Anda di halaman 1dari 60

Status Ujian Psikiatrik

Ke p a n i t e r a a n K l i n i k
I l mu Ke d o k t e r a n J i w a d a n Pe r i l a k u
F a k u l t a s Ke d o k t e r a n U n i k a A t m a J ay a
2 5 N ove m b e r 2 0 1 9 - 4 J a n u a r i 2 0 2 0
Penguji : d r. D h a r m a d y A g u s , S p . K J
Disusun oleh : Agatha Astri Nurastuti
(2018-0601-0046)
IDENTITAS
PASIEN
Nama : An. Y
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 tahun
Alamat : Jembatan Dua
Status Perkawinan : Belum Menikah
Suku : Tionghoa
Agama : Budha
Pendidikan terakhir : SD (Sekolah berkebutuhan khusus)
Pekerjaan : Tidak bekerja
Tanggal pemeriksaan: 19 Desember 2019, Pukul 10.00
RIWAYAT
PSIKIAT RIK
RIWAYAT
PSIKIATRIK
• Alloanamnesis dengan ayah pasien dilakukan pada 19 Desember 2019,
Pukul 10.00
• Tempat : Poliklinik Psikiatri RS Atma Jaya

Identitas Ayah Pasien


Nama : Tn. D
Umur : 46 tahun
Tingkat pendidikan : Tamat kuliah, S1
KELUHAN UTAMA
& TAMBAHAN
• Keluhan Utama
Pasien sering terbangun tengah malam dan sulit memulai tidur kembali sejak 1
minggu SMRS.
• Keluhan Tambahan
• Kesterlambatan berbicara
• Sering melakukan tepuk tangan tanpa maksud yang jelas
• Menyendiri dan tidak bergabung dengan teman-temannya
RIWAYAT
GANGGUAN
SEKARANG
Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien dan ayah pasien datang ke RS Atma Jaya, ayah pasien mengeluhkan
bahwa pasien sering terbangun tengah malam sejak 1 minggu SMRS.
Dalam 1 minggu dapat 5x mengalami hal tersebut. Keluhan bangun
tengah malam ini dirasakan apabila pasien ingin buang air kecil. Setelah
buang air kecil, pasien sulit untuk memulai tidur kembali. Pasien
membutuhkan waktu 1-2 jam untuk memulai tidur. Dalam waktu 1-2
jam tersebut pasien mengoceh dan bertepuk tangan berulang-ulang.
Setelah 1-2 jam pasien dapat tidur nyenyak. Keluarga pasien mengaku,
aktivitas pasien pada siang hari tidak terganggu, namun pasien menjadi
lebih sensitif apabila mendengar suara AC.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEKARANG
• Pasien mengalami keterlambatan bicara. Pasien hanya berbicara satu kata
saja, seperti kata pesawat, mobil, mama, dan papa. Pasien juga sering
mengulangi perkataan orang lain, seperti kata makan, kamu dan lain-lain.
Hal ini membuat pasien sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, tetapi
jika pasien diberi perintah dengan nada dan intonasi yang tegas/keras,
pasien dapat melakukan perintah tersebut, meskipun setelah kurang lebih
30 detik kemudian, pasien akan kembali berulah.
• Pasien hanya menyendiri dan tidak bergabung dengan teman-temannya.
Saat menyendiri pasien bermain balok dan menyusunnya sesuai urutan
warna. Bermain balok tersebut dilakukan berulang-ulang. Selain bermain
balok, pasien juga senang memperhatikan kipas angin yang berputar
hingga 1-2 jam. Keluhan lain juga dirasakan keluarga pasien yaitu sering
melakukan tepuk tangan meski tidak dalam situasi yang tepat.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEKARANG
• Sehari-hari pasien melakukan rutinitas yang terjadwal, mulai dari pagi hari
ke sekolah, siang hari melakukan aktivitas seperti mewarnai gambar dan
pada malam hari tidur pukul 9 malam. Kegiatan pasien seperti makan,
minum, mandi, BAB dan BAK masih membutuhkan bimbingan dan bantuan
dari keluarga pasien. Seperti saat BAB sendiri, apabila mengalami kesulitan
untuk membersihkan, pasien berteriak satu kata atau bergumam dengan
kencang untuk memberitahu salah satu anggota keluarganya. Pasien juga
sering melakukan kegiatan menyalin tulisan dan mahir dalam berenang,
tetapi tidak bisa berhitung.
• Keluhan lain seperti adanya mencederai diri sendiri dan melukai orang lain
disangkal. Gangguan dalam pengaturan BAB dan BAK, gangguan motorik
dan gangguan koordinasi juga disangkal.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEBELUMNYA
Riwayat Gangguan Psikiatrik
• Tahun 2002 (usia 1 tahun) pasien mengalami keterlambatan dalam
perkembangan berbicara. Pasien tidak berceloteh seperti anak seusianya. Pasien
hanya diam dan tidak merespon orang lain saat diajak bercanda. Keluarga pasien
mengatakan hal itu wajar. Oleh karena itu, keluarga pasien saat itu tidak
melakukan tindakan apapun dan tidak dibawa ke rumah sakit.
• Tahun 2003-2004 (usia 2-3 tahun) pasien hilang kontak mata dengan teman
sebayanya dan keluarga, ketika dipanggil namanya tidak merespon. Saat dipanggil
namanya pasien tetap asik melakukan kegiatan lain dan tidak mendengar suara
panggilan tersebut. Pada saat itu pasien suka bermain sendiri tanpa ada
keinginan untuk bergabung dengan teman sebayanya. Permainannya adalah
menyusun balok dengan urutan warna dan hal itu dilakukan berulang kali.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEBELUMNYA
Pasien juga mengalami keterlambatan bicara dibanding teman-teman
usianya saat itu. Pasien belum dapat berbicara seperti menyebut 1 kata (ayah
maupun ibu, dll) seperti teman sebayanya. Pasien hanya bergumam seperti
“Mmm..” Pasien sering melakukan kegiatan berputar-putar menyusuri
rumah. Apabila dihentikan pasien akan marah-marah dan membanting
barang-barang disekitarnya. Saat itu keluarga pasien membawa ke dokter
anak. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien di diagnosa autism. Pada
saat itu pasien tidak diberikan pengobatan farmakoterapi, pasien disarankan
untuk datang ke dokter psikiatri. Namun keluarga menolak karena merasa
tidak membutuhkan pengobatan ke psikiatri.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEBELUMNYA
• Tahun 2005-2009 (usia 4-8 tahun) keadaan pasien tidak ada perkembangan
sama sekali. Pasien sama sekali tidak dapat berbicara dengan orang lain.
Gejala sebelumnya masih dialami. Gejala tantrum semakin parah karena
pasien tidak dapat dipahami keinginannya. Tantrum semakin parah apabila
pasien mendengar suara televisi. Perilaku pasien membenturkan kepala ke
dinding berulang-ulang ketika tantrum. Pasien akhirnya dibawa ke dokter
psikiatri dan di rawat jalan dengan minum obat rutin sehingga pasien
sudah lebih tenang. Pasien juga diberikan terapi wicara selama 5 tahun.
Selain itu, pasien juga bersekolah di TK berkebutuhan khusus.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEBELUMNYA
• Tahun 2014 (usia 14 tahun) pasien masih mengalami kesulitan bicara (hanya
berceloteh), namun untuk tantrum, perilaku berulang dan membenturkan kepala
tidak ada. Pasien mengalami sulit tidur dan terbangun pada dini hari selama 2
minggu. Pengobatan diberikan dan dilakukan terapi wicara dan okupasi. Terapi
wicara dan okupasi dilakukan hingga saat ini. Pasien masih melanjutkan sekolah
hingga SD berkebutuhan khusus.
• Tahun 2019 (usia 18 tahun) pasien masih mengalami kesulitan bicara (bicara 1
kata saja), sering melakukan tepuk tangan tanpa maksud yang jelas, dan
menyendiri dan tidak bergabung dengan teman-temannya. Selain itu, pasien
bangun tengah malam dan sulit memulai tidur, pasien mengoceh sekitar 1-2 jam
sebelum mulai tidur kembali. Terapi farmakologi, terapi wicara dan terapi okupasi
masih dilakukan, selain itu juga menjalani sekolah berkebutuhan khusus hingga
sekarang.
RIWAYAT
GANGGUAN
SEBELUMNYA
• Riwayat Gangguan Medik
• Kejang demam saat usia 5 tahun (tahun 2006), demam terjadi akibat batuk dan
pilek dan membaik dengan pengobatan.
• Pada usia 14 tahun (tahun 2015) pasien mengalami kejang tonik-klonik, diberikan
pengobatan anti kejang namun ayah pasien lupa nama obatnya, pasien tidak
lanjut minum obat anti kejang dari anjuran dokter.
• Hingga pada Februari 2019 pasien mengalami kejang tonik-klonik kembali dan
dirawat inap selama 1 minggu. Pasien diberikan pengobatan berupa Fenitoin
3x100 mg dan Diazepam 10 mg IV apabila kejang. Saat ini pasien tidak
mengkonsumsi obat anti kejang.
• Riwayat Penggunaan Zat Adiktif : -
RIWAYAT HIDUP

