Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AGAMA ISLAM

ARTI AGAMA ISLAM DAN RUANG


LINGKUP AJARAN AGAMA ISLAM

DOSEN PENGAJAR : TITIN WIDYA RISNI, M.Pd.I

DISUSUN OLEH : Sugeng Prayitno


NIM : 19513766
JURUSAN : TEKNIK SIPIL SORE 2019
MATKUL : AGAMA ISLAM

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KADIRI 2019-2020
i
KATA PENGANTAR

Asslamualaikum wr, wb

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat tuhan yang maha kuasa dimana berkat limpahan taufik dan hidayahnya
kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “AGAMA ISLAM” Tak lupa pula kami ucapkan
shalawat serta salam kepada nabi besar muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan yang baik bagi
umatnya sehingga dapat membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju alam yang terang-benerang seperti saat
ini.

Ucapan terimakasih kami haturkan kepada pihak-pihak terkait yang memiliki peran dalam upaya penyelesaikan
makalah ini, dalam hal ini adalah teman-teman kelompok yang turut bahu-membahu dalam penyelesaian
makalah ini. Ucapan terimakasih tak lupa kami haturkan pula kepada dosen pembibing yang telah meluangkan
waktunya untuk membimbing kami baik mulai dalam proses pembuatan sampai hasil akhir dari makalah kami.
Secara garis besar makalah kami yang berjudul AGAMA ISLAM memiliki tiga sub pokok bahasan yaitu
pengertian agama islam dan ruang ringkupnya, struktur agama islam, dan nisbah antara aqidah, syariah, dan
akhlak.

Kami menyadari bahwa baik mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir makalah kami masih sangatlah
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangatlah kami harapkan. Agar
kedepannya makalah kami menjadi lebih baik lagi. Kami juga sangat mengharapkan makalah kami dapat
berguna bagi diri kami sendiri dan masyarakat luas.
Akhir kata kami mengucapkan wabillahi taufik walhidayah wassalamu alaikum wr.

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................................................. I
Daftar Isi....................................................................................................................................... II

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................... 1
A. Latar belakang............................................................................................................... 2
B. Rumusan masalah.......................................................................................................... ` 2
C. Tujuan ........................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN (LANDASAN TEORI)


A. Pengertian Agama Islam................................................................................................ 3
B. Ruang Lingkup Ajaran Agama Islam............................................................................ 4
C. hubungan antara Aqidah, Ibadah, Muamalah dan akhlak ?..................,,,,,,,,,,,,,,........... 6
D. Fungsi, Tujuan dan Cita-Cita Islam,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

BAB III PENUTUP..................................................................................................................... 7


A. Kesimpulan.................................................................................................................... 7
B. Saran.............................................................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................. 7

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Agama islam merupakan agama allah yang berasal dari allah dan milik allah. Yang diamanatkan
kepada umat pengikut utusan allah. sehingga sejak zaman nabi adam, nabi musa, nabi isa agama allah adalah
agama islam. Meskipun sekarang agama yahudi diklaim sebagai agama yang dibawah oleh musa, begitu juga
dengan ajaran kristen yang diklaim sebagai ajaran yang dibawah oleh nabi isa.
Seiring dengan kemajuan teknologi banyak hal yang sangat tidak pantas untuk kita yakini. Banyak masyarakat
luar yang mengaku dirinya adalah seorang nabi dan mengaku membawa kitab yang terakhir, padahal telah
dijelaskan bahwa agama islam adalah agama yang terakhir dan tidak ada lagi rosul yang diutus oleh allah, nabi
muhammad Saw adalah nabi yang terakhir. Hal inilah yang menjadi latar belakang kami mengangkat judul
makalah kami yaitu ”Agama Islam” dimana dalam pembahasannya kami memaparkan sebahagian besar
mengenai agama islam, ruang lingkupnya, karakteristik, dan struktur dalam agama islam. Serta keterkaitan
antara aqidah, syariah dan akhlak.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami angkat yaitu :
1. Pengertian agama islam?
2. Ruang lingkup ajaran agama islam?
3. Struktur agama islam?
4. Nisbah antara aqidah, syariah, dan akhlak?

C. Tujuan

Agama islam memiliki tiga hal pokok yang tidak dapat dijauhkan dari para penganut agama islam
yaitu aqidah, syariah, dan akhlak. dimana ketiga hal pokok ini dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan.
Banyak masyarakat yang keliru tentang pemahaman agama islam dan ruang lingkupnya terutama mengenai
tiga hal pokok tersebut. Sebagian besar seseorang melakukan perbuatan baik tetapi tidak dilandasi oleh aqidah
atau keimanan maka orang itu termasuk kedalam kategori kafir, seseorang yang mengaku beraqidah atau
beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syariah, maka itu disebut fasik. Dan orang yang mengaku beriman dan
melaksanakan syariah tetapi dengan landasan aqidah yang tidak lurus disebut munafik.
Oleh karena itu kami mengharapkan dengan adanya pembahasan dari makalah kami dapat memberikan
pemahaman agar kita tidak tergolong dalam ketiga hal tersebut yang dapat merusak dan menjerumuskan kita
kejalan yang buruk, dan semoga makalah yang kami buat dapat memberikan manfaat kepada kita semua
terutama untuk diri kami sendiri.

