Anda di halaman 1dari 19

» BPUPKI : Sejarah, Tugas, Tujuan, Sidang

& Anggota-Anggota BPUPKI


SalamadianJanuari 7, 20190
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau sering disingkat
dengan BPUPKI merupakan badan persiapan kemerdekaan bentukan pemerintah
pendudukan Jepang. Dalam bahasa Jepang, BPUPKI disebut sebagai Dokuritsu Junbi
Cosakai.

BPUPKI dibentuk pada 29 April 1945. Waktu berdirinya BPUPKI tersebut bertepatan
dengan ulang tahun Kaisar Hirohito. Jepang sengaja membentuk BPUKI sebagai upaya
untuk mendapatkan perhatian dari bangsa Indonesia dan menjanjikan bahwa Jepang dapat
membantu proses kemerdekaan Indonesia.

BPUPKI memiliki anggota 63 orang dan diketuai oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat dan 2
wakil ketua yaitu R.P Soeroso dan Hibangase Yosio (orang Jepang)

Latar Belakang Pembentukan BPUPKI

tugassekolah.com
Latar belakang pembentukan Docuritsu Junbi Cosakai secara formil dimuat dalam
maklumat Gunseikan no 23, tanggal 29 Mei 1945. Jika dilihat dari latar belakang keluarnya
Maklumat No 23 tersebut, pembentukan BPUPKI didasarkan karena kedudukan kekuasaan
Jepang yang sudah terancam.

Jadi kebijakan pembetukan BPUPKI bukan murni kebaikan hati dari Jepang tetapi
sebenarnya hanya untuk mementingkan diri mereka sendiri. Pertama, Jepang ingin
berusaha mempertahankan kekuatan mereka yang masih tersisa dengan memikat hati
masyarakat Indonesia. Kedua, Jepang masih tetap berusaha untuk melaksanakan politik
kolonialnya.

Selain BPUPKI, Jepang juga membentuk sebuah Badan Tata Usaha atau semacam
secretariat dengan anggota 60 orang. R.P Soeroso ditunjuk sebagai pemimpin Badan Tata
Usaha tersebut dengan wakil 2 orang yaitu Abdoel Gafar Pringgodigdo dan orang Jepang
bernama Masuda.

Tugas utama BPUPKI saat itu adalah untuk mempelajari dan menyelidiki berbagai hal yang
berkaitaan dengan faktor-faktor politik, tata pemerintah, ekonomi, dan berbagai hal yang
dibutuhkan dalam upaya pembentukan negara Indonesia yang merdeka

Anggota BPUPKI dan Tugasnya

twitter.com
Dr. Radjiman Widyodiningrat terpilih sebagai ketua BPUKI dan wakil ketua adalah raden
Panji Suroso. BPUPKI beranggotakan 67 orang di mana 60 orang dari Indonesia dan 7
orang lainnya dari Jepang. Berikut ini adalah daftar lengkapnya