1. Riwayat Prenatal dan Perinatal


Anak tunggal lahir tidak cukup bulan (36 minggu), dilahirkan SC, berat
badan lahir : 2400 gram, terdapat penyulit selama masa kehamilan yaitu ketuban
pecah dini. Penyulit saat melahirkan yaitu terdapat lilitan tali pusat.
2. Riwayat Masa Kanak Awal, Riwayat Masa Kanak Pertengahan, Riwayat Masa
Remaja (0-18 tahun)
a. Riwayat Pendidikan
TK hingga SD pada sekolah berkebutuhan khusus. Pasien memiliki masalah
belajar seperti tidak dapat membaca, mampu menulis dengan menyalin tulisan dan
membutuhkan bimbingan khusus. Setiap hari pasien diberikan bimbingan khusus
dalam latihan berbicara dan berperilaku.
RIWAYAT HIDUP

b. Hubungan dengan Teman Sebaya


Pasien tidak berinteraksi baik dengan teman sebayanya. Pasien cenderung
menyendiri dan sulit mengungkapkan / berkomunikasi dengan teman-temannya,
pasien juga asik sendiri dengan aktivitasnya.
c. Hubungan dengan Keluarga
Pasien tidak berinteraksi baik dengan keluarganya. Pasien cenderung
menyendiri dan asik sendiri dengan aktivitasnya. Selain itu, pasien juga suka iseng
dengan keluarga pasien seperti : menarik-narik rambut ayahnya dan memegang-
megang kepala keluarganya.
d. Persepsi Tentang Diri Sendiri
Tidak dapat dinilai.
RIWAYAT HIDUP

e. Hobi
Hobi pasien adalah berenang. Pasien berenang seminggu 3x rutin dan
pasien sangat mahir saat berenang.
f. Riwayat Psikoseksual
Tidak ada trauma seksual selama masa ini.
g. Riwayat Agama / Kehidupan Beragama
Agama Budha, pasien tidak dapat beribadah baik.
h. Aktivitas Sosial : Tidak ada
i. Riwayat Pelanggaran Hukum : Tidak ada
j. Riwayat Militer :Tidak ada
RIWAYAT HIDUP

Situasi Kehidupan Sekarang


1. Sumber Penghasilan : Bergantung pada ayah
2. Key person : Ayah
3. Care giver : Kakek, nenek dan ayah
Ayah pasien berperan sebagai care giver, key person, serta sumber
penghasilan pasien. Saat ini pasien tidak dapat berinteraksi baik dengan
keluarga. Pasien tidak dapat berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang
dikehendaki.
RIWAYAT HIDUP

Riwayat Keluarga
• Pasien merupakan anak tunggal.
Pasien tinggal bersama ayah, kakek
dan nenek dari ayahnya. Ayah
pasien sudah bercerai sejak tahun
2009. Perceraian karena masalah
selisih paham dan masalah
perawatan anak yang sulit. Kakak
dari ayah pasien juga bercerai,
masalah perceraian tidak diketahui.
Tidak terdapat riwayat gangguan
mental dalam keluarga.
RIWAYAT HIDUP

Mimpi dan Fantasi


a. Mimpi : Tidak dapat dinilai.
b. Fantasi : Tidak dapat dinilai.
STATUS MENTAL

VI. STATUS MENTAL (Pemeriksaan 2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor :


Tanggal 19 Desember 2019)
Pasien tampak hiperaktif (tidak dapat
A. Deskripsi Umum duduk diam dalam waktu lama) dan
1. Penampilan perilaku repetitif seperti tepuk tangan
a. Laki-laki tidak sesuai usia (tampak berulang
lebih muda dan kekanak-kanakan)
3. Sikap terhadap Pemeriksa :
b. Berpakaian santai dengan
menggunakan kaos warna putih dan Tidak kooperatif
celana selutut warna hitam,
berkacamata dan menggunakan
sandal jepit.
c. Higienitas dan perawatan diri baik.
STATUS MENTAL

