Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TERPADU

Disusun Oleh :

Golongan B3

Adella Puspita Sari 17025010063


Wachida Ayu Annisa 17025010066
Ratih Gita Salendra 17025010145
Erica Chandra Fabela 17025010148
Septiawan Billy P. 17025010080

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
SURABAYA
2019
MATERI II

MONITORING PATOGEN PADA POHON SINGKONG


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas


penting di Indonesia karena selain untuk memenuhi kebutuhan ekspor, ubikayu juga
merupakan tanaman pangan yang pada beberapa wilayah dijadikan sebagai bahan
makanan pokok. Saat ini, Indonesia merupakan negara produsen ubikayu terbesar
keempat di dunia setelah Nigeria, Thailand dan Brasil. Ekspor ubikayu di Indonesia
pada umumnya dalam bentuk ubikayu kering (gaplek atau lainnya) dan tepung
tapioka (Widaningsih, 2015).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2016), Provinsi Lampung
menduduki peringkat pertama sebagai penghasil ubikayu terbesar di Indonesia.
Luas areal tanaman ubikayu pada tahun 2015 di Provinsi Lampung yaitu 310.441
ha dengan total produksi 8.294.913 ton. Luas areal tanaman dan total produksi
ubikayu di Lampung mengalami penurunan pada tahun 2016 dengan total luasan
areal sebesar 298.299 ha dan total produksi 7.820.000 ton. Penurunan produksi
ubikayu tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu
serangan patogen penyebab penyakit pada ubikayu. Kerugian yang diakibatkan
oleh penyakit hawar bakteri (Xanthomonas campestris) dapat mencapai 50-90%
untuk tanaman yang agak rentan dan mencapai 8% untuk tanaman yang agak tahan.
Penyakit pada ubi kayu disebabkan oleh patogen yang berupa jazat yang
berukuran sangat kecil (mikroskopis), antara lain: jamur, bakteri, mikoplasma dan
virus tanaman. Patogen tersebut apabila menginfeksi tanaman selanjutnya akan
berkembang biak dan menyebar di dalam tanaman, akhirnya tanaman mengalami
kerusakan yang disebut dengan gejala penyakit. Gejala penyakit pada ubi kayu
dapat dilihat pada daun, batang, dan umbi. Timbulnya gejala penyakit disebabkan
karena adanya interaksi antara tanaman inang dan patogen. Penamaan gejala
penyakit dapat didasarkan kepada tanda penyakit, perubahan bentuk, tanaman,
pertumbuhan tanaman dan sebagainya. Sebagai akibat terganggunya pertumbuhan
tanaman oleh penyakit, maka akan terjadi perubahan pada tanaman dalam bentuk,
ukuran, warna, tekstur dan lain-lain.
Terdapat bermacam-macam gejala serangan patogen pada ubi kayu seperti
kerusakan dan perubahan warna pada daun, retakan atau luka pada batang, serta
kerusakan dan perubahan warna pada umbi. Di Indonesia, penyakit ubi kayu yang
penting adalah bercak daun cokelat, bercak daun baur, bercak daun putih, hawar
bakteri, antraknose, serta penyakit busuk perakaran dan umbi yang disebabkan
beberapa jenis jamur tanah. Penyakit yang diakibatkan patogen bersifat menular
dari tanaman sakit ke tanaman sehat di sekitarnya. Selain menurunkan hasil,
serangan penyakit juga dapat mengurangi kualitas umbi maupun bahan tanam (stek)
ubi kayu.
Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PHPT) merupakan solusi yang tepat
dalam menjawab permasalahan yang dihadapi petani, karena PHPT merupakan
ramuan berbagai teknologi pengendalian yang serasi dengan mempertimbangkan
berbagai aspek (ekonomi, ekologi, dan sosial), sehingga ramah lingkungan, aman,
dan ekonomis (Norris, 2003). Tujuan dari budidaya adalah memperoleh hasil
produksi yang maksimal, namun serangan OPT dapat mengurangi hasil produksi
tanaman ubi kayu. Pengendalian hama penyakit terpadu merupakan solusi yang
tepat pada permasalahan serangan OPT budidaya tanaman ubi kayu, sehingga
melalui praktikum ini dapat diketahui pengendalian apa yang tepat digunakan
dalam budidaya tanaman ubi kayu agar produksinya maksimal melalui kegiatan
monitoring yang telah dilakukan.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan


mahasiswa dalam menerapkam konsep PHT dengan cara melakukan monitoring
keberadaan OPT di lapangan untuk mencegah kerigian-kerugian terhadap hasil
tanaman, serta dapat mengidentifikasi dan meganalisa data yang telah di dapatkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Epidemiologi penyakit tumbuhan merupakan cabang ilmu penyakit


tumbuhan yang membahas perihal fenomena populasi tumbuhan inang dan
populasi patogen dengan memperhatikan interaksinya yang dipengaruhi
oleh faktor-faktor fisik, biotik dan insan yang terjadi dalam areal dan waktu
tertentu yang berakibat merugikan tumbuhan yang dianalisis secara kuantitatif
tentang bagaimana pewabahannya.

Menurut van der Plank (1963) epidemiologi yaitu ilmu yang


mempelajari penyakit dalam populasi. Kranz (1973) menambahkan adanya faktor
pengaruh lingkungan dan sikap insan di dalamnya, kemudian dilengkapi oleh
Zadock (1979) bahwa proses tersebut terjadi dalam waktu dan ruang tertentu
yang mempunyai dikala awal, optimal dan akhir, sehingga populasi patogen
merupakan fungsi dari waktu ( X = ft ). Epidemiologi yaitu studi kuantitatif perihal
perkembangan penyakit dalam ruang dan dalam jangka waktu tertentu sebagai
jawaban interaksi antara populasi inang dengan populasi patogen yang dipengaruhi
oleh faktor-faktor fisik, biotik dan manusia.

Epidemik (epidemic) berarti peningkatan insiden penyakit (disease


incidence) atau terjadi perkembangan penyakit dalam suatu populasi tumbuhan per
satuan waktu per satuan luas (van der Plank, 1963). Zadock & Schein (1979)
mengemukakan bahwa epidemik sebagai pertambahan penyakit dalam suatu
populasi tumbuhan per satuan waktu per satuan luas. Pengertian epidemik tersebut
dipakai untuk menunjukkan dinamika penyakit dalam populasi tumbuhan tanpa
mempertimbangkan keganasannya. Epidemi terjadi pada jangka waktu tertentu,
atau tidak selalu terjadi pada setiap waktu. Epidemi terjadi pada tempat, ruang,
wilayah tertentu, atau tidak merata di setiap tempat. Suatu penyakit yang terdapat
merata, terjadi terus menerus di setiap musim dan berasal dari tempat yang
bersangkutan, tidak dianggap sebagai penyakit epidemik, tetapi penyakit endemik.
Penyakit exotik terdapat merata tetapi berasal dari daerah lain. Suatu penyakit yang
merata di seluruh benua atau dunia disebut pandemik, tetapi jikalau penyakit hanya
terdapat di sana-sini dengan selang waktu yang tidak tertentu dan tidak meningkat
disebut sporadik.

Penyakit epidemi terjadi karena interaksi yang tepat pada waktunya dari
unsur-unsur yang menimbulkan terjadinya penyakit tanaman. Unsur-unsur yang
dimaksud yaitu: 1) tumbuhan inang yang rentan, 2) patogen yang virulen (ganas),
3) kondisi lingkungan yang menguntungkan interaksi, 4) campur tangan manusia
dan 5) waktu interaksi
Pada sistem alami, unsur yang dipertimbangkan dalam interaksi yang
menimbulkan terjadinya penyakit hanya tiga, yaitu tumbuhan inang rentan, patogen
virulen dan kondisi lingkungan yang menguntungkan interaksi. Interaksi ini telah
umum digambarkan sebagai denah segitiga penyakit, sehingga konsep timbulnya
penyakit yang memakai pertimbangan tiga unsur ini disebut konsep segi tiga
penyakit. Pada ekosistem pertanian, acara manusia yang mungkin tanpa disadari
sanggup membantu timbul dan berkembangnya penyakit atau bahkan sebaliknya
secara efektif sanggup menghentikannya pada kondisi yang mungkin secara alami
menimbulkan epidemik. Interaksi dalam ekosistem pertanian ini biasanya
digambarkan sebagai denah segi empat penyakit dan konsepnya disebut konsep segi
empat penyakit.

