Anda di halaman 1dari 15

29

II. TINJAUAN MENGENAI KONSEP DAN PUSTAKA

2.1. Konsep Kemitraan

Secara harfiah kemitraan diartikan sebagai suatu strategi bisnis yang dilakukan

oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama

dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan (Hafsah, 2000).

Adapun definisi kemitraan secara resmi diatur dalam Undang-Undang Usaha Kecil

No 9 Tahun 1995. Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Usaha Kecil menyatakan bahwa

kemitraan merupakan kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau besar

dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling

menguntungkan. Sementara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.

940/Kpts/OT.210/10/97 yang dimaksud dengan kemitraan usaha pertanian adalah

kerjasama usaha antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra di bidang usaha

pertanian.

Adapun pola-pola kemitraan yang banyak dilaksanakan oleh beberapa kemitraan

usaha pertanian di Indonesia (Direktorat Pengembangan Usaha Departemen Pertanian,

2002) meliputi :

1. Inti-Plasma

Merupakan hubungan kemitraan antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra.

Perusahaan mitra bertindak sebagai inti dan kelompok mitra bertindak sebagai

plasma. Dalam hal ini, perusahaan mitra mempunyai kewajiban : (1) berperan sebagai

perusahaan inti, (2) menampung hasil produksi, (3) membeli hasil produksi, (4)

memberi bimbingan teknis dan pembinaan manajemen kepada kelompok mitra, (5)
30

memberikan pelayanan kepada kelompok mitra berupa permodalan/kredit, sarana

produksi, dan teknologi, (6) mempunyai usaha budidaya pertanian/memproduksi

kebutuhan perusahaan, dan (7) menyediakan lahan. Sementara kewajiban kelompok

mitra : (1) berperan sebagai plasma, (2) mengelola seluruh usaha budidaya sampai

dengan panen, (3) menjual hasil produksi kepada perusahaan mitra, (4) memenuhi

kebutuhan perusahaan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati. Keunggulan

dari pola ini adalah : (1) kedua belah pihak saling mempunyai ketergantungan dan

sama-sama memperoleh keuntungan, (2) terciptanya peningkatan usaha, dan (3)

dapat mendorong perkembangan ekonomi. Namun, dikarenakan belum adanya

kontrak kemitraan yang menjamin hak dan kewajiban komoditas plasma, kelemahan

pola ini menyebabkan perusahaan inti mempermainkan harga komoditi plasma.

2. Subkontrak

Merupakan hubungan kemitraan antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra.

Kelompok mitra dalam hal ini memproduksi komponen yang diperlukan oleh

perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Tugas perusahaan mitra dalam

pola subkontrak, meliputi : (1) menampung dan membeli komponen produksi

perusahaan yang dihasilkan oleh kelompok mitra, (2) menyediakan bahan baku /

modal kerja, dan (3) melakukan kontrol kualitas produksi. Sementara tugas kelompok

mitra adalah : (1) memproduksi kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra sebagai

komponen produksinya, (2) menyediakan tenaga kerja, dan (3) membuat kontrak

bersama yang mencantumkan volume, harga, dan waktu. Pola subkontrak ini sangat

kondusif bagi terciptanya alih teknologi, modal, keterampilan, dan produktivitas serta

terjaminnya pemasaran produk pada kelompok mitra. Namun sisi kelemahannya


31

tampak dari hubungan yang terjalin semakin lama cenderung mengisolasi produsen

kecil dan mengarah pada monopoli atau monopsoni.

3. Dagang Umum

Salah satu pola kemitraan di mana perusahaan mitra berfungsi memasarkan hasil

produksi kelompok mitranya atau kelompok mitra memasok kebutuhan yang

diperlukan perusahaan mitra. Keuntungan pola ini adalah pihak kelompok mitra tidak

perlu bersusah payah dalam memasarkan hasil produksnya sampai ke konsumen.