B. Pembicaraan D. Gangguan Persepsi


Tidak spontan, tidak jelas, Halusinasi, ilusi, depersonalisasi, dan
tidak dapat menjawab pertanyaan, derealisasi tidak dapat dinilai.
pasien hanya bergumam dan E. Pikiran
berceloteh. 1. Proses Pikir / Bentuk Pikiran
C. Mood dan Afek a. Produktivitas : Tidak dapat dinilai
1. Mood : Tidak dapat dinilai b. Kontinuitas : Tidak dapat dinilai
2. Afek : Terbatas 2. Isi Pikiran
Preokupasi, obsesi, fobia, waham,
3. Keserasian : Tidak serasi dan ide bunuh diri tidak dapat
dinilai.
STATUS MENTAL

F. Sensorium dan Kognisi d. Jangka panjang : Tidak dapat dinilai


4. Konsentrasi dan Perhatian :
1. Kesadaran : Compos Mentis (E4V5M6)
Tidak dapat dinilai
2. Orientasi: 5. Kemampuan Membaca dan Menulis :
a. Waktu : Tidak dapat dinilai Pasien hanya dapat menyalin ulang tulisan,
b. Tempat : Tidak dapat dinilai pasien tidak dapat membaca dan menulis
kalimat sederhana dan lengkap atas
c. Orang : Tidak dapat dinilai
instruksi verbal.
3. Ingatan: 6. Kemampuan Visuospasial :
a. Segera : Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
b. Jangka pendek : Tidak dapat dinilai 7. Pikiran Abstrak: Tidak dapat dinilai
8. Intelegensi dan Daya Informasi :
c. Jangka menengah : Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai
STATUS MENTAL

G. Pengendalian Impuls
2. Tilikan : Tidak dapat dinilai
Terganggu (saat menjalani pemeriksaan
I. TARAF DAPAT DIPERCAYA
status mental, pasien tampak
menggerakkan tangannya dengan Tidak dapat dinilai
memainkan ujung jari di hidung tanpa
dapat mengontrolnya )
H. Daya Nilai dan Tilikan
1. Daya Nilai
a. Daya nilai sosial : Tidak dapat dinilai
b. Uji daya nilai : Tidak dapat dinilai
c. Daya nilai realita : Tidak dapat dinilai
GRAFIK PERJALANAN
PENYAKIT
PERJALANAN

Waktu 2002 2003-2004 2005-2009


PENYAKIT 2014 2019
Onset Usia 1 tahun Usia 2-3 tahun Usia 8 tahun Usia 11 tahun Usia 18 tahun

(± 17 tahun sebelum datang (± 15-16 tahun sebelum datang (± 10 tahun sebelum datang ke (± 7 tahun sebelum datang ke poliklinik) (± 1 minggu sebelum datang ke poliklinik)
ke poliklinik) ke poliklinik) poliklinik)

Stressor -Faktor genetik -Faktor genetik -Faktor genetik -Faktor genetik -Faktor genetik
-Faktor masa kehamilan dan -Faktor masa kehamilan dan -Faktor masa kehamilan dan -Faktor masa kehamilan dan persalinan : -Faktor masa kehamilan dan persalinan :
persalinan : KPD + lilitan tali persalinan : KPD + lilitan tali persalinan : KPD + lilitan tali KPD + lilitan tali pusat, berat badan tidak KPD + lilitan tali pusat, berat badan tidak
pusat, berat badan tidak pusat, berat badan tidak cukup pusat, berat badan tidak cukup cukup bulan dan BBLR cukup bulan dan BBLR
cukup bulan dan BBLR bulan dan BBLR bulan dan BBLR -Mendengar suara mesin AC
-Berputar-putar menyusuri -Suara televisi
rumah dihentikan  tantrum -Keinginan tidak dapat
dipahami

Manifestasi - Mengalami keterlambatan -Mengalami keterlambatan -Tidak dapat berbicara sama -Masih mengalami kesulitan bicara (hanya -Masih mengalami kesulitan bicara (bicara 1
bicara (tidak berceloteh bicara tidak dapat menyebut 1 sekali dengan orang lain. berceloteh) kata saja)
Klinis seperti anak seusianya) kata seperti anak seusianya) -Gejala sebelumnya masih - Sulit tidur dan terbangun pada dini. -Tepuk tangan berulang tanpa tujuan jelas
-Cenderung diam dan tidak -Hilang kontak mata dengan dialami. -Tantrum, perilaku berulang dan perilaku -Menyendiri dan tidak bergabung dengan
merespon orang lain orang lain -Tantrum semakin parah membenturkan kepala tidak ada. teman sebayanya
-Tidak merespon ketika -Membenturkan kepala -Bangun tengah malam dan sulit memulai
dipanggil berulang-ulang tidur
-Suka main sendiri dan tidak ada
keinginan untuk bergabung
dengan teman sebayanya
-Permainan susun balok sesuai
warna dan berulang
-Berputar-putar menyusuri
rumah, marah dan banting
barang apabila hal tersebut
dihentikan.
PERJALANAN
PENYAKIT
NAPZA (-) (-) (-) (-) (-)

Riwayat (-) (-) -Obat racikan malam : -Obat racikan malam : -Obat racikan malam : Risperidone 1 mg +
Risperidone 0,5 mg + Asam Risperidone 1 mg + THP 1 mg + Depakote THP 2 mg + Depakote 100 mg + Lorazepam
Pengobatan Folat 3 mg + Depakote 100 mg 75 mg + Lorazepam 0,5 mg 2 mg
Obat racikan pagi : Risperidone -Obat racikan pagi : Risperidone 0,75 mg + -Obat racikan pagi : Risperidone 1 mg + THP
0,5 mg + Asam dolat 5 mg + Depakote 75 mg + THP 0,5 mg 1 mg + Folic acid 1 mg
Depakote 75 mg -Terapi wicara -Terapi wicara
-Terapi wicara -Terapi okupasi -Terapi okupasi
-TK berkebutuhan khusus -SD berkebutuhan khusus -Sekolah berkebutuhan khusus

Efek (-) (-) (-) Insomnia Insomnia


Samping

Lama (-) (-) 5 tahun 5 tahun Sampai sekarang


Konsumsi
Obat

Fungsi Interaksi sosial terganggu Interaksi sosial terganggu Interaksi sosial terganggu Interaksi sosial terganggu Interaksi sosial terganggu