Perkembangan penyakit menjadi terang apabila diamati dalam rentang


waktu yang cukup lama. Pengamatan dilakukan dari satu waktu ke waktu
berikutnya, dari satu demam isu ke musim-musim berikutnya atau dari tahun ke
tahun-tahun berikutnya. Hal-hal yang dipertimbangkan yaitu kerentanan tumbuhan
inang, virulensi patogen, serta usang dan intensitas faktor lingkungan. Oleh lantaran
itu, proses epidemik penyakit secara alami, digambarkan sebagai denah limas segi
tiga (tetrahedron) epidemik penyakit dengan memakai bantalan denah segi tiga
penyakit dan unsur waktu sebagai tinggi limas. Pada ekosistem pertanian,
proses epidemik penyakit digambarkan sebagai denah limas segi empat (piramida)
epidemik penyakit.
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum IHPT dilaksanakan pada setiap hari Selasa, 12-26 November


2019 pukul 15.00-16.40 WIB di Laboraturium Kesehatan tanaman 1 Jurusan
Agroteknologi Fakultas Pertanian, UPN “Veteran” Jawa Timur.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat

Pada praktikum monitoring hama, kami menggunakan alat – alat


yaitu : kamera dan spidol.

3.2.2 Bahan

Pada praktikum monitoring hama, kami menggunakan bahan-bahan


pendukung sebagai mempermudah dalam melakukan praktikum yaitu :
tanaman pohon singkong.

3.3 Cara Kerja


1. Mencari lahan yang membudidayakan tanaman pangan yaitu singkong
2. Mengidentifikasi kondisi lahan dan menentukan cara pengambilan
sampel
3. Mengamati setiap tanaman 20 daun pada 10 tanaman dengan 2x
ulangan yang diamti selama 3 minggu dengan 1x pengamatan tiap
minggunya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tempat : Gunung Anyar


Luas Lahan : 1,5 ha
Pola Sebaran : Merata
Tabel 1.1 Kondisi Lahan

Pengamatan Suhu Kelembapan


Minggu 1 34 oC 46%
Minggu 2 34 oC 46%
Minggu 3 35 oC 46%

Gambar 1.1

Tabel 1.1 Skoring keparahan penyakit pada daun


Skor Gambar
0 = Tidak Ada Kerusakan
1 = 1-20%

2 = 21-40%

3 = 41-60%

4= 61-80%

5 = 81-100%

Tabel 1.2 Pengamatan kerusakan tiap tanaman


Minggu I (31.10.19)
Ulangan I
Tanaman 0 1 2 3 4 5
1 5 5 6 1 3 0
2 6 12 2 0 0 0
3 4 4 2 3 2 5
4 4 7 1 6 2 0
5 3 5 4 4 4 0
6 6 6 3 2 2 1
7 5 3 5 4 2 1
8 6 4 5 4 1 0
9 3 2 4 3 4 4
10 5 3 5 4 3 0
Ulangan 2
Tanaman 0 1 2 3 4 5
1 3 4 3 2 4 4
2 2 3 4 3 4 4
3 1 7 5 2 4 1
4 2 1 3 5 6 3
5 0 7 2 4 1 6
6 5 8 1 2 3 1
7 4 6 2 3 3 2
8 4 7 2 1 3 2
9 5 3 5 4 2 1
10 4 6 3 2 3 2

Minggu ke II (7.11.19)
Ulangan I
Tanaman 0 1 2 3 4 5
1 4 4 6 2 2 2
2 4 5 5 3 3 0
3 6 6 3 2 3 5
4 4 2 2 3 3 6
5 6 4 4 3 2 1
6 5 3 5 5 2 0
7 5 4 2 2 4 3
8 6 3 4 2 3 2
9 4 4 6 1 3 2
10 5 3 5 4 3 0

Ulangan II
Tanaman 0 1 2 3 4 5
1 3 5 2 2 3 5
2 2 3 6 1 3 5
3 2 4 5 5 3 1
4 2 2 5 7 1 3
5 3 6 2 5 3 1
6 3 5 5 4 2 1
7 1 4 2 3 6 4
8 4 1 6 4 3 2
9 5 3 5 4 2 1
10 4 7 2 1 3 2

Minggu ke III (14.11.19)