1. Ir Soekarno
2. Drs. Moh. Hatta
3. Ki Hajar Dewantara
4. Dr. Samsi Sastrawidagda
5. Dr Raden Suleiman Effendi K.
6. Dr Sukiman Wiryosanjoyo
7. K.H A. Ahmad Sanusi
8. Drs. Kanjeng Raden Mas Hario Sosroningrat
9. H. Agus Salim
10. H. Abdul Wahid Hasyim
11. Ir. Pangeran Muhammad Nur
12. Abdul Kahar Muzakir
13. Ir. Raden Ashar Sutejo Munandar
14. Abdul Kaffar
15. Ir. Raden Ruseno Suryohadikusumo
16. Ir. Raden Mas Panji Surahman Cokroadisuryo
17. Ki Bagus Hadikusumo
18. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario W.
19. K.H. Abdul Fatah Hasan
20. K.H Mas Mansoer
21. K.H. Masjkur
22. Liem Koen Hian
23. Agus Muhsin Dasaad
24. Mas Aris
25. Mr. A.A Maramis
26. Mas Sutarjo Kartohadikusumo
27. Mr Mas Besar Martokusumo
28. Mr Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wongsonagoro
29. Mr Muh. Yamin
30. Mr. Mas Susanto Tirtoprojo
31. Mr. Raden Ahmad Subarjo
32. Mr. Raden Hindomartono
33. AR Baswedan
34. Mr Raden Panji Singgih
35. Mr Raden Mas Sartono
36. Mr Raden Suwandi
37. Mr Raden Syamsudin
38. Mr Yohanes Latuharhary
39. Mr Raden Sastromulyono
40. Ny Raden Nganten Siti Sukaptinah S. M.
41. Ny Mr. R.A Maria Ulfah Santoso
42. Oey Tiang Tjoei
43. Oey Tjong Hauw
44. Bandoro Pangeran Hario Purubojo
45. Parada Harahap
46. P.F. Dahler
47. Prof Dr. Pangeran Ario Husein Jayaningrat
48. Prof Dr. Mr Raden Supomo
49. Prof. Dr. Raden Jenal Asikin W.K
50. Raden Abdulrahim Pratalykrama
51. Raden Abdul Kadir
52. Raden Abikusno Cokrosuyoso
53. Raden Adipati Ario Purbonegoro Sumitro Kolopaking
54. Bendoro Kanjeng Pangeran Ario Suryohamijoyo
55. R. Adipati Wiranatakoesoema V
56. Raden Mas Margono Joyohadikusumo
57. R. Asikin Natanegara
58. R. Oto Iskandardinata
59. R.M Tumenggung Ario Suryo
60. R. Ruslan Wongsokusumo
61. R. Panji Suroso
62. R. Sudirman
63. Tan Eng Hoa
64. R. Sukarjo Wiryopranoto
65. Bendoro Pangeran Hario Bintoro
66. Icibangase Yosio (ketua muda)
67. Miyano Syoozoo (wakil Jepang)
68. Matuura Mitukiyo (wakil Jepang)
69. Tanaka Minoru (wakil Jepang)
70. Itagaki Masumitu (wakil Jepang)
71. Ide Teitiroo (wakil Jepang)
72. Masuda Toyohiko (wakil Jepang)
73. Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat
74. Dr. Raden Buntaran Martoatmojo

Sidang Pertama BPUPKI

wikipedia.org
Sidang BPUPKI yang pertama berlangsung di gedung Chuo Sang In yang beralamat di
Jalan Pejambon 6 Jakarta. Gedung tersebut saat ini bernama Gedung Pancasila. Rapat
BPUPKI pertama dibuka pada 28 Mei 1945 dan dimulai 29 Mei 1945.

Sidang pertama membahas tentang rumusan dasar negara Indonesia. Dalam


pembukaannya, Dr. Radjiman Widyodiningrat selaku ketua meminta pandangan dari para
anggota terkait rumusan dasar negara Indonesia.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam merumuskan dasar negara tersebut antara lain adalah
Mr. Muh. Yamin, Ir. Soekarno, dan Prof. Dr. Supomo. Sidang pertama BPUPKI selesai
tanggal 1 Juni 1945.

Sayangnya, dari sidang pertama ini belum menghasilkan keputusan akhir terkait dasar
negara Indonesia sehingga diadakan masa reses selama 1 bulan. Pada tanggal 22 Juni
1945, BPUPKI membentuk panitia kecil yang bertugas untuk membahas usus dan konsep
dari para anggota terkait dasar negara Indonesia.
Panitia kecil tersebut terdiri dari 9 orang sehingga juga sering disebut dengan Panitia 9.
Anggota Panitia 9 antara lain adalah Drs. Moh. Hatta, Muh. Yamin, Ahmad Soebarjo, A.A
Maramis, Wahid Hasyim, Abdulkahar Muzakir, Abikusno Cokrosuyoso, dan H. Agus Salim.

Panitia 9 menghasilkan dokumen yang berisi tujuan dan asas negara Indonesia. Dokumen
ini dikenal dengan Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Isi dari Piagam Jakarta adalah
sebagai berikut:

1. Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya


2. Kemanusiaan yang adil & beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia.

Sidang Kedua BPUPKI

Sidang BPUPKI yang kedua digelar pada tanggal 10 – 17 Juli 1945. Sidang ini membahas
tentang rancangan undang-undang dasar dan juga pembukaan atau preambule oleh panitia
perancang UUD dengan Ir. Soekarno sebagai ketua.

Panitia perancang tersebut selanjutnya membentuk panitia kecil untuk menentukan


rancangan UUD lengkap dengan pasal-pasalnya. Mr. Supomo menjadi pemimpin panitia
kecil dengan anggota Wongsonegoro, Ahmad Subarjo, A.A Maramis, R.P. Singgih, Agus
Salim, dan juga Sukiman.

