Anda di halaman 1dari 60

Home Nasional

Nasional

Hamba Allah
Glorifying Allah (Habluminallah) and Loving Indonesian People (Habluminannas) by
Waking-Up Indonesian Citizens (surat Ar-Ra`d 13:11)
Sabtu 21 Juni 2014 15:29 WIB
Dibaca (209303)
Komentar (74)

Pencuri Dalam Selimut dan Pembodohan


ala Menteri Penerangan

Keterkaitan antara Militer, Mafia Perminyakan, dan Akun-Akun Penyebar


Kebohongan

"Since Allah is the Truth of Life, seeking truth means seeking Allah." -Team Hamba Allah
(estimasi waktu membaca: 10-15 menit)

KATA SAMBUTAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Tulisan ini sudah dishare lebih dari 49.000 orang di Facebook, Adri Prakarsa "Nidji", Kill
The DJ (Marzuki Mohamad), Superman is Dead, JFlow, Fadjroel Rachman, Ulin Yusron, M.
Iqbal Lubekran (staf Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama), Ndorokakung
(Wicaksono), Monstreza (Faizal Iskandar), Supermomo (Rama Baskoro), Badutromantis
(Intan Anggita), Iman Brotoseno, Agus Noor, Rahung Nasution, Kemal Arsjad, Kristina
"KD", Shafiq Pontoh, Anton DH Nugrahanto (Divisi Media Sosial Tim Pemenangan
Nasional Joko Widodo-Jusuf Kalla), Nadine Alexandra Dewi Ames (Puteri Indonesia 2010,
Miss Universe Indonesia 2011), dan masih banyak lagi di Twitter.

1. Tulisan ini sangat ditakutkan kubu Prahara, Muhammad Riza Chalid, Bambang
Trihatmodjo, Hutomo Mandala Putra, Anthony Salim, Tomy Winata, Aburizal
Bakrie, Probosutedjo, Bob Hasan, Mafia Berkeley pimpinan Pendiri Partai Soska
Indonesia Raden Mas Soemitro Djojohadikoesoemo (priyayi yang dididik di
Belanda), Yusril Ihza Mahendra, Fuad Bawazier, Ny Ani Yudhoyono, Nathaniel
Rothschild "Zionis", dan Rob Allyn "George W. Bush" untuk diketahui orang
banyak, khususnya yang tinggal di Sumatera Barat dan Jawa Barat.

2. Tulisan ini sangat membantu relawan Anies Baswedan-Dahlan Iskan-Joko Widodo-Tri


Rismaharini-Billy Boen dalam memahami peta politik Indonesia yang "ujung-ujungnya
duit" (/ “follow the money”) dan kami yakin suatu saat tulisan ini menyelamatkan Anda
dan membantu Anda dalam mengasihi ummat.

Akhir kata, kami sadar bahwa tulisan ini tidak mungkin ada tanpa data dan bantuan
dari Forum Studi Islam FEUI, Persekutuan Oikumene FEUI, Keluarga Umat Katolik Sivitas
Akademika FEUI, Badan Otonom Economica FEUI, PO UI, KMK UI, SALAM UI,
Masyarakat Desa Tulung Rejo Pare Kediri/"Kampung Inggris" (Smart, Elfast, Logico dan
The Gravity), Team Pengajar pro bono Masjid Terminal Depok Program SBMPTN, Indonesia
Mengajar, BTA Group (BTA 8 dan BTA 45), Open Government Indonesia, dan Indonesia
Mengglobal. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih dan tanpa mengulur waktu lebih
banyak, kami ucapkan selamat menikmati.
TEASER (PENGGODA)
MILITER

"Indonesia constitutes the greatest prize in the Southeast Asian area." -Richard Nixon, "Asia
After Vietnam", Foreign Affairs, October 1967, p. 111.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, usai Indonesia ditolak Amerika Serikat dalam
pembelian alutsista di zaman Perang Dingin dan Dr. (HC) Ir. Soekarno (Pendiri Partai PNI)
memutuskan untuk membeli alutsista dari Uni Soviet, terjadi tiga peristiwa yang amat
penting di Indonesia yakni "pemberian" Supersemar kepada Letnan Jenderal Soeharto,
pengeksekusian UU Penanaman Modal Asing oleh Pendiri Partai Soska Indonesia Raden Mas
Soemitro Djojohadikoesoemo (priyayi yang dididik di Belanda), dan penguasaan Pertamina
oleh militer. Oleh karena itu, kami sangat yakin bahwa orang tua Anda masih mengingat
dengan baik siapa Direktur Utama Pertamina tahun 1968-1976. Iya benar. Letnan Jenderal
Ibnu Sutowo yang tinggal persis di samping Jalan Cendana, Menteng.

Ia mulai aktif di dunia perminyakan sejak tahun 1956, resmi menjadi Direktur Utama
Pertamina sejak tahun 1968, dan sudah memiliki simpanan pribadi sekurang-kurangnya US$
226,2 juta pada tahun 1970. Tahun 1976, beliau diganti karena marak diberitakan soal korupsi
dalam jumlah yang sangat besar. Korupsi ini membuat Pertamina berutang sebesar US$ 10,5
miliar atau 30% total output (PDB) Indonesia saat itu. Luar biasa bukan?

*Selingan: Sejak tahun 1970, Ibnu Sutowo sering berpergian ke New York Amerika
Serikat dan sering menyuruh Bob Tutupoly datang ke New York untuk membawa rendang
dan menyanyi di restoran termahal di New York yang di-booking secara penuh oleh Ibnu
Sutowo.

*Selingan: Gaya hidup mewah Ibnu Sutowo dan keluarga yang lain dapat dilihat di
internet. Salah satu contohnya ada di http://www.merdeka.com/peristiwa/gay...-
keluarga.html

*Selingan: Ibnu Sutowo disebut Atmakusumah, Redaktur Pelaksana Harian Indonesia


Raya (surat kabar yang paling keras menyoroti kebijakan-kebijakan Ibnu Sutowo saat
itu), memegang kartu truf Letnan Jenderal Soeharto (mertua the American's fair-haired
boy.)
*Selingan: Lima bulan setelah "pemberian" Supersemar, Ibnu Sutowo menandatangani
perjanjian Production-Sharing Contract (PSC) dengan Independent Indonesian American
Petroleum Company (IIAPCO), perusahaan yang amat sangat kecil, yang berkantor pusat
di Delaware, Amerika Serikat. Menurut Greg Muttitt dalam Buku "A Game As Old As
Empire: The Secret World of Economic Hit Men and the Web of Global Corruption" yang
diterbitkan di Amerika Serikat, PSC Pertamina dengan IIAPCO tersebut merupakan PSC
yang pertama di dunia dan menyebar dari Indonesia ke seluruh dunia. Namun menurut
Muttitt, model PSC ini selalu melindungi perusahaan minyak asing dari gelombang
pasang nasionalisasi dan memberikan perusahaan minyak asing kontrol penuh
pengembangan dan dominasi keuntungan hingga saat ini. (Hal senada juga dikemukakan
oleh konsultan manajemen syariah dan kontributor Jakarta Globe, Idries de Vries.)

*Selingan: Entah dimana hati nurani Ibnu Sutowo. Saat itu, Indonesia masih dilanda
bencana kelaparan yang sangat besar. Namun karena cadangan devisa (/simpanan mata
uang asing oleh Bank Indonesia) tak cukup untuk mengimpor bahan pangan, negara-
negara sahabat terpaksa memberi bantuan pangan kepada Indonesia. Tak heran, tinggi
rata-rata penduduk Indonesia (baik pria maupun wanita) jauh lebih rendah daripada tinggi
rata-rata penduduk Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan bahkan
Kamboja.

Sayangnya, hingga detik ini ia tidak pernah diadili, keluarganya tetap tinggal di samping
Keluarga Cendana dan masih saja kerap membuat ulah, seperti menipu Gubernur DKI Jakarta
Ali Sadikin dan menipu Bank Indonesia.

*Selingan: Anak Ibnu Sutowo, Adiguna Sutowo, mendirikan PT Mugi Rekso Abadi
(MRA) pada tahun 1993. MRA memiliki 35 anak perusahaan, antara lain: Hard Rock Café
di Bali dan di Jakarta, Zoom Bar & Lounge, BC Bar, Cafe 21, Radio Hard Rock FM
(Jakarta, Bandung, Bali), i-Radio, majalah Cosmopolitan, majalah FHM, Four Seasons
Hotel dan Four Seasons Apartement di Bali, dealership Ferrari, Maserati, Mercedes Benz,
Harley Davidson, Ducati, dan Bulgari.

*Selingan: Adiguna Sutowo dan istri gitaris Piyu "Padi" terlibat dalam penabrakan pagar
rumah istri kedua Adiguna Sutowo.

*Selingan: Putra bungsu dari Adiguna Sutowo, Indraguna Sutowo (Pembalap), menikah
dengan Dian Sastrowardoyo (lulusan Filsafat, mantan pacar anak pendiri Pemuda
Pancasila) pada Mei 2010.

Titel Direktur Utama Pertamina boleh saja tidak lagi dipegang Ibnu Sutowo, namun
kekuasaan militer pada sektor perminyakan tetap mendominasi hingga hari ini. (Direktur
Utama Pertamina selanjutnya adalah Mayor Jenderal Piet Haryono, Mayor Jenderal Joedo
Soembono, dan Mayor Jenderal Abdul Rachman Ramly) Maka, bukan suatu pemandangan
yang langka di Indonesia, di samping kantor-kantor Pertamina terdapat markas-markas
militer.

*Selingan: Usai reformasi 1998, KKN antara perminyakan dan militer tidak dapat
dilenyapkan dan malah membantu militer berjaya kembali. Hal ini terwujud dengan
penggunakan BIN dan TNI (termasuk di dalamnya Babinsa) untuk memenangkan Partai
Demokrat di pemilu 2004, usai menantu Letnan Jenderal (Purn.) Sarwo Edhie
Wibowo, Susilo Bambang Yudhoyono, menjabat sebagai Menteri ESDM di tahun 1999-
2000. Bukti nyatanya adalah kehadiran petinggi-petinggi militer dalam jajaran tim sukses
Jend. (Purn) SBY tahun 2004. Di antaranya adalah Sudi Silalahi (Sesmenko Polhukam
waktu itu), Azis Ahmadi (sekretaris pribadi Menko Polhukam), Kolonel Kurdi Mustofa
(Asisten Deputi Politik Dalam Negeri di Kemenko Polhukam), Mayor Jenderal
Muhammad Yasin, dan Mayor Jenderal Setia Purwaka.

*Selingan: Hal di atas termasuk dalam lima pertanyaan yang diajukan Megawati
Soekarnoputri sejak tahun 2006 yang hingga kini belum dijawab oleh SBY.

Untuk mengetahui seberapa seksinya perminyakan Indonesia, silakan cermati perhitungan


KPK atas pemasukan potensial negara dari sektor perminyakan bila seluruh aktivitas
mematuhi hukum (/tidak ada penyelundupan, penyuapan, gratifikasi, dan korupsi) Hasilnya
adalah 20.000 triliun per tahun, 220% dari jumlah keseluruhan output (PDB) Indonesia per
tahun 2013, atau 1.340% dari realisasi belanja negara tahun 2013.

*Fakta: Mahfud MD pernah menyebut Pertamina sebagai “sarang koruptor”.

*Fakta: Todung Mulya Lubis mengapresiasi keblak-blakan Jusuf Kalla yang mengangkat
soal mafia migas untuk pertama kali di tataran nasional.

*Fakta: Dari tahun 2007 hingga tahun 2012, secara kasar terdapat kekurangan 654 triliun
rupiah pada penerimaan negara bukan pajak (PNPB) migas di Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (Audited) bila PNPB migas dihitung sesuai Laporan Tahunan SKK
Migas.

*Fakta: Menurut Laporan Rekonsiliasi EITI Indonesia Sektor Migas 2010 - 2011 yang
dirilis pada 21 April 2014, Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk untuk melakukan
rekonsiliasi penerimaan pajak dan non-pajak pemerintah dari PSC Contractors (KKKS)
mengaku bahwa sulit untuk mengevaluasi konsistensi dan kebenaran Financial Quarterly
Report (FQR) dengan Authorized for Expenditure (AFE), Work Program & Budget
(WP&B), dan Plan of Development (POD.) Menurut seorang manajer KAP Gideon Adi
dan Rekan pada kuliah tamu di FEUI, hal tersebut disebabkan oleh perlakuan sangat tidak
kooperatif para PNS (para pelayan publik) di Bidang Perencanaan SKK Migas. Oleh
karena itu, beliau menyarankan agar mahasiswa FEUI mempelajari Temuan Audit BPK
atas SKK Migas, menelaah kelemahan-kelemahan pada PTK PSC Contractors
(KKKS) AFE 074, WP&B 073, dan POD 072, dan mempertimbangkan ketidakadaan SOP
atau Manual Book untuk tiap fungsi di SKK Migas.

