Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PENENTUAN KADAR CUKA PASARAN (ALKALIMETRI)


Sri Zahra Mina Setyani Mulya (1704855)
Awal: Selasa, 6 November 2018
Akhir: Selasa, 6 November 2018

A. PENDAHULUAN
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasiyang
diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlahcontoh tertentu yang
akan dianalisis. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagaiyang tak diketahui. Prosedur
analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut
analisis volumetric. Larutan yang mengandung reagensia dengan bobot yang diketahui dalam
suatu volume tertentu dalam suatu larutan disebut larutan standar. Sedangkan larutan standar
primer adalah suatu larutan yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan
sangat murni yang dilarutkan dan volume yang terjadi dan larutan standar sekunder adalah
larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara menitrasi dengan larutan baku primer.
(Keenan, 1980)
Alkalimetri merupakan cara penetralan jumlah basa terlarut atau konsentrasi larutan
basa melalui titrimetri. Metode alkalimetri merupakan reaksi penetralan asam dengan basa.
Titrasi asam-basa menetapkan beraneka ragam zat yang bersifat asam dengan basa, baik
organik maupun anorganik. Banyak contoh dalam analitiknya dapat diubah secara kimia
menjadi asam atau basa dan kemudian ditetapkan dengan titrasi. Atau dengan perkataan lain
untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen
adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya
titik ekivalen sukar diamati, karena hanya merupakan titik akhir teoritis atau titik akhir
stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga
titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi merupakan keadaan di mana penambahan
satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kedua cara di
atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik. (Underwood, 2002)
Indikator fenophtalein (pp) tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan yang
tidak terionisasi indikator tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa fenophtalein
akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna terang karena anionnya. (Day, 1981)
Praktikum ini dilakukan karena didasarkan pada metode alkalimetri yang merupakan
salah satu metode titrasi asam-basa yang sering digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu
asam. Metode alkalimetri merupakan metode reaksi penetralan asam dengan basa. NaOH
merupakan basa yang paling sering digunakan. Untuk penentuan titik akhir titrasi alkalimetri
adalah dengan terjadinya perubahan warna. Indikator yang digunakan dalam praktikum ini
yaitu indikator PP (Phenophtalein).
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kadar cuka dengan cara titrasi
alkalimetri dan menentukan molaritas NaOH yang distandarisasi dengan asam oksalat.
Prinsip dasar dari praktikum ini adalah terjadinya reaksi netralisasi antara asam dengan
basa atau sebaliknya, dimana ion H+ dari asam akan bereaksi dengan ion OH- dari basanya
membentuk molekul yang netral. NaOH sebagai basa (larutan standar) yang akan menitrasi
asam cuka sehingga terjadi reaksi netralisasi.
Adapun manfaat yang diperoleh dari praktikum ini yaitu dapat memahami prinsip-
prinsip titrasi alkalimetri, memiliki kemampuan untuk melakukan titrasi, dapat mengetahui dan
menentukan konsentrasi NaOH dan kadar asam cuka di pasaran.
B. METODE
1) Pembuatan Larutan Standar Asam Oksalat (C2H2O4 2H2O) 0,2 M 100mL
Dilakukan perhitungan massa asam oksalat yang diperlukan untuk konsentrasinya yang
telah ditentukan, lalu ditimbang dengan teliti, dan dihitung kembali konsentrasi
sebenarnya dari asam oksalat. Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL, dilarutkan
dengan aquades secara kuantitatif, homogenkan melalu pengocokan.
2) Standarisasi Larutan NaOH (x M) dengan Larutan Standar Asam Oksalat
Dipipet 10 mL larutan standar primer asam oksalat, dimasukkan ke dalam labu
erlenmayer 250 mL. Ditambahkan 3 tetes indikator fenoftalein, lalu dititrasi dengan
larutan NaOH dari buret sampai terbentuk warna merah muda yang tidak hilang setelah
dikocok selama 15 detik. Dilakukan titrasi secara duplo/triplo hingga diperoleh
perbedaan volume setiap ±0, 05 mL. Ditentukan konsentrasi natrium hidroksida
(NaOH) tersebut dengan tepat.
3) Penetapan Kadar Asam Asetat pada Sampel Larutan Cuka
Dipipet larutan sampel CH3COOH sebanyak 10 mL, lalu dimasukkan ke dalam labu
erlenmayer, kemudian ditambahkan tiga tetes indikator fenoftalein. Titrasi sampel cuka
tersebut dengan larutan NaOH yang telah dibakukan, sampai larutan berubah menjadi
merah muda. Dilakukan titrasi secara duplo/triplo hingga diperoleh perbedaan volume
setiap titrasi ±0, 05 mL, kemudian dihitung kadar asam asetat dalam sampel dalam %
massa/volume.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Persamaan Reaksi
 Reaksi pada tahap standarisasi larutan NaOH:
C2H2O4 (aq) + 2NaOH (aq) + Pp  Na2C2O4 (aq) + 2H2O (l)
 Reaksi pada tahap penentuan kadar asam cuka:
NaOH (aq) + CH3COOH (aq) + Pp  CH3COONa (aq) + H2O (l)
2) Hasil Pengamatan
- Larutan NaOH: cairan tidak berwarna dan tidak berbau
- Asam oksalat: padatan berwarna putih dan tidak berbau
- Larutan standar primer nya adalah asam oksalat
- Larutan standar sekundernya ialahNaOH
- Asam oksalat yang dilarutkan sebanyak 2, 52 gr diencerkan dengan aquades
hingga volumenya menjadi 100 mL
- Larutan asam oksalat: cairan tidak berwarna dan tidak berbau
- Indikator Pp: cairan tidak berwarna
- Dengan melakukan titrasi larutan asam oksalat dengan NaOH yang ada di buret
secara diplo, didapat titrat pada labu erlenmayer pertama berwarna merah muda
tetapi tidak seulas, sedangkan titrat pada labu erlenmayer kedua berwarna
merah muda seulas
- Larutan cuka: berwujud cair tidak berwarna dan berbau khas
- Larutan NaOH: cairan tidak berwarna dan tidak berbau
- Indikator Pp: cairan tidak berwarna
- Saat larutan asam cuka ditetesi indikator Pp dan dilakukan titrasi dengan titran
NaOH yang ada di buret secara diplo, maka didapat perubahan warna pada labu
erlenmayer pertama menjadi merah muda dan labu erlenmayer kedua tidak
mendapatkan perubahan warna yang seharusnya
a. Standarisasi larutan NaOH dengan larutan Asam Oksalat
Volume Asam Volume NaOH Molaritas Asam Molaritas
No
Oksalat (mL) (mL) Oksalat NaOH
1 10 mL 10 mL 0,2 M 0,2 M
2 10 mL 9, 95 mL 0,2 M 0,2 M
Rerata 10 mL 9, 975 mL 0,2 M 0,2 M
b. Penentuan kadar asam cuka dengan standar sekunder NaOH
Volume Asam Volume NaOH Normalitas Normalitas
No
Oksalat (mL) (mL) NaOH Sampel
1 10 mL 5, 58 mL 0,4 N 0,2 N
2 10 mL 5, 54 mL 0,4 N 0,2 N
Rerata 10 mL 5, 56 mL 0,4 N 0,2 N

3) Perhitungan
a. Konsentrasi NaOH (standarisasi)
Mol ekuivalen NaOH = mol ekuivalen C2H2O4
M NaOH x Vb x b = M C2H2O4 x Va x a
M NaOH x 9,975 mL x 1 = 0,2 M x 10 mL x 2
M NaOH = 0,4010 M
b. Konsentrasi CH3COOH (titrasi)
Mol ekuivalen CH3COOH = mol ekuivalen NaOH
M CH3COOH x Va x a = M NaOH x Vb x b
M CH3COOH x 10 mL x 1 = 0,4010 M x 5,56 mL x 1
M CH3COOH = 0,2229 M
c. Massa CH3COOH = mol CH3COOH x Mr CH3COOH
= M CH3COOH x V (l) x Mr CH3COOH
= 0,2229 M x 0,01 L x 60 gr/mol
= 0,1337 gr
d. Massa sampel =𝜌xV
= 1 g/ml x 10 mL
= 10 gr
e. Kadar CH3COOH = Massa CH3COOH
x faktor pengenceran x 100%
Massa sampel
= 0,1337 gr 1000
x x 100%
10 gr 50
= 26, 74 %
f. Persen kesalahan
% kesalahan = faktor teoritis- kadar percobaan
x 100%
kadar teoritis
= 25% - 26,74%
25 % x 100%

