Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya saya mampu menyelesaikan tugas
makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah agama islam. Agama sebagai sistem
kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang.
Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan
banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan
maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya. Dalam penyusunan tugas atau materi
ini, tidak sedikit hambatan yang saya hadapi. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Dan saya menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan
orang tua, dosen pembimbing,dan juga sahabat, sehingga kendala-kendala yang saya hadapi
teratasi. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ‘ MENUNTUT
DAN MENGAMALKAN ILMU’ bagi umat manusia. Makalah ini di sajikan berdasarkan
rangkuman dari hasil pengamatan yang bersumber dari berbagai informasi, referensi, buku
tentang islam dan berita. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan
yang lebih luas. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna.Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan
pembuatan makalah saya dimasa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca.

Ternate, 18 september 2017


DAFTAR ISI

halaman
KATA PENGANTAR............................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Tujuan....................................................................................................................1
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu.....................................................................................................2
B. Pengertian Menuntut Ilmu.....................................................................................3
C. Dasar Hukum Menuntut ilmu................................................................................3
D. Hukum Menuntut ilmu..........................................................................................6
E. Keutamaan Menuntut ilmu....................................................................................8
F. menuntut ilmu adalah ibadah...............................................................................12
G. kedudukan orang yang menuntut ilmu................................................................13
H. pentingnya menuntut ilmu...................................................................................14
I. pentingnya mengamalkan ilmu.............................................................................18
J. mensyukuri nikmat allah dengan menuntut ilmu..................................................20
BAB III. PENUTUP.
A. Kesimpulan..........................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................24
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu, maka diutuslah Rasulullah
SAW untuk memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang
mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu
yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga
berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak
manusia pun juga akan lebih baik. Tapi kenyataan dalam hidup ini, banyak orang yang
menggunakan akal dan kepintaraannya untuk maksiat. Banyak orang yang pintar dan
berpendidikan justru akhlaknya lebih buruk dibanding dengan orang yang tak pernah
sekolah. Hal itu terjadi karena ketidakseimbangannya ilmu dunia dan akhirat. Ilmu
pengetahuan dunia rasanya kurang kalau belum dilengkapi dengan ilmu agama atau
akhirat. Orang yang berpengetahuan luas tapi tidak tersentuh ilmu agama sama sekali,
maka dia akan sangat mudah terkena bujuk rayu syaitan untuk merusak bumi, bahkan
merusak sesama manusia dengan berbagai tindak kejahatan. Disinilah alasan mengapa
ilmu agama sangat penting dan hendaknya diajarkan sejak kecil. Kalau bisa, ilmu agama
ini lebih dulu diajarkan kepada anak sebelum anak tersebut menerima ilmu dunia.
Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh
karena itu, manusia membutuhkan terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan
dimuliakan oleh Allah SWT.
B. Tujuan
1. Memeberikan penjelasan tentang pentingnya menuntut ilmu.
2. Mengetahui hadis –hadis tentang kewajiban menuntut ilmu.
3. Mengetahui hukum menuntut ilmu.
4. Mengetahui keutamaan menuntut ilmu.
5. Mengetahui kedudukan orang yang menuntut ilmu.
6. Mengetahui pentingnya mengamalkan ilmu.
7. Mensyukuri nikmat Allah denga menuntut ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ILMU
Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu (alima, ya’lamu, ‘ilman) yang berarti mengerti,
memahami benar-benar. Ilmu dari segi Istilah ialah Segala pengetahuan atau kebenaran
tentang sesuatu yang datang dari Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul-rasulNya dan
alam ciptaanNya termasuk manusia yang memiliki aspek lahiriah dan batiniah. Ilmu dalam
bahasa Inggris disebut science, sedangkan pengertian ilmu yang terdapat dalam kamus bahasa
Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala gejala tertentu di
bidang (pengetahuan) itu.

Adapun ciri-ciri utama ilmu menurut terminologi, antara lain adalah:


1. Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat
diukurdan dibuktikan.
2. Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan
satu putusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang
mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis.
3. lmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran
perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis
dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
4. Yang sering kali berkaitan dengan konsep ilmu adalah ide bahwa metode-metode yang
berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari
ilmu.
5. Ilmu menuntut pengalaman dan berpikir metodis.
6. Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.

B. PENGERTIAN MENUNTUT ILMU


“Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah
tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan
jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan.” Menuntut ilmu merupakan ibadah
sebagaiman sabda Nabi Muhammad Saw. Artinya : “Menuntut Ilmu diwajibkan atas orang
islam laki-laki dan perempuan” Mu’adz bin Jabbal berkata : “Tuntutlah ilmu, karena
mempelajari ilmu karena mengharapkan wajah Allah itu mencerminkan rasa Khasyyah,
mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menuntutnya adalah Jihad,
mengajarnya untuk keluarga adalah Taqarrub.” Dengan demikian perintah menuntut ilmu
tidak di bedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal yang paling di harapkan dari menuntut
ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan
tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu.