Sementara kelemahannya terletak pada harga dan volume produk yang sering

ditentukan secara sepihak oleh perusahaan mitra sehingga merugikan kelompok mitra.

4. Keagenan

Pola keagenan merupakan hubungan kemitraan di mana kelompok mitra diberi hak

khusus untuk memasarkan barang atau jasa usaha perusahaan mitra. Sementara

perusahaan mitra bertanggung jawab atas mutu dan volume produk. Keuntungan pola

ini bagi kelompok mitra bersumber dari komisi yang diberikan perusahaan mitra sesuai

dengan kesepakatan. Namun disisi lain pola ini memiliki kelemahan dikarenakan

kelompok mitra dapat menetapkan harga produk secara sepihak. Selain itu kelompok

mitra tidak dapat memenuhi target dikarenakan pemasaran produknya terbatas pada

beberapa mitra usaha saja.

5. Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)

Dalam pola ini perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen dan

pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu

komoditi pertanian, sedangkan kelompok mitra menyediakan lahan, sarana, dan


32

tenaga kerja. Keunggulan pola ini hampir sama dengan pola inti-plasma, namun dalam

pola ini lebih menekankan pada bentuk bagi hasil.

6. Waralaba

Merupakan pola hubungan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, di mana

perusahaan mitra memberikan hak lisensi, merek dagang, saluran distribusi

perusahaannya kepada kelompok mitra usahanya sebagai penerima waralaba.

Kelebihan pola ini, kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan sesuai

dengan hak dan kewajibannya. Keuntungan tersebut dapat berupa adanya alternatif

sumber dana, penghematan modal, dan efisiensi. Selain itu pola ini membuka

kesempatan kerja yang luas. Kelemahannya, bila salah satu pihak ingkar dalam

menepati kesepakatan sehingga terjadi perselisihan. Selain itu, pola ini menyebabkan

ketergantungan yang sangat besar dari perusahaan terwaralaba terhadap perusahaan

pewaralaba dalam hal teknis dan aturan atau petunjuk yang mengikat. Sebaliknya

perusahaan pewaralaba tidak mampu secara bebas mengontrol atau mengendalikan

perusahaan terwaralaba terutama dalam hal jumlah penjualan.

7. Pola Kemitraan (Penyertaan) Saham

Dalam pola kemitraan ini, terdapat penyertaan modal (equity) antara usaha kecil

dengan usaha menengah atau besar. Penyertaan modal usaha kecil dimulai sekurang-

kurangnya 20 % dari seluruh modal saham perusahaan yang baru dibentuk dan

ditingkatkan secara bertahap sesuai kesepakatan kedua belah pihak.


33

Salah satu alasan ekonomi dari hubungan kerjasama kemitraan adalah akan

tercipta perusahaan yang berskala besar, sehingga perusahaan akan lebih efisien dan

lebih kompetitif daripada skala kecil (Oktaviani dan Daryanto, 2001).

Sementara tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan, adalah (1)

meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat, (2) meningkatkan perolehan nilai

tambah bagi pelaku kemitraan, (3) meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan

masyarakat dan usaha kecil, (4) meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah

dan nasional, (5) memperluas kesempatan kerja, dan (6) meningkatkan ketahanan

ekonomi nasional (Hafsah, 2000).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan bisnis yang terjadi dalam

kemitraan harus mampu menghasilkan integrasi bisnis yang saling berkaitan dan

menjamin terciptanya keseimbangan, keselarasan, keterpaduan yang dilandasi saling

menguntungkan, saling membutuhkan dan saling membesarkan. Disamping itu, kemitraan

harus mengandung konsekuensi peningkatan nilai lebih pada semua elemen mulai dari

pengadaan sarana produksi, usahatani, pengolahan hasil, distribusi dan pemasaran.

Dengan kata lain, kemitraan seharusnya mengandung makna kerjasama sinergi yang

menghasilkan nilai tambah.