*Fakta: Karena perminyakan sangat-sangat menarik, tak heran kalau fokus KPK saat ini
adalah membersihkan Kementerian ESDM dari koruptor-koruptor. Contoh-contohnya
adalah memvonis mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini (Alumni dan Guru Besar
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB), dengan hukuman 7 tahun penjara;
menetapkan mantan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Waryono Karno, sebagai
tersangka; menetapkan Ketua Komisi VII (Energi Sumber Daya Mineral) DPR sekaligus
Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, sebagai tersangka; mencegah staf Menteri
ESDM, I Gusti Putu Ade Pranjaya, untuk ke luar negeri; mencegah Direktur Utama PT
Rajawali Swiber Cakrawala, Deni Karmaina (teman Edhie Baskoro Yudhoyono), untuk ke
luar negeri; memanggil Triesnawati Wacik (istri Jero Wacik) dan Ayu Vibrasita (anak Jero
Wacik) dan menetapkan Menteri ESDM dan Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat
Jero Wacik (Alumni ITB) sebagai tersangka.

*Fakta: UU No. 22 Tahun 2001 mencabut hak Pertamina sebagai satu-satunya pemegang
kuasa migas negara dan memposisikan Pertamina hanya menjadi kontraktor yang harus
bersaing tanpa keistimewaan apapun dengan kontraktor-kontraktor asing dan swasta yang
sudah jauh lebih besar. UU ini dimotori oleh Marsekal Madya (Purn.) Ginandjar
Kartasasmita (Alumni ITB, Menteri ESDM zaman Soeharto, Tersangka Mark-Up Kilang
Balongan, Wakil Ketua MPR tahun 1999-2004, Fraksi Golkar), Arifin Panigoro "Medco
Energy" (Alumni ITB, Anak Didik Kesayangan Ginandjar Kartasasmita, Partner Bisnis
Hatta Rajasa, Sahabat alumni ITB Laksamana Sukardi tersangka kasus penjualan VLCC
di bawah harga pasar, dan Pendiri Partai PDP yang dipecat Megawati Soekarnoputri), dan
Fuad Bawazier (Dirjen Pajak dari tahun 1993 sampai tahun 1998, Menteri Keuangan
tahun 1998, Penyalur uang Keluarga Cendana ke Poros Tengah dan Amien Rais, Anggota
MPR-RI dari PAN tahun 1999-2004, Anggota DPR-RI dari PAN tahun 2004-2009, Satu
dari Dua Calon Ketua Umum PAN tahun 2005-2010, dan Anggota Dewan Pakar Tim
Kampanye Prabowo-Hatta)

*Fakta: Menurut dokumen USAID pada tahun 2002, USAID mengakui bahwa institusinya
lah yang membuat draft/naskah akademis Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 dan
memperlancar pengesahannya. [Bila ingin dicermati, Menteri ESDM saat pengajuan
adalah Kuntoro Mangkusubroto (Alumni ITB), Menteri ESDM saat pembahasan adalah
Jend. (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono, dan Menteri ESDM saat pengesahan adalah
Purnomo Yusgiantoro (Alumni ITB).]

*Fakta: Menurut Prof. Sidharta Utama, C.F.A. (pakar tatakelola perusahaan/corporate


governance ternama di Indonesia); ada fenomena pada perusahaan-perusahaan migas dan
pertambangan di Indonesia yakni keberadaan anggota dewan direksi atau komisaris yang
berlatar belakang militer, polisi, atau politikus.

*Fakta: Menurut David Ransom, warga negara Amerika Serikat lulusan Harvard, dalam
laporannya di Majalah Ramparts Oktober 1970 dan di Buku "The Trojan Horse: A Radical
Look at Foreign Aid" tahun 1974, pada awal tahun 1949, di sekolah yang didanai oleh
Yayasan Ford, School of Advanced International Studies di Washington, Raden Mas
Soemitro Djojohadikusumo menjelaskan bahwa Partai Soska Indonesia yang didirikannya
bersama K.R.T. Soedjatmoko Mangoendiningrat bermazhabkan sosialisme yang
memperbolehkan "free access" kepada sumberdaya alam Indonesia dan memberikan
"sufficient incentives" untuk investasi korporasi asing. Tak heran, pada 17 Juli 2013 di
Washington, ananda Hashim tanpa tedeng aling-aling mengakui ia seorang kapitalis,
membenarkan bahwa Prabowo sangat pro-Amerika, dan mengatakan AS akan tetap
menjadi partner yang istimewa di pemerintahan Gerindra.

*Selingan: Laporan David Ransom kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa


Indonesia oleh Koalisi Anti Utang (KAU) dan disebarluaskan pada tahun 2006.

*Fakta: Menurut majalah TIME tanggal 10 November 1967 dan dokumen Kedutaan Besar
Amerika Serikat untuk Indonesia pada tahun 1969, pada tanggal 2-4 November 1967
Adam Malik, Sultan Hamengkubuwono IX (Triumvirat), Kanjeng Pangeran Haryo Selo
Soemardjan, Prof. Dr. Raden Mas Soemitro Djojohadikusumo, Prof. Dr. Moh. Sadli, dan
Prof. Widjojo Nitisastro menemui "money kings" dalam acara "Indonesian Investment
Conference: To Aid in the Rebuilding of a Nation" di Geneva, Swiss.
*Fakta: Menurut John Pilger (jurnalis investigatif kelahiran Australia dan warga negara
Australia dan Inggris) dalam tulisan yang berjudul "Globalisation in Indonesia: Spoils of a
Massacre" yang diterbitkan oleh Guardian pada 14 Juli 2001 dan buku yang berjudul "The
New Rulers of the World" yang best-seller di Inggris pada tahun 2002, para
ekonom lulusan Universitas California, Berkeley menawarkan "unskilled labor" yang
melimpah di Indonesia dan David Rockefeller (presiden Chase Manhattan Bank dan anak
pelopor bisnis minyak dunia dan pendiri kerajaan minyak Standard Oil yang melahirkan
perusahaan-perusahaan minyak raksasa, Exxon dan Chevron) memimpin sesi pembagian
sektor usaha dan perencanaan hukum investasi di Indonesia. (Hal ini diamini oleh Bradley
Simpsons dalam bukunya yang berjudul Economists with Guns: Authoritarian
Development and U.S.-Indonesian Relations, 1960-1968 yang diterbitkan oleh Stanford
University Press pada tahun 2008.)

*Fakta: Menurut John Perkins, konsultan ternama Parson Chas T. Main, Inc. (MAIN),
dalam Buku "Confessions of an Economic Hit Man" yang diterbitkan pada Agustus 2004
dan menjadi New York Times Bestseller tahun itu; pertumbuhan yang berbasis
PDomestikB (/jumlah keseluruhan output yang BERADA di Indonesia-baik yang dimiliki
asing maupun yang dimiliki WNI-, bukan PNasionalB/jumlah keseluruhan output yang
DIMILIKI Warga Negara Indonesia-baik yang berada di luar negeri maupun yang berada
di dalam negeri-) sama sekali tidak menjamin apakah sesungguhnya ada pertumbuhan
yang nyata pada pendapatan tiap warga negara Indonesia, sering sekali yang tumbuh
malah pendapatan perusahaan asing atau hanya pendapatan segelintir pejabat negara saja.
Tak heran, Amerika Serikat sendiri sekarang malah mengutamakan penggunaan indeks
kesenjangan pendapatan dan tingkat pengangguran negaranya dalam meracik kebijakan
fiskal dan moneter, alih-alih perubahan PDB dari tahun ke tahun.

*Selingan: Walaupun ditentang keras Prof. Sri-Edi Swasono (menantu pertama Bung
Hatta, suami Prof. Meutia Hatta, dan Guru Besar Ekonomi Kerakyatan FEUI) karena
dianggap mencuci otak dan menjauhkan mahasiswa FEUI dari amanah Pasal 33 UUD
1945; Prof. Sumitro Djojohadikusumo (besan Presiden Jenderal Besar Soeharto dan
mertua Gubernur BI tahun 1993-1998 Sudrajad Djiwandono yang mengucurkan BLBI)
tak pernah berhenti fanatik mengajarkan ICOR (Perubahan Savings dan Foreign
Debt:Perubahan PDB) kepada mahasiswa-mahasiswa FEUI.

*Fakta: Menurut Dr. Hadi Soebadio dalam Buku "Hubungan Indonesia-Amerika Serikat
Dasawarsa Ke II tahun 1955-1965" yang diterbitkan pada tahun 2005, Soekarno adalah
penentang Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme) dalam berbagai bentuk/"go to
hell with your aid" dan bapak pendiri bangsa kita ini memandang bahwa Uni Soviet lebih
bisa dipercaya ketimbang AS karena Uni Soviet belum pernah menjadi negara kolonial di
luar negeri, sebaliknya Inggris dan Perancis adalah bekas negara-negara kolonial yang
bersahabat dengan Amerika.

*Fakta: Menurut Jenderal (Purn.) Ryamizard Ryacudu/"Si Hadis" dalam bukunya yang
berjudul "Bangsa Indonesia Terjebak Perang Modern" yang diterbitkan dua bulan sebelum
ia diberhentikan SBY, penyelesaian konflik/separatisme daerah di Papua melibatkan
Amerika Serikat.

*Fakta: Menurut profesor sejarah Universitas Amsterdam di Belanda, Prof. Frances


Gouda, sejak tahun 1946, Washington mendukung Belanda dan kepemilikannya atas
daerah-daerah jajahan melalui Marshall Plan, tidak mengakui nasionalisasi aset yang
dilakukan kaum nasionalis Indonesia, dan diam-diam mengizinkan tentara Belanda untuk
menggunakan peralatan militer AS. Tak heran, Soekarno melayangkan protes kepada
Washington, yang menyatakan bahwa Belanda menyalahgunakan senjata, amunisi, dan
baju seragam Amerika.

*Fakta: Menurut Ketua Dewan Koperasi Indonesia; Prof. Sri-Edi Swasono; Soekarno
sangat menentang paham liberalisme dan bahkan, pada kuliah tahunan tahun 1958,
beliau menegur BEM FEUI karena pandai mengutip Schumpeter dan Keynes tetapi
melupakan literatur Marx.

*Fakta: Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 mewajibkan "Bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.", bukan “...dipergunakan untuk sebesar-besarnya beberapa dinasti
yang tindakannya berkontradiksi dengan ucapannya”, seperti yang dirasakan
oleh penduduk Sumbawa dan penduduk Rusia.
MAFIA PERMINYAKAN

Foto: Muhammad Riza Chalid “Gasoline Godfather”, Purnomo Yusgiantoro (Menteri ESDM selama 9 tahun,
Golkar, Alumni ITB), dan Hatta Rajasa (Alumni ITB) pada acara pernikahan anak Muhammad Riza Chalid

Karena semua kalangan berpendidikan telah mengetahui mengenai Muhammad Riza


Chalid “Gasoline Godfather” di Petral (Pertamina Energy Trading Limited), Hutomo
Mandala Putra (Humpuss Group), Bambang Trihatmodjo (Bimantara Grup) (ipar-ipar salah
satu capres), dan Hatta Rajasa dalam memaling uang rakyat dan hak rakyat di perminyakan,
kami hanya akan memberikan sedikit generous clues for non engineering or economics
graduates:

1. Fakta: Pada 9 Juni 2014, Koran “Jakarta Post” memuat wawancara dengan Hatta
Rajasa. Hatta Rajasa mengakui bahwa ia telah bersahabat dengan Muhammad Riza Chalid
(MRC) selama beberapa dekade, mengatakan bahwa MRC mempunyai bisnis impor
minyak, dan mengatakan bahwa ia kenal MRC dan Haji Harris Efendi Thahir (Ketua
Umum Majelis Dzikir SBY Nurussalam) dari Majelis Dzikir.

