Anda di halaman 1dari 2

Membenahi Mekanisme Voluntary Disclosure Perpajakan di Indonesia

Oleh : Nanda Alfiyandi – Fakultas Ilmu Administrasi – Universitas Indonesia

Pemberlakuan self-assessment system di Indonesia memberikan kepercayaan kepada subjek


pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya serta memenuhi haknya di bidang perpajakan.
Wajib Pajak diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk menghitung, membayar dan melaporkan
besaran pajak yang terutang melalui Surat Pemberitahuan (SPT). Berbicara mengenai SPT sebagai sarana
dalam menjalankan kewajiban Wajib Pajak di bidang perpajakan, menurut Laporan Kinerja Kementerian
Keuangan, tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan kewajiban melaporkan SPT setiap tahun
dalam 5 tahun terakhir meningkat namun tidak pernah mencapai target yang dibuat oleh Kementerian
Keuangan. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pajak memiliki tanggung jawab untuk dapat meningkatkan
kondisi kepatuhan Wajib Pajak saat ini. Salah satu upayanya adalah dengan meningkatkan wajib pajak
dalam memenuhi hak-hak hukumnya dibidang perpajakan, yaitu hak untuk dapat melakukan
pembenaran atas kesalahannya dalam mengumpulkan SPT atau dapat kita kenal dengan Pengungkapan
Ketidakbenaran (Voluntary Disclosure).

Sejalan dengan semangat self assessment system, mekanisme Voluntary disclosure diharapkan
dapat menjadi sarana bagi Wajib Pajak untuk meningkatkan kepatuhannya jika terdapat kesalahan yang
dilakukan dalam pelaporan SPT. Penerapan mekanisme Voluntary disclosure dapat diambil oleh Wajib
pajak dalam beberapa fase penyelesaian sengketa pajak. Pada saat sebelum dilakukan pemeriksaan,
Wajib Pajak dapat melakukan Pembetulan SPT sesuai dengan Pasal 8 ayat (1) Undang Undang Nomor 16
Tahun 2009 tentang Ketentuan dan Tata Cara Perpajakan (Selanjutnya disebut UU KUP). Namun akibat
dari pembetulan SPT tersebut dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 persen (dua persen)
per bulan. Setelah itu, sesuai dengan Pasal 8 ayat (4) UU KUP, pada saat telah dilakukan pemeriksaan
namun belum diterbitkan SKP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50 persen (lima puluh
persen) dari besarnya pajak yang kurang dibayar. Kemudian di dalam Pasal 8 ayat (3), diatur bahwa
setelah dilakukan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan penyidikan terkait Pasal 38 UU KUP, tidak akan
dilakukan penyidikan, dengan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 150 persen (seratus
lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar.

Mengenai Mekanisme voluntary disclosure tersebut, dilihat dari kacamata Wajib Pajak masih
belum bisa meningkatkan gairah untuk melakukan pengungkapan ketidakbenaran pajak jika terdapat
kesalahan disisi Pelaporan SPT. Pasalnya, Wajib Pajak merasa bahwa sanksi yang diberlakukan jika
melakukan pengungkapan ketidakbenaran pajak sama saja bahkan lebih besar dibandingkan dengan jika
Wajib Pajak menunggu saja untuk diperiksa oleh Pemeriksa. Bagi Wajib Pajak, jika WP melakukan
Pembetulan SPT sesuai Pasal 8 ayat (1) UU KUP, sanksi yang dikenakan adalah 2% (dua persen) perbulan,
jumlah tersebut sama saja dengan jika dilakukan pemeriksaan. Kemudian jika dilihat dari Pasal 8 ayat (4)
UU KUP, jika WP melakukan pengungkapan ketidakbenaran pajak, maka sanksinya menjadi 50% dari
besarnya pajak yang kurang dibayar. Sanksi ini lebih besar daripada WP menunggu saja diperiksa oleh
Pemeriksa. Jika dilakukan pemeriksaan, sanksi yang didapatkan adalah 2% perbulan dan maksimal 24
bulan sehingga maksimal sanksi adalah 48% (empat puluh delapan persen). Hal ini dianggap aneh oleh
Wajib Pajak karena etika nya adalah jika seseorang mengakui kesalahannya, hal itu merupakan
perbuatan baik. Tetapi mengapa malah mendapatkan sanksi yang lebih besar daripada diam saja dan
menunggu diperiksa. Namu berbeda dengan kedua pasal tersebut, menurut Wajib Pajak mekanisme
pengungkapan ketidakbenaran pajak pada pasal 8 ayat (3) UU KUP dianggap lebih menguntungkan,
karena jika WP tidak melakukan pengungkapan ketidakbenaran pajak maka akan dilakukan penyidikan
sesuai Pasal 38 UU KUP yang nantinya sanksi nya akan menjadi paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak
terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak
atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu)
tahun. Menurut Wajib Pajak, dengan sanksi nya menjadi 150% (seratus lima puluh persen) dianggap ada
kepastian hukum.

Agar seimbang dalam memandang Mekanisme voluntary disclosure ini, maka harus dianalisis
juga dari kacamata Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Menurut pihak DJP, para perumus UU KUP memiliki
tujuan tersendiri dari dibuatnya mekanisme seperti dalam ketiga ayat tersebut. Merujuk pada Pasal 8
ayat (1) UU KUP, mengapa dibuat sanksi yang sama dengan jika dilakukan Pemeriksaan adalah karena
DJP menginginkan Wajib Pajak untuk bisa patuh dan jujur dari awal pelaporan SPT. Sehingga WP
tergerak untuk melaporkan SPT nya dengan benar, jelas dan lengkap sejak awal. Kemudian jika ditinjau
dalam Pasal 8 ayat (4) UU KUP, memang tidak dapat ditentukan sudah ideal atau tidaknya, karena
menguntungkan atau tidaknya pasal ini bagi Wajib Pajak, hanya dapat dilihat dari case-by-case.
Selanjutnya, menurut DJP untuk Pasal 8 ayat (3), ketentuan tersebut sudah ideal dan dapat
menggairahkan semangat Wajib Pajak untuk melakukan mekanisme pengungkapan ketidakbenaran.

Referensi penerapan voluntary disclosure yang dapat diterapkan di Indonesia adalah penerapan
voluntary disclosure versi Australia. Menurut Australian Taxation Office (ATO), "If you make a voluntary
disclosure you can generally expect a reduction in the administrative penalties and interest charges that
would normally apply." Menurut ATO, jika Wajib Pajak melakukan voluntary disclosure Setelah dilakukan
pemberitahuan akan dilakukan pemeriksaan pajak, maka akan diberikan pengurangan sanksi 20%.
Bahkan jika lebih awal melakukan pengungkapan ketidakbenaran tersebut, maka pengurangan sanksi
nya bisa sampai 80%.

Salah satu gebrakan Presiden Joko Widodo adalah dengan direncanakannya Omnibus Law,
bersyukurnya, di dalam Omnibus Law ini dijelaskan mengenai skema voluntary disclosure yang akan
diterapkan di Indonesia. Untuk penerapan pembetulan SPT, sanksi yang diterapkan akan lebih rendah
daripada dilakukan pemeriksaan. Sedangkan jika melakukan pengungkapan ketidakbenaran pajak
setelah dilakukan pemeriksaan, maka tidak akan dikenakan sanksi 50%, melainkan bunga yang fluktuatif
dimana bunga tersebut lebih besar daripada pembetulan SPT tetapi tidak akan lebih besar dari SKP.