Anda di halaman 1dari 7

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya kemudahan sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan
sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat
nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa
sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah
sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Struktur Beton II mengenai “Pelat” yang di ambil dari beberapa
jurnal dalam kurun waktu lima tahun.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.
Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-
besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Cirebon, Juni 2019

Penulis
BAB 1

PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Beton bertulang adalah bahan konstruksi yang sangat penting. Beton bertulang digunakan
dalam berbagai bentuk untuk hampir semua struktur. Dengan desain tertentu beton bertulang akan
mampu memikul beban sesuai dengan perencanaan. Sukses beton bertulang sebagai bahan
konstruksi yang universal dapat dipahami jika dilihat dari segala kelebihan yang dimiliki oleh
beton itu sendiri. Beton juga memiliki kekurangan yang dapat menyebabkan kerusakan pada
struktur beton yang akan mengakibatkan kekuatan dan daya dukung beton berkurang Jika suatu
struktur memikul beban yang berlebihan atau tidak sesuai dengan perencanaan, maka struktur
tersebut akan mengalami lendutan melebihi kemampuan struktur dan akan mengakibatkan
terjadinya retak/ patahan pada struktur tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode
perbaikan bahan dan perkuatan guna mengembalikan kekuatan struktur. Perkuatan beton
dilakukan pada struktur bangunan yang mengalami kegagalan struktur < 50%, dengan kata lain
struktur bangunan yang diberi perkuatan adalah bangunan yang masih berfungsi 70%-nya.
Perkuatan balok dilakukan dengan memberikan perkuatan pelat baja pada balok beton bertulang.
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkuatan suatu balok dengan menggunakan
pelat baja dan tanpa menggunakan pelat baja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
berapa besar peningkatan kuat lentur pada balok beton bertulang dengan menggunakan pelat baja
dibandingkan dengan balok tanpa menggunakan pelat baja.

2. Rumusan Masalah
3. Tujuan pembuatan makalah
BAB 2

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
2.1.1. Pelat Lantai
Pelat lantai merupakan suatu struktur solid tiga dimensi dengan bidang permukaan
yang lurus, datar dan tebalnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan dimensinya yang lain.
Struktur pelat bisa saja dimodelkan dengan elemen 3 dimensi yang mempunyai tebal h,
panjang b, dan lebar a. Adapun fungsi dari pelat lantai adalah untuk menerima beban yang
akan disalurkan ke struktur lainnya. Pada pelat lantai merupakan beton bertulang yang
diberi tulangan baja dengan posisi melintang dan memanjang yang diikat menggunakan
kawat bendrat, serta tidak menempel pada permukaan pelat baik bagian bawah maupun
atas. Adapun ukuran diameter, jarak antar tulangan, posisi tulangan tambahan bergantung
pada bentuk pelat, kemampuan yang diinginkan untuk pelat menerima lendutan yang
diijinkan. Untuk merencanakan pelat beton bertulang yang perlu dipertimbangkan tidak
hanya pembebanan saja, tetapi juga jenis perletakan dan jenis penghubung di tempat
tumpuan. Kekakuan hubungan antara pelat dan tumpuan akan menentukan besar momen
lentur yang terjadi pada pelat.

2.1.2. Pelat satu arah (One way slab)


Pelat dengan tulangan pokok satu arah ini akan dijumpai jika pelat beton lebih
dominan menahan beban yang berupa momen lentur pada bentang satu arah saja.Contoh
pelat satu arah adalah pelat kantilever (luifel) dan pelat yang ditumpu oleh 2 tumpuan.
Karena momen lentur hanya bekerja pada 1 arah saja, yaitu searah bentang L (lihat gambar
di bawah), maka tulangan pokok juga dipasang 1 arah yang searah bentang L tersebut.
Untuk menjaga agar kedudukan tulangan pokok (pada saat pengecoran beton) tidak
berubah dari tempat semula maka dipasang pula tulangan tambahan yang arahnya tegak
lurus tulangan pokok. Tulangan tambahan ini lazim disebut : tulangan bagi. Kedudukan
tulangan pokok dan tulangan bagi selalu bersilangan tegak lurus, tulangan pokok dipasang
dekat dengan tepi luar beton, sedangkan tulangan bagi dipasang di bagian dalamnya dan
menempel pada tulangan pokok. Tepat pada lokasi persilangan tersebut, kedua tulangan
diikat kuat dengan kawat pengikat. Fungsi tulangan bagi, selain memperkuat kedudukan
tulangan pokok, juga sebagai tulangan untuk penahan retak beton akibat susut dan
perbedaan suhu beton. Pembebanan yamg terjadi didasarkan pada SNI 1727:2013.
Perencanaan pelat satu arah disesuaikan dengan SNI 2847:2013.

