Anda di halaman 1dari 7

http://www.biografiku.com/2012/03/biografi-haji-agus-salim.

html

Haji Agus Salim. Ia dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, Mengenai kehidupan Haji
Agus Salim berikut profilnya. Haji Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq yang berarti
"pembela kebenaran". Dia Lahir di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8
Oktober 1884. Dia menjadi anak keempat Sultan Moehammad Salim, seorang jaksa di sebuah
pengadilan negeri. Karena kedudukan ayahnya Agus Salim bisa belajar di sekolah-sekolah
Belanda dengan lancar, selain karena dia anak yang cerdas. Dalam usia muda, dia telah
menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan
Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas 5 tahun
pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yakni Surabaya, Semarang, dan
Jakarta.

Kehidupan Haji Agus Salim


Karena itu, Agus Salim berharap pemerintah mau mengabulkan permohonan beasiswanya untuk
melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda. Tapi, permohonan itu ternyata ditolak. Dia patah
arang. Tapi, kecerdasannya menarik perhatian Kartini, anak Bupati Jepara. Sebuah cuplikan dari
surat Kartini ke Ny. Abendanon, istri pejabat yang menentukan pemberian beasiswa pemerintah
pada Kartini: “Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikarunia
bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia anak Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini,
mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama
dari ketiga-tiga HBS! Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi
dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan.”

Lalu, Kartini merekomendasikan Agus Salim untuk menggantikan dirinya berangkat ke Belanda,
karena pernikahannya dan adat Jawa yang tak memungkinkan seorang puteri bersekolah tinggi.
Caranya dengan mengalihkan beasiswa sebesar 4.800 gulden dari pemerintah ke Agus Salim.
Pemerintah akhirnya setuju. Tapi, Agus Salim menolak. Dia beranggapan pemberian itu karena
usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Salim
tersinggung dengan sikap pemerintah yang diskriminatif. Apakah karena Kartini berasal dari
keluarga bangsawan Jawa yang memiliki hubungan baik dan erat dengan pejabat dan tokoh
pemerintah sehingga Kartini mudah memperoleh beasiswa?
Karir Politik Haji Agus Salim
Belakangan, Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai
penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, dia memperdalam ilmu
agama Islam pada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta
mempelajari diplomasi. Sepulang dari Jedah, dia mendirikan sekolah HIS (Hollandsche
Inlandsche School), dan kemudian masuk dunia pergerakan nasional. Karir politik Agus Salim
berawal di SI, bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 915. Ketika kedua
tokoh itu mengundurkan diri dari Volksraad sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka
terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim menggantikan mereka selama empat tahun (1921-
1924) di lembaga itu. Tapi, sebagaimana pendahulunya, dia merasa perjuangan “dari dalam” tak
membawa manfaat. Dia keluar dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.

Pada 1923, benih


Advertisement

perpecahan mulai timbul di SI. Semaun dan kawan-kawan menghendaki SI menjadi organisasi
yang condong ke kiri, sedangkan Agus Salim dan Tjokroaminoto menolaknya. Buntutnya SI
terbelah dua: Semaun membentuk Sarekat Rakyat yang kemudian berubah menjadi PKI,
sedangkan Agus Salim tetap bertahan di SI. Karier politiknya sebenarnya tidak begitu mulus. Dia
pernah dicurigai rekan-rekannya sebagai mata-mata karena pernah bekerja pada pemerintah.
Apalagi, dia tak pernah ditangkap dan dipenjara seperti Tjokroaminoto. Tapi, beberapa tulisan
dan pidato Agus Salim yang menyinggung pemerintah mematahkan tuduhan-tuduhan itu.
Bahkan dia berhasil menggantikan posisi Tjokroaminoto sebagai ketua setelah pendiri SI itu
meninggal dunia pada 1934.

Peran Haji Agus Salim


Selain menjadi tokoh SI, Agus Salim juga merupakan salah satu pendiri Jong Islamieten Bond.
Di sini dia membuat gebrakan untuk meluluhkan doktrin keagamaan yang kaku. Dalam kongres
Jong Islamieten Bond ke-2 di Yogyakarta pada 1927, Agus Salim dengan persetujuan pengurus
Jong Islamieten Bond menyatukan tempat duduk perempuan dan laki-laki. Ini berbeda dari
kongres dua tahun sebelumnya yang dipisahkan tabir; perempuan di belakang, laki-laki di depan.
”Ajaran dan semangat Islam memelopori emansipasi perempuan,” ujarnya. Agus Salim pernah
menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada akhir kekuasaan Jepang.
Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam
Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah
pengakuan kedaulatan Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri.

Dengan badannya yang kecil, di kalangan diplomatik Agus Salim dikenal dengan julukan The
Grand Old Man, sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya di bidang diplomasi. Sebagai pribadi
yang dikenal berjiwa bebas. Dia tak pernah mau dikekang oleh batasan-batasan, bahkan dia
berani mendobrak tradisi Minang yang kuat. Tegas sebagai politisi, tapi sederhana dalam sikap
dan keseharian. Dia berpindah-pindah rumah kontrakan ketika di Surabaya, Yogyakarta, dan
Jakarta. Di rumah sederhana itulah dia menjadi pendidik bagi anak-anaknya, kecuali si bungsu,
bukan memasukkannya ke pendidikan formal. Alasannya, selama hidupnya Agus Salim
mendapat segalanya dari luar sekolah. ”Saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan
kolonial,” ujarnya tentang penolakannya terhadap pendidikan formal kolonial yang juga sebagai
bentuk pembangkangannya terhadap kekuasaan Belanda. Agus Salim wafat pada 4 November
1954 dalam usia 70 tahun.

Dalam teori komunikasi, pola berpikir seseorang dipengaruhi oleh latar belakang hidup di
lingkungannya. Seorang tokoh yang berperan dalam gerakan moderen Islam di Indonesia, Agus
Salim, memiliki pola berpikir yang dipengaruhi oleh lingkungannya dalam hal sosial-intelektual.
Dia adalah anak dari pejabat pemerintah yang juga berasal dari kalangan bangsawan dan agama.
Jadi, sejak kecil ia hidup di lingkungan yang penuh dengan nuansa-nuansa keagamaan. Setelah
menyelesaikan studi sekolah pertengahannya di Jakarta, dia bekerja untuk konsulat Belanda di
Jeddah (1906-1909). Di sini dia mempelajari kembali lebih dalam tentang Islam, kendatipun dia
memberi pengakuan: “meskipun saya terlahir dalam sebuah keluarga Muslim yang taat dan
mendapatkan pendidikan agama sejak dari masa kanak-kanak, [setelah masuk sekolah Belanda]
saya mulai merasa kehilangan iman.”

Walaupun demikian, tidak berarti bahwa Agus Salim adalah seorang yang anti-nasionalisme.
Perjuangannya dalam mempersiapkan kemerdekaan bangsa kita adalah bukti bahwa dia adalah
seorang yang berjiwa nasionalisme. Perjuangan Agus salim dalam meraih kemakmuran bagi
rakyat Indonesia patut kita apresiasi bersama sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Selanjutnya, kenikmatan hidup saat ini yang kita rasakan di Indonesia tak lain dan tak bukan
adalah hasil jerih payah dari para pejuang kemerdekan dan alangkah lebih baik apabila
perjuangan mereka di masa lalu dapat kita hayati untuk merevitalisasi semangat dalam diri
menggali secara konsisten khazanah-khazanah keislaman, kemoderenan, dan keindonesiaan.
http://www.biografipahlawan.com/2014/11/biografi-agus-salim.html

Profil Agus Salim

Nama Lengkap : Agus Salim


Lahir : Sumatera Barat, 8 Oktober 1884
Meninggal : Jakarta, 4 November 1954 (70 Tahun)
Zodiac : Balance
Profesi : Jurnalis, Diplomat
Makam : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam

Biografi Agus Salim


Agus Salim terlahir sebagai anak keempat dari pasangan Soetan Mohamad Salim dan Siti
Zaenab pada tanggal 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Agam Sumatera Barat. Ayahnya, seorang
Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau. Mashudul Haq yang berarti ``Pembela Kebenaran``
adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya saat beliau lahir. Menelusuri jejak dalam biografi
Agus Salim, kita mendapati kecerdasannya sangat menonjol dibanding teman-temannya.
Terlahir dari keluarga yang berada, membuat Agus Salim dapat mengenyam pendidikan di
sekolah-sekolah Belanda tanpa hambatan. Pada usia 19 tahun, belai lulus dari HBS (Hogere
Burger School) atau sekolah menengah atas saat ini dalam waktu 5 tahun dengan menyandang
predikat lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Pada usia mudanya
itu, Agus salim mampu menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki,
Perancis, Jepang,dan Jerman.

Semangat belajar Agus Salim terus Menyala, dan berbekal sebagai lulusan terbaik dia
mengajukan beasiswa kepada pemerintah Belanda untuk dapat melanjutkan sekolah Kedokteran
di Belanda. Tanpa sebab yang jelas, ternyata permohonannya ditolak yang membuatnya kecewa.
Disisi lain, R.A. Kartini yang hidup sejaman dengan Agus Salim, mendapatkan beasiswa dari
pemerintah Belanda untuk bisa belajar di negeri Kincir Angin tersebut. Namun,karena beliau
telah menikah, yang dalam tradisi adat Jawa, tidak memperbolehkan seorang wanita yang sudah
menikah jauh dari suaminya mengurungkan niat belajarnya. Mengetahui ada anak muda yang
cerdas dan merupakan lulusan terbaik dari tiga kota sekaligus, maka kartini berkirim surat
kepada temannya, Ny. Abendanon yang merupakan istri pejabat di negeri Belanda yang
berwenang menentukan beasiswa untuk mengalihkan beasiswa kepada Agus Salim. Pengajuan
pengalihan beasiswa R.A. kartini kepada Agus Salim disetujui oleh pemerintah Belanda.
Membaca biografi Agus Salim kita dapati, kalau dia orang yang memiliki kemerdekaan diri yang
tinggi. Beasiswa dari pemerintah Belanda justru ditolaknya, karena Ia tahu, itu bukan murni atas
prestasinya, namun karena atas permintaan seorang bangsawan bernama Kartini. Dia justru
merasa tersinggung atas perlakuan yang tidak adil tersebut.

Dalam biografi Agus Salim disebutkan, pada tahun 1906 bersamaan dengan gagalnya dia
melanjutkan sekolah, beliau mendapatkan tawaran kerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda
di Jeddah, Arab Saudi. Beliau menerima pekerjaan tersebut dalam kurun waktu 2 tahun antara
tahun 1909 sampai 1911. Disela-sela pekerjaannya, beliau menimba ilmu lebih jauh tentang
agama Islam kepada Syech Ahmad Khatib, seorang Imam di Masjidil Haram yang juga
pamannya sendiri dan merupakan guru dari KH. Hasyim Asy`ari pendiri NU dan KH. Ahmad
dahlan Pendiri Muhammadiyah. Selain belajar agama, beliau juga belajar mengenai ilmu
diplomasi dan politik. Perpaduan ketajaman ilmu Agama, ilmu Politik, Kemampuan Bahasa
asing dan kecerdasannya yang tinggi membuatnya menjadi pribadi yang disegani. Saat pulang ke
tanah air, beliau langsung aktif dalam pergerakan nasional dan juga mendirikan Sekolah HIS
(Hollandsche Inlandesche School.