C. DASAR HUKUM MENUNTUT ILMU


1. Dasar hukum menuntut ilmu yang pertama yaitu dari hadits RasullulahSAW Yang
berbunyi :”Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, waktunya adalah dari
buaian ibu (bayi), sampai masuk liang kubur”. Hadits dari Rasul SAW yang sangat jelas
sekali perintahnya, bahwa dalam Islam menuntut ilmu hukumnya adalah WAJIB yang
artinya adalah, jika dikerjakan dan dilaksanakan kita akan mendapat PAHALA, jika
diabaikan, disepelekan/tidak dilaksanakan kita akan mendapat DOSA. Jadi permasalahan
yang mendesak sekarang adalah, jika kita mengaku sebagai seorang Muslim, marilah
mumpung kita masih diberi kesempatan hidup oleh ALLAH SWT, segeralah dan jangan
ditunda-tunda lagi untuk menuntut ilmu agama Islam yang benar, benar dalam artian yang
sesuai dengan Al-qur`an dan Hadits Shahih dari Rasullulah SAW, agar kita memperoleh
petunjuk dan kebenaran dalam Islam yang diturunkan oleh ALLAH SWT melalui
Rasulnya Muhammad SAW, sehingga kita dasar dalam beragama Islam tidak hanya
menduga-duga atau berprasangka saja. Kita boleh berhenti menuntut ilmu, hanya jika kita
sudah masuk liang kubur / MATI, jika kita sudah mati sudah tidak ada kewajiban lagi
untuk menuntut ilmu. Jadi jika kita masih hidup, alangkah ironi dan naïf nya , jika kita
mengaku sebagai seorang Muslim, tapi giliran ada yang mengajak untuk menuntut ilmu
agama Islam tentang hukum-hukum ALLAH lewat kajian Al-qur`an dan Hadits Shahih
merasa enggan dan berat sekali, dan banyak sekali alasan-alasan yang dilontarkan,
seakan-akan mau hidup selamanya,..Subhanallah,..sebelum terlambat marilah koreksi diri
kita dan tanyakan dalam hati kita, jika kita sudah tahu bahwa menuntut ilmu dalam Islam
hukumnya adalah wajib, dan ketika ada kesempatan dan ada orang yang mengajak untuk
menuntut ilmu, kemudian kita menunda-nundanya bahkan menolaknya, sekarang
pertanyaan besarnya adalah, “Masihkah pantaskah kita dihadapan ALLAH SWT, disebut
sebagai seorang Muslim.
2. Dasar hukum menuntut ilmu yang kedua adalah dalam Surat Al-Ashr. yang berbunyi :
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-
orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati Supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran". Ingatlah
ALLAH SWT telah bersumpah dalam surat ini dengan masa / waktu yang didalamnya
terjadi peristiwa yang baik dan yang buruk, bersumpah bahwa setiap manusia didunia ini,
baik itu orang Islam atau di luar Islam pasti akan mengalami kerugian, kecuali yang
memiliki 4 (empat hal) yaitu :
1. Iman.
2. Amal Shaleh.
3. Saling menasehati supaya mentaati kebenaran.
4. Saling menasehati supaya menepati kesabaran.
Melihat empat hal diatas, jika kita sebagai seorang Muslim mau beruntung dan terlepas
dari kerugian, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus : Agar mempunyai Iman,
maka kita harus : Memaksanya untuk bersungguh sungguh, mempelajari agama Islam yang
benar dengan jalan menuntut ilmu dimana kita tidak akan memperoleh kebahagiaan didunia
maupun akhirat kecuali dengan petunjuk agama Islam yang benar, karena Iman hanya bisa
kita capai dengan belajar dan menuntut ilmu. Memaksanya untuk bersungguh sungguh
mengamalkannya untuk diri kita dalam kehidupan sehari-hari& setelah kita mengetahui ilmu
yang kita pelajari. Memaksanya untuk bersungguh-sungguh mendakwahkan dan
menyampaikan serta mengajarkan kepada yang belum mengetahuinya (walaupun Cuma satu
ayat), dan janganlah kita takut jika ada rintangan seperti ditolak, dimusuhi dan lain
sebagainya, karena perintah yang keempat adalah, Memaksanya untuk bersungguh-sungguh
bersabar terhadap kesukaran dan gangguan manusia dalam menyampaikan hukum-hukum
ALLAH lewat Al-qur`an, dan hanya mengharap Ridho ALLAH SWT saja. Jadi jika
seseorang yang mempunyai akal dan pikiran yang cerdas dan sensitive, mendengar atau
membaca surat Al-Ashr` ini, pasti akan berusaha untuk menyelamatkan diri dari kerugian,
dengan berusaha memiliki dan melaksanakan ke empat tahapan yang diperintahkan dalam
Surat Al-Ashr`. Tunggu apa lagi, selagi kita masih diberi kesempatan hidup, segeralah dan
jangan ditunda-tunda lagi, untuk menuntut ilmu agar jika kita mati, tidak dalam golongan
orang yang mengalami kerugian. Alangkah sayangnya jika kematian telah mendatangi kita,
kita masih belum menjalankan satu pun tahapan dalam surat Al-Ashr, apakah kita mau jika
kelak di alam kubur / barzah keadaannya gelap gulita, padahal disanalah kita menunggu entah
berapa juta tahun lagi, hari kebangkitan seperti yang dijanjikan ALLAH, Marilah sebelum
malaikat maut benar-benar menghampiri kita, laksanakanlah dulu perintah ALLAH yang
pertama dalam Surat Al-Ashr`, yaitu belajar untuk menuntut ilmu agama Islam yang benar,
benar artinya sesuai dengan Al-qur`an dan Sunnah atau Hadits shahih dari Rasullulah SAW,
karena seperti kata pepatah, kesempatan baik itu jarang sekali yang datang dua kali, dan
semoga kelak jika kita mati, akan termasuk dalam golongan orang-orang Muslim yang
beruntung.