Panitia Perancang UUD pada tanggal 11 Juli 1945 sepakat menerima Piagam Jakarta
sebagai pembukaan UUD. Panitia Kecil bertugas menyempurnakan UUD dengan pasal-
pasalnya kemudian hasilnya diserahkan pada Panitia Penghalus Bahasa dengan anggota
yang terdiri dari Husein Jayadiningra, Supomo, dan H. Agus Salim.

BPUPKI melanjutkan sidang pada 14 Juli 1945 untuk menerima laporan Panitia Perancang
UUD. Ir. Soekarno selaku ketua Panitia Perancang UUD menyampaikan 3 hal penting yakni
sebagai berikut:

 Pernyataan Kemerdekaan Indonesia


 Pembukaan UUD (dari Piagam Jakarta)
 Batang Tubuh yang disebut Undang-Undang Dasar

Pembubaran BPUPKI

BPUPKI dibubarkan pada 7 Agustus 1945. Badan persiapan kemerdekaan tersebut


dibubarkan karena dianggap sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik yakni menyusun
rancangan UUD bagi negara Indonesia. BPUPKI kemudian digantikan dengan
pembentukan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Inkai
PPKI : Sejarah, Tugas PPKI, Anggota, Tujuan Dan Hasil Sidang PPKI 1 2 3
Oleh bitarDiposting pada 04/12/2019
PPKI : Sejarah, Tugas PPKI, Anggota, Tujuan Dan Hasil Sidang PPKI 1 2 3 Lengkap – Tahukah anda apa
yang dimaksud dengan PPKI ?? Jika anda belum mengetahuinya anda tepat sekali mengunjungi
gurupendidikan.com. Karena pada kesempatan kali ini akan membahas tentang PPKI secara lengkap.
Oleh karena itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.
Suatu badan yang dibentuk pemerintah Jepang tanggal 7 Agustus 1945. Badan ini bertugas menyiapkan
segala sesuatu menyangkut masalah ketatanegaraan menghadapi penyerahan kekuasaan pemerintahan
dari Jepang kepada bangsa Indonesia.
Beranggotakan 21 orang, yang ditunjuk sebagai ketua Soekarno dan wakilnya Moh. Hatta. Sebagai
penasehat ditunjuk Mr. Ahmad Subardjo, dan tanpa sepengetahuan pemerintah Jepang, PPKI menambah
lagi enam orang, yaitu Wiranatakusumah, Ki Hadjar Dewantara, Mr. Kasman Singodimedjo, Sayuti Melik,
Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Soebardjo.
Badan ini dibentuk untuk menarik simpati golongan-golongan yang ada di Indonesia agar bersedia
membantu Jepang dalam Perang Pasifik, yang kedudukannya semakin terdesak sejak 1943. Mereka juga
berjanji memberi kemerdekaan pada Indonesia melalui ‘Perjanjian Kyoto’.
Ketika Rusia bergabung dengan Sekutu dan menyerbu Jepang dari Manchuria, pemerintah Jepang
mempercepat kemerdekaan Indonesia, yang oleh BPUPKI direncanakan 17 September 1945. Tiga tokoh
PPKI (Soekarno, Hatta, dan Radjiman) diterbangkan ke Dalath (Saigon) bertemu Jenderal Terauchi yang
akan merestui pembentukan negeri boneka tersebut.
Tanggal 14 Agustus 1945 ketiganya kembali ke Jakarta dan Jepang menghadapi pemboman AS di
Hirosima dan Nagasaki. Golongan tua dan golongan muda pejuang kemerdekaan terlibat pro dan kontra
atas peristiwa pemboman Jepang oleh AS. Golongan muda melihat Jepang sudah hampir menemui
kekalahan, tetapi golongan tua tetap berpendirian untuk menyerahkan keputusan pada PPKI.
Sikap tersebut tidak disetujui golongan muda dan menganggap PPKI merupakan boneka Jepang dan tidak
menyetujui lahirnya proklamasi kemerdekaan dengan cara yang telah dijanjikan oleh Jenderal Besar
Terauchi dalam pertemuan di Dalath. Golongan muda menghendaki terlaksananya proklamasi
kemerdekaan dengan kekuatan sendiri lepas sama sekali dari pemerintahan Jepang.
Menanggapi sikap pemuda yang radikal itu, Soekarno-Hatta berpendapat bahwa soal kemerdekaan
Indonesia yang datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri
tidaklah menjadi soal, karena Jepang toh sudah kalah.
Selanjutnya menghadapi Sekutu yang berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Oleh
sebab itu untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia diperlukan suatu revolusi yang terorganisasi.
Mereka ingin memperbincangkan proklamasi kemerdekaan di dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia.
PPKI

Pengertian PPKI
PPKI merupakan singkatan dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau dalam bahasa Jepang
disebut dengan Dokuritsu Zyunbi Inkai. PPKI ialah panitia yang bertugas untuk mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia, sebelum panitia ini dibentuk, sebelumnya sudah berdiri BPUPKI tapi karena
dianggap terlalu cepat ingin melaksanakan proklamasi kemerdekaan.

