Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

PREPARAT APUS DARAH

Disusun guna memenuhi tugas laporan praktikum mikroteknik

Dosen pengampu :

Dr.dr.NugrahaningsihWH,M.Kes

Disusun oleh :

ABDUL KARIM BUDI SULISTIYO

04025051022

JURUSAN IPA KONSENTRASI BIOLOGI

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2016
PREPARAT APUS DARAH

A. TUJUAN
1. Untuk membuat preparat preparat apus darah dengan metode apus dan pewarnaan
metode Romanowski
2. Untuk menganalisis preparat apus darah dengan melihat bentuk maupun struktur
dari sel darah manusia, katak, lele, ayam

B. DASAR TEORI
Preparat apus darah merupakan preparat permanen, yaitu preparat yang
keawetannya bertahun-tahun. Preparat permanen ini proses pembuatannya cukup sukar,
memerlukan berbagai macam zat kimia, perlu perencanaan yang matang dan ketelitian.
Tujuan pembuatan preparat permanen adalah untuk menyediakan obyek yang
bersangkutan selalu tersedia pada setiap waktu diperlukan secara umum, prosedur
pembuatan preparat permanen melalui tahapan: fiksasi, pencucian, dehidrasi dengan
disisipi staining, dealkoholisasi/clearing, mounting atau penutupan dan labeling
(Rudyatmi, 2014).
Preparat apus atau smear adalah preparat yang proses pembuatannnya dengan
metode apus atau smear, yaitu dengan cara mengapuskan atau membuat lapisan tipis
atau film suatu bahan yang berupa cairan atau bukan cairan diatas gelas benda yang
bersih dan bebas lemak. Selanjutnya melakukan fiksasi, mewarnai, dan menutupnya
dengan gelas penutup untuk diamati dibawah mikroskop. Preparat apus darah adalah
untuk mempelajari struktur eritrosit, leukosit, dan trombosit.
Pada pembuatan preparat apus darah menggunakan zat warna giemsa atau
disebut juga pewarnaan Romanowski. Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi
hitam yang terbentuk dari penambahan larutan methylene blue dan eosin yang
dilarutkan di dalam methanol. Pewarnaan giemsa digunakan untuk membedakan inti sel
dan morfologi sitoplasma dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan
trombosit.
Darah adalah salah satu jaringan ikat yang mempunyai fungsi sebagai
penghubung (alat transport) yang sel-selnya tertahan dan dibawa dalam matriks cairan
(plasma). Darah lebih berat dibandingkan air dan lebih kental pula. Cairan ini emiliki
pH 7,35 sampai 7,45. Warna darah bervariasi dari merah sampai merah tua kebiruan,
tergantung pada kadar oksigen yang dibawa sel darah merah itu sendiri (Subowo,
1992).
Lebih dari separuh bagian dari darah merupakan cairan (plasma), yang sebagian
besar mengandung garam-garam terlarut dan protein. Protein utama dalam plasma
darah adalah albumin. Protein lainnya adalah antibody (imunoglobin) dan protein
pembekuan.
Pada dasarnya, darah mempunyai 3 fungsi utama, yaitu membantu
pengangkutan zat-zat makanan, perlindungan atau proteksi dari benda asing dan
mengatur regulasi kandungan air jaringan, pengaturan suhu tubuh dan pengaturan pH
(Subowo, 1992).
1. Sel darah merah (Eritrosit)
Eritrosit berbentuk diskus bikonkaf, yaitu bulat dengan lekukan pada
sentralnya dan berdiameter 7,65 mikrometer. Eritrosit merupakan sel yang
paling banyak dibandingkan dengan sel lainnya. Eritrosit mengandung
hemoglobin, yang berfungsi untuk mengikat sel darah merah dan membawa
oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh.
2. Sel darah putih (leukosit)
Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih
untuk setiap 660 sel darah merah. Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih
yang bekerjasama untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan
infeksi, termasuk menghasilkan antinodi. Dibedakan berdasarkan ada tidaknya
granula terbagi atas granulosit (Neutrofil, Eusinofil, dan basofil) dan agranulosit
(limfosit dan monosit).
a) Granulosit
1. Neutrofil
Neutrofil berfungsi membantu melindungi tubuh melawan
infeksi balteri, jamur ataupun mikroorganisme berbahaya yang masuk
ke dalam tubuh. Selain itu juga berperan dalam mencerna atau
memfagositosis benda asing sisa-sisa peradangan. Ada dua jenis
neutrofil yaitu neutrofil berbentuk pita dan bersegmen. Neutrofil
meiliki 3-5 lobus yang terhubungkan dnegan benang-benang kromatin
tipis.
2. Eusinofil
Eusinofil meiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar. Sel
ini memiliki inti yang berlobus dua dan berdiamater 12-15 mikrometer.
Berfungsi sebagai fagositosik lemak. Jmlahnya akan meningkat ssaat
terjadi alergi atau penyakit parasit, tetapi akan berkurang selama stress
berkepanjangan.
3. Basofil
Basofil memiliki sejumlah sitoplasma besar dan bentuknya tidak
beraturan.
b) Agranulosit
1. Limfosit
Mempunyai ukuran yang lebih kecil daripada makrofag dan
neutrofil. Memiliki inti yang relative besar, bulat sedikit cekung pada
satu sisi..
2. Monosit
Merupakan sel leukosit yang relative besar 3-8% dari jumlah
leukosit normal, diamternya 9-10 mikrometer. Inti biasanya eksentris,
adanya lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda.
3. Trombosit
Merupakan partikel yang relative menyerupai sel, dengan
ukuran lebih kecil daripada eritrosit ata pun leukosit. Berperan dalam
proses pemebekuan darah setelah terjadi luka. Trombosit berkumpul
pada daerah yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktifan.
Selanjutnya, trombosit akan melekat satu sama lain dan menggumpal
untuk membentuk filament atau fibril-fibril penutup luka.