2.2. Profil Komoditi Vanili Indonesia

Tanaman vanili merupakan warga dari famili Orchidaceae (anggrek-anggrekan),

terdiri atas 700 genus dan 20 000 species. Terdapat 110 jenis vanili yang tersebar di

daerah tropis, tetapi yang bernilai ekonomis baru tiga jenis, yaitu Vanilla planifolia

Andrews, Vanilla tahitensis J.W. Moore, dan Vanilla pompana Schieda (Ruhnayat, 2004).
34

Tanaman vanili telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1819. Dekade 60-an

tanaman vanili telah berkembang pesat mulai dari daerah Jawa Barat lalu menyebar ke

Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun produksi vanili Indonesia saat itu masih rendah,

namun di pasaran dunia, vanili Indonesia sudah dikenal dan sering disebut sebagai “java

vanilla beans”. Salah satu keunggulan vanili Indonesia adalah kadar vanillin yang lebih

tinggi dibandingkan dengan vanili dari negara-negara lain, yaitu 2.75 persen. Selain itu

jenis vanili yang ditanam di Indonesia merupakan jenis yang paling disukai di pasaran

dunia yaitu Vanilla planifolia Andrews.

Pengusahaan vanili di Indonesia sebagian besar dilakukan dalam bentuk

perkebunan rakyat dan sisanya dalam perkebunan swasta. Sampai saat ini, daerah

pengembangan vanili di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara,

Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Daerah sentra produksinya adalah Sumatera Utara,

Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,

Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Dalam pengusahaannya, tanaman vanili ini sangat sesuai ditanam pada

ketinggian 400 - 600 m dpl, memerlukan naungan sebagai peneduh, dan tidak menyukai

lingkungan yang lembab. Tekstur tanah lempung berpasir, dengan pH 6 – 7, struktur

gembur, berhumus, dan drainase yang baik. Iklim yang optimal dengan curah hujan antara

1 500 – 2 000 mm/tahun, temperatur 24 – 26 derajat Celsius, dengan jumlah hari hujan 80

– 178 dan adanya 2 – 3 bulan kering. Untuk mendapatkan hasil vanili yang baik diperlukan

persyaratan, yakni adanya musim kemarau yang tegas lebih kurang 3 bulan, adanya

naungan dengan intensitas matahari 30 - 50 persen, dan ketersediaan air cukup sehingga

peralatan selalu lembab (Hadisutrisno, 2005).


35

Tanaman vanili mulai berbunga setelah 2 – 3 tahun dan berbuah setiap tahun

sampai umur 10 – 12 tahun. Karena tanaman ini yakni penyerbukan secara alami tidak

dapat berlangsung dengan baik, untuk itu harus dibantu oleh manusia (hand pollinating)

atau dengan bantuan hewan seperti burung atau lebah. Buah vanili dapat dipetik dalam

waktu 8 – 9 bulan setelah penyerbukan, dengan produksi per pohon 0.5 – 2 kg buah

basah.

Produk-produk vanili Indonesia yang diekspor kebanyakan masih dalam bentuk

polong kering. Polong panili kering ini dapat diolah lebih lanjut menjadi ekstrak oleoresin

yang penggunaannya di luar negeri cukup banyak. Ekspor vanili dalam bentuk oleoresin

lebih menguntungkan karena tidak memerlukan tempat yang besar untuk mengemas dan

nilai jualnya lebih tinggi. Keuntungan lain bentuk oleoresin dibandingkan dengan bentuk

aslinya sebagai berikut (Ruhnayat (2004) :