Sejarah PPKI [ Proses Awal Pembentukan PPKI ]


Lembaga ini beranggotakan tokoh-tokoh Pergerakan Nasional yang berasal dari Jawa dan luar Jawa.
Anggota PPKI semula berjumlah 21 orang, kemudian Ir. Soekarno menambah 6 orang tanpa
sepengetahuan fihak Jepang. Hal ini menunjukkan bahwa PPKI memiliki kemandirian dan tidak tergantung
pada Jepang. Tujuan dibentuk PPKI adalah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam
menyongsong kemerdekaan.
Setelah PPKI merampungkan tugasnya, yaitu menyiapkan konsep pembukaan UUD 1945 dan batang
tubuh UUD 1945, kemudian membubarkan diri dan mengusulkan dibentuknya PPKI (Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) yang bertugas melaksanakan kemerdekaan Indonesia dan mengambil langkah-
langkah nyata untuk membentuk suatu negara.
Sementara itu kedudukan Jepang dalam Perang Dunia II semakin terdesak, sehingga komando Jepang di
wilayah selatan mengadakan rapat pada akhir bulan Juli 1945 di Singapura. Dalam pertemuan tersebut
disetujui bahwa kemerdekaan bagi Indonesia akan diberikan pada tanggal 7 September 1945, setahun
setelah pernyataan Koiso.
Dalam bulan Agustus perubahan bertambah cepat, tanggal 7 Agustus Jenderal Terauchi menyetujui
pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Inkai) yang bertanggung jawab
melanjutkan pekerjaan BPUPKI dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan karena akan
diadakannya pemindahan kekuasaan dari Jepang kepada bangsa Indonesia.
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Terbentuknya Tentara Nasional Indonesia
Menurut Ahli Sejarah
Pada tanggal 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat diundang ke Dalat, kira-kira
300 km sebelah utara Saigon, tempat kedudukan Jenderal Terauchi, panglima seluruh angkatan perang
Jepang di Asia Tenggara.3) Tujuan pemanggilan ketiga tokoh tersebut adalah untuk melantik secara
simbolis Ir.
Soekarno sebagai ketua PPKI dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil ketuanya. Acara pelantikan berlangsung
pada tanggal 12 Agustus 1945 ketika mereka tiba di Dalat, didahului pidato singkat Terauchi yang
menyatakan bahwa pemerintah Jepang di Tokyo memutuskan memberikan kemerdekaan kepada
Indonesia.
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 27 Pengertian HAM Menurut Para Ahli Dan ( Contoh –
Sejarah – Jenis )
Keesokan harinya Soekarno, Hatta, dan Radjiman kembali ke Jakarta, tetapi sebelumnya singgah di
Singapura satu malam. Sesampainya di Jakarta disambut oleh rakyat. Saat itu Soekarno mengucapkan
pidato singkat sebagai berikut:
“Jika beberapa waktu yang lalu saya mengatakan bahwa akan merdeka sebelum tanaman jagung berbuah,
sekarang saya katakan kepada kamu bahwa Indonesia akan merdeka sebelum tanaman tersebut
berbunga.”
Dengan demikian resmilah pembentukan PPKI dan sudah dapat bekerja sejak tanggal 12 Agustus 1945.
Mengenai anggotanya, terdiri dari 21 orang yang merupakan wakil-wakil dari seluruh kelompok masyarakat
yang ada di tanah air, yaitu 12 dari Jawa, 3 dari Sumatera, 2 dari Sulawesi, 1 dari Kalimantan, 1 dari Nusa
Tenggara, 1 dari Maluku, dan 1 dari masyarakat Cina.
Pengurus dan Keanggotaan PPKI
Ketua : Ir. Soekarno
Wakil Ketua : Drs. Moh. Hatta
Penasehat : Mr. ahmad Soebarjo
Pada tanggal 9 Agustus Jendral Terauchi mengundang tiga orang pemimpin Indonesia, yaitu a. Ir.
Soekarno, b. Drs. Moh. Hatta, c. Dr. Radjiman Widiodiningrat ke Dallat ( Saigon ). Tujuannya adalah untuk
mengetahui perkembangan lebih lanjut mengenai sikap Jepang kepada rencana Kemerdekaan Indonesia.
Tugas PPKI
Mengesahkan Undang Undang Dasar
Memilih dan Mengangkat Ir.Soekarno sebagai Presiden dan Drz.M.Hatta sebagai wakil Presiden
Membentuk Komite Nasional untuk membantu tugas Presiden sebelum DPR dan MPR terbentuk.
Tugas Utama PPKI
Tugas berdasarkan nama yaitu bertugas untuk Mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Anggota PPKI
Pada awalnya PPKI beranggotakan dan berjumlah 21 orang (12 orang dari Jawa, 3 orang dari Sumatra, 2
orang dari Sulawesi, 1 orang dari Kalimantan, 1 orang dari Nusa Tenggara, 1 orang dari Maluku, 1 orang
dari golongan Tionghoa). Susunan awal anggota PPKI adalah sebagai berikut :