2. Fakta: Melihat sejarah Hatta Rajasa, ia dikenal sebagai salah satu pengusaha yang sejak
tahun 1980 bergabung dengan Medco Energy milik Arifin Panigoro (Alumni ITB dan
Pendiri Partai PDP) di Singapura dan di Indonesia.
3. Fakta: Tabloid "Politic" Edisi 15 di Bulan Mei 2012 memaparkan bahwa Muhammad
Riza Chalid mempunyai bisnis impor minyak, mempunyai Kidzania (di Pacific Place,
SCBD Tomy Winata), mendirikan Al-Jabr Islamic International School yang diresmikan
oleh Menteri Agama Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si., dan menempati rumah di Jalan
Wijaya (di belakang Mabes Polri dan di kawasan SCBD Tomy Winata Bank Artha Graha).

4. Fakta: Pada Rabu, 2 Juli 2014, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Prof. Dr. Emil
Salim, Ph.D (keponakan Haji Agus Salim, Pendiri Partai PAN) menegaskan bahwa “R”
adalah sahabat salah satu cawapres, R adalah keturunan Pakistan, R sangat ingin subsidi
BBM tetap ada dan membesar karena akan semakin menguntungkan dirinya, dan terakhir
kita membangun kilang penyulingan minyak (refinery) adalah pada sekitar zaman
Marsekal Madya (Purn.) Ginandjar Kartasasmita (Alumni ITB).

5. Fakta: Nama Riza Chalid makin ramai disebut-sebut sejak pemberitaan bahwa Menteri
Negara BUMN Dahlan Iskan hendak membubarkan Petral karena disinyalir jadi sarang
korupsi. Namun, belum tuntas rencana Dahlan Iskan membubarkan Petral, ia keburu
dipanggil dan ditegur keras oleh Presiden Jenderal (Purn.) SBY dan Hatta Rajasa di depan
Karen Agustiawan (Alumni ITB). Isu pembubaran Petral pun kembali menguap.

6. Fakta: Laporan Utama di Majalah GEO ENERGI Indonesia edisi Januari 2014: "Ambisi
Pertamina buat (Si)apa?" yang ditulis oleh Sri Widodo Soetardjowijono, Ishak Pardosi,
Amanda Puspita Sari, Faisal Ramadhan, dan Indra Maliara menguraikan bagaimana 60
persen anggota kabinet SBY berasal dari rekomendasi Riza Chalid (dimasukkan
melalui Hatta Rajasa-untuk mengamankan bisnis minyak Riza Chalid) dan bagaimana
pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Ruby Aliya Rajasa diyakini hampir seluruh
elemen masyarakat Indonesia berfungsi untuk mempertebal dan mengembangkan dinasti
Ny Ani Yudhoyono (anak Letjen Sarwo Edhie Wibowo) dan Hatta Rajasa di Indonesia.

7. Fakta: Dr. Theodorus M. Tuanakotta, S.E., M.B.A. (Mantan CEO Deloitte salah satu
Big4 Kantor Akuntan Publik/Auditor Independen di dunia, MBA dari Harvard Business
School, pendiri Ikatan Akuntan Indonesia – Seksi Akuntan Publik, Tenaga Ahli BPK dan
KPK, penulis buku "Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif" dan "Mendeteksi
Manipulasi Laporan Keuangan" yang sangat populer, penerima Satyalancana Wira Karya,
dan anggota staf pengajar dan peneliti di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia)
menuturkan bahwa Hatta Rajasa memiliki influence amat sangat besar di Indonesia karena
ia terlibat dengan Muhammad Riza Chalid "Gasoline Godfather" Pertamina Energy
Trading Limited (Petral) di Singapura. Menurut Pak Theo, Riza Chalid menghasilkan US$
2,597 juta per hari setara 31,164 miliar rupiah per hari (Kalkulasi: Impor 700rb
barrel/hari x 80% Petral x 41,67% Riza Chalid x 159 liter/barrel x US$ 0,07 mark-up/liter
x Rp12.000/US$), sementara keluarga Ani Yudhoyono mendapat US$ 0,5 per
barrel dari minyak mentah dan minyak olahan baik yang diimpor maupun yang
diekspor setara 8,522 miliar rupiah per hari (Kalkulasi: Minyak Mentah [Ekspor
13.017.000 ton/tahun + Impor 16.015.600 ton/tahun = 29.032.600 ton/tahun * 7,418
barrel/ton = 215.363.826,8 barrel/tahun] + Minyak Olahan [Ekspor 5.914.700 ton/tahun +
Impor 29.612.100 ton/tahun = 35.526.800 35.526.800 ton/tahun * 8,53 barrel/ton =
303.043.604 barrel/tahun] = 518.407.430,8 barrel/tahun * US$ 0,5/barrel =
US$ 259.203.715,4/tahun * Kurs Rp12.000/US$ = Rp3.110.444.584.800/tahun =
Rp8.521.765.985,75/hari.) (Hal senada juga dipublikasikan oleh Menteri Koordinator
bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan di zaman kyai haji yang gemar membaca,
Dr. Rizal Ramli, Ph.D.; Guru Besar Manajemen UI, Prof. Rhenald Kasali, S.E., M.Sc.,
Ph.D.; peneliti PPE FEB UMS, Dr. Daryono Soebagyo, M.Ec.; peneliti senior Indonesian
Resources Studies, Ir. Samsul Hilal, M.S.E.; dan Direktur Eksekutif Indonesia Mining and
Energy Studies, Erwin Usman.)

Foto: Muhammad Riza Chalid "Gasoline Godfather" dan Wakil Ketua Tim Pemenangan
Prabowo-Hatta, Letjen TNI (Purn) Burhanuddin di Rumah Polonia

Utama: Permainan antara Muhammad Riza Chalid “Gasoline Godfather” di Petral dan Hatta
Rajasa

*Fakta: Trend pendidikan S1 Direktur Utama Pertamina akhir-akhir ini (Martiono


Hadianto, Baihaki Hakim, Ariffi Nawawi, dan Karen Agustiawan) adalah Teknik ITB dan
Hatta Rajasa (besan Ani Yudhoyono) berasal dari S1 Teknik Perminyakan ITB.

*Fakta: Pada 11 Februari 2014, Wakil Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas
Bumi (BPH Migas), M. Fanshurullah Asa, kembali menegaskan fakta bahwa Indonesia
mengimpor BBM dari Singapura, negara yang tidak ada eksplorasi (pencarian) dan
eksploitasi (produksi) minyak.

*Fakta: Walaupun Singapura tidak memiliki sumur minyak, kapasitas penyulingan minyak
(refinery) di Singapura adalah 1,4 juta barrel/hari, sedangkan kapasitas di Indonesia hanya
1,1 juta barrel/hari.

*Fakta: Majalah Intelijen edisi 5-18 November 2009 mengulas mengenai perusahaan
induk Riza Chalid, Petral dan Global Energy Resources, dan anak-anak perusahaannya
Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil, dan Cosmic Petroleum di British
Virgin Island dan kongsi bisnisnya yang bersifat tidak transparan dengan Pertamina.

*Fakta: Pada Selasa 25 November 2014, Plt. Dirjen Migas Kementerian ESDM, Naryanto
Wagimin, mengakui bahwa Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) adalah salah satu
pemegang saham Petral.

*Fakta: Pada unjuk rasa di depan Gedung KPK pada Selasa, 3 Juni 2014 , Direktur
Riset Badan Pemerhati (BP) Migas, Syafti Hidayat; Koordinator Jaringan Aksi Mahasiswa
(JAM) Indonesia, Anyonk Latupono; dan Koordinator Lapangan Koalisi Mahasiswa
Jakarta (KMJ), Saefullah Muhammad menuntut KPK memeriksa Hatta Rajasa atas
perannya sebagai mafia migas.

*Fakta: Pada Senin 16 Juni 2014, Direktur Pengolahan Solidaritas Kerakyatan Khusus
(SKK) Migas, Ferdinand Hutahayan, telah melaporkan Hatta Rajasa kepada KPK dan
menyampaikan bukti-bukti yang dimilikinya. Lebih jauh, Ferdinand mengatakan mafia
perminyakan meraup untung sedikitnya Rp 100 miliar per hari atau Rp 36 triliun per
tahun.

*Fakta: Pada Kamis 3 Juli 2014, ratusan massa Aliansi Zatapi SP3 mengadakan aksi
teatrikal di Bundaran HI dan demo di depan Kantor Kemenko Perekonomian dan Kantor
Kementerian BUMN menuntut pembubaran Petral karena melakukan mark-up paling
sedikit US$ 5 per barrel.

*Fakta: Pada tahun 2012, secara kasar Pertamina lebih bayar US$ 2,869 miliar atau setara
34,4 triliun rupiah atas BBM impor. (Kalkulasi: [{Impor Hasil Minyak dan Lainnya US$
28.495.656.000 - Impor Gas Bumi US$ 839.489.000}/Impor Produk Kilang dan
Pembelian Domestik Pertamina 226.470.000 barrel = US$ 122,12/barrel - Harga Rata-
Rata Minyak OPEC pada Tahun 2012 US$ 109,45/barrel = Selisih US$ 12,67/barrel] x
Impor Produk Kilang dan Pembelian Domestik 226.470.000 barrel.) Asumsi: Kuantitas
yang diimpor tiap hari sama sepanjang tahun dan kurs Rp12.000/US$). Ke depannya,
kami sarankan audit working papers/audit files seluruh BUMN, seperti Pertamina, dapat
dibaca oleh seluruh pembayar pajak/WNI.

*Fakta: Silakan melihat laporan keuangan Pertamina bagian Opini Auditor Independen
PricewaterhouseCoopers, Petral di Singapura yang notabene berperan sangat penting bagi
kita, negara raksasa pengimpor minyak, malahan tidak diaudit oleh PwC sendiri dengan
alasan aset lancar (kas, piutang, dsb) dan aset tetap (bangunan, dsb)-nya kecil. Padahal
dengan diauditnya Petral oleh PwC sendiri, mungkin dapat mengungkap kecurigaan harga
beli BBM yang sesungguhnya yang selama ini memberatkan pos belanja negara sekali
pakai habis/mengikat (subsidi).

*Fakta: Banyak kegeraman warga di twitter, facebook, dan instagram yang intinya
menceritakan ambisi menggebu-gebu Muhammad Riza Chalid agar Hatta Rajasa menjadi
orang nomor 1 di negeri ini. Dimulai dari Riza Chalid berusaha sangat keras untuk
mencomblangi Joko Widodo dengan Hatta Rajasa. Salah satunya adalah dengan
mendorong Amien Rais (sahabat karib Fuad Bawazier) untuk menyuarakan duet Joko
Widodo-Hatta Rajasa dari jauh-jauh hari, membuat team desain untuk membuat gambar-
gambar “JKW-HR” untuk di BBM, Twitter, Facebook, dan spanduk; dan bahkan, usai
pileg, Riza Chalid dan Hatta Rajasa mendatangi pemenang Bung Hatta Anti-Corruption
Award untuk mengajukan dana kampanye tidak terbatas dengan ganti Hatta Rajasa
menjadi wakil dirinya dan platform pengelolaan Sumber Daya Alam akan diatur oleh
PAN.
Tentu saja, hal ini ditolak mentah-mentah oleh Jokowi dan mereka pun terpaksa
menciptakan duet dadakan Prabowo-Hatta dengan mahar 10 triliun. (Berbanding terbalik
dengan Jokowi, Prabowo yang megap-megap keuangannya menerima duet dan uang ini).
Usai transaksi tersebut, Bos Petral yang merugikan negara 75 triliun per tahun ini
kemudian membeli rumah Yurike Sanger, istri ketujuh Soekarno, untuk memberi kesan
Sukarnois melalui Haji Harris Efendi Thahir (Ketua Umum Majelis Dzikir SBY
Nurussalam). Dalam menjaga investasinya, Riza Chalid rutin mengunjungi Rumah
Polonia, membiayai tabloid “Obor Rakyat” yang dipimpin Asisten Staf Khusus Presiden
Setyardi Boediono (penulis buku “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi, George Revisi Buku”
atau buku tandingan "Membongkar Gurita Cikeas" pada tahun 2009) dan Muchlis Hasyim
Jahya (CEO Inilah Group [http://www.inilah.com, http://www.inilahjabar.com dan Inilah
Koran]), dan, bersama dengan Hatta Rajasa, menghalalkan segala cara untuk memenangi
pilpres ini. Salah satu bentuk penghalalan segala cara yang dapat memicu Allah murka
adalah menghilangkan makna suci “Perang Badar”, menggaet Pemuda Pancasila FPI FBR,
mencuri start dengan memaparkan visi-misi di tvOne milik Aburizal Bakrie, membentuk
laskar cyber bayaran yang memelintir berita buruk tentang Prabowo dan Hatta Rajasa
menjadi baik dan melancarkan kampanye jahat kepada Jokowi, mencoba menipu mereka
yang tidak mempunyai akses internet yang memadai dengan berbagai kampanye hitam,
membuat surat palsu pemanggilan Jokowi terkait Bus TransJakarta yang dibuat oleh Edgar
S. Jonathan (Ketua Tunas Indonesia Raya yang dekat dengan CameoProject saat membuat
flashmob baju kotak-kotak untuk kampanye Basuki-Jokowi di tahun 2012), melalui
Progres 98 pimpinan Faizal Assegaf mencatut nama KPK untuk memfitnah dengan isu
transkrip palsu dan kepemilikan rekening di Bank Shangai (yang sudah dituntut oleh KPK,
Jaksa Agung, dan Megawati), menggunakan politik uang, menyulut emosi Pancasilais
PDI-Perjuangan dengan mengatakan PDI-Perjuangan adalah jiplakan PKI melalui tvOne
milik Aburizal Bakrie (Update: tvOne sudah minta maaf), mengganggu konsentrasi Jusuf
Kalla sepanjang debat cawapres yang disiarkan di RCTI, Global TV dan MNC TV milik
Hary Tanoesoedibjo dan Bambang Trihatmodjo yang ditonton oleh ratusan juta penduduk
Indonesia, melarang moderator debat keempat Dwikorita Karnawati (Wakil Rektor UGM)
melihat ke arah calon-calon menteri Prahara dan hadirin di belakang dirinya, dan Hatta
Rajasa tidak dapat menahan senyum ketika menikmati hal ini. Tindakan-tindakan tidak
beradab calon menteri-menteri Prahara (duduk di belakang Hatta Rajasa) dan hadirin (di
belakang moderator) ini sungguh tidak pantas ada di depan mata Allah dan di negeri ini.

