Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN PERHATIAN ORANGTUA

TERHADAP HASIL BELAJAR ANAK

1. Latar belakang masalah

Hasil belajar merupakan tujuan yang akan dicapai dari suatu kegiatan pembelajaran.
Hasil belajar berhubungan dengan adanya kegiatan belajar, karena kegiatan belajar
merupakan suatu proses untuk mendapatkan hasil belajar tersebut, sedangkan hasil belajar
adalah suatu hasil yang didapatkan setelah melalui proses pembelajaran. Secara sederhana
yang dimaksud dengan hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh setelah melalui
proses belajar.

Proses belajar adalah upaya yang dilakukan setiap individu untuk mendapatkan
perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai
positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai materi yang telah dipelajari.

Menurut M. Sobry Sutikno pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan suatu perubahan yang baru sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini perubahan
adalah sesuatu yang dilakukan secara sadar (disengaja) dan bertujuan untuk memperoleh
sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik bukanlah suatu hal yang mudah, ada
banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar salah satunya yaitu kecerdasan. Slameto
(2013: 56) menyatakan bahwa kecerdasan adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis
yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam situasi yang baru dengan
cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif,
mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Setiap anak tentunya memiliki
kecerdasan, hanya saja yang membedakannya adalah tingkat kecerdasan anak yang satu
dengan anak yang lainnya.

Kosasih dan Sumarna (2014: 173) menyatakan bahwa kecerdasan dapat


diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient
(EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Namun yang diteliti dalam penelitian ini hanyalah
Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional menurut Goleman (2015: 45) merupakan kemampuan seperti


kemampuan untuk memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan
dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga
agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan untuk berpikir dan berdoa. Sementara itu
Salovey dan Mayer dalam Uno (2006: 69) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai
kemampuan untuk mengenali, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu
pikiran memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan perasaan secara mendalam
sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.

Kecerdasan emosional adalah hal yang perlu dikembangkan pada diri anak untuk
dapat mengelola atau mengendalikan kehidupan emosionalnya. Kecerdasan emosional
seringkali diabaikan karena kebanyakan orang berfikir bahwa IQ lebih berpengaruh
terhadap hasil belajar anak. Karenanya terdapat banyak anak yang tidak dapat mengatur
atau mengendalikan emosinya. Kecerdasan emosional yang rendah akan berdampak tidak
dapat mengelola perasaannya dengan baik, mudah marah, tidak empati dan tidak dapat
menjaga hubungan yang baik satu sama lain.

Agustian berpendapat bahwa kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada


kecerdasan akal, padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan
kecerdasan hati seperti ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi yang
kini telah menjadi dasar penilaian baru.
Berbagai penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan
emosional cenderung lebih bahagia, lebih percaya diri dan lebih sukses di sekolah.
Kecerdasan emosional dapat membuat anak menjadi siswa yang bersemangat tinggi dalam
belajar, disukai oleh temen-temannya di arena bermain dan juga akan membantunya ketika
sudah masuk dunia kerja dalam mencari penyelesaian masalah yang dihadapinya.

Selain kecerdasan emosional dan IQ faktor lain yang mempengaruhi proses dan
hasil belajar pada anak adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang lebih banyak
mempengaruhi terhadap kegiatan belajar dan hasil belajar anak adalah orangtua.

Orang tua adalah figur ayah dan ibu yang memberi contoh kepada anak. Menurut
Abu ahmadi (2004:43) Peran orang tua merupakan suatu kompleks pengharapan manusia
terhadap caranya individu harus bersikap yang mempunyai tanggung jawab dalam
keluarga.