D. HUKUM MENUNTUT ILMU


Apabila kita menelaah isi Al-Qur'an dan Al-Hadis, niscaya kita akan menemukan
beberapa nas yang menjelaskan kewajiban menuntut ilmu, baik bagi laki-laki ataupun
perempuan. Tujuan diwajibkannya mencari ilmu tiada lain yaitu agar kita menjadi umat yang
cerdas, jauh dari kabut kejahilan atau kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha
menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan bertanya, melihat, ataupun mendengar.
Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadis Nabi Muhammad saw.:
َ ٌ ‫ضة‬
‫ )رواه ابن عبد البر‬. ‫على ُك ِل ُم ْس ِل ٍم َو ُم ْس ِل َم ٍة‬ َ ‫) َطلَبُ ْال ِع ْل ِم فَ ِر ْي‬
"Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan."
(HR. Ibn Abdul Barr)

Dari hadis di atas dapat kita ambil pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya
untuk menuntut ilmu, baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Dengan ilmu yang dimilikinya,
seseorang dapat mengetahui segala bentuk kemaslahatan dan jalan kemanfaatan. Dengan
ilmu pula, ia dapat menyelami hakikat alam, mengambil pelajaran dari pengalaman yang
didapati oleh umat terdahulu, baik yang berhubungan dengan masalah-masalah akidah,
ibadah, ataupun yang berhubungan dengan persoalan keduniaan.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
َ‫ َو َم ْن ا َ َراد‬،‫ َو َم ْن ا َ َرادَ ْاْل ِخ َرةَ فَ َعلَ ْي ِه ِب ْال ِع ْل ِم‬،‫َم ْن اَ َرادَ الدُّ ْنيَا فَعَلَ ْي ِه ِب ْال ِع ْل ِم‬
(‫ )متفق عليه‬.‫ُه َما فَعَلَ ْي ِه ِب ْال ِع ْل ِم‬
"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia
memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah
ia memiliki ilmunya pula; dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia
memiliki ilmu kedua-keduanya pula." (HR.Bukhari dan Muslim)
Islam mewajibkan kita untuk menuntut berbagai macam ilmu dunia yang memberi
manfaat dan dapat menuntun kita mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan
dunia. Hal tersebut dimaksudkan agar tiap-tiap muslim tidak picik, dan agar setiap muslim
dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi
segenap manusia yang ada di dunia ini dalam batasan yang diridhai oleh Allah swt. Demikian
pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat, karena dengan mengetahuinya kita dapat
mengambil dan menghasilkan suatu natijah, yakni ilmu yang dapat diamalkan sesuai dengan
perintah syara'.

E. KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU


Berikut ini kami menyebutkan beberapa keutamaan ilmu yang disebutkan didalam Al-
qur’an dan As-Sunnah :
1) Ilmu adalah cahaya Allah Ta’ala berfirman:
ُ‫َّللاُ َم ِن اتهبَ َع ِرض َْوانَه‬ ٌ ِ‫اب ُمب‬
‫ين يَ ْهدِي بِ ِه ه‬ ٌ َ‫ور َو ِكت‬ ‫قَ ْد َجا َء ُك ْم ِمنَ ه‬
ٌ ُ‫َّللاِ ن‬
‫ور ِبإِ ْذ ِن ِه َو َي ْهدِي ِه ْم ِإلَى‬
ِ ُّ‫ت ِإلَى الن‬ ُّ َ‫س ََل ِم َويُ ْخ ِر ُج ُه ْم ِمن‬
ِ ‫الظلُ َما‬ ‫سبُ َل ال ه‬
ُ
‫ص َراطٍ ُم ْستَ ِق ٍيم‬ ِ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang
menerangkan . Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan Allah mengeluarkan mereka dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki
mereka ke jalan yang lurus.” (QS.Al-Maidah:5-6)

Ayat ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu, yang disifatkan sebagai cahaya yang
membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan,
berupa jalan yang menyelamatkan seorang hamba dari penyimpangan dan kesesatan, dan
mengantarkan seorang hamba menuju keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan mereka
dari kegelapan, kegelapan syirik, bid’ah, kemaksiatan dan kejahilan, menuju kepada cahaya
tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan seluruh kebaikan.

2) Ilmu merupakan tanda kebaikan seorang hamba Ketika seorang hamba diberi kemudahan
untuk memahami dan mempelajari ilmu syar’i, itu menunjukkan bahwa Allah
menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal
yang diridhai-Nya. Kehidupannya menjadi berarti, masa depannya cemerlang, dan
kenikmatan yang tak pernah dirasakan di dunia pun akan diraihnya. Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

ِ ‫من يُ ِر ْد هللا بِ ِه َخي ًْرا يُفَ ِق ْههُ في الد‬


‫ِين‬
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan
tentang agamnya.” (Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu anhuma)

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

ِ ُ‫ظ ْل َم ٍة فَأ َ ْلقَى عليهم من ن‬


َ َ‫ور ِه فَ َم ْن أ‬
ُ‫صابَه‬ ُ ‫َّللاَ عز وجل َخلَقَ خ َْلقَهُ في‬
‫هن ه‬
َ ُ‫طأَه‬
‫ض هل‬ َ ‫ور ا ْهتَدَى َو َم ْن أَ ْخ‬
ِ ُّ‫من ذلك الن‬
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu
Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan
cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya
maka dia tersesat.” (HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169),Al-
Hakim dalam mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Disahihkan Al-
Albani dalam Ash-Shahihah (3/1076)

3) Ilmu agama menyelamatkan dari laknat Allah Azza Wajalla Disebutkan dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
َ ‫َّللاِ وما َو َاْلهُ َو‬
‫عا ِل ٌم أو ُمتَعَ ِلم‬ ٌ ُ‫ٌ ِإ هن الدُّ ْنيَا َم ْلعُونَةٌ َم ْلع‬
‫ون ما فيها إْل ِذ ْك ُر ه‬
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah
dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang
belajar.”(HR.Tirmidzi (2322), Ibnu Majah (4112), dihasankan Al-Albani dalam sahih al-
jami’,no(1609)
4) Menuntut Ilmu, jalan menuju surga Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu
Hurairah Radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
‫ط ِريقًا إلى ْال َجنه ِة‬ َ ‫س فيه ِع ْل ًما‬
َ ‫س هه َل هللا له ِب ِه‬ ُ ‫ط ِريقًا يَ ْلت َ ِم‬
َ ‫سلَ َك‬
َ ‫َو َم ْن‬
“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah
menudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR.Muslim:2699)

Hadits ini menerangkan bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi
sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengapa demikian? Ya, tatkala seorang
muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk
memahami mana yang baik dan mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang
haq dan yang batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu
tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan keikhlasan dan mengikuti
bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam , maka dia menjadi seorang hamba yang
diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan
surga.

5) Ilmu lebih utama dari ibadah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
‫فضل العلم أحب إلي من فضل العبادة و خير دينكم الورع‬
“Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian
adalah bersikap wara’[1].” (HR.Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thayalisi, dari Hudzaifah bin
Yaman Radhiallahu Anhu. Disahihkan Al-Albani dalam sahih al-jami’:4214)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‫َو‬


‫سائِ ِر‬َ ‫ض ِل ْالقَ َم ِر لَ ْيلَةَ ْالبَ ْد ِر على‬
ْ َ‫ض َل ْال َعا ِل ِم على ْال َعا ِب ِد َكف‬
ْ َ‫ِإ هن ف‬
ِ ‫ْال َك َوا ِك‬
‫ب‬
“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti
keutamaan bulan dimalam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR.Abu
Dawud (3641), Ibnu Majah (223), dari hadits Abu Darda’ Radhiallahu Anhu)

Yang dimaksud hadits ini bahwa memiliki ilmu dengan cara menuntutnya, atau
mengajarkannya, merupakan amalan ibadah yang lebih utama dibanding amalan ibadah
lainnya, seperti shalat sunnah, berpuasa sunnah, dan yang lainnya. Bukan yang dimaksud
hadits ini bahwa ilmu bukan bagian dari ibadah, namun maksudnya bahwa ilmu merupakan
bagian ibadah yang paling mulia, bahkan bagian dari jihad fisabilillah.

