Anda di halaman 1dari 6

PARADIGMA INTERPRETIF

Oleh:
Nama: Denta Wisnu Pradipta
NIM : 196020302011002

Program Studi Pasca Sarjana Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
Malang
2020
Paradigma Interpretif untuk Kajian Akuntansi

Paradigma interpretif, yang dalam banyak hal juga disebut sebagai paradigma konstruktif,
menekankan bahwa penelitian pada dasarnya dilakukan untuk memahami realitas dunia apa
adanya. Suatu pemahaman atas sifat fundamental dunia sosial pada tingkatan pengalaman
subyektif. Pemahaman yang menekankan keberadaan tatanan sosial, konsensus, integrasi dan
kohesi sosial, solidaritas dan aktualitas.

Paradigma interpretif yang berakar dari tradisi pemikiran German ini mencakup suatu
rentang pemikiran filosofis dan sosiologis yang luas, namun memiliki karakteristik upaya yang
sama untuk memahami dan menjelaskan dunia sosial. Kesamaan tersebut terutama berpangkal
dari titik pandang bahwa aktor secara langsung terlibat dalam proses sosial. Dengan demikian
maka dalam mengkonstruksi ilmu sosial seharusnya tidak berfokus pada analisis struktur oleh
karena dunia sosial adalah realitas yang tidak independen dari kerangka pikiran manusia sebagai
aktor sosial. Aliran-aliran pemikiran yang termasuk dalam paradigma interpretif ini adalah
hermeneutika, solipsisme, fenomenologi, interaksionisme simbolik, dan ethnometodologi (lihat
Burrel & Morgan, 1979; 235-253), serta etnografi.

Hermeneutics
Hermeneutics menginterpretasikan dan memahami hasil pemikiran manusia yang
memberikan ciri pada dunia sosial dan kultural.

b. Solipsism
Solipsism mewakili bentuk paling ekstrim dari idealis subyektif yang menolak bahwa di
dalam dunia tidak terdapat realitas independen yang berbeda. Untuk seorang yang beraliran
solipis, dunia adalah hasil ciptaan pikirannya, secara ontologis tidak ada eksistensi diluar
sensasi yang diadakan oleh pikiran dan tubuhnya.

c. Phenomenology
Phenomenology terpecah menjadi dua yaitu fenomenologi transendental dan fenomenologi
eksistensial.
 Phenomenology transendental dikembangkan oleh Husserl menyatakan bahwa sains
sangat ditentukan oleh karakter intensionalitas. Aliran ini berupaya mencapai
obyektifitas absolut dalam menghasilkan sains. Oleh karena itu, penelitian model ini
cenderung menggunakan analisis kesadaran dan mengabaikan realita.
 Phenomenology eksistensial muncul dengan adanya penelitian Heidegger, Merleau-
Ponty, Sartre dan Shutz dimana mereka memiliki kesamaan dengan menempatkan dunia
nyata dengan kehidupan sehari-harinya sebagai lawan dari kesadaran transedental.

d. Phenomenological Sociology
Phenomenological sociology berkembang menjadi dua aliran yaitu Ethnomethodology dan
Symbolic Interaction.
 Ethnomethodology, aliran ini merupakan suatu pemahaman mendetail dari dunia dengan
kesehariannya sehingga pada dasarnya aliran ini mencari suatu aktifitas praktek, kondisi
praktek serta alasan sosiologis praktik dalam suatu penelitian empiris dan mengganggap
terjadinya suatu even tertentu sebagai suatu fenomena.
 Symbolic Interaction menekankan perlunya interaksi dimana individu menciptakan
dunia sosial mereka sendiri bukan hanya bereaksi terhadapnya, dengan demikian aliran
ini diturunkan dari lingkungannya bukan dari individu atau pelaku.

Gambar 1
Struktur paradigma Burrell dan Morgan (1994)

Hermeneutics

Solipsism
Transcendental
Phenomenology
Struktur
Phenomenology
Paradigma
Exixtential
Phenomenology

Ethnomethodology
Phenomenologic
al Sociology
Symbolic Interaction
Cara pandang interpretif dalam berbagai aspeknya, secara umum selaras dengan cara pandang
non-positivisme. Secara lebih detail, beberapa cara pandang interpretif tersebut meliputi
(dengan perbandingan cara pandang positivisme):

1. Dimensi Ontologis. Dimensi ini meliputi bagaimana cara pandang peneliti terhadap realitas
yang diteliti. Realitas adalah subyektif dan berganda sebagaimana yang diperlihatkan oleh
partisipan dalam studi.

