Anda di halaman 1dari 3

UPACARA ISTIADAT NADRANAN

PENDAHULUAN

Arus globalisasi yang semakin berkembang telah membuat seluruh masyarakat di dunia
termasuk Indonesia harus menerima berbagai pengaruh dari luar. Terutama mempengaruhi
berbagai aspek kehidupan. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan masyarakat Indonesia yang telah
meninggalkan kebudayaan dan nilai- nilai tradisi. Contohnya adalah tradisi masyarakat Indonesia
yang selalu ramah tamah terhadap siapa pun dan tidak lagi terlihat di kehidupan zaman sekarang
ini, khususnya di bagian kota Namun masih banyak masyarakat yang melestarikan budaya yang
beragam. Budaya jawa dan budaya sunda yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung seni
pertunjukan atau menjadi tontonan wisata.Sebagian masyarakat Indonesia khususnya di daerah
pedalaman masih mempercayai tradisi adat istiadat dari segi mitos misalkan masyarakat
mempercayai setelah melaksanakan tradisi bisa membuat desa menjadi sejahtera dan makmur
serta mencukupi hal-hal dari kekurangan di desa Tapi apabila tidak melaksanakan akan
berdampak pada kehidupan atau akan terjadi hal buruk.

Segi realitasnya yaitu menyangkut kebiasaan masyarakat dan pengaruh lingkungan dalam
masalah yang berhubungan dengan masyarakat setempat Sebagian besar masyarakat masih
belum mengetahui dan memahami makna dan tujuan dari pelaksanaan tradisi tersebut.
Masyarakat mewarisi tradisi para leluhur untuk memenuhi ketentuan syarat perilaku kehidupan
lingkungan sekitar, Menurutnya warisan kebiasan nenek moyang harus dilestarikan karena
dalam tradisi tersebut mengandung hal-hal baik Namun ada juga tradisi yang kurang diminati
dan tidak terlalu diperhatikan oleh warga sehingga tradisi hilang dengan sendirinya.
PEMBAHASAN

Nadran adalah upacara adat para nelayan di pesisir pantai utara Jawa, seperti Subang, Indramayu
dan Cirebon yang bertujuan untuk mensyukuri hasil tangkapan ikan, mengharap peningkatan
hasil pada tahun mendatang dan berdo’a agar tidak mendapat aral melintang dalam mencari
nafkah di laut. Inilah maksud utama dari Upacara Adat Nadran yang diselenggarakan secara rutin
setiap tahun. Selain upacara ritual adat, kesenian tradisional serta pasar malam pun
diselenggarakan selama seminggu. Di Kabupaten Indramayu, umumnya Upacara Adat Nadran
diselenggarakan antara bulan Oktober sampai Desember yang bertempat di Pantai Eretan Kulon,
Eretan Wetan, Dadap, Limbangan dan Karangsong. Sedangkan di Kabupaten Subang, di
antaranya adalah di Pantai Blanakan.

Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang
diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Kata nadran sendiri menurut sebagian
masyarakat berasal dari kata nazar yang mempunyai makna dalam agama Islam yaitu
pemenuhan janji. Adapun inti upacara nadran adalah mempersembahkan sesajen (yang
merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut
agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan). Sesajen
yang diberikan disebut ancak yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala
kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum
dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah
ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring,
barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran
selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.

Nadran atau kadang disebut labuh saji dapat juga diartikan sebagai sebuah upacara pesta laut
masyarakat nelayan sebagai perwujudan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rezeki yang diberikan-Nya lewat hasil laut yang selama ini didapat. Selain itu, dalam upacara
nadran juga dilakukan permohonan agar diberi keselamatan dalam melaut, serta tangkapan hasil
laut mereka berlimpah pada tahun mendatang.

Pasca Pelaksanaan Nadran


Setelah perayaan selesai ada beberapa penampilan lain yang dikaitkan dengan perayaan Nadran
yaitu penampilan Wayang Kulit setelah pelepasan jolen ke dasar laut, Wayang biasanya
menceritakan momen-momen tentang Nadran seperti mengenai kisah budug basu atau dewa-
dewa laut yang dianggap asal muasal ikan yang ada di laut. Menjelang usai pertunjukan dalang
membacakan do’a khusus atau ruwatan.

Ruwatan pada dasarnya bermakna penyucian terlepas (bebas) dari nasib buruk yang
kemungkinan menimpa untuk membebaskan seseorang yang dipercaya akan mengalami nasib
buruk, aura buruk atau penyakit nonfisik yang ada di dalam dirinya lenyap sehingga bersih jiwa
dan raga menjadi tenang, tenteram, selalu sehat, sejahtera dan bahagia.

Pelaksanaan ruwatan
Pelaksanaan tersebut mudah dan singkat, Sebelum pertunjukan wayang dimulai masyarakat
menyuguhkan air dicampur dengan kembang yang diwadahi dengan ember atau gentong ke
depan panggung. Dalang sejati sebagai pemandu wayang membaca mantra atau berdoa. Setelah
pertunjukan wayang selesai air bercampur kembang tersebut diambil kembali dibawa pulang ke
rumah masing-masing untuk disiramkan ke kepala dan badan mereka masing-masing. Air
bercampur kembang dianggap bertuah atau berkah karena sudah diruwat oleh dalang tersebut.
Penyiraman air bercampur kembang ke kepala dan tubuh mereka masing-masing sebagai
penyempurnaan tradisi Nadran.

PENUTUP

Sebagian masyarakat khususnya nelayan masih melestarikan dan melaksanakan tradisi Nadran,
mereka masih mempercayai mitos atau kekuatan magis yang ada di laut, kepercayaan mereka
terhadap roh leluhur yang ada di laut menjadi ancaman jika tidak dilaksanakan sehingga para
nelayan dan warga tetap melaksanakan tradisi tersebut setahun sekali.