Anda di halaman 1dari 27

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar

Konsep dasar dalam tinjauan kasus ini berisi mengenai pengertian, proses dan

etiologi dari kehamilan trimester III, persalinan, masa nifas, neonatus, masa antara

(keluarga berencana).

2.1.1 Konsep Dasar Kehamilan Trimester III

1. Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin -intrauterine

mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Masa kehamilan dimulai

dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya kehamilan normal 280 hari (40 minggu atau

9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3

trimester, yaitu trimester pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, trimester

kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9

bulan (Khumaira, 2013).

Kehamilan trimester ketiga adalah usia kehamilan mulai dari 28-40 minggu, pada

trimester ketiga ini adalah saat dimana ibu mempersiapkan diri menjadi ibu dan menerima

anggota keluarga baru yang akan lahir sehingga ibu memiliki dorongan psikologi yang

kuat untuk menjadi orang tua (Prawirohardjo, 2014).

2. Proses Kehamilan

Prinsip terjadinya kehamilan menurut Sukarni dan Margareth (2013) yaitu:

dimulai dari proses bertemunya sel telur/ovum wanita dengan spermatozoa pria yang

biasanya disebut proses fertilisasi (pembuahan), dimana bertemunya sel telur dan

spermatozoa ini akan mengalami pembelahan sel (zigot). Zigot tersebut akan mengalami

7
8

proses nidasi/implantasi pada lapisan endometrium dinding kavum uteri, setelah itu zigot

akan tumbuh dam berkembang menjadi embrio dan janin hingga aterm.

Menurut Irianto (2014) tahapan perkembangan dan pertumbuhan janin pada

trimester III adalah:

1) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 28 mingguPada usia

kehamilan 28 minggu testis bayi akan turun ke kantung skrotum. Jaringan otak

berkembang. Gerakan janin semakin kuat dengan intensitas yang makin sering,

sementara denyut jantungnya mudah didengar. Berat janin sekitar 1100 gram

dengan kisaran panjang 35-38 cm. Dibandingkan dengan minggu-minggu

sebelumnya lebih berisi dengan bertambahnya jumlah lemak di bawah kulit. Begitu

juga rambut kepala akan terus tumbuh semakin panjang. Alis dan kelopak matanya

sudah terbentuk. Walaupun gerakan bayi sudah mulai terbatas karena beratnya yang

semakin bertambah, namun matanya sudah mulai bisa berkedip-kedip bila melihat

cahaya melalui dinding perut ibunya. Paru-parunya belum sempurna, namun jika

bayi lahir pada masa gestasi ini, kemungkinan bayi dapat bertahan hidup.

2) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 32-33 minggu

Pada usia kehamilan 32 minggu ini semua indera janin sudah mulai berfungsi. Janin

telah terbentuk dengan sempurna dan posisi kepala berada di bawah (sefalik). Paru-

parunya sudah sempurna dan plasenta mencapai kematangan. Pada masa usia

kehamilan ini, perkembangan otak janin terus berkembang pesat, fungsi otak dalam

menghantarkan rangsangan saraf semakin baik. Selain itu aktivitas janin sudah

mulai menyesuaikan dengan aktivitas ibunya Panjang janin saat ini sekitar 43-50cm

dan berat badannya 1800-2000 gram.


9

3) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 34 minggu

Saat janin mencapai usia 34 minggu, bayi sudah dapat membuka matanya serta

dapat mengedipkan matanya apabila mengantuk dan tidur. Berat badan bayi pada

minggu ke-34 berkisar 2000-2010 gram dengan tinggi badan sekitar 45-46 cm.

4) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 35 minggu

Saat janin mencapai usia 35 minggu, pendengaran bayi sudah berfungsi secara

sempurna. Lemak dari tubuh bayi sudah mulai memadat pada bagian kaki dan

tangannya, lapisan lemak tersebut berfungsi untuk memberikan kehangatan pada

tubuhnya. Bayi sudah semakin membesar dan sudah memenuhi rahim ibu. Apabila

bayi laki-laki, pada minggu ini testisnya telah terbentuk dengan sempurna. Berat

badan bayi berkisar 2300-2350 gram dengan tinggi badan sekitar 45-47 cm.

5) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 36 minggu

Pada minggu ke-36 panjang janin mencapai 47 cm dengan berat 2700 gram. Mulai

dari minggu ini janin sudah mempunyai ukuran dan kematangan yang siap untuk

lahir. Jika janin lahir pada minggu ini, janin lahir prematur tetapi akan baik-baik

saja. Pada bulan terakhir kehamilan ini janin akan mendapat antibodi dari ibunya

seperti campak.

6) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 37 minggu

Pada minggu ke-37 berat janin sudah sekitar 2800 gram dan mungkin sekitar 48,6

cm panjang dari kepala sampai kaki. Kepala janin akan berada di dalam rongga

panggul ibu dan dikelilingi serta dilindungi oleh tulang panggul ibu. Janin akan

terus berlatih menggerakkan paru-parunya.

7) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 38 minggu

Pada minggu ke-38 berat janin sudah mencapai 3000-3200 gram. Reflek janin

sudah terkoordinasi, janin sudah dapat mengedipkan mata, menggerakkan kepala,


10

memegang dan merespon suara, sentuhan, dan cahaya. Janin sudah dapat

membedakan antara terang dan gelap.

8) Perkembangan dan pertumbuhan janin pada usia kehamilan 39-40 minggu

Pada minggu ke-39 hingga 40 panjang janin mencapai 50 cm dan berat mencapai

3300 gram. Bayi pria sekitar 100 gram lebih berat dari bayi wanita. Pertumbuhan

dan perkembangan telah tercapai janin bulat sempurna, dada dan kelenjar payudara

menonjol, perkembangan jenis kelamin sempurna. Lanugo menghilang hampir

diseluruh tubuh, kuku mengeras dan warna kulit bervariasi.

3. Standar Asuhan Kehamilan

Menurut Kemenkes RI (2015) dalam melakukan pemeriksaan antenatal, bidan

harus memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar asuhan pada ibu hamil, yang

terdiri dari:

1) Timbang berat badan dan Tinggi Badan Penimbangan berat badan pada setiap kali

kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan

janin. Pengukuran tinggi badan pada pertama kali kunjungan dilakukan untuk

menapis adanya faktor resiko pada ibu hamil. Tinggi badan ibu hamil kurang dari

145 cm meningkatkan untuk resiko terjadinya Cephalo Pelvic Disproportion

(CPD).

2) Ukur lingkar lengan atas (LILA)

Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil

berisiko kurang energi kronis (KEK). KEK disini maksudnya ibu hamil yang

mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (bulan/tahun) dimana

LILA kurang dari 23,5 cm pada ibu hamil dapat beresiko melahirkan bayi berat

lahir rendah (BBLR).


11

3) Ukur Tekanan Darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk

mendeteksi adanya hipertensi ada kehamilan dan preeclampsia.

4) Ukur Tinggi Fundus Uteri

Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk

mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan. Jika

tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan

pertumbuhan janin.

5) Tentukan presentasi janin dan Hitung Denyut Jantung Janin (DJJ)

Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya

setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui

letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala

janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada

masalah lain. Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap

kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih

dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin.

6) Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)

Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat

imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status imunisasi TT-

nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai dengan status imunisasi ibu

saat ini.

7) Beri Tablet Tambah Darah (Fe)

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi

minimal 90 tablet selama kehamilan.


12

8) Pemeriksaan Laboratorium Rutin dan Khusus

Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:

a. Pemeriksaan Golongan Darah

Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui jenis

golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon pendonor darah

yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.

b. Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Darah (Hb)

Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali pada

trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan

untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak selama

kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh

kembang janin dalam kandungan.

c. Pemeriksaan Protein dalam Urin

Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester kedua

dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui adanya

proteinuria.

d. Pemeriksaan Kadar Gula Darah

Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus (DM) harus dilakukan

pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester

pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga.

e. Pemeriksaan Darah Malaria

Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah

Malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di daerah non

endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi.


13

f. Pemeriksaan Tes Sifilis

Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu hamil

yang diduga Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin

pada kehamilan.

g. Pemeriksaan HIV

Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu

hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling

kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk

menjalani tes HIV.

h. Pemeriksaan BTA

Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita

Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi Tuberkulosis tidak mempengaruhi

kesehatan janin.

9) Tatalaksana dan Penanganan Kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan

laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai

dengan standar dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat

ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

10) Temu Wicara

Temu wicara dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:

a. Kesehatan ibu

b. Perilaku hidup bersih dan sehat

c. Peran suami dan keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan

d. Tanda bahaya pada kehamilan serta kesiapan menghadapi komplikasi

e. Asupan gizi seimbang selama hamil


14

f. Gejala penyakit menular dan tidak menular

g. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif

h. KB paska persalinan

2.1.2 Konsep Dasar Persalinan

1. Pengertian

Persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun

kedalam jalan lahir kemudian berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau

hampir cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan disusul dengan pengeluaran

plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan

atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Marmi, 2013).

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari

uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup

bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu)

sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan

menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap (APN, 2017).