1. Bebas dari kontaminasi mikroorganisme.

2. Mempunyai tingkat aroma yang lebih kuat dibandingkan dengan bahan aslinya.

3. Lebih mudah dalam proses pencampuran dalam pengolahan makanan.

Permasalahan dalam pengusahaan vanili di Indonesia adalah produktivitas dan

mutu yang masih rendah. Produktivitas dipengaruhi antara lain oleh tingkat kesesuaian

lingkungan tumbuh, teknik budidaya, varietas, dan serangan penyakit. Di berbagai daerah,

serangan penyakit busuk batang menjadi faktor utama penyebab rendahnya produktivitas

vanili. Namun, serangan penyakit tersebut dapat dicegah sedini mungkin apabila

diterapkan cara budidaya yang benar mulai dari penyiapan bibit, penanaman,

pemeliharaan dan cara panen (Ruhnayat, 2004). Dengan menerapkan cara budidaya yang
36

benar diharapkan tanaman vanili dapat berproduksi secara baik tanpa kendala yang

berarti.

Sementara itu, mutu vanili umumnya dipengaruhi oleh umur panen, jumlah buah

per tandan, dan proses pengolahan setelah panen. Dalam hal ini, masih banyaknya petani

yang melakukan panen (petik) buah muda dan terbatasnya pengetahuan petani dalam

melakukan pengolahan vanili secara benar menjadi faktor utama penyebab rendahnya

mutu vanili di berbagai daerah di Indonesia.

Adapun faktor-faktor yang mendorong petani vanili melakukan petik muda

(Mauludi, 1992 dalam Rachmawati, 1993), antara lain disebabkan oleh :

1. Kebutuhan hidup yang harus dipenuhi secara kontinyu.

2. Terjadinya pencurian sehingga untuk menghindarinya petani cenderung merasa lebih

aman apabila memetiknya lebih awal.

3. Adanya para pedagang pengumpul yang masih mau dan bersedia membeli vanili

muda tanpa memperhatikan mutu.

Buah vanili yang dipetik muda akan menghasilkan grade / mutu non standard yang

harganya sangat rendah, sehingga pendapatan yang diperoleh petani akan menjadi

rendah pula. Berbeda dengan buah vanili yang dipetik tepat waktu, pendapatan yang

diterima petani dapat mencapai 18 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan buah vanili

yang dipetik muda (Trubus, 1991 dalam Rachmawati, 1993).

Di sisi lain, untuk mengatasi terbatasnya pengetahuan petani dalam melakukan

pengolahan vanili secara benar maka peran kelompok tani menjadi sangat penting sebagai

media dalam memberikan penyuluhan dan bimbingan tentang pengolahan vanili yang
37

benar sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, sehingga pada akhirnya para

petani mampu menghasilkan mutu vanili yang lebih baik.

Berkaitan dengan aspek produksi (dalam hal ini produktivitas dan mutu vanili),

aspek pemasaran pun merupakan hal penting dalam pengembangan vanili di Indonesia.

Hal ini dikarenakan meningkatnya produksi tidak akan mempunyai arti jika tidak dapat

dipasarkan dengan baik dan memperoleh harga yang tinggi (Kartasapoetra, 1986).

Berkaitan dengan aspek pemasaran vanili, diketahui lembaga pemasaran yang terlibat

dalam pemasaran vanili terdiri dari pedagang pengumpul (tingkat desa, tingkat kabupaten,

kecamatan atau antar pulau) dan eksportir. Secara umum saluran pemasaran vanili di

Indonesia adalah (Rismunandar dan Sukma, 2004) :

1. Petani pengumpul pengolah eksportir,


2. Petani pengumpul dan pengolah eksportir,
3. Petani pengumpul pengolah dan eksportir,
4. Petani dan pengolah eksportir,
5. Petani pengolah dan eksportir, dan
6. Petani sekaligus pengolah dan eksportir.

Bervariasinya jalur pemasaran vanili tersebut disebabkan oleh beberapa faktor,

diantaranya adalah faktor geografis, akses transportasi, dan volume penjualan (Suwandi

dan Sudibyanto, 2004). Sejalan dengan itu, studi yang dilakukan Mauludi (1994)

menunjukkan bahwa petani yang langsung menjual produk vanilinya kepada eksportir

akan menerima harga yang lebih tinggi dibandingkan hanya menjualnya ke pedagang

perantara atau pedagang pengumpul. Selain itu, pasar vanili pada tingkat pedagang besar

ternyata kurang bersaing/kurang efisien dan cenderung oligopsonistik.