2
BAB 2 PEMBAHASAN
AGAMA ISLAM (LANDASAN TEORI)

A. Pengertian Agama Islam dan Ruang Lingkup Ajarannya


1. Pengertian Agama Islam
Apabila dicari asal katanya, islam berasal dari kata asalama yang merupakan turunan dari kata
assalmu, assalamu, assalamatu yang artinya bersih dan selamat dari kecacatan lahir batin. Dari asal kata ini
dapat diartikan bahwa dalam islam terkandung makna suci, bersih tanpa cacat atau sempurna. Kata islam juga
dapat diambil dari kata assilmu dan assalmu yang berarti perdamaian dan keamanan. Karena itu kata assalamu
‘alaikum merupakan tanda kecintaan seorang muslim kepada orang lain, karena itu ia selalu menebarkan doa
dan kedamaian kepada sesama. Dan dari kata assalamu, assalmu dan assilmu yang berarti menyerahkan diri,
tunduk dan taat. Jadi islam mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh , dan taat kepada allah itu melahirkan
keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungannya.
Pengertian islam secara terminologis (istilah) Islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-
ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui seorang rasul. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Islam
merupakan ajaran manusia mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Islam merupakan ajaran yang
lengkap , menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah
maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
Islam juga berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan allah, manusia dengan manusia, dan
manusia dengan alam semesta. Agama yang diturunkan allah ke muka bumi sejak nabi adam sampai nabi
muhammad saw adalah agama islam sebagaimana diungkapkan oleh al-qur’an
(ali imran, 3:19) yang artinya
“ sesungguhnya agama disisi allah adalah agama islam”
Dengan demikian Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-rasul-Nya untuk diajarkankan
kepada manusia. Dibawa secara berantai (estafet) dari satu generasi ke generasi selanjutnya dari satu angkatan
ke angkatan berikutnya. Islam adalah rahmat, hidayat, dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manifestasi
dari sifat rahman dan rahim Allah swt.
Berdasarkan dari surat Al-Asr di ada 5 (lima) komitmen atau kerikatan seorang muslim dan muslimat terhadap
Islam. Komitmen tersebut adalah :
1) Meyakini, mengimani kebenaran agama Islam seyakin-yakinnya.
2) Mempelajari, mengilmui ajaran Islam secara baik dan benar.
3) Mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
4) Mendakwahkan, menyebarkan ajaran Islam secara bijaksana disertai argumentasi yang meyakinkan
dengan bahasa yang baik.
5) Sabar dalam berIslam, dalam meyakini mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan agama Islam.
a. Karakteristik Agama Islam
Memahami karakteristik Islam sangat penting bagi setiap muslim, karena akan dapat menghasilkan pemahaman
Islam yang komprehen- sif. Beberapa karakteristik agama Islam, yakni antara lain :
1) Rabbaniyah
2) Insaniyah ’Alamiyah (humanisme yang bersifat universal)
3) Syamil Mutakamil (Integral menyeluruh dan sempurna).
4) Al-Basathah (elastis, fleksibel, mudah)
5) Al-’Adalah (keadilan)

3
6) Keseimbangan (equilibrium, balans, moderat)
7) Perpaduan antara Keteguhan Prinsip dan Fleksibilitas
8) Graduasi (berangsur-angsur/bertahap)
9) Argumentatif Filosofis

b. Fungsi, Tujuan dan Cita-Cita Islam

Terlaksananya tujuan hidup manusia merupakan perwujudan diberlakukan nya fungsi-fungsi


Islam dalam kehidupan manusida dan masyarakat yang beriman dan bertakwa. Oleh karena itu untuk
memahami fungsi-fungsi atau kedudukan Islam dalam kehidupan, berikut ini penjelasannya :
Islam Sebagai Agama Allah Fungsi Islam sebagai agama Allah dinyatakan dalam predikatnya yaitu dienul haq
(agama yang benar), dimana kehadiran dan kebenaran agama Islam nyata sepanjang zaman. Islam juga
dinyatakan sebagai dinul khalis yang berarti kesucian dan kemurnian serta keaslian Islam terjaga sepanjang
masa.

Islam sebagai Panggilan Allah. Allah memanggil orang yang beriman dan bertakwa kepada Islam
dengan mengutus Rasul-Nya membawa Islam agar supaya disampaikan dan diajarkan kepada manusia . Oleh
karena itu para rasul dan para pengikut nya yang setia hanya mengajak manusia kepada Islam.
Islam sebagai Rumah yang Dibangun oleh Allah.Allah menjadikan Islam sebagai ”rumah” yang disediakan bagi
hamba-Nya yang beriman dan bertakwa agar mereka hidup sebagai keluarga muslim. Dengan demikian Islam
merupakan wadah yang mempersatukan orang yang beriman dan bertakwa dalam melaksanakan dan
menegakkan agama Allah dalam kehidupan manusia dan masyarakat.

Islam Sebagai Jalan yang Lurus Orang yang beriman dan bertakwa yang memenuhi panggilan Allah
kepada Islam, tetap dalam Islam melaksanakan ajaran Islam, karena mereka tahu dan mengerti bahwa Islam itu
agama Allah. Merekalah yang sedang berjalan pada jalan Allah yaitu sirathal Mustaqim(jalan yang lurus).
Islam Sebagai Tali Allah Sebagai tali Allah, Islam merupakan pengikat yang mempersa- tukan orang yang
beriman dan bertakwa dalam melaksanakan dan menegakkan agama Allah.

