Anda di halaman 1dari 2

Mujahid Milenial: Berjiwa Islami Bersinergi Membangun Negeri

“Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah
bagian dari Agama, dan keduanya saling menguatkan”

-K.H. Hasyim Asy’ari-

Pendahuluan

Mujahid dalam pemaknaan umum sebagai pejuang “yang membela agama”


nampaknya harus mulai kita ekstensifkan makna mujahid dalam menghadapi perkembangan
zaman. Sebagai salah satu pelopor kemerdekaan Indonesia, yang tidak bisa dipungkiri
mujahid dapat dikatakan sebagai “tiang” tempat rumah Negara Indonesia berdiri terlebih
mayoritas mujahid adalah anak-anak di usia muda. Berangkat dari realitas tersebut, konsep
mujahid dalam saat ini yang lazim disebut sebagai era “milenial” yang kemudian dapat kita
sederhanakan menjadi “mujahid milenial” merupakan tuntutan yang bersifat keharusan untuk
dipahami oleh para mujahid atau kader-kader muda Islami. Terlebih lagi dengan mulai
adanya suatu kelompok yang mengatasnamakan Islam yang justru bertindak, berbuat, dan
bersikap jauh dari nilai-nilai Islam seperti: Terorisme, saling membenci dan mencaci
golongan lain, bahkan sampai berorientasi untuk membentuk khilafah islamiyah. Hal inilah
yang kemudian juga turut berpengaruh untuk memberikan stigma negatif kepada para
mujahid muda yang selalu dikonotasikan sebagai “serigala bersanjata sorban” yang sring
menimbulkan teror di mana-mana.

Tulisan ini hendak menjelaskan serta memberikan suatu purifikasi atau memperjelas
original intent tentang makna mujahid yang sebenarnya supaya para mujahid muda dapat
kembali ke khittah untuk selalu berhati nurani Islam serta setia dan meneguhkan NKRI dan
Pancasila sebagai suatu yang final dan layak untuk dipertahankan.

Mujahid Milenial dan Tantangan ke Depan

Sebagai generasi muda yang mencintai, belajar dan bergerak dalam organisasi
keagamaan, -mujahid- yang kemudian menjadi representasi dari gerakan kritis mahasiswa
yang berlatar agama dan pendidikan Islam menjadi suatu agent of change bagi masyarakat,
bangsa dan negara. Sebagai pemuda yang memiliki sikap kritis dan semangat yang “meledak-
ledak” tak hayal pemuda seperti mejadi api yang setiap saat mudah untuk dibakar asalkan ada
bahan bakar yang dapat memicunya. Berangkat dari realitas tersebut, maka secara sederhana,
terkait dengan mujahid atau pemuda di era milenial, memiliki setidaknya tiga tantangan yang
harus selalu dipelajari dan diperhatikan. Ketiga tantangan tersebut yaitu: Pertama
,pemahaman yang lebih terkait penerapan nilai-nilai agama Islam (Islam value) dalam
kehidupan sehari-hari. Kedua, di era milenial yang sudah mencappai zaman Revolusi Industri
4.0 tidak lagi terlepaskan adanya digitalisasi-digitalisasi yang akan menjadi paradoks bagi
para mujahid muda. Maksudnya adalah di satu sisi era digital dapat menjadi sarana untu
mengembangkan kreasi bagi para mujahid muda, namun di sisi lain dampak dan efek-efek
negatif dari perkembangan teknologi yang harus dikaji dan diperhaikan oleh para mujahid
muda supaya tidak terjerumus dalam lubang kemaksiyatan, naudzubillah. Ketiga, peran untuk
kembali menumbuhkembangkan semangat kebangsaan menjadi upaya yang harus dan terus
digalakkan di mana saat ini mulai ada kelompok-kelompok yang mulai membenturkan
semangat keagamaan dengan semangat kebangsaan. Padahal momentum bernegara saat ini
harus kita ubah dengan perspekif bahwa konsep bernegara saat ini adalah lebih
menitikberatkan pada aspek darusy syahadah (negara kesaksian) bukan hanya darul ahdi
(negara kesepakatan). Oleh kareena itu, diharapkan tiga tantangan dari para mujahid muda
dapat menjadi “setitik cahaya pedoman” untuk menjadi mujahid muda yang Islami serta
bersemangat kebangsaan.