Anda di halaman 1dari 12

Makalah Ilmu Dakwah

Pendakwah

Kelompok 7
Zulaikha Mustika Sukma
NIM: B73219095
Augustin Chandra Dewi
NIM: B93219104
Farhana Saraswati
NIM: B93219115
Kelas: B4

Dosen Pengampu :
Dra. Ragwan Albaar, M.Fil.I

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendakwah merupakan seseorang yang menyampaikan ajaran islam. Orang
yang melakukan dakwah disebut da’i. Dakwah wajib dilakukan oleh seluruh umat
muslim. Pendakwah merupakan komunikator karena menyampaikan pesan
komunikasi (message) kepada orang lain, dapat melalui lisan, tulisan, dan
perbuatan.
Dakwah dapat dilakukan secara individu, artinya dari satu orang ke orang
lain, dan bisa juga secara berkelompok, artinya dakwah dilakukan dan digerakkan
oleh sebuah kelompok atau organisasi. Pendakwah mempunyai kualifikasi berupa
muslim yang mukalaf (sudah dewasa) dan mempunyai spesialisasi dalam bidang
agama. Kunci sukses dakwah adalah pendakwah mampu meyakinkan orang untuk
tentang ajaran-ajaran agama islam. Pendakwah juga memiliki kemuliaan karena
menyebarkan agama islam. Problematika para pendakwah di antaranya adalah
problematika sosial umat.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa kualifikasi dari pendakwah?
2. Apa strategi yang tepat untuk pendakwah?
3. Apa kemuliaan dari pendakwah?
4. Bagaimana problematika yang ada di sekitar pendakwah?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kualifikasi dari pendakwah
2. Mengetahui strategi yang tepat untuk pendakwah
3. Mengetahui kemuliaan dari pendakwah
4. Mengetahui problematika yang ada di sekitar pendakwah
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendakwah
Pendakwah atau yang biasa disebut dengan da’i adalah orang yang
menyampaikan pesan komunikasi pada orang lain melalui tulisan, lisan, dan
media yang lain.1 Pendakwah secara sadar mengajak, menyeru, atau memanggil
kepada semua orang yang diajak berdakwah untuk mengajak ke arah kebenaran.
Pendakwah mempunyai tugas untuk memotivasi tiap orang islam untuk lebih
berbuat baik, mendapatkan dan mengikuti petunjuk dari Allah agar mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat. Materi dakwah yang biasanya disampaikan berupa
keyakinan (aqidah), amalan (syari’at), budi pekerti (akhlak), dan tata cara bergaul
(muamalah) dengan sesama manusia.2
Pendakwah memerlukan cara tertentu untuk menjadi komunikator yang tepat.
Pendakwah atau da’i harus mempunyai pandangan human oriented yang membuat
pendekatan psikologi maupun spiritual pada tiap manusia. Pendakwah yang baik
adalah pendakwah yang bisa menjelaskan dan memberikan hikmah kepada mad’u
untuk mencapai tujuan dalam mengenalkan ajaran agama islam. Selain itu,
pendakwah juga diharapkan dapat menjelaskan doktrin-doktrin Islam serta realitas
yang sesuai dengan zaman ini disertai argumen yang logis.3
Pemahaman yang benar mengenai definisi dakwah bagi seorang da’i, akan
berpengaruh pada cara pengkomunikasian dakwah baik verbal maupun non
verbal.4 Pendakwah maupun mitra dakwah dapat melaksanakan isi dakwah
dengan sebaik-baiknya. Isi dakwah yang tepat dan diterima oleh mitra dakwah