Islam Sebagai Sibgah Allah. Sibgah atau celupan yaitu zat pewarna yang memberikan warna bagi
sesuatu yang dicelupkan. Dengan Islam, Allah bermaksud memberkan warna atau corak kepadapa manusia.
Untuk mendapatkan corak atau warna tersebut adalah dengan jihad, mengerahkan segala kemampuan nya dalam
melaksanakan agama Allah. Muslim yang tersibghah adalah Allah tetapkan sebagai saksi atas manusia dan yang
sadar akan identitasnya serta tahu akan harga dirinya sebagai hamba Allah yang beriman dan bertakwa.
Islam Sebagai Bendera Allah. Islam sebagai bendera Allah di bumi. Bendera tersebut mesti dikibarkan setinggi
tingginya, sehingga tampak berkibar menjulang tinggi di angkasa. Untuk mengibarkan atau menampakkan
Islam, Allah mengutus Rasul-Nya dengan Alquran dan Islam, sehingga dengan demikian kekafiran dan
kemusrikan akan dapat diatasi.

2. Ruang lingkup ajarannya


Agama islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw adalah islam yang terakhir diturunkan
allah kepada manusia. Karena itu tidak akan ada lagi rasul yang diutus kemuka bumi. Kesempurnaan ajaran
islam yang diturunkan kepada nabi muhammad sesuai dengan tingkat budaya manusia yang telah mencapai
puncaknya, sehingga islam akan sesuai dengan budaya manusia sampai sejarah manusia berakhir pada hari
kiamat nanti.
Agama islam berisi ajaran yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, maupun sebagai mahluk dunia.
Secara garis besar ruang lingkup agama islam menyangkut tiga hal pokok, yaitu:

4
1) Aspek keyakinan yang disebut aqidah, yaitu aspek kredial atau keimanan terhadap allah dan semua yang
difirmankan-Nya untuk diyakini.
2) Aspek norma atau hukum yang disebut syariah, yaitu aturan-aturan allah yang mengatur hubungan manusia
dengan allah, sesama manusia, dan dengan alam semesta.

slam bersumber kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman Salafush Shalih.
Sedangkan yang dimaksud Salafus Shalih adalah para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang
muslim berkewajiban untuk mengikuti (ittiba’) kepada manhaj (metode) Salafush Shalih ini. Adapun dalil-dalil
yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

A. Dalil-Dalil dari Al-Qur-an


Allah Azza wa Jalla berfirman:

‫سب‬ ُّ ‫اطي ُم ْست َ ِقي ًما فَاتَّبِعُوهُ ۖ َو ََل تَت َّ ِبعُوا ال‬
َ ‫سبُ َل فَتَفَ َّرقَ بِ ُك ْم َعن‬ ِ ‫ِوأ َ َّن َٰ َهذَا‬
ِ ‫ص َر‬ َّ ‫ي ِل ِه ۚ َٰذَ ِل ُك ْم َو‬
َ ِ َ‫صا ُكم بِ ِه لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
[Al-An’aam: 153]

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa jalan itu hanya satu,
sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid’ah. Hal
ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini
adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya
Radhiyallahu anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap muslim menempuhnya
dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah Azza wa Jalla.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada
seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu ini.[2]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

‫سبِي ِل ْال ُمؤْ ِمنِين‬


َ ‫سو َل ِمن بَ ْع ِد َما تَ َبيَّنَ لَهُ ْال ُهدَ َٰى َويَتَّبِ ْع َغي َْر‬
ُ ‫الر‬
َّ ‫ق‬ِ ِ‫يرا َِ َو َمن يُشَاق‬
ً ‫ص‬ِ ‫ت َم‬ ْ ُ‫نُ َو ِلِّ ِه َما ت ََولَّ َٰى َون‬
َ ‫ص ِل ِه َج َهنَّ َم ۖ َو‬
ْ ‫سا َء‬

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul (Muhammad) sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan
Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-
Nisaa’: 115]

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum mukminin sebagai sebab seseorang akan terjatuh ke
dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk Neraka Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa
mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah prinsip terbesar dalam Islam yang memiliki
konsekuensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum mukminin dan jalannya kaum mukminin
adalah jalannya para Shahabat Radhiyallahu anhum. Karena ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang
beriman kecuali para Shahabat, seperti firman Allah Azza wa Jalla:

ِ ُ ‫سو ُل ِب َما أ‬
َ‫نز َل ِإلَ ْي ِه ِمن َّربِِّ ِه َو ْال ُمؤْ ِمنُون‬ ُ ‫الر‬
َّ َ‫آ َمن‬

“Rasul (Muhammad) telah beriman kepada Al-Qur-an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian
pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah: 285]
5
Orang-orang mukmin ketika itu hanyalah para Shahabat Radhiyallahu anhum, tidak ada yang lain.

Ayat di atas menunjukkan bahwasanya mengikuti jalan para Shahabat dalam memahami syari’at adalah wajib
dan menyalahinya adalah kesesatan.[3]

Firman Allah Azza wa Jalla lainnya:

‫ار خَا ِلدِينَ فِي َها‬ُ ‫ت تَجْ ِري تَحْ تَ َها ْاْل َ ْن َه‬
ٍ ‫َّللاُ َع ْن ُه ْم َو َرضُوا َع ْنهُ َوأ َ َعدَّ لَ ُه ْم َجنَّا‬
َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬
ِ ‫ان َّر‬
ٍ ‫س‬َ ْ‫ار َوالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِح‬
ِ ‫ص‬ ِ ‫َوالسَّابِقُونَ ْاْل َ َّولُونَ ِمنَ ْال ُم َه‬
َ ‫اج ِرينَ َو ْاْلَن‬
ْ ْ َٰ
‫أبَدًا ۚ ذَلِكَ الفَ ْو ُز العَ ِظي ُم‬ َ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan
Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-
sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” [At-Taubah: 100]

Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Shahabat Radhiyallahu anhum adalah benar. Dan orang yang
mengikuti mereka akan mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan disediakan bagi mereka
Surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti maka
mereka akan mendapatkan hukuman dan tidak men-dapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla dan ini harus
diperhatikan. [4]

Firman Allah Azza wa Jalla :

ِ ‫اس ت َأ ْ ُم ُرونَ بِ ْال َم ْع ُر‬


‫وف َوتَ ْن َه ْونَ َع ِن ْال ُمنك َِر َوتُؤْ م‬ ْ ‫اّللِِ ُكنت ُ ْم َخي َْر أ ُ َّم ٍة أ ُ ْخ ِر َج‬
ِ َّ‫ت ِللن‬ ِ َّ ِ‫نُونَ ب‬

“Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat
ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali ‘Imran: 110]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menetapkan keutamaan bagi para Shahabat atas
sekalian umat-umat yang ada, dan hal ini menunjukkan keistiqamahan para Shahabat dalam setiap keadaan
karena mereka tidak menyimpang dari syari’at yang terang benderang, sehingga Allah Azza wa Jalla
mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap yang ma’ruf (baik) dan mencegah setiap kemungkaran.
Hal tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka (Shahabat) adalah hujjah atas orang-orang
setelah mereka sampai Allah Azza wa Jalla mewariskan bumi dan seisinya.[5]

B. Dalil-Dalil dari As-Sunnah


‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

َ ‫ لَي‬،(ٌ‫سبُ ٌل ) ُمتَفَ ِ ِّرقَة‬


‫ْس‬ ً ‫ط ْو‬
ُ ‫ َه ِذ ِه‬:َ‫ ث ُ َّم قَال‬،‫طا َع ْن َي ِم ْينِ ِه َو ِش َما ِل ِه‬ ُ ‫َط ُخ‬َّ ‫ َوخ‬،‫سبِ ْي ُل هللاِ ُم ْستَ ِق ْي ًما‬ ًّ ‫سلَّ َم خ‬
َ ‫ َهذَا‬:َ‫َطا بِيَ ِد ِه ث ُ َّم قَال‬ َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬َّ ‫صلَّى‬ َّ ‫خ‬
ُ ‫َط لَنَا َر‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬
‫ ث ُ َّم قَ َرأَ قَ ْولَهُ تَعَالَى‬،‫ان يَدْع ُْو إِلَ ْي ِه‬
ٌ ‫ط‬ َ ‫م ْن َها َسبِ ْي ٌل إَِلَّ َعلَ ْي ِه‬:
َ ‫ش ْي‬ ِ  ‫سبِي ِل ِه ذَ ِل ُك ْم‬ ُّ ‫اطي ُم ْست َ ِق ْي ًما فَاتَّبِعُوهُ َوَلَ تَتَّ ِبعُوا ال‬
َ ‫سبُ َل فَتَفَ َّرقَ بِ ُك ْم َع ْن‬ ِ ‫ص َر‬ِ ‫َوأ َ َّن َهذَا‬
َ‫صا ُك ْم ِب ِه لَ َعلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬َّ ‫و‬
َ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah
yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang
bercerai-berai (sesat) tidak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru
kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Azza wa Jalla: ‘Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-
Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.’” [Al-An’aam: 153][6]

6
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ُ ‫ ث ُ َّم يَ ِج‬،‫ ث ُ َّم الَّ ِذيْنَ يَلُ ْونَ ُه ْم‬،‫اس قَ ْرنِ ْي ث ُ َّم الَّ ِذيْنَ يَلُ ْونَ ُه ْم‬
‫ئ قَ ْو ٌم ت‬ َ ُ‫ َو َي ِم ْينُه‬،ُ‫ ْس ِب ُق َش َهادَة ُ أَ َح ِد ِه ْم يَ ِم ْينَه‬.
ِ َّ‫ش َهادَتَهُ َِ َخي ُْر الن‬

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya,
kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka
mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [7]

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang kebaikan mereka, yang
merupakan sebaik-baik manusia serta keutamaannya. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang
‘aqidahnya, manhajnya, akhlaqnya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu mereka dikatakan sebaik-baik
manusia [8]. Dan dalam riwayat lain disebutkan dengan kata (‫‘ )خَ ي ُْر ُك ْم‬sebaik-baik kalian’ dan dalam riwayat
yang lain disebutkan (‫“) َخي ُْر أ ُ َّمتِ ْي‬sebaik-baik umatku.”

Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

َ‫ فَ َو َجد‬،ٍ‫ب ُم َح َّمد‬ ِ ‫ب ْال ِعبَا ِد بَ ْعدَ قَ ْل‬


ِ ‫ظ َر فِي قُلُ ْو‬ َ َ‫ ث ُ َّم ن‬،‫سالَتِ ِه‬
َ ‫ فا َ ْبتَعَثَهُ بِ ِر‬،‫طفَاهُ ِلنَ ْف ِس ِه‬ ْ ‫ب ْال ِعبَا ِد فَا‬
َ ‫ص‬ َ ‫ فَ َو َجدَ قَ ْل‬،ِ‫ب ْال ِعبَاد‬
ِ ‫ب ُم َح َّم ٍد َخي َْر قُلُ ْو‬ ِ ‫ظ َر فِي قُلُ ْو‬ َ َ‫إِ َّن هللاَ ن‬
َ ‫ َو َما َرأَ ْوا‬،‫س ٌن‬
ِ‫س ِيِّئا ً َف ُه َو ِع ْندَ هللا‬ َ ‫سنا ً فَ ُه َو ِع ْندَ هللاِ َح‬ ْ ْ
َ ‫ فَ َما َرأَى ال ُم ْس ِل ُم ْونَ َح‬،‫ يُقَاتِلُ ْونَ َعلَى ِد ْينِ ِه‬،‫ب ال ِعبَا ِد فَ َج َعلَ ُه ْم ُوزَ َرا َء نَ ِب ِِّي ِه‬
ِ ‫ص َحا ِب ِه َخي َْر قُلُ ْو‬ْ َ‫ب أ‬ َ ‫قُلُ ْو‬
‫ئ‬
ٌ ِِّ‫سي‬
َ .