Soekarno (Ketua)
Moh. Hatta (Wakil Ketua)
Mr. Dr. Soepomo (Anggota)
KRT Radjiman Wedyodiningrat (Anggota)
P. Soeroso (Anggota)
Soetardjo Kartohadikoesoemo (Anggota)
Kiai Abdoel Wachid Hasjim (Anggota)
Ki Bagus Hadikusumo (Anggota)
Otto Iskandardinata (Anggota)
Abdoel Kadir (Anggota)
Pangeran Soerjohamidjojo (Anggota)
Pangeran Poerbojo (Anggota)
Mohammad Amir (Anggota)
Abdul Maghfar (Anggota)
Teuku Mohammad Hasan (Anggota)
GSSJ Ratulangi (Anggota)
Andi Pangerang (Anggota)
H. Hamidan (Anggota)
I Goesti Ketoet Poedja (Anggota)
Johannes Latuharhary (Anggota)
Yap Tjwan Bing (Anggota)
Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan bertambah 6 yaitu :

Achmad Soebardjo (Penasehat)


Sajoeti Melik (Anggota)
Ki Hadjar Dewantara (Anggota)
A.A. Wiranatakoesoema (Anggota)
Kasman Singodimedjo (Anggota)
Iwa Koesoemasoemantri (Anggota)
Tujuan Pembentukan PPKI
melanjutkan tugas dari BPUPKI. Jadi mereka memiliki tujuan utama yakni menyegerakan proklamasi
kemerdekaan
dan juga melakukan tata negara beserta membuat struktur kenegaraan.
Pertemuan dengan Marsekal Terauchi
Tanggal 9 Agustus 1945, sebagai pimpinan PPKI yang baru, Soekarno, Hatta dan Radjiman
Wedyodiningrat diundang ke Dalat untuk bertemu Marsekal Terauchi.
Setelah pertemuan tersebut, PPKI tidak dapat bertugas karena para pemuda mendesak agar proklamasi
kemerdekaan tidak dilakukan atas nama PPKI, yang dianggap merupakan alat buatan Jepang. Bahkan
rencana rapat 16 Agustus 1945 tidak dapat terlaksana karena terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Isi pembicaraan tiga tokoh Indonesia dengan Jendral Terauchi:
Pemerintah Jepang memutuskan untuk member kemerdekaan kepada Indonesia segera setelah persiapan
kemerdekaan selesai dan berangsur-angsur dimulai dari pulau Jawa kemudian kepulau-pulau lainnya.
Untuk pelaksaan kemerdekaan diserahkan kepada PPKI dan telah disepakati tanggal 18 Agustus 1945.
Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia-Belanda.
Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah
pemuda (a.l. Adam Malik dan Chaerul Saleh dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini
terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke
Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno
dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan
dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di
Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang
telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana
tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta
pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi
sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada
Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-
pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad
Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno,
Hatta, Fatmawati dan Guntur.

Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan
proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di
Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan
teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang
“dipinjam” (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor
(Laut) Dr. Hermann Kandeler.
Piagam Jakarta
Piagam Jakarta adalah hasil kompromi tentang dasar negara Indonesia yang dirumuskan oleh Panitia
Sembilan dan disetujui pada tanggal 22 Juni 1945 antara pihak Islam dan kaum kebangsaan (nasionalis).
Panitia Sembilan merupakan panitia kecil yang dibentuk oleh BPUPKI.
Di dalam Piagam Jakarta terdapat lima butir yang kelak menjadi Pancasila dari lima butir, sebagai berikut:
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pada saat penyusunan UUD pada Sidang Kedua BPUPKI, Piagam Jakarta dijadikan Muqaddimah
(preambule). Selanjutnya pada pengesahan UUD 45 18 Agustus 1945 oleh PPKI, istilah Muqaddimah
diubah menjadi Pembukaan UUD setelah butir pertama diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Perubahan butir pertama dilakukan oleh Drs. M. Hatta atas usul A.A. Maramis setelah berkonsultasi
dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo.

Naskah Piagam Jakarta ditulis dengan menggunakan ejaan Republik dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno,
Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad
Subardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin.
Memilih dan Mengangkat Presiden dan Wakil Presiden
Pemilihan Presiden dan Wakil Presidan dilakukan dengan aklamasi atas usul dari Otto Iskandardinata dan
mengusulkan agar Ir. Soekarno menjadi presiden dan Moh. Hatta sebagai wakil presiden. Usul ini diterima
oleh seluruh anggota PPKI.

Tugas Presiden sementara dibantu oleh Komite Nasional sebelum dibentuknya MPR dan DPR.

SIDANG PPKI
Setelah diproklamirkan kemerdekaan RI, maka tahap selanjutnya yang dilakukan oleh bangsa indonesia
adalah memindahkan kekuasaan dan membentuk peerintahan Indonesia. Pada tanggal 18 Agustus 1945,
Panitia Persiapan Kemerdekaan indonesia (PPKI) mengadakan rapat di Pajombon, yaitu gedung yang
dipakai sekarang Kantor Kementerian Kehakiman.
Sebelum rapat dimulai, Sukarna-hatta meminta Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, MR.Kasman
Singodimedjo, dan Mr.Teuke Muhammad Hasan, untuk membahas rancangan Undang-Undang Dasar
yang telah dibuat pada tanggal 22 Juni 1945 oleh panitia sembilan (empat orang wakil golongan orang
Islam Yaitu H. Agus Salim, KH.Wahid Hasyim, Abikusno dan Abdoel Kahar Muzakkar dan lima orang
golongan dari kebangsaan yaitu Sukarno, M.Hatta, Muh.Yamin, A.Maramis, dan Ahmad Subardjo).
Pembahasan yang dilakukan adalah mengenai kalimat “Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya”. Pembahasan itu dilakukan agar tidak terjadi suatu polemik dalam kehidupan rakyat
Indonesia, karena selain Islam, rakyat Indonesia meyakini beberapa agama.
Agar pembahasan cepat selesai, maka diadakan rapat pleno oleh beberapa orang anggota perwakilan
yang di pimpin oleh Muh.Hatta. Rapat dilaksanakan selama 15 menit dan hasil yang dicapai, yaitu sepakat
menghilangkan kalimat “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, yang
dipandang akan menjadi rintangan persatuan dan kesatuan bangsa.
Setelah selesai membahas tentang bunyi pasal 1 tersebut, dilanjutkan dengan pembahasan Rancangan
Pembukaan dan Undang-Undang Dasar yang telah disiapkan oleh Badan Penyidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam rapat kedua ini, pembahasan dilakukan dalam tempo kurang
dari 2 jam dan disepakati berbarengan dengan Rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia.
Setelah pembahasan permasalahan diatas, maka sidang di skors untuk istrahat. Selanjutnya setelah
sidang di skors beberapa jam, Ir Sukarno mengumumkan 6 anggota baru dalam PPKI, mereka adalah
Wiranatakusumah, Ki Hajar Dewantara, Mr.Kasman, Sayuti Melik, Mr Ima Kusumasumantri, dan
Mr.Subardjo.
Hasil Sidang PPKI Ke 1
Tanggal 18 Agustus 1945
Berikut merupakan beberapa keputusan dan hasil sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 atau hasil
sidang PPKI yang pertama.
Mengesahkan UUD 1945
Hasil sidang PPKI pertama adalah mengesahkan undang-undang dasar sebagai konstitusi negara.