Perawatan diri bergantung Perawatan diri bergantung Perawatan diri bergantung Perawatan diri bergantung orang lain Perawatan diri bergantung orang lain
orang lain orang lain orang lain
PEMERIKSAAN
DIAGNOSIS
LEBIH LANJUT
PEMERIKSAAN
FISIK
• Keadaan Umum : Baik.
• Kesadaran : Compos mentis.
• Tekanan darah : 108/71 mmHg.
• Nadi : 90 x/menit, teratur, kuat, penuh
• Pernafasan : 20 x/menit.
• Suhu : 36,6 oC.
• Berat badan : 67 kg
• Tinggi badan : 171 cm
• BMI aktual : 22,94 kg/m2 (status gizi normal)
STATUS
INTERNUS
• Kepala dan wajah: Dalam batas normal
• Rongga Mulut : Dalam batas normal
• Leher : Dalam batas normal
• Thoraks Pulmo : Dalam batas normal
• Thoraks Cor : Dalam batas normal
• Abdomen : Dalam batas normal
• Ekstremitas : Dalam batas normal
STATUS
NEUROLOGIK
• Saraf Kranial I-XII : dalam batas normal
• Tanda rangsang meningeal : tidak ditemukan
• Mata : dalam batas normal
• Motorik : dalam batas normal
• Motorik tangan : normotonus, koordinasi baik
• Motorik kaki : normotonus +/+
• Telapak kaki : +/+
• Tonus : hipotonus
• Refleks Fisiologis : normal
• Refleks Patologis: tidak ditemukan
STATUS
NEUROLOGIK
• Sensibilitas : terhadap rangsang raba nyeri dan raba +/+
• Sistem saraf vegetatif : miksi, defekasi dan sekresi keringat dalam
batas normal
• Fungsi luhur : afasia motorik dan afasia sensorik tidak
dapat dinilai. Tidak dapat dilakukan penilaian
menghitung dan mengingat
• Gangguan khusus : tidak ditemukan
Tes IQ
• Kesimpulan : PEMERIKSAAN
IQ total : 49 (Retardasi mental sedang) P E N U N JA N G

Pemeriksaan EEG (6 Februari 2019)


Telah dilakukan pemeriksaan EEG tanpa premedikasi, pasien tenang, kooperatif.
Irama dasar beramplitudo rendah sampai sedang dengan frekuensi 8-9 Hz,
kontinu, ritmis, simetris di daerah posterior.
Aktivitas Beta beramplitudo rendah dengan frekuensi 18-25 Hz, kontibu, ritmis,
simetris, bifrontal.
Tak tampak perlambatan maupun gelombang tajam selama rekaman.
Stimulasi photic : tidak tampak perubahan bermakna.
Hiperventilasi tidak dilakukan.
Klasifikasi EEG : Normal
Kesan : Gambaran EEG saat ini menunjukkan gambaran otak normal.
PEMERIKSAAN
P E N U N JA N G
Pemeriksaan MRI Temporal Lobe (2 Februari 2015)
Telah dilakukan pemeriksaan MRI lobus temporalis dengan sequance potongan axial T2 dan
sagittal T2 dan T1 dari potongan temporalis lobe tanpa kontras.
Pada daerah Hipocampus : tidak tampak atrofi, deformitas atau signal abnormalitas.
Tidak tampak tanda-tanda adanya signal abnormal intraparenkima otak.
Fissura interhemisfer ditengah.
Tidak tampak signal abnormal pada ganglia basalis, corpus callosum atau thalamus.
Hemisfer Cerebrum dan Cerebellum dengan struktur baik dan ciri yang normal
Sisterna ventrikel lateralis simetris, tak tampak ventrikulomegali patologis
Struktur cortex dan white matter menunjukkan perkembangan dari intensitas yang normal.
Kapiler jaringan otak tidak membesar, struktur di parasellar tampak normal.
Brain stem dan Cerebellum tidak menunjukkan perubahan intensitas yang abnormal.
Cerebellopontine angle dikedua sisi tampak normal.
Sinus paranasal tidak menunjukkan kesuraman. Orbita tampak normal.
Konklusi :
Tidak tampak tanda-tanda lesi patologis intracranial / di region lobus temporalis.
DIAGNOSIS MULTI
AXIAL (1 -4)
Axis I : F84.0 Autisme masa kanak
Axis II : F71. Retardasi mental sedang
Axis III :G40.3 Generalized idiophatic epilepsy and epileptic syndromes
Axis IV :
Masalah interaksi dengan orang lain → Pasien sulit berinteraksi
dengan orang lain (sulit mengungkapkan keinginan, perasaan dan
sulit berkomunikasi) Pasien merupakan anak dari keluarga yang
bercerai.
Axis V : GAF Scale 60-51 → Gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
Diagnosis banding :
Axis I : F84.2 Sindrom Rett
F84.3 Gangguan desintegratif masa kanak lainnya
F84.5 Sindrom Asperger
DAFTAR MASALAH

1. Organobiologik: Pasien memiliki riwayat kejang epilepsi.


2. Psikologik : Autisme masa kanak dan retardasi mental sedang.
3. Sosial/keluarga/budaya :
Pasien sulit berinteraksi dengan orang lain (sulit mengungkapkan
keinginan, perasaan dan sulit berkomunikasi), pasien merupakan
anak dari keluarga yang bercerai.
RENCANA
PENATALAKSANAAN
TERAPI
● Rawat Jalan
● Farmakoterapi :
Risperidone 2 x 0,25 mg pagi dan malam
Trihexyphenidyl 2 x 1 mg pagi dan malam
Melatonin 1 x 0,5 mg malam sebelum tidur
Asam Folat 2 x 400 μg
● Non-farmakoterapi:
Edukasi keluarga
Terapi wicara
Terapi okupasi
Konsultasi dengan neurologi mengenai epilepsi
PROGNOSIS

Quo ad vitam : bonam


Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
FOLLOW UP

• Pemantauan terhadap gejala autism pada pasien.