C. ALAT DAN BAHAN


1) Objek glass
2) Darah manusia, darah katak, darah lele, darah ayam
3) Mikroskop Binokuler
4) Alkohol 70%
5) Tisue
6) Gimsa
7) Etanol
8) Jarum franke

D. CARA KERJA
1) Menyiapkan ujung jari kiri bagian tengah atau manis dengan dikipas kipaskan kea
rah kaki dan mengurutnya dengan tangan kanan ke arah ujung jari.
2) Menyeterilkan ujung jari dan jarum franke dengan Alkohol 70%.
3) Menyiapkan dua buah gelas benda yang bersih dan bebas lemak.
4) Menusuk ujung jari dengan jarum franked an keluarkan darah.
5) Mengusap tetesan pertama dengan kapas beralkohol
6) meneteskan darah ke dua pada sisi kanan gelas benda A dengan jarak 1 cm dari tepi.
7) Mengambil gelas benda B dan meletakan pada sisi pendek dengan kemiringan 45°
disebelah kiri tetesan darah.
8) Menarik gelas benda B kearah tetesan darah (ke kanan) sampai terjadi kapilaritas.
9) Mendorong gelas benda B kea rah kiri dengan kecepatan konstan, sehingga
terbentuk film darah yang tipis dan rata.
10) Kemudian film darah dikering anginkan pad arak pewarnaan.
11) Setelah film darah kering, difiksasi dengan meneteskan fiksatif metil alcohol
selama 5 menit dan di kering anginkan.
12) Mewarnai semua permukaan film darah dengan meneteskan zat warna
giemsa 3% selama 30-40 menit.
13) Kemudian film darah di cuci dengan meneteskan aquades dingin mulai dari
tetesan darah terlebih dahulu.
14) Meletakkan label identitas preparat pada ujung kanan gelas benda A dengan
posisi memanjang dan mengamati preparat dengan perbesaran kuat di bawah
mikroskop, foto dan analisis hasilnya.
E. HASIL PENGAMATAN
GB. SEL DARAH LELE
Ciri –ciri:
 Bentuk eritrosit oval
 Memiliki inti sehingga memiliki DNA
 Ukuran eritrosit 7 hingga 8 mikronmeter
 Dengan pewarnaan Giemsa inti berwarna ungu dan sitoplasma berwarna
ungu muda
 Jumlah eritrosit 1,75 juta permilimeterkubik darah

GB. SEL DARAH MANUSIA


Ciri-ciri :
 Bentuk eritrosit cakram bikonkaf
 Ukuran eritrosit 6 hingga 8 mikronmeter
 Dengan pewarnaan Giemsa sitoplasma berwarna ungu muda
 Jumlah eritrosit 4,5 hingga 5,5 juta permilimeter kubik darah
GB. SEL DARAH BUFO
Ciri-ciri :
 Bentuk eritrosit oval
 Memiliki inti sehingga memiliki DNA
 Ukuran eritrosit 20 mikronmeter
 Dengan pewarnaan Giemsa inti berwarna ungu dan sitoplasma ungu muda
 Jumlah eritrosit 2 juta permilimeter kubik darah