Ulangan I
Tanaman 0 1 2 3 4 5
1 4 2 3 4 5 2
2 6 4 2 4 3 1
3 4 6 2 3 2 3
4 5 7 2 5 1 0
5 5 2 4 4 3 2
6 6 3 2 3 3 3
7 4 5 2 5 2 2
8 5 3 3 4 3 2
9 2 3 3 4 4 4
10 2 3 4 3 4 4

Ulangan II
Tanaman 0 1 2 3 4 5
1 4 3 2 4 3 4
2 2 4 2 3 4 5
3 5 4 2 4 3 2
4 3 4 5 2 5 1
5 2 5 4 5 3 1
6 0 1 7 5 3 4
7 4 7 1 3 3 2
8 3 7 3 1 3 2
9 4 4 5 4 1 2
10 3 6 4 2 3 2

Gambar 1.2 Grafik Pengamatan

Populasi Patogen
45

44

43

42

41

40

39

38
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3

Populasi Patogen

4.2 Pembahasan
Ubi kayu termasuk tanaman tropis, tetapi dapat pula beradaptasi dan tumbuh
dengan baik di daerah sub tropis. Secara umum tanaman ini tidak menuntut iklim
yang spesifik untuk pertumbuhannya (Jones 1969) . Ubi kayu akan tumbuh dengan
baik pada daerah dibawah 1.500 m dpl dengan curah hujan 750-1.000 mm/tahun
dan suhu rata-rata 25-28 oC.
Ubi kayu ditanam dari setek batang. Satu batang ubi kayu dapat
menghasilkan 10-20 setek (Prihandana et al. 2007). Bibit ubi kayu yang baik berasal
dari tanaman induk yang mempunyai tingkat produksi dan kadar tepung tinggi,
berumur genjah 7 – 9 bulan, memiliki rasa yang enak, serta tahan terhadap hama
dan penyakit. Stek batang ubi kayu yang siap ditanam adalah yang diambil dari
tanaman yang berumur 7-12 bulan, dengan diameter 2,5-3cm, telah berkayu, lurus
dan masih segar serta diambil dari bagian tengah batang (antara 20 cm dari pangkal
batang dan 25 cm dari pucuk). Panjang stek 20 - 25 cm dengan bagian pangkal
diruncingi untuk memudahkan penanaman. Selain itu, kulit stek tidak boleh
terkelupas, terutama pada bakal tunas.
Produksi ubi kayu di Indonesia banyak disebabkan oleh penggunaan bibit
yang kurang baik serta serangan hama dan penyakit tanaman. Selain menurunkan
hasil, keberadaan penyakit ini juga menyebabkan kualitas ubi ataupun bahan tanam
(stek) ubi kayu menurun. Terdapat beberapa penyakit penting pada ubi kayu yang
ditemukan di Indonesia, diantaranya penyakit bercak daun coklat, bercak daun baur,
bercak daun putih, hawar bakteri, antraknosa, serta penyakit busuk perakaran dan
ubi (Saleh dkk., 2013).
Hasil pengamatan yang dilkukan selama 3 minggu menunjukkan
permasalahan penyakit yang muncul pada tanaman singkong hampir menunjukkan
rata-rata tingkat kerusakan yang sama pada setiap minggunya. Tingkat
kerusakannya terlihat dan dibuktikan adanya gejala bercak daun bersudut, nekrosis,
serta daun menguning dan layu. Melihat gejala tersebut biasanya disebabkan oleh
bakteri Xanthomonas campestris pv yang sering menyerang pada tanaman ubi kayu.
Kondisi Umum Lokasi Penelitian pada daerah gunung anyar selama
pengamatan adalah memiliki rata-rata suhu 34 oC dengan kelembaban 46% yang
sama selama 3 minggu pengamatan. Sehingga bakteri ini mendukung terjadinya
infeksi apabila kelembaban udara jenuh selama 12 jam. Pada musim hujan, jumlah
bercak pada daun dapat meningkat (Lozano dan Sequeira 1974b dalam Semangun
2004). Suhu optimum untuk perkembangan penyakit ini adalah sekitar 30oC
(Semangun 2004).
Xanthomonas campestris pv. Manihotis merupakan penyebab penyakit
hawar daun yang menyebar merata di dunia. Bakteri Xanthomonas campestris pv.
Manihotis dan hawar daun (Cassava Bacterial Blight/CBB) merupakan patogen
yang menular melalui bibit dan semua yang ada di lapisan bibit atau dalam embrio.
Bakteri ini bertahan dapat bertahan baik di dalm maupun diluar bibit. Patogen ini
berpengaruh terhadap pertumbuhan/perkecambahan dan Perkembangbiakan dari
bibit yang terinfeksi. Patogen ini dapat melakukan penyebaran yang lebih cepat ke
bagian tanaman yang lain dengan cara menginfeksi batang.. Selain itu penyakit ini
memiliki sprektrum gejala yang luas, tidak hanya gehala bercak daun bersudut,
layu, dan nekrosis vaskular pada batang, tetapi juga hawar, mati ujung, produksi
eksudat, daun rontok hingga kematian tanaman. Berdasarkan pengamatan
kehilangan hasil 40.3-44,35%, sehingga sesuai kehilangan hasil yang telah
dilaporkan dapat mulai dari 12-100%. Penyakit ini juga berpengaruh terhadap
penurunkan hasil panen dan bibit.
Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan kultur teknis, diantaranya
yaitu penggunaan bagian tanaman yang tidak terinfeksi dan kultivar yang tahan.
Penyortiran bibit dapat menurunkan kejadian penyakit, aka tetapi siftanya terbatas
karena Xanthomonas campestris pv. Manihotis dapat bertahan dalam jaringan tanpa
menyebabkan gejala. Bakteri mengadakan penetrasi melalui mulut kulit atau
melalui luka pada jaringan epidermis. Alat-alat pertanian yang terkontaminasi,
manusia, ternak, serangga, dan percikan air hujan, terutama dari getah yang keluar
dari batang dan daun sakit dapat menyebarkan bakteri. Penggunaan bibit yang baik
dan sehat perlu dilakukan guna meningkatkan meningkatkan produksi ubikayu
secara nasional, salah satunya melalui perakitan klon unggul yang memiliki
beberapa sifat, diantaranya potensi hasil tinggi, disukai konsumen, sesuai untuk
daerah penanaman, memiliki sifat toleran terhadap kekeringan, pH rendah dan/atau
tinggi, keracunan Al, dan terhadap serangan hama dan patogen. Salah satu contoh
klon unggul, yaitu klon UJ 3 dan UJ 5 yang memiliki sifat penting yaitu daun tidak
cepat gugur adaptif pada tanah ber-pH tinggi dan rendah serta tahan terhadap
serangan bakteri hawar daun (Cassava Bacterial Blight) (Wargiono dkk., 2006).
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Semakin suhu optimum diatas rata-rata, perkemabangan patogen