• Pemantauan terhadap perilaku mencederai diri sendiri atau orang
lain.
• Pemantauan terhadap efek samping pengobatan.
• Pemantauan terhadap kemampuan pasien dalam interaksi sosial,
komunikasi dan aktivitas sehari-hari.
IKHTISAR
PENEMUAN
BERMAKNA
ANAMNESIS
An. Y, 18 tahun, mengalami terbangun tengah malam dan sulit
memulai tidur, dalam 1-2 jam sebelum akan tidur kembali.
pasien mengoceh dan bertepuk tangan berulang-ulang.
Sensitif apabila mendengar suara AC. Sulit bicara, hanya satu
kata saja dan echolalia (+), menyendiri dan tidak bergabung
dengan teman-teman, senang bermain balok dengan urutan
warna, memperhatikan benda bergerak seperti putaran kipas
angin, tepuk tangan berulang.
ANAMNESIS
Rutinitas pasien terjadwal dari pagi hingga malam. Kegiatan
makan, minum, mandi, BAB dan BAK masih membutuhkan
bimbingan dan bantuan dari keluarga pasien. Pasien juga
sering melakukan kegiatan menyalin tulisan dan mahir dalam
berenang, tetapi tidak bisa berhitung. Keluhan lain seperti
adanya melukai diri sendiri dan perilaku melukai orang lain
disangkal. Gangguan dalam pengaturan BAB dan BAK,
gangguan motorik dan gangguan koordinasi juga disangkal.
ANAMNESIS
Riwayat psikiatrik :
• 2002 : keterlambatan perkembangan bicara (tidak berceloteh seperti
anak seusianya), hanya diam dan tidak merespon orang lain saat
diajak bercanda.
• 2003-2004 : hilang kontak mata, tidak merespon ketika dipanggil,
suka main sendiri tanpa ada keinginan untuk bergabung
dengan teman sebayanya, bermain susun balok sesuai
urutan warna, terlambat bicara (tidak dapat menyebut
satu kata, hanya bergumam), dan tantrum
ANAMNESIS
2005-2009 : Tidak ada perkembangan bicara, gejala sebelumnya
masih dialami, tantrum semakin parah, membenturkan
kepala ke dinding.
2014 : Kesulitan berbicara (hanya berceloteh), gejala tantrum,
perilaku berulang dan membenturkan kepala tidak ada,
kesulitan tidur dan terbangun dini hari.
2019 : Kesulitan bicara (bicara 1 kata saja), tepuk tangan
berulang, menyendiri dan tidak bergabung dengan teman-
temannya, bangun tengah malam dan sulit memulai tidur.
ANAMNESIS
• Riwayat Gangguan Medik
• Usia 5 tahun : kejang demam.
• Usia 14 tahun : kejang tonik-klonik
• Usia 18 tahun : kejang tonik-klonik berulang (epilepsi)
• Riwayat Prenatal dan Perinatal : Anak tunggal lahir tidak cukup bulan (36 minggu), berat
badan lahir : 2400 gram, ketuban pecah dini pada masa kehamilan, lilitan tali pusat saat
akan melahirkan.
• Riwayat Masa Kanak Awal, Pertengahan dan Remaja : Bersekolah di sekolah
berkebutuhan khusus, masalah belajar seperti tidak dapat membaca, tidak dapat menulis
sendiri dan membutuhkan bimbingan khusus. Hubungan dengan teman dan keluarga
tidak baik, pasien cenderung menyendiri dan sulit berkomunikasi.
STATUS MENTAL
1. Penampilan: Laki-laki tidak sesuai usia (tampak lebih muda dan kekanak-
kanakan)
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor : Hiperaktif (tidak dapat duduk diam) dan
perilaku repetitif seperti tepuk tangan berulang.
3. Sikap terhadap Pemeriksa: Tidak kooperatif
4.Pembicaraan: Tidak spontan, tidak jelas, tidak dapat menjawab pertanyaan,
pasien hanya bergumam dan berceloteh.
5. Kemampuan Membaca dan Menulis : Pasien hanya dapat menyalin ulang tulisan,
pasien tidak dapat membaca dan menulis kalimat sederhana dan lengkap.
6. Pengendalian impuls : Terganggu (menggerakkan tangannya dengan memainkan
ujung jari di hidung tidak dapat mengontrol)
PEMERIKSAAN
FISIK DAN
PENUNJANG
Pemeriksaan Fisik
Dalam batas normal.
Pemeriksaan Penunjang
Tes IQ : Retardasi mental sedang
EEG kepala dan MRI lobus temporal dalam batas normal.
FORMULASI
DIAGNOST IK
AXIS I
Aksis I
• F00-09 (-)
• F10-19 (-)
• F20-29 (-)
• F30-F39 (-)
• F40-F48 (-)
• F50-F59 (-)
• F60-F69 (-)
• F70-F79 : Pasien mengalami retardasi mental sedang dengan ditemukan nilai IQ 49 dan
kesulitan berbicara tetapi dapat mengerjakan perintah yang diberikan jika perintah
tersebut dengan nada dan intonasi tegas dan keras.
• F80-F89 : Pasien mengalami autisme masa kanak dengan ditemukan gejala yang
mencangkup gangguan pada 3 bidang berikut : interaksi sosial, komunikasi dan perilaku
yang terbatas dan berulang sebelum usia 3 tahun.
AXIS II
Aksis II
F71. Retardasi mental sedang
Pada pasien ditemukan nilai IQ 49 dan kesulitan berbicara tetapi dapat
mengerjakan perintah yang diberikan jika perintah tersebut dengan nada dan
intonasi tegas dan keras. Interaksi antara pasien dengan keluarga merupakan
interaksi sederhana karena keluarga pasien dapat mengerti maksud dari pasien
yang hanya menggunakan satu kata saja dalam kondisi tertentu (misal : pasien BAB
sendiri ketika mengalami kesulitan untuk membersihkan, pasien berteriak satu kata
atau bergumam dengan kencang untuk memberitahu salah satu anggota
keluarganya).
AXIS III,IV,V
Aksis III
G40.3 Generalized idiophatic epilepsy and epileptic syndromes
• Pada pasien ditemukan adanya kejang tonik-klonik yang berulang yang
penyebabnya tidak diketahui dan memiliki hubungan dengan autisme pasien.
Pada pasien juga tidak ditemukan adanya kelainan otak yang struktural. Kejadian
epilepsi terjadi pada masa remaja yang sesuai dengan diagnosis GIE. Namun,
pada pemeriksaan EEG hasilnya normal, hal ini dapat terjadi pada pasien karena
tidak dilakukan hiperventilasi pada saat pemeriksaan EEG dan diperlukan
pemeriksaan EEG selama tidur dan bangun untuk mendapatkan gambaran
abnormal.
AXIS IV,V
Aksis IV
• Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial : Masalah interaksi dengan orang lain
→ Pasien sulit berinteraksi dengan orang lain (sulit mengungkapkan keinginan,
perasaan dan sulit berkomunikasi)
• Masalah dengan “primary support group” (keluarga) : Pasien merupakan anak
dari keluarga yang bercerai.
Aksis V
GAF Scale 60-51 → Gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
• Pada pasien ditemukan gejala-gejala autism yang memberikan disabilitas sedang
dalam kehidupan sehari-hari, disabilitas tersebut dalam bidang interaksi sosial,
komunikasi dan perilaku terbatas dan berulang. Pasien mengalami kesulitan
berbicara, perilaku bertepuk tangan berulang-ulang, dan dalam kegiatan sehari-
hari membutuhkan bimbingan dari keluarga pasien.
DISKUSI
Autisme Masa Kanak Kasus
Definisi Autisme adalah pervasive developmental disorder atau neurodevelopmental syndrome, terjadi sebelum usia 3 Sindrom autism bermanifestasi sejak usia 1-3 tahun.
tahun.
Epidemiologi Autisme terjadi pada 8 kasus setiap 10.000 orang. Perbandingan laki-laki dan perempuan = 4 : 1. Laki-laki.

