Anda di halaman 1dari 5

DAFTAR HADIR PERTEMUAN RAPAT

Hari : Sabtu
Tanggal : 30 Juni 2018
Pukul : 11.00 Wita
Tempat : Gudang Farmasi
Acara : Rapat Penentuan Indikator Mutu

No Nama Jabatan TT Ket


HASIL RAPAT

Indikator Mutu
Indikator mutu klinis adalah pengukuran managemen klinis dan/atau luaran pelayanan
(Collopy, 2000) dan diwujudkan dalam angka (Takaki et al. 2013). Indikator mutu selalu
merupakan pengukuran kuantitatif atau semi kuantitatif yang memiliki numerator
(pembilang) dan denominator (penyebut/pembagi). Umumnya denominator adalah populasi
tertentu dan numerator adalah kelompok dalam populasi yang memiliki karakteristik tertentu.
Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) di Amerika Serikat mempublikasikan
empat kelompok indikator mutu, yaitu: prevention quality indicator, inpatient quality
indicator, patient safety indicator dan pediatric quality indicator. Sementara itu Joint
Commission International (JCI) juga menerbitkan International Hospital Inpatient Quality
Measures yang terdiri dari sepuluh kelompok indikator klinis.
Di Indonesia penetapan indikator dipandu dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. Dalam lampiran
Permenkes tersebut, diatur 21 jenis pelayanan dan 107 indikator yang telah ditetapkan standar
minimalnya dengan nilai tertentu. Kementrian Kesehatan menetapkan standar ini menjadi
tolak ukur pelayanan rumah sakit badan layanan umum daerah.
Tabel 1. Dimensi Mutu (World Health Organization, 2006)
Dimensi Mutu Maksud Dimensi Mutu
Efektif/Effective Pelayanan kesehatan yang erat pada basis bukti dan berhasil dalam
meningkatkan luaran kesehatan individu atau komunitas berdasarkan
kebutuhan.
Efisiensi/Efficient Pelayanan kesehatan yang memaksimalkan sumber daya dan menghindari
pemborosan.
Mudah Pelayanan kesehatan yang tepat waktu, wajar secara geografis dan
diakses/Accessible disediaakan dalam kerangka yang tepat dari sisi keterampilan dan sumber
daya untuk memenuhi kebutuhan.
Diterima/Accepted Pelayanan kesehatan yang mempertimbangkan pilihan dan aspirasi individu
(Patient-centered) pengguna layanan dan budaya komunitasnya.
Tidak Pelayanan kesehatan yang tidak berbeda dalam kualitas karena karakteristik
berpihak/Equity personal seperti gender, ras, etnis, lokasi geografis dan status sosio
ekonomi.
Aman/Safe Pelayanan kesehatan yang meminimalisasi resiko dan harm.

Terlepas dari beberapa nilai standar dalam SPM tersebut yang tidak dapat dilampaui,
acuan tersebut memberikan sistematika yang baik dalam membuat indikator. Setiap indikator
dijelaskan dengan beberapa aspek seperti judul indikator, definisi operasional, tujuan,
dimensi mutu, numerator, denominator, frekuensi pengukuran, sumber data dan penanggung
jawab pengumpulan data.
Pengukuran dapat dilakukan bila mengetahui apa yang diukur. Dengan demikian,
judul dan definisi operasional indikator telah jelas. Definisi operasional yang dimaksud di
sini termasuk definisi operasional numerator dan denominator. Dimensi mutu sesuai
permenkes mengacu pada dimensi mutu World Health Organization (WHO) yaitu: efektif,
efisien, mudah diakses, diterima/berpusat pada pasien, tidak berpihak dan aman (WHO,
2006).

Merancang Pengumpulan Data Indikator


Mengumpulkan data adalah proses yang mungkin paling melelahkan dalam
petualangan menguak mutu pelayanan lewat indikator mutu pelayanan. Salah satu
penyebabnya adalah pengumpulan data kurang dipertimbangkan secara matang ketika
indikator mutu disusun. Cara pengumpulan data berkaitan erat dengan tujuan indikator dan
aspek-aspek lain dalam indikator. Di dalam rapat ini didapatkan dua indikator yang sudah
ditetapkan yaitu :
1. Indikator Mutu Nasional, meliputi :
a. Kepatuhan Penggunaan Fornas BPJS
b. Kepatuhan Penggunaan Formularium RS.
2. Indikator Mutu Rumah Sakit, meliputi :
a. Waktu Tunggu Pelayanan Obat Jadi
b. Waktu Tunggu Pelayanan Obat Racikan
c. Tidak Adanya Kejadian Kesalahan Pemberian Obat
d. Persentase Kesesuaian Pelabelan Dispensing Obat High Alert (HA) dan LASA
e. Kepatuhan Penyimpanan Obat HA.

NOTULEN RAPAT

Pokok Bahasan : Penentuan Indikator Mutu


Pimpinan Rapat : Ka.Ur. Instalasi Farmasi
Peserta Rapat : Terlampir di Daftar Hadir
Hari : Sabtu, 30 Juni 2018
Tempat : Gudang Farmasi
Kesimpulan :
Dari rapat Penentuan Indikator Mutu yang sudah dilakukan, didapatkan kesimpulan
mengenai penentuan indikator mutu yang akan digunakan oleh Rumah Sakit yaitu sebagai
berikut :
1. Indikator Mutu Nasional, meliputi :
a. Kepatuhan Penggunaan Fornas BPJS
b. Kepatuhan Penggunaan Formularium RS.
2. Indikator Mutu Rumah Sakit, meliputi :
a. Waktu Tunggu Pelayanan Obat Jadi
b. Waktu Tunggu Pelayanan Obat Racikan
c. Tidak Adanya Kejadian Kesalahan Pemberian Obat
d. Persentase Kesesuaian Pelabelan Dispensing Obat High Alert (HA) dan LASA
e. Kepatuhan Penyimpanan Obat HA.

Denpasar
Ka.Ur. Instalasi Farmasi

(XXX)