Anda di halaman 1dari 2

REVIEW JURNAL

1. Keterangan Jurnal:
a. Judul : Effect of Verbally Aggressive Television Programming
on Viewers’ Self-Reported Verbal Aggression
b. Tahun terbit : 2015
c. Nama Pengarang : Jack Glascock
d. Instansi : Illinois State University
e. Coresponding Author : jaglasc@ilstu.edu
2. Masalah
a. Latar belakang Masalah
Penelitian ini dilatarbelangi oleh sedikitnya perhatian tentang penelitian efek
potensi dari media yang menampilkan agresif secara verbal. Selama ini, kebanyakan
studi hanya meneliti tentang gambaran agresif secara fisik di media saja. Hal ini juga
ditambah dengan kebanyakan orang saat ini menonton televisi yang menampilkan
agresif secara verbal, yang nantinya akan mempengaruhi perilaku agresifitas verbal
orang yang menontonnya.
b. Rumusan Masalah
Apakah ada efek penayangan media dengan agresif verbal terhadap interaksi
agresi verbal antara jenis kelamin dan kondisi pemaparan
3. Rujukan Teori
a. Variabel Verbally Aggressive Television Programming
Teori yang berlaku adalah teori kognitif sosial, yang menyatakan bahwa orang
dapat mempelajari perilaku melalui pengamatan model, baik secara langsung atau
perwakilan melalui media massa (Bandura, 2001).
b. Variabel Viewers’ Self-Reported Verbal Aggression
Agresi verbal didefinisikan oleh Infante dan Wigley (1986) sebagai serangan
terhadap konsep-diri orang lain. Contohnya termasuk penghinaan, teriakan, ancaman,
sarkasme, dan pemanggilan nama (Coyne & Archer, 2004; Infante & Wigley, 1986).
c. Variabel Jenis Kelamin
d. Variabel Kondisi Pemaparan
e. Variabel materi penayangan
4. Metodologi
a. Jenis variabel
Variabel tergantung : Viewers’ Self-Reported Verbal Aggression
Variabel bebas : Verbally Aggressive Television Programming
Variabel moderator : Jenis kelamin, kondisi, dan materi
b. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data penelitian dilakukan dalam dua fase. Pada fase awal
peserta mengisi kuesioner pendek menilai demografi serta agresi verbal. Pada fase
kedua, sekitar 3-4 minggu kemudian, peserta secara acak ditugaskan untuk melihat
video yang agresif secara verbal atau video yang tidak agresif dan kemudian mengisi
kuesioner yang mencakup item yang menilai gairah, kesukaan, dan agresi verbal.
c. Alat Ukur
Agresi verbal diukur dengan meminta responden untuk membaca definisi agresi
verbal berdasarkan yang digunakan oleh Infante dan Wigley (1986) dan kemudian
memberi peringkat video pada skala Likert dari 1 (tidak agresif sama sekali secara
verbal) menjadi 10 (sangat agresif secara verbal) ). Arousal dinilai oleh Perceived
Arousal Scale (PAS) (Anderson, Deuser, & DeNeve, 1995). Liking dinilai dengan
bertanya kepada responden seberapa besar mereka menyukai pertunjukan yang baru
saja mereka tonton dalam skala dari 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju).
d. Subjek Penelitian dan Lokasi (jumlah, usia, demografi subjek)
Peserta direkrut dari berbagai bagian dari kursus pengantar komunikasi di
universitas Midwestern. Sampel terdiri dari 44 laki-laki dan 91 perempuan dengan
usia 18-39. Dari total sampel, 78,7% mengidentifikasi diri mereka Kaukasia, 7,4%
Afrika-Amerika, 5,1% Asia-Amerika, 6,6% Hispanik, dan 2,2% sebagai lainnya.
e. Teknik analisis data
Teknik analisis data menggunakan teknik analisis kovarias (ANCOVA).
5. Hasil penelitian
Tidak ada efek utama yang signifikan untuk jenis kelamin peserta atau kondisi
paparan, tetapi seperti yang diperkirakan, ada interaksi yang signifikan antara jenis
kelamin dan paparan. Tampaknya peserta laki-laki melaporkan agresi verbal yang lebih
besar setelah paparan media agresif secara verbal (M = 3.20, SD = 1.12) dibandingkan
dengan media netral (M = 2.90, SD = 1.34 ), sementara perempuan melaporkan lebih
sedikit agresi verbal setelah paparan video agresif secara verbal (M = 2.82, SD = 0.82)
dibandingkan dengan video netral (M = 3.00, SD = 0.85).