semakin meningkat.
2. Kehilangan hasil mulai dari 12-100% sehingga berpengaruh terhadap
hasil panen.
3. Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan kultur teknis,
diantaranya yaitu penggunaan bagian tanaman yang tidak terinfeksi dan
kultivar yang tahan.
DAFTAR PUSTAKA

Jones, W.T, 1969, A History of Western Philosophy, Kant to Wittgenstein and


Sartre, Harcourt, Barce&World Inch, New York.
Kranz, J. (Ed.) 1973. Epidemics of Plant Diseses. Springer-Verlag. Berlin.
Norris. 2003. Entomology and Pest Management. Upper Saddle River (NJ):
Prentice Hall. 691 pp.
Prihandana, Rama, Kartika Noerwijan, dkk. 2007. Bioetanol Ubi kayu; bahan Bakar
Masa Depan. Agromedia Pustaka. Jakarta
Saleh, N., Mudji, R., Sri, W, I., Budhi, S., Sri, W. 2013. Hama, Penyakit, dan Gulma
pada Tanaman Ubi Kayu : Identifikasi dan Pengendaliannya. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. 85 hlm.
Semangun, H. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada
University. Yogyakarta.
Van Der Plank, J.E. 1963. Plant Desease: Epidemic and Control. Academic Press,
New York San Fransisco, London.
Wargiona J, Hasanuddin A, Suyamto. 2006. Teknologi Produksi Ubikayu
Mendukung Industri Bioethanol. Puslitbangtan Bogor; 42 hlm
Widaningsih, Roch. 2015. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi
Kayu. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian.
Jakarta. 78 hlm.
Zadoks, J.C. & R.D. Schein. 1979. Epidemiology and Plant Disease Managemen.
Oxford University press. New York
LAMPIRAN
Perhitungan
1. Minggu Ke-1
Ulangan 1
Tanaman 1
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥5) + (2𝑥6) + (3𝑥1) + (4𝑥3) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
32
= × 100%
100
= 32 %
Tanaman 2
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥12) + (2𝑥2) + (3𝑥0) + (4𝑥0) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
16
= × 100%
100
= 16 %
Tanaman 3
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥4) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥2) + (5𝑥5)
= × 100%
5 × 20
50
= × 100%
100
= 50 %
Tanaman 4
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥7) + (2𝑥1) + (3𝑥6) + (4𝑥2) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
35
= × 100%
100
= 35 %
Tanaman 5
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥5) + (2𝑥4) + (3𝑥4) + (4𝑥4) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
41
= × 100%
100
= 41 %
Tanaman 6
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥6) + (2𝑥3) + (3𝑥2) + (4𝑥2) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
31
= × 100%
100
= 31 %
Tanaman 7
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥2) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
38
= × 100%
100
= 38 %
Tanaman 8
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥4) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥1) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
30
= × 100%
100
= 30 %
Tanaman 9
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥2) + (2𝑥4) + (3𝑥3) + (4𝑥4) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
55
= × 100%
100
= 55 %
Tanaman 10
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
37
= × 100%
100
= 37 %