38

2.3. Hasil Penelitian Terdahulu

2.3.1. Penelitian Tanaman Vanili

Penelitian mengenai pendapatan petani dan pemasaran vanili di Kabupaten

Banyuwangi dilakukan oleh Rachmawati (1993). Dengan menggunakan analisis B/C Ratio

dan R/C Ratio, diketahui bahwa pada lahan sedang (0.5 Ha – 2 Ha) usaha tani vanili lebih

layak / menguntungkan dari pada di lahan sempit (0.1 Ha – 0.49). Hal ini menunjukkan

bahwa pendapatan petani dari usaha tani vanili di lahan sedang lebih tinggi. Di sisi lain,

diketahui bahwa saluran pemasaran II merupakan saluran pemasaran yang lebih efisien.

Hal ini terlihat dari rantai pemasaran yang lebih pendek dan jumlah marjin pemasaran

yang nilainya lebih kecil dari pada saluran pemasaran I.

Mauludi (1994) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi

pemasaran vanili di Propinsi Bali. Dengan menggunakan analisis marjin pemasaran dan

regresi linear berganda dengan pendugaan kuadrat terkecil biasa (OLS) diperoleh hasil

bahwa marjin pemasaran vanili di Propinsi Bali dipengaruhi secara bersama-sama oleh

harga beli, volume penjualan, biaya angkutan, dan biaya susut. Namun secara parsial

keempat faktor tersebut memberikan peranan/pengaruh yang berbeda pada masing-

masing tingkat pedagang. Selanjutnya, dengan menggunakan analisis korelasi harga

diketahui bahwa pasar vanili pada tingkat pedagang besar ternyata kurang

bersaing/kurang efisien (cenderung oligopsonistik).

Penelitian tentang faktor produksi pada usaha tani vanili dengan menggunakan

model Cobb Douglas dilakukan oleh Slameto dan Asnawi (1997) di Desa Jabung,

Lampung Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi vanili di daerah Jabung,

Lampung Tengah dapat ditingkatkan dengan menambah luas lahan dan frekuensi
39

pemangkasan pohon penegak. Penambahan areal satu persen akan meningkatkan

produksi sebesar 2.4241 persen sedangkan penambahan satu persen pemangkasan

pohon penegak produksi akan meningkat sebesar 0.7061 persen, ceteris paribus.

Selanjutnya Malian, Rachman, dan Djulin (2004) melakukan penelitian mengenai

permintaan ekspor dan daya saing vanili di Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan

model analisis permintaan dan integrasi pasar serta Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa komoditas ekspor vanili Indonesia bersifat subsitusi

terhadap vanili dari Madagaskar dan Komoro di pasar Amerika Serikat, sementara

integrasi harga antara harga di tingkat petani dengan harga ditingkat eksportir sangat

lemah dan bersifat asimetrik. Hasil analisis daya saing menunjukkan bahwa secara umum

petani vanili memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dengan nilai

DRCR dan PCR lebih kecil dari satu. Meskipun keragaan produksi dan produktivitas vanili

masih tergolong rendah, namun peluang pengembangan komoditas masih terbuka. Dalam

hal ini instrumen kebijakan insentif terhadap harga input sangat diperlukan.