“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan kepadanya risalah kemudian Allah melihat dari seluruh hati
hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik
sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang atas agama-
Nya. Apa yang dipandang kaum muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan
apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek.” [9]

Dan dalam hadits lain pun disebutkan tentang wajibnya mengikuti manhaj Salafush Shalih (para Shahabat),
yaitu hadits yang terkenal dengan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arbain an-
Nawawiyah (no. 28):

‫ت‬ ْ ‫ت ِم ْن َها ْالعُي ُْونُ َو َو ِج َل‬ ْ َ‫ظةً بَ ِل ْيغَةً ذَ َرف‬ َ ‫ظنا َ َم ْو ِع‬ َ ‫سلَّ َم ذَاتَ يَ ْو ٍم ث ُ َّم أ َ ْقبَ َل َعلَ ْينَا فَ َو َع‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ُ ‫صلَّى بِنَا َر‬ َ :ُ‫ي هللاُ َع ْنه‬ َ ‫ض‬ ِ ‫اض َر‬ ُ َ‫قَا َل ْال ِع ْرب‬
‫ فَإِنَّهُ َم ْن‬،‫طا َع ِة َو ِإ ْن َع ْبدًا َح َب ِش ًّيا‬ َّ ‫ص ْي ُك ْم ِبت َ ْق َوى هللاِ َوالس َّْمع َوال‬
ِ ِ ‫ أ ُ ْو‬:َ‫ظةُ ُم َودِِّعٍ فَ َماذَا ت َ ْع َهد ُ ِإلَيْنا َ فَقَال‬ َ ‫س ْو َل هللاِ َكأ َ َّن َه ِذ ِه َم ْو ِع‬ُ ‫ َيا َر‬:ٌ‫ فَقَا َل قَا ِئل‬، ُ‫ِم ْن َها ْالقُلُ ْوب‬
ُ ْ
‫ت اْل ُم ْو ِر‬ ِ ‫ َوإِيَّا ُك ْم َو ُمحْ دَثَا‬،ِ‫اجذ‬ ِ ‫س ُك ْوا بِ َها َو َعض ُّْوا َعلَ ْي َها بِالنَّ َو‬ َّ ‫ ت َ َم‬، َ‫الرا ِش ِديْن‬ ْ
َّ َ‫اء ال َم ْه ِديِِّيْن‬ ْ
ِ َ‫سنَّ ِة ال ُخلَف‬
ُ ‫س َّنتِي َو‬ ُ ِ‫ فَعَلَ ْي ُك ْم ب‬،‫اختِالَفا ً َكثِيْرا‬
ً ْ ‫سيَ َرى‬ َ َ‫ش ِم ْن ُك ْم َب ْعدِي ف‬ ْ ‫يَ ِع‬
ٌ‫ضالَلَة‬ ‫ة‬
ٍ
َ َ ِ ‫ع‬ ْ ‫د‬ ‫ب‬ َّ
‫ل‬ ُ
‫ك‬ ‫و‬ ، ٌ ‫ة‬
َ َ ِ َ ُ ‫ع‬ ْ ‫د‬ ‫ب‬ ‫ة‬
ٍ َ ‫ث‬‫د‬ ْ‫ح‬ ‫م‬ َّ
‫ل‬ ُ
‫ك‬ َّ
‫ن‬ ِ ‫إ‬ َ ‫ف‬ .

Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
shalat bersama kami lalu beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat
yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah,
nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah,
tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh,
orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib
atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
Pegang erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru,
karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” [10]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan dan perselisihan pada
umatnya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar untuk selamat di dunia dan
7
akhirat, yaitu dengan mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para Shahabatnya Radhiyallahu anhum. Hal ini
menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan Sunnah
para Shahabatnya Radhiyallahu anhum.

Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hadits
iftiraq (akan terpecahnya umat ini menjadi 73 golongan):

ٌ ‫احدَة‬
ِ ‫ َو َو‬،‫ار‬ ِ َّ‫س ْبعُ ْونَ ِفي الن‬ ِ ‫ ِث ْنت‬: َ‫س ْب ِعيْن‬
َ ‫َان َو‬ َ ‫ث َو‬ َ َ‫ َو ِإ َّن َه ِذ ِه ْال ِملَّة‬،ً‫س ْب ِعيْنَ ِملَّة‬
ٍ َ‫ست َ ْفت َِر ُق َعلَى ثَال‬ ِ ‫أََلَ ِإ َّن َم ْن قَ ْبلَ ُك ْم ِم ْن أَ ْه ِل ْال ِكت َا‬
َ ‫ب اِ ْفت ََرقُ ْوا َعلَى ِث ْنتَي ِْن َو‬
ُ‫ِي ْال َج َما َعة‬ ْ
َ ‫ َوه‬،‫فِي ال َجنَّ ِة‬.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul kitab telah berpecah belah menjadi tujuh
puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga
golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu
al-Jama’ah.”[11]

Dalam riwayat lain disebutkan:

ْ َ‫ َما أَنَا َعلَ ْي ِه َوأ‬:ً‫احدَة‬


‫ص َحا ِب ْي‬ ِ ‫ار ِإَلَّ ِملَّةً َو‬
ِ َّ‫ ُكلُّ ُه ْم فِي الن‬.