1
Abdul Wahab, “DAKWAH ISLAM, TEKNOLOGI DAN KEMANUSIAAN”, JURNAL AN-NIDA Jurnal
Komunikasi Islam, Vol. 7, No. 1, 2015, hal. 2
2
Adri Efferi, “PROFESIONALISASI DA’I DI ERA GLOBALISASI”, AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi
Penyiaran Islam, Vol. 1, No. 2, Juli - Desember 2013 (http://journal.stainkudus.ac.id diakses
01/09/2019, hal. 94)
3
Hasan Bastomi, “Dakwah Bil Hikmah Sebagai Pola Pengembangan Sosial Keagamaan
Masyarakat”, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 36, No. 2 2016 (http://dx.doi.org/10.21580/jid.36i.2.1776
diakses 01/09/2019, hal. 339)
4
Rosida, “Definisi Dakwah Islamiyyah Ditinjau Dari Perspektif Konsep Komunikasi Konvergensi
Katherine Miller”, Jurnal Qathruna, Vol. 2, No. 2 Juli - Desember 2015 (online diakses
01/09/2019, hal. 157)
adalah dengan dakwah bil hikmah, yaitu dakwah dengan menggunakan perkataan
yang benar dan pasti disertai dalil yang menjelaskan tentang kebenaran serta
keraguan. Dakwah bil hikmah ini harus bisa menjawab problematika yang ada di
sekitar masyarakat serta dikembangkan menjadi pola pengembangan kegiatan
sosial masyarakat.

B. Kualifikasi Pendakwah
Kualifikasi merupakan hal yang penting karena seorang pendakwah memiliki
keududukan strategis di tengah masyarakat. Kualifikasi merupakan syarat atau
kriteria tertentu untuk menjadi seorang pendakwah. Idealnya seorang pendakwah
adalah orang mukmin yang menjadikan islam sebagai agamanya, Al-Qur’an
sebagai pedoman hidupnya, dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladannya. 5
Ada dua macam pendakwah menurut Toto Tasmara (1977: 41-42), yaitu
sebagai berikut:
1. Secara umum adalah muslim yang mukalaf (sudah dewasa).
2. Secara khusus adalah muslim yang mengambil spesialisasi (mutakhashish)
di bidang agama islam, contohnya yaitu ulama dan sebagainya.6
Pendakwah melakukan kegiatan dakwah dengan menyebarkan agama islam
dalam skala luas. Pendakwah mengajak kepada orang lain baik secara lisan,
tulisan, atau perbuatan mengamalkan ajaran agama-agama Islam. Pendakwah
hendaknya juga melakukan perubahan kondisi yang lebih baik menurut ajaran
Islam. Setiap muslim harus sadar bahwa mereka adalah subjek dakwah dalam
keadaan dan situasi apapun. Subjek dakwah ini yang harus secara terus-menerus
melaksanakan tugasnya sebagai pendakwah dengan tempat dan situasi yang
tepat.7
Pendekatan dakwah menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-
Azhar juz 4 menuntut kualifikasi seorang pendakwah sebagai berikut: a)

5
Aliyudin, “Kualifikasi Da’i: Sebuah Pendekatan Idealistik dan Realistik”, ANIDA, Vol. 14, No. 2
Juli-Desember 2015, (http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/anida diakses 31/08/2019, hal. 286)
6
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2004), hal. 216.
7
Aliyudin, “Kualifikasi Da’i: Sebuah Pendekatan Idealistik dan Realistik”, ANIDA, Vol. 14, No. 2,
hal. 284.
hendaklah seseorang pemberi dakwah mempunyai pengetahuan yang sempurna
tentang Al-Qur’an, Hadits, Sejarah Nabi, Sejarah para Sahabat; b) berpengetahuan
tentang keadaan umat yang didakwahi, sosial, ekonomi, dan budaya; c)
berpengetahuan tentang sejarah agar dapat mengenali sumber kerusakan dan adat
istiadat yang mengganggu kecerdasan berpikir; d) berpengetahuan tentang ilmu
geografi agar menguasai medan dakwah; e) menguasai ilmu jiwa, akhlaq, dan
mengamalkannya; g) mengetahui kehidupan dan kesenian yang ada di sekitar
umat; dan h) menguasai ilmu sosiologi, politik, dan bahasa umat.8
Dalam A. Alyas Ismail dan Prio Hotman, menjelaskan berbagai kualifikasi
dari pendakwah di atas dapat disimpulkan bahwa setiap pendakwah harus
mengoptimalkan kredibilitas dan membuat citra yang positif. Kualifikasi
pendakwah harus mempunyai: kebersihan hati, kecerdasan pikiran, dan
keberanian mental. Hal-hal lain yang harus dimiliki oleh pendakwah juga berupa
kekuatan spiritual, kekuatan intelektual (wawasan ilmu yang luas), dan kekuatan
moral (akhlaq).9