Gejala F84.0 Autisme masa kanak • Pada pasien dengan gejala yang mencangkup gangguan pada 3
Kriteria diagnostik untuk autisme pada anak menurut PPDGJ III: bidang berikut : interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang
• Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau hendaya perkembangan terbatas dan berulang sebelum usia 3 tahun.
yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam 3 bidang: interaksi sosial, • Gejala pada usia 1 tahun berupa keterlambatan bicara (tidak
komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang. berceloteh), diam dan tidak merespon saat diajak bercanda, pada
• Biasanya tidak jelas ada periode perkembangan yang normal sebelumnya, tetapi bila ada, kelainan usia 2-3 tahun mengalami hilang kontak mata, tidak merespon
perkembangan sudah menjadi jelas sebelum usia 3 tahun, sehingga diagnosis sudah dapat ditegakkan. ketika dipanggil, suka menyendiri tanpa ada keinginan untuk
Tetapi gejala-gejalanya (sindrom) dapat didiagnosis pada semua kelompok umur. bergabung dengan teman lain, bermain susun balok sesuai urutan
• Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik (reciprocal social interaction). Ini warna, terlambat bicara (tidak dapat menyebut satu kata) dan
berbentuk apresiasi yang tidak adekuat terhadap isyarat sosio-emosional, yang tampak sebagai kurangnya tantrum.
respons terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku dalam konteks sosial; • Gejala juga dapat didiagnosa pada semua umur, pada usia 1 hingga
buruk dalam menggunakan isyarat sosial dan integrasi yang lemah dalam perilaku sosial, emosial dan 18 tahun pasien masih mengalami hendaya dalam interaksi sosial,
komunikatif; dan khususnya, kurangnya respon timbal balik sosio-emosional. komunikasi dan perilaku terbatas dan berulang.
• Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk kurangnya penggunaan • Gejala tersebut berupa ketertarikan pada benda bergerak seperti
keterampilan berbahasa yang dimiliki didalam hubungan sosial; hendaya dalam permainan imaginatif dan kipas angina berputar dan kegiatan berulang seperti tepuk tangan
imitasi sosial; keserasian yang buruk dan kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya berulang.
keluwesan dalam bahasa eskpresif dan kreativitas dan fantasi dalam proses pikir yang relatif kurang;
kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan non-verbal orang lain; hendaya dalam
menggunakan variasi irama atau penekanan sebagai modulasi komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh
untuk menekankan atau memberi tanda tambahan dalam komunikasi lisan.
• Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas, berulang dan stereotipik. Ini
berbentuk kecenderungan untuk bersikap kaku dan rutin dalam berbagai aspek kehidupan sehari – hari; ini
biasanya berlaku untuk kegiatan baru yang juga kebiasaan sehari – hari serta pola bermain. Terutama
sekali dalam masa kanak yang dini, dapat terjadi kelekatan yang khas terhadap benda – benda yang aneh,
khususnya benda yang tidak lunak. Anak dapat memaksakan suatu kegiatan rutin dalam ritual yang
sebetulnya tidak perlu; dapat terjadi preokupasi yang stereotipik terhadap suatu minat seperti tanggal,
rute, atau jadwal; sering terdapat stereotipik motorik; sering menunjukkan minat khusus terhadap segi –
segi non-fungsional dari benda – benda (misalnya bau atau rasanya); dan terdapat penolakan dalam
perubahan dari rutinitas atau dalam detail dari lingkungan hidup pribadi (seperti perpindahan mebel atau
hiasan dalam rumah).
• Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autisme, tetapi pada tiga perempat
kasus secara signifikan terdapat retardasi mental.
Diagnosis Diagnosis banding ditentukan dari kategori gangguan perkembangan pervasif karena gejala ditandai dengan
Banding kelainan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik dan dalam komunikasi, serta minat dan aktivitas
terbatas dan berulang.