Penelitian vanili selanjutnya yaitu mengenai penawaran ekspor vanili Indonesia

dilakukan oleh Ilham, Suhartini, dan Sinaga (2004). Dengan menggunakan pendekatan

ekonometrik dengan metode 2SLS, disimpulkan bahwa : (1) luas tanam menghasilkan

dipengaruhi oleh upah tenaga kerja secara negatif, dalam jangka pendek belum responsif

terhadap perubahan tingkat upah tetapi dalam jangka panjang menjadi responsif, (2)

produktivitas vanili dipengaruhi secara positif oleh harga vanili domestik namun tidak

responsif terhadap perubahan harga, (3) ekspor vanili Indonesia ke Jerman dan Amerika

Serikat dipengaruhi oleh ekspor tahun sebelumnya, (4) transmisi harga ekspor ke harga
40

yang diterima petani sangat lemah sementara transmisi harga dunia ke harga ekspor

cukup erat.

2.3.2. Penelitian Kelembagaan / Kemitraan

Penelitian kelembagaan tataniaga Bahan Olah Karet Rakyat (Bokar) dilakukan

oleh Haris (1999) di pusat-pusat produksi karet rakyat di wilayah Propinsi Sumatera

Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan aspek kelembagaan diketahui

bahwa penegakkan hak dan kewajiban pelaku transaksi sebagaimana tertuang dalam

kontrak kerjasama pada kelembagaan kemitraan, cenderung lemah. Diduga hal ini

disebabkan oleh tidak sejajarnya posisi rebut tawar pihak-pihak yang bermitra. Pada

umumnya petani mengkaitkan keikutsertaan pada kelembagaan kemitraan dengan

program pengembalian kredit kebun serta beban moral sebagai petani peserta proyek

yang telah mendapat bantuan pemerintah dalam pengembangan kebun karetnya.

Sementara itu, dengan menggunakan model multinominal logit diketahui bahwa kondisi

sosial ekonomi petani yaitu berupa pendidikan non formal dan jumlah pendapatan

keluarga secara positif mempengaruhi peluang petani dalam mengikuti kemitraan.

Warning dan Key (2000) melakukan penelitian tentang dampak dari program

kemitraan di Senegal. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif biaya (cost),

penerimaan (revenue), dan pengeluaran (expenditure), diketahui bahwa secara signifikan

kemitraan dapat meningkatkan pendapatan petani dan menyebabkan meningkatnya taraf

hidup masyarakat bahkan berdampak ganda terhadap tenaga kerja, peningkatan infra

struktur, pertumbuhan ekonomi wilayah, dan peningkatan teknologi usahatani.

Selanjutnya, dengan menggunakan model binominal probit, hasil penelitian menunjukkan

bahwa nilai peralatan pertanian mempengaruhi peluang petani untuk mengikuti program
41

kemitraan. Banyaknya peralatan pertanian menyebabkan produktivitas meningkat

sehingga kemampuan petani membayar pinjaman meningkat.

Penelitian kemitraan yang lain yaitu mengenai usahatani kontrak pada agribisnis

sayuran serta peranannya dalam optimasi penggunaan faktor produksi dilakukan oleh

Sulistyowati (2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi aspek kelembagaan

terlihat bahwa wewenang pihak mitra lebih dominan dibanding posisi petani, selain itu

dalam pelaksanaan kemitraan terjadi beberapa penyimpangan, baik yang dilakukan oleh

perusahaan mitra maupun petani mitra meskipun hak dan kewajiban masing-masing pihak

sudah diatur dalam kontrak. Disisi lain, pelaksanaan usahatani kontrak ternyata

berperanan dalam meningkatkan efisiensi alokatif pendapatan dan R/C usahatani, namun

belum berperan dalam meningkatkan produktivitas lahan.

Selanjutnya Romano (2004) melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap kinerja kemitraan pada agribisnis jagung, kentang dan jeruk di

Propinsi Sumatera Utara. Dengan menggunakan analisis SWOT diketahui bahwa

keunggulan mitra utama meliputi pengolahan, kemampuan menyediakan sarana dan

prasarana produksi, pengendalian mutu, dan jaringan pasar. Kelemahan mitra utama

meliputi fluktuasi suplai dalam kuantitas dan harga. Sementara dari sisi petani jagung,

kentang dan jeruk, diketahui keunggulan petani meliputi ketersediaan lahan dan tenaga

kerja keluarga. Sedangkan, kelemahan petani yaitu dalam pengadaan modal dan

keterjaminan pasar produk.