C. Pendakwah Strategis
Kunci sukses dakwah adalah pendakwah mampu meyakinkan orang untuk
tentang ajaran-ajaran agama islam. Salah satu caranya adalah menggunakan
strategi atau trik agar dakwah mudah diterima di masyarakat. Misalnya dengan
menggunakan konten dakwah yang menarik, ringkas namun berkualitas. Karena
kita hidup di zaman modern maka dakwah pun tidak dapat menggunakan cara
lama untuk menyampaikannya. Sekarang terdapat Facebook, Instagram,
Whatsapp, dan media sosial lainnya. Sebagai pendakwah yang cerdas, harus bisa
mengikuti pekembangan zaman dalam menyebarkan ajaran islam dengan
memanfaatkan teknologi masa kini. Kepada orang-orang awam, kita hanya

8
M. Rosyid Ridla, Afif Rifa’i, dan Suisyanto, Pengantar Ilmu Dakwah (Sejarah, Perspektif, dan
Ruang Lingkup), (Yogyakarta: PENERBIT SAMUDRA BIRU, 2017), hal. 36.
9
Aliyudin, “Kualifikasi Da’i: Sebuah Pendekatan Idealistik dan Realistik”, ANIDA, Vol. 14, No. 2
Juli-Desember 2015, (http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/anida diakses 31/08/2019, hal. 290)
menyampaikan ajaran yang mudah dipahami dan dikerjakan namun tidak
membebani secara psikologis. Inilah yang kita sebut sebagai strategi dakwah.10
Dalam jurnal Lentera, disebutkan beberapa strategi, yaitu:
1. Peningkatan Sumber Daya Muballigh (SDM)
2. Pelatihan Pengayaan Wawasan Muballigh
3. Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Modern sebagai Media Dakwah
4. Pengembangan Pendekatan Dakwah Fardhiyah
5. Mempertahankan Pendekatan Dakwah Kultural
6. Mengintensifkan Pendekatan Dakwah Struktural
7. Menformat Materi Dakwah yang Aktual dan Relevan
8. Monitoring dan Evaluasi (monev) Program Dakwah11

D. Kemuliaan Pendakwah
Dapat diterimanya dakwah seorang da’i merupakan kesuksesan yang besar,
karena menyebarkan ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya yang merupakan
kewajiban setiap muslim. Maka dari itu, menjadi seorang da’i merupakan suatu
hal yang mulia. Menurut Ali bin Umar bin Ahmad B Dahdah (2012: 12), ada
beberapa penjelasan mengapa aktifitas dakwah itu menjadi sesuatu yang sangat
penting, diantaranya:
1. Mendapat pahala yang sangat besar.
2. Menyebarkan kebaikan.
3. Akan mengurangi kebatilan.
4. Melindungi Islam dari pemikiran serta perbuatan yang salah.12
Secara universal, pendakwah merupakan orang yang mulia dan terhormat.
Pendakwah tidak hanya melaksanakan perbuatan baik dan tepuji serta menjauhi

10
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, hal. 200.
11
M. Abzar D., “STRATEGI DAKWAH MASA KINI (Beberapa Langkah Strategis Pemecahan
Problematika Dakwah)”, Lentera, Vol. 18, No. 1 Juni 2015,
(http://media.neliti.com/media/publications/146064 diakses 31/08/2019, hal. 44-49)
12
Adri Efferi, ”PROFESIONALISASI DA’I DI ERA GLOBALISASI”, AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi dan
Penyiaran Islam, Vol. 1, No.2, Juli-Desember 2013, (http:// journal.stainkudus.ac.id diakses
31/08/2019, hal. 96-98)
perbuatan jahat dan mungkar, melainkan juga memerintah orang lain untuk
berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. Hal ini disebut moralitas universal.13
Dikutip dari buku Ilmu Dakwah, ada beberapa kemuliaan seorang da’i,
diantaranya:
1. Apa yang disampaikan pendakwah adalah kata yang terbaik.
2. Pendakwah adalah pelaksana dan penerus risalah kenabian.
3. Para pendakwah juga menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberian
peringatan, penyeru ke jalan Allah SWT, dan sebagai lampu penerang.
4. Pendakwah adalah pelopor pembentukan umat terbaik.
5. Pendakwah adalah penolong dan pembela agama Allah SWT, maka ia
akan mendapat penjagaan dan pertolongan dari Allah SWT.
6. Pendakwah adalah penjaga identitas utama orang-orang yang beriman.
7. Para pendakwah diakui sebagai penegak dan penyelamat kehidupan
bersama di muka bumi.
8. Pendakwah adalah penjaga sunah Rasulullah SAW.14