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Shahabatku berjalan di
atasnya.” [12]

Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semua binasa
kecuali satu golongan, yaitu yang mengikuti apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para Shahabatnya Radhiyallahu anhum. Jadi jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti Al-Qur-an dan
As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (para Shahabat).

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap orang yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
Shahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat). Sedangkan yang
menyelisihi (tidak mengikuti) para Shahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat
ancaman dengan masuk ke dalam Neraka.

8
3. Bagaimana hubungan antara Aqidah, Ibadah, Muamalah dan akhlak ?
Hubungan aqidah dengan akhlak
Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia. Keyakinan hidup inidiperlukan manusia
sebagai pedoman hidup untuk mengarahkan tujuan hidupnya sebagai mahluk alam. Pedoman hidup ini dijadikan pula
sebagai pondasi dari seluruh bangunan aktifitas manusia.
“ Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak “Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang
benar terhadap alam dan kehidupan, Karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika
seorang beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah
salah maka akhlaknya pun akan salah.
ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menjelaskan yang seharusnya dilakukan manusia kepada yang lainya, yang
disebut dengan akhlak. Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah
dengan baik dan benar. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah. Muamalah bisa
dijalankan dengan baik apabila seseorang telah memiliki akhlak yang baik.
Contohnya :
Jika berjanji harus ditepati yaitu apabila seorang berjanji maka harus ditepati. Jika orang menepati janji maka seseorang
telah menjalankan aqidahnya dengan baik. Dengan menepati janji seseorang juga telah melakukan ibadah. Pada dasarnya
setiap perbuatan yang dilakukan manusia arus didasari denga aqidah yang baik.
Aqidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam juga lurus dan benar.
Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya ia akan dengan mudah berperilaku baik
sebagaimana perintah allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah
ditetapkanya. Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti
oleh manusia. Mereka harus mempraktikanya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang menghantarkan mereka
mendapatkan ridha allah dan atau membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari allah
Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang berhubungan dengan aqidah. Jujur dapat terwujud apabila seseorang telah
memegang konsep-konsep yang berhubungan dengan aqidah. Dengan dijalankanya konsep-konsep aqidah tersebut maka
seseorang akan memiliki akhlak yang baik. Sehingga orang akan takut dalam melakukan perbuatan dosa.
Jika perbedaan dalam fiqih dimaksudkan untuk memberikan kemungkinan, maka kesalehan tentu saja bukan dalam
menjalankan fiqih, betapapun sulitnya. Yang paling saleh diantara kita bukanlah orang yang bersedekap pada waktu
berdiri shalat, bukan juga yang meluruskan tangannya, karena kedua cara shalat itu merupakan ijtihat para ulama dengan
merujuk pada hadis yang berbeda. Yang durhaka juga bukan yang mandi janabah sebelum tidur, atau yang tidur dulu baru
mandi janabah, karena kedua-duanya dijalankan Rasullah Saw. Fikih tidak bisa dijadikan ukuran kemuliaan, tetapi
kemuliaan seseorang di lihat dari kemuliaan akhlaknya.[5]
Hubungan aqidah dengan ibadah
Akidah menempati posisi terpenting dalam ajaran agama Islam. Ibarat sebuah bangunan, maka perlu adanya
pondasi yang kuat yang mampu menopang bangunan tersebut sehingga bangunan tersebut bisa berdiri dengan kokoh.
Demikianlah urgensi akidah dalam Islam, Akidah seseorang merupakan pondasi utama yang menopang bangunan
keislaman pada diri orang tersebut. Apabila pondasinya tidak kuat maka bangunan yang berdiri diatasnya pun akan mudah
dirobohkan.
Selanjutnya Ibadah yang merupakan bentuk realisasi keimanan seseorang, tidak akan dinilai benar apabila dilakukan atas
dasar akidah yang salah. Hal ini tidak lain karena tingkat keimanan seseorang adalah sangat bergantung pada kuat
tidaknya serta benar salahnya akidah yang diyakini orang tersebut. Sehingga dalam diri seorang muslim antara akidah,
keimanan serta amal ibadah mempunyai keterkaitan yang sangat kuat antara ketiganya.
Muslim apabila akidahnya telah kokoh maka keimanannya akan semakin kuat, sehingga dalam pelaksanaan
praktek ibadah tidak akan terjerumus pada praktek ibadah yang salah. Sebaliknya apabila akidah seseorang telah
melenceng maka dalam praktek ibadahnya pun akan salah kaprah, yang demikian inilah akan mengakibatkan lemahnya
keimanan.
Pondasi aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk memelihara