F. MENUNTUT ILMU ADALAH IBADAH


Dilihat dari derajat dan kedudukan ilmu, sungguh menuntut ilmu itu memiliki nilai dan
pahala yang sangat mulia disisi Allah swt. Selain itu, menuntut ilmu juga bernilai ibadah
sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:
ِ ‫ْلَ ْن تَ ْغد َُو فَتَعَله َم ايَةً ِم ْن ِكتَا‬.ِ
َ ِ‫ب هللاِ َخي ٌْر ِم ْن ِعبَادَة‬
‫سنَ ٍة‬
" Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang),
kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Qur'an), maka pahalanya lebih baik
daripada ibadah satu tahun. "
Dalam hadis lain dinyatakan:
َ ‫ب ْال ِع ْل ِم فَ ُه َو فِ ْي‬
(‫ )رواه الترمذى‬.‫سبِ ْي ِل هللاِ َحتّٰى يَ ْر ِج َع‬ ِ َ‫طل‬
َ ‫َم ْن خ ََر َج فِ ْي‬
" Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan
sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali. " (HR.
Tirmidzi)

Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadah? Karena amal
ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah
amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan yang artinya: ” Siapa saja yang
beramal (melaksanakan amal ibadah) tanpa dilandasi ilmu, maka segala amalnya akan
ditolak, yakni tidak diterima. "

G. KEDUDUKAN ORANG YANG MENUNTUT ILMU


Jika ditinjau dari segi orang yang memiliki ilmu dengan orang yang tidak memiliki ilmu,
maka sungguh jauh sekali perbedaannya. Baik dari segi nilainya maupun derajatnya,
sebagaimana firman Allah swt.:
‫قُ ْل ه َْل يَ ْستَ ِوى اله ِذيْنَ يَ ْعلَ ُم ْونَ َواله ِذيْنَ َْل يَ ْعلَ ُم ْونَ اِنه َما يَتَذَ هك ُر اُولُوا‬
(۹:‫ )الزمر‬.‫ب‬ ِ ‫ْاْلَ ْل َبا‬
" Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui?' Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima
pelajaran." (QS. Az-Zumar/39: 9)

Ayat tersebut menggambarkan, betapa tingginya nilai dan derajat orang yang berilmu.
Dengan ilmu manusia akan memperoleh segala kebaikan, dan dengan ilmu pula manusia
akan memperoleh kedudukan yang mulia. Walaupun dimungkinkan pada suatu ketika
pandangan manusia terhadap ilmu atau pemilik ilmu menjadi kabur, karena kerasnya
pengaruh benda-benda dan pergeseran nilai kehidupan yang lain, tetapi kita yakin pada suatu
ketika manakala bahaya yang ditimbulkan oleh benda-benda atau lainnya telah menghebat,
niscaya orang akan kembali lagi mencari ilmu untuk mengatasi masalah yang ada sebagai
pengobatnya.

H. PENTINGNYA MENUNTUT ILMU


Sesungguhnya ilmu adalah cahaya dan petunjuk sedangkan kebodohan adalah kegelapan
dan kesesatan. Pelajarilah apa yg telah Allah turunkan kepada rasul-Nya yaitu Alquran.
Belajarlah dari para ulama karna ulama sesungguhnya adl pewaris para nabi. Sedangkan para
nabi tidak mewariskan harta benda dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu
maka barangsiapa yg berpegangan kepadanya berarti ia telah mendapatkan bagian yg banyak
dari warisan mereka. Tuntutlah ilmu krn ia merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat dan
pahala yg terus-menerus sampai hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujaadalah ayat 11yang artinya “Niscaya Allah
akan meninggikan derajat orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu
kerjakan.”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan bahwa salah satu dari amalan
yg tidak akan putus pahalanya dari seorang muslim yg telah meninggal sekalipun adl ilmu yg
bermanfaat. Kaum Muslimin rahimakumullah! Lihatlah peninggalan para ulama yg tak
terhingga sampai saat ini masih ada di hadapan kita sepanjang bulan sepanjang tahun.
Peninggalan mereka dipuji jalan mereka dituruti nama mereka ditinggikan dan usaha mereka
disyukuri. Jika mereka disebut dalam majlis-majlis orang-orang berdoa dan mengharapkan
rahmat Allah utk mereka. Jika disebutkan amal kebajikan dan adab yg tinggi maka ketahuilah
merekalah panutan manusia dalam hal itu. Islam tidak membiarkan umatnya dalam
kebodohan apa pun bentuknya. Islam justru menuntut umatnya utk menjadi umat yg
melandaskan segala pikiran perbuatan dan tindak tanduknya di muka bumi ini dgn ilmu.