*Kabar belum terkonfirmasi: Simson Panjaitan yang berlatar belakang hukum dan minim
pengalaman ditempatkan menjadi kepala keuangan (Head of Finance) di Petral.

*Kabar belum terkonfirmasi: Wijasih Cahyasari “Wiwiek”, kakak Ani Yudhoyono, pernah
menerima US$ 400 ribu dari Riza Chalid sebagai ganti Riza Chalid membatalkan
pertemuan Wiwiek dan Dirut Petral Nawazier.

*Kabar belum terkonfirmasi: Ari Soemarno (Alumni RWTH Aachen, Jerman)


diberhentikan usai menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina tahun 2006-2009 karena
berhasil membentuk Integrated Supply Chain (ISC) untuk pembelian tender impor yang
fair, ingin memindahkan Petral dari Singapura ke Batam, dan dikhawatirkan dekat dengan
Megawati seperti adiknya, Rini Mariani Soemarno (Menperin tahun 2001-2004).

*Selingan: Walaupun diberi jabatan Menteri Koodinator Bidang Perekonomian, Hatta


Rajasa dianggap sangat tidak mengerti ekonomi dan menjadi bahan tertawaan oleh Chatib
Basri, Faisal Basri, Darmin Nasution, Fauziah Zen, Telisa Falianty, Lana
Soelistianingsih, Mawar I. R. Napitupulu, dan hampir seluruh dosen yang mengajar di
FEUI. Satu dari sekian banyak contoh yang mudah adalah ucapan Hatta Rajasa pada tahun
2010 yang menargetkan PDB Nominal mencapai angka Rp 10.000 triliun per tahun 2014.
Pak Chatib Basri (sebelum terpilih jadi menteri) mengatakan "Menko Ekuin kalian
sekarang tol*l banget tuh.. Masa' menggunakan PDB Nominal sebagai target.. Kalau saya
jadi dia sih, gampang saja, saya naikan saja inflasi dua kali lipat." Hal ini sontak disambut
tawa menggelegar satu kelas besar. Bagaimana mungkin seorang menko ekuin tidak
mengetahui perbedaan antara PDB Nominal dan PDB Riil (yang sudah di-adjust dengan
inflasi/kenaikan harga); sesuatu yang telah diajarkan di Pengantar Ekonomi 1.

Utama: Keburukan Setahun sebelum Pilpres

*Fakta: Pada Maret 2013, Hatta Rajasa, Wakil Menteri ESDM, dan Karen Agustiawan
berangkat ke Irak untuk membeli ConocoPhillips Algeria Ltd dengan harga US$ 1,75
miliar yang diklaim Pertamina menghasilkan 23.000 barrel per hari. Di lain sisi, Reuters
mengatakan net carrying value ConocoPhillips Algeria Ltd hanyalah US$ 850 juta dan
rata-rata produksinya hanya 11.000 barrel per hari. Maka bila kita hitung, terdapat
kelebihan bayar US$ 900 juta atau setara 10,8 triliun rupiah (kurs Rp12.000/US$) dan
selisih produksi 12.000 barrel per hari. Kemana larinya?
*Fakta: Pada Senin 9 Desember 2013, bersamaan dengan tragedi tabrakan KRL dan mobil
tangki Pertamina di Bintaro, Pertamina melakukan ground breaking proyek pembangunan
Pertamina Energy Tower setinggi 99 lantai dengan total biaya lebih dari US$ 850 juta
atau 10,2 triliun rupiah (kurs Rp12.000/US$). Dalihnya adalah untuk menyaingi gedung
Petronas setinggi 88 lantai.

*Fakta: Ari Soemarno (mantan Direktur Utama Pertamina, alumni RWTH Aachen Jerman)
sangat tidak setuju tindakan Pertamina untuk membangun gedung yang menyaingi tinggi
gedung Petronas bila 70 persen pendapatan Pertamina masih berasal dari penjualan BBM
Bersubsidi. Lebih jauh, Direktur Eksekutif Indonesia Energi Monitoring, Zuli
Hendriyanto, juga sependapat dan menyarankan agar Pertamina fokus memperbaiki
kondisi internalnya terlebih dahulu.

*Fakta: Realisasi subsidi BBM tahun 2013 adalah 210 triliun rupiah (49% untuk mobil
pribadi), sementara dividen Pertamina kepada Pemerintah Indonesia untuk tahun buku
2013 hanyalah 4,5%-nya (atau 9,5 triliun rupiah). Sedangkan, dividen Petronas kepada
Pemerintah Malaysia untuk tahun buku 2013 adalah 101 triliun rupiah.

*Fakta: Kalangan akuntan publik/auditor independen tergelak terbahak-bahak usai melihat


iklan-iklan pembodohan masyarakat khas Pertamina di Koran KOMPAS dan lain-lain atas
"keberhasilan perusahaan" masuk Fortune 500 (500 perusahaan terbesar dari segi
pendapatan, bukan laba bersih yang sudah dikurangi beban operasi) kendati Pertamina
masih mendapat bantuan subsidi dari pemerintah dan tidak seefisien Shell, Total, dan
Petronas.

Utama: Permainan oleh Keluarga Ani Yudhoyono dan Partai Demokrat

*Fakta: Hatta Rajasa dan Marzuki Alie (Wakil Ketua Umum Majelis Tinggi Partai
Demokrat, Ketua DPR tahun 2009-sekarang) lahir dan dibesarkan di Palembang.

*Fakta: Usai Purnomo Yusgiantoro (Golkar, Alumni ITB) menjabat sebagai Menteri
ESDM selama 9 tahun, ia langsung digantikan dengan pendiri dan anggota Dewan
Pembina Partai Demokrat (Darwin Zahedy Saleh) selama dua tahun dan, kemudian,
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat dan Alumni ITB (Jero Wacik) sampai sekarang.

*Fakta: Menurut buku "Cikeas Kian Menggurita" yang ditulis George Junus Aditjondro
dan diterbitkan Galang Press, keluarga Ani Yudhoyono terlibat dalam sindikat mafia
perminyakan guna menambah kekayaan dan kekuasaan. Untuk memastikan ini, silakan
Anda mencari tahu alasan di balik grasi Schapelle Leigh Corby (Warga Negara Australia),
usai santer diberitakan penyadapan Australia memperoleh bukti-bukti bahwa keluarga
besar Ani Yudhoyono, khususnya Erwin Sudjono (kakak ipar Ani Yudhoyono), sangat
aktif dalam mafia perminyakan.
Foto: Erwin Sudjono, mantan Pangkostrad (kakak ipar Ani Yudhoyono, suami Wiwiek)

Foto: Gatot Mudiantoro Suwondo, CEO Bank BNI (adik ipar Ani Yudhoyono)

Utama: Penistaan Rasa Keadilan oleh Keluarga Jend. Besar (Purn.) Soeharto dan Keluarga
Ani Yudhoyono kepada Masyarakat Indonesia

*Fakta: Selain kasus Ibnu Sutowo dan Rudi Rubiandini, sangat banyak sekali kasus di
Kementerian ESDM yang merobek-robek rasa keadilan masyarakat Indonesia. Sedikit dari
sekian banyak kasus yang dibiarkan pemerintah Orba dan “Orba bungkus baru”
adalah Production Sharing Contract sejak "pemberian" Supersemar, Triton (perusahaan
Perancis) tahun 1989, Depo Balaraja sejak tahun 1996, Mark-Up di Kilang Balongan sejak
tahun 1998 oleh Marsekal Madya (Purn.) Ginandjar Kartasasmita (Alumni ITB), Undang-
Undang No. 22 Tahun 2001 yang melepas hak Pertamina sebagai pemegang kuasa
pengelolaan migas negara dan memposisikan Pertamina tak jauh berbeda dari kontraktor
swasta, Petral dan Credit Suisse Singapura di tahun 2002, penjualan VLCC di bawah
harga pasar oleh Laksamana Sukardi (Alumni ITB, Sahabat Arifin Panigoro “Medco
Energy”, Pendiri Partai PDP yang dipecat Megawati Soekarnoputri) di bulan Juni tahun
2004, perjanjian sewa tanker Humpuss Intermoda (perusahaan Tommy Soeharto) untuk
tahun 1990-2009 dan 2009-2014, impor minyak Zatapi di tahun 2008, dan kelebihan Cost
Recovery kepada Chevron di tahun 2012.

*Fakta: Dari tahun 2004 hingga tahun 2012, terdapat inkonsistensi data produksi minyak
antara di SKK Migas dan di Kementerian ESDM.
*Fakta: Dari tahun 2002 hingga tahun 2012, trend jumlah lifting (produksi) minyak kita
terus menurun namun trend cost recovery kita terus menanjak.

*Fakta: Negara superpower Amerika Serikat yang terunggul dalam penyadapan pun
kewalahan dengan inkonsistensi data statistik perminyakan di negara kita. Hal ini
dinyatakan secara gamblang oleh AS dalam pembukaan laporan 2005-2006 dan
pembukaan laporan 2007-2008.

*Fakta: Defisit (/produksi dikurang konsumsi) minyak dimulai sejak awal pemerintahan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004. Kala itu defisitnya 3,8 miliar dollar AS.
Selama dua periode pemerintahan Yudhoyono, defisitnya sudah meroket lebih dari tujuh
kali lipat.

*Fakta: Usai kedatangan Obama ke Indonesia pada 9-10 November 2010, suami Ani
Yudhoyono menyerahkan Lapangan Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro, Jawa Timur
yang memiliki kandungan minyak terbesar di dunia (produksi harian 30 ribu barrel,
cadangan minyak 450 juta barrel) kepada Mobil Cepu Ltd. (MCL), anak perusahaan
Exxon Mobil Corporation. Satu-satunya alasan yang masuk akal bagi kami adalah
penyadapan Amerika telah berhasil menemukan perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh keluarga Ani Yudhoyono dan menggunakannya dalam tawar-menawar
(bargaining).

*Selingan: Menurut artikel di International Herald Tribune New York Times tanggal 8
Agustus 2003 yang ditulis oleh pendiri dan ketua Business Executives for National
Security, sebelum terpilih menjadi presiden, Jenderal (Purn.) Susilo Bambang
Yudhoyono mengatakan "I love the United States, with all its faults. I consider it my
second country."