9
pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam
rangka mendekatkan diri kepada allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap allah.
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, sejak kelahirnya telah dibekali dengan akal pikiran serta
perasaan (hati). Manusia dengan akal pikiran dan hatinya tersebut dapat membedakan mana yang baik dan mana yang
benar, dapat mempelajari bukti-bukti kekuasaan Allah, sehingga dengannya dapat membawa diri mereka pada keyakinan
akan keberadaan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengakui keberadaan Allah SWT.
karena selain kedua bekal yang dimiliki oleh mereka sejak lahir, Allah juga telah memberikan petunjuk berupa ajaran
agama yang didalamnya berisikan tuntunan serta tujuan dari hidup mereka di dunia.
Ibadah mempunyai hubungan yang erat dengan aqidah. Antaranya :
1. Ibadah adalah hasil daripada aqidah yaitu keimanan terhadap Allah sebenarnya yang telah membawa manusia untuk
beribadat kepada Allah swt.
2. Aqidah adalah asas penerimaan ibadah yaitu tanpa aqidah perbuatan seseorang manusia bagaimana baik pun tidak akan
diterima oleh Allah swt.
3. Aqidah merupakan tenaga penggerak yang mendorong manusia melakukan ibadat serta menghadapi segala cabaran dan
rintangan.
Akidah adalah merupakan pondasi utama kehidupan keislaman seseorang. Apabila pondasi utamanya kuat, maka
bangunan keimanan yang terealisasikan dalam bentuk amal ibadah orang tersebut pun akan kuat pula.

4. Fungsi Agama dalam Masyarakat

Adapun fungsi agama dalam masyarakat ada enam hal, yaitu:


Pertama, agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang diluar jangkauan manusia yang melibatkan takdir
dan kesejahteraan, dan terhadap mana manusia memberikan tanggapan serta menghubungkan dirinya,
menyediakan bagi pemelukya suatu dukungan, dan rekonsiliasi (perdamaian).[5] Manusia membutuhkan
dukungan moral disaat menghadapi ketidakpastian, membutuhkan rekonsiliasi dengan masyarakat bila
diasingkan dari tujuan dan norma-normanya.
Kedua, agama menawarkan suatu hubungan trasendental (bersifat jauh dari dunia empiris) melalui
pemujaan dan upacara ibadat, karena itu memberikan dasar emosional bagi rasa aman baru dan identitas yang
lebih kuat di tengah ketitdakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia dan arus serta perubahan kerangka
acuan ditengah pertikaian dan kekaburan pendapat serta sudut pandang manusia.
Ketiga, agama mensucikan norma-norma dan nilai masyrakat yang telah terbentuk, mempertahankan
dominasi tujuan kelompok diatas keinginan individu dan disiplin kelompok diatas dorongan hati individu.
Dengan demikian agama memperkuat legitimasi (pembenaran menurut hukum) pembagian fungsi, fasilitas dan
ganjaran yang merupakan cirri khas suatu masyarakat.
Keempat, agama juga melakukan fungsi yang bisa bertentangan dengan fungsi sebelumnya. Agama
dapat pula memberikan standar nilai dalam arti dimana norma-norma yang telah terlembaga, dapat dikaji
secarakritis dan kebetulan masayarakat sedang membutuhkannya. Hal ini mungkin sekali benar khusus dalam
hubungan dengan agamayang menitik beratkan transendensi (dalam teologi, istilah ini berarti bahwa tuhan itu

10
berada jauh diluar alam) Tuhan, dan konsekuensi superioritasnya pada dan kemerdekaannya dari masyarakat
yang mapan.
Kelima, agama melakukan fungsi-fungsi identitas yang penting. Kita telah menyinggung salah satu
aspek fungsi ini dalam membicarakan fungsi hubungan trasendentals yang ada dalam agama. Melalui
penerimaan nilai-nilai yang terkandung dalam agama dan kepercayaan-kepercayaan tentang hakikat dan takdir
manusia, individu mengembangkan aspek penting pemahaman diri batasan diri. Melalui peran penting msnusia
di dalam ritual agama dan doa, mereka juga melakukan unsur-unsur signifikan (mengandung arti penting) yang
ada dalam identitasnya.
Keenam, agama menyangkut pertumbuhan dan kedewasaan individu, dan perjalanan hidup melalui
tinngkat usia yang ditentukan oleh masyarakat. Psikologi telah menunjukkan bahwa pertumbuhan individu
menghadapi serangkaian karakteristik (ciri khas) yang terjadi pada berbagai tingkat usia manusia, serangkaian
peristiwa yang dijumpai dari sejak lahir sampai mati. [6]
Fungsi agama ditinjau dari kajian sosiologis, ada dua macam. Pertama disebut fungsi manifest, dan yang
kedua fungsi latent. Fungsi manifest adalah fungsi yang disadari yang bisanya merupakan tujuan yang ingin
dicapai oleh pelaku-pelaku ajaran agama. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tersembunyi, yang kurang
disadari oleh pelaku-pelaku ajaran agama. Masalah agama tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan
masyarakat, karena agama itu sendiri ternyata diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam prakteknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain sebagai berikut.:
1. Fungsi Edukatif (pendidikan)
Ajaran agama yang dianut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi. Ajaran agama secara yuridis
berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur suruhan dan larangan mempunyai latar belakang mengarahkan
bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masig-
masing.
2. Fungsi Penyelamat
Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamaan yang meliputi dua alam yaitu :
dunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan kepada penganutnya melalui:
pengenalan memalui masalah syakral, berupa keimana kepada Tuhan. Pelaksanaan pengenalan kepada unsur
(zat supranatural) tu tertujuan agar dapat berkomunikasi dengan baik secara langsung maupun dengan perantara,
3. Fungsi sebagai Pendamain
Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama.
Rasa berdosa dan rasa bersalah akan segera menjadi hilang dari batinnya, apabila seseorang pelanggar telah
menebus dosanya melalui tobat, pensucian, atau pun penebusan dosa[7]
4. Fungsi sebagai Social Control (pengawasan siosial)