2. Etiologi Persalinan

Etiologi atau bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui secara pasti,

sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan. Teori kemungkinan terjadinya

proses persalinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

1) Teori Keregangan

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas waktu tertentu. Setelah

melewati batas waktu tersebut akan terjadi kontraksi, sehingga persalinan dapat

dimulai. Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang menyebabkan
15

iskemia. Hal ini merupakan faktor yang mengganggu sirkulasi uteroplasenta

sehingga plasenta mengalami regenerasi (Irianto, 2014)

2) Teori Plasenta menjadi tua

Dengan semakin tuanya plasenta, akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan

progesteron yang menyebabkan kesenjangan pembuluh darah yang akan

menimbulkan kontraksi rahim (Marmi, 2013).

3) Teori Penurunan Progesteron

Proses penuaan plasenta terjadi dimulai pada umur kehamilan 28 minggu, dimana

terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan

buntu. Vili koriales mengalami perubahan-perubahan dan produksi progesteron

mengalami penurunan, sehingga otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai

tingkat penurunan progesteron tertentu (Irianto, 2014).

4) Teori Oksitosin Internal

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior. Perubahan keseimbangan

progesteron dan estrogen dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering

terjadi kontraksi braxton-Hicksc. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat

tuanya kehamilan menyebabkan oksitosin meningkatkan aktivitasnya, sehingga

terjadi persalinan (Irianto, 2014).

5) Teori Prostaglandin

Pemberian prostaglandin pada saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim

sehingga terjadi persalinan. Prostaglandin dianggap pemicu terjadinya persalinan

(Irianto, 2014).

6) Teori Hipotalamus-pituitary dan Glandula Suprarenalis

Teori ini menunjukkan pada kehamilan anansefalus sering terjadi keterlambatan

persalinan, karena tidak terbentuk hipotalamus. Pemberian kortikosteroid yang


16

dapat menyebabkan maturitas janin, induksi persalinan. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa hubungan hipotalamus pituitary dengan mulainya persalinan.

Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya persalinan (Irianto, 2014).

7) Teori Berkurangnya Nutrisi

Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hipokrates untuk pertama

kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera

dikeluarkan (Irianto, 2014).

8) Faktor Lain

Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser yang terletak di

belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan maka kontraksi uterus akan semakin

meningkat (Irianto, 2014).

3. Tahapan Persalinan

1) Kala I (Kala Pembukaan)

Kala I dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat

(frekuensi dan kekuatannya) serta disertai pendataran (penipisan) dan dilatasi

(pembukaan) progresif pada serviks, hingga serviks membuka lengkap (10cm).

Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase, yaitu :

(1) Fase Laten

Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan

serviks secara bertahap. Pembukaan serviks berlangsung secara perlahan yaitu

dari pembukaan 0 cm hingga 3 cm yang berlangsung hampir atau hingga 8 jam

(APN, 2017)

(2) Fase Aktif

Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap

(kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam
17

waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih. Dari pembukaan

4 hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan

kecepatan rata-rata 1 cm per jam (multipara atau primigravida) atau lebih dari

1 cm hingga 2 cm (multipara). Fase aktif berlangsung selama 6 jam dan dibagi

atas 3 sub fase, yaitu:

a Periode akselerasi berlangsung 2 jam dari pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.

b Periode dilatasi maksimal berlangsung lambat dalam waktu 2 jam dari

pembukaan 4 cm berlangsung cepat menjadi 9 cm.

c Periode deselerasi :berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam dari

pembukaan 9 cm menjadi 10 cm atau lengkap.

2) Kala II (Kala Pengeluaran Bayi)

Kala II sering juga disebut kala pengeluaran yaitu tahap dimana terjadi pengeluaran

bayi dengan kontraksi yang kuat dan dibantu oleh otot pernafasan. Kala II ini

dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi baru lahir. Tanda dan gejala kala II:

(1) His semakin kuat, kira-kira 2-3 menit sekali.

(2) Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan vaginanya.

(3) Perineum terlihat menonjol.

(4) Vulva dan vagina dan spingter ani terlihat membuka.

(5) Peningkatan pengeluaran lendir darah.

Pada primigravida berlangsung 1 ½ - 2 jam dan pada multigravida berlangsung ½

- 1 jam (APN, 2017).

3) Kala III (Kala Uri)

Kala III persalinan sering disebut sebagai kala uri, yaitu tahap pengeluaran

plasenta. Pada kala ini terjadi pemisahan dan pengeluaran plasenta serta selaput
18

ketuban (membran amnion), dan pengendalian perdarahan dari sirkulasi

uteroplasenta (Sofian, 2011).

Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta. Setelah

bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus

uteri setinggi pusat dan berisi plasenta yang menjadi tebal 2 kali sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan pengeluaran uri, ditandai dengan

tanda tali pusat bertambah panjang, uterus globuler, dan ada pengeluaran darah

kira-kira 100-200cc. Dalam waktu 1-5 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong ke

dalam vagina dan akan lahir spontan. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30

menit setelah bayi lahir (Sulistyawati, 2011).

4) Kala IV (Kala Pengawasan)

Kala IV persalinan disebut sebagai tahap pengawasan, tahap ini digunakan untuk

melakukan pengawasan terhadap bahaya perdarahan. Pengawasan ini dilakukan

selama kira-kira dua jam. Kala IV perlu dilakukan observasi karena perdarahan

postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama post partum.

Observasi yang dilakukan :

(1) Tingkat kesadaran penderita

(2) Pemeriksaan tanda-tanda vital (Tekanan darah, nadi, pernapasan, dan

respirasi).

(3) Kontraksi uterus.

(4) Terjadinya perdarahan (perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya

tidak melebihi 400-500cc) (APN, 2017).


19

2.1.3 Konsep Dasar Masa Nifas

1. Pengertian Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya plasenta sampai alat-alat

reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6

minggu atau 40 hari (Ambarwati, 2011).

Masa nifas dimulai setelah 2 jam postpartum dan berakhir ketika alat-alat

kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung selama 6

minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan baik secara fisiologis maupun psikologis

akan pulih dalam waktu 3 bulan (S. Nunung, A. Siti, dan D. Laeatul, 2013). Kala

Puerperium (nifas) yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu

yang diperlukan untuk pulihnya organ kandungan pada keadaan normal. Dijumpai dua

kejadian penting pada puerperium, yaitu involusi uterus dan proses laktasi (I. A. C.

Manuaba, I. B. G. F. Manuaba, I. B. G. Manuaba, 2013).

2. Tahapan Masa Nifas

Menurut Irianto (2014) Masa Nifas dibagi dalam 3 periode :

1) Puerperium Dini adalah kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan

berjalan-jalan.

2) Puerperium Intermedial adalah kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang

lamanya 6-8 minggu.

3) Remote Puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna

bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk

sehat dan pulih bias berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.


20

2.1.4 Konsep Dasar Neonatus

1. Pengertian

Neonatus adalah bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1 bulan sesudah

lahir (Marmi, 2012). Neonatus normal adalah bayi dari lahir dengan umur kehamilan 37

minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. Bayi baru lahir

normal adalah bayi baru lahir pada usia kehamilan 37- 42 minggu dengan berat lahir antara

2500- 4000 gram (Sondakh, 2013).

Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran,

berusia 0-28 hari. BBL memerlukan penyesuaian fisiologis berupa maturasi, adaptasi

(menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin) dan toleransi

bagi BBL untuk dapat hidup dengan baik. (Marmi dan Rahardjo, 2015).

2. Periode pada Neonatus

Neonatus akan mengalami beberapa periode setelah lahir,diantaranya :

(1) Periode transisional

Merupakan periode tidak stabil selama 6 sampai 8 jam pertama kehidupan

yang akan dilalui oleh seluruh bayi dengan mengabaikan usia gestasi atau sifat

persalinan atau melahirkan (Sondakh, 2013).

Periode transisional ini dibagi menjadi tiga periode yaitu periode pertama

reaktivitas, fase tidur dan periode kedua reaktifitas. Karakteristik masing-masing

periode memperlihatkan kemajuan bayi baru lahir ke arah mandiri. Pada beberapa

jam pertama kehidupan bayi, perlu dilakukan beberapa asuhan antara lain :

memantau tanda-tanda vital, menimbang berat badan dan mengukur panjang

badan, lingkar kepala dan lingkar dada, lakukan pengkajian usia gestasi bayi

dalam 4 jam pertama kehidupan bayi, teori karakteristik fisik eksternal dan

keadaan neuromuskular bayi (Muslihatun, 2013).


21

(2) Periode pertama reaktivitas

Periode pertama reaktivitas berakhir pada 30 menit pertama setelah

kelahiran. Pada periode ini akan terjadi pernapasan cepat (mencapai 80

kali/menit) dan pernapasan cuping hidung yang berlangsung sementara, retraksi,

serta suara seperti mendengkur dapat terjadi. Denyut jantung dapat mencapai 180

kali/menit selama beberapa menit kehidupan (Sondakh, 2013).