F84.2 Sindrom Rett Diagnosis banding yang pertama adalah sindrom Rett karena onset
Kriteria diagnostik untuk sindrom Rett menurut PPDGJ III: gangguan terjadi pada usia 7-24 bulan (pasien pada masa 1 tahun
Pada sebagian besar kasus onset gangguan terjadi pada usia 7-24 bulan. Pola perkembangan awal yang sudah mengalami gangguan tersebut). Namun, diagnosis ditolak
tampak normal atau mendekati normal, diikuti dengan kehilangan sebagian atau seluruh keterampilan karena tidak ditemukannya “progressive motor deterioration
tangan dan berbicara yang telah di dapatkan, bersamaan dengan kemunduran/perlambatan pertumbuhan kemunduran pertumbuhan kepala, cara berdiri yang abnormal dan
kepala. Perjalanan gangguan bersifat “progressive motor deterioration” gangguan dalam pengaturan BAB dan BAK.
Gejala khas yang paling menonjol adalah hilangnya kemampuan gerakan tangan yang bertujuan dan
keterampilan motoric halus telah terlatih. Disertai kehilangan perkembangan bahasa ; gerakan seperti
mencuci tangan yang stereotipik , dengan fleksi lengan di depan dada atau dagu; hambatan dalam
mengunyah yang baik, hiperventilasi ; hamper selalu gagal dalam pengaturan BAB dan BAK , menjulur lidah
dan air liur menetes; hilangnya dalam ikatan sosial.
Tampak anak “senyum sosial”, menatap orang dengan “kosong”, tetapi tidak terjadi interaksi sosial mereka
pada awal masa kanak.
Cara berdiri dan berjalan cenderung melebar (broad-based), otot hipotonik, koordinasi gerak tubuh
memburuk (ataksia), atau scoliosis atau kifoskoliosis yang berkembang kemudian.Atrofi spinal dengan
disabilitas motoric pada masa remaja atau dewasa (50% kasus)
Kemudian dapat timbul spastisitas dan rigiditas pada ekstremitas atas dan bawah. Berbeda sekali dengan
autuisme, jarang terjadi perilaku mncederai diri dengan sengaja dan preokupasi yang stereotipik kompleks
dan rutin.
F84.3 Gangguan desintegratif masa kanak lainnya Diagnosis banding berikutnya yaitu gangguan desintegratif masa
Kriteria diagnostik untuk gangguan desintegratif menurut PPDGJ III : kanak lainnya, diagnosis tersebut dapat ditolak karena
Diagnosis ditegakkan berdasarkan suatu perkembangan normal yang jelas sampai usia 2 tahun, yang diikuti perkembangan pada pasien tidak normal sejak dibawah 2 tahun, dan
dengan kehilangan yang nyata, dari keterampilan yang sudah diperoleh sebelumnya; disertai dengan tidak terdapat adanya gangguan pada pengendalianBAB dan BAK dan
kelainan kualitatif dalam fungsi sosial. kemerosotan motorik.
Biasanya terjadi regresi yang berat atau kehilangan kemampuan berbahasa, regresi dalam kemampuan
bermain, keterampilan sosial, dan perilaku adaptif, dan sering dengan hilangnya pengendalian BAB dan BAK,
kadang-kadang disertai dengan kemerosotan pengendalian motorik.
Yang khas, keadaan tersebut bersamaan dengan hilangnya secara menyeluruh perhatian/minat terhadap
lingkungan, adanya mannerism motorik yang stereotipik dan berulang, serta hendaya dalam interaksi sosial
dan komunikasi yang mirip dengan autism.
F84.5 Sindrom Asperger Diagnosis banding berikutnya yaitu sindrom Asperger karena pada
Kriteria diagnostik untuk Sindrom Asperger menurut PPDGJ III : pasien terdapat gejala gangguan interaksi sosial dan perilaku
Diagnosis ditentukan oleh kombinasi antara : berulang (misal : tepuk tangan), tetapi diagnosis sindrom Asperger
Tidak adanya hambatan/keterlambatan umum dalam perkembangan berbahasa atau perkembangan ditolak karena pada orang dengan sindrom Asperger tidak mengalami
kognitif yang secara klinis jelas, seperti pada autism, keterlambatan dalam komunikasi, hilang kontak mata dan kognitif
Adanya defisiensi kualitatif dalam fungsi interaksi sosial yang timbal-balik dan baik. Hal ini berbanding terbalik dengan pasien.
Adanya pola perilaku, perhatian dan aktivitas, yang terbatas, berulang dan stereotipik.
Mungkin terdapat atau tidak masalah dalam komunikasi yang sama seperti yang berkaitan dengan autism
tetapi terdapatnya keterlambatan berbahasa yang jelas akan menyingkirkan diagnosis ini.
Tatalaksana Indikasi rawat jalan pada autism Rawat jalan
Tidak ada perilaku mencederai diri dan atau bunuh diri dan melukai orang lain. Selama rawat jalan, dilakukan pemantauan oleh keluarga, pemantauan gejala-gejala autism,
Obat dapat diberikan saat rawat jalan. kepatuhan minum obat dan efek samping obat. Apabila mengalami gejala seperti tantrum,
Tidak ada komplikasi dari autism atau penyakit penyerta lain. mencederai diri sendiri dan orang lain atau gejala-gejala tambahan lain yang mengganggu maka
diperlukan konsultasi kembali ke poliklinik. Pasien harus kontrol minimal sebulan sekali ke
Farmakologi psikiater.
Pemberian obat untuk gangguan autism pada anak dan remaja dan disetujui oleh U.S FDA adalah Farmakologi : Risperidone 2 x 0,25 mg pagi dan malam
Risperidone dan Aripripazole. Pemilihan obat yang disarankan adalah antipsikotik atipikal risperidone. Risperidone memiliki
Risperidone anak ≥ 5 tahun dan remaja : ≥ 20 kg efek samping yang lebih sedikit dan ringan dibandingkan aripripazole. Pemberian risperidone
Dosis inisial : 0,5 mg/hari PO, sekali atau dibagi dalam dua dosis/12 jam. dapat ditingkatkan menjadi 1 mg/hari setelah 4 hari; dosis dipertahankan selama 14 hari. Bila
Dapat ditingkatkan menjadi 1 mg/hari setelah 4 hari; dosis dipertahankan selama 14 hari. Bila respon respon obat tidak baik, dapat ditingkatkan 0,5mg/hari selama interval > 2 minggu.
obat tidak baik, dapat ditingkatkan 0,5mg/hari selama interval > 2 minggu. Trihexyphenidyl 2 x 1 mg pagi dan malam
Efek samping : lebih sedikit dibandingkan aripripazole seperti (gangguan neurologis umum : insomnia, Pada pasien sudah mengalami efek samping dari penggunaan risperidone berupa insomnia,
agitasi, cemas, sakit kepala, mengantuk, gejala ekstrapiramidal yang ringan dan transien) oleh karena itu pemberian THP untuk menghindari efek ekstrapiramidal yang dapat disebabkan
Trihexyphenidyl dapat diberikan untuk menghindari efek ekstrapiramidal yang dapat disebebkan oleh pemberian risperidone.
pemberian antipsikotik.
Melatonin 1 x 0,5 mg malam sebelum tidur
Pemilihan melatonin untuk menghilangkan gejala terbangun tengah malam dan sulit memulai
Obat lini pertama yang aman bagi anak autism dengan gangguan tidur adalah melatonin. Dimulai tidur pada pasien. Selain itu, melatonin aman untuk gangguan tidur pada anak dengan autis
dengan dosis terendah (0,5mg-1mg) tanpa memandang usia atau berat badan 30 menit sebelum daripada obat anti-insomnia lainnya. Dosis dapat dinaikkan apabila tidak ada peningkatan
tidur. Dosis dapat ditingkatkan jika dosis yang lebih rendah tidak meningkatkan kualitas tidur. kualitas tidur.
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa 6 mg atau kurang membantu. Beberapa ahli Asam Folat 2 x 400 μg
merekomendasikan pemberian melatonin pada dosis yang lebih rendah (0,5 mg) 2-5 jam sebelum Pemilihan asam folat pada pasien untuk menambah kemampuan berkomunikasi, interaksi
tidur untuk mengatur ulang jam internal. sosial, kognitif verbal / nonverbal, bahasa dan ekspresi.