11
Ajaran agama oleh penganutnya dinggap sebagai norma sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai
pengawasan sosial secara individu maupun kelompok karena; pertama, agama secara instansi, merupakan
norma bagi pengikutnya, kedua, agama secara dogatis (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis
(wahyu, kenabian).[8]
5. Fungsi sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas (kesetiakawanan)
Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan; iman
dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan,
bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh.
6. Fungsi Transformatif (berubah-ubah)
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai
dengan ajaran agama yang dianutnya. Kehidupan baru diterimanya berdasarkan ajaran agama yang dipeluknya
itu kadangkala mampu mengubah kesetiaannya kepada adat atau norma yang dianut sebelumnya.
7. Fungsi Kreatif (kemampuan menciptakan sesuatu yang baru)
Ajaran agama menolong dan mengajak para penganutnya untuk bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan
dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja disuruh bekerja secara
rutin dalam pola hidup yang sama, akan tetapi juga dituntut untuk melakukan inovasi penemu baru. [9]
8. Fungsi Sublimatif
Segala usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama, bila dilakukan atas niatan yang
tulus, karena untuk Allah merupakan ibadah. Agama yang berlaku atas masyarakat bagaikan obat bius; agama
meringankan penderitaan, namun tidak menghlangkan kondisi-kondisi yang menimbulkan penderitaan itu. [10]

12
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa islam menurut bahasa
(etimologi) mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh , dan taat kepada allah sehingga melahirkan
keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungannya. Sedangkan
menurut istilah (terminologi) Islam adalah suatu nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah
kepada manusia melalui seorang rasul. Islam juga merupakan ajaran yang lengkap , menyeluruh dan sempurna
yang mengatur tata cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun ketika berinteraksi dengan
lingkungannya. Islam juga berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan allah, manusia
dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Secara garis besar ruang lingkup agama islam menyangkut
3 hal pokok yaitu aspek keyakina (aqidah), aspek norma (syariah), dan aspek prilaku (akhlak) yang masing-
masing memiliki perbedaan namun tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan satu sama lain.

B. SARAN
1. Perlu adanya pembanguna akidah akhlak dan Syari’ah yang kokoh bagi pemuda, dengan pemberian
pendidikan khusus keagamaan yang lebih terstruktur.
2. adanya peran aktif pemerintah, pemangku agama, orang tua, dan juga kita semua dalam menjaga akidah
dan akhlak islam yang kita miliki.

DAFTAR PUSTAKA

http://bank-lonk.blogspot.com/2012/11/ruang-lingkup-ajaran-islam.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Ikhlas
http://quran.com/74
http://fahmikurniaartikel.blogspot.com/2012/07/-agama-ruang-lingkup-ajaran-islam.html
http://soleha-okee.blogspot.com/2013/01/ruang-lingkup-ajaran-islam.htm
https://almanhaj.or.id/1950-dasar-islam-adalah-al-quran-dan-as-sunnah-yang-shahih-menurut-pemahaman-
salafush-shalih-1.html

13
ُ‫ت ال س َّ ِم ي ُع الْ ع َ لِ ي م‬
َ ْ‫ك أ َن‬
َ َّ ‫س َم ا ِع ي ُل َر ب َّ ن َا ت َق َ ب َّ ْل ِم ن َّ ا ۖ إ ِ ن‬ ِ ْ‫َو إ ِ ذ ْ ي َ ْر ف َ ُع إ ِ ب َْر ا ِه ي مُ الْ ق َ َو ا ِع د َ ِم َن الْ ب َ ي‬
ْ ِ ‫ت َو إ‬
(QS. Al-Baqarah : 127)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):
"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui".

Terjemahan dengan tafsir Jalalain

(Dan) ingatlah (ketika Ibrahim meninggikan sendi-sendi) dasar-dasar atau dinding-dinding (Baitullah) maksudnya membinanya
yang dapat dipahami dari kata 'meninggikan' tadi (beserta Ismail) `athaf atau dihubungkan kepada Ibrahim sambil keduanya
berdoa, ("Ya Tuhan kami! Terimalah dari kami) amal kami membina ini, (sesungguhnya Engkau Maha Mendengar) akan
permohonan kami (lagi Maha Mengetahui) akan perbuatan kami

(QS. An-Nahl : 80)

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-
rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu
berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing,
alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)”

Terjemahan dengan tafsir Jalalain

Allah menjadikan bagi mereka rumah-rumah untuk tempat tinggal mereka kemudian dari kulit - kulit binatang.
Dia menjadikan rumah - rumah yang ringan untuk mereka bawa didalam perjalanan, dan mereka jadikan kemah
- kemah di waktu mengadakan perjalanan maupun di waktu bermukim; dan dia menjadikan benteng-benteng
digunung.

Pendek kata, Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang dia limpahkan kepada para Hambanya. Di mulai
dengan nikmat yang dikhususkan bagi orang - orang yang bermukim, dengan firman-Nya, “menjadikan bagi
kalian rumah-rumah kalian sebagai tempat tinggal.”

14
“dan dia menjadikan bagi kalian rumah-rumah ( kemah – kemah ) dari kulit binatang.”

Kemudian bagi orang yang tidak mampu melakukan hal itu, tidak pula mempunyai naungan selain dari pada
tempat bernaung, dengan firman - Nya, “ menjadikan bagi kalian tempat bernaung dari apa yang telah dia
ciptakan, ”

15