Non-Positivisme Positivisme
Realitas adalah subyektif dan berganda Realitas adalah obyektif dan tunggal,
sebagaimana yang diperlihatkan oleh terlepas dari peneliti
partisipan dalam studi.

2. Dimensi Epistemologis. Dimensi ini meliputi cara pandang tentang bagaimana hubungan
peneliti dengan yang diteliti.

Non-Positivisme Positivisme
Peneliti berinteraksi dengan yang diteliti Peneliti independen dari yang diteliti

3. Dimensi Aksiologis. Dimensi ini meliputi cara pandang tentang peranan nilai-nilai.

Non-Positivisme Positivisme
Value-laden dan bias Value-free dan tidak bias

4. Dimensi Retoris. Dimensi ini meliputi cara pandang atas bahasa penelitian.

Non-Positivisme Positivisme
- Informal - Formal
- Mengembangkan keputusan - Berdasarkan pada seperangkat definisi
- Personal voice - Impersonal voice
- Kata-kata kualitatif - Kata-kata yang dikuantifikasi

5. Dimensi Metodologis. Dimensi ini meliputi cara pandang atas dilakukannya proses
penelitian.

Non-Positivisme Positivisme
- Proses induktif - Proses deduktif
- Mutual simultaneous shaping of factors - Sebab akibat
- Emerging design; kategori-kategori - Static design; kategori-kategori
diidentifikasi selama proses penelitian ditentukan sebelum penelitian
- Dibatasi konteks - Bebas konteks
- Pola-pola, teori-teori dikembangkan - Generalisasi untuk prediksi dan
untuk memahami eksplanasi
- Akurasi dan keandalan melalui verifikasi - Akurasi dan keandalan melalui validitas
dan reliabilitas

Menurut Cua 1986, Paradigma Interpretif dibagi menjadi tiga sudut pandang.

Assumptions Mainstream Interpretive Critical

Beliefs 1. Teori terpisah dari 4. Mencari penjelasan ilmiah 6. Kriteria untuk


About pengamatan tentang niat manusia menilai teori
Knowledge bersifat
2. hipotetis-deduktif 5. Study Etnografi, Studi temporal dan
dari penjelasan kasus, dan Observasi terikat konteks.
ilmiah diterima Partisipan
7. Sejarah,
3. Metode penelitian
kuantitatif dalam etnografi dan
pengumpulan dan studi kasus
analisis.

Beliefs 1. Realitas empiris 4. Semua tindakan memiliki 6. Manusia


About bersifat objektif makna dan niat yang memiliki potensi
Physical and dan eksternal secara retrospektif batiniah yang
Social terhadap subjek. diberkahi dan didasarkan teralienasi
Reality pada praktik sosial dan (dicegah dari
2. Tujuan tunggal kemunculan
historis
maksimalisasi
penuh) melalui
utilitas 5. Asusmsi Tatanan social mekanisme
diasumsikan stabil restriktif.
untuk individu dan
perusahaan.

3. Masyarakat dan
organisasi pada
dasarnya stabil;
Relationship 1. Akuntansi 3. Teori hanya berusaha 4. Teori memiliki
Between menentukan cara, menjelaskan tindakan dan imperatif kritis:
Theory and bukan tujuan. memahami bagaimana identifikasi dan
Practice tatanan sosial diproduksi penghapusan
2. Penerimaan dan direproduksi. praktik dominan
struktur
dan ideologis
kelembagaan
yang masih ada.

Referensi:

Burrel, G. dan G. Morgan. 1979. Sociological Paradigms and Organisational Analysis. Ashgate
Publishing Company, USA.
Budianto, I.M. 2002. Realitas dan Obyektifitas. Penerbit Wedatama Widya Sastra. Jakarta.
Chua, W.F. 1986. Radical Developments in Accounting Thought. The Accounting Review. Vol. 61,
No. 4 (Oct); 601-632.