Pada periode ini, bayi membutuhkan perawatan khusus, antara lain:

mengkaji dan memantau frekuensi jantung dan pernapasan setiap 30 menit pada 4

jam pertama setelah kelahiran, menjaga bayi agar tetap hangat (suhu aksila 36,5oC

-37,5oC), menempatkan ibu dan bayi bersama-sama kulit ke kulit untuk

memfasilitasi proses perlekatan, menunda pemberian tetes mata profilaksis satu

jam pertama (Muslihatun, 2010).

(3) Fase tidur

Fase ini merupakan interval tidak responsif relatif atau fase tidur yang

dimulai dari 30 menit setelah periode pertama reaktivitas dan berakhir pada 2

hingga 4 jam. Karakteristik pada fase ini, adalah frekuensi pernapasan dan denyut

jantung menurun kembali ke nilai dasar, warna kulit cenderung stabil, terdapat

akrosianosis dan bisa terdengar bising usus (Muslihatun, 2013).

(4) Periode kedua reaktivitas

Periode kedua reaktivitas ini berakhir sekitar 4 - 6 jam setelah kelahiran.

Karakteristik pada periode ini adalah bayi memiliki tingkat sensitivitas yang

tinggi terhadap stimulus internal dan lingkungan. Frekuensi nadi apikal berkisar

120-160 kali/menit, frekuensi pernapasan berkisar 30-60 kali/menit. Terjadi

perubahan warna kulit dari warna merah jambu atau kebiruan ke sianosis dengan

disertai bercak-bercak. Bayi sering berkemih dan mengeluarkan mekonium pada


22

periode ini. Terjadi peningkatan sekresi mukus dan bayi bisa tersedak pada saat

sekresi. Refleks menghisap bayi sangat kuat dan bayi sangat aktif.

(5) Periode pasca transisional

Saat bayi telah melewati periode transisi, bayi dipindah ke ruang bayi

normal/rawat gabung ibunya. Asuhan bayi baru lahir normal umumnya mencakup

pengkajian tanda-tanda vital (suhu aksila, frekuensi pernafasan, denyut nadi

apikal setiap 4 jam, pemeriksaan fisik setiap 8 jam, pemberian ASI on demand,

mengganti popok serta menimbang berat badan setiap 24 jam). Selain asuhan pada

periode transisional dan pasca transisional, asuhan bayi baru lahir juga diberikan

pada bayi berusia 2-6 hari, serta ketika bayi berusia 6 minggu pertama.

2.1.5 Konsep Dasar KB pada Ibu Pasca Bersalin (Masa Antara).

1. Pengertian

Konsepsi berasal dari kata kontra berarti “mencegah” dan “melawan” dan konsepsi

yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan

kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya

kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma

tersebut (Irianto, 2014).

Menurut WHO (World Health Organization), keluarga berencana adalah tindakan

yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk :

a Mendapatkan objektif-objektif tertentu.

b Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan dan menentukan jumlah anak.

c Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.

d Mengatur interal di antara kehamilan.

e Mengontrol waktu saat kelahiran dengan umur suami dan istri.


23

Keluarga Berencana (KB) adalah mengatur jumlah anak sesuai dengan keinginan

dan menentukan kapan ingin hamil. Jadi, KB (Family Planning Planned Parenthood)

adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan

dengan memakai alat kontrasepsi, untuk mewujudkan keluarga kecil,bahagia dan sejahtera

(Marmi, 2016).

2. Macam-Macam Kontrasepsi

Berbagai jenis kontrasepsi yang dapat digunakan oleh ibu post partum adalah

sebagai berikut:

1) Metode Amenorea Laktasi (MAL)

(1) Pengertian

Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method

(LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian

ASI secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan

makanan dan minuman lainnya. MAL atau LAM dapat dikatakan sebagai

metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning,

apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain. (Marmi, 2016).

(2) Cara Kerja

Menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat menyusui, hormon yang

berperan adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar

prolaktin meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon

penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar estrogen,

sehingga tidak terjadi ovulasi.

(3) Keuntungan

Keuntungan kontrasepsi MAL menurut Affandi (2013) adalah efektivitas tinggi

(kekebalan 98% pada enam bulan persalinan), efektif, tidak mengganggu


24

senggama, tidak ada efek samping secara sistematik, tidak perlu pengawasan

medis, tidak perlu obat atau alat, tanpa biaya.

Keuntungan kontrasepsi MAL menurut Prawirohardjo (2014):

a. Untuk Bayi

Mendapatkan kekebalan pasif (mendapatkan antibody perlindungan lewat

ASI), sumber asupan gizi yang baik dan sempurna untuk tumbuh kembang

bayi yang optimal.

b. Untuk Ibu

c. Mengurangi perdarahan pasca persalinan, mengurangi risiko anemia,

meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi.