Pada sebuah penelitian diberikan asam folat 2 x 400 μg dalam 3 bulan selama intervensi non- Nonfarmakologi :
farmakologi mampu menambah peningkatan kemampuan bersosialisasi, kognitif verbal / nonverbal, Edukasi Keluarga
bahasa reseptif, ekspresi afektif, dan komunikasi untuk anak-anak autis yang berpartisipasi dalam Memberi penjelasan mengenai penyakit pada pasien.
penelitian tersebut. Asam folat Menjelaskan manfaat, cara pemberian obat dan efek samping obat yang diberikan pada pasien.
Meminta bantuan keluarga pasien untuk memantau kondisi pasien dan kepatuhan minum obat.
Membawa pasien untuk kontrol kembali ke poliklinik.
Nonfarmakologi Meminta untuk melakukan sleep hygiene pada pasien.
Edukasi keluarga Terapi wicara
Terapi wicara Terapi wicara dipilih karena pasien mengalami kesulitan berbicara. Terapi tersebut dilakukan
Terapi okupasi. oleh terapis yang berpengalaman.
Terapi okupasi
Terapi okupasi dipilih untuk meningkatkan kemampuan anak dalam merawat diri (mandi,
berpakaian, menggunakan peralatan mandi/makan/minum dan kebersihan personal, dan lain-
lain) dan kemampuan akademis pasien (menulis, menggunakan gunting, dan lain-lain). Terapi
okupasi dilakukan oleh terapis yang berpengalaman.
Prognosis Autisme akan terjadi seumur hidup. Apabila nilai IQ > 70 dan Pasien ditemukan prognosis yang kurang baik karena pada usia
memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan adaptif yang baik 18 tahun, kemampuan berbahasa masih kurang.
saat usia 5-7 tahun dapat berprognosis baik.
Retardasi Mental Sedang Kasus

Definisi Retardasi mental sedang adalah keterlamb atan intelektual dan kemampuan kognitif dengan Pasien melakukan tes IQ dengan nilai 49.
nilai IQ 35-49.

Epidemiologi Prevalensi retardasi mental dari dari populasi umum sekitar 1-3%. Rasio laki-laki dan Laki-laki.
perempuan yaitu 1,5:1

Gejala Kriteria diagnostik untuk retardasi mental sedang menurut PPDGJ III: Pada pasien ditemukan nilai IQ 49 dan kesulitan berbicara tetapi dapat mengerjakan
 Bila menggunakan tes IQ baku yang tepat maka IQ biasanya berada dalam rentang 35 perintah yang diberikan jika perintah tersebut dengan nada dan intonasi tegas dan
sampai 49. keras. Interaksi antara pasien dengan keluarga merupakan interaksi sederhana
 Umumnya ada profil kesenjangan (discrepancy) dari kemampuan, beberapa dapat karena keluarga pasien dapat mengerti maksud dari pasien yang hanya
mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam keterampilan visuo-spasial dari pada tugas – menggunakan satu kata saja dalam kondisi tertentu (misal : pasien BAB sendiri
tugas yang tergantung pada bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun ketika mengalami kesulitan untuk membersihkan, pasien berteriak satu kata atau
dapat mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana. bergumam dengan kencang untuk memberitahu salah satu anggota keluarganya).
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi: ada yang dapat mengikuti percakapan sederhana, Pada pasien juga ditemukan adanya epilepsi dan riwayat kejang demam sebagai
sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar mereka. suatu etiologi pada retardasi mental sedang. Autisme masa kanak juga terjadi pada
 Suatu etiologi organik dapat di-identifikasi pada kebanyakan penyandang retardasi pasien tersebut.
mental sedang
 Autisme masa kanak atau gangguan perkembangan pervasif lainnya terdapat pada
sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh besar pada gambaran klinis dan tipe
penatalaksanaan yang dibutuhkan.
Epilepsi, disabilitas neurologik dan fisik juga lazim ditemukan, meskipun kebanyakan
penyandang retardasi mental sedang mampu berjalan tanpa gangguan. Kadang-kadang
didapatkan gangguan jiwa lain, tetapi karena tingkat perkembangan bahasanya yang terbatas
sehingga sulit menegakkan diagnosis dan harus tergantung dari informasi yang diperoleh dari
orang lain yang mengenalinya. Setiap gangguan penyerta harus diberi kode diagnosis
tersendiri.
Tatalaksana Farmakologi : Diberikan terapi pengobatan apabila terdapat gejala ADHD. Pasien tidak diberikan pengobatan farmakologi karena tidak memiliki gejala ADHD.
Nonfarmakologi Nonfarmakologi
Edukasi keluarga Edukasi Keluarga
 Melatih kemandirian anak melakukan sesuatu sendiri dengan dorongan mencoba
hal baru.
 Orang tua membantu pasien untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Seperti
kelas seni, dan lain-lain.
 Memantau perkembangan anak

Prognosis Prognosis dari setiap individu berbeda-beda, bergantung pada derajat defisit Pada pasien prognosis cukup baik karena defisit kognitif dalam rentang IQ 49. Dukungan
kognitif dan adaptif, gangguan perkembangan pada masa embrionik, dan dalam keluarga dan lingkungan juga cukup baik untuk menunjang keberhasilan
dukungan keluarga serta lingkungan. penanganan.
Generalized idiophatic epilepsy Kasus

Definisi Generalized idiophatic epilepsy (GIE) adalah sekelompok gangguan epilepsi yang Pada pasien ditemukan adanya epilepsi penyebabnya tidak diketahui dan
diyakini memiliki dasar genetik kuat yang mendasarinya. Pasien dengan subtipe memiliki hubungan dengan autisme pasien. Pada pasien juga tidak
GIE biasanya dinyatakan normal dan tidak memiliki kelainan otak struktural. ditemukan adanya kelainan otak yag structural, hal ini dibuktikan pada
hasil MRI.

Epidemiologi Sebagian besar GIE terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja, tetapi beberapa Epilepsi terjadi pada masa remaja yang sesuai dengan epidemiologi GIE.
memiliki onset dewasa.

Gejala dan Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis berupa kejang tonik-klonik Pada pasien ditemukan adanya kejang tonik-klonik yang berulang. Namun,
dan sentakan mioklonik. pada pemeriksaan EEG hasilnya normal, hal ini dapat terjadi pada pasien
EEG adalah tes paling sensitif dalam diagnosis dan konfirmasi GIE. EEG karena tidak dilakukan hiperventilasi pada saat pemeriksaan EEG dan
menunjukkan pelepasan umum dari spike, polyspike, atau spike / polyspike-wave diperlukan pemeriksaan EEG selama tidur dan bangun untuk mendapatkan
baik secara iktal atau inter-iktal. Pelepasan ini sering dipicu oleh hiperventilasi, gambaran abnormal.
kurang tidur, dan stimulasi fotografis yang terputus-putus. Namun dalam kasus
yang dicurigai dengan EEG terjaga rutin normal, diperlukan EEG selama tidur dan
bangun untuk memperoleh hasilnya.

Tatalaksana - Konsultasi dengan neurologi mengenai epilepsi


Bertujuan untuk penanganan terhadap riwayat epilepsi pasien.
Terima
Kasih