= 6, 96%
4) Pembahasan
Praktikum Penentuan Kadar Cuka Pasaran (Alkalimetri) mempunyai tujuan untuk
menentukan kadar cuka dengan cara titrasi alkalimetri dan menentukan molaritas NaOH yang
distandarisasi dengan asam oksalat. Prinsip dasar dari praktikum ini adalah terjadinya reaksi
netralisasi antara asam dengan basa atau sebaliknya, dimana ion H+ dari asam akan bereaksi
dengan ion OH- dari basanya membentuk molekul yang netral. NaOH sebagai basa (larutan
standar) yang akan menitrasi asam cuka sehingga terjadi reaksi netralisasi. Larutan standar
primer pada praktikum ini adalah asam oksalat karena asam oksalat memiliki kemurnian yang
tinggi serta tidak higroskopis dan stabil, sedangkan larutan standar sekundernya ialah NaOH.
Hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan standar asam oksalat 0,2 M yang
sudah diketahui massanya sebesar 2,52 gr, harus diencerkan terlebih dahulu dengan
menggunakan aquades, karena tujuan pengenceran ini adalah untuk menurunkan molaritas
suatu larutan dengan penambahan volume suatu larutan. Pada saat pengambilan larutan standar
asam oksalat dilakukan dengan menggunakan pipet gondok, sebanyak 10 mL agar hasil yang
didapat kuantitatif. Larutan NaOH yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret
menggunakan corong, tujuanya adalah agar pertumpahan larutan baku dapat lebih
diminimalisir dan jumlah titran yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah
titrasi.
Untuk mengamati titik ekivalen dan titik ahir titrasi, dipakai indikator yang warnanya
disekitar titik ekivalen. Penggunaan indikator pada metode titrasi ini bertujuan untuk
mengamati titik akhir dari suatu titrasi. Titik akhir titrasi adalah titik pada saat mulai terjadi
perubahan warna. Selain dari itu, terdapat juga titik ekivalen, yaitu titik dalam suatu titrasi di
mana jumlah ekuivalen titrasi sama dengan jumlah ekuivalen analit. Pada praktikum
alkalimetri yang digunakan adalah indikator PP (fenoftalein). Indikator fenoftalein digunakan
karena trayek pH nya dari 8,3-10 sehingga perubahan warna saat mencapai titik akhir titrasi
mudah diamati. Jadi, ketika larutan yang dititrasi masih bersifat asam dan netral makan larutan
tersebut tidak berwarna. Namun, ketika larutan sudah mencapai titik akhir titrasi larutan akan
berubah warna menjadi merah muda.
Pada saat larutan asam oksalat yang sudah ditetesi indikator fenoftalein, dititrasi dengan
titran yang ada di buret (NaOH) secara duplo. Titrat yang didapat pada percobaan pertama
yaitu perubahan yang terjadi adalah larutan menjadi pink keunguan karena melebihi batas titik
ekuivalen. Sedangkan pada percobaan yang kedua didapat perubahan yang sudah semestinya
yaitu berwarna merah muda yang menandakan titik ekuivalen tidak melebihi batas. Begitu pun
pada saat menitrasi asam cuka dengan titrasi dengan NaOH secara duplo, didapat perubahan
indikator pada percobaan pertama titrat berwarna merah muda dan pada percobaan kedua titrat
berwarna pink keunguan karne melebihi batas titik ekivalen.
Berdasarkan perhitungan didapat konsentrasi NaOH yaitu 0,4010 M dan normalitas
NaOH 0,4010 N. Konsentrasi asam cuka cuka yang didapat sebesar 0,2229 M. Kadar cuka
yang diperoleh sebesar 26,74 %, sedangkan kadar cuka yang beredar di pasaran adalah 25%.
Maka terdapat factor kesalahan yang diakibatkan karena kesalahan pada penglihatan saat
pengukuran volume di buret, kesalahan saat mengamati perubahan warna, dan kesalahan saat
tidak cepat menutup kran buret yang bisa menyebabkan warna pada titrat lebih pekat atau lebih
tua. Persen kesalahan pada praktikum ini sebesar 6,96%
D. KESIMPULAN
Praktikum Penentuan Kadar Cuka Pasaran (Alkalimetri) ditujukkan untuk menentukan
kadar cuka dengan cara titrasi alkalimetri dan menentukan molaritas NaOH yang distandarisasi
dengan asam oksalat. Dalam melalukan dua kali percobaan/duplo dengan menggunakan
indikator fenoftalein diperoleh molaritas NaOH sebesar 0,4010 M dan normalitas NaOH
sebesar 0,4010 N. Kadar cuka yang didapat adalah 26,74% dengan persen kesalahan sebesar
6,96%.

DAFTAR PUSTAKA
Day, JR. (1981). Analisa Kimia Kuntitatif. Jakarta: Erlangga
Keenan, Charles W. (1980). Ilmu Kimia untuk Universitas, Edisi VI, 422. Jakarta: Erlangga
Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.