(4) Keterbatasan

Keterbatasan KB MAL perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera

menyusui dalam 30 menit pascapersalinan, mungkin sulit dilaksanakan karena

kondisi sosial, efektivitas tinggi hanya sampai haid lagi atau sampai dengan 6

bulan, tidak melindungi terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk

Hepatitis B Virus (HBV) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) /

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) (Prawirohardjo, 2014).

2) Pil Progestin/ Pil Mini

(1) Pengertian

Pil mini atau pil progestin kadang-kadang disebut juga pil masa menyusui.

Mini pil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon progestin dalam dosis

rendah dan diminum sehari sekali. Dosis progestin yang digunakan adalah

0,03-0,05 mg per tablet (Marmi, 2016). Pemakaian pil KB progestin lebih baik

ditunda sampai 6 minggu postpartum pada ibu yang menyusui (Saifuddin,

2013).
25

(2) Cara Kerja

a. Mencegah implantasi, karena endometrium mengalami transformasi lebih

awal sehingga implantasi lebih sulit.

b. Menghambat ovulasi, karena terjadi penekanan sekresi gonadotropin dan

sintesis seks di ovarium (tidak begitu kuat).

c. Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.

d. Mengubah dalam fungsi korpus luteum.

(3) Keuntungan

Keuntungan kontrasepsi pil progestin adalah sangat efektif apabila digunakan

dengan benar dan konsisten, hubungan seksual tidak terganggu, nyaman dan

mudah digunakan, tidak mempengaruhi ASI, kesuburan cepat kembali, efek

samping sedikit, dapat dihentikan setiap saat, tidak mengandung estrogen

(Marmi, 2016).

Keuntungan non kontrasepsi pil progestin yaitu, mengurangi jumlah darah

haid, mengurangi kejadian anemia, menurunkan pembekuan darah, mengurangi

nyeri haid, mencegah kanker endometrium, melindungi dari penyakit radang

panggul, pada penderita endometriosis dan kencing manis yang belum

mengalami komplikasi dapat menggunakan kontrasepsi pil progestin, tidak

menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi (Marmi,

2016).

(4) Keterbatasan

Keterbatasan kontrasepsi pil progestin yaitu, hampir 30-60% mengalami

gangguan haid (perdarahan sela, spotting, amenorhea), peningkatan/penurunan

berat badan, harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama, bila lupa

satu pil maka kegagalan menjadi lebih besar, efektivitasnya menjadi rendah
26

bila digunakan bersamaan dengan obat tuberculosis atau obat epilepsi, tidak

melindungi diri dari IMS, HIV/AIDS, hirsutisme (tumbuh rambut/bulu berlebih

di daerah muka), tetapi sangat jarang terjadi (Affandi, 2011).

3) Suntikkan Progestin

(1) Pengertian

Kontrasepsi yang diinjeksikan setiap 3 bulan mengandung progestin saja.

Efektifitasnya sebanding atau lebih baik dari kontrasepsi pil kombinasi, serta

gangguan laktasi yang minimal sampai tidak ada (Cunningham, 2012).

(2) Cara Kerja

a. Mencegah ovulasi. Bekerja dengan cara menghalangi pengeluaran FSH dan

LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum.

b. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi

sperma, karena sperma sulit menembus karnalis servikalis.

c. Perubahan pada endometrium sehingga implantasi terganggu.

d. Menghambat transportasi gamet karena terjadi perubahan peristaltik tuba

falopi (Marmi, 2016)

(3) Keuntungan

Keuntungan kontrasepsi suntukan progestin yaitu, sangat efektif, pencegahan

kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak

mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit

jantung dan gangguan pembekuan darah, tidak memiliki pengaruh terhadap

ASI, klien tidak perlu menyimpan pil, dapat digunakan oleh perempuan >35

tahun sampai perimenopause, membantu mencegah kanker endometrium dan

kehamilan ektopik, menurunkan kejadian penyakit jinak payudara, mencegah


27

beberapa penyakit radang panggul, menurunkan krisis anemia bulan sabit

(Marmi, 2016).

(4) Keterbatasan

Keterbatasan kontrasepsi suntikan progestin yaitu, sering ditemukan gangguan

haid, klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus

kembali untuk suntikan), tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum

suntikan berikutnya, permasalahan kenaikan berat badan, tidak menjamin

perlindungan terhadap IMS, hepatitis B maupun HIV/AIDS, terlambatnya

kesuburan setelah penghentian pemakaian, terjadinya perubahan lipid serum

pada penggunaan jangka panjang, pada penggunaan jangka panjang dapat

menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, sakit kepala,

nervositas, dan jerawat (Marmi, 2016).