Jadi adalah hal yg tak terbantahkan kewajibannya menuntut ilmu bagi seorang muslim.
Orang yg berbuat tanpa ilmu pasti tersesat dan bahkan bisa menyesatkan. Tidaklah mungkin
akan sama antara orang yg berilmu dgn orang yg tidak berilmu. Tidak mungkin sama orang
yg berjalan digelapan dgn cahaya di tangannya sebagai penerang jalan dgn orang yg berjalan
di kegelapan tanpa cahaya menerangi jalannya. Renungkanlah sejenak firman Allah berikut
yg artinya “Dan apakah orang yg telah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan
kepadanya cahaya yg terang dengannya ia dapat berjalan di tengah-tengah manusia serupa
dgn orang yg berada dalam gelap gulita dan sama sekali tidak dapat keluar
darinya?Demikianlah orang-orang kafir itu dijadikan memandang baik apa yg telah mereka
kerjakan.”Kebodohan akan membuat orang yg memilikinya memandang baik segala yg
diperbuatnya. Itu karena ia tidak memiliki ilmu yg dapat membedakan baik dan buruknya
sesuatu. Ilmu amatlah luas, jika di pelajari tidak akan pernah selesai, selama bumi masih
berputar, selama hayat di kandung badan selama itu pula manusia memerlukan ilmu
pengetahuan islam tidak hanya cukup pada perintah menuntut ilmu, tetapi menghendaki agar
seseorang itu terus menerus melakukan belajar, karena manusia hidup di dunia ini perlu
senantiasa menyesuaikan dengan alam dan perkembangan zaman. Jika manusia berhenti
belajar sementara zaman terus berkembang maka manusia akan tertinggal oleh zaman
sehingga tidak dapat hidup layak sesuai dengan tuntutan zaman, terutama pada zaman
sekarang ini, zaman yang di sebut dengan era globalisasi, orang di tuntut untuk memiliki
bekal yang cukup banyak, berupa ilmu pengetahuan. Bahkan kalau perlu menuntut ilmu di
lakukan tidak hanya di tempat yang dekat tetapi kalau perlu harus mengembara untuk
menuntut ilmu di tempat yang jauh.

Sebagaimana sabda Rosull : “Makin tinggi seseorang menuntut ilmu, makin tinggi pula
nilai ilmu yang ia miliki, makin tinggi ilmu seseorang makin banyak kesempatan bagi orang
tersebut untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.” Peranan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan seseorang sangat besar, dengan ilmu pengetahuan, derajat manusia akan berbeda
antara yang satu dengan yang lainnya. Seperti firman Allah dalam Surat Al-Mujaadilah ayat ;
11 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. Segala jenis pekerjaan yang dilakukan selalu memerlukan ilmu pengetahuan, dalam
kehidupan sehari-hari misalnya, dapat dilihat bahwa pada umumnya orang yang memiliki
ilmu pengetahuan yang tinggi, taraf kehidupannya lebih baik dari pada orang yang tidak
memiliki ilmu pengetahuan atau orang ilmu pengetahuannya rendah, baik ilmu agama
maupun ilmu umum biasanya tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi atau menyediakan
kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk makan, pakaian, obat-obatan dan tempat tinggal.
Satu hal yang lebih penting lagi, bahwa orang yang berilmu memiliki pendirian yang teguh,
tidak mudah terombang-ambing tidak mudah tergoda oleh bujukan syetan. Sebagaimana
sabda Rasulullah Saw. Artinya :“Seseorang yang alim lebih sulit di goda oleh syetan dari
pada seribu orang yang ahli ibadah (tetapi tidak berilmu),” (H.R. Turmudzi). Dapat di lihat
dalam kehidupan masyarakat terjadinya gangguan ketertiban di akibatkan karena beberapa
faktor, salah satunya ialah kurangnya ilmu pengetahuan yang di miliki oleh anggota
masyarakat itu, seperti : Kurangnya pengetahuan agama dalam suatau anggota masyarakat
mengakibatkan kurang mengerti / paham tentang batas-batas halal dan haram sehingga
cenderung berbuat seenaknya, tidak tahu malu, dan tidak tahu sopan santun. Kurangnya
pengetahuan umum karena tidak bersekolah atau putus sekolah, sehingga tidak terampil
menciptakan pekerjaan sendiri, sulit mencari pekerjaan akibatnya sulit mencari nafkah untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika keadaannya demikian ditambah lagi dengan
kurangnya pengetahuan tentang agama maka orang mudah terjerumus kedalam perbuatan
yang dilarang oleh agama seperti berjudi, mencuri, merampok, bahkan membunuh. Islam
sangat memperhatikan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana firman Allah Swt, yang
artinya, “Peliharalah diri dan keluargamu dariapi neraka.” Keluarga adalah masyarakat
terkecil, jika semua keluarga di dalam masyarakat itu baik, maka baik pulalah kehidupan
dalam masyarakat dan alangkah indahnya sesuatu masyarakat yang anggota masyarakatnya
memiliki keterpaduan antara ilmu agama dan ilmu umum.

1. PENTINGNYA MENGAMALKAN ILMU


Ilmu yang telah didapat dari usaha menuntut ilmu adalah untuk di amalkan karena ilmu
itu terjaga dan tidak mudah hilang apabila telah diamalkan, terkhusus pada diri sendiri,
apakah ilmu yang telah didapat di amalkan pada kebaikan diri sendiri karena sebelum
mengamalkan ilmu pada orang lain setidaknya telah diamalkan pada diri sendiri. Setinggi
apapun seseorang menuntut ilmu jika tidak di amalkan maka dengan sendirinya ilmu tersebut
akan mudah hilang, ilmu akan bertambah jika di amalkan sebaliknya ilmu akan menghilang
jika tidak di amalkan.
Diantara salaf ada yang berkata-kata : “usaha kami untuk menjaga ilmu yang kami miliki
bersandar pada amalan kami, sebagian lagi mengatakan : ilmu itu menuntut untuk di
amalkan, jika tuntutan ilmu itu telah terpenuhi maka ia akan menetap dan jika tidak di penuhi
maka ia akan pergi menghilang.” Sekecil apapun ilmu yang diajarkan kepada orang lain
selama itu bersifat kebaikan niscaya Allah akan senantiasa meridhainya. Ibnu Abbas berkata :
“Sesungguhnya orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan
melata akan menohonkan ampunan baginya, termasuk pula ikan paus di lautan, (Mukhtasar
Minhajul Qashidin ; 11).” Orang yang mengajarkan ilmu akan mendapatkan balasan pahala
seperti pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut, dan yang lebih utamanya lagi ialah
pahala seorang alim akan terus bermanfaat dan tidak akan terputus meskipun telah wafat.
Dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan menyeru kepadaNya serta berlaku
sabar dalam menjalaninya agr ilmu yang telah di peroleh memiliki buah yang baik dan dapat
berkembang, dengan demikian banyak orang lain yang dapat menfaat dari ilmu tersebut.
Hendaklah diketahui bahwa hanya dengan ilmu derajat seseorang bisa terangkat, kecuali jika
ilmu tersebut telah diamalkan.
Dalam menafsirkan ayat ; “Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan
dengan ayat-ayat itu” (QS. Al-A’raaf ; 176).” Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa
hanya dengan ilmu, derajat seseorang tidak bisa terangkat, karena Allah telah mengkhabarkan
dalam ayat tersebut bahwa dia telah mendatangkan kepada sekelompok orang ayat-ayat
tersebut, dan ia tidak bisa mengangkat derajat mereka. Sesungguhnya derajat orang yang
berilmu hanyalah terangkat sesuai dengan kadar pengemalannya dan seseorang yang telah
mengamalkan ilmu yang telah di dapatnya niscaya Allah Swt akan mengajarkan kepadanya
ilmu yang belum di kehendakinya. “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang
yang baik, maka ia akan difahamkan dalam urusan agama.” [HR. Bukhari] Islam mewajibkan
kaum muslimin dan muslimat untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat,
sebab orang yang berilmu di masyarakat menduduki derajat yang tinggi, sedangkan yang
tidak berilmu menduduki derajat yang rendah. Islam menganggap bahwa agama tidak akan
mendapat tempat yang baik, apabila orang-orang Islam sendiri tidak mempunyai pengetahuan
yang matang dan pikiran yang sehat. Oleh karena itu, pengetahuan bagi Islam bagaikan ruh
(nyawa) bagi manusia.
J. MENSYUKURI NIKMAT ALLAH DENGAN MENUNTUT ILMU
Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan cara
melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Merupakan kewajiban karena nikmat yang telah
diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita. Seseorang yang tidak melaksanakan
kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga
baginya, ia adalah orang yang yang tidak tahu berterima kasih. Maka manusia yang tidak
melaksanakan kewajibannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah manusia yang paling
tidak tahu berterima kasih. Apakah kewajiban yang harus kita laksanakan kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan karuniaNya kepada kita? Jawabannya adalah
karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan karuniaNya kepada kita dengan
petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam, maka
bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala secara ikhlas, mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjauhkan
segala bentuk kesyirikan,ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam,
taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallahu'alaihi wa salam, yang
dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar.
Muslim sejati ialah muslim yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, serta ittiba’ hanya
kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam. Oleh karena itu untuk menjadi seorang
muslim yang benar, ia harus menuntut ilmu syar’i. Ia harus belajar agama Islam, karena Islam
adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam diutus Allah Subhanahu
wa Ta'ala untuk membawa keduanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