Selain itu juga dilakukan revisi Piagam Jakarta dimana kalimat ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ diganti menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.
Mengangkat Soekarno sebagai Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden
Hasil sidang pertama PPKI berikutnya adalah memilih dan mengangkat presiden serta wakil presiden
Indonesia. Atas usulan Otto Iskandardinata secara aklamasi, Ir. Soekarno terpilih sebagai presiden
Indonesia pertama didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil presidennya.
Membentuk Komite Nasional
Sidang PPKI juga memutuskan pembentukan sebuah komite nasional. Fungsi komite nasional ini adalah
untuk sementara membantu tugas tugas Presiden sebelum dibentuknya MPR dan DPR.
Hasil Sidang PPKI Ke 2
Tanggal 19 Agustus 1945
Membentuk pemerintah daerah yang terdiri dari 8 provinsi
Membentuk komite nasional daerah
Membentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara
Membentuk Tentara Rakyat Indonesia
Hasil Sidang PPKI Ke 3
Tanggal 22 Agustus 1945
Menetapkan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
Membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI)
Membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR)
Kesimpulan

Secara simbolik PPKI dilantik oleh Jendral Terauchi dengan mendatangkan Sukarno, Hatta dan Rajiman
Wedyodiningrat ke Saigon tanggal 9 Agustus 1945.
Hasilnya cepat lambat kemerdekaan bisa diberikan tergantung kepada kerja PPKI. Terauchi
menyampaikan keputusan bahwa kemerdekaan Indonesia akan diberikan pada tanggal 24 Agustus 1945.
Seluruh pelaksanaan kemerdekaan diserahkan seluruhnya kepada PPKI.

Persamaan BPUPKI dan PPKI

Sama-sama merupakan organisasi bentukan Jepang


Dibentuk ketika kondisi Jepang semakin terpuruk.
Dibentuk dalam rangka mewujudkan keinginan janji Koiso untuk memberikan kemerdekaan bagi negara
Indonesia.
Maksud sebenarnya Jepang membentuk keduanya hanya untuk menarik simpati rakyat.
Isi Pasal UUD Sebelum dan Sesudah Amandemen

1.
a. SEBELUM DI AMANDEMEN

BAB X. WARGA NEGARA

Pasal 26

 Jang mendyadi warga Negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-
orang bangsa lain yang disjahkan dengan undang-undang sebagai warga Negara.
 Sjarat-sjarat yang mengenai kewargaan Negara ditetapkan dengan undang-undang.
b. SESUDAH DI AMANDEMEN

BAB X WARGA NEGARA DAN PENDUDUK

Perubahan Pasal 26

 Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.
 Penduduk ialah waraga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di
Indonesia.
 Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
2.
a. SEBELUM DI AMANDEMEN

Pasal 30

 Tiap-tiiap warga Negara berhak dan wadjib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara.
 Sjarat-sjarat tentng pembelaan diatur dengan undang-undang.
b. SESUDAH DI AMANDEMEN

Perubahan Pasal 30
 Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara.
 Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara
Repbulik Indonesia, sebagai kekuatan utama dan rakyat, segabai kekuatan pendukung.
 Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan
Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara
keutuhan dan kedaulatan negara.
 Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan
dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat,
serta menegakkan hukum.
3.
a. SEBELUM DI AMANDEMEN

Pasal 5

Presiden memegang kekuasan membentuk undang-undang dengan persetudjuan


Dewan Perwakilan rakyat.

b. SESUDAH DI AMANDEMEN

Pasal 5

Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan


Rakyat.
.

4.
a. SEBELUM DI AMANDEMEN

Pasal 7

Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan
sesudahnya dapat dipilih kembali.

b. SESUDAH DI AMANDEMEN

Perubahan Pasal 7

Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya
dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

5.
a. SEBELUM DI AMANDEMEN

Pasal 15

Presiden memberi gelaran, tanda dyasa dan lain-lain tanda kehormatan.