4) Implan/ Susuk KB

(1) Pengertian

Implan adalah alat kontrasepsi berupa kapsul kecil karet yang terbuat dari

silikon, berisi levonorgestrel, terdiri 6 kapsul dan panjang 3 cm sebesar batang

korek api yang dimasukkan di bawah kulit lengan atas bagian dalam oleh

dokter atau bidan yang sudah terlatih (Marmi,2016).

(2) Cara Kerja

Mekanisme kerja yang tepat dari implan belum jelas benar, seperti kontrasepsi

lain yang hanya berisi progestin saja, implan tampaknya mencegah terjadinya

kehamilan melalui beberapa cara yaitu, mencegah ovulasi, mengganggu proses

pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi, perubahan lendir

serviks menjadi kental sehingga menghambat pergerakan sperma (Marmi,

2016)
28

(3) Keuntungan

Keuntungan kontrasepsi implan adalah memiliki daya guna tinggi,

perlindungan jangka panjang, pengembalian tingkat kesuburan yang cepat

setelah pencabutan, tidak memerlukan pemeriksaan dalam, bebas dari pengaruh

estrogen, tidak mengganggu ASI, tidak mengganggu kegiatan senggama, klien

hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan, dapat dicabut setiap saat sesuai

dengan kebutuhan (Marmi, 2016).

Keuntungan non kontrasepsi implant adalah mengurangi nyeri haid,

mengurangi jumlah darah haid, mengurangi/memperbaiki anemia, melindungi

terjadinya kanker endometrium, menurunkan angka kejadian kelainan jinak

payudara, melindungi diri dari penyebab penyakit radang panggul, menurunkan

angka kejadian endometrium (Marmi, 2016).

(4) Keterbatasan

Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid (perdarahan

bercak (spotting), hipermenorea atau jumlah darah haid yang meningkat,

timbul keluhan seperti nyeri kepala, peningkatan/penurunan berat badan, nyeri

payudara, perasaan mual, pening/pusing kepala, perubahan perasaan atau

kegelisahan, membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan

pencabutan, tidak memberikan efek protektif terhadap IMS termasuk

HIV/AIDS, klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini

sesuai dengan keinginan akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan,

efektifitas menurun bila mengkonsumsi obat-obat tuberkulosis atau obat

epilepsi (Sulistyawati,2012).
29

5) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

(1) Pengertian

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah salah satu alat kontrasepsi

modern yang dirancang sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan dan masa

aktif fungsi kontrasepsinya) yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat

efektif, reversibel dan jangka panjang, dan dapat dipakai oleh semua

perempuan usia reproduktif sebagai suatu usaha pencegahan kehamilan

(Marmi, 2016).

(2) Cara Kerja

Cara kerja AKDR antara lain menghambat kemampuan sperma untuk masuk

ke tuba falopi, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri,

AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu walaupun

AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan

mengurangi kemampuan untuk fertilisasi, memungkinkan untuk mencegah

implantasi telur ke dalam uterus (Marmi, 2016).

(3) Keuntungan AKDR

Keuntungan kontrasepsi AKDR yaitu, efektif segera setelah pemasangan,

metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-308A), efektif karena tidak

perlu lagi mengingat-ingat, tidak mempengaruhi hubungan seksual,

meningkatkan kenyamanan seksual (karena tidak perlu takut hamil), tidak ada

efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT – 380 A), tidak

mempengaruhi ASI, dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah

abortus (apabila tidak ada infeksi), dapat digunakan sampai menopause, tidak

ada interaksi dengan obat-obat, membantu mencegah kehamilan ektopik

(Marmi, 2016).
30

(4) Keterbatasan

Menurut Affandi (2013), keterbatasan kontrasepsi KB AKDR yaitu, tidak

mencegah terhadap IMS termasuk HIV/AIDS, tidak baik digunakan pada

perempuan dengan IMS memakai alat kontrasepsi dalam Rahim, penyakit

radang panggul dalam memicu infertilitas.

6) Metode operatif wanita atau tubektomi

(1) Pengertian

Tubektomi adalah satu satu cara kontrasepsi dengan tindakan pembedahan

yaitu memotong tuba falopii/ tuba uterine yang mengakibatkan orang atau

pasangan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi dan

bersifat permanen (Saifuddin, 2013).

(2) Cara Kerja

Cara kerja dari tubektomi yaitu mengoklusi tuba falopii (mengikat dan

memotong atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu

dengan ovum (Saifuddin, 2013).