*Fakta: Ketua Umum MUI dan Ketua


Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin, M.A.; Rektor UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat; tokoh NU Dr. (H.C.) K.H. Salahuddin
Wahid; K.H. Hasyim Muzadi; menantu Bung Hatta, Prof. Sri-Edi Swasono; Kepala Pusat
Studi Ekonomi Pancasila UGM, Dr. Revrisond Baswir; Direktur Eksekutif Center of
Reform on Economics (CORE), Dr. Hendri Saparini, Ph.D; Menteri Koordinator bidang
Perekonomian di zaman kyai haji yang gemar membaca, Kwik Kian Gie; dan Rektor IBII,
Anthony Budiawan mengatakan ada pemberian 85% pengelolaan (eksplorasi dan
eksploitasi) migas Indonesia kepada asing secara transaksional.

*Fakta: Sepanjang tahun 2013, Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) dan
Serikat Pekerja Pertamina PWK (SPP PWK) mendemo Menteri ESDM Jero Wacik
(Sekretaris Jenderal Majelis Tinggi Partai Demokrat, Alumni ITB) dan Kepala SKK Migas
Rubi Rudiandini (Alumni dan Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan
Perminyakan ITB) yang terus-menerus mengatakan Pertamina tidak mampu mengelola
Blok Mahakam, memprotes mengapa Pertamina hanya mengelola 15 persen sektor migas
Indonesia dan selebihnya dikelola oleh asing, dan mengecam penyerahan KSO Pertamina
kepada perusahaan China.

AKUN-AKUN PENYEBAR KEBOHONGAN DAN PEMBENTUK OPINI

1. FPI dibentuk oleh pensiunan militer sebagai attack dog yang memisahkan militer dan
polisi dari tuduhan pelanggaran HAM. (Lihat dokumen-dokumen Wikileaks) Di samping itu,
ingat saat tahun 1998, selain militer, ada unsur lain yang melakukan kekerasan terhadap
mahasiswa dengan senjata-senjata yang tak lazim dengan pakaian-pakaian menyerupai santri-
santri. Tak hanya sampai di situ, Pemuda Pancasila yang diboyong ke dalam tim kampanye
Prabowo-Hatta untuk memikat korban utang luar negeri zaman Soeharto rupa-rupanya juga
digunakan untuk membuat bangsa Indonesia pucat pasi, teringat akan The Act of Killing,
kebiadaban peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998, dan perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh

*Japto Soerjosoemarno (Keturunan Yahudi, anak Mayor Jenderal (Purn.) Soetarjo


Soerjosoemarno, Pendiri dan Ketua Umum Pemuda Pancasila, dan Ketua Geng 234SC);

*Yorrys Raweyai/Thung Hok Liong (Berasal dari Papua, Ketua Pemuda Pancasila, Politisi
Golkar, Anggota 9 Naga, dan Anggota Komisi I DPR RI);

*Tomy Winata/Oe Suat Hong (Pemilik Bank Artha Graha, Mal Artha Gading, Mangga
Dua Square, Hotel Borobudur dan Electronic City, Anggota 9 Naga, Pemilik tempat judi
di ITC Mangga Dua, Pemilik Pulau Pantara, Pulau Sebaru, dan Pulau Matahari di
Kepulauan Seribu, Pendiri Satelindo, Sahabat Tommy Soeharto, Agen Amerika Serikat
dan Taiwan, Pemodal FPI, Pengguling Megawati Soekarnoputri dari kursi
kepresidenan, Penyedia tempat di tahun 2001 saat SBY pertama kali mengutarakan
keinginannya untuk maju sebagai presiden, dan Pemberi dana kepada Partai Demokrat);

*Sugianto Kusuma/Aguan (Mengenalkan Tomy Winata kepada Yayasan Kartika Eka Paksi
sewaktu dipimpin Jenderal Edi Sudradjat, Senior Tomy Winata, Komisaris Utama Bank
Artha Graha, bersama TB Silalahi dan Tomy Winata menjabat sebagai Komisaris PT
Jakarta International Hotel & Development, Tbk., Anggota 9 Naga, Agen Amerika Serikat
dan Taiwan, Pemberi dana kepada Partai Demokrat, dan Pemilik Agung Sedayu Grup);

*Mayor Jenderal (Purn.) TB Silalahi/Tiopan Bernhard Silalahi (Pernah ditugaskan di


Papua dan membantu Tomy Winata di Yayasan Kartika Eka Paksi, Bapak angkat Tomy
Winata, Komisaris Bank Artha Graha, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tahun
1993-1998, Penyalur uang Tommy Winata kepada Presiden SBY, Ketua Dewan Pengawas
Partai Demokrat, Anggota Dewan Majelis Tinggi Partai Demokrat, dan Anggota Dewan
Pertimbangan Presiden);

*Rudi Raja Mas (Pengelola kasino di Pulau Ayer Kepulauan Seribu, Pengelola berbagai
tempat judi di Mangga Dua dan Glodok, Penggandeng FPI, dan Musuh Basuki Tjahaja
Purnama karena menolak penutupan Diskotek Stadium);
*Abraham "Lulung" Lunggana (Preman
Tanah Abang dan Pemilik Ratusan Kios di Tanah Abang, Pelindung Tomy Winata, Wakil
Ketua DPRD DKI Jakarta yang kalah melawan Basuki Tjahaja Purnama, dan Ketua DPW
PPP DKI Jakarta yang membawa Lamborghini);

*Eggi Sudjana (Sahabat Habib Rizieq FPI yang bermarkas di Petamburan Tanah
Abang, Kuasa Hukum Bupati Garut Aceng Fikri yang memperingatkan akan
kerusuhan, Ketua Tim Pengacara eks Kadishub DKI Udar Pristono yang tersangkut kasus
korupsi bus TransJakarta, dan Ketua Tim Advokasi Pemenangan Prabowo-Hatta yang
disemprot Ketua DKPP Jimly Asshiddique karena memanggilnya dengan sebutan
"Abang"); dan

*Fuad Bawazier (Pendiri Al-Irsyad, Dirjen Pajak dari tahun 1993 sampai tahun 1998,
Menteri Keuangan tahun 1998, Komisaris Utama Satelindo, Penyalur uang Keluarga
Cendana ke Poros Tengah yang bersama Arifin Panigoro "Medco Energy" menjatuhkan
Gus Dur, Sahabat karib Amien Rais, Anggota MPR-RI dari PAN tahun 1999-2004, Calon
Ketua Umum PAN tahun 2005-2010, Anggota DPR-RI dari PAN tahun 2004-2009, dan
Anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Prabowo-Hatta)

2. Triomacan2000 (Syahganda Nainggolan [dulu Staf Ahli Menko Ekuin Hatta Rajasa,
sekarang Direktur Penggalangan Relawan Tim Sukses Prabowo-Hatta Rajasa], Abdul
Rasyid [Staf Ahli Menko Ekuin Hatta Rajasa], dan Raden Nuh) selalu melindungi dan
memuja setinggi langit Hatta Rajasa, besan Ani Yudhoyono.

*Selingan: Putra sulung Hatta Rajasa, Ihsan Rajasa (pengusaha minyak), dicerai istrinya,
Kusuma Anggraini "Ninik" (cucu kesayangan Mooryati Soedibyo) karena Ihsan tidak
setia. Dikabarkan pula, Ihsan gemar show-off (pamer) berselingkuh di depan istrinya dan
tak jarang melakukan KDRT usai mengonsumsi narkoba.
Lantas, apakah Anda sekeluarga tahan melihat dan mendengar keluarga Soeharto dan
keluarga Ani Yudhoyono pura-pura berbelas kasihan; menginginkan mereka makin mencekik
setiap sendi kehidupan; dan merindukan kegelisahan akan Hak Asasi Manusia Anda
sekeluarga?

JAWABAN ATAS DOA KITA

"Setahun pertama kita selesaikan mafia perminyakan." tegas Jusuf Kalla pada Dialog
KADIN, 20 Juni 2014.

"Selain Kementerian Pertanian, Kementerian ESDM juga harus dipimpin oleh orang yang
memiliki leadership yang kuat. Karena di situ ada banyak mafia." kata Joko Widodo di Pasar
Notoharjo, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (26 Juli 2014).

TESTIMONI

"Jokowi memang bagus menjadi Presiden. Saya doakan semoga terkabul keinginannya."
~Ridwan Kamil
"Tidak banyak yang tahu kan kalau sebenarnya Jokowi itu lebih tegas dan keras daripada
saya. Dia kelihatan lembut di luar karena orang Jawa. Saya kalau lagi diskusi sama dia tegas
banget." ~Basuki Tjahaja Purnama

"Jokowi adalah bagian dari sedikit pemimpin yang ingin membersihkan dan memperbaiki
keadaan. Yang sedikit ini menginspirasi saya. Menawarkan diri ingin membersihkan dan
memperbaiki keadaan. Fenomena Jokowi juga menunjukkan bahwa tanpa modal yang kuat,
juga bisa." ~Mahfud MD

"Pilihlah pemimpin yang bertindak dengan hati nurani bukan untuk kepentingan pribadi."
~Anies Baswedan

"Jokowi adalah arus besar kecintaan rakyat, dia tidak bisa dibendung adalah realitas politik
saat ini." ~Dahlan Iskan

"Saya ingin tunjukan ke dunia bahwa Indonesia masih memiliki orang baik seperti Pak
Jokowi.” ~Iwan Fals

"Kalau mencalonkan diri, kita siap mendukung. Pak Jokowi layak didukung." ~Yenny Wahid
usai istri (alm.) Abdurrahman Wahid memakaikan peci (alm.) suaminya kepada Joko Widodo

"Bagi kita, rakyat itu yang utama, rakyat umum yang mempunyai kedaulatan dan kekuasaan
(souvereiniteit), karena rakyat itu jantung hati bangsa, dan rakyat itulah yang menjadi ukuran
tinggi rendah derajat kita. Dengan rakyat kita akan naik dan dengan rakyat pula kita akan
turun. Hidup atau matinya Indonesia Merdeka, semuanya itu bergantung kepada semangat
rakyat. Penganjur-penganjur dan golongan kaum terpelajar baru berarti kalau di belakangnya
ada rakyat yang sadar dan insyaf akan kedaulatan dirinya.” ~Drs. Mohammad Hatta dalam
majalah "Daulat Ra'jat" tanggal 20 September 1931-ejaan disesuaikan dengan EYD

"Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi gitamu pula: "Innallaaha laa
yughayyiru maa biqawmin, hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim" Tuhan tidak mengubah
nasibnya sesuatu bangsa, sebelum bangsa itu mengubah nasibnya." ~Ir. Soekarno (Bapak
Pendiri Bangsa, Pemimpin Gerakan Non-Blok) pada Pidato HUT Proklamasi 17 Agustus
1964

"Ya Allah, janganlah mengangkat Penguasa kami orang yang tidak takut kepada-Mu dan
tidak juga merahmati kami." ~M. Quraish Shihab

"Jangan pernah ada lagi penggunaan istilah perang suci, harb al-muqoddasah. Istilah perang
suci itu adalah kesalahan sejarah." -KH Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU)
BONUS SELINGAN

Apakah para pencinta selingan setanah air mau dikasih selingan lagi?

Pertama, tegakkan badan. Kedua, tarik napas secara mendalam. Ketiga, senyum…..Iya,
senyum. Seriusan. Karena ketenangan dan senyuman akan menaikkan testosterone dan
menurunkan cortisol yang baik untuk kesehatan dan kehidupan.

Oke kita balik lagi ke selingan ekonomi level SMP ya.

Anda masih ingat polemik PP Mobil Murah yang ditandatangani SBY pada 23 Mei 2013?

Saat itu, Indonesia telah mulai merasakan twin deficit [defisit di APBN & defisit di transaksi
berjalan (current account), sehingga nilai tukar Rupiah ke US$ sangat lemah dan rentan] dan
pembenahan kemacetan Jakarta dan sekitarnya masih mengalami banyak sekali resistensi.

Ibarat azab kemurkaan Allah yang tidak ada hentinya, pelaku pasar dan industri selain
otomotif dibuat makin gemetar dengan kabar bahwa besan Hatta Rajasa menandatangani PP
Mobil Murah, sesuatu policy yang memicu meledaknya jumlah pos belanja negara sekali
pakai habis/mengikat (subsidi) dan jumlah impor bahan baku otomotif dan BBM yang
membuat nilai tukar makin runyam mencekam. Dalih yang digunakan besan Hatta Rajasa,
Hatta Rajasa, dan Menperin MS Hidayat (kader Golkar) saat itu tak lain dan tak bukan
adalah mobil murah adalah angkutan untuk pedesaan yang akan menggunakan Pertamax,
dan, karena telah menyematkan embel-embel "ramah lingkungan" pada mobil pribadi, mobil
murah harus mendapat penghapusan PPn-BM.