E. Problematika Seputar Pendakwah


Gejala umum yang dapat kita rasakan, dapat kita lihat dewasa ini yang
menjadi permasalahan dakwah yang menyelimuti hidup dan kehidupan manusia
sangat beraneka ragam dan sangat kompleks. Permasalahan dakwah yang kita
temukan dan kita hadapi dalam realitas keseharian meliputi dua hal yaitu:
1. Terjadinya pergeseran nilai, yakni nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit
digeser oleh berbagai nilai-nilai yang lain seperti kapitalisme, materialisme,
rasionalisme, dinamisme, sekulerisme, manipulasi, individualisasi, dan lain
sebagainya.
2. Timbulnya berbagai macam permasalahan sosial, seperti kemiskinan,
kebodohan, kekerasan dalam masyarakat, keterbelakangan, dekadensi moral,
ketertindasan dengan berbagai dampaknya.15

13
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2004), hal. 245
14
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, hal. 246-250
15
Nawawi, “Strategi Dakwah Studi Pemecahan Masalah”, Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 2,
No. 2, Juli – Desember 2008 pp. 269-276, hal. 1 – 2
Uraian singkat berikut berikut ini dimaksudkan untuk memperlihatkan suatu
kerangka strategi dakwah berdasarkan pada pemahaman terhadap berbagai
permasalahan yang telah diketengahkan diatas.

E.1 Pendakwah Perempuan


Pendakwah perempuan di depan publik masih dipersoalkan di kalangan
ulama. Antara lain terkait batasan aurat perempuan di luar ibadah apalagi
berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Suara perempuan
masih diperdebatkan: Apakah termasuk aurat atau tidak. Keluarnya perempuan
yang dianggap dapat menimbulkan fitnah belum dirumuskan batasannya.
Perhiasan yang ditonjolkan oleh perempuan hingga menimbulkan fitnah
(tabarruj).16
Sebenarnya, beberapa pendakwah perempuan dijumpai dalam fakta sejarah.
Beberapa istri Nabi Muhammad SAW., antara lain Aisyah r.a telah dikenal
sebagai perawi hadis. Tidak sedikit tabi’in (murid sahabat Nabi SAW). Laki-laki
yang berguru kepada Aisyah r.a. Selain itu, tuntutan belajar ilmu Islam juga
diwajibkan kepada kaum perempuan. Dengan kewajiban ini, perempuan mesti
keluar rumah menuju sekolahan atau majelis pengajian. Karenanya pendakwah
ataupun guru agama perempuan mutlak dibutuhkan. Tidak ada perbedaan hukum
antara pendakwah perempuan di hadapan mitra dakwah laki-laki dan pendakwah
laki-laki dihadapan mitra dakwah perempuan.
Untuk mengurangi kontroversi dalam hal ini, maka untuk tampilannya
pendakwah perempuan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi, yaitu:
a. Pendakwah perempuan harus meenutup auratnya.
b. Suara perempuan bukan aurat dalam pandangan ulama yang bermazhab
Syafi’iyah.
c. Disertai mahram demi keamanannya dari kejahatan orang lain.
d. Berpakaian sopan dan tidak berlebihan dalam penampilan, sehingga tidak
mengundang godaan dari orang lain.17