(3) Keuntungan

Keuntungan kontrasepsi KB MOW yaitu, lebih aman (keluhan sedikit), lebih

praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan), lebih efektif (tingkat kegagalan

sangat kecil), efektifitas hampir 100%, tidak mempengaruhi libido seksual,

tidak ada kegagalan dari pihak pasien, tidak mempengaruhi proses menyusui

(breastfeeding), tidak bergantung pada faktor senggama, tidak ada efek

samping dalam jangka panjang, tidak ada perubahan dalam fungsi seksual

(tidak ada efek pada produksi hormon ovarium (Marmi, 2016).


31

(4) Keterbatasan

Tidak dapat dipulihkan kembali, klien dapat menyesal dikemudian hari, risiko

komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anastesi umum), rasa sakit/

ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan, dilakukan oleh dokter

yang terlatih, tidak melindungi diri dari Infeksi Menular Seksual (IMS),

Human Immunodeficiency Virus (HIV) / Acquired Immuno Deficiency

Syndrome (AIDS).

2.1.6 Konsep Continuity Of Care (COC)

Continuity of midwifery care adalah asuhan yang berkelanjutan berkaitan dengan

kualitas pelayanan dari waktu ke waktu. Setiap wanita harus diberi kesempatan untuk

memiliki satu kontak selama kehamilan dengan masing-masing bidan dalam tim perawatan

bersama yang akan disebut sebagai pemberi pelayanan primer bagi wanita. Hal ini

memungkinkan pengembangan hubungan kepercayaan, penyediaan pelayanan individual

yang aman, fasilitasi pilihan informasi, untuk lebih mendorong kaum wanita selama

persalinan dan kelahiran, dan untuk menyediakan perawatan komprehensif untuk ibu dan

bayi baru lahir selama periode postpartum (Evi Pratami, 2015).

Komponen asuhan dalam continuity of care mencakup:

1. Ketersediaan waktu untuk berbicara, terlibat dan membangun hubungan yang baik

dengan wanita dan suaminya untuk memahami dan membantu memenuhi kebutuhan

mereka selama kehamilan dan setalahnya

2. Memastikan bahwa perempuan dan keluarga mereka tahu akan pengaturan asuhan

yang berkelanjutan/terus-menerus dan koordinasi dukungan kebidanan

3. Menjamin kesinambungan layanan dan pendelegasian wewenang jika seorang wanita

memilih untuk melahirkan diluar wilayahnya. Para bidan di daerah masing-masing

bertanggungjawab untuk hal tersebut


32

4. Memberikan dukungan wanita dalam proses persalinan dan kelahiran

Ada 3 tipe pelayanan berkelanjutan:

1. Informasi yang berkelanjutan ; penggunaan informasi pada peristiwa masa lalu dan

keadaan pribadi untuk membuat kesesuaian pelayanan untuk masing-masing individu

2. Manajemen kontinuitas ; merupakan sebuah pendekatan yang konsisten dan searah

untuk mengatur sebuah kondisi kesehatan yang merespon semua kebutuhan pasien

3. Hubungan yang berkelanjutan ; sebuah hubungan terapeutik yang secara terus-

menerus antara seorang pasien dan satu atau lebih penyedia pelayanan

Untuk menyelenggarakan asuhan yenag berkelanjutan tersebut, terdapat beberapa metode

yang dapat dilakukan oleh bidan, seperti:

1. Asuhan yang diberikan oleh 1 orang bidan (jika memungkinkan)

2. Asuhan yang diberikan oleh 1 tim tenaga kesehatan

3. Referal sistim pelayanan kesehatan, yakni asuhan dilakukan di sarana kesehatan dasar

(puskesmas) dan jika ditemui ketidaknormalan maka pasien dirujuk ke sarana

kesehatan tinggi diatasnya dengan bantuan catatan yang lengkap

4. Jejaring, misalnya dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, kader, LSM,

pemerintah, dan unsur terkait lainnya.

5. Dokumentasi online yang berguna untuk mengefektifkan waktu dalam memberikan

asuhan yang berkesinambungan

Continuity of care dalam pelayanan kebidanan dapat memberdayakan perempuan dan

mempromosikan keikutsertaan dalam pelayanan mereka juga meningkatkan pengawasan

pada mereka sehingga perempuan merasa di hargai (Nagle et al., 2011).

Selain dari hal tersebut, ada nilai yang harus diyakini oleh bidan dan upaya yang dapat

dilakukan dalam upaya mendukung continuity of careseperti:


33

1. Menyadari bahwa setiap wanita mengalami proses perkembangan yang berbeda-beda

dan kebutuhan berbeda juga

2. Untuk membantu tugas perkembangan wanita butuh asuhan berkelanjutan

3. Mempromosikan asuhan ; memberikan asuhan berupa: dukungan/support, konseling,

treatment, dan rujukan ke tim kesehatan lainnya.