Puspitawati (2004) melakukan penelitian tentang kemitraan antara Perum Pertani

dengan petani penangkar benih padi di Kabupaten Karawang dengan menggunakan

analisis model logit. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa peubah bebas harga benih,
42

jumlah benih, total produksi, harga output (gabah), dan curahan tenaga kerja luar keluarga

mempengaruhi peluang petani melakukan kemitraan. Adapun manfaat hubungan

kemitraan bagi petani diketahui dari sisi penerimaannya, di mana dengan bermitra petani

penangkar benih lebih efisien dalam pengelolaan usahataninya. Hal ini ditunjukkan dari

nilai R/C atas biaya total petani mitra yang lebih tinggi dibanding petani non mitra.

2.3.3. Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat

Penelitian Sumarhani (2004) di BKPH Banjarsari KPH Ciamis menunjukkan bahwa

kegiatan rehabilitasi hutan melalui kemitraan sistem Pengelolaan Sumberdaya Hutan

Bersama Masyarakat, dengan lahan garapan seluas 0.25 ha, petani mendapat tambahan

pendapatan keluarga dari hasil tanaman semusim seluruhnya dan dari hasil panen kayu

sengon yang ditanam diantara tanaman pokok jati. Sementara kegiatan Pengelolaan

Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat di RPH Cineam KPH Tasikmalaya, pendapatan

bersih yang diperoleh petani dari panen pertama kapulaga basah melalui pemanfaatan

lahan di bawah tegakan jati adalah sebesar Rp 600 000 / ha.

Selanjutnya, Murniati (2004) melakukan penelitian tentang aspek teknis dan

lingkungan, aspek sosial-ekonomi dan budaya, serta aspek kelembagaan dari kemitraan

sistem Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat di berbagai daerah. Secara

teknis dan lingkungan, adanya kegiatan reboisasi partisipatif di Sanggau, Kalimantan

Barat, telah mengurangi gangguan kebakaran hutan dan mengurangi praktek ladang

berpindah. Sementara secara rehabilitasi zona rehabilitasi TNMB, sepenuhnya dapat

mengakomodasikan kondisi sosial dan budaya masyarakat Jawa dan Madura dalam hal

obat-obatan tradisional. Ini terlihat dari pemilihan jenis tanaman obat-obatan dan
43

pengembangan usaha wanafarma melalui pelatihan di bidang kesehatan dan obat-obatan.

Rehabilitasi zona rehabilitasi TNMB secara kemitraan dengan masyarakat setempat telah

berhasil memberikan kontribusi pendapatan sebesar 49.22 % terhadap total pendapatan

keluarga peserta. Secara kelembagaan, diperoleh hasil bahwa kegiatan pendampingan

telah mampu mengembangkan dan memperkuat organisasi masyarakat. Namun,

dikarenakan pendampingan ini umumnya dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan

fisik tanam menanam, sehingga partisipasi dan peran masyarakat peserta terutama dalam

proses perencanaan kegiatan masih rendah. Jika masyarakat dilibatkan dan diajak diskusi

dalam perencanaan kegiatan, usulan dari masyarakat masih jarang dijadikan

keputusan/dilaksanakan.

Berdasarkan uraian beberapa hasil penelitian terdahulu, penelitian penulis

mengenai aspek kelembagaan kemitraan Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama

Masyarakat dengan menggunakan analisis aspek kelembagaan menurut Schmid serta

faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi petani melakukan kemitraan dengan

menggunakan analisis model logit, masih belum ada yang melakukan. Oleh karena itu,

penulis berharap hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai kajian atau bahan referensi

dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tentang kemitraan.