ِ ‫علَى الد‬
‫ِين ُك ِل ِه‬ ْ ُ‫ق ِلي‬
َ ُ‫ظ ِه َره‬ ِ ‫ِين ْال َح‬
ِ ‫سولَهُ ِب ْال ُهدَى َود‬ َ ‫ُه َو الهذِي أ َ ْر‬
ُ ‫س َل َر‬
َ‫َولَ ْو َك ِرهَ ْال ُم ْش ِر ُكون‬
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan
agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang
musyrik tidak menyukai. (QS At Taubah:33 dan Ash Shaf : 9).

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman :

ِ ‫علَى الد‬
‫ِين ُك ِل ِه‬ ْ ُ‫ق ِلي‬
َ ُ‫ظ ِه َره‬ ِ ‫ِين ْال َح‬
ِ ‫سولَهُ ِب ْال ُهدَى َود‬ َ ‫ُه َو الهذِي أَ ْر‬
ُ ‫س َل َر‬
‫ش ِهيدًا‬ ‫َو َكفَى ِب ه‬
َ ِ‫اَّلل‬
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak
agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al
Fath : 28).

Yang dimaksud dengan ‫( ال ُهدَى‬petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan ‫ِدي ُْن‬
ِ ‫( ْال َح‬agama yang benar) ialah amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi
‫ق‬
Muhammad Shallallahu'alaihi wa salam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan,
menjelaskan tentang nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala, sifat-sifatNya, perbuatan-
perbuatanNya, hukum-hukum dan berita yang datang dariNya, memerintahkan semua yang
bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau Shallallahu'alaihi wa salam memerintahkan
untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencintaiNya,
berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat.
Beliau Shallallahu'alaihi wa salam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak yang buruk
yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat. Cara untuk mendapat hidayah dan
mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan menuntut ilmu syar’i.
Menuntut ilmu sebagai jalan yang lurus (ash shirathal mustaqim), untuk memahami antara
yang haq dan bathil, yang bermanfaat dengan yangmudaharat (membahayakan), yang dapat
mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Seorang muslim tidaklah cukup hanya
menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya itu
harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam. Untuk itu, menuntut ilmu
merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna
untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia,
agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni
dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt.
Rasulullah Saw., bersabda:
“ ‫ب‬ َ ٍ‫ضةٌ ْال ِع ْل ِم م‬
ُ َ‫طل‬ َ ‫علَى فَ ِر ْي‬
َ ‫ُم ْس ِل ٍم ُك ِل‬
“Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam” (Riwayat Ibnu Majah, Al-
Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik) Seorang muslim
tidaklah cukup hanya menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan
mengamalkannya. Pernyataannya itu harus dibuktikan dengan melaksanakan
konsekuensi dari Islam. Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju
kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam bersabda :
‫ب‬ َ ‫ضةٌ ْال ِع ْل ِم‬
ُ ‫ط َل‬ َ ‫علَى فَ ِر ْي‬
َ ‫ ماجه ابن رواه( ُم ْس ِل ٍم ُك ِل‬224 ‫بن أنس عن‬
‫) مالك‬
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat
Anas bin Malik)
DAFTAR PUSTAKA

http://pai-sman11.blogspot.co.id/2014/03/menuntut-ilmu.html
http://sucikias.blogspot.co.id/2012/01/contoh-makalah-agama-islam-
kewajiban.html?showComment=1443419950281#c4079456708106945836
http://syariatkita.blogspot.co.id/2015/01/hukum-menuntut-ilmu-mengajarkannya-serta-
keutamaan-ilmu.html http://muslimfiqih.blogspot.co.id/2015/05/kumpulan-hadist-nabi-
tentang-menuntut-ilmu.html http://www.salafybpp.com/index.php/fataawa/137-keutamaan-
menuntut-ilmu-agama
TUGAS PENDIDIKAN AGAMA