Nyatanya, statistik/fakta lebih berjaya daripada pidato yang berkontradiksi dengan perbuatan.
Lantas, Pak Chatib Basri selaku Menteri Keuangan secara emosional menagih janji MS
Hidayat. Namun, penagihan janji itu dijawab sendiri oleh suami Ani Yudhoyono secara tidak
langsung dengan penunjukkan Muhammad Lutfi, Duta Besar Indonesia di Jepang (Dulu
penyalur uang Tomy Winata Bank Artha Graha kepada Partai Demokrat), sebagai Menteri
Perdagangan.
Keambrukan pengurusan ekonomi negara dan ketamakan kebijakan pro-mobil pribadi
ternyata tak berhenti sampai di situ. Usai kader yang amat sangat dibanggakan Gerindra,
Basuki Tjahaja Purnama, dan Dewan Transportasi Kota Jakarta diserang oleh Hatta Rajasa
dan Jero Wacik (Sekretaris Jenderal Majelis Tinggi Partai Demokrat) ketika mengusulkan
pencabutan subsidi BBM di DKI Jakarta untuk penguraian kemacetan dan pengalokasian
dana yang lebih tepat sasaran; Joko Widodo yang merasa membanjirnya mobil murah
membuat penguraian kemacetan makin berat malahan ditolak dalam pengajuan penghapusan
bea impor untuk bus dan pemasangan pembatas jalan TransJakarta yang tangguh di jalan
Thamrin-Sudirman dan Gatot Subroto-Tomang, dan diganjal dalam penerbitan PP Electronic
Road Pricing.
*Selingan: Pada kuliah tamu di FEUI, salah satu direktur Salim/Liem Sioe Liong Group
pernah menyarankan mahasiswa FEUI untuk mencari hubungan antara Penjualan 39,5%
saham Astra International, Tbk. (perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa
Efek Indonesia) milik Pemerintah ke C&C Mauritius (Jardine Cycle & Carriage) (Update:
Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional saat itu, Syafruddin Temenggung, sudah
ditetapkan sebagai tersangka), Kasus korupsi IT KPU tahun 2004 yang dimenangkan
oleh Astra Graphia (Integrasi Teknologi), Keputusan SBY untuk mengubah tradisi merk
mobil Kabinet dari Volvo (Swedia) ke Toyota (Jepang) yang dipegang oleh Astra
International, Tbk. (milik Jardine International UK HK SG), Pemberian jabatan Ketua
Umum Partai Demokrat dan Ketua Divisi Komunikasi Politik/Wasekjen Partai Demokrat
masing-masing kepada Anas Urbaningrum (satu dari sebelas Anggota KPU tahun 2001-
2005) dan Andi Nurpati (satu dari delapan Anggota KPU tahun 2007-2010),
dan Sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan peluang Astra International, Tbk.

*Selingan: Presiden Direktur Astra Daihatsu Motor, Sudirman, dengan bangga mengklaim
bahwa 65-70 persen konsumen Ayla berada di wilayah Jabodetabek.

*Selingan: Berbagai direktur institusi internasional seperti Asian Development Bank dan
World Bank; berbagai Chief Economist bank-bank terbesar di dunia seperti Citibank dan
HSBC; dan berbagai Chief Economist bank-bank terbesar di regional seperti BII Maybank
yang diundang ke FEUI pada acara Economix menuturkan bahwa kebijakan Mobil Murah
merupakan a misguided policy, usai mereka memastikan tidak ada wartawan/jurnalis yang
hadir. Lebih jauh, mereka mengatakan sebaiknya masyarakat awam melakukan
pengukuran dampak policy pemerintahan negara-negara maju yang pro-transportasi publik
dan dampak policy pemerintah Indonesia yang pro-mobil pribadi.

*Selingan: Walaupun digunakan oleh hampir seluruh rakyat menengah ke bawah,


transportasi darat publik di Indonesia hanya diberi 3% dari total subsidi BBM, sementara
mobil pribadi menikmati porsi terbesar yakni 49% dari total subsidi BBM.

*Selingan: Karena 68,3% rumah tangga golongan bawah tidak memiliki kendaraan, 93%
subsidi BBM dinikmati oleh rumah tangga golongan atas dan rumah tangga golongan
menengah. Atau dengan kata lain, rumah tangga golongan bawah cuma diberi 7% dari
total subsidi BBM, sedangkan rumah tangga golongan menengah kecipratan 30% dari
total subsidi BBM dan rumah tangga golongan atas, dengan senang hati dan riang
gembira, mengeruk 63% dari total subsidi BBM.

*Selingan: Jumlah penduduk Indonesia yang berpenghasilan di bawah US$ 2 per hari
(atau dapat dikategorikan Bank Dunia sebagai "miskin") berjumlah 103 juta penduduk.

*Selingan: Rumah tangga miskin hanya mengeluarkan 7% dari total pengeluarannya


untuk transportasi, sementara yang terbesar bagi rumah tangga miskin (65% dari total
pengeluaran) adalah makanan.

*Solusi Tidak Berbohong ("Tepat Sasaran"): Usai momentum konversi minyak ke gas
dimanfaatkan; standar ketepatan waktu, kenyamanan, dan keamanan transportasi publik
ditingkatkan; kelangkaan penyelidik dan penyidik di KPK ditangani; pelayan
publik (khususnya TNI, Polri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian ESDM,
Ditjen Pajak, dan Kementerian Pendidikan) direstrukturisasi dan hanya diisi oleh insan-
insan yang berkualitas, memuaskan, dan jujur; manajemen pengawasan (monitoring) dan
pengendalian (controlling) secara tegas mengacu pada best practice; dan angka
ketergantungan impor hortikultura (khususnya kedelai) dan sapi ditekan tanpa
dimanipulasi; rumah tangga miskin dan rumah tangga rentan diberi BLT, Raskin,
Jamkesmas, BSM Pendidikan, PNPM, dan KUR agar tak hanya mampu catch-up dengan
kenaikan harga, tetapi juga melampaui daya beli sebelumnya (/kuantitas barang yang
didapat menjadi lebih banyak.)

*Sambil Menyelam Minum Air: Tak hanya transportasi publik dan


kesenjangan pendapatan yang terbenahi, infrastruktur (/belanja negara
produktif) Indonesia yang saat ini di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan
Vietnam (atau berada pada peringkat keenam di ASEAN) pun mendapat pendanaan dan
pembangunan yang serius sehingga biaya logistik dan transportasi menurun (/deflasi,
barang lebih murah) dan, sesuai visi-misi Joko Widodo-Jusuf Kalla yang berorientasi pada
Pembangunan Manusia, lima tantangan bangsa di bawah ini didanai dan diselesaikan:

1. Kesehatan dan Pendidikan Dasar Indonesia yang di bawah Singapura, Brunei


Darussalam, Malaysia, dan Vietnam (atau berada pada peringkat kelima di ASEAN);

2. Kemampuan membaca, matematika, dan sains Indonesia yang terendah di antara 40


negara paling berpengaruh di dunia;
3. Pendidikan Menengah, Pendidikan Kejuruan, dan Pendidikan Tinggi Indonesia yang
di bawah Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia (atau berada pada peringkat
keempat di ASEAN);

4. Persentase undangan untuk Jabodetabek, keluarga militer, polisi, kemendiknas, dan


politikus yang secara jelas membesar dan transparansi jalur undangan yang secara
drastis memburuk semenjak periode terakhir dinasti transaksional. Hal ini
berhasil mewujudkan terkuburnya UI, UGM, ITB, Unair, IPB, Unibraw, dan ITS di
dasar pentas persaingan global.

5. Rata-rata pengangguran muda Indonesia yang saat ini sudah 5 kali lebih tinggi
daripada rata-rata pengangguran nasional (FYI, rata-rata pengangguran muda Indonesia
juga merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik.) Hal ini terjadi karena kurikulum dan
mata ajar tidak disesuaikan dengan permintaan pemberi kerja (demand-driven
curriculum) dan best practice.

*Selingan: Tidak hanya aspek operasional dan outputnya yang mengecewakan,


aspek finansialnya juga sangat membuat geram. Kendati anggaran pendidikan kita
tiap tahun sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan Kementerian Pendidikan diisi
oleh guru-guru/pendidik/suri teladan character building, Kementerian Pendidikan
mendapat opini terburuk BPK yakni TMP (/Tidak Memberikan Pendapat) pada
tahun 2010 dan 2011 dan opini WDP (/Wajar Dengan Pengecualian) pada tahun
2009 dan 2012.
Mantap tidak selingannya? All praise is to Allah.

LAMPIRAN 1: PROYEKSI REALISTIS

Kubu Menantu Soeharto "Sang Pembunuh Massal" dan Besan Ani Yudhoyono "Sang Mafia
Perminyakan"
#Pembodoh #AzabMenanti #HarusMohonPengampunan

Kubu Pencipta Perdamaian dan Terobosan dengan Dialog yang Memanusiakan Manusia
Ketua Umum MUI dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin,
M.A., Prof. Dr. H. Ahmad Syafi'i Ma'arif, Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., Prof. Dr. H.
Syafiq A. Mughni, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Prof. Dr. Bambang Setiaji, Prof. Dr.
Muhammad Quraish Shihab, M.A., Dr. Alwi Abdurrahman Shihab, Ketua PBNU KH. M.
Imam Aziz, Ketua KBNU Sultonul Huda, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar
Parawansa, Ketua GP Ansor Nusron Wahid (caleg Golkar dengan perolehan suara tertinggi
[234.021 suara], calon pimpinan DPR RI), Ketua Umum PBNU 1999-2010 KH. Ahmad
Hasyim Muzadi, Ketua PB HMI 2009-2011 M. Chozin Amirullah, Savic Ali, Akhmad Sahal,
Nono A. Makarim (Komite Etik KPK), Teten Masduki, Todung Mulya Lubis, Anies
Baswedan, Dahlan Iskan, Ir. Tri Rismaharini, M.T., Billy Boen, Andy F. Noya, Ketua Dewan
Guru Besar FEUI Prof. Prijono Tjiptoherijanto, Ph.D (pakar Ekonomi
Demografi/Kependudukan), Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada
Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D, Onno W Purbo, Tita Larasati (Dosen ITB), Deni
Rodendo (Alumni ITB), Goenawan Mohamad (Pendiri PAN, Jurnalis), Faisal Basri (Pendiri
PAN, Ekonom), Abdillah Toha (Pendiri PAN, Komisaris Penerbit Mizan), Fadjroel Rachman,
Adian Napitupulu, Wanda Hamida, Ulin Yusron, Arief Budiman (kakak Alm. Soe Hok Gie,
pemimpin Gerakan Golput di era Orde Baru), Poltak Hotradero (Kepala Divisi Riset Bursa
Efek Indonesia), Ari Perdana, Haryo Aswicahyono, Arianto Patunru, Guru Besar Akuntansi
UI Wahjudi Prakarsa, Guru Besar Ekonomi UGM Tony Prasetiantono, Mardi Wu, Yoris
Sebastian, René Suhardono, Indra Jaya Piliang (Ketua Balitbang DPP Partai Golkar dan
Ketua Departemen Kajian dan Kebijakan Partai Golkar), Rudi Valinka (Auditor Forensik),
Ricky Setiawan (Wikipedia Admin), Enda Nasution, Blontank Poer
(@blontankpoer), Wicaksono (@ndorokakung), Henry Manampiring (@newsplatter), Ainun
Chomsun (@pasarsapi), Agung Mahardilan (@AgungMahardilan), Rama J Baskoro
(@supermomo), Faizal Iskandar (@monstreza), Alexander Thian (@aMrazing), Satria
Ramadhan (@satriaoo), Intan Anggita (@BadutRomantis), Paramita Mohamad
(@sillysampi), Gabriel Montadaro, Shafiq Pontoh, Adi S. Noegroho (@sheque), Satrio
Utomo, Ario Pratomo, Dolly Lesmana, Ricky Setiawan, Doni Priliandi, Dondi Hananto,
Nukman Luthfie, Yunarto Wijaya, Yopie Suryadi, Yan Hendry Jauwena, Bunga Mega, Riana
Bismarak, Vanya Sunanto, Pramudya Oktavinanda, Wimar Witoelar (Kolumnis), Lin Chi Wei
(Kata Data), Arsendo Atmowiloto (Wartawan), Yenni Kwok, Danny Wirianto, Adib Hidayat,
Lisa Luhur, Aulia Masna, Didi Nugrahadi, Karaniya Dharmasaputra, Abi Hasantoso, Iwan
Piliang, Coen Husain Pontoh (Editor IndoPROGRESS), Metta Dharmasaputra (Penulis
"Saksi Kunci"), Wishnutama (CEO PT Net Mediatama), Mira Lesmana, Riri Riza, Nia
Dinata, Rayya Makarim, Joko Anwar, Slamet Rahardjo Djarot, Eros Djarot, Hanung
Bramantyo, Denis Adhiswara, Jay Subiakto, Jajang C. Noer, Nazyra C. Noer, Edward Suhadi,
Iman Brotoseno, Monty Tiwa, Darwis Triyadi, Arbain Rambey, Ayu Utami, Leila S. Chudori,
Djenar Maesa Ayu, Alanda Kariza, Marina Silvia, Avianti Armand, Ben Sohib, Zen
Hae, Adjie Silarus, Putu Aditya Nugraha, Agus Noor, Iksaka Banu, Yan Widjaya, Kurnia
Effendi, Amin Kamil, Prita Laura, Olga Lidya, Butet Kartaredjasa, Happy Salma, Sarah
Sechan, VJ Cathy Sharon, Artasya Sudirman, Sandrina Malakiano, Imam Darto, Charles
Bonar Sirait, Nico Siahaan, Darius Sinathriya, Valentino Jebret, Caesar Gunawan, Indra
Bekti, Gofar Hilman, Sys NS, Boy William, Indra Birowo, Desta, Ananda Omesh, Sasha
Stevenson, Arie Keriting, Ge Pamungkas, Andovi da Lopez, Jovial da Lopez, Cak Lontong,
Muhadkly Acho, Jhody Bejo, Eddi Brokoli, Dedi Gumelar “Mi’ing”, Genrifinadi Pamungkas,
Andi Wijaya, Dimas Yudhistira, Danny Jayawardhana, Krisnanjaya Harefa, Boris T
Manullang, Mohamad Ali Sidik Zamzami, Mongol Stres, Bene Dion Rajagukguk, Kemal
Pahlevi, David Nurbianto, Soleh Solihun, Ernest Prakasa, dan Pandji Pragiwaksono.

