nixson, 2016, Aplikasi Asuhan Keperawatan Sistem Respiratory, Jakarta : Trans Info
media

Wijaya Andara Saferi, Yessie Mariza Putri, 2013, KMB1 Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa), Yogyakarta : Nuha Medika

27