b. SEDUAH DI AMANDEMEN

Perubahan Pasal 15

Presiden memberi gelar tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan
undang-undang.
4 Kali Amandemen UUD 1945, Ini Perubahannya
TEMPO.CO, Jakarta - Wacana amandemen Undang-undang Dasar atau UUD 1945 ujug-ujug
mencuat. PDIP merupakan salah satu partai yang getol mendorong adanya perubahan
konstitusi. Isu yang muncul adalah menghidupkan lagi Garis-garis Besar Haluan Negara.
Ahli hukum tata negara, Bivitri Susanti, menilai wacana PDIP untuk melakukan
perubahan terbatas UUD 1945 sebagai langkah mundur. "Saya kira kajian PDIP kurang
mendalam, tidak melihat sejarah, tidak melihat perbandingan dengan negara lain, dan
bagaimana sistem presidensial yang efektif," kata Bivitri kepada Tempo, Ahad, 11 Agustus 2019.
PDIP sebelumnya mendorong perubahan terbatas untuk menetapkan kembali MPR sebagai
lembaga tertinggi negara dengan kewenangan menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara
(GBHN).
Bivitri menilai, kalau MPR diletakkan sebagai lembaga negara tertinggi akan merusak sistem
presidensial yang diterapkan setelah amandemen UUD 1945.
Sejak diamandemen empat kali pada 1999-2002, konstitusi sudah mengubah struktur
ketatanegaraan. Sehingga, tidak ada lagi lembaga tertinggi seperti MPR, dan Indonesia kini
sudah menganut sistem presidensial yang lebih efektif.
Dengan konstruksi saat ini, Bivitri mengatakan tidak adanya lembaga tertinggi membuat proses
check and balance lebih baik. Sebab, dalam sistem presidensial, semua lembaga berada dalam
tingkat yang setara. "Apakah presiden paling tinggi? Tidak juga. Kan check and balance DPR
dan DPD memiliki sistem yang memungkinkan mereka mengawasi kinerja presiden," ujarnya.
Amandemen UUD 1945 terjadi pertamakali pada sidang Sidang Umum Majelis
Permusyawaratan Rakyat pada 14-21 Oktober 199. Ketua MPR kala itu adalah Amien Rais. Ada
9 dari 37 pasal di dalam UUD yang berubah. Salah satu yang paling krusial adalah perubahan
pada Pasal 7 UUD 1945.
ADVERTISEMENT
Dalam beleid lama, Presiden dan Wakil Presiden memegang masa jabatan lima tahun dan dapat
dipilih kembali. Aturan ini berubah menjadi Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan
selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya
untuk satu kali masa jabatan. Amandemen ini membatasi masa kekuasaan presiden menjadi
hanya 10 tahun.
Perubahan kedua terjadi pada sidang umum MPR 7-18 Agustus 2000 yang juga masih diketuai
Amien Rais. Di masa sidang ini perubahan yang paling kentara adalah soal desentralisasi
pemerintahan. Pasal 18 UUD 1945 dalam amandemen kedua ini lebih mengakomodir
bagaimana provinsi, kota, dan kabupaten bisa mengatur pemerintahan mereka sendiri. Mereka
memiliki otonomi yang luas.
Selain itu, dalam Pasal 18 amandemen kedua juga menyebutkan Pemerintahan daerah provinsi,
daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-
anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. Beleid ini juga mengatur tentang pemilihan
Gubernur, Wali Kota, dan Bupati secara demokratis. Kemudian, Pasal 19 dalam perubahan UUD
1945 kedua juga mengatur soal pemilihan umum untuk DPR.
Kemudian, UUD 1945 mengalami perubahan ketiga dalam sidang umum MPR pada 1-9
November 2001. Amien Rais juga masih menjadi Ketua MPR di periode ini.
Banyak perubahan penting dalam amandemen ketiga. Seperti, menghilangkan Garis-garis Besar
Haluan Negara. Kemudian, perubahan ketiga ini mulai membuka pintu bagi Pemilihan Presiden
atau Pilpres secara demokratis. Selama ini, Presiden dipilih oleh MPR. Dalam perubahan ketiga
ini, konstitusi mulai mengakui Pemilihan Umum yang terbuka.
Dalam amandemen ini bahkan dijelaskan garis besar bagaimana pemilihan presiden. Misalnya,
Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat.
Kemudian, Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau
gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Nah,
perubahan ini lah yang mengamanatkan dibuatnya Undang-undang tentang Pemilu.
Terakhir, amandemen UUD 1945 keempat yang terjadi pada masa sidang 1-11 Agustus 2002.
Perubahan terakhir ini hanya menyempurnakan beberapa pasal saja. Misalnya, anggota MPR
terdiri dari DPR dan DPD.

Berikut ini, isi 45 buti-butir pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila tersebut.

Butir-Butir Sila Ke-1 Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa


1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama
dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut
hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing.
7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada
orang lain.

Butir-Butir Sila Ke-2 Pancasila: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa
membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial,
warna kulit dan sebagainya.
3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain

Butir-Butir Sila Ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia


1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan
negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Butir-Butir Sila Ke-4 Pancasila: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan
1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
6. Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan
musyawarah.
7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan
keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan.

Butir-Butir Sila Ke-5 Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
2. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
3. Menghormati hak orang lain.
4. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
5. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang
lain.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup
mewah.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan
umum.
8. Suka bekerja keras.
9. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan
bersama.
10. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan
sosial.