Melanjutkan biografi Agus Salim, perjuangan politiknya diawali saat bergabung dengan Serikat
Islam pada tahun 1915 yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Beliau sempat
menjadi anggota Volksraad ( semacam DPR/MPR) dari perwakilan SI di pemerintah Hindia
Belanda menggantikan seniornya HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Agus Salim tidak
bertahan lama dan mengalami kekecewaan atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda
sebagaimana pendahulunya dan berkesimpulan berjuang dari dalam tidak efektif hingga
memutuskan focus berjuang melalui SI. Pada tahun 1923 SI pecah secara ideolgi menjadi SI kiri
atau SI merah yang berideologikan ke ``kiri`` yang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang
menjadi cikal bakal PKI dengan SI kanan atau SI Putih yang berhaluan ideology kanan, dimana
Agus Salim tergabung didalamnya dengan Tjokroaminoto. Agus Salim sering mendapat tuduhan
sebagai mata-mata Belanda, namun ditepisnya dengan keberaniannya untuk mengkritik
pemerintah Belanda melalui pidato-pidatonya. Agus Salim menjadi pimpinan puncak SI
menggantikan HOS Tjokroaminoto yang wafat pada tahun 1934. Selain di SI, beliau mendirikan
juga organisasi Jong Islamieten Bond dan melakukan perubahan pola pikir dari yang kaku ke
Islam moderat dengan meniadakan hijab pemisah antara tempat duduk laki-laki dan perempuan
pada kongres ke 2 Jong Islamieten Bond di Yogyakarta tahun 1927.

Membaca biografi Agus Salim lebih dalam kita menemukan keterlibatan beliau sebagai anggota
PPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, beliau
mendapat mandate sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pada Kabinet Syahrir I dan II,
beliau di tunjuk menjadi Menteri Muda Luar Negeri. Begitu pula pada cabinet Hatta. Berlanjut
setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh internasional, beliau ditunjuk menjadi penasihat
Menteri Luar Negeri. ``The Grand Old Man`` adalah julukan terhadap Agus Salim, karena
kepiawainnya dalam berdiplomasi yang tidak tertandingi pada jamannya. Salah satu contoh,
beliau sangat cerdik untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia dari Negara
Jerman. Negara Jerman yang merasa keturunan bangsa Arya berlaku sombong dan menganggap
rendah Negara atau orang yang tidak bisa berbahasa Jerman. Maka, saat kunjungannya sebagai
Menteri Luar Negeri, dia menyusun naskah pidatonya dalam Bahasa Jerman yang sangat fasih
dan memukau petinggi Jerman hingga akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.

Menelaah biografi Agus Salim, kita akan menemukannya sebagai sosok yang merdeka dalam
berpikir dan bertindak. Beliau tidak mau terkungkung dalam batasan-batasan, termasuk
mendobrak tradisi Minang yang menurutnya kolot. Walaupun seorang tokoh yang disegani dan
sangat cerdas, penampilannya sangat sederhana,sering hanya menggunakan sarung dan peci.
Beliau tidak tidak memiliki brumah tetap dan selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain.
Di tiap kota, beliau hanya menyewa rumah yang kecil dan sederhana. Dalam hal pendidikan
anak, beliau mengajarnya sendiri atau home schooling kalau dalam istilah sekarang. Hanya
anaknya yang paling kecil yang disekolahkan secara formal. Beliau beranggapan, semua
keahliannya tidak diperoleh disekolah formal, namun lebih karena belajar mandiri atau otodidak
dengan ``learning by doing``. Beliau melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda dalam
hal pendidikan dengan berujar`` saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial``.
Haji Agus Salim begitu akrab panggilannya di lintasan sejarah, wafat dalam usia 70 tahun
tepatnya pada 4 November 1954 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Atas segala jasa dan
perjuangannya, beliau mendapat anugerah sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang
tertuang dalam Keppres nomor 657 tertanggal 27 Desember 1961.

Pendidikan Agus Salim


 Europeesche Lagere School (ELS)
 Hoogere Burgerschool (HBS)

Penghargaan Agus Salim


 Pahlawan Nasional Indonesia SK Keppres nomor 657 tahun 1961

Seperti itulah ulasan Biografi Agus Salim salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia dari
Sumatera Barat yang sempat BiografiPahlawan.com bagikan kepada pembaca. Semoga dengan
hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok Agus
Salim.