Perhatian orang tua terhadap kegiatan belajar anak sangat diperlukan dalam
perembangan pribadi anak. Orangtua merupakan guru atau pendidik pertama bagi anak-
anak-anak mereka, karena dari orang tua anak-anak mulai menerima pendidikan dalam
keluarga. Dalam hal ini pendidikan tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja yang
merupakan lembaga formal, tetapi pendidikan juga dapat dilakukan di lingkungan keluarga.
Lingkungan keluarga akan memberikan pengalaman dan pengaruh terhadap anak-anaknya.
Begitu pula perhatian orang tua terhadap anak-anaknya, perhatian orang tua yang diberikan
terhadap pendidikan anak tentunya akan menanamkan keinginan dalam belajar pada diri
anak tersebut. Perhatian yang dilakukan orang tua dapat berupa membimbing, memenuhi
kebutuhan, pengawasan dan memberikan perlindungan.

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli
kepada mereka yang belum memahami. Bimbingan yang diberikan orang tua dapat berupa
melatih kemandirian anak, mengarahkan dalam belajar, mengajarkan norma-norma yang
akan berguna bagi kehidupan di masyarakat serta membantu mengembangkan gagasan
anak sehingga anak menjadi berfikir kritis.
Menurut Santrock (2007:137) atensi (perhatian) adalah berkonsentrasi dan upaya
mental yang terfokus. Atensi memiliki sifat selektif dan dapat teralih (shiftable). Slameto
(2010:105) perhatian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya
dengan pemilihan rangsangan yang datang dari lingkungannya. Walgito (2010:110)
perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang
ditunjukan kepada suatu objek atau sekumpulan objek. Sedangkan menurut Parkin
(Desmita 2011:126) perhatian (atensi) adalah sebuah konsep multi-dimensional yang
digunakan untuk menggambarkan perbedaan ciri-ciri dan cara-cara merespon dalam sistem
kognitif.

Perhatian dari orang tua merupakan salah satu upaya yang memberikan motivasi
terhadap anak untuk menciptakan situasi dan kondisi yang nyaman dan tenang untuk
menarik minat agar dapat belajar dengan baik, sehingga memudahkan anak dalam belajar.

Dengan adanya perhatian orang tua terhadap kegiatan belajar dapat menumbuhkan
semangat pada anak dan membuat anak menjadi lebih terpacu untuk mendapatkan hasil
belajar yang baik agar dapat membanggakan orang tua dan keluarganya.

Sebagaimana yang dijelaskam Ahmadi dan Supriyono, orang tua yang tidak atau
kurang memperhatikan pendidikan, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan
kemajuan belajar anak-anaknya, akan menjadi kesulitan belajarnya. Belajar dengan
mendapatkan dukungan dari orang tua akan berbeda hasilnya dengan hasil belajar tanpa
adanya perhatian orang tua terhadap proses belajar anak, misalnya kebiasaan buruk anak
dalam belajar dirumah, dimana anak tersebut tidak secara teratur melakukan aktivitas
belajar. Minimnya perhatian orang tua dalam mengontrol aktivitas belajar anak ini pada
akhirnya akan berdampak pada buruknya hasil belajar yang akan dicapai dan begitu juga
sebaliknya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional dan


perhatian orang tua terhadap anak sangat berpengaruh terhadap hasil belajar anak, karena
tanpa kecerdasan emosional anak tersebut akan sulit mengendalikan perasaannya misalnya
mudah marah, tidak perduli dengan orang disekitar dan mungkin akan sulit untuk menjalin
hubungan dengan orang lain. Begitupun dengan perhatian orang tua, tanpa adanya
perhatian dari orang tua terhadap kegiatan belajar anak dapat sangat berpengaruh terhadap
hasil belajar anak, hal itu dapat menyebabkan anak tersebut tidak memiliki keinginan untuk
belajar karena tidak memiliki dukungan atau dorongan dari orang tua nya untuk menjadi
seorang anak atau siswa yang berprestasi.

Berdasarkan latar belakang di atas, saya sebagai penulis bermaksud untuk


melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh kecerdasan emosional dan perhatian orang
tua terhadap hasil belajar anak” dengan harapan dapat mengetahui hubungan antara
kecerdasan emosional dan perhatian orang tua terhadap hasil belajar anak.