Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah Sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan seyogyanya dapat
memberikan pelayanan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat sehingga usaha untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
dapat tercapai. Pelayanan bermutu merupakan isu yang paling kompleks dalam
dunia pelayanan kesehatan. Rumah Sakit harus mempunyai unit yang berwenang
untuk mengatur dan mengelola segala hal yang berkaitan dengan obat, unit yang
berwenang ini adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit (1).
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah unit pelaksana fungsional
yang menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit.
Pelayanan kefarmasian diantaranya pengelolaan persediaan farmasi seperti obat
dan BHP. Obat merupakan salah satu unsur penting pada pelayanan kesehatan dan
sekaligus sebagai komponen harga dalam penentuan tarif Rumah Sakit. Dengan
makin banyaknya macam dan jenis obat baru yang beredar akan menimbulkan
kesulitan tersendiri bagi dokter dan masalah dalam pemilihan penggunaan obat di
Rumah Sakit. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi para dokter dalam mengikuti
perkembangannya pada saat menggunakan alternatif pengobatan, oleh karena itu
diperlukan suatu upaya manajemen pengelolaan obat di Rumah Sakit. Seleksi obat
merupakan hal penting dan sangat diperlukan di suatu Rumah Sakit, seleksi obat
memiliki keuntungan diantaranya adanya kualitas pengobatan yang lebih baik,
manajemen obat yang lebih baik dan harga yang lebih terjangkau.
Manajemen obat di Rumah Sakit merupakan salah satu unsur penting
dalam fungsi manajerial Rumah Sakit secara keseluruhan karena ketidakefisienan
akan memberikan dampak negatif terhadap Rumah Sakit baik secara medis
maupun secara ekonomis. Manajemen pengelolaan obat dimulai dari kegiatan
seleksi sampai dengan distribusi dengan tujuan agar obat yang diperlukan tersedia
setiap saat dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu yang terjamin dan harga
yang terjangkau untuk mendukung pelayanan yang bermutu.

1
Formularium Rumah Sakit yaitu merupakan daftar obat yang disepakati
staf medis, disusun oleh Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang ditetapkan oleh
pimpinan Rumah Sakit. Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua
penulis resep, pemberi obat dan penyedia obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap
formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai kebijakan
dan kebutuhan Rumah Sakit. Tim Farmasi dan Terapi (TFT) merupakan unit kerja
dalam memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit mengenai
kebijakan penggunaan obat di Rumah Sakit yang anggotanya terdiri dari dokter
yang mewakili semua spesialisasi yang ada di Rumah Sakit, Apoteker Instalasi
Farmasi, serta tenaga kesehatan lainnya apabila diperlukan.
Perencanaan adalah salah satu proses pengelolaaan obat yang bertujuan
untuk mendapatkan jenis dan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan, menghindari
terjadinya kekosongan obat dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional.
Perencanaan obat/sediaan farmasi ini harus sesuai formularium yang selalu
mutakhir dan sesuai kriteria yang telah ditetapkan oleh Panitia Farmasi Terapi
(PFT) dan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS).
Keberhasilan perencanaan kebutuhan obat bisa dicapai dengan melibatkan
tim dan kombinasi dari berbagai metode. Banyak metode yang dipakai dalam
perencanaan logistik, diantaranya metode konsumsi, epidemiologi, Economic
Order Quantity (EOQ) dan Production Order Quantity (POQ). Selain itu juga
dipakai berbagai analisis, diantaranya analisis ABC (pareto) dan analisis VEN
(Vital, Esensial, Non-esensial)
Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data
konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang
mendekati ketepatan, perlu dilakukan analisa trend pemakaian obat 3 (tiga) tahun
sebelumnya atau lebih.
Analisa ABC (pareto) adalah pengklasifikasian obat berdasarkan
jumlah penyerapan dana. Analisis ABC dapat diterapkan dengan menggunakan
data konsumsi obat selama satu tahun atau kurang. Metode ini dalam proses
pengadaan digunakan untuk memastikan bahwa pengadaan sesuai dengan
prioritas kesehatan masyarakat dan menaksir frekuensi pemesanan yang