Slank, Erwin Gutawa, Addie MS, Trio Lestari (Glenn Fredly, Tompi, Sandhy Sondoro), KLA
Project, Oppie Andaresta, Once, JFlow, Barry Likumahuwa, Banyu Biru, Dewa Budjana,
Gerald Situmorang, Mohammad Ridwan Hafiedz, Yeppy Romero, Setiawan Djody, Mario
Marcella, Ian Antono, Robi Navicula, Andre Hehanusa, Titi "Film Jalanan", Giring Ganesha
"Nidji", Adri Prakarsa "Nidji", Kikan Namara, Cokelat, Ho Katarsis, Edo Kondologit, Ivan
Nestorman, Nina Tamam, Titiek Puspa, Yuni Shara, Krisdayanti, Gita Gutawa, Sherina
Munaf, Tika Panggabean, Kartika Jahja, Dira Sugandi, Bonita Adi, Tata Tangga, Monita
Tahalea, Sashi Gandarum, Lea Simanjuntak, Bernadeta Astari, Sari Simorangkir, Tina Toon,
Melanie Ricardo, Sonia Eryka, Dewi Lestari, Afgan Syahreza, Yovie Widianto, Bams, Yukie
PasBand, Aditya Anugrah, Aqi “Alexa”, Ronny Waluya, Joe Saint Loco, Indra Aziz, Ello,
Michael IDOL, Judika IDOL, Delon IDOL, Melly Manuhutu, Anugrah Aditya, Sawarna
"Warna", Kristina, Aura Kasih, Sruti Respati, Kadri Jimmo, Kahitna, 3 Composers, Yovie &
Nuno, Kerispatih, Stereocase, Five Minutes, Wali, Lyla, Samsons, Tendostar, 5 Romeo,
Superman is Dead, Soul ID, CJR, Cherrybelle, Hotma "Meng" Roni Simamora, Jalu
Pratidina, Saykoji, Deejay Cream, Billy BeatBox, Yacko, Tabib Qiu, Lady Gan, Kill The DJ,
Jogja Hip Hop Foundation, Dochi ‘Pee Wee Gaskins’, Pop the Disco, Homogenic, Widi
‘Vierratale’, Josaphat ‘Killing Me Inside’, Che Cupumanik, Ajul & Rekan, /rif, Roy Jeconiah,
Ahmad Albar, Donny Fatah, Otong Koil, Willy "Sket", Well Willy, Krisna Sadrach,
ARockGuns, Ananda Sukarlan, Irsa Destiwi, Indra Lesmana, Levi Gunardi, Doadibadai
Hollo "Badai Kerispatih", Dameria Hutabarat, Adi Adrian, Reynold Silalahi, Dimas Pradipta,
TP. Thomas, Nita Aartsen, Jordy Waelauruw, Ivan Saba, Marco Kusumawijaya (Arsitek),
Amir Sidharta (Kurator Museum), Ong Harry Wahyu, Samuel Indratma (Community Visual
Artist), Fiki Satari, Wahyu Aditya (Kartunis), Sweta Kartika, Beng Rahadian, Kemal Arsjad,
Arief Widhiyasa (CEO Agate Studio-Indonesian Game Developer), Maudy Ayunda
(mahasiswi Oxford University), Cinta Laura (asisten dosen di Columbia University), Chelsea
Olivia, Marsha Timothy, Lala Timothy, Acha Septriasa, Vanessa Angel, Vino G Bastian,
Ringgo Agus Rahman, Gading Marten, Ibnu Jamil, Richard Kevin, Ari Wibowo, Gusti
Randa, Anwar Fuady, Chicco Jerikho Jarumillind, Joshua Suherman, Sunny Soon, Aron
Ashab, Ricky Harun, Rieke Diah Pitaloka, Feby Febiola, Sophia Latjuba, Alice Norin, Putri
Patricia, Prisia Nasution, Adinda Thomas, Arzetti Bilbina Huzaimi Setiawan, Nadine
Alexandra Dewi Ames, Aline Adita, Melanie Subono, Erikar Lebang, Andreas Prasadja, Reza
Gunawan, Nicky, Kemal Desmo Nasution, I Gede Siman Sudartawa, Richard Sambera, Chris
John, Rudy Hartono, Taufik Hidayat, Joko Supriyanto, Rexy Mainaky, Ivana Lie, Susy
Susanti, Gerak Cepat, Generasi Optimis, Yayasan Puteri Indonesia, HKTI, #99Movement
(@PartaiSocmed) Leonardo Kamilius, Melanie Tedja, Niwa Dwitama, Ignasius Ryan Hasim,
Iman Usman, dan kamu.

#PeopleGiveBack #SapuBersih #DiberkahiAllah

LAMPIRAN 2: KONFIRMASI STRATEGI JOKO WIDODO-JUSUF KALLA

The International Human Rights Rank Indicator

The Corruption Perceptions Index 2013

The 2014 World Press Freedom Index

The Internet Speed Index (Solution) (Threat) (Benefits)

Income Inequality Index (GINI Index) (Explanation)

Gross National Income per Capita (Constant 2000 US$) (Japan, Australia, Singapore, Brunei,
Korea, Malaysia, China, Thailand, Indonesia, the Phillipines, Vietnam, Lao PDR)

The Human Development Report 2013

OECD Factbook 2013

The Global Index of Cognitive Skills and Educational Attainment 2014

The SCImago Journal & Country Rank


The Times Higher Education World Reputation Rankings 2014

QS World University Rankings 2013/2014

The Global Competitiveness Index 2013-2014

The WJP Rule of Law Index 2014

The Ease of Doing Business Index 2013

#IndonesiaBaru #IndonesiaBersih #IndonesiaLepasLandas


Backup:

http://hambaallahyangsetia.blogspot.com/2014/06/keterkaitan-antara-militer-mafia.html (Mul
ai 8 Agustus 2014, Data-data akan Ditambah Mingguan)

Tabloid Al-Mihrab (Unduh)

Tabloid Obor Rahmatan Lil'Alamin (Unduh)

Tabloid Jokowi-JK (Unduh)

Tabloid Pelayan Rakyat (Unduh)

Tabloid Bejo (Unduh)

Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia oleh Dian Paramita (Baca)

Menggulung Lengan Baju Bersama Jokowi oleh Lilik HS, kawan karib Widji Thukul (Baca)

Penjelasan “Stockholm Syndrome” Korban Penculikan dan Kelunakan Wiranto oleh Prof. Dr.
Hermawan Sulistyo, Ph.D, Peneliti LIPI dan Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Tanggal 13-
15 Mei 1998 (Simak)

Alasan Allan Nairn Baru Membocorkan Wawancara Off-The-Record oleh Team Tempo
(Baca)

Menguak Siapa Prabowo oleh Garuda Luka (Baca)

Jokowi atau Prabowo: Ketika Sentimen Agama Bertarung dengan Nalar oleh Maulana M.
Syuhada, Alumni ITB (Baca)

Pilpres 2014 menurut Rob Allyn (Konsultan Prahara): Bisnis atau Kebenaran oleh Indonesia
2014 (Baca)
Ketika Kampanye Hitam Gagal Menghentikan Orang Baik oleh Maulana M. Syuhada,
Alumni ITB (Baca)

Indonesia Menggugat Jilid II: Menjabarkan Pidato Boediono - Kwik Kian Gie, Alumni FEUI
dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian di zaman kyai haji yang gemar membaca
(Baca)

Mengapa Jokowi? oleh Anies Baswedan (Simak)

AMANAH

Demi tumpah darah kita serta anak-cucu kita, mari kita bantu relawan Anies Baswedan-
Dahlan Iskan-Joko Widodo-Tri Rismaharini-Billy Boen dalam menyebarluaskan tulisan ini,
melaporkan tiap dugaan korupsi yang Anda ketahui kepada KPK, dan, sejalan dengan proses
hukum kasus Bank Century dan gelombang Indonesia Baru Lahir-Batin, mengawasi pula
gerak-gerik pengusung Revisi KUHP dan KUHAP, RUU Administrasi Pemerintahan, RUU
Pilkada, dan UU MD3.

*Fakta: Menurut Risalah Rapat Panja RUU Pilkada tanggal 4-6 Februari 2014 yang
diingat konstituen, PKS, Gerindra, PAN, Golkar, PPP, Demokrat, PDIP, PKB, dan Hanura
mendukung Pilkada Langsung.

*Fakta: Menurut survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 5-7 September
2014, 81,25% masyarakat menghendaki pilkada langsung dan usai pilpres,
konsitituen Prahara pun lebih menyukai pilkada langsung daripada pilkada melalui DPRD.
Adapun perinciannya adalah sebagai berikut PKS 80,23%, Gerindra 82,55%, PAN
85,11%, PPP 76,66%, PBB 87,65%, Golkar 81,20%, dan Demokrat 80,77%.

*Fakta: Menurut KPK, anggota DPRD yang terlibat kasus korupsi berjumlah 3.600 orang.

*Fakta: Menurut Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan (PPATK) pada tahun 2013, 69,7
persen anggota legislatif terindikasi tindak pidana korupsi.
*Fakta: Menurut Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK, pilkada melalui DPRD
merupakan proses delegitimasi hak rakyat (political corruption) dan membuat korupsi
anggota Dewan akan semakin sistematis (corruption by design).

*Fakta: Menurut survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), 62,4 persen masyarakat
menganggap anggota DPR hanya mencari nafkah di Senayan dan hanya 29,1 persen yang
menyatakan DPR tempat berkumpulnya wakil rakyat.

*Fakta: Menurut pernyataan Indonesia Corruption Watch (ICW), TI Indonesia, Forum


Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), KPPOD, Puskapol UI, Perludem,
Correct, JPPR, KIPP Jakarta, PSHK, Pattiro, Yappika, Populi Center, Kopel, dan
IPC, mereka mendukung Pilkada Langsung, menganggap dalih biaya kampanye pilkada
langsung high-cost merupakan ketidakbecusan partai itu sendiri, dan menyalahkan proses
rekrutmen partai politik yang selama ini tidak berbasis kompetensi lah yang membuat
biaya kampanye high-cost, bukan rakyat.