16
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2014), hal. 216
17
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, hal. 218
E.2 Pendakwah anak – anak
Dalam zaman ini, masalah dari anak-anak sebagai pendakwah adalah belum
adanya beban tanggung jawab (taklif). Selain itu, kematangan berpikir dan
kedewasaan bersikap dan bertindak pada umumnya belum terjadi pada masa anak-
anak. Dalam fikih, kehidupan anak-anak yang belum dewasa masih dalam
tanggungan kedua orang tuanya. Jika ia menjadi yatim atau terlantar, maka ia
wajib ditanggung oleh negara.18
Telah banyak kita jumpai pendakwah mimbar yang dilakukan oleh anak-
anak, bahkan anak usia Taman Kanak-kanak. Mereka diminta berceramah didepan
orang-orang dewasa. Kita yang sudah dewasa tidak memerhatikan isi pesannya
karena kita sadar bahwa mereka belum mukalaf (terbebani perintah dan larangan
agama), sehingga mereka tidak selayaknya menyampaikan pesan kepada kita yang
sudah mukalaf. Sekalipun demikian, dakwah yang dilakukan anak-anak, walaupun
tidak dilihat sebagai penunaian kewajiban, akan tetapi tetap dipandang baik dari
dua segi. Pertama, dakwah oleh anak-anak dipandang sebai proses pendidikan
dan pelatihan. Kita ajarkan anak-anak kita mengena ajaran Islam, kita ajarkan pula
bagaimana cara menyampaikannya, lalu mereka mempraktikannya. Cara
pembelajaraan ini disebut sebagai cerdas dengan pengayaan. Kedua, penampilan
pendakwah anak-anak dapat berfungsi sebagai pemberi semangat orang tua dalam
mendidik anak sekalihs anak-anak yang lain untuk dapat meniru jejak mereka
yang memahami beberapa hal tentang ajaran Islam. Kita maklum dengan
kemungkinan kesalahan pesan yang disampaikan. Tetapi kita bangga memiliki
calon pendakwah mimbar handal di masa mendatang. Namun, kita juga perlu
mengkader pendakwah di bidang lainnya.19

E.3 Pendakwah Mualaf


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi agama yaitu
faktor Ilahi, lingkungan, kondisi psikis, dan pendidikan.20 Ada empat kelompok
yang dapat disebut sebagai mualaf. Pertama, mereka hatinya yang masih lemah
18
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2014), hal. 219
19
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, hal. 220
20
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, hal. 220
saat masuk Islam dan perlu bantuan umat Islam. Kedua, mereka yang lemah
hatinyadan menjadi penghalang umat Islam. Ketiga, mereka yang lemah hatinya
dan diharapkan simpati kepada Islam. Keempat, mereka yang lemah hatinya dan
menjadi pemuka masyarakat, sehingga ia diharapkan mengajak masyarakatnya
masuk Islam. Jadi mualaf pada garis besarnya ada dua macam, yaitu orang yang
masih kafir tapi ada tanda-tanda tertarik masuk Islam dan orang yang sudah
Muslim tapi masih lemah imannya.
Ada sejumlah mualaf yang diminta di beberapa tempat untuk menjadi
pendakwah di atas mimbar. Tidak ada yang dipermasalahkan dari seorang mualaf
ketika ia menyampaikan kebenaran Islam. Padahal, umumnya para mualaf belum
memiliki pengetahuan secara mendalam. Ketika seorang berceramah, bukan tidak
mungkin, ia berhadapan dengan ulama yang memiki pengetahuan tentang Islam
secara lebih mendalam. Dakwah para mualaf justru lebih menyentuh sanubari
kaum awam, karena mereka sama-sama berangkat dari ‘titik nol’. Jika mualaf
menjadi pendakwah yang menguasai ilmu agama, maka hal ini menjadi dorongan
bagi umat Islam pada umumnya yang telah memeluk Islam puluhan tahun tapi
belum banyak diketahuinya tentang Islam.21

E.4 Honor Bagi Pendakwah


Dakwah bukan kegiatan bisnis, tetapi kegiatan sosial. Salah satu ciri khusus
kegiatan sosial adalah keterlibatan para sukarelawan. Mereka bekerja tanpa
mengharapka upah atau gaji. Mereka hanya menyalurkan dan mengembangkan
idealisme. Dan mereka juga tidak dilarang menerima upah yang dimintainya
karena mereka juga manusia biasa yang membutuhkan makan dan minum. Jika
waktu telah dihabiskan untuk kegiatan sosial, bagaimana mungkin ia bekerja
profesional untuk menghabiskan. Jika mereka dibayar, nilainya pun tidak
sebanding apa yang bekerja di kegiatan sosial. Pendakwah adalah sukarelawan
yang memenuhi panggilan Allah SWT. sebagai konsekuensinya, pendakwah
selayaknya meminta upah dari dakwahnya.