GB. SEL DARAH AYAM


Ciri-ciri :
 Bentuk eritrosit lonjong pipih
 Memiliki inti sehingga memiliki DNA
 Ukuran eritrosit 6,6 hingga 10,6 mikronmeter
 Dengan pewarnaan Giemsa inti berwarna ungu dan sitoplasma berwarna
ungu muda
 Jumlah eritrosit 3 juta permilimeter kubik darah
F. PEMBAHASAN
Pembuatan preparat apus darah ini, dilakukan dengan metode apus/smear/oles.
Sampel darah yang digunakan yaitu darah manusia. Berdasarkan hasil dan foto yang
didapatkan saat pengamatan di bawah mikroskop, preparat apus darah dengan
pewarnaan Giemsa ini terlihat cukup baik dan dapat terlihat adanya eritrosit dan
beberapa macam leukosit yang tampak menonjol dengan warna ungu. Jumlah eritrosit
tampak paling menonjol jika dibandingkan dengan leukosit.
Eritrosit yang tampak di mikroskop berwarna bening transparan dengan bentuk
bulat seperti cekungan (cakram) pada posisi dalam (tengah) dan tidak berinti,
sedangkan leukosit terlihat seperti sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna ungu
yang tampak pada leukosit tersebut disebabkan oleh inti leukosit yang bersifat basa
sehingga mudah menyerap zat warna Giemsa. Leukosit yang terlihat hanya beberapa
tidak terlihat keseluruhan macam dari eritrosit diantaranya eosinophil, limfosit dan
netrofil. Persentase netrofil memang paling banyak dalam darah, yaitu mencapai 50-
70% dari jumlah leukosit yang ada, sedangkan jumlah paling sedikit yaitu basophil
dengan jumlah persentase hanya 1% saja dari berbagai macam leukosit. Tetapi pada
pengamatan preparat apus darah ini yang terlihat paling menonojol yaitu limfosit
meskipun jumlah persentasenya hanya 20% di dalam darah. Entuk leukosit yang
lainseperti eosinophil dan netrofil hanya terlihat 1% saja seangkan monosit dan
basophil tidak terlihat mungkin karena masih terdapat film darah yang bertumpuk
tumpuk karena saat pembuatan film darah kurang tipis dan rata, preparat yang
dihasilkan tidak semuanya menampakkan hasil yang bagus, hal ini dapat disebabkan
oleh beberapa kesalahan :
1. Kesalahan prosedur yang dilakukan oleh praktikan pada saat pembuatan apusan
atau film darah, sehingga sel-selnya ada yang rusak karena tertekan.
2. Kurangya keterampilan praktikan dalam penggunaan mikroskop, sehingga dalam
pencahayaan dan pemfokusan kurang.
3. Banyaknya tetesan darah saat pembuatan film darah melebihi kapasitas, sehingga
tidak terjadi kapilaritas tetapi terjadi penumpukan lapisan darah.
4. Penempatan posisi gelas benda B tidak mencapai 45° pada ujung sisi pendeknya
sehingga gesekan film darah tidak berbuahmaximal.
Pada perbesaran 10 x 10 masih terlihat apusan darah yang bertumpukrapat dan
yang terlihat jelas hanya eritrosit dengan bentuk bikonkaf sedangkan struktur dan
macam-macam bentuk leukosit baru dapat teramati jelas pada perbesaran 40 x 10.
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sekitar 45-50 menit. Ditemukannya
leukosit dalam jumlah banyak pada preparat apus darah menunjukkan bahwa pendonor
sedang mengalami sakit berkaitan dengan fungsi leukosit sebagai bentuk pertahanan
tubuh manusia.
Pada pembuatan preparat apus darah ini menggunakan beberapa larutan,
diantaranya yaitu Alkohol 70% yang berfungsi untuk mensterilkan jari tengah dan
peralatan seperti jarum franked an gelas benda, metil alcohol berfungsi untuk fiksator
dalam proses fiksasi dan larutan Giemsa 3% berfungsi untuk melakukan pewarnaan
seluruh permukaan film darah. Maksud dari pembuangan tetesan darah pertama saat
pembuatan film darah yaitu agar darah tidak terkontaminasi dengan alcohol sewaktu
jari tengah dibersihkan dan tetesan kedua dan ketiga dianggap sudah steril dan baru
bisa diambil untuk dijadikan sample dan diamati bagian-bagian maupun morfologinya.

2
3

5
Apus darah manusia
Apus
Giemsa

Keterangan :
1. Limfosit
2. Sel darah merah
3. Netrofil
4. Plasma
5. Membrane sel

G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Preparat apus darah dapat dibuat dengan metode apus maupun metode
pewarnaan Romanowski.
Pewarnaan pada preparat apus darah ini menggunakan zat warna Giemsa 3%
yang berfungsi untuk membedakaneritrosit yang tidak terwarna Giemsa secara jelas
dengan leukosit yang berwarna kontras sehingga dapat dibedakan antara nucleus
dengan bagian sel yang lain.
Bentuk sel darah merah (eritrosit) berbentuk bulat bikonkaf dan tidak memiliki
inti sedangkan sel darah putih (leukosit) ukuranyya tampak lebih besar dengan bentuk
yang bermacam-macam, dengan dua jenis yaitu ada yang granulosit maupun
agranulosit. Leukosit memiliki inti. Pada preparat apus darah ini tampak kontras
dengan warna ungu dari zat warna Giemsa.

H. SARAN
1. Untuk menghapus darah atau saat pembuatan film darah harus dilakukan setipis
mungkin sehingga preparat tidak terlalu rapat atu bertumpuk.
2. Untuk pewarnaan Giemsa pastikan zat warna terlihat belum rusak atau
terkontaminasisehingga hasil pewarnaa baik.
3. Dalam proses pembuatan preparat harus dilakukan secara sistematis berdasarkan
prosedur dan dibutuhkan ketelitian maupun keterampilan yang baik.
I. DAFTAR PUSTAKA
Darah Manusia. 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Blood_smear.jpg
(Diakses pada tanggal 3 November 2014)
Marianti, Aditya.2014. Petunjuk Praktikum fisiologi Hewan. Semarang : Biologi
FMIPA UNNES.
Rudyatmi,Eli. 2014. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA
UNNES.
Subowo. 1992. Histologi umum. Jakarta: PT.Bumi Aksara.