*Fakta: Menurut Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi


Universitas Indonesia (LPEM FEUI) pada Maret 2014, rata-rata biaya kampanye caleg
DPR adalah Rp1,18 miliar – Rp 4,6 miliar, sementara rata-rata biaya kampanye caleg
DPRD adalah Rp 481 juta – Rp 1,55 miliar.

*Selingan: Sudah lebih dari tiga minggu terakhir kita disuguhi dengan berita anggota-
anggota DPRD yang baru saja terpilih namun sudah menggadaikan SK Pengangkatannya.
Oleh karena itu, izinkan kami membagi informasi mengenai tekanan untuk bertransaksi
(pressure) dari gaji anggota DPRD per bulan dan pendapat dari pakar desentralisasi fiskal,
Ibu Fauziah Zen.
*Selingan: Seakan tidak mau kalah aktif dengan kaum Adam, 141 organisasi perempuan
yang tergabung dalam Jaringan Indonesia Beragam dan 116 organisasi yang tergabung
dalam Koalisi Perempuan Indonesia juga turun ke garda terdepan penolakan terhadap
RUU Pilkada melalui DPRD.

BONUS DATA

Deutsche Bank - Oil & Gas for Beginners

UBS Investment Research - Introduction to the Oil Industry

Thomas O. Miesner, Martin S. Raymond & William L. Leffler - Oil & Gas in Nontechnical
Language

OPEC - World Oil Outlook

Energy Information Administration - International Energy Statistics

BP - Statistical Review of World Energy

HSBC - Sector Structure in Oil & Gas


Vault, ShaleNET, Glassdoor, Qerja, Jobstreet, LinkedIn, JobsDB, & Hays - Qualifications,
Salaries, and Vacancies

ITB Career Center, CDC UI, ECC UGM, CDC Unpad, & CDC BINUS - Vacancies

"Hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar. Harapan ada, Harapan ada bila kau
mengerti." ~Salam Bagi Sahabat - Glenn Fredly

The Economist - Skills Shortages in Indonesia

World Bank - Trends in Demand, Gaps, and Supply of Indonesia's Labor Market

Boston Consulting Group - Growing Pains, Lasting Advantage: Tackling Indonesia's Talent
Challenges

McKinsey & Company - Unleashing Indonesia's Potential

International Labour Organization - Labour and Social Trends in Indonesia


Business Monitor International (Fitch Group) - Quarterly Report: Industry Report &
Forecasts Series

Tips - Sample of Resume (Curriculum Vitae)

Gene Zelazny - Say It with Chart

Direktorat Kemahasiswaan UI, Tim Beasiswa Keluarga Mahasiswa ITB, Beasiswa Dirmawa
UGM, Scholarship & Career Center (SCC), Pejuang Beasiswa di Dalam & Luar Negeri untuk
WNI, UI International Office, ITS International Office, BINUS International
Office, Indonesia Mengglobal, InternID, Good Jobs ID, Kampus Update, & Young Leaders
for Indonesia - Scholarships, Internships, and Competitions

Quora, TED Talks, Toastmasters Indonesia, Kelas Inspirasi, Akademi Berbagi,


Indorelawan.org, Indo Runners, Bike to Work Indonesia, BLU TransJakarta, PT KAI
Commuter Jabodetabek, Nebengers, Lewat Mana, TMC Polda Metro Jaya, dan PT
Jasamarga - Equipments

BONUS SELINGAN (EXTENDED VERSION)

Apakah para pecinta selingan setanah air mau sedikit selingan tentang ketulusan PKS? Apa?
Kurang kencang suaranya.!

Oke, cukup-cukup. Kami akan berikan sedikit selingan untuk Anda. Apakah Anda siap?

Selingan kita dimulai pada awal tahun 2013 saat BMKG dan KADIN memperingatkan PKS
akan dua hal penting ini:

1. Maret-Agustus 2013 merupakan puncak kemarau basah yang akan mengakibatkan


kegagalan panen Hortikultura yang sangat masif.

2. Populasi sapi jantan dewasa di Indonesia hanya 1,45 juta ekor dan sapi betina produktif
(indukan) tidak boleh dipotong karena akan mengganggu keberlanjutan produksi dan
populasi sapi lokal.

Namun rupa-rupanya, hal ini malah dimanfaatkan dengan kejam oleh PKS untuk
mengumpulkan pundi-pundi kampanye Pileg dan Pilpres 2014 dengan mengeluarkan
larangan impor hortikultura dan sapi. (Suatu larangan yang segera direspon dengan
pengurangan jumlah produksi oleh negara-negara penghasil hortikultura dan sapi untuk
mencegah kemubaziran.)

Hal yang dinanti-nantikan PKS pun datang. Terjadi kegagalan panen hortikultura yang sangat
masif di Indonesia dan kepunahan supply sapi Indonesia karena pemotongan sapi betina
produktif untuk memenuhi permintaan masyarakat. Akibatnya, belum memasuki bulan suci
Ramadhan 2013 saja, harga hortikultura dan harga sapi sudah mencekik masyarakat
Indonesia.

Usai ada lonjakan harga dari tingginya demand dalam negeri (demand-pull inflation) dan dari
tingginya biaya pemroduksian mendadak (cost-push inflation), dengan senyum yang amat
sangat sumringah seperti habis berpoligami tanpa izin istri pertama PKS mengimpor
hortikultura dan sapi dengan besar-besar.

Jadi jangan lagi Anda heran. Atas rent-seeking tanpa rasa belaskasihan pada kegetiran hidup
dan tanpa rasa takut akan bulan suci Ramadhan, KPK menangkap mafia pangan 12 triliun
rupiah berpencitraan wahabi (/ahistoris, narsis, dan ingin hidup sendiri, seperti Walikota
Depok.)
*Selingan: Menurut UNICEF, sekitar 40% balita Indonesia menderita gizi
buruk/malnutrisi. Hal ini tentu saja mengerikan karena 95 persen pertumbuhan otak dan
kognitif berada pada masa ini. Tak heran, jika malnutrisi ini menyebabkan Indonesia
kehilangan 62 triliun rupiah per tahun dalam produktivitas yang hilang melalui kepandaian
yang buruk dan kemampuan fisik yang kurang.

*Selingan: Menurut Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Korupsi, pelaku korupsi atas penanggulangan keadaan bahaya dapat dijatuhi
hukuman mati.

*Selingan: Menurut Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor:


149/Kep/I.0/B/2006, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai politik yang
memanfaatkan Muhammadiyah demi kekuasaan politik. Karena itu, SKPP menyerukan
para anggota dan pimpinan Muhammadiyah agar membebaskan diri dari misi dan tujuan
PKS.

*Kabar belum terkonfirmasi: Kepercayaan bahwa "Cinta Otoriter Lebih Baik Daripada
Cinta Allah" telah sukses dilambungkan Nur Mahmudi Ismail (Presiden PKS 1998-2000,
Walikota Depok), Tifatul Sembiring (Presiden PKS 2005-2010, Menteri Komunikasi dan
Informatika), Luthfi Hasan Ishaaq (Presiden PKS 2009-2014, Terpidana 18 Tahun
Penjara), Ridwan Hakim (Putra Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminuddin), Hidayat
Nur Wahid (Presiden PKS 2000-2004), dan Ahmad Fathanah (Terpidana 16 Tahun
Penjara).

Senang dengan selingan di atas? All praise is to Allah.

Untuk menutup artikel ini, perkenankanlah Team Hamba Allah menyampaikan harapan kami.
Kami mengharapkan Anda selalu setia pada segala perintah Allah, tanpa ragu melaporkan
tiap dugaan korupsi yang Anda ketahui kepada KPK, dan rajin meningkatkan pengetahuan
Anda agar Indonesia tidak tenggelam di ASEAN Economic Community, terhindar dari
malapetaka demografi, dan masuk surga dengan mudah.

TRIBUTE (PENGHORMATAN)

Tulisan ini didedikasikan untuk (alm.) Kapolri Hoegeng Imam Santoso dan (alm.) Dokter
Forensik dr. Abdul Mun'im Idries, Sp.F.
“Innallaaha laa yughayyiru maa biqawmin, hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim”

Selamat menjalankan misi yang Allah beri.

Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 5

Disclaimer
Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing
penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok
usaha PT Tempo Inti Media Tbk.

Komentar

KIRIM

0
0

1
2014-11-23 07:06:21
1
Balas
0
0

-1'
2014-11-23 07:06:08
1
Balas
0
0
1
2014-11-23 06:29:07
1
Balas
0
0

1
2014-11-21 22:25:28
1
Balas
0
0

1
2014-11-23 07:06:21
1
0
0

-1'
2014-11-23 07:06:08
1
0
0

1
2014-11-23 06:29:07
1
0
0

1
2014-11-23 06:28:55
1
0
0

1
2014-11-21 22:25:21
1
Balas
1 2 Next
Terpopuler

Mantap, Jokowi Berhasil Bongkar Keterlibatan Keluarga Cendana di
Petral

maskusdiono

Ngeri, Ini Dia Mafia Gula di Sekitar Jokowi

maskusdiono


Tanggapi Soal Kehancuran Negara, Tommy Soeharto Tuding Bapak J
dan K

maskusdiono

Pak Ahok dan Kang Emil Menapak Jenjang Kepemimpinan RI Masa


depan

Thamrin Dahlan


Tidakkah Oksigen itu Ajaib?

dian basuki

Blog Pilihan

BBM dan Originalitas Pangan Bangsa

Harga BBM kembali naik. Salah satu dampaknya adalah naiknya harga komoditas
makanan. Untuk mengatasinya, bangsa Indonesia harus kembali ke nilai-nilai
originalitasnya. Salah satu bentuk praktisnya adalah mengolah lahan secara gotong
royong.

Menunggu Mimpi Air Ledeng Diminum Langsung

air kran langsung glek!


Blusukan Way

Para menteri berlomba melakukan blusukan seperti halnya Presiden Jokowi. Apa
efektif?

Setelah Tokobagus Digaet OLX, Giliran Berniaga

Setelah menggaet tokobagus.com, OLX menggandeng berniaga.com. Baguskah


langkah ini bagi konsumen?

Asparagus Dan Ratu Sejagat Di Jerman

Betapa sukanya orang Jerman dengan sayur asparagus , sampai ada pertandingan Ratu
Asparagus di tiap negara bagian.

Blog Terbaru

Horeee...Sepakbola Indonesia Masuk Peringkat Tujuh Dunia

Adjat R. Sudradjat


Terdapat Hubungan Signifikan Antara Muka Dua dengan Cari Muka

Thamrin Dahlan


Lagi-lagi Timnas Garuda Terjungkal, Lalu Siapa Lagi yang Musti Jadi
Kambing Hitam

Adjat R. Sudradjat

Menyingkap Misteri Semesta: Dari Fisika hingga Biologi

dian basuki


Tanggapi Soal Kehancuran Negara, Tommy Soeharto Tuding Bapak J
dan K

maskusdiono

Bisnis
 USA, Tujuan Utama Ekspor Kopi Gayo
 Setelah Tokobagus Digaet OLX, Giliran Berniaga
 Bila Penjual Tahu Lebih Banyak

Bola
 Horeee...Sepakbola Indonesia Masuk Peringkat Tujuh Dunia
 Lagi-lagi Timnas Garuda Terjungkal, Lalu Siapa Lagi yang Musti Jadi
Kambing Hitam
 Mampukah Timnas Meraih Mimpi Juara Piala AFF?

Dunia

 Kisah Dr Ada Igonoh yang Sembuh dari Ebola


 Polisi Singapura Menangkap 2 Orang Jerman Pelaku Vandalisme
Kereta SMRT
 Asparagus dan Ratu Sejagat di Jerman

Gaya
 Kopi Darat Penulis Indonesiana? Kenapa Tidak!
 Sebagai Manajer, Mengapa Sukar Meminta Maaf
 Bersepeda? Ayo Gowes!

Politik

 Mencari Politisi yang Akuntabel


 Inilah Menteri yang Nyaleg di DPR
 Optimisme di Tepi Jurang

 Blog Tamu
 Tempo Staf
 Tempo Institute
 Tempo Komunitas
 Info Warga

Home Bisnis Bola Dunia Gaya Metro Olahraga Otomotif Politik Seleb! Tekno Travel Foto
Grafis Video
TEMPO.CO TEMPO.CO English Majalah Tempo Tempo English Weekly Koran Tempo
Travelounge Tempo Store PDAT Forum Blog Properti Langganan