2
mempengaruhi keseluruhan persediaan. Analisis ABC dibedakan menjadi dua
macam, yaitu analisis nilai pakai dan analisis nilai investasi. Analisis dengan
menggunakan analisis ABC terhadap ketersediaan obat sangat sesuai untuk
dilakukan oleh instalasi farmasi karena dapat memberikan penghematan untuk
biaya obat dan dapat merencanakan jenis obat yang tepat dan dibutuhkan.
Reorder Point (ROP) merupakan waktu pemesanan kembali obat yang
akan dibutuhkan. Reorder Point masing masing item obat penting diketahui
supaya ketersediaan obat terjamin, sehingga pemesanan obat dilakukan pada saat
yang tepat yaitu saat stok obat tidak berlebih dan tidak kosong. Perhitungan
Reorder Point ini ditentukan oleh lamanya lead time, pemakaian rata-rata obat
dan safety stock.
Perhitungan Reorder Point mempunyai arti penting dalam pengendalian
persediaan. Pengendalian persediaan diharapkan akan mencegah terjadinya
kekosongan stok ataupun kelebihan stok obat walaupun terjadi kenaikan
pemakaian ataupun keterlambatan kedatangan obat dari distributor atau keduanya.
RSUD Karawang merupakan rumah sakit milik pemerintah, dimana
perencanaan obat berdasarkan sistem budgeting dari Rencana Anggaran Bisnis
(RAB). Seiring dengan meningkatnya pasien, persediaan obat juga sering
mengalami masalah terutama dari segi kecukupan persediaan. Sering terjadinya
kekosongan obat mengakibatkan pasien tidak mendapatkan obat sebagaimana
mestinya. Hal ini bisa di disebabkan oleh penganggaran yang kurang, metode
perencanaan obat yang tidak tepat atau karena ketidaktepatan dalam menentukan
waktu pemesanan seperti tidak dimasukannya faktor buffer stock dan leading time.
Atas dasar itulah peneliti ingin melakukan penelitian di RSUD Karawang dengan
judul Analisis Perencanaan Obat Formularium dengan Kombinasi Metode
Konsumsi, Analisis ABC serta Penentuan Reorder Point (ROP).

A. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan penelitian
dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana pengembangan model

3
perencanaan obat Formularium dengan kombinasi metode konsumsi dan analisis
ABC serta Reorder Point (ROP) di Instalasi Farmasi RSUD Karawang.

B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mengetahui semua jenis obat yang paling sering digunakan dan
memiliki investasi yang tinggi dengan menggunakan analisis ABC
b. Menghitung kebutuhan obat dengan metode konsumsi dan
menentukan titik ROP
c. Mengetahui metode perencanaan yang paling efektif.

C. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan batasan perencanaan obat, untuk
mengetahui gambaran pengendalian persediaan obat di Instalasi Farmasi RSUD
dengan menggunakan kombinasi metode konsumsi dan analisis ABC serta
Reorder Point dengan asumsi ketersediaan obat yang cukup dan efisiensi biaya.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapat
melalui telaah dokumen dokumen permintaan obat Instalasi Farmasi RSUD
Karawang.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi peneliti
Diharapkan hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan dalam
membuat perencanaan obat dengan menggunakan kombinasi metode
konsumsi dan analisis ABC di Rumah Sakit Umum Daerah karawang.
2. Manfaat bagi Rumah Sakit
a. Memberikan rancangan model perencanaan obat berdasarkan
kombinasi metode konsumsi dan analisis ABC dan Reorder Point

4
untuk menurunkan nilai persediaan obat di Instalasi Farmasi RSUD
Karawang
b. Masukan bagi RSUD dalam menetapkan kebijakan tentang
manajemen logistik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu instansi yang menyediakan tempat dan memberikan
jasa pelayanan kesehatan sekurang-kurangnya pelayanan medic umum, gawat
darurat, pelayanan keperawatan, rawat jalan, rawat inap, operasi/bedah, pelayanan
medik spesialis dasar, penunjang medik, farmasi, gizi, sterilisasi, rekam medik,
pelayanan administrasi dan manajemen, penyuluhan kesehatan masyarakat, serta
pengolahan limbah.
Menurut UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit, Rumah Sakit
diselenggarakan berasaskan pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan,
etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi,
pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi social
dimana pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan :
Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
1. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat,
lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;
2. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit,
dan
3. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya
manusia rumah sakit di rumah sakit.