Ulangan 2
Tanaman 1
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥4) + (2𝑥3) + (3𝑥2) + (4𝑥4) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
52
= × 100%
100
= 52 %
Tanaman 2
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥3) + (2𝑥4) + (3𝑥3) + (4𝑥4) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
56
= × 100%
100
= 56 %
Tanaman 3
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥1) + (1𝑥7) + (2𝑥5) + (3𝑥2) + (4𝑥4) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
44
= × 100%
100

= 44 %
Tanaman 4
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥1) + (2𝑥3) + (3𝑥5) + (4𝑥6) + (5𝑥3)
= × 100%
5 × 20
61
= × 100%
100
= 61 %
Tanaman 5
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥0) + (1𝑥7) + (2𝑥2) + (3𝑥4) + (4𝑥1) + (5𝑥6)
= × 100%
5 × 20
57
= × 100%
100
= 57 %
Tanaman 6
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥8) + (2𝑥1) + (3𝑥2) + (4𝑥3) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
33
= × 100%
100
= 33 %
Tanaman 7
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥6) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
41
= × 100%
100
= 41 %
Tanaman 8
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥7) + (2𝑥2) + (3𝑥1) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
36
= × 100%
100
= 36 %
Tanaman 9
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥2) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
38
= × 100%
100
= 38 %
Tanaman 10
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥6) + (2𝑥3) + (3𝑥2) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
40
= × 100%
100
= 40 %
2. Minggu ke-2
Ulangan 1
Tanaman 1
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥4) + (2𝑥6) + (3𝑥2) + (4𝑥2) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
40
= × 100%
100
= 40 %
Tanaman 2
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥5) + (2𝑥5) + (3𝑥3) + (4𝑥3) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
36
= × 100%
100

= 36 %
Tanaman 3
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥6) + (2𝑥3) + (3𝑥2) + (4𝑥3) + (5𝑥5)
= × 100%
5 × 20
55
= × 100%
100
= 55 %
Tanaman 4
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥2) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥3) + (5𝑥6)
= × 100%
5 × 20
57
= × 100%
100
= 57 %
Tanaman 5
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥4) + (2𝑥4) + (3𝑥3) + (4𝑥2) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
34
= × 100%
100
= 34 %
Tanaman 6
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥5) + (3𝑥5) + (4𝑥2) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
36
= × 100%
100
= 36 %
Tanaman 7
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥4) + (2𝑥2) + (3𝑥2) + (4𝑥4) + (5𝑥3)
= × 100%
5 × 20
45
= × 100%
100
= 45 %
Tanaman 8
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥3) + (2𝑥4) + (3𝑥2) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
39
= × 100%
100
= 39 %
Tanaman 9
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥4) + (2𝑥6) + (3𝑥1) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
41
= × 100%
100
= 41 %
Tanaman 10
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
37
= × 100%
100
= 37 %
Ulangan 2
Tanaman 1
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥5) + (2𝑥2) + (3𝑥2) + (4𝑥3) + (5𝑥5)
= × 100%
5 × 20
52
= × 100%
100
= 52 %
Tanaman 2
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥3) + (2𝑥6) + (3𝑥1) + (4𝑥3) + (5𝑥5)
= × 100%
5 × 20
55
= × 100%
100
= 55 %
Tanaman 3
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥4) + (2𝑥5) + (3𝑥5) + (4𝑥3) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
46
= × 100%
100
= 46 %
Tanaman 4
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥2) + (2𝑥5) + (3𝑥7) + (4𝑥1) + (5𝑥3)
= × 100%
5 × 20
52
= × 100%
100
= 52 %
Tanaman 5
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥6) + (2𝑥2) + (3𝑥5) + (4𝑥3) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
42
= × 100%
100
= 42 %
Tanaman 6
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥5) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥2) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
40
= × 100%
100
= 40 %
Tanaman 7
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥1) + (1𝑥4) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥6) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
61
= × 100%
100
= 61 %
Tanaman 8
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥1) + (2𝑥6) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
47
= × 100%
100
= 47 %
Tanaman 9
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥2) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
38
= × 100%
100
= 38 %
Tanaman 10
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥7) + (2𝑥2) + (3𝑥1) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
36
= × 100%
100
= 36 %
3. Minggu Ke-3
Ulangan 1
Tanaman 1
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥2) + (2𝑥3) + (3𝑥4) + (4𝑥5) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
50
= × 100%
100
= 50 %
Tanaman 2
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥4) + (2𝑥2) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
37
= × 100%
100
= 37 %
Tanaman 3
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥6) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥2) + (5𝑥3)
= × 100%
5 × 20
42
= × 100%
100
= 42 %
Tanaman 4
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥7) + (2𝑥2) + (3𝑥5) + (4𝑥1) + (5𝑥0)
= × 100%
5 × 20
30
= × 100%
100
= 30 %
Tanaman 5
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥2) + (2𝑥4) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
44
= × 100%
100
= 44 %
Tanaman 6
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥6) + (1𝑥3) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥3) + (5𝑥3)
= × 100%
5 × 20
43
= × 100%
100
= 43 %
Tanaman 7
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥5) + (2𝑥2) + (3𝑥5) + (4𝑥2) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
42
= × 100%
100
= 42 %
Tanaman 8
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥3) + (2𝑥3) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
43
= × 100%
100
= 43 %
Tanaman 9
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥3) + (2𝑥3) + (3𝑥4) + (4𝑥4) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
57
= × 100%
100
= 57 %
Tanaman 10
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥3) + (2𝑥4) + (3𝑥3) + (4𝑥4) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
56
= × 100%
100
= 56 %
Ulangan 2
Tanaman 1
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥3) + (2𝑥2) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
51
= × 100%
100
= 51 %
Tanaman 2
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥4) + (2𝑥2) + (3𝑥3) + (4𝑥4) + (5𝑥5)
= × 100%
5 × 20
58
= × 100%
100
= 58 %
Tanaman 3
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥5) + (1𝑥4) + (2𝑥2) + (3𝑥4) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
42
= × 100%
100
= 42 %
Tanaman 4
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥4) + (2𝑥5) + (3𝑥2) + (4𝑥5) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
45
= × 100%
100
= 45 %
Tanaman 5
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥2) + (1𝑥5) + (2𝑥4) + (3𝑥5) + (4𝑥3) + (5𝑥1)
= × 100%
5 × 20
45
= × 100%
100
= 45 %
Tanaman 6
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥0) + (1𝑥1) + (2𝑥7) + (3𝑥5) + (4𝑥3) + (5𝑥4)
= × 100%
5 × 20
62
= × 100%
100
= 62 %
Tanaman 7
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥7) + (2𝑥1) + (3𝑥3) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
40
= × 100%
100
= 40 %
Tanaman 8
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥7) + (2𝑥3) + (3𝑥1) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
38
= × 100%
100
= 38 %
Tanaman 9
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥4) + (1𝑥4) + (2𝑥5) + (3𝑥4) + (4𝑥1) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
40
= × 100%
100
= 40 %
Tanaman 10
∑(𝑛 × 𝑣)
𝐼= × 100%
𝑍×𝑁
(0𝑥3) + (1𝑥6) + (2𝑥4) + (3𝑥2) + (4𝑥3) + (5𝑥2)
= × 100%
5 × 20
42
= × 100%
100
= 42 %