21
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2014), hal. 220
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
1. Kualifikasi dari pendakwah adalah orang mukmin yang menjadikan islam
sebagai agamanya, Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, dan Nabi
Muhammad SAW sebagai teladannya. setiap pendakwah harus
mengoptimalkan kredibilitas dan membuat citra yang positif. Kualifikasi
pendakwah harus mempunyai: kebersihan hati, kecerdasan pikiran, dan
keberanian mental.
2. Strategi yang tepat untuk pendakwah adalah mampu meyakinkan orang untuk
tentang ajaran-ajaran agama islam. Salah satu caranya adalah menggunakan
strategi atau trik agar dakwah mudah diterima di masyarakat. Misalnya
dengan menggunakan konten dakwah yang menarik, ringkas namun
berkualitas.
3. Kemuliaan dari pendakwah adalah diantaranya Mendapat pahala yang sangat
besar, menyebarkan kebaikan, dan akan mengurangi kebatilan.
4. Problematika yang ada disekitar pendakwah ada beberapa macam,
diantaranya pendakwah perempuan yang dianggap tidak sah karena aurat,
pendakwah anak-anak yang dianggap belum mukalaf, dan pendakwah mualaf
yang dianggap belum mempunyai ilmu agama yang mumpuni, serta honor
bagi para pendakwah.

B. Saran
Saran yang dibutuhkan makalah ini adalah adanya pembenaran lebih lanjut
terkait dengan materi dari pendakwah ini. Materi yang kurang tepat dalam
makalah ini dapat diperbaiki agar lebih sempurna dan memberikan ilmu bagi
penulis makalah maupun pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Aliyudin. 2015. Kualifikasi Da’i: Sebuah Pendekatan Idealistik dan Realistik.


ANIDA. Vol. 14 (2): 286. http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/anida
(diakses 31/08/2019)
Aziz, Moh. Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP
Bastomi, Hasan. 2016. Dakwah Bil Hikmah Sebagai Pola Pengembangan Sosial
Keagamaan Masyarakat. Jurnal Ilmu Dakwah. Vol. 36 (2): 339.
http://dx.doi.org/10.21580/jid.36i.2.1776 (diakses 01/09/2019)
D., M. Abzar. 2015. STRATEGI DAKWAH MASA KINI (Beberapa Langkah
Strategis Pemecahan Problematika Dakwah). Lentera. Vol. 18 (1): 44-49
http://media.neliti.com/media/publications/146064 (diakses 31/08/2019)
Efferi, Adri. 2013. PROFESIONALISASI DA’I DI ERA GLOBALISASI. AT-
TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. Vol. 1 (2): 94.
http://journal.stainkudus.ac.id (diakses 01/09/2019)
Nawawi. 2008. Strategi Dakwah Studi Pemecahan Masalah. Jurnal Dakwah dan
Komunikasi. Vol. 2 (2): 1-2 pp. 269-276
Ridla, M. Rosyid, Afif R., dan Suisyanto. 2017. Pengantar Ilmu Dakwah
(Sejarah, Perspektif, dan Ruang Lingkup. Yogyakarta: PENERBIT
SAMUDRA BIRU
Rosida. 2015. Definisi Dakwah Islamiyyah Ditinjau Dari Perspektif Konsep
Komunikasi Konvergensi Katherine Miller. Jurnal Qathruna. Vol. 2 (2):
157
Wahab, Abdul. 2015. DAKWAH ISLAM, TEKNOLOGI DAN
KEMANUSIAAN. JURNAL AN-NIDA Jurnal Komunikasi Islam. Vol. 7
(1): 2

Anda mungkin juga menyukai