5
2. Instalasi Farmasi
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah unit pelaksana fungsional yang
menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit,
dipimpin oleh seorang Apoteker dan dibantu oleh beberapa orang Apoteker yang
memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan
merupakan tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas
seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit
yang menunjang pelayanan kesehatan yang diperjelas dalam keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah
Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian
yang tidak terpisahkan dari system pelayanan kesehatan rumah sakit yang
berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk
pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Pelayanan kefarmasian yang diselenggarakan oleh Instalasi Farmasi terdiri atas:


a. Pelayanan paripurna adalah pelayanan yang mencakup perencanaan,
pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/sediaan
farmasi, dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat tinggal
dan rawat jalan, pengendalian mutu, pengendalian distribusi dan
penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit.
b. Pelayanan farmasi klinik yang mencakup pelayanan langsung pada
penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit
secara keseluruhan.

Tugas IFRS antara lain:


a) Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal
b) Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi professional
berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi
c) Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

6
d) Memberi pelayanan bermutu malalui analisa, dan evaluasi untuk
meningkatkan mutu pelayanan farmasi
e) Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku
f) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi
g) Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi
h) Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium rumah sakit

Fungsi IFRS antara lain:


a. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
1) Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit
yang merupakan proses kegiatan sejak meninjau masalah kesehatan
yang terjadi d rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan
dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat
essensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar
obat.
2) Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal yang
merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga
perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk
menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang
dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah
ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode
konsumsi dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang
tersedia.
3) Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan yang
telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku.
4) Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di rumah sakit yang merupakan kegiatan
membuat, mengubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi
steril dan non steril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan
di rumah sakit.

7
5) Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikas dan ketentuan
yang berlaku
6) Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spsesifikasi dan
persyaratan kefarmasian
7) Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah
sakit
b. Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat
Kesehatan
1) Mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien yang meliputi kajian
persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan
klinis.
2) Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
dan alat kesehatan
3) Mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat dan
alat kesehatan
4) Memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat
kesehatan
5) Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga
pasien
6) Memberi konseling kepada pasien atau keluarga pasien
7) Melakukan pencampuran obat suntik
8) Melakukan penyiapan nutrisi parenteral
9) Melakukan penanganan obat kanker
10) Melakukan penentuan kadar obat dalam darah
11) Melakukan pencatatan setiap kegiatan
12) Melaporkan setiap kegiatan
3. Obat
Dalam Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009,dijelaskan bahwa
obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki system fisiologi atau keadaan patologi

8
dalam rangka penetapan diagnose, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.
Obat dapat dibagi menjadi 4 (empat) golongan yaitu:
a. Obat Bebas
b. Obat Bebas Terbatas (Daftar W: Warschuwing)
c. Obat Keras (Daftar G: Gevarlijk : berbahaya)
d. Obat Psikotropika dan Narkotika (Daftar O)
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan untuk
menjamin ketersediaan obat yang lebih merata dan terjangkau oleh masyarakat,
pemerintah telah menyusun Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN). DOEN
merupakan daftar obat yang menggunakan obat-obat generik, sehingga
ketersediaan obat generic di pasar dalam jumlah dan jenis yang cukup, dan
merupakan suatu daftar yang berisikan obat terpilih yang paling dibutuhkan dan
diupayakan tersedia di unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan
tingkatnya
Manajemen ketersediaan obat merupakan komponen yang penting dalam
pengobatan paliatif, simptomatik, preventif dan kuratif terhadap penyakit dan
berbagai kondisi. Manajemen obat mencakup system dan proses yang digunakan
rumah sakit dalam memberikan farmakoterapi kepada pasien, dan merupakan
serangkaian kegiatan kompleks yang merupakan suatu siklus yang paling terkait
dan biasanya merupakan upaya multidisiplin dan terkoordinir dari para staf rumah
sakit, menerapkaan prinsip rancang proses yang efektif, implementasi dan
peningkatan terhadap seleksi (selection), pengadaan (procurement), penyimpanan
(storage), distribusi (distribution), dan penggunaan obat (use)
Keempat kegiatan pengelolaan obat tersebut didukung oleh system
manajemen (management support) penunjang pengelolaan yang terdiri dari:
1) Pengelolaan Organisasi
2) Pengelolaan keuangan untuk menjamin pembiayaan dan kesinambungan
3) Pengelolaan informasi
4) Pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia

9
Pelaksanaan keempat kegiatan dan keempat elemen system pendukung
pengelolaan tersebut di atas didasarkan pada kebijakan (policy) dan atau peraturan
perundangan (legal framework) yang mantap serta didukung oleh kepedulian
masyarakat .
Secara khusus pengelolaan obat harus dapat menjamin:
1) Tersedianya rencana kebutuhan obat dengan jenis dan jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan pelayanan kefarmasian
2) Terlaksananya pengadaan obat yang efektif dan efisien
3) Terjaminnya penyimpanan obat dengan mutu yang baik
4) Terjaminnya penditribusian/pelayanan obat yang efektif
5) Terpenuhinya kebutuhan obat untuk mendukung pelayanan kefarmasian sesuai
jenis, jumlah dan waktu yang dibutuhkan
6) Penggunaan obat secara rasional
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pengelolaan obat mempunyai
empat kegiatan yaitu:
1) Perumusan kebutuhan/perencanaan
Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyusun
daftar kebutuhan obat yang berkaitan dengan suatu pedoman atas dasar konsep
kegiatan yang sistematis dengan urutan yang logis dalam mencapai sasaran atau
tujuan yang telah ditetapkan. Proses perencanaan terdiri dari perkiraan kebutuhan,
menetapkan sasaran dan menentukan strategi, tanggung jawab dan sumber yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Perencanaan dilakukan secara optimal
sehingga perbekalan farmasi dapat digunakan secara efektif dan efisien. Beberapa
tujuan perencanaan dalam farmasi adalah untuk menyusun kebutuhan obat yang
tepat dan sesuai kebutuhan untuk mencegah terjadinya kekurangan atau kelebihan
persediaan farmasi serta meningkatkan penggunaan persediaan farmasi secara
efektif dan efisien.

2) Pengadaan
Pengadaan merupakan proses penyediaan obat yang dibutuhkan di Rumah
Sakit dan untuk unit pelayanan kesehatan lainnya yang diperoleh dari pemasok

10
eksternal melaui pembelian dari manufaktur, distributor, atau pedagang besar
farmasi.
3) Distribusi
System distribusi obat di rumah sakit digolongkan berdasarkan ada
tidaknya satelit/depo farmasi dan pemberian obat ke pasien rawat inap.
Berdasarkan ada tidaknya satelit farmasi, system distribusi obat dibagi menjadi
dua sistem, yaitu ;
a) Sistem pelayanan terpusat (sentralisasi)
b) Sistem pelayanan terbagi (desentralisasi)
Berdasarkan distribusi obat bagi pasien rawat inap, digunakan empat sistem,yaitu
a) Sistem distribusi obat resep individual atau permintaan resep
b) Sistem distribusi obat persediaan lengkap di ruangan
c) Sistem distribusi obat kombinasi resep individual dan persediaan lengkap
di ruangan
d) Sistem distribusi obat dosis unit
4) Penggunaan/Pelayanan Obat
Penggunaan atau pelayanan obat adalah bagaimana obat digunakan secara
rasional, peningkatan peresepan yang rasional, jaminan dispensing yang baik
kepada pasien .

4. Formularium Rumah Sakit


Salah satu tugas Tim Farmasi dan Terapi adalah membuat formularium
yang disetujui untuk digunakan di rumah sakit dan juga mengadakan revisi terus
menerus. System pembuatan formularium di rumah sakit merupakan proses yang
berlangsung terus, dimana staf medis yang bertugas melalui Tim Farmasi dan
Terapi melakukan evaluasi dan memilih obat yang paling bermanfaat untuk
perawatan pasien.
Formularium adalah himpunan obat yang diterima atau disetujui oleh Tim
Farmasi dan Terapi (TFT) untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada
setiap batas waktu yang ditentukan. Komposisi formularium terdiri dari judul,