2.2. Material Plat Lantai MPanel


MATERIAL PELAT LANTAI MPANEL Material M-PANEL adalah salah satu dari
inovasi teknologi dalam dunia konstruksi. Material ini bersifat ringan tetapi tetap kokoh, tidak
merambatkan api, dan kedap suara. Pada dasarnya material tersebut mempunyai fungsi struktur
sehingga dapat mengurangi struktur konvensional yang digunakan pada bangunan tersebut.
Material M-PANEL telah memenuhi fungsi struktural, yaitu: daya tahan terhadap suhu, anti
kebisingan, daya tahan beban, dan tersedia beragam jenis bentuk model dan ukuran dalam
penentuan desain pada pembuatan beberapa jenis pekerjaan salah satunya pelat lantai. M-
PANEL memiliki berbagai macam tipe dan model panel yang dapat digunakan untuk berbagai
macam pekerjaan pada setiap jenis bangunan. Berikut ini beberapa jenis panel:
 Single Panel (PSM)
 Double Panel
 Floor Panel (PSSG2)
 Staircase Panel
 Landing Panel
M-PANEL terdiri dari jaring kawat baja (wiremesh) dan komponen polyfoam (extended
polystrene stereofoam).
1) Jaring kawat baja (wiremesh) terbuat dari kawat baja yang di galvanis dan diletakkan di
kedua sisi panel polyfoam serta saling terhubung satu dengan yang lainnya.
2) Polyfoam pada M-PANEL terletak di bagian tengah. Material polyfoam yang digunakan
merupakan polyfoam yang bersifat fire retandant (tidak menjalarkan api), tidak beracun,
dan tidak mengandung bahan kimia aktif.
Terdapat beberapa keunggulan yang dimiliki M-PANEL,yaitu :
 Hemat energi dan ramah lingkungan
 Tahan api
 Ringan namun kokoh
 Hemat biaya dan cepat
 Kedap suara
 Tahan gempa
 Mudah di desain dan serbaguna
2.3. Material Plat Lantai Beton Bertulang
Beton bertulang merupakan suatu kombinasi antara beton dan baja tulangan yang
berfungsi menahan kuat tarik yang tidak dimiliki oleh beton tersebut. 3 Komponen atau bahan
utama dari beton bertulang yaitu :
1) Agregat
2) Air
3) Semen
4) Bahan Campuran (admixture)
Campuran admixture dipakai agar sifat beton jauh lebih baik, adapun kegunaannya
diantaranya adalah :
 Meninggikan kelayanan beton tanpa menambahkan kadar air;
 Mempercepat perkembangan beton pada usia muda;
 Meninggikan daya tahan beton terhadap kemunduran mutu akibat siklus dari
pembekuan-pencairan;
 Meninggikan kekuatan.
Beton bertulang memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
 Memiliki kuat tekan yang relatif tinggi.
 Ketahanan yang relatif tinggi terhadap air dan api.
 Bahan yang digunakan sebagian besar dari bahan yang didatangkan dari daerah.
 Mempunyai struktur yang kuat dan kokoh.
 Memiliki usia yang panjang.
 Tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi.
 Merupakan bahan yang ekonomis, dll.
2.4. Biaya Proyek Pemasangan Pelat Lantai
Tingkat kehematan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan
sangat penting untuk efisiensi biaya. Efisiensi terbagi menjadi dua, yaitu :
1) Efisiensi biaya adalah tingkat kehematan serta pengorbanan ekonomi yang
dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
2) Efisiensi waktu adalah tingkat kehematan dalam hal waktu saat pelaksanaan
sampai proyek selesai.
Biaya yang ada pada proyek dibagi dalam dua kelompok, yaitu biaya langsung dan biaya
tidak langsung. Biaya langsung adalah seluruh biaya yang berkaitan langsung dengan fisik
proyek,yaitu seluruh biaya dari kegiatan yang dilakukan di proyek dan biaya menggunakan
sumber daya yang berkaitan dengan proyek. Sedangkan biaya tidak langsung adalah seluruh
biaya yang berkaitan dengan barang non fisik yang dibebankan proyek. Adapun rincian dari
biaya langsung ialah sebagai berikut:
1) Biaya Material
2) Biaya Tenaga Kerja

2.5. Kontrol Dimensi Pelat Dasar


Pelat dasar yang ukurannya dimisalkan di awal harus dikontrol apakah mampu menahan beban
yang bekerja pada pelat tersebut. Untuk mengontrol hal tersebut digunakan persamaan
berikut:

2.6. Menghitung Tebal Minimum Pelat Dasar


2.7. Efek Pray pada Pelat Dasar
BAB 3

PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran