Anda di halaman 1dari 17

SISTEM PENTANAHAN BANGUNAN RUMAH

Disusun oleh:
Arrdy Kusumma Wijaya
(30601601839)

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani
dan rohani sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Muhammad
SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang
sempurna dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi
tugas pendidikan agama dengan judul SISTEM PENTANAHAN BANGUNAN
RUMAH Disamping itu, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini.
Akhir kata, penulis memahami jika makalah ini tentu jauh dari kesempurnaan
maka kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya kami di
waktu-waktu mendatang.

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................................ iii
BAB I ............................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN......................................................................................................................... 1
A. Latar belakang ................................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah.............................................................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................................................... 1
BAB II ........................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ........................................................................................................................... 2
A. Dasar teori system pentanahan .......................................................................................... 2
B. Cara mengukur sistem pentanahan .................................................................................... 3
C. Komponen Sistem Pentanahan .......................................................................................... 3
KESIMPULAN ........................................................................................................................... 12
Daftar Pustaka ............................................................................................................................. 14

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Setiap pembangunan suatu rumah yang akan didirikan, maka pada saat
itu juga rumah itu akan mendapatkan masukan listrik dari PLN. Dalam
pembangunan suatu rumah baru, sangat dibutuhkan seseorang yang
menggambar tata letak suatu pemasangan instalasi rumah tersebut.Selain
membutuhkan seseorang yang menggambar, dibutuhkan juga seseorang yang
ahli dalam memasang instalasi rumah tersebut.
Dalam pemasangan instalasi rumah tersebut, disarankan juga agar
memasang pentanahan di setiap rumah yang akan di pasang instalasi listrik.
Karena suatu pentanahan sangat berguna untukmembatasitegangan pada
bagian-bagian peralatan yang tidak seharusnya dialiri arus misalnya:
body/casing, hingga tercapai suatu nilai yang aman untuk semua kondisi
operasi, baik kondisi normal maupun saat terjadi gangguan,memberikan
jaminan keselamatan dari bahaya kejut listrik, baik perlindungan dari sentuh
langsung maupun tak langsung, serta perlindungan terhadap suhu berlebih
yang dapat mengakibatkan kebakaran.

B. Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas maka dalam makalah ini akan dibahas
beberapa rumusan masalah, antara lain sebagai berikut :
1. Pengertian system pentanahan
2. Jenis – jenis arde pentanahan
3. Cara mengukur tahanan pentanahan
4. Memahami hasil pengukuran tahanan pentanahan
5. Cara memasang arde pentanahan
6. Menggambar rumah sederhana

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa itu system pentanahan
2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengukur tahanan pentanahan
3. Untuk mengetahui bagaimana cara memasang system pentanahan
4. Untuk mengetahui bagaimana cara menggambar rumah sederhana

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Dasar teori system pentanahan


Pentanahan (grounding) adalah merupakan suatu mekanisme dimana
daya listrik dihubungkan langsung dengan tanah (bumi). Seperti kita ketahui
bersama bahwa arus listrik terjadi jika ada perbedaan potensial diantara 2
(dua) buah titik (node). Arus listrik selalu mengalir dari titik yang
mempunyai energi potensial (Ep) yang lebih tinggi ke titik yang mempunyai
energi potensial lebih rendah. Hal ini terjadi sebaliknya dengan arah aliran
electron yang mengalir dari titik dengan Ep yang lebih rendah ke titik yang
mempunyai Ep yang lebihtinggi,mengapa dapat terjadi demikian?, ilmu
elektronika yang akan menjawabnya, yakni suatu cabang ilmu fisika yang
secara khusus mempelajari aliran elektron.
Energi listrik atau biasa disebut dengan daya listrik (P) yang notabene
adalah merupakan hasil perkalian antara tegangan listrik (V) dengan arus
listrik (I) selalu akan mengalir ke titik yang mempunyai tantangan atau
rintangan atau hambatan (R) yang paling besar, mengapa bias begitu?
Fenomena ini dapat dijawab dengan percobaan dengan mempergunakan zat
cair (air) dengan bejana berhubungan, misalnya bentuk setiap bejana yang
berhubungan itu mempunyai perbedaan bentuk dan ukurannya, akan terlihat
bahwa jika pada bejana berhubungan tersebut kita alirkan air untuk
memenuhi semua bejana tersebut, maka semua bejana tersebut akan menjadi
penuh secara bersamaan dalam waktu yang sama, hal ini dapat kita
analogikan dengan apa yang terjadi pada energi listrik.
Dengan demikian ternyata bahwa arus listrik akan mengalir jika ada
hambatan atau rintangan yang menghalang diantara 2 titik yang berbeda,
mengapa? jawabannya adalah dengan adanya rintangan atau hambatan yang
ada akan menyebabkan terjadinya perbedaan potensi pada masing-masing
titik, sehingga menyebabkan terjadinya arus listrik (I) diantara kedua titik
tersebut.
Jadi usahakanlah tantangan atau hambatan diantara kedua titik yang
berbeda potensinya agar menjadi sekecil mungkin (mendekati nilai nol) untuk
menghindari terjadinya arus listrik diantara kedua titik tersebut, karena semua
penghantar mempunyai tahanan masing-masing atau disebut dengan tahanan
jenis, maka untuk membuat tahanan yang benar-benar bernilai nol diantara
kedua titik tersebut, yakni hanya dengan menghubungkannya ke bumi atau
tanah yang akan menyebabkan tahanan atau hambatan diantara kedua titik
tersebut menjadi nol sehingga tidak ada perpindahan daya listrik yang terjadi
diantara keduanya

2
Adapun tujuan dari sistem pentanahan tersebut adalah untuk
membatasi tegangan pada bagian-bagian peralatan yang ttidak seharusnya
dialiri arus misalnya : body/casing, hingga tercapai suatu nilai yang aman
untuk semua kondisi operasi, baik kondisi normal maupun saat terjadi
gangguan, memberikan jaminan keselamatan dari bahaya kejut listrik, baik
perlindungan dari sentuh langsung maupun tak langsung, serta perlindungan
terhadap suhu berlebih yang dapat mengakibatkan kebakaran.
Tujuan utama dari adanya pentanahan adalah menciptakan jalur yang
low-impedance l (tahanan rendah) terhadap permukaan bumi untuk
gelombang listrik dan transient voltage. Penerangan, arus listrik, circuit
switching danelectrostatic discharge adalah penyebab umum dari adanya
sentakan listrik atau transient voltage. Sistem pentanahan yang efektif akan
meminimalkan efek tersebut.
Jika terjadi gangguan/kondisi yang tidak diinginkan, baik langsung
atau tidak langsung (induksi), diupayakan agar gangguan tersebut dialirkan
ke tempat yang aman, misal, ke tanah.
Grounding yang baik tergantung kondisi tanah (komposisi dan
kelembaban), semakin basah tanah maka resistansinya semakin kecil
sehingga semakin mudah mengalirkan arus/tegangan buangan. Jadi
simpelnya, usahakan grounding mencapai permukaan air dan menggunakan
kabel khusus grounding (penghantar) yang baik. cukup ideal jika
disambungkan dengan pipa instalasi pompa/mesin air
Tambahan berikut dari salah satu sumber tentang jenis-jenis gangguan
listrik yang sering terjadi yaitu : Blackouts, Blackouts, Line Noise, Sags,
Surges, Spike/Lightning.

B. Cara mengukur sistem pentanahan


Untuk mengetahui apakah suatu tahanan pentanahan sesuai dengan
standar, maka diperlukan pengukuran tahanan pentanahan tersebut.
Pengukuran tersebut atas beberapa jenis yang secara menyeluruh disebut
sebagai pengukuran tahanan pentahanan. Pengukuran yang disebut diatas
adalah pengukuran tahanan pentanahan yang bertujuan mengetahui besarnya
tahanan pentanahan dari beberapa kondisi tanah.

C. Komponen Sistem Pentanahan


Komponen sistem pentanahan secara garis besar terdiri dari dua
bagian, yaitu hantaran penghubung dan elektroda pentanahan.

1. Hantaran Penghubung
Hantaran penghubung adalah suatu saluran penghantar (conductor)
yang menghubungkan titik kontak pada badan atau kerangka peralatan listrik
dengan elektroda bumi. Fungsi hantaran penghubung adalah untuk
menyalurkan arus gangguan ke elektroda pada sistem pentanahan. Penghantar
yang digunakan dapat berupa penghantar yang berisolasi atau kabel dan juga
penghantar yang tidak berisolasi seperti BC (Bare Conductor), ACSR
(Aluminium Conductor Steel Reinforced). Bahan yang digunakan

3
kebanyakan terbuat dari aluminium dan tembaga. Dalam hal pentanahan
untuk peralatan sering digunakan penghantar dengan tembaga atau BC.
Antara hantaran penghubung dan elektroda pentanahan harus dipasang
sambungan yang dapat dilepas untuk keperluan pengujian resistansi
pembumian sehingga penempatan sambungan tersebut harus pada tempat
mudah dicapai. Sambungan hantaran penghubung ini dengan elektroda harus
kuat secara mekanis dan menjamin hubungan listrik dengan baik misalnya
dengan menggunakan penyambungan las, klem, atau baut kunci yang mudah
lepas. Klem pada elektroda harus menggunakan baut dengan diameter
minimal 10mm2. Selain faktor diatas yang perlu diperhatikan juga adalah
sambungan antar penghantar penghubung dan elektroda pentanahan tersebut
juga harus dilindungi dari korosi sehingga daya tahan untuk sistem
pentanahannya bisa lama terjamin.

2. Elektroda Pentanahan
Yang dimaksud dengan elektroda pentanahan adalah sebuah atau
sekelompok penghantar yang ditanam dalam bumi dan mempunyai kontak
yang erat dengan bumi dan menyertai hubungan listrik dengan bumi.
Elektroda pentanahan tertanam sedemikian rupa dalam tanah berupa
elektroda pita, logam, batang konduktor, pipa air minum dari tulang besi
beton pada tiang pancang. Untuk mendapatkan harga resistansi pentanahan
yang serendah mungkin harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain :
1. Resistansi elektroda pentanahan harus lebih kecil dari pada harga yang
direkomendasikan.
2. Elektroda pentanahan harus mampu dialiri arus hubung singkat terbesar.
3. Elektroda pentanaha harus mempunyai sifat kimia yang baik sehingga
tidak mudah mengalami korosi.
4. Elektroda pentanahan harus mempunyai sifat mekanis yang baik.
Pada umumnya elektroda-elektroda pentanahan ditanam sejajar satu sama
lainnya untuk kedalaman beberapa puluh sentimeter didalam tanah. Untuk itu
ada beberapa macam elektroda pentanahan yang biasa dipakai seperti
elektroda batang, elektroda pita, dan elektroda plat.

1. Elektroda Batang
Elektroda Batang (Rod), yaitu elektroda dari pipa atau besi baja profil
yang dipancangkan ke dalam tanah. Elektroda ini merupakan elektroda yang
pertama kali digunakan dan teori-teori berawal dari elektroda jenis ini.
Elektroda ini banyak digunakan di gardu induk. Secara teknis, elektroda
batang ini mudah pemasangannya, yaitu tinggal memancangkannya ke dalam
tanah. Disamping itu, elektroda ini tidak memerlukan lahan yang luas
menunjukan contoh dari elektroda batang.

4
Gambar 2.1 Elektroda Batang
Contoh rumus tahanan pentanahan untuk elektroda batang tunggal :
𝑹𝑮 = 𝑹𝑹 = 𝝆 𝟐𝝅𝑳𝑹 (𝐥𝐧 𝟒 𝑳𝑹 𝑨𝑹 − 𝟏)

Dimana :
RG = Tahanan pentanahan (Ohm)
RR = Tahanan pentanahan untuk batang tunggal (Ohm)
𝜌 = Tahanan jenis tanah (Ohm-meter)
LR = Panjang elektroda (meter)
AR = Diameter elektroda (meter)

2. Elektroda Pita
Elektroda pita adalah elektroda yang dibuat dari hantaran berbentuk
pita atau berpenampang bulat atau hantaran pilin yang pada umumnya
ditanam secara dalam. Pemancangan ini akan bermasalah apabila mendapat
lapisan-lapisan tanah yang berbatu, disamping sulit pemancangannya, untuk
mendapatkan nilai tahanan yang rendah juga bermasalah. Ternyata sebagai
pengganti pemancangan batang hantaran secara vertical ke dalam tanah,
dapat dilakukan dengan menanam batang hantaran secara mendatar dan
dangkal. Disamping kesederhanaannya itu, ternyata tahanan pentanahan yang
dihasilkan sangat dipengaruhi oleh bentuk konfigurasi elektrodanya, seperti
dalam bentuk melingkar, radial atau kombinasi antara keduanya.

Gambar 2.2 Elektroda Pita

5
Contoh rumus perhitungan tahanan pentanahan :
𝑹𝑮 = 𝑹𝑾 = 𝝆 𝝅𝑳𝑾 [𝐥𝐧 ( 𝟐 𝑳𝑾 √𝒅𝑾𝒁𝑾 ) + 𝟏,𝟒 𝑳𝑾 √𝑨𝑾 − 𝟓, 𝟔]
Dimana :
RW = Tahanan dengan kisi-kisi (grid) kawat (Ohm)
𝜌 = Tahanan jenis tanah (Ohm-meter)
dW = Diameter kawat (meter)
LW = Panjang total grid kawat (meter)
ZW = Kedalaman penanaman (meter)
AW = Luasan yang dicakup oleh grid (meter)

3. Elektroda Plat
Elektroda plat adalah elektroda dari bahan plat logam (utuh atau
berlubang) dari kawat kasa. Pada umumnya elektroda ini ditanam dalam
tanah. Elektroda ini digunakan bila diinginkan tahanan peralatan yang kecil
dan sulit diperoleh dengan menggunakan jenis-jenis elektroda yang lain.
Bentuk elektroda plat biasanya empat persegí atau empat persegi panjang.
Cara penanaman biasanya secara vertical, sebab dengan menanam secara
horizontal hasilnya tidak berbeda jauh dengan vertical. Penanaman secara
vertical adalah lebih praktis dan ekonomis.

Gambar 2.3 Elektroda Plat

Contoh rumus perhitungan tahanan pentanahan elektroda pelat tunggal :


𝑹𝑮 = 𝑹𝑷 = 𝝆 𝟐𝝅𝑳𝑷 [𝐥𝐧 ( 𝟖 𝑾𝑷 √𝟎,𝟓 𝑾𝑷+ 𝑻𝑷 ) − 𝟏]
Dimana :
RP = Tahanan pentanahan pelat (Ohm)
𝜌 = Tahanan jenis tanah (Ohm-meter)
WP = Lebar pelat (meter)
LP = Panjang pelat (meter)
TP = Tebal pelat (meter)

A. Fungsi Grounding
Sebagai bagian dari proteksi instalasi listrik rumah, grounding ini
mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :

6
1. Untuk tujuan keselamatan, grounding berfungsi sebagai penghantar arus
listrik langsung ke bumi atau tanah saat terjadi tegangan listrik yang timbul
akibat kegagalan isolasi dari system kelistrikan atau peralatan listrik.
Contohnya, bila suatu saat kita menggunakan setrika listrik dan terjadi
tegangan yang bocor dari elemen pemanas di dalam setrika tersebut, maka
tegangan yang bocor tersebut akan mengalir langsung ke bumi melalui
penghantar grounding. Dan kita sebagai pengguna akan aman dari bahaya
kesetrum. Perlu diingat, peristiwa kesetrum terjadi bila ada arus listrik yang
mengalir dalam tubuh kita.
2. Dalam instalasi penangkal petir, system grounding berfungsi sebagai
penghantar arus listrik yang besar langsung ke bumi. Dalam prakteknya,
pemasangan grounding untuk instalasi penangkal petir dan instalasi listrik
rumah harus dipisahkan.
3. Sebagai proteksi peralatan elektronik atau instrumentasi sehingga dapat
mencegah kerusakan akibat adanya bocor tegangan.
Bila ditinjau lebih luas lagi, pengertian dan fungsi grounding akan berbeda
bila diterapkan pada system transmisi tenaga listrik, tujuan pengukuran,
pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa.
1. Untuk rangkaian system transmisi tenaga listrik yang besar, bumi itu
sendiri dapat digunakan sebagai salah satu penghantar bagi jalur kembali dari
rangkaian tersebut, dimana dapat menghemat biaya bila dibandingkan
pemasangan satu penghantar fisik sebagai saluran kembali. Perlu diketahui,
arus listrik yang mengalir ke beban akan mengalir kembali ke sumber arus
listrik tersebut.
2. Untuk tujuan pengukuran, bumi dapat berperan sebagai tegangan referensi
yang relatif cukup konstan untuk melakukan pengukuran sumber tegangan
lain.
3. Pada pesawat terbang, saat beroperasi tentu tidak memiliki koneksi fisik
yang langsung ke bumi. Karena itu pada pesawat udara, terdapat suatu
konduktor besar yang berfungsi sama seperti grounding, sebagai jalur
kembali dari berbagai arus listrik. Selain itu pesawat udara memiliki static
discharge system yang dipasang pada ujung-ujung sayap, yang gunanya
membuang kembali ke udara muatan listrik yang timbul akibat gesekan
dengan angkasa saat terbang, sehingga pesawat aman dari sambaran petir.

7
B. Faktor-faktor yang menentukan tahanan pentanahan
Tahanan pentanahan suatu elektroda tergantung pada tiga faktor :
1. Tahanan elektroda itu sendiri dan penghantar yang menghubungkan ke
peralatan yang ditanahkan.
2. Tahanan kontak antara elektroda dengan tanah.
3. Tahanan dari massa tanah sekeliling elektroda.
Namun demikian pada prakteknya tahanan elektroda dapat
diabaikan,akan tetapi tahanan kawat penghantar yang menghubungkan
keperalatan akan mempunyai impedansi yang tinggi terhadap impuls
frekuensi tinggi seperti misal pada saat terjadi lightning discharge. Untuk
menghindarinya, sambungan ini diusahakan dibuat sependek mungkin.
Ketika merancang dan mendesain sebuah pelayanan listrik,seorang
insinyur listrik atau teknisi listrik harus hati-hati hanya membumikan
(mentanahkan) sistem pelayanan pentanahan pada satu lokasi. Jika ada lebih
dari satu hubungan pentanahan ada kemungkinan akan mengijinkan “arus
sirkulasi “ mengalir di dalam loop yang tidak ditetapkan. Karena memiliki
lebih dari satu jalan ke tanah (bumi) hal ini dapat menyebabkan arus
gangguan mengalir dalam jalan yang berbeda dan tidak kembali kepada jalan
yang ditetapkan yang mana jalan ini akan menyebabkan circuit breaker
membuka (trip) pada saat gangguan listrik terjadi pada sistem.
Begitu juga dengan konduktor pentanahan (pembumian) harus
memiliki ukuran yang sesuai dengan standard ditetapkan yang mana akan
membawa dan mengalirkan setiap arus gangguan yang dapat kita lihat pada
saat tejadi gangguan. Apabila konduktor pentanahan (pembumian) terlampau
kecil maka arus yang mengalir melaluinya akan dapat membuatnya
panas,membuatnya meleleh,membuat percikan api dan mulai terbakar.
Semakin besar konduktor pentanahan (pembumian),semakin kecil
resistansinya maka semakin baik arus mengalir,akibatnya semakin rendah
kenaikan temperature pada konduktor.
C. System grounding yang terpasang di instalasi listrik rumah
Kabel grounding secara umum terkoneksi di kWh meter PLN. Pada
saat pemasangan kWh meter, petugas PLN yang melakukan pemasangan
instalasi grounding dan juga menyambung kabel grounding di dalam kWh
meter tersebut. Dalam hal ini petugas PLN akan memastikan grounding
terpasang dengan benar. Karena kWh meter adalah milik PLN dan disegel.
Tetapi, sering juga perumahan yang dibangun memasang sendiri
instalasi grounding, dengan menggunakan jasa kontraktor instalasi
listrik, sebelum PLN memasang kWh meter-nya. Dan kemudian saat kWh

8
meter dipasang, petugas PLN akan menyambung koneksi grounding tersebut
di kWh meter. Untuk sistem koneksi grounding di kWh meter, terminal
grounding akan dihubungkan dengan terminal netral. Sistem grounding di
kWh meter akan disambungkan menggunakan kabel grounding dari kabel
NYM masuk ke MCB Box. Gambar berikut adalah contoh koneksi untuk
grounding yang terpasang di MCB Box (Pengaman Listrik atau Panel
Hubung Bagi) dari instalasi listrik rumah.

Gambar 2.4 Koneksi Grounding yang terpasang pada MCB Box


Dalam gambar tersebut, sirkuit dari instalasi listrik rumah digunakan 3 buah
MCB dan kabel masuk dari kWh meter berada di bagian bawah serta kabel
keluarnya berada dibagian atas. Terminal netral berada di bagian atas (kabel
berwarna biru) dan terminal proteksi grounding berada di bagian bawah
(kabel hijau-kuning).
Bagaimana dengan instalasi grounding di bagian luar atau “outdoor”. Untuk
tipe yang umum atau konvensional bisa dilihat pada gambar berikut :

9
Gambar 2.5 Contoh Instalasi Grounding Rumah
Dari gambar dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Sistem grounding yang terpasang ada dua macam yaitu untuk instalasi
listrik rumah dan instalasi penangkal petir. Dua system grounding ini
memang harus dipisahkan pemasangannya dan berjarak paling tidak 10 m.
2. Koneksi grounding untuk instalasi listrik rumah terpasang di kWh meter
PLN.
Komponen instalasi grounding adalah sebagai berikut :
1. Grounding rod, yaitu batang grounding yang ditanam di dalam tanah.
Terdiri dari pipa galvanis medium ¾”, kawat tembaga BC berdiamater 16
mm2, Dan dilengkapi dengan “splitzen” yang dikencangkan dengan baut.
Panjang grounding rod ini biasanya antara 1.5 m s/d 3 m.
2. Pipa PVC, yang digunakan sebagai selubung (konduit) dari kabel
grounding yang ditanam dalam dinding / tembok atau untuk jalur kabel
penangkal petir.
Dari kWh meter, kawat tembaga BC yang terpasang dalam pipa PVC sebagai
konduit bertemu dengan grounding rod dalam satu bak kontrol. Untuk
instalasi penangkal petir, air terminal yang terpasang harus mampu meng-
coversampai radius 120 derajat. Dan di posisi air teminal, batang tembaga
disambung dengan kabel BC langsung menuju grounding rod.

10
Detail dari masing-masing instalasi adalah sebagai berikut :

Gambar 2.6 Detail Komponen Grounding Rod

Gambar 2.7 Detail Komponen Air Terminal dari Penangkal Petir


D. Parameter dalam menentukan kualitas grounding
Parameter yang penting dalam menilai kualitas grounding adalah
resistans atau nilai tahanan dalam satuan Ohm, yang terukur dikoneksi
grounding tersebut. Semakin kecil nilai tahanannya, semakin baik grounding
tersebut. Artinya arus gangguan listrik atau petir dapat lebih cepat menuju
bumi tanpa hambatan berarti. Nilai yang umum dipakai adalah nilai tahanan

11
maksimal 5 Ohm untuk instalasi listrik rumah dan maksimal 2 ohm untuk
instalasi petir. Hal ini juga sesuai dengan yang dinyatakan dalam PUIL 2000.
Yang perlu dicatat disini adalah, nilai tahanan yang didapat tidak selalu sama
dengan panjang grounding rod yang terpasang, karena sangat tergantung pada
kondisi tanah dimana instalasi grounding ini dipasang. Bila kondisi tanahnya
mempunyai nilai tahanan rendah, maka cukup dipasang satu atau dua
batang grounding rod dan tahanan yang terukur dapat mencapai dibawah 5
Ohm.
Bila tahanan terukur masih tinggi, maka panjang grounding rod harus
ditambah agar lebih dalam lagi. Akan tetapi, PUIL 2000 menjelaskan, jika
daerah yang mempunyai jenis tanah yang nilai tahanannya tinggi, tahanan
grounding-nya boleh mencapai maksimal 10 Ohm.
Pengukuran nilai tahanan ini menggunakan “earth tester”, dimana alat
ukur ini sudah menjadi alat wajib bagi kontraktor yang mengerjakan
instalasi grounding. Anda hanya perlu memastikan bahwa nilai tahanan yang
terukur sudah sesuai dengan persyaratan instalasi grounding. Jadi bukan
berapa meter grounding rod ditanam, tapi nilai resistansi yang harus jadi
parameter utama
E. Akibat Tidak Memiliki System Pembumian (Pentanahan) Listrik Dalam
Rumah
Apabila komponen mekanik penghantar listrik seperti mesin cuci,
motor pompa listrik terinduksi energy listrik akibat adanya ganguan phasa ke
tanah (ground fault),maka tidak adanya system pentanahan (pembumian)
listrik, akan gagal menyediakan jalan bagi arus listrik kembali ke sumbernya.
Jikalau hal ini terjadi maka apabila kita menyentuh peralatan yang terinduksi
energy listrik tadi, maka akan ada jalan listrik masuk ke tanah (bumi) melalui
tubuh kita yang bisa berakibat kebakaran pada tubuh kita atau kematian tiba-
tiba akibat sengatan arus dan tegangan listrik.

KESIMPULAN

1. Untuk menjaga agar sistem listrik beroperasi dengan aman dari bahaya
ganguan listrik ,kita tidak boleh mengabaikan pembumian (pentanahan) pada
rumah,toko maupun tempat usaha kita. Sistem pentanahan (pembumian) yang
baik akan menyediakan jalan resistansi yang rendah ke tanah bagi setiap arus
gangguan. Hal ini sangat diperlukan agar menjaga peralatan proteksi seperti
GFCI ( Ground Fault Circuit Interrupter) , RCD ( Residual Current Device),
Short Circuit and Over Load Protection Device ( CB dan Fuse) bekerja.
Dengan bekerjanya system proteksi tersebut maka rumah kita,toko kita dan
kita sendiri terhindar dari bahaya kebakaran dan kematian akibat sengatan
arus listrik dan tegangan listrik.

12
2. Pembumian (pentanahan) listrik akan menyediakan jalan resistansi yang
rendah ke tanah (bumi) bagi setiap arus gangguan yang berasal dari sambaran
petir maupun tegangan yang melonjak tiba-tiba ( surges) yang terjadi pada
sistem listrik.
3. Pentanahan (pembumian) yang buruk tidak akan menyediakan jalan
yang lancar bagi arus gangguan untuk mengalir dengan arus yang cukup
untuk mengaktifkan Circuit Breaker membuka/open (trip) dengan cepat. Dan
jika arus gangguan ini diijinkan terus mengalir, maka dapat menyebabkan
panas yang berlebih pada kabel,pada peralatan listrik yang akhirnya dapat
menimbulkan percikan api dan kebakaran.
4. Pembumian (pentanahan) listrik akan menyediakan titik acuan yang
stabil bagi tegangan dalam setiap phasa dari rangkaian. Titik pentanahan
(pembumian) yang kuat dan benar akan mencegah naik turunnya tegangan
pada tegangan phasa ke tanah dan tegangan phasa ke phasa.

13
Daftar Pustaka

http://www.instalasilistrikrumah.com/arde-atau-grounding-untuk-instalasi-listrik-
rumah/

https://www.google.com/search?q=sistem+pentanahan+rumah&source=lnms&tb
m=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjxgbKspKbhAhUNTY8KHXbOBJgQ_AUIDigB&biw=1242
&bih=562#imgrc=_

https://orlandoginting.webs.com/apps/blog/show/41376844

14