11
daftar nama anggota TFT, daftar isi, informasi mengenai kebijakan dan prosedur
di bidang obat, produk obat yang diterima untuk digunakan, dan lampiran.
Formularium adalah suatu metode yang digunakan staf medik di suatu rumah
sakit untuk mengevaluasi, menilai dan memilih produk obat dianggap paling
berguna dalam perawatan penderita. Obat yang ditetapkan dalam formularium
harus tersedia di IFRS. Formularium merupakan sarana penting dalam
memastikan mutu penggunaan obat.
Tujuan utama dari pembuatan formularium adalah menyediakan sarana
bagi para staf medis di rumah sakit dalam mngetahui berbagai informasi,
mengenai :
a. Informasi tentang obat-obatan yang telah disetujui penggunaannya oleh Tim
Farmasi dan Terapi.
b. Informasi pengobatan dasar dari setiap obat yang disetujui.
c. Informasi tentang kebijakan dan prosedur rumah sakit yang mengatur
penggunaan obat-obatan.
d. Informasi khusus seperti dosis obat dan sebagainya.
Kegunaan formularium di rumah sakit :
a. Membantu meyakinkan mutu dan ketetapan penggunaan obat dalam rumah
sakit
b. Sebagai bahan edukasi bagi staf medik tentang terapi obat yang benar
c. Memberi ratio manfaat yang tinggi dengan biaya yang minimal

5. Metode Konsumsi
Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data
konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat yang
dibutuhkan berdasarkan metode konsumsi perlu diperhatikan hal hal sebagai
berikut :
a. Pengumpulan dan pengolahan data.
b. Analisa data untuk informasi dan evaluasi.
c. Perhitungan perkiraan kebutuhan obat.
d. Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana.

12
Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang mendekati ketepatan, perlu
dilakukan analisa trend pemakaian obat 3 (tiga) tahun sebelumnya atau lebih.
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan dengan metode konsumsi:
a. Daftar obat.
b. Stok awal.
c. Penerimaan.
d. Pengeluaran.
e. Sisa stok.
f. Obat hilang/rusak, kadaluarsa.
g. Kekosongan obat.
h. Pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun.
i. Waktu tunggu.
j. Stok pengaman.
k. Perkembangan pola kunjungan.

Rumus :

A = ( B+C+D) - E

A = Rencana pengadaan
B = Pemakaian rata-rata x 12 bulan
C = Stok pengaman 10 % – 20 %
D = Waktu tunggu 3 – 6 bulan
E = Sisa stok

6. Analisis ABC
Analisa ABC (pareto) adalah pengklasifikasikan obat berdasarkan jumlah
penyerapan dana. Analisis ABC dapat diterapkan dengan menggunakan data
konsumsi obat selama satu tahun atau kurang. Metode ini dalam proses pengadaan
digunakan untuk memastikan bahwa pengadaan sesuai dengan prioritas kesehatan
masyarakat dan menaksir frekuensi pemesanan yang mempengaruhi keseluruhan

13
persediaan. Analisis ABC dibedakan menjadi dua macam, yaitu analisis nilai
pakai dan analisis nilai investasi. Analisis nilai pakai adalah analisis untuk
mengelompokan obat berdasarkan jumlah pemakaian dari setiap item obat.
Analisis nilai investasi adalah analisis untuk mengelompokan obat berdasarkan
nilai investasi dari setiap item obat.

a. Analisis ABC Pemakaian


Langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut :
1) Mengumpulkan daftar jenis obat dalam satu periode.
2) Membuat daftar pemakaian dari masing-masing jenis obat.
3) Jumlah pemakaian masing-masing jenis obat diurutkan berdasarkan
jumlah pemakaian terbanyak ke jumlah pemakaian yang terkecil.
4) Menghitung persentase untuk masing-masing dan persentase
kumulatifnya.
5) Mengelompokkan obat menjadi 3 kelompok berdasarkan persentase 70-
20- 10, yaitu :
a) 70 % masuk kelompok A
b) 20 % masuk kelompok B
c) l0 % masuk kelompok C

b. Anaisis ABC Investasi


Langkah-langkah yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
1) Mengumpulkan seluruh daftar jenis obat selama satu periode.
2) Mencatat harga pembelian masing-masing jenis untuk periode tersebut.
3) Menghitung biaya pemakaian setiap jenis dengan cara mengkalikan antara
jumlah pemakaian dengan harga satuan.
4) Menyusun nilai investasi dari yang terbesar hingga yang terkecil.
5) Menghitung persentase dan kumulatifnya.
6) Mengelompokkan obat menjadi 3 kelompok dengan persentase 70 20-10

14
7. Reorder Point (ROP)
Reorder Point (ROP) merupakan waktu pemesanan kembali obat yang
akan dibutuhkan. Reorder Point masing masing item obat penting diketahui
supaya ketersediaan obat terjamin, sehingga pemesanan obat dilakukan pada saat
yang tepat yaitu saat stok obat tidak berlebih dan tidak kosong. Perhitungan
Reorder Point ini ditentukan oleh lamanya lead time, pemakaian rata-rata obat
dan safety stock.
Perhitungan Reorder Point mempunyai arti penting dalam pengendalian
persediaan. Pengendalian persediaan diharapkan akan mencegah terjadinya
kekosongan stok ataupun kelebihan stok obat walaupun terjadi kenaikan
pemakaian ataupun keterlambatan kedatangan obat dari distributor atau keduanya.
Jay Heizer dan Barry Render pemesanan kembali adalah Waktu antara
pemesanan dan penerimaan dari suatu objek, disebut waktu tenggang atau waktu
pengiriman dapat sesingkat hitungan jam atau dapat selama hitungan bulan. Dan
keputusan ketika ingin memesan biasa diartikan sebagai pemesanan kembali.
Menurut Freddy Rangkuti ROP terjadi apabila jumlah persediaan yang
terdapat di dalam stok berkurang terus. Dengan demikian kita harus menentukan
berapa banyak batas minimal tingkat kekurangan persediaan. Jumlah yang
diharapkan tersebut dihitung selama masa tenggang. Mungkin dapat juga
ditambahkan dengan metode safety stock yang biasanya mengacu kepada
probabilitas atau kemungkinan terjadinya kekurangan stok

probabilitas atau kemungkinan terjadinya kekurangan stok selama masa


tenggang. Kegunaan utama dari metode ROP ini adalah :
a. Untuk tetap dapat memenuhi permintaan pasar selama dalam waktu tenggang
pemesanan.
b. Metode ROP ini implementasinya memerlukan data mengenai rata-rata
pemakaian barang per harian dan ukuran pengamanan stok untuk memenuhi
permintaan selama masa tenggang.

15
c. Peran ROP ini dalam pengendalian persediaan barang cukup vital karena
dengan adanya ROP ini maka selama waktu tenggang pemesanan barang,
permintaan pasar akan barang dapat tetap terpenuhi.

Reorder Point menyatakan tingkat persediaan di mana pemesanan harus


dilakukan kembali. Reorder Point ini merupakan fungsi dari permintaan selama
lead time pada asumsi permintaan tidak konstan tetapi dapat dispesifikasi melalui
distribusi probabilitas maka dapat digunakan model probabilitas. Permintaan yang
tidak pasti memperbesar kemungkinan terjadinya kehabisan stok. Salah satu
metode untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kehabisan stok adalah dengan
menahan unit tambahan di persediaan, hal ini meliputi penambahan jumlah unit
stock pengaman sebagai penyangga titik pemesanan ulang.

Berikut ini adalah gambaran ROP :

Gambar 2.1 Reorder Point dan Lead Time tanpa Safety Stock

Rumus Pemesanan Kembali (ROP) menurut Rangkuti (2007) adalah :

Reorder Point = (LT x AU) + SS

16
Keterangan :
LT = Lead Time
AU = Average
USAGE = Pemakaian rata-rata
SS = Safety Stock

8. Profil RSUD Karawang


RSUD karawang merupakan rumah sakit milik Pemerintah Daerah Tingkat
II Kabupaten Karawang yang didirikan pada tanggal 29 Mei 1952, yang digunakan
untuk merawat dan mengobati penderita cacar (barak cacar). Pada tahun 1954
rumah sakit ini menjadi rumah sakit umum yang dikepalai oleh seorang dokter
umum yang bernama dr. taruno.
Dalam mewujudkan Visi untuk mempunyai rumah sakit dengan sarana dan
prasarana memadai, Pada tahun 2001 Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang
membangun rumah sakit baru yang berlokasi di Desa Sukaharja Kecamatan
Telukjambe Timur Kabupaten Karawang sekitar 4 km dari lokasi lama.
Pasien di RSUD Karawang dari waktu ke waktu semakin bertambah dan
sekitar 90% adalah pasien BPJS. Meningkatnya pasien di RSUD Karawang tidak
lepas dari pelayanan dan fasilitas yang dimiliki serta kondisi ini didorong oleh
status RSUD Karawang yang akan menjadi rumah sakit umum tipe A regional
untuk daerah Karawang, Purwakarta dan Subang.

17
9. Kerangka/Landasan Teori

DOKUMEN PERMIINTAAN
OBAT

DI ANALISA DENGAN MENENTUKAN ROP


ANALISA ABC

NILAI PERSEDIAAN OBAT


YANG OPTIMAL

Gambar 2.2 Kerangka/Landasan Teori

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN VARIABEL

A. Kerangka Konsep
Gambaran umum pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit pemerintah
di Indonesia pada umumnya masih banyak mengalami kekurangan. Diantara
kekurangan yang sangat mencolok antara lain:
Keterbatasan sumber daya manusia baik dari aspek jumlah maupun mutu
 terutama di sebagian besar rumah sakit di Kabupaten/Kota.
 Keterbatasan sumber pendanaan, dimana sebagian kecil saja kebutuhan
anggaran obat yang dapat dipenuhi oleh pemerintah daerah.

18
 Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan obat, dimana hal ini
berpengaruh terhadap mutu obat yang sudah diadakan.

Dengan melakukan pengelompokan jenis obat diharapkan pengendalian


persediaan dapat dilakukan dengan lebih tepat dan metode pengendaliannya dapat
dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan jumlah kebutuhan, sifat
penggunaan dan sifat masing-masing obat. Dalam pelayanan kesehatan suatu obat
mempunyai nilai kritis yaitu tidak hanya ditentukan oleh besarnya nilai investasi
dan jumlah pemakaian tetapi ada beberapa obat yang tidak boleh ada kekosongan
karena hal ini dapat mengganggu pelayanan kepada pasien.

19
Dibawah ini adalah gambar kerangka konsep dalam perencanaan obat :

DAFTAR PERMINTAAN
OBAT

ANALISIS ABC : REORDER POINT


(ROP) :
FORMULARIUM RS 1. Nama Obat
2. Kelas Obat 1. Waktu pesan obat
3. Biaya Obat 2. Jumlah Obat

INDEPENDENT DEPENDENT

NILAI PERSEDIAAN OBAT


YANG OPTIMAL

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

20
B. Definisi Operasional Variabel
Tabel 2..1
Definisi Operasional Variabel
No Variabel Definisi Cara Ukur Skala Ukur
1. Permintaan Obat Item-item obat kosong yang Dengan melihat Nominal
diusulkan oleh gudang farmasi item obat pada
untuk dipesankan ke daftar permintaan
PBF,melalui panitia pengadaan
2. Formualrium Daftar obat yang disepakati staf Dengan melihat Nominal
medis, disusun oleh Tim pada daftar obat
Farmasi dan Terapi (TFT) yang formularium RS
ditetapkan oleh pimpinan
Rumah Sakit
3. Analisis ABC Pengklasifikasian obat berdasarkan jumlah penyerapan dana. Analisis
ABC dapat diterapkan dengan menggunakan data konsumsi obat selama
satu tahun atau kurang
a. Nama Obat Nama obat yang akan dipesan Melihat di daftar Nominal
RAB
b. Kelas Obat Jenis klasifikasi obat Melihat hasil Ordinal
berdasarkan biaya analisis ABC :
1) Kelas A
2) Kelas B
3) Kelas C
c. Biaya Obat Biaya yang dibutuhkan untuk Melihat hasil Nominal
membeli obat analisis ABC
3. ROP waktu pemesanan kembali obat yang akan dibutuhkan
Waktu Pesan Waktu seharusnya terjadi Melihat hasil Nominal
pemesanan perhitungan ROP
Jumlah Obat Jumlah item obat yang harus Melihat hasil Nominal
